Berita Terkini

82 Pasukan Assad Tewas pada Petempuran di Latakia, Aleppo dan Sekitarnya

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Syiah Assad pada Rabu kehilangan 82 tentara selama pertempuran dengan faksi mujahidin Suriah di berbagai bagian Suriah, di mana seorang perwira serta sejumlah besar pasukan Bashar tewas, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (24/11/2016).

Kemarin telah terjadi pertempuran sengit di wilayah Jabal Alakrad & Jabal Alturkman di pedesaan Latakia, sumbu Almidaani di provinsi Rif Dimashq, di garis depan Tal Bzam dan Maan di pedesaan Hama, dan bentrokan dengan senjata berat di Sheikh Najjar di Aleppo.

Operasi militer yang diluncurkan oleh pasukan rezim Assad di pedesaan Latakia untuk maju ke sumbu Ain Isa dan Jabal Altofahiya telah gagal, jaringan berita yang setia kepada rezim Assad pun mengakui.

Jaringan berita itu juga mengakui kematian 46 tentara, dan satu juga ditangkap, selain 12 yang tewas termasuk seorang perwira brigadir (Nawras Zaher), dan empat petugas peringkat letnan, selama serangan dengan senjata berat yang diluncurkan oleh faksi mujahidin Suriah melawan pasukan al-Assad di Maan, Tal Bzam, dan Soran di pedesaan Hama.

Semua titik yang sebelumnya direbut milisi syiah pro Assad dekat kota Midaani dan Al-Bahariyah telah dikuasai kembali oleh mujahidin, Jaysh al Islam menegaskan delapan tentara Assad juga tewas di sumbu Midaani, saat sedikitnya 15 tentara tewas dalam serangan senjata berat yang dilakukan oleh faksi revolusioner Aleppo terhadap lokasi pasukan Assad di wilayah tua Sheikg Najar.

Karena banyaknya kekakalahan rezim Syiah Assad mengumumkan melalui juru bicara Kementerian Pertahanan kepada para sukarelawan Internasional untuk bergabung dengan Korps Kelima, dalam upaya baru untuk mengkompensasi kekurangan sumber daya pasukan.

Mujahidin Myanmar Mulai Lakukan Perlawanan, Aung San Suu Kyi Ajak Damai

YANGON (Jurnalislam.com) – Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi telah meminta kelompok bersenjata untuk bergabung dengan proses perdamaian setelah pertempuran babak baru telah menewaskan tujuh orang di dekat perbatasan utara negara itu dengan China.

Sedikitnya 12 orang tewas di tengah pertempuran yang sedang berlangsung di Negara bagian Shan sejak Ahad, ketika sebuah aliansi empat kelompok bersenjata dan mujahidin Muslim Rohingya menyerang pos-pos pemeriksaan militer Myanmar, kantor polisi dan Zona Perdagangan ke-105 Mil di kabupaten Muse, Anadolu Agency melaporkan Kamis (24/11/2016).

Lebih dari 33.000 orang di daerah tersebut melarikan diri ke kota Muse untuk menghindar dari pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata serta pejuang Islam, menurut pemerintah Kamis.

Kelompok-kelompok yang terlibat dalam bentrokan tidak mendaftar ke Perjanjian Gencatan Senjata Nasional (Nationwide Ceasefire Agreement-NCA) yang disponsori pemerintah tahun lalu.

Sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948, Myanmar (yang kemudian menjadi Burma) telah berlangsung lebih dari setengah abad konflik bersenjata, dengan kelompok bersenjata disana.

Media pemerintah mengutip pernyataan dari Kantor Penasihat Negara mengatakan bahwa pemerintah “menjaga pintu perdamaian tetap terbuka untuk menyambut semua pemangku kepentingan yang terkait untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian”.

“Dalam rangka untuk segera mengakhiri konflik bersenjata di utara-timur Negara Bagian Shan, saya sangat mendesak kelompok-kelompok bersenjata untuk bergabung dengan proses perdamaian dengan menandatangani NCA,” kata Penasihat Negara Suu Kyi dalam pernyataannya.

Bom Truk Hantam Bus Peziarah Syiah di Pom Bensin Karbala, 97 Tewas

IRAK (Jurnalislam.com) – Sebuah bom truk pada hari Kamis (24/11/2016) menghancurkan sebuah pompa bensin dimana bus yang penuh sesak dengan pengikut agama Syiah yang baru kembali dari peringatan Arbaeen di kota Karbala Irak sedang parkir dan membunuh hampir 100 orang, kata beberapa pejabat keamanan, Al Arabiya News Channel melaporkan, Kamis.

