Berita Terkini

HMI Mataram Tuntut Kasus Ahok Harus Transparan

MATARAM (Jurnalislam.com) – Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Mataram menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda NTB, kemarin, Jumat (25/11/2016). Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap unjuk rasa damai umat umat Islam, 4 November lalu.

Darin, koordinator aksi mengatakan, HMI-MPO Mataram mengaku prihatin dengan penegakan supremasi hukum di Indonesia. Terutama dalam hal penanganan kasus penistaan agama yang disangkakan pada Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

”Kami harapkan pihak kepolisian mempercepat proses hukumnya. Diadili sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” kata dia kepada Jurniscom.

Masyarakat perlu mengetahui kejelasan proses hukum usai Basuki ditetapkan sebagai tersangka. Selain itu, desakan ini pun untuk melihat seberapa serius kepolisian dalam menangani kasus tersebut, ujar Darin dilansir lombokpost

”Polisi harus serius menangani ini, jangan sampai penanganannya malah mengambang,” tegas Darin.

Dalam pernyataan sikapnya, HMI-MPO menyatakan presiden harus tegas demi kedaulatan dan keutuhan NKRI. Mereka juga menuntut lembaga hukum harus professional dalam menegakkan hukum

Gedung Pemerintah Myanmar Diserang Bom di Yangon

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Polisi Myanmar mengatakan dua ledakan terjadi di sebuah gedung pemerintah daerah di kota terbesar Myanmar Jumat malam – merupakan insiden ketiga dalam sepekan.

Tentara dan polisi mengepung kantor pemerintah daerah dekat pagoda suci Shwedagon di Yangon tempat ledakan dilaporkan.

Seorang polisi senior mengatakan kepada Anadolu Agency, Jumat (254/11/2016) bahwa tidak ada yang terluka dalam ledakan tersebut.

“Kami masih memeriksa apa perangkat yang menyebabkan ledakan,” kata Win Naing, menambahkan bahwa motif ledakan masih belum jelas.

Insiden terbaru tersebut adalah ledakan ketiga dalam sepekn sejak pertempuran pecah antara tentara dan oposisi serta kelompok pejuang muslim Rohingya di utara-timur Negara Bagian Shan.

Tiga bom buatan tangan diduga telah meledak di sebuah supermarket di Yangon pada hari Ahad, dan empat ledakan dilaporkan pada kantor imigrasi di kota Dagon Township, Kamis.

Salah Satu Rumah Sakit Tersisa di Aleppo Dirudal Jet Tempur Suriah-Rusia

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sebuah rumah sakit khusus Obstetri dan Ginekologi (OBGYN) di kota Termanin Suriah menjadi sasaran serangan udara pada hari Jumat, dilaporkan menewaskan dua orang dan beberapa luka-luka, Al Arabiya News Channel melaporkan Jumat (25/11/2016).

Rumah sakit Al-Zahraa, yang terletak di wilayah perbatasan antara Aleppo dan Idlib, dilaporkan menjadi salah satu dari beberapa rumah sakit OBGYN yang tersisa di daerah.

Dokter yang bekerja di rumah sakit itu mengirimkan gambar kepada Al Arabiya English menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh sedikitnya satu serangan udara yang dilaporkan.

Sekitar 250.000 orang di Aleppo Timur telah dikepung sejak militer rezim Syiah Bashar al-Assad, dibantu oleh milisi yang didukung Iran dan jet Rusia, memotong jalan terakhir di awal Juli.

Rumah sakit terakhir yang beroperasi di distrik yang dikuasai pejuang Suriah dihancurkan oleh jet tempur Rusia pekan lalu, menyebbkan orang-orang yang terkepung tidak memiliki akses untuk perawatan medis.

Faksi Revolusioner Suriah Rebut Kembali atas Sejumlah Wilayah di Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Dua faksi gabungan mujahidin Suriah yang dikenal faksi revolusioner Perlawanan Suriah pada Jumat pagi berhasil merebut kembali kontrol atas sebagian besar titik pertahanan yang hilang kemarin di lingkungan Perumahan Hanano Aleppo.

