Berita Terkini

Musyawarah Besar Warga Jakarta Bukti Warga Sepakat Tolak Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Musyawarah Warga Jakarta dengan tema ‘Bersatu Selamatkan Ibukota’ yang dihadiri para tokoh aktifis lintas gerakan, diniliai Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Jakarta sebagai wujud warga Jakarta telah sepakat untuk menolak Ahok.

“Ini bukti dengan berkumpulnya kita di sini seluruh elemen, menunjukan bahwa secara tegas kami warga Jakarta menolak dan mengimbau untuk tidak memilih Ahok sebagai Gubernur berikutnya,” tegas ustad Haris di pelataran Museum Fatahillah, Jakarta Barat, Ahad (18/9/2016).

Menurutnya, arogansi Ahok kepada masyarakat Jakarta telah banyak memakan korban kaum muslimin. “Jakarta kota religi, Jakarta kota budaya, Jakarta menolak pemimpin yang arogan, pemimpin kafir yang tidak santun terhadap rakyatnya,” ujarnya.

“Betapa arogansi kepemimpinan Ahok telah banyak terjadi kerusakan dan sangat intoleran,” tambahnya.

Serangan Bom Hantam New York City, 29 Orang Terluka

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Dua puluh sembilan orang terluka dalam ledakan Sabtu malam di New York City, Walikota Bill de Blasio mengatakan kepada wartawan, Anadolu Agency melaporkan Ahad (18/09/2016).

Salah satu korban “kemungkinan menderita cedera serius” akibat ledakan yang terjadi sekitar pukul 8:30 (1230GMT) di 131 West 23rd Street di lingkungan Chelsea Manhattan, kata de Blasio.

Penyebab ledakan masih belum diketahui.

Pihak berwenang yakin ledakan itu disengaja tapi belum menemukan link untuk terorisme, katanya.

Pihak berwenang mempertimbangkan area dekat 27th Street, yaitu antara the 6th avenue dan the 7th avenue sebagai situs kedua, tapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.

Namun media lokal melaporkan bahwa pejabat mungkin telah menemukan perangkat pressure cooker, mirip dengan yang digunakan dalam pemboman Boston Marathon tahun 2013 yang menewaskan tiga orang dan melukai ratusan lainnya.

Sebelumnya pada hari Sabtu, tokoh politik anti Islam, calon presiden Partai Republik Donald Trump, bereaksi terhadap ledakan saat melakukan kampanye di Colorado, menyebutnya sebagai “bom”.

“Saya harus memberitahu Anda bahwa, sebelum saya turun dari pesawat, sebuah bom meledak di New York dan tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi,” kata Trump. “Kita harus menjadi lebih tangguh,” tambahnya.

Saingannya, Hillary Clinton, tidak berkomentar tapi dalam kampanyenya ia mengatakan telah diberitahu tentang perkembangan tersebut.

Clinton dan Trump tinggal di New York.

Polisi menjaga ketat daerah tersebut dengan menutup jalan-jalan dan stasiun kereta bawah tanah di dekatnya.

Para pejabat mengatakan tidak ada hubungan langsung antara ledakan Chelsea dengan ledakan bom pipa di Seaside Park, New Jersey, Sabtu sebelumnya, yang memaksa dibatalkannya acara lari untuk amal tersebut.

Main Gusur, Ratna Sarumpaet Nilai Ahok Tak Punya Kemampuan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aktifis perempuan Ratna Sarumpaet menilai kekejaman Ahok kepada rakyat kecil sudah sampai taraf yang tidak manusiawi.

Pernyataan tersebut disampaikan Ratna kepada Jurniscom usai menghadiri aksi bertajuk Bersatu Selamatkan Ibukota yang digagas gerakan Musyawarah Besar Warga Jakarta di pelataran Museum Fatahillah Jakarta Barat, Ahad (18/9/2016).

