Berita Terkini

Aksi yang Dibubarkan dan ‘Selongsong Peluru’ Itu

Yang Tercecer dari Mubes Warga Jakarta

Aksi yang Dibubarkan dan ‘Selongsong Peluru’ Itu…

Oleh Edy Mulyadi*

 

“Kamu tahu ga, mereka cari apa? Mereka cari-cari selongsong peluru, tau,” kata Ratna Sarumpaet.

“Ah masa sih, mbak?” balas saya tidak percaya.

“Kalo ga cari selongsong peluru, apa perlunya polisi-polisi itu naik kesini terus bongkar ini-itu,” kata Ratna lagi.

“Selongsong peluru, masa sih?” tukas saya lagi, masih tidak percaya

“Kamu ga denger tadi mereka buang tembakan?

Ga mbak. Tapi kalau benar mereka melepas tembakan, siapa sasarannya? Masak sih kita? Wuih, ngeri kali…,” ujar saya.

Kalimat-kalimat yang di atas itu adalah petikan dialog saya dengan Ratna Sarumpaet. Waktu itu kami masih berada di atas mobil komando, saat orasi pada Musyawarah Besar Warga Jakarta di sekitar Musium Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Aksi digelar Ahad, 18 September 2016. Sedianya, aksi berlangsung mulai pukul 08.00-10.30. Namun apa daya, polisi akhirnya membubarkan paksa ketika jam belum lagi menunjukkan pukul 10.00. Padahal, karena berbagai hambatan teknis (terutama larangan dari polisi) aksi baru bisa dimulai menjelang pukul 09.00.

Ahad pagi itu, massa aksi dari berbagai wilayah Jakarta sudah mulai berdatangan sekitar pukul 07.00, termasuk di antaranya warga Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Jakarta Utara. Mereka datang bersama Ratna Sarumpaet, aktivis senior yang selama berbulan-bulan mendampingi mereka, tidur dan makan bersama mereka di lokasi bekas area yang digusur paksa oleh Ahok, sang gubernur ganas.

Koordinator Lapangan Mubes, Budhi Setiawan sempat bernegosiasi dengan Kapolres Jakbar Kombes Roycke Harry Langie. Negosiasi gagal. Polisi tetap melarang aksi digelar di halaman Musium Fatahillah. Alasannya, kata Kapolres, ada Pergub yang melarang lokasi wisata dijadikan tempat aksi.

Saya yang datang belakangan sempat bernegosiasi juga dengan Kapolsek Taman Sari AKBP Nasriyadi. Kepala Pengamanan unjuk rasa Mubes itu mengerahkan 300 personel untuk mengamankan jalannya Mubes. Hasilnya setali tiga uang, tidak boleh demo di halaman museum.

Namun akhirnya bisa dicapai kompromi, aksi bisa digelar di luar pagar halaman museum. Alhamdulillah… Jadilah kami menggelar berbagai poster dan spanduk. Pesan inti yang disampaikan adalah, warga Jakarta menolak Ahok!

Ketika itu mobil komando belum datang. Orasi disampaikan oleh ustadz Haikal Hassan. Ulama asli Betawi kelahiran Condet, Jakarta Timur yang berpakaian serba-hitam, ini menyuarakan hal yang sama. Setelah itu saya sampaikan orasi. Oya, sekadar info, baik saya maupun ustadz Haikal berorasi sama sekali tidak menggunakan pelantang suara apa pun. Jadi kami terpaksa teriak-teriak sebisanya. Akibatnya, walau hanya orasi sekitar lima menit, tenggorokan saya rasanya jadi gimanaaa gitu, deh

Polisi sahabat rakyat

Tidak beberapa lama kemudian, mobil komando datang. Kami memarkir di sudut sisi kanan museum. Saya pun segera naik ke bagian atas. Setelah itu naik pula ustadz Mustaqiem Dahlan yang juga Ketua Forum Mitra RT/RW DKI Jakarta. Anak muda yang hari itu mengenakan kaus merah dan peci hitam itu adalah juga aktivis Walhi DKI. Alan, biasa kami panggil begitu, memang punya seabrek aktivitas. Antara lain ICMI Jakarta dan salah satu pendekar Tapak Suci, organisasi bela dirinya Muhammadiyah.