Sebuah sumber militer mengkonfirmasi untuk reporter ElDorar AlShamia, Jumat (25/11/2016) bahwa faksi jihad Fath Halab dan Jaysh al Fath meluncurkan serangan balasan pada dini hari setelah menembakkan rudal menargetkan lokasi dan jalur pasokan untuk pasukan rezim Nushairiyah Assad, dan faksi mampu mendapatkan kembali seluruh titik yang hilang sebelumnya dan ada kurang dari lima bangunan yang tersisa yang akan kembali dikuasai faksi dalam operasi mereka berikutnya.

Pasukan rezim Assad yang didukung oleh milisi Syiah Lewaa al-Quds melancarkan serangan kemarin didukung oleh perlindungan udara yang menjatuhkan bom vakum & cluster serta menyerang situs bunker milik faksi revolusioner di lingkungan strategis Hanano Housing di Aleppo untuk menguasai dan membagi distrik al-Sakhour menjadi bagian timur dan barat.

Sejak pasukan al-Assad mengepung sekitar 300.000 warga sipil di Aleppo, mereka telah mencoba mencaplok wilayah utara dan selatan, yaitu Sheikh Saeed – perumahan Hanano – al-Ard al-Hamra. Dimana pun ada sejumlah besar lahan pertanian mereka berusaha menguasainya untuk menekan orang-orang yang terperangkap dan memaksa mereka pergi keluar, seperti yang terjadi di kota Darya Agustus lalu.

Pasukan Khusus AS Tewas di Suriah Utara

SURIAH (Jurnalislam.com) – Militer mengatakan “seorang pasukan khusus AS tewas karena luka-luka dalam ledakan bom rakitan di sekitar Ayn Issa di Suriah utara”, World Bulletin melaporkan, Jumat (25/11/2016).

Sekitar 250 Pasukan Operasi Khusus AS telah dikerahkan ke Suriah untuk mendukung Pasukan Demokratik Suriah, sebuah kelompok yang dipimpin oleh ekstremis PKK/PYD.

Kelompok ini mencoba mengisolasi Raqqah, yang IS nyatakan sendiri sebaga ibukota mereka, yang 55 kilometer (34 mil) di selatan Ayn Issa.

Militer AS tidak mengungkapkan identitas tentara yang tewas.

Sediktnya 40 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta Api di Iran

IRAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 40 orang tewas dan 100 lainnya luka-luka ketika dua kereta penumpang bertabrakan di provinsi Semnan di utara-tengah Iran dan jumlah korban tewas kemungkinan akan meningkat, menurut laporan berita dan pejabat setempat, Aljazeera melaporkan, Jumat (25/11/2016).

Televisi negara Iran menyiarkan cuplikan reruntuhan pada hari Jumat yang menunjukkan empat gerbong tergelincir, dengan dua dari mereka terbakar.

Foto udara yang diterbitkan oleh saluran berita IRINN juga menunjukkan beberapa orang dan kendaraan penyelamat di dekat lokasi kecelakaan.

Seorang juru bicara Iran Red Crescent, Mostafa Mortazavi, mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Fars bahwa petugas pemadam kebakaran berusaha mengendalikan kobaran api.

Kecelakaan itu terjadi di stasiun Haft-Khan di kota Shahroud, sekitar 400 km sebelah timur ibukota Teheran.

“Jumlah korban tewas telah mencapai 31 dan kami memperkirakan jumlah ini akan meningkat,” kata Gubernur Semnan Mohammad Reza Khabbaz kepada Fars.

Media setempat memberi informasi jumlah korban yang bertentangan. Fars mengatakan bahwa sedikitnya 52 orang dirawat di rumah sakit karena luka-luka.

Tidak ada informasi langsung mengenai berapa banyak penumpang yang berada di dalam kereta. Tapi Fars mengatakan 100 penumpang telah diselamatkan.