“Ahok sudah tidak ada kompromi tetap akan menggusur, tetap dengan cara-cara kekerasan, karena dia tidak punya kemampuan jadi begini,” katanya.

Ratna mengajak pada warga Jakarta yang masih mendukung Ahok untuk membuka mata dan telinga serta lebih peka terhadap korban kedzaliman Ahok.

“Barang kali warga Jakarta ada yang tidak kena dampak ugal-ugalan Ahok, tetapi ada korban dan korban itu saudara kita. Di dalam agama apapun saudara yang sudah harus kita tolong,” ujarnya.

Ratna menegaskan dukungannya terhadap Musyawarah Besar Warga Jakarta. Menurutnya, gerakan itu dapat menjadi media untuk menyuarakan aspirasi warga Jakarta.

“Saya hadir disini untuk menyuarakan apa yang akan ingin saya sampaikan dan saya yakin yang lain juga punya suara sendiri mungkin dari angle yang berbeda. Tapi saya yakin sasarannya sama kita ingin Jakarta yang damai, Jakarta yang dipimpin dengan Ahlaq, dengan adab, jangan dengan semena-mena,” jelasnya.

Silaturahmi Akbar di Masjid Istiqlal Dihadiri Puluhan Ribu Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu umat Islam memadati Masjid Istiqlal mengikuti acara Silaturahmi Akbar dengan tema ‘Doa untuk Kepemimpinan Ibukota’, Ahad (18/9/2016) siang.

Acara dimulai dengan shalat dzuhur berjamaah kemudian dilanjutkan dengan sayidul istighfar dan doa oleh Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab.

Salah satu tokoh yang hadir dalam acara itu, Ustadz Bachtiar Natsir (UBN) mengatakan, acara tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi kaum muslimin.

“Ini adalah cara ulama memberi pemahaman bagi umat khususnya bagi warga Jakarta agar memilih pemimpin yang sama aqidahnya dan ini bukan acara politik praktis yaitu kampanye untuk memilih gubernur tertentu,” tegas Pembina Aliansi Peduli Umat dan Bangsa kepada Jurniscom di Masjid Istiqlal, Ahad (18/09/2016).

Sebelumnya acara sempat dilarang karena pihak DKM Istiqlal kuatir kegiatan tersebut sebagai ajang politik praktis.

 

Reporter: Deddy

Panitia Sesalkan Pembubaran Aksi Massa di Museum Fatahillah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Panitia acara Musyawarah Bersama Warga Jakarta, Edi Mulyadi menyesalkan pembubaran aksi “Bersatu Selamatkan Ibukota” di Museum Fatahillah pagi tadi, Ahad (18/2016).

“Padahal semua permintaan aparat yang bertugas sudah kami turuti, tapi pembubaran paksa tetap dilakukan. Tapi kami tidak berhenti disini,” kata Edi Mulyadi saat di temui Jurniscom di Masjid Istiqlal, Ahad (18/9/2016) siang.‎

Tokoh Korps Mubaligh itu menegaskan akan mengadakan konsolidasi yang lebih baik kedepannya.

“Kedepan kita tetap mengadakan konsolidasi yang lebih baik dan tetap mengusung isu ini kepada warga Jakarta, hingga warga Jakarta menolak pemimpin kafir memimpin Jakarta, dan ini agenda utama kita,” tegasnya.

Sementara Ustadz Alfian Tanjung mengaku tidak heran tentang pembubaran itu. Menurutnya, pembubaran itu merupakan wujud ketakutan musuh Islam akan bersatunya umat Islam.

“Ini jelas terlihat mereka begitu takutnya ketika umat bersatu dan hal ini harus di gagalkan,” tegas Ketua Taruna Muslim yang juga sebagai pembicara pada Silaturahmi Akbar di Masjid Istiqlal.