Mulailah kami berdua bergantian berorasi. Namun polisi sepertinya tidak happy dengan orasi kami. Maka mobil mereka perintahkan jalan, bergerak menuju masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Karena tidak tega melihat Ratna ikut berjalan di belakang, saya minta mobil berhenti agar dia bisa ikut naik ke atas. Jadilah kami bertiga di mobil komando. Sementara di ruang kemudi ada sopir dan seorang asistennya.

Dalam bagian orasi, kepada massa aksi dan masyarakat yang menonton di pinggir jalan saya sampaikan antara lain; yang kita lawan adalah gubernur tukang gusur, gubernur beringas yang ganas, gubernur sok bersih padahal banyak terlibat kasus korupsi. Warga Jakarta ingin punya gubernur yang mencintai dan dincitai warganya, gubernur yang menyayangi dan disayang warganya, gubernur yang sopan dan tidak hobi memaki rakyat sendiri

Kepada massa aksi juga saya sampaikan, kita berterima kasih kepada polisi yang telah membantu mengamankan acara ini. Polisi bukan lawan rakyat, polisi justru teman dan pengayom rakyat. Polisi pelindung rakyat, karena gaji polisi dibayar dengan uang rakyat, seragam polisi dibeli dengan uang rakyat, sepatu polisi berasal dari uang rakyat, bahkan senjata polisi dan pelurunya juga dibeli dengan uang rakyat…

Entah apa sebabnya, rupaya materi orasi saya itu telah membuat berang polisi. Kapolres Jakbar Roycke dan Kapolsek Taman Sari Nasriyadi yang ikut jalan di belakang mobil marah besar. Mereka berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tongkat komandonya minta saya diam dan turun. Muka keduanya yang memang berkulit putih bersih merah padam. Padahal, waktu bernegosiasi dengan saya tadi, Nasriyadi sangat ramah. Kami bahkan sempat beberapa kali bercanda.

Keruan saja sikap para petinggi polisi itu memicu sikap serupa anak buahnya. Mungkin bagi mereka, kemarahan Kapolres dan Kapolsek adalah perintah untuk bertindak. Maka hanya dalam hitungan detik, sejumlah polisi muda merangsek ke mobil komando. Mereka berupaya naik untuk menarik saya turun.

Untungnya, teman-teman panitia yang memang berjaga-jaga di seputar mobil berusaha mencegah polisi-polisi yang mulai beringas. Tak pelak lagi, bentrokan terjadi. Saling sikut dan tendang di antara mereka tak terhindarkan. Namun karena perlawanan teman-teman panitia itu pula, polisi tidak berhasil menurunkan saya. Alhamdulillah

Melihat kejadian itu, dari atas mobil, dengan menggunakan mikrofon, minta saya bentrokan dihentikan. Kepada teman-teman panitia sama minta mengalah, karena sejak awal memang kami men-setting aksi damai, bukan anarkis. Syukurlah, baik teman-teman maupun polisi mau mendengarkan anjuran saya. Bentrokan berhenti.

Nah, saat bentrokan terjadi itulah, Ratna mengatakan mendengar suara tembakan dilepas beberpa kali. Entah oleh siapa dan kemana sasarannya, Ratna sendiri tidak tahu. Itulah sebabnya dia yakin bahwa beberapa polisi yang bergantian naik ke atas mobil komando itu tengah mencari selongsong peluru.

“Mereka berusaha menghilangkan barang bukti, Ed,” ujar Ratna. Mungkin karena bentrokan dan masih berorasi dari atas mobil, saya tidak mendengar suara tembakan yang dimaksud Ratna.

Selepas bentrokan, polisi memerintahkan mobil bergerak cepat. Tentu saja massa jadi tertinggal jauh di belakang. Ustadz Alan yang juga masih di atas mobil berteriak-teriak minta mobil dihentikan. Namun sepertinya sopir lebih takut kepada polisi ketimbang mau mendengarkan teriakannya.