Beberapa warga negara Iran – kontingen asing terbesar dalam ziarah Arbaeen yang berakhir pada hari Senin – termasuk di antara para korban, Operasi Komando Gabungan (the Joint Operations Command-JOC) mengatakan.

“Sedikitnya tujuh bus penuh peziarah berada di dalam stasiun bensin pada saat itu,” kata seorang letnan kolonel polisi kepada AFP.

Ledakan melanda desa Shomali, 120 kilometer (75 mil) sebelah tenggara ibukota Baghdad dan sekitar 80 kilometer (50 mil) dari Karbala.

“Bus tersebut sarat dengan peziarah Syiah dari Iran, Bahrain dan Irak. Ambulans dan pertahanan sipil sedang dalam perjalanan menuju lokasi,”kata seorang sumber intelijen polisi kepada AFP.

Seorang warga Shomali mengatakan stasiun bensin tersebut berada di jalan tol utama antara Baghdad dan kota pelabuhan selatan Basra.

“Ada warga Iran tetapi juga banyak orang dari Basra dan Nasiriyah,” kata Mousa Omran kepada AFP, menyebut kota selatan lainnya.

Sekitar 17 hingga 20 juta orang mengunjungi Karbala, tempat makam Imam Hussein, untuk melaksanakan Arbaeen, yang merupakan salah satu acara keagamaan terbesar bagi sekte Syiah di dunia.

Sejumlah besar peziarah terlihat berjalan jauh untuk mencapai Karbala dalam tahap akhir ritual yang berlangsung beberapa hari.

Menurut pemerintah Irak, sekitar tiga juta warga Iran termasuk di antara pengunjung tahun ini. Banyak dari mereka tinggal beberapa hari lagi untuk mengunjungi kota kuil Syiah tersebut.

Kelompok Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, Aljazeera.

Hindari Kebakaran Besar, Ribuan Warga Zionis Kabur Tinggalkan Rumahnya

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Ribuan warga yahudi pada hari Kamis melarikan diri dari rumah mereka di pinggiran Haifa, kota ketiga negara itu. Beberapa orang lain terperangkap di dalam saat petugas pemadam kebakaran berusaha untuk mengendalikan kebakaran besar di sebelas wilayah, World Bulletin melaporkan, Kamis (24/11/2016).

“Kami mengevakuasi tiga wilayah dan ada beberapa orang yang terjebak,” kata juru bicara pemadam kebakaran Kayed Daher.

“Api masih menyala besar dan api sedang mendekati sebuah pompa bensin.”

“Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa,” kata juru bicara polisi Micky Rosenfeld.

Universitas Haifa dievakuasi sebagai langkah pencegahan, media Israel melaporkan, bahkan api mulai bergerak ke sejumlah markas militer.

Siprus, Rusia dan Turki adalah beberapa negara yang diminta uantuk mengirim bantuan, termasuk pesawat, untuk memadamkan api. (baca juga: Pemukiman Ilegal Zionis Yahudi Ikut Ludes Terbakar )

 

SEAHUM: Kekerasan Terhadap Etnis Rohingya Tentu Berdampak ke Negara Sekitar Myanmar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden South East Asia Humanitarian Forum (SEAHUM) Imam Rullyawa mengatakan, konflik sosial di Myanmar harus dipandang sebagai bencana kemanusiaan yang tentu akan mempengaruhi negara sekitarnya.

“Masih hangat di ingatan kita ketika tak kurang dari ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya terusir dari tanah airnya akibat konflik horizontal di satu dekade terakhir,” ujar Imam di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Kali ini eskalasi tersebut meningkat. Matra bersenjata Myanmar secara demonstratif telah memasuki kampung-kampung etnis Rohingya dan melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, ungkapnya, lansir JITU Islamic News Agency.

Ia mengatakan, SEAHUM dan Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia untuk Rohingya mendesak pemerintah Myanmar agar membuka akses bantuan dan komunikasi ke titik-titik bencana di Myanmar.

Desakan itu menyikapi tragedi kemanusiaan terhadap masyarakat etnis Rohingya yang terus berlangsung di negara itu.

Pemerintah Indonesia pun diminta agar mendesak pemerintah Myanmar membuka akses bantuan dan komunikasi dimaksud.

“(Dengan) membuka blokade kawasan etnis Rohingya kepada lembaga-lembaga kemanusiaan dari Indonesia dan (negara) Asia Tenggara lainnya.

Dalam rangka pengiriman bantuan logistik makanan, pakaian, obat-obatan, serta tim kesehatan agar dapat melakukan respon kemanusiaan secepatnya,” ujar Imam.