 

Reporter: Deddy

Tidak Kondusif, Aksi ‘Bersatu Selamatkan Ibukota’ di Museum Fatahillah Ditunda

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Aksi massa bertajuk “Mari Bersatu Selamatkan Ibukota” di Museum Fatahillah, Jakarta Pusat pagi ini, Ahad (18/9/2016) terpaksa ditunda karena situasi yang tidak kondusif.

“Situasi di lapangan tidak kondusif walaupun informasi terkait aksi di Museum Fatahillah sudah disampaikan dan mendapat ijin Polda Metro Jaya,” kata salah satu tokoh Betawi, ustadz Harits Amir Falah kepada Jurniscom di lokasi.

Selain itu, ustadz yang akrab disapa Babeh Harits itu menjelaskan, pihak keamanan keberatan aksi digelar di kawasan wisata yang padat pengunjung.

“Alasan kami membubarkan acara karena lokasi yang kita jadikan titik kumpul adalah tempat wisata dan aparat Pemda belum mengeluarkan ijin dan petugas yang berjaga bersikeras menanyakan itu,” lanjutnya.

Namun demikian, ustadz Harits menegaskan pihaknya akan tetap menyusun agenda-agenda lain untuk mewujudkan misinya yakni menyadarkan umat Islam Ibukota untuk tidak memilih pemimpin non-muslim.

“Aksi kita hari ini tertunda bukan berarti stop sampai disini, kita tetap menyusun agenda-agenda ke depan di tempat dan waktu yang berbeda, hingga tujuan kita tercapai, yaitu masyarakat muslim Jakarta sadar tentang larangan memilih pemimpin kafir,” terangnya.

Reporter: Deddy

Sejumlah Ulama dan Tokoh Nasional Hadiri Silaturahim Akbar ‘Doa Untuk Kepempimpinan Ibukota’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru Bicara Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) IWel Sastra mengatakan hari ini, Ahad (18/9/2016) sejumlah ulama, tokoh nasional dan umat Islam akan menyelenggarakan Silaturahim Akbar dengan tema Doa Untuk Kepemimpinan Ibukota.

Prof Dr Amien Rais, Dr Hidayat Nur Wahid, KH. Didin Hafidhuddin, KH Bachtiar Nasir, KH, Zaitun Rasmin deretan ulama dan tokoh nasional yang dijadwalkan memberikan tausiah.

“Jumat 16 September 2016 mendadak secara sepihak pengurus Masjid Istiqlal melalui HM Sukiman Azmy Wakil Sekretaris Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal membatalkan acara tersebut dengan alasan acara tidak sesuai ijin,” kata Iwel dilansir Republika, Sabtu (17/9/2016).

Lalu, tambah Iwel, Ustaz Bachtiar Nasir dan KH Zaitun menyambangi pengurus Masjid Istiqlal untuk menanyakan di mana letak perbedaan antara ijin dan rencana acara. Namun pihak pengelola Masjid Istiqlal tidak bisa menjelaskan.

“Mereka mengatakan itu adalah keputusan pimpinan. Tidak dijelaskan pimpinan yang dimaksud apakah Menteri Agama atau Gubernur DKI Jakarta yang merupakan bagian dari pimpinan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal,” kata Iwel.

Untuk menjaga ukhuwah antar umat Islam, lanjut Iwel, para ulama dan tokoh nasional yang terlibat dalam acara ini tidak memperpanjang masalah.

Antusias yang begitu besar dari umat Islam terhadap Silaturahim Akbar ini, format acara diganti menjadi shalat zuhur berjamaah dan doa untuk ibu kota yang akan diikuti puluhan ribu jamaah dari bebagai wilayah di Jakarta.

“Ulama karismatik Prof Dr KH Didin Hafidhuddin sudah menghubungi Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar untuk ikut hadir dalam shalat zuhur berjamaah yang dilaksanakan Ahad,” ungkap Iwel menjelaskan.