Setelah melawati Stasiun Kota, mobil dipaksa belok ke kiri ke arah pasar pagi Mangga Dua. Beberapa puluh meter kemudian, mobil melambat dan akhirnya berhenti. Saat itu ustadz Dahlan melompat turun dan berlari menuju massa aksi yang tertinggal di belakang.

Apa yang kau cari, pak polisi?

Yang menarik, saat mobil masih berjalan, seorang anak muda berkaus hitam berlari kencang mengejar mobil. Dia mengejar mobil sejak masih berada di depan Bank BNI di samping stasiun Kota. Setelah mobil berhenti, dia bergegas naik ke atas mobil dan sibuk mencari sesuatu. Nafasnya masih terengah-engah. Pandangannya tertuju ke dek yang dialasi karpet hijau dan plastik bekas aneka spanduk. Matanya jelalatan liar. Tangannya bergerak cepat ke sana-sini. Hasilnya, nihil. Dia tidak menemukan apa-apa…

Usai dia turun, naik seorang polisi lain, juga berpakaian preman. Kali ini usianya lebih tua. Mungkin 30an tahun. Badannya kekar. Rambutnya lurus agak panjang dan dikuncir di bagian belakang. Dia pun sibuk mencari ini-itu. Dia malah beberapa kali mengangkat-angkat karpet dan bekas spanduk. Hasilnya sama, nihil…

Setelah si gondrong turun, naik polisi yang lain. Kali ini berturut-turut dua orang, semuanya tidak berseragam. Juga sibuk mencari-cari. Karena heran, saya bertanya ke mereka, apa yang dicari. Tapi tidak satu pun dari polisi-polisi itu yang mau membuka mulut.

Seperti kurang puas, si gondrong sekali lagi naik dan mencari-cari.

“Apa yang kau cari?” tanya Ratna.

“Ga cari apa-apa, bu,” jawab si gondrong, matanya masih jelalatan. Jawaban yang bodoh!

“Mana mungkin kau ga cari apa-apa. Apa yang kau cari?” tukas Ratna lagi dengan suara keras.

Saya yang di atas mobil juga tidak habis mengerti apa yang mereka cari. Tadinya saya berpikir, polisi-polisi itu mencari apa saja yang mungkin bisa dan biasa digunakan para demonstran. Mulai dari batu-batu, tongkat dan kayu, senjata tajam, sampai bom molotov. Eit, nanti dulu ah, bom Molotov? Mosok seserius itu, sih?

Nah, usai adegan pencarian yang ganjil dan nihil itulah, terjadi dialog saya dan Ratna seperti di awal tulisan ini. Sampai sekarang, terus terang, saya masih belum yakin kalau para polisi itu mencari selongsong peluru. Namun penjelasan Ratna dikombinasi adegan polisi-polisi yang tergopoh-gopoh mencari sesuatu tadi rasanya cukup masuk akal. Apalagi, menurut Ratna, asisten si sopir mobil komando itu sempat melihat selongsong peluru jatuh di dekat mobil saat bentrokan berlangsung…

Di sisi lain, lagi-lagi saya berpikir, masak iya polisi melepas tembakan? Ke arah mana? Siapa sasarannya? Mungkinkah sasarannya saya, karena materi orasi saya dianggap memprovokasi? Maaf, ini bukan ge-er, tapi lebih karena takut juga, lho… Faktanya, polisi memang naik darah saat saya berorasi di atas mobil yang bergerak pelan. Apalagi baik Roycke, Nasriyadi maupun banyak polisi lain yang marah itu, berteriak-teriak agar saya tidak menyebut-nyebut polisi dalam orasi.

Padahal dengan menggunakan materi polisi sebagai teman, sahabat, dan pengayom rakyat tadi, saya bermaksud mengingatkan massa aksi, agar tidak terpancing emosi dan memusuhi polisi. Maklum, dalam apel pagi, polisi memang diperintahkan untuk menghalau massa. Bahkan perintah itu ditambahi embel-embel “ini tugas negara.” Dalam bahasa pesantren, frasa itu (sudah) setara dengan “jihad fii sabilillah.” Artinya, harus dilakukan apa pun risikonya!