SEAHUM merupakan kumpulan organisasi kemanusiaan sejumlah negara yang tergabung di ASEAN, yaitu Malaysia, Singapura, Indonesia, Kamboja, dan Thailand.

Respon untuk Myanmar

Merespon perkembangan terkini di Myanmar, SEAHUM bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia untuk Rohingya akan melakukan sejumlah langkah.

Pertama, kata Imam, akan melakukan penyampaian pendapat massal di depan kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Kedua, SEAHUM bersama aliansi itu akan melakukan misi Humanitarian Flotilla for Rohingya.

“Untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dan kesehatan ke titik-titik konflik di negara Myanmar,” ujar Imam.

Ketiga, kata dia, himpunan lembaga kemanusiaan itu akan melakukan langkah-langkah advokasi dengan berbagai pihak.

“Seperti pemerintah Indonesia, Sekretariat ASEAN, AICHR (Asean Intergovernmental Committee for Human Rights), UNHCR, IOM, ICRC, WFP, dan lain sebagainya,” ujar Imam yang juga Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi.*

Reporter: Muhammad Abdus Syakur/JITU Islamic News Agency

MUI: Tuduhan Makar oleh Kapolri Sakiti Hati Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain menyatakan bahwa Kapolri tidak berhak melarang demo 2 Desember 2016 mendatang.

“Bagi yang ingin menyampaikan aspirasi itu dijamin oleh undang-undang 1945. Jangankan Kapolri melarang ya. Presiden pun nggak berhak melarang, jadi itu penuh hak mereka,” ujarnya saat ditemui JITU Islamic News Agency usai pembukaan Rakernas MUI di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, pada Rabu (23/11/16) malam.

Senada dengan itu, Tengku juga mengungkapkan bahwa MUI pun tidak bisa melarang hak yang sudah dilindungi undang-undang.

“Nah itu hak mereka, masak MUI melarang melakukan haknya yang dilindungi oleh undang-undang dasar. Itu mustahil,” tuturnya.

Tengku menilai, aksi tersebut merupakan respon masyarakat oleh sikap penegak hukum yang dianggap lamban menangani kasus Ahok. Oleh sebab itu, lanjutnya tidak ada yang boleh mengancam.

“Kawan-kawan tidak puas karena sudah tersangka tapi tidak ditahan. Kalau seperti ini kan menimbulkan ketidakpuasan. Ini (demo) hak mereka penuh, tidak ada satu pun yang boleh melarang apalagi mengancam,” imbuhnya.

Terkait dugaan makar yang dituduhkan polisi terhadap aksi tersebut, Tengku menilai itu menyakiti perasaan rakyat.

“Oleh karena itu, tidak bisa seenaknya menuduh, itu menyakiti perasaan rakyat, khususnya umat islam yang tidak puas atas penanganan kasus Ahok ini,” tegasnya.

Reporter: Ali Muhtadin

Umat Islam Menuntut Keadilan, Jangan Dianggap Anti Kebhinekaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Din Syamsudin menyoroti adanya pernyataan segelintir pihak yang mengatakan aksi umat Islam sebagai tindakan anti kebhinekaan, toleransi dan kemajemukan.

Din mengatakan, justru yang menolak demo harusnya mendukung penegakan hukum bukan malah membela tersangka penistaan agama.

“Tidak benar kami umat Islam yang menuntut keadilan sebagai anti kebhinekaan,” ujarnya di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Menurut Din, justru ujaran yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok adalah manifestasi dari anti toleransi dan anti kemajemukan. Karena memasuki wilayah yang sensitif dan dengan kata yang negatif, sinis, serta pejoratif.

“Kalau saya berpendapat (sikap seperti Ahok) ini harus dicegah. Dan jangan sampai yang bereaksi justru yang dituduh anti toleransi,” paparnya.

Din menegaskan, persoalan Ahok bukanlah persoalan agama dan etnik tertentu. Tetapi perbuatan individual yang harus dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan secara pribadi.

Din menambahkan, kasus Ahok ini sudah menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat, serta kehidupan nasional juga sudah terjebak dalam pertentangan yang ekstrim.

“Maka harus segera diakhiri. Dan cara mengakhirinya adalah dengan penegakan hukum yang berkeadilan. Penegakan hukum adalah cara beradab untuk menyelesaikan masalah. Kalau tidak, dikhawatirkan ada yang sampai ada yang main hakim sendiri,” tandasnya.

“Penegakan hukum inilah yang ditunggu,” pungkas Din.