Fars mengatakan penyebab kecelakaan itu sedang diselidiki, tetapi ternyata diketahui bahwa salah satu kereta memasuki stasiun dan menabrak kereta lain yang sedang berhenti dan telah berada di stasiun yang sama terlebih dulu.

Seorang pejabat setempat mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa lokasi kecelakaan yang terpencil membuat upaya penyelamatan berjalan lambat. “Sejauh ini hanya satu helikopter yang telah mencapai lokasi kejadian karena sulitnya akses,” kata Kepala medis lokal Hasan Shokrollahi.

GNPF MUI Pastikan Rabu Depan Larangan kepada PO Bus Dicabut

SOLO (Jurnalislam.com) – Beredarnya informasi pelarangan Perusahaan Otobus (PO) yang terjadi di berbagai wilayah untuk aksi 212 dibenarkan Ketua GNPF MUI, Ustadz Bachtiar Nasir.

“Sejujurnya itu ada instruksi dari Kapolri, juga dari Presiden. Karena kita belum komunikasi kemarin, jadi ada kekhawatiran-kekhawatiran,” kata ketua GNPF MUI, Bahtiar Nasir kepada wartawan di gedung Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Pajang, Laweyan, Solo, Jumat (25/11/2016).

Pendiri AQL Center itu menegaskan, upaya pemerintah untuk menghalangi massa mengikuti aksi super damai itu tidak mendasar. Selain itu, ia juga membantah isu makar yang dikaitkan dalam aksi tersebut.

“Sebab menghalang-halangi, dengan tuduhan makar, mengganggu ketertiban umum, ini belum terbukti dan tidak ada indikasi,” tegasnya.

Untuk itu, ia berjanji akan melakukan upaya komunikasi dan kordinasi dengan pemerintah. “Mungkin kita akan berkoordinasi, mungkin selasa atau rabu sudah selesai,” pungkasnya.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat instruksi itu akan dicabut,” pungkasnya.

 

Ini Pernyataan Sikap IHR Menyoal Genosida Bangsa Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tindakan kejahatan kemanusiaan kepada bangsa Rohingya kembali terjadi. Citra satelit terbaru yang ditunjukkan kelompok Human Rights Watch (HRW) menunjukkan lima desa komunitas Rohingya dibakar dalam tindakan kekerasan junta militer Myanmar.

Akibatnya ratusan orang tewas, 1.250 bangunan hancur, 30.000 orang kehilangan tempat tinggal, serta 150 ribu jiwa hidup tanpa makanan dan akses kesehatan yang memadai. Ironisnya, Myanmar kini justru dipimpin oleh faksi politik Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi, tokoh demokrasi peraih Nobel Perdamaian yang harusnya dapat mencegah terjadinya kekerasan, bukan menjadi aktor yang memperburuk kondisi kemanusiaan di Arakan.

Kejadian nahas ini semakin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa ada upaya terstruktur untuk melakukan genosida terhadap etnis Rohingya. Mencermati situasi ini, untuk itu lembaga kemanusiaan Indonesia Humanitarian Relief (IHR) menyatakan sikap:
gambar-satelit-menunjukkan-desa-muslim-rohingya-myanmar-kembali-dibakar3
1. Mengutuk tindakan kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa Rohinya yang dilakukan oleh dan dibiarkan oleh rezim junta militer Myanmar. Kami memandang sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari Myanmar adalah tindakan diskriminasi yang mendorong gelombang tsunami kekerasan terhadap etnis Rohingya.

2. Mengajak masyarakat Indonesia untuk turut memberikan kontribusi positif berupa bantuan kemanusiaan guna meringankan penderitaan warga Rohingya sebagai tuntutan agama dan konstitusi bahwa Indonesia berdiri di atas perikemanusiaan dan perikeadilan.

3. Meminta pemerintah Indonesia untuk pro aktif dalam kerja-kerja diplomatik dan kemanusiaan untuk menghentikan laju kekerasan terhadap etnis Rohingya dan membuka akses kemanusiaan ke titik pusat kejadian. Indonesia adalah kakak tertua di ASEAN yang seharusnya dapat memainkan peran lebih untuk menghentikan upaya genosida dan diskriminasi rasial (SARA) yang diberlakukan pemerintah Myanmar atas warga muslim Rohingya.