Kembali ke mobil komando, akhirnya kami digiring ke masjid Istiqlal. Di depan ada satu mobil patroli. Di belakang, ada 2-3 mobil lain yang ikut mengawal dengan menyalakan lampu hazard. Keren juga, sih…

Matahari kian terik. Juga karena di atas tidak stabil dan cukup berbahaya, saya minta Ratna turun. Dia setuju bergabung di kabin, duduk bertiga dengan supir dan asistennya. Tinggalah saya sendiri di atas mobil. Untungnya di situ ada boks plastik bekas minuman ringan yang bisa saya pakai duduk. Lumayan. Mobil kembali melaju, menuju masjid Istiqlal. Tentu saja, masih dengan pengawalan polisi.

Kapolsek bohong?

Jadi tidak benar, kalau Kapolsek Tamansari Nasriyadi kepada wartawan mengatakan, orator dan korlap aksi kabur saat diajak komunikasi oleh polisi.

“Kasihan itu, Ratna Sarumpaet ditinggal di atas mobil. Saat kami dekati, mereka semua operator dan Korlap kabur. Hasilnya, Ratna, sama massa aksi yang ibu-ibu dan anak-anak juga ditinggal,” terang Nasriyadi.

Massa aksi tersebut, lalu dinaikkan oleh polisi ke bus. Kemudian Ratna Sarumpaet sempat bersitegang. “Kami sempat tawarkan taxi malahan. Tapi ibu Ratna gak mau, ya kami biarkan. Kalau massa aksi yang lainnya sudah kami naikkan ke bus, sudah kami suruh pullang,” ucap Nasriyadi.

Kalau benar Nasriadi berkata begitu, ini jelas pembohongan publik. Lha wong saya bersama-sama Ratna dikawal sampai di masjid Istiqlal. Sedangkan Budhi, sampai jam 11an masih di café Batvia, ngobrol dengan beberapa polisi.

Oya, sekadar info saja. Di café Batavia itu pula Budhi melihat dan berjabat tangan dengan Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Suntana. Jadi, rupanya, diam-diam Mubes Warga Jakarta ternyata berhasil menarik perhatian para petinggi Polri. Bayangkan, bukan hanya Kapolsek dan Kapolres, bahkan Wakapolda pun memerlukan ikut hadir. Bukan main… (*)

 

Jakarta, 19 September 2016

Edy Mulyadi, Inisiator dan Ketua Panitia Musyawarah Besar Warga Jakarta

Prof Dr Didin Hafidhudin: Pemimpin Baik Adalah yang Beriman dan Beretika Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Prof Dr KH Didin Hafidudin mengatakan, umat Islam adalah pihak yang paling berjasa bagi bangsa Indonesia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara Silaturahmi Akbar Do’a untuk Kepemimpinan Ibukota di Masdid Istiqlal, Jakarta, Ahad (18/9/2016).

“Negara ini merdeka dengan dipimpin para ulama, kyai, dai, tokoh Islam. Sekarang ini kita dilanda masalah besar (dipimpin gubernur non muslim-red). Untuk itu, mari kita menyatukan bangsa agar yang memimpin adalah muslim,” katanya.

Kyai Didin berharap pemimpin DKI Jakarta nantinya adalah pemimpin yang mencintai umat dan tidak arogan.

“Di masjid ini kita berdoa. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita pemimpin yang terbaik. Berikan kami pemimpin yang tidak kasar dan arogan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan secara singkat kriteria pemimpin yang baik. “Yaitu orang yang beriman. Kedua shalat. Susah kalau pemimpin tidak pernah shalat. Tidak mengerti etika Islam. Gaduh terus!” cetusnya.

Jenderal Somalia dan Pengawalnya Tewas dalam Serangan Bom Mobil al Shabaab

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Seorang jenderal Somalia dan beberapa pengawalnya tewas setelah konvoi militer mereka dihantam oleh ledakan bom mobil yang diakui oleh mujahidin Al-Shabaab, lansir Aljazeera, Ahad (18/09/2016).