Pejuang Suriah Pukul Mundur Serangan Pasukan Assad di Distrik Jobar

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Pertempuran dan penembakan masih terus berlangsung dalam waktu lama di wilayah seputar Damaskus pada hari Jumat, yang oleh para aktivis dan warga disebut sebagai bentrokan terberat di ibukota Suriah dalam beberapa pekan terakhir, lansir Aljazeera Jumat (16/09/2016).

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris, pertempuran antara pasukan rezim dan para pejuang Suriah terkonsentrasi di distrik Jobar, di samping Qaboun, dimana faksi oposisi telah menguasai wilayah selama bertahun-tahun.

Mazen al-Shami, seorang aktivis oposisi di dekat Damaskus, mengatakan pasukan rezim Nushairiyah Assad berusaha menyerbu Jobar tetapi dipukul mundur oleh para pejuang Suriah.

“Ini adalah salah satu pelanggaran gencatan senjata paling serius,” kata al-Shami kepada kantor berita Associated Press melalui Skype.

“Terjadi pelanggaran, tetapi terlihat sangat jelas bahwa AS dan Rusia telah memperkirakannya,” kata reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari Kilis di perbatasan sisi Turki.

“Tingkat pertempuran yang meningkat tidak memungkinkan mencabut gencatan senjata.”

Meskipun “terjadi pengurangan nyata dalam jumlah perang”, lanjut Dekker, PBB mengatakan bahwa mereka “sangat frustasi” karena tidak mampu mendapatkan izin pemerintah Suriah yang diperlukan untuk membawa bantuan ke Suriah.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Castello Road yang strategis menuju Aleppo Timur yang dikuasai mujahidin Suriah dimaksudkan menjadi daerah bebas militer agar bantuan dapat masuk.

PBB berharap bahwa 40 truk makanan akan tiba di sana sebagai bagian dari gencatan senjata.

“Tampaknya ada sedikit kemunduran dari kedua belah pihak rezim Suriah dan oposisi di jalan itu untuk memasukkan bantuan,” reporter Al Jazeera Charles Stratford, melaporkan dari Gazientep di perbatasan Turki dengan Suriah.

Kemudian pada hari Jumat, Dewan Keamanan PBB membatalkan pertemuan darurat untuk membahas kesepakatan gencatan senjata Suriah atas permintaan AS dan Rusia, menurut para diplomat.

Pertemuan diadakan untuk memungkinkan utusan AS dan Rusia menyajikan rincian kesepakatan bersama, termasuk pengiriman bantuan dan operasi militer gabungan.

Laporan sebelumnya yang dikutip Duta Besar Rusia Vitaly Churkin pada hari Kamis mengatakan bahwa ia berharap dewan akan mengadopsi resolusi mendukung kesepakatan gencatan senjata pekan depan di depan Majelis Umum tingkat tinggi.

Dalam perkembangan terpisah, serangan udara pada Jumat dilaporkan menewaskan 23 warga sipil dan melukai 20 lainnya di dekat Deir Az Zor, sebuah kota timur yang dikendalikan oleh IS. Serangan di al-Mayadin menimpa sekolah yang menjadi rumah bagi para pengungsi, menurut Observatorium.

Kelompok pengawasan mengatakan sedikitnya setengah dari mereka yang tewas adalah perempuan dan anak-anak, menambahkan bahwa tidak jelas siapa yang melakukan serangan, apakah rezim Assad atau agresor Rusia.

 

Konvoi Bantuan ke Aleppo Tertahan oleh Pertempuran saat Gencatan Senjata Masih Berlangsung

SURIAH (Jurnalislam.com) – Iring-iringan konvoi bantuan kemanusiaan ke kota Aleppo yang terkepung tertahan lagi, saat pertempuran antara pasukan rezim Suriah Assad dan pejuang Suriah di luar Damaskus masih bergolak dan meningkatkan kekhawatiran apakah gencatan senjata yang rapuh akan mampu bertahan, Aljazeera melaporkan, Jumat (16/09/2016).