4. Mendesak ASEAN untuk mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang telah menimpa bangsa Rohingya. Etnis Rohingya selama ini telah dibunuh, diperkosa, dan kehilangan hak-haknya, namun selama ini aktivis kemanusiaan menilai ASEAN lebih banyak diam dan tidak banyak berbuat.

5. Mendorong para tokoh bangsa, masyarakat dan NGO internasional untuk terus mengangkat isu Rohingya dalam tiap kesempatan maupun pada forum-forum strategis untuk menjadikan masalah ini sebagai opini global sekaligus menyadarkan para pemimpin dunia bahwa telah terjadi pelanggaran HAM serius di wilayah Arakan, Myanmar tempat jutaan warga Rohingya berdiam.

Menakut-nakuti Demonstran, Media dan Upaya Membangun Phobia

JURNALISLAM.COM – Menjelang aksi damai 2 Desember 2016, publik sudah dpenuhi berbagai spekulasi dan wacana di layar kaca (ponsel atau televisi kita). Pemerintah dan elit parpol wara-wiri berkonsolidasi. Namun yang paling massif adalah pernyataan-pernyataan yang disebut terindikasi makar pada rencana aksi 212. Pernyataan itu misalnya disebut Kapolri, Tito Karnavian, pada (21/11/2016).

Sayangnya isu makar tersebut menjadi bola liar di masyarakat. Penjelasan pemerintah tak terang benderang. Kapolri misalnya ketika ditanya sosok aktor di balik rencana makar, meminta masyarakat untuk membacanya di Google. Begitu pula Menkopolhukam Wiranto, ketika ditanya sumber informasi tentang makar, menjawab mengetahuinya dari media sosial. Nyatanya informasi yang beredar di media sosial adalah informasi yang amat sumir dan harus di verifikasi kebenarannya. Majalah Nieman Reports yang dikeluarkan oleh Nieman Foundation di Harvard bahkan sampai mengeluarkan edisi khusus yang membahas kebenaran informasi di era digital. (Nieman Reports vol 66: 2012)

Sumirnya informasi tentang makar ini tak ayal akan menimbulkan rasa cemas dan ketakutan di masyarakat. Boleh jadi masyarakat akan saling mencurigai satu sama lain. Ketakutan di masyarakat ini bukan kebetulan. Melainkan diperkokoh oleh media massa yang amat mengeksploitasi informasi tentang makar yang sumir tersebut. Pembahasan soal rencana demonstrasi (aksi damai) 2 Desember 2016, terpusat pada isu makar yang dilontarkan pemerintah. Hal ini misalnya dapat dilihat dari pemberitaan media online nasional di tanah air seperti detik.com, kompas.com, Tempo.co dan cnnindonesia.com. Detik.com bahkan merangkum topik rencana demonstrasi 2 Desember 2016 dengan judul “Awas Demo Makar.” Sedangkan CNN Indonesia merangkum dengan judul “Aksi Menghadang #212.” Kedua judul tersebut memberikan kesan negatif pada aksi 2 Desember nanti. Sementara Kompas.com lebih memilih merangkum dengan judul yang lebih netral, yaitu “Demo 2 Desember 2016.“ Sedangkan Tempo.co memang tidak melakukan kebijakan pengelompokan khusus dengan memberi judul tertentu pada pemberitaannya. Dari ketiga media tersebut tak ada yang memuat rencana demonstrasi tersebut dengan sebutan resmi yang dikeluarkan oleh GNPF-MUI, pemrakarsa demonstrasi, yaitu Aksi Super Damai Jilid 3.