Jenderal Mohamed Roble Jimale, yang juga dikenal sebagai “Goobaanle”, dan beberapa tentara Somalia tewas dalam serangan di ibukota Somalia, Ahad, kolonel polisi Abdikadir Farah mengatakan kepada kantor berita Reuters.

“Ada ledakan berat yang disebabkan oleh mobil sarat bahan peledak di sepanjang jalan industri, beberapa anggota militer tewas dalam insiden termasuk seorang komandan senior,” pejabat keamanan Abdiaziz Mohamed mengatakan kepada kantor berita AFP.

Jenderal Mohamed Roble Jimale adalah komandan tentara Brigade Ketiga. Dia telah berperang melawan mujahidin al-Shabab sejak tahun 2007, memimpin pasukan yang memerangi jihadis di beberapa lingkungan ibukota sampai al Shabaab mundur dari Mogadishu pada tahun 2011.

Serangan itu terjadi setelah konvoi meninggalkan rumah sakit militer dan menuju ke kantor kementerian pertahanan. Saksi mata mengatakan kendaraan sedang bergerak di jalan saat kendaraan lain menabraknya, menyebabkan ledakan besar.

“Ledakan itu sangat besar, saya melihat asap dan api membayangi seluruh wilayah,” kata saksi Abdi Hassan.

Serangan itu diklaim oleh al-Shabaab dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh stasiun radio resmi kelompok, Andalus.

“Seorang pejuang mujahid syahid saat bom mobil menewaskan Jenderal Goobaanle,” menyebut nama panggilan sang jenderal.

Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengirim ucapan belasungkawa kepada keluarga jenderal, kata juru bicaranya.

Al-Shabaab sering meluncurkan serangan untuk menggulingkan pemerintah korup Somalia yang didukung Barat (AS dan sekutunya).

Al-Shabaab juga telah melakukan serangan berulang-ulang di negara tetangga Kenya.

Sebuah analisis militer baru-baru ini mengumumkan bahwa al Shabaab memperluas jangkauannya dengan sel aktif di Djibouti, Ethiopia, Tanzania dan Uganda.

Silaturahmi Akbar Ulama dan Tokoh Nasional Lahirkan Risalah Istiqlal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Silaturahmi Akbar Do’a untuk Kepemimpinan Ibukota di Masjid Istiqlal pada Ahad (18/9/2016) melahirkan sebuah risalah bernama Risalah Istiqlal. Dalam acara yang dihadiri puluhan ribu umat Islam itu, para ulama dan tokoh nasional menyepakati 9 poin Risalah Istiqlal. Berikut ini isinya:

Risalah Istiqlal

1. Kepada seluruh ummat Islam agar merapatkan barisan untuk memenangkan pemimpin Muslim yang lebih baik.

2. Diserukan kepada seluruh Partai pro rakyat agar berupaya maksimal untuk menyepakati satu calon pasangan gubernur muslim.

3. Diserukan kepada seluruh ummat Islam agar beramai-ramai menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada DKI 2017.

4. Diserukan kepada umat Islam untuk berpegang teguh kepada agamanya dengan hanya memilih calon muslim dan haram memilih non Muslim dan haram golput.

5. Diserukan kepada kaum muslimin untuk menolak, melawan dan melaporkan segala bentuk suap (money politic, serangan fajar).

6. Pentingnya partai politik pro rakyat untuk memaksimalkan daya yang mereka miliki serta melibatkan seluruh potensi/elemen umat untuk memenangkan pasangan cagub-cawagub yang disepakati umat.

7. Mengokohkan ukhuwah dan mewaspadai segala bentuk fitnah dan adu domba yang ditujukan kepada calon yang diusung oleh ummat.

8. Mengingatkan seluruh Pengurus KPUD DKI, RT RW yang ditugaskan sebagai KPPS untuk mengawal dan mengawasi jalannya Pilkada agar terwujud Pilkada yang jujur dan adil.

9. Menghimbau kepada partai yang mendukung calon non muslim untuk mencabut dukungannya. Apabila tidak mengindahkan himbauan maka diserukan kepada ummat untuk tidak memilih partai tersebut.