Reporter: Yahya Nasrullah

Menag: Keberadaan MUI Sangat Penting, Menghilangkannya akan Rugikan Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia Lukman Halim Saifuddin menegaskan tentang pentingnya keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bagi bangsa dan negara.

“Keberadaan MUI sangat penting, kalau ada suara-suara yang ingin menghilangkan MUI ini sungguh akan merugikan bangsa Indonesia,”ujar Lukman pada pembukaan Raker MUI di Hotel Mercure, Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Setidaknya secara umum, Lukman menyebutkan MUI banyak memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menjaga dan memelihara kualitas kegamaan dan pendidikan masyarakat kita.

“Keberadaan MUI sangat berarti bagi bangsa Indonesia, keberadaan MUI akan membuktikan adanya peningkatan kualitas kerukunan beragama,”ungkap Lukman.

Menurutnya disinilah Islam diharapkan mengedepankan kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat Indonesia meskipun beragama agama dan kemajemukan.

“Inilah kontribusi MUI menurut saya harus dijaga keberadaannya. Bagaimana cara mensikapinya adalah dengan melakukan penyempurnaan bukan justru menghilangkan MUI

Seperti diketahui, Rapat Kerja Nasional (Rekaernas) selama tiga hari mulai Rabu sampai Jum’at (23-25/11/2016) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara.

Peserta Rekernas, selain dari unsur Dewan Pimpinan MUI Pusat, kata Anwar, juga hadir perwakilan Dewan Penasihat dan Dewan Pertimbangan MUI Pusat serta perwakilan pengurus MUI Provinsi/Daerah se-Indonesia.

Reporter: Yahya Nasrullah (JITU Islamic News Agency)

KH Ma’ruf Amin: Keputusan MUI Sudah Mujma’alaih, Tidak Boleh Diingkari

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan Ahok menistakan agama mendapat kecaman oleh berbagai pihak. Terkait komentar itu, Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin memberikan tanggapan dalam pembukaan RAKERNAS MUI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, pada Rabu (23/11/16) malam.

“Beberapa kebijakan mereka menunggu keputusan MUI tapi kadang kebijakan MUI juga dipersoalkan,” ujarnya dalam pidato iftitah.

Kyai Ma’ruf menegaskan bahwa apa yang menjadi keputusan MUI tidak bisa diingkari.

“Kalo sudah jadi keputusan MUI itu kita anggap almujma’alaih. Dan itu tidak boleh diingkari,” kata Kyai Ma’ruf yang juga merupakan Rais Aam PBNU.

Terkait MUI yang dinilai masuk wilayah politik, Kyai Ma’ruf membantah bahwa Ahok lah yang masuk wilayah agama.

“Sekarang kita mengalami lagi. Bahwa MUI dibubarkan karena masuk masalah wilayah politik, saya bilang bukan MUI yang masuk politik tapi Ahok yang masuk wilayah agama,” tegasnya.

Kasus Ahok ditegaskan kembali oleh Kyai Ma’ruf sebagai murni penistaan agama.

“Kita sudah mengatakan bahwa persoalan pulau seribu itu bukan karena dia beragama nasrani, bukan karena keturunan tionghoa, pilkada, tapi karena dia melakukan penistaan agama, karena itu murni persoalan hukum,” imbuhnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Mentri Agama Luqman Hakim Saifuddin, Ketua MPR RI Zulkifli Hassan, Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, serta beberapa perwakilan MUI daerah.

Reporter: Ali Muhtadin (JITU Islamic News Agency)

Din Syamsudin: Kalau Ahok Bebas Saya Akan Turun Memimpin Perlawanan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Din Syamsudin dalam sambutannya saat Pembukaan Rekernas II MUI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Rabu (23/1/2016) bercerita soal pertemuannya dengan Kapolri Tito Karnavian.

Kepada Tito, Din mengatakan, meski dirinya bersahabat baik, tetapi jika sampai tersangka kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama bebas, maka ia akan turun sendiri melakukan perlawanan.

“Kalau sampai (Ahok) bebas saya akan turun memimpin perlawanan,” ujarnya.

Din juga mengkritik, penegakan hukum kasus Ahok yang terkesan sibuk dengan hiruk pikuk lain dan mengkesampingkan penyebab utamanya.

“Hiruk pikuk membereskan barang-barang di sekitar tapi lupa dengan bara apinya,” jelasnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengaharapkan, agar kepolisian jangan sibuk dengan akibat tapi penyebabnya dibiarkan.

“Jangan karena orang satu harmoni bangsa terganggu,” tandas Din.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amun dan puluhan pengurus MUI pusat dan daerah.

Reporter: Haekal (JITU Islamic News Agency)