Pertempuran Jumat kemarin digambarkan sebagai yang paling serius sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada hari Senin, dimana pihak rezim melalukan lebih dari 28 pelanggaran dalam waktu 2 hari dan pejuang oposisi membalas atas serangan rezim di wilayahnya.

Melihat tanda-tanda meningkatnya ketegangan semakin berlanjut, Washington mengatakan kepada Moskow pada hari Jumat bahwa kerjasama militer potensial di Suriah tidak akan terjadi kecuali menekan rezim Suriah untuk memungkinkan pengiriman bantuan ke wilayah yang terkepung.

Washington dan Moskow pekan lalu sepakat untuk membentuk sebuah komite yang akan bersama-sama menargetkan Jabhat Fath al-Syam dan kelompok Islamic State (IS) di Suriah, jika gencatan senjata bertahan selama tujuh hari dan bantuan kemanusiaan diizinkan mengalir ke negara itu.

Namun bantuan untuk Aleppo terjebak di perbatasan Turki selama lima hari hingga sekarang, sehingga PBB menyerukan pemerintah Suriah untuk “segera” memungkinkan pasokan menyelamatkan penduduk di daerah yang dikuasai pejuang Suriah di kota itu, di mana sekitar 300.000 orang hidup di bawah pengepungan.

Dalam panggilan telepon pada hari Jumat untuk rekan Rusia-nya Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengecam “penundaan bantuan kemanusiaan yang terus berulang dan tidak dapat diterima,” menurut juru bicara Departemen Luar Negeri.

Kerry mengatakan kepada Lavrov bahwa Washington “berharap Rusia menggunakan pengaruhnya terhadap rezim Assad untuk memungkinkan konvoi kemanusiaan PBB mencapai Aleppo dan daerah lain yang membutuhkan,” John Kirby mengatakan.

Kedua negara mendukung sisi yang berlawanan dalam konflik, dimana Moskow mendukung rezim Bashar al-Assad sedangkan AS berada di balik koalisi kelompok oposisi moderat.

Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, dikecualikan dari gencatan senjata.

AS dan Rusia sepakat akan pentingnya memperpanjang penghentian pertempuran, meskipun beberapa kekerasan terus berlanjut, kata Kirby.

Rusia pada Jumat mengatakan bahwa hanya sekutunya, rezim Assad, yang menghormati gencatan senjata, namun menyarankan bahwa gencatan senjata diperpanjang lebih dari 72 jam.

Kremlin juga mengatakan telah menggunakan pengaruhnya untuk mencoba memastikan tentara rezim Suriah sepenuhnya melaksanakan perjanjian gencatan senjata dan bahwa pihaknya berharap AS juga menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok pejuang oposisi moderat.

Taliban Rebut 2 Basis Militer dan 32 Pos Pemeriksaan dalam serangan di Shawalikot

KANDAHAR (Jurnalislam.com) – Di tengah berlangsungnya ‘Operasi Omari’, mujahidin Imarah Islam (Taliban) melakukan serangan terkoordinasi terhadap posisi pasukan Afghanistan di sekitar kabupaten Shawalikot Kamis malam, Al Emarah News melaporkan Jumat (16/09/2016).

Serangan senjata berat dan ringan ke arah 2 basis militer dan 32 pos pemeriksaan memaksa musuh melarikan diri setelah menderita korban jiwa berat.

Menurut rincian, sekitar 5 pos pemeriksaan telah diserang di daerah Bakhto Nawa. 5 sepeda motor dan semua peralatan disita. Demikian, 2 basis ANA (Afghanistan National Army) dan 27 pos pemeriksaan di sepanjang jalan Tarinkot juga diserbu setelah perlawanan singkat. Sebuah APC, 2 kendaraan rangers dan sejumlah besar amunisi disita.

Pasukan ANA kabur meninggalkan Shalwaikot dan sejumlah area yang luas, termasuk jalan Tarknot, berada di bawah kendali mujahidin Taliban.