Pihak Berwenang Saudi Tangkap 54 Tersangka Teror Haji

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Para tersangka kejahatan 30 diantaranya adalah warga Saudi, 13 warga Bahrain, dan sisanya dari tujuh negara yang berbeda. Salah satunya adalah warga negara Brunei, Al Arabiya News Channel melaporkan, Ahad (18/09/2016).

Warga Negara Brunei tersebut adalah orang pertama dari negara Asia tenggara yang ditangkap atas tuduhan terorisme.

Sumber-sumber keamanan tidak mengidentifikasi orang itu tetapi mengatakan ia ditangkap di Riyadh tanpa perlawanan.

Mereka mengatakan terdakwa saat ini sedang diselidiki untuk memverifikasi keterlibatannya dalam operasi teror yang terjadi di Kerajaan atau jika ia memiliki hubungan apapun dengan atau telah mendukung organisasi teroris di negara ini.

Pada tanggal 3 September, 17 tersangka ditangkap, yaitu sembilan warga Bahrain, tiga warga Pakistan, dua warga Saudi, satu warga Yaman, dan satu warga Sudan.

Pada tanggal 5 September, lima tersangka ditangkap. Mereka adalah dua warga Bahrain, dua warga Saudi, dan satu Yaman.

Pada tanggal 6 September, 12 tersangka ditangkap, setengah dari mereka adalah orang Saudi, dua Bahrain, dua warga Yaman, satu Suriah, dan satu Irak.

Pada tanggal 7 September, dua orang Saudi dan satu Suriah ditangkap.

Pada tanggal 8 September, satu Saudi ditangkap.

Pada tanggal 9 dan 10 September, lima orang Saudi ditangkap.

Pada tanggal 11 September, 10 warga Saudi dan satu warga Brunei ditangkap.

Ketatnya keamanan musim haji tahun ini belum pernah dialami sebelumnya oleh para jamaah.
Petugas Saudi terus memasang cctv pada setiap rute dan tempat berkumpul.

“Pusat pengamatan” yang tidak pernah berhenti bekerja dan menjadi jantung pusat komando dan kontrol terletak di Mina, kata Kolonel Saad Al-Dosari, kepala perencanaan.

Petugas lain, Kapten Tareq Al-Azam, mengatakan bahwa timnya yang terdiri dari puluhan pasukan yang kuat bertugas berjam-jam memantau jamaah tahun ini yang berjumlah 1,8 juta.

Lebih dari 5.000 kamera dipasang di seluruh sektor Makkah meliputi radius sekitar 10 kilometer (enam mil) di sekitar Masjid Agung.

Dari sudut pandangnya, kapten bisa mengarahkan kamera dan mampu memperbesar gambaran untuk menyelidiki aktivitas mencurigakan atau berbahaya.

Tim keamanan bertugas “mengamati layar untuk mendeteksi masalah atau terjadinya penyumbatan” dalam aliran konstan jamaah di tempat suci, Dosari menjelaskan.

Jika anomali apapun terdeteksi, “mereka menginformasikan pusat operasi untuk mencegah masalah bahkan sebelum masalah tersebut terjadi.”

Puluhan tentara ditempatkan di pusat pengamatan, terletak beberapa meter jauhnya, dilengkapi dengan headphone dan mikrofon, siap untuk menyampaikan informasi kepada puluhan ribu anggota pasukan keamanan di lapangan.

Polisi Zionis Tangkap 20 Warga Arab Israel

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Polisi zionis telah menahan 20 warga Arab Israel dari partai politik Balad setelah pemeriksaan terhadap keuangan mereka.

Sebuah pernyataan polisi mengatakan mereka menahan pejabat, aktivis, pengacara dan akuntan selama penggerebekan Ahad pagi, lansir Anadolu Agency Ahad (18/09/2016).

Partai itu diduga menyembunyikan asal-usul sumbangan jutaan shekel dari dalam dan luar negeri yang telah membiayai kegiatan partai.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs Arab48, Balad membantah tuduhan tersebut, menyebut penangkapan itu adalah sebuah “eskalasi berbahaya” terhadap partai mereka.