Isu makar yang diekspos begitu masif oleh media massa bukan kebetulan semata. Hal ini terlihat dari pemberitaan sejak menjelang aksi demonstrasi pertama yang menuntut proses hukum Gubernur non aktif Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) tanggal 14 Oktober 2016. Pemberitaan menjelang demonstrasi 14 Oktober 2016 kala itu sudah didominasi pemberitaan yang mengambil sudut pandang keamanan. Pemberitaan lebih banyak diberikan porsi pada persiapan keamanan yang dilakukan pemerintah. Pun ketika demonstrasi tanggal 14 oktober berlangsung tertib tak banyak perhatian yang diberikan. Media-media lebih memilih untuk memberitakan soal dampak dari demonstrasi seperti pengalihan arus lalu lintas. Bahkan kita tahu, media kemudian lebih tertarik memberitakan soal taman yang rusak akibat demonstrasi ketimbang aspirasi tersebut. Pemberitaan soal taman yang rusak ini amat diekspos oleh media massa. Salah satunya Detik.com yang bahkan memberitakan soal taman secara tiga hari berturut-turut dan setidaknya terdapat 10 berita soal rusaknya taman, di luar berita foto tentang taman tersebut sejak tanggal 14 hingga 16 Oktober 2016.

Salah satu bentuk pemberitaan lain untuk mengecilkan demonstrasi pertama adalah dengan mengecilkan beragamnya peserta demonstrasi. Hal ini yang dilakukan oleh Tempo.co. Tempo.co menyebut peserta demonstrasi sebagai FPI belaka. Tempo tetap konsisten dengan menyebut demonstrasi sebagai demonstrasi FPI baik di judul maupun isi berita mereka. Hal itu dapat dilihat misalnya pada berita “Unjuk Rasa FPI, Polda Siapkan Buka-Tutup Jalur Ini” dan “Hadang FPI, Ribuan Personl Gabungan Bersiaga di Balaikota DKI.” Begitu intensnya Tempo.co hendak mengidentifikasi peserta aksi yang beragam hanya sebatas FPI, dalam sebuah pemberitaannya Tempo.co menyesatkan pembaca dengan ‘meminjam mulut Presiden.’ Hal ini dapat kita lihat pada berita yang berjudul “Jokowi: Demo FPI Jangan Paksakan Kehendak.“ Pernyataan Presiden ini disampaikan pada 31 Oktober 2016, menanggapi rencana demonstrasi jilid dua yang meminta proses hukum terhadap Ahok. Tempo.co menulis dalam beritanya:

“Presiden Joko Widodo mengaku sudah mendengar soal rencana demo besar Front Pembela Islam pada Jumat, 4 November 2016. Ia mempersilakan FPI melakukan demo tersebut. (cetak tebal dari penulis). “Demonstrasi adalah hak tiap warga. Silakan, boleh saja demo,” ucap Presiden Jokowi saat dicegat awak media di Jakarta Convention Center, Senin, 31 Oktober 2016.”

Pertanyaan yang dapat kita ajukan, apakah Presiden Joko Widodo mengatakan secara literal FPI boleh melakukan demonstrasi? Ternyata tidak. Presiden Joko Widodo tidak menyebut pihak tertentu. Ia hanya menyebut demonstrasi hak setiap warga.

Tidak berhenti disitu, Tempo.co kembali menyesatkan pembaca dengan ;meminjam pernyataan presiden untuk menekankan identifikasi terhadap FPI. Dalam berita tersebut di tulis,

“Presiden Joko Widodo berujar, meski diperbolehkan, bukan berarti demo itu tanpa aturan dan batasan. Ia menuturkan FPI boleh berdemo, asal tidak memaksakan kehendaknya lewat cara apa pun, terutama kekerasan. (cetak tebal dari penulis). Presiden berharap tidak ada tindakan kekerasan apa pun pada unjuk rasa Jumat nanti. Ia mengatakan FPI harus bisa berdemo dengan tertib, aman, dan tidak menimbulkan aksi anarkistis.” (cetak tebal dari penulis)

