Berita Terkini

Atas Intruksi Rois Syuriah, PWNU DKI Jakarta Ikut Aksi Bela Islam III

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta turut serta dalam Aksi Bela Islam III di silang Monas, Jakarta. PWNU DKI juga turut mendirikan stan besar yang di dalamnya terdiri atas tim medis dan logistik. Karena itu, para pengurus pun terlihat sibuk membagikan minuman dan makanan kepada para peserta. Sejumlah kader Nahdliyin juga tidak lupa membersihkan jalan dari sampah dan kotoran.

Menurut Wakil Ketua PWNNU DKI, K.H. Munahar Muchtar, keterlibatan PWNU DKI pada Aksi Bela Islam III lebih kepada aksi kemanusiaan, apalagi perintah ini datang langsung dari Rois Syuriah PWNU DKI.

“Kita meyakini bahwa sebagian besar yang hadir pada hari ini adalah warga Nahdliyin. Apa salahnya kita sebagai tuan rumah semaksimal mungkin menyiapakan semaksimal mungkin kemampuan kita. Maka kita siapkan logistik yang ada termasuk para medis dan tim kebersihan. Kami lakukan ini tentu atas instruksi Rois Syuriah K.H. Mahfudz Asirun,” ujar Wakil Ketua PWNU DKI, KH. Munahar Muchtar kepada Islamic News Agency, yang turut didampingi K.H. Mahfudz Asirun, usai do’a bersama dengan tuntutan penjarakan Ahok, Jum’at (2/12/2016).

KH. Munahar mengaku, keputusan PWNU DKI untuk terlibat dalam aksi ini dilakukan dua hari menjelang aksi. Meskipun ia mengetahui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah mengeluarkan pernyataan untuk tidak membawa simbol dan logo NU.

“Kita tidak melihat walaupun PB (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, red) pada hakikatnya melarang kita pasang umbul-umbul dan lain sebagainya, karena hakikatnya ini aksi kemanusiaan kita. Ibaratnya, kalau kita kasih makan anjing aja masuk sorga, apalagi ini kita kasih makan manusia,” terangnya.

KH. Munahar menjelaskan bahwa NU, Muhammadiyah, dan Persis adalah saudara. Semua peserta aksi adalah saudara sesama muslim yang juga harus diperhatikan.

“Saya yakin ini punya keberkahan, mau Nahdliyin, Muhammadiyah, Persis, semuanya adalah saudara-saudara kita. Kita bersatu tujuan ktia cuma satu. Penjarakan ahok. Titik,” tegasnya.[]

Reporter: Pizaro/INA

KH. Didin Hafidudin: Diskriminasi Hukum adalah Penyebab Hancurnya Suatu Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Cendekiawan muslim, KH Didin Hafiduddin menilai ketegasan dan keadilan dalam penegakan hukum adalah faktor datangnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi suatu bangsa. Sebaliknya, kata dia, jika terjadi diskriminasi dalam menegakan hukum maka menyebabkan kerusakan dan kehancuran bagi bangsa dan negara.

“Diskriminasi dalam hukum adalah penyebab utama dari kehancuran suatu bangsa. Kehancuran umat bukan dari kemiskinan akan tetapi karena ketidakadilan dalam penegakan hukum,” tegasnya didepan jutaan umat Islam yang memadati Monumen Nasional (Monas), Jum’at (2/12/2016).

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menjelaskan hadits Rasulullah SAW tentang ketegasan dalam penegakan hukum. “Andaikan anaku sendiri melakukan kejahatan, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Kyai Didin juga mengajak umat Islam untuk mengawal proses hukum yang sedang berjalan atas kasus penistaan Al Qur’an yang dilakukan oleg Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama.

“Mari kita kawal kasus penistaan agama, kita kawal bersama-sama, agar terlihat keadilan, kejujuran, transparan, karena masalah ini akan menyebabkan kebaikan dan kemaslahatan bagi kita bersama,” ujarnya.