Balad adalah bagian dari warga Arab yang tergabung di parlemen Israel, Knesset, dan memiliki tiga kursi yang diduduki oleh Basel Ghattas, Jamal Zahalka dan Haneen Zoabi.

 

12 Milisi Syiah Sekutu Iran Tewas dalam Pertempuran Aleppo

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 12 anggota milisi Syiah yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran dilaporkan tewas dalam pertempuran dengan pejuang oposisi Suriah di Suriah utara.

Menurut kantor berita Iran Fars pada hari Ahad (18/09/2016), sembilan milisi Syiah anggota Brigade Zeinabiyoun Pakistan dan tiga anggota milisi Afghanistan Fatemiyoun tewas dalam bentrokan dengan mujahidin Suriah di Aleppo, lansir Anadolu Agency Ahad.

Namun penyiar tidak memberikan rincian tentang kapan militan itu tewas.

Fars mengatakan para milisi Syiah itu akan dimakamkan di Qom di Iran selatan, Jumat.

Iran telah menjadi pendukung setia rezim Nushairiyah Bashar al-Assad sejak 2011 ketika pasukan rezim Assad dengan keras menekan protes damai menentang pemerintahannya, dengan kebrutalan militer yang menewaskan ratusan ribu korban jiwa dan jutaan lainnya menjadi pengungsi.

Rusia: Jet Tempur AS Serang Pangkalan Militer Pasukan Assad, 62 Tewas dan 100 Terluka

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 62 tentara rezim Suriah tewas dan hampir 100 lainnya luka-luka dalam serangan yang dilakukan pasukan koalisi di sebuah pangkalan militer di Suriah timur, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Sabtu, lansir World Bulletin Ahad (18/09/2016).

Seorang pejabat pemerintahan Obama Sabtu menyatakan penyesalan atas “hilangnya nyawa dengan tidak disengaja” dalam sebuah serangan udara oleh pasukan koalisi yang menewaskan 62 tentara rezim Suriah, menurut The Associated Press.

Misi Rusia untuk PBB telah menyerukan pertemuan luar biasa Dewan Keamanan yang dijadwalkan pada pukul 7:30 ET (1130GMT) hari Sabtu menyusul serangan udara yang mematikan itu.

Operasi udara itu dilakukan di dekat bandara Deir ez-Zour menggunakan 2 pesawat F-16 dan 2 pesawat A-10 milik pasukan koalisi, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh akun Facebook Kementerian Pertahanan Rusia.

Pentagon mengatakan pesawat koalisi melakukan serangan udara di selatan Deir ez-Zour yang “segera dihentikan” setelah Rusia menginformasikan kepada koalisi pimpinan AS “bahwa personil dan kendaraan yang ditargetkan kemungkinan adalah bagian dari militer Suriah.”

“Pasukan koalisi percaya bahwa mereka menyerang posisi pertempuran IS yang telah lama mereka intai sebelum serangan,” kata Komando Sentral dalam pernyataan.

Krisis itu terjadi setelah seminggu sejak diberlakukannya gencatan senjata kemanusiaan yang ditengahi Rusia-AS., dan hanya beberapa hari sebelum Majelis Umum PBB mengumpulkan lebih dari 190 pemimpin dunia untuk KTT tahunan.

17 Tentara India Tewas dalam Serangan Mujahidin Kashmir di Pangkalan Militer

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Pejuang Kashmir bunuh 17 tentara India selama peyerangan di sebuah pangkalan militer di Kashmir-India Ahad dini hari, Al Arabiya News Channel melaporkan Ahad (18/09/2016).

Para pejuang Kashmir bersenjata berat menyelinap melintasi perbatasan de facto dengan Pakistan sebelum meluncurkan serangan pada basis infanteri yang menjadi rumah bagi ratusan tentara di Uri, yang terletak di sebelah barat Srinagar – kota utama di kawasan itu, kata para pejabat.

Empat pejuang juga tewas dalam serangan yang menyebabkan terbakarnya tenda tentara dan tempat penampungan sementara lainnya, kata militer dalam sebuah pernyataan.