Benarkah Presiden Joko Widodo benar-benar menuturkan : “FPI boleh berdemo?“ Nyatanya tidak demikian.* Setelah mengatakan, “Demonstrasi adalah hak setiap warga,“ Presiden Joko Widodo hanya mengatakan, “Silakan, boleh. Boleh saja..mau demonstrasi. Tapi yang Penting Jangan memaksakan kehendak.“

Begitu pula dengan kalimat “Ia mengatakan FPI harus bisa berdemo dengan tertib,…“ Apakah presiden benar berbicara demikian? Setelah mengatakan “boleh saja..mau demonstrasi,“ Presiden Jokowi hanya mengatakan, “Tapi yang penting jangan memaksakan kehendak. Atau.yang merusak, yang anarkis. Dan Pemerintah terus akan menjamin setiap warga negara untuk menyampaikan pendapatnya. Tapi tetap mengutamakan ketertiban umum“
Lantas mengapa Tempo.co menulis “presiden menuturkan FPI boleh berdemo?“ dan “FPI harus bisa berdemo dengan tertib?“ Bukankah ini dapat menyesatkan pembaca? Tugas jurnalis adalah menulis sesuai fakta, bukan menafsirkan, atau memaksakan fakta sesuai dengan kepentingan media. Framing dibolehkan dalam pemberitaan, selama tidak mengaburkan fakta. Apa yang dilakukan tempo.co adalah meminjam figur presiden Jokowi (putting words into someone’s mouth) untuk menekankan pemberitaan pada FPI. Cara-cara seperti ini amat kita sesalkan dalam praktek jurnalisme di Indonesia. Memaksakan cara pandang media sehingga mengaburkan fakta.

Seperti yang sudah kita ketahui, demonstrasi 4 November 2016, kemudian bukan saja berlangsung secara damai, tetapi juga diikuti setidaknya 2 juta orang, dan mungkin salah satu demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Media massa dan masyarakat kemudian mengenalnya sebagai aksi damai 4 November 2016. Insiden ricuh pada malam harinya pun dimaklumi sebagai tindakan provokator dan tidak menodai kesan aksi damai yang berlangsung dari siang hingga sore harinya. Fokus pemberitaan kembali bergerak pada sentimen politik setelah pemerintah kembali memberi pernyataan yang sumir mengenai aktor politik. Dan isu aktor politik itu pun kembali menjadi bola liar hingga menjelang demonstrasi ketiga.

Pemberitaan yang kita simak saat ini tampaknya memang akan terus berpusar pada persoalan makar yang sangat diekspos oleh media. Lantas mengapa media begitu intens memberikan pemberitaan yang membangun rasa takut di masyarakat terhadap demonstrasi? David L. Altheide (2003) menyatakan bahwa kecondongan media untuk menyajikan pemberitaan yang membangun rasa takut terinspirasi dari dunia hiburan. Penyajian yang membangun rasa takut ini bukan hanya perkara kriminalitas, tetapi juga hal lain yang terasosiasi dengan rasa takut, seperti wabah, AIDS terorisme, anak-anak dan sekolah. Dan biasanya hal ini juga diikuti dengan komunikasi yang membangun rasa takut dan kontrol dari pemerintah.

Dampak dari pemberitaan yang membangun rasa takut ini tentu bukan sepele. Media memiliki kemampuan untuk berkontribusi di agenda politik dan sosial. Media bukan saja memberikan informasi tetapi juga dapat mengarahkan orang untuk fokus dan takut pada kejahatan, ia bahkan dapat menanamkan nilai dan perspektif tertentu. Masyarakat akibatnya merasa tak aman dan merasa dapat menjadi korban. (David L. Altheide : 2003)

Dampak terbesar dari wacana ketakutan adalah mempromosikan rasa tidak teratur, (disorder), dan percaya keadaan sudah diluar kendali. Kehidupan sosial bisa menjadi lebih berbahaya jika aktor sosial mendefinisikan situasi mereka sebagai “menyeramkan” dan terlibat dalam masyarakat lewat wacana ketakutan. Ketika masyarakat sudah terfokus dalam ketakutan (dan kekalutan), mereka tak lagi mampu memilah secara rasional, informasi yang disajikan tak lagi diseleksi sehingga kehadiran pemerintah yang seakan menjadi “penyelamat” tanpa dikritisi lagi.

Membangun rasa takut terhadap demonstrasi tak ayal adalah salah satu ciri dari rezim orde baru. Demonstrasi dianggap sebagai sebuah aksi subversif terhadap pemerintah. Stempel baik ekstrim kiri atau ekstrim kanan ditimpakan begitu saja kepada mereka yang terlibat demonstrasi. Sehingga ketika masyarakat dilanda ketakutan terhadap demonstrasi, masyarakat akhirnya membiarkan begitu saja tindakan represif bahkan berujung pembantaian terhadap demonstran, seperti misalnya yang terjadi pada Tanjung Priok tahun 1984.

Demonstrasi seharusnya tidak perlu ditakuti. Selain dijamin oleh Undang-Undang, demonstrasi juga sebuah pertanda hidupnya demokrasi di sebuah negara. Di Indonesia, demonstrasi menjadi seiring dengan perjalanan bangsa kita. Bahkan demonstrasi menentang penistaan agama sudah terjadi sejak tahun 1918, ketika surat kabar Djawi Hiswara menerbitkan tulisan Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo.” Dalam artikelnya, Djojodikoro menulis“Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium.”

Tulisan ini mengundang reaksi hebat umat Islam kala itu. Dimotori oleh Sarekat Islam, organisasi bercorak nasional pertama di Indonesia, protes terhadap penistaan agama itu menghebat di berbagai tempat. Tjokroaminoto kemudian membentuk Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM), melakukan aksi protes di 42 tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang. Perlu diingat, saat itu Indonesia masih dalam keadaan terjajah oleh kolonial Belanda, namun aksi protes tetap bisa berlangsung. Pun, sepanjang sejarah bangsa kita, aksi massa terus mewarnai. Berkumpulnya massa di lapangan IKADA tahun 1945 juga bagian dari sejarah bangsa. Bahkan reformasi yang menandai pergerakan Indonesia lepas dari sistem otoriter di tahun 1998 juga tak lepas dari aksi demonstrasi.

Di era digital saat ini, aksi demonstrasi justru menjadi pertanda baik hadirnya aktivitas politik masyarakat yang nyata. Sejak hadirnya media digital, terutama media sosial seperti Facebook dan Twitter, masyarakat seperti amat aktif berpolitik dan menjadikan politik isu keseharian mereka. Aktivisme politik pada era digital saat ini bernuansa kontestasi kuasa dan makna dalam dunia maya dan ditentukan pembagian peran oleh buzzer, influencer dan followers. Benar atau salah dihitung dari seberapa banyak menuai like dan seberapa viral di dunia maya. Selain itu aktivisme politik di dunia maya saat ini memang condong pada saling perang kepentingan yang diungkap secara reaksioner dan emosional. Hujat menghujat meramaikan aktivisme politik ini. (Wasis Raharjo Jati : 2016) Namun aktivisme politik ini dipertanyakan wujudnya dalam dunia nyata. Seberapa besar aktivisme di dunia maya ini mampu menggerakan masyarakat dalam politik yang nyata? Ataukah hanya keriuhan di dunia maya semata. Hadirnya gelombang informasi yang begitu massif memang bukan berarti hidupnya demokrasi di masyarakat.