Pertempuran ini menimbulkan korban berat. “Kami menghargai pengorbanan 17 tentara yang tewas dalam serangan itu,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

“Dalam aksi balasan, empat penyerang telah dieliminasi dan operasi penyisiran sedang berlangsung,” kata pernyataan itu.

Sejumlah besar tentara ditempatkan di Uri setelah menyelesaikan tugas mereka di wilayah yang bergejolak, di mana beberapa kelompok pejuang telah memerangi tentara selama puluhan tahun memperjuangkan kemerdekaan wilayah mereka atau bergabung dengan Pakistan.

Warga kota terdekat Uri melihat asap mengepul dari basis setelah fajar dan mendengar putaran tembakan berat berlangsung terus menerus, sementara helikopter militer berputar di atas basis.

Daerah tersebut berada dalam kerusuhan mematikan selama lebih dari dua bulan, dimana warga muslim Kashmir yang protes bentrok hampir setiap hari dengan militer India, dalam kekerasan terburuk sejak 2010.

Sedikitnya 87 warga sipil telah tewas dan ribuan lainnya terluka dalam aksi protes terhadap kekuasaan India, yang dipicu oleh pembunuhan seorang pemimpin mujahidin populer dalam baku tembak dengan tentara pada tanggal 8 Juli.

Kashmir telah terbagi antara India dan saingannya Pakistan sejak keduanya memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan Inggris pada tahun 1947. Keduanya mengklaim wilayah Himalaya secara penuh.

Serangan hari Ahad terjadi setelah pejuang muslim Kashmir melancarkan serangan berani di pangkalan angkatan udara India yang menewaskan tujuh tentara pada bulan Januari.

India menuduh kelompok perlawanan berbasis di Pakistan melakukan serangan di negara bagian utara Punjab yang terjadi beberapa hari setelah Perdana Menteri Narendra Modi memulai kunjungan bersejarah ke Pakistan, meningkatkan harapan membaiknya hubungan kedua negara.

Pada hari Ahad, para pejuang Kashmir pertama-tama menyerang sebuah pangkalan garis depan dekat perbatasan yang dikenal sebagai Garis Kontrol (the Line of Control) atau LoC sebelum bergerak ke kantor pusat, kata juru bicara militer Kolonel S. D. Goswami.

Menteri Dalam Negeri Rajnath Singh mengatakan dalam serangkaian tweet bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin militer dan politik di kawasan itu tentang serangan tersebut dan membatalkan rencana perjalanan ke Rusia dan Amerika Serikat.

Beberapa kelompok pejuang muslim Kashmir selama beberapa dekade telah berjuang melawan tentara India – yang saat ini berjumlah sekitar 500.000 – yang dikerahkan di Kashmir. Puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, tewas dalam pertempuran itu.

Korban Penggusuran: ‘Ahok Tidak Memanusiakan Manusia’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Salah seorang korban penggusuran Pemda DKI Jakarta, mengungkapkan kekecewaannya atas kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Warga Kampung Akurium, Penjaringan, Jakarta Utara itu mengatakan Ahok tidak pro rakyat dan tidak memanusiakan manusia.

“Ahok tidak merakyat, Ahok tidak pro rakyat kecil, Ahok tidak memanusiakan manusia,” kata ibu Darmadiani di pelataran Museum Fatahillah usai menghadiri acara Musyawarah Besar Warga Jakarta, Ahad (18/9/2016).

Darmadiani yang sampai saat ini menolak pindah dari kampungnya, menyampaikan kepada warga Jakarta yang masih mendukung Ahok untuk membuka mata dan hatinya dan mencabut dukungannya,

“Ahok hanya peduli kepada orang kaya, kepada taipan, para pengembang. Bagi mereka Jakarta tidak boleh ada orang miskin, orang miskin adalah penyakit bagi mereka,” tegasnya.

“Bagi kami Ahok sudah tamat dan dari awal kami memang tidak pernah memilih Ahok. Kami memilih Jokowi yang katanya merakyat, tapi akhirnya tidak pro rakyat juga, jadi semua bohong besar,” pungkasnya.