Hadirnya internet, terutama media sosial juga bukan berarti memberi pengetahuan politik yang memadai bagi masyarakat. Masyarakat dibanjiri informasi, namun tak dapat memilah. Masyarakat (merasa) hanya perlu dilibatkan saat politik elektoral saja. Ketika menjelang pemilu, mereka dilibatkan. Namun setelah para politisi terpilih, mereka menyerahkan pada politisi semata untuk mengurus soal politik. Schudson menyebut fenomena ini sebagai ‘political backpackers.’ “Why we should expect when we are all wired, we’ll be closer to some kind of democracy?” (Michael Schudson: 2001)

Maka ketika masyarakat turun ke jalan untuk melakukan aksi demonstrasi, itu berarti masyarakat telah menyalurkan aspirasinya dalam ruang demokrasi. Pertanda yang baik bahwa gelombang protes masyarakat di dunia digital khususnya media sosial, untuk menuntut penegakan hukum terhadap kasus penistaan agama oleh ahok bukanlah gelombang protes yang diciptakan oleh aktor-aktor palsu semacam buzzer. Mereka benar adanya orang-orang yang menyalurkan aspirasinya baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Media massa tak seharusnya membangun rasa takut di masyarakat dengan mengeksploitasi pemberitaan yang ‘seram’ dan menakut-nakuti aksi demonstrasi. Media adalah pilar demokrasi. Amat ironis jika sebagai pilar demokrasi, media turut merubuhkan demokrasi itu sendiri. Seiring dengan media, perilaku pejabat di negeri ini juga seharusnya tidak reaktif dan kalut menghadapi demonstrasi. Tak perlu mengungkap pernyataan-pernyataan yang mengambang, dan hanya menimbulkan kebinungan serta rasa khawatir di benak masyarakat. Demonstrasi adalah bagian dari aspirasi rakyat yang dilindungi oleh undang-undang. Ia adalah pertanda hidupnya dialog di sebuah negara.

Ada baiknya para pejabat pemerintahan belajar kembali dari para pendiri negeri ini. Salah satunya adalah sikap Bung Hatta menghadapi demonstrasi. Suatu ketika di bulan April tahun 1962, saat ia sudah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI, Bung Hatta di demonstrasi di Bandara Kemayoran. Di depan ruang VIP Bandara Kemayoran, ratusan pemuda, yang disebut Rosihan Anwar sebagai orang suruhan PKI, mencemooh dan memrotes dirinya. Mereka membawa berbagai poster yang bertuliskan “Hatta tetap Hatta, Belanda tetap Belanda,” “Bung Hatta berevolusilah,” dan “Bung Hatta jangan bermuka dua.” Para demonstran liar itu berada dekat sekali dengan Bung Hatta yang berada di ruang VIP bandara Kemayoran. Namun Bung Hatta tetap terlihat tenang-tenang saja. Malah ia kemudian berjalan menuju mobilnya dan sambil berkata kepada mereka, “Saya tetap Hatta”, “Muka saya cuma satu.” (Rosihan Anwar : 2006)

*Pernyataan Presiden Joko Widodo dapat di lihat pada tautan ini: https://www.youtube.com/watch?v=XSWcx9f9ivQ

 

Ditulis oleh Pegiat Kultura: Beggy Rizkiyansyah

Taliban Hancurkan 3 Kendaraan Lapis Baja di Provinsi Logar, 11 Tewas

LOGAR (Jurnalislam.com) – Pada akhir Rabu 5 pasukan Arbaki termasuk seorang perwira tewas dalam ledakan bom dan serangan mendadak di distrik Charkh provinsi Logar, Al Emarah News melaporkan Kamis (24/11/2016).

Dalam laporan lain dari Logar, sedikitnya 5 tentara Afghanistan juga tewas dalam bentrokan dengan Taliban di pinggiran kota Pol-e-Alam, ibukota provinsi Logar pada hari Rabu. Sebuah tank lapis baja dan kendaraan militer hancur setelah mendapat serangan senjata berat Mujahidin.

taliban-hancurkan-3-kendaraan-lapis-baja-di-provinsi-logar-11-tewasJuga di hari Rabu, seorang tentara Arbaki tewas dan dua lagi menderita luka dalam bentrokan singkat dengan Mujahidin di ibukota provinsi Logar. Sebuah kendaraan lapis baja juga hancur dalam pertempuran itu.

Secara terpisah, Mujahidin Taliban menyerbu basis musuh di kota Pol-e-Alam kamis pagi tetapi belum ada informasi baru apakah ada korban.