Reporter: Irfan Yusuf

 

Tuntut Ahok Dipenjara, Ribuan Umat Islam Bima Kembali Turun ke Jalan

BIMA (Jurnalislam.com) – Dukungan terhadap Aksi Bela Islam III di Jakarta juga dilakukan oleh umat Islam Bima, Jumat (2/12/2016). Ribuan umat Islam yang terdiri dari gabungan seluruh ormas Islam dan pondok pesantren itu melakukan aksi untuk menuntut Ahok segera di penjara.

Aksi yang diinisiasi oleh Forum Umat Islam (FUI) Bima ini berlangsung di depan Kantor Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Bima. Massa juga melakukan longmarch dari Lapangan Serasuba melewati Jalan Sultan Hasanuddin kemudian menuju Jalan Soekarno-Hatta.

Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bima, Ustadz Asikin menegaskan tuntutan umat Islam tak berubah, yaitu mendesak pemerintah untuk segera memenjarakan Ahok.

“Walaupun aksi ini merupakan aksi super damai, tetapi tuntutan kami tetap tidak akan bergeser dari tuntutan semula yaitu pihak penegak hukum supaya segera menangkap dan memenjarakan Ahok,” tegasnya.

“Apa sih yang istimewa dari seorang Ahok sehingga bangsa ini harus mengalami keributan seperti ini, harus terpecah belah,” tambahnya.

Ia khawatir jika Ahok tidak segera dipenjara, akan ada gelombang aksi umat Islam yang terus meluas.

Sementara itu, Humas Kejaksaan Negeri Bima, Eko Prayitno, SH menyatakan pihaknya akan mendesak pemerintah pusat untuk segera menuntaskan kasus Ahok.

“Kami tetap akan melakukan upaya penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada siapapun. Kami juga berharap supaya masyarakat serta umat islam mempercayakan proses hulum ini kepada pihak yang menanganinya,” katanya saat menerima perwakilan massa di Kantor Kejari Bima.

Reporter: Sirath

 

Jika Sudah Dipenjara, Sesepuh Ponpes Ngruki Berharap Ahok Diberi Hidayah

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengasuh pondok pesantren Al Mukmin Ngruki, KH. Wahyudien berharap Ahok mendapat hidayah jika tersangka kasus penistaan Al Qur’an itu berada di dalam penjara. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ribuan umat Islam Solo Raya yang mengiktui Aksi Bela Islam di Bundaran Patung Gladak Jln. Slamet Riyadi, Jum’at (2/12/2016).

“Manusia itu bisa menjadi tokoh ketika masih dalam kehidupan jahiliyah dan akan tetap menjadi tokoh ketika sudah mendapatkan cahaya Hidayah Islam,” tuturnya.

Ia menceritakan kisah Umar Bin Khatab RA yang memeluk Islam padahal sebelumnya Umar adalah salah seorang tokoh Mekah yang membenci Islam.

“Umar Bin Khattab merupakan tokoh jahiliyah yang sangat memusuhi dakwah Rasullah dan bisa menjadi tokoh Islam yang sangat disegani dan khalifah ke-2 pada saat beliau telah mendapatkan cahaya Islam,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Ustadz Wahyudien, sapaannya, berharap hidayah Allah menghampiri Ahok saat dia didalam penjara nanti.

“Maka dari itu saya berdo’a semoga di dalam penjara kelak, Ahok si penista Al Qur’an ini semoga bisa merenungi kandungan Surat Al Haq yang ada di Al Qur’an sehingga bisa kembali kepada fitrohnya sebagai manusia,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, umat Islam di berbagai daerah menggelar aksi dukungan untuk Aksi Bela Islam III di Jakarta. Selain di Solo, umat Islam Tasikmalaya dan Bima menggelar aksi serupa.

Reporter: Riyanto

Bachtiar Nasir: Kami Tidak Ketuk Pintu Istana, Tapi Ketuk Pintu Langit

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF-MUI), Bachtiar Nasir mengatakan, Aksi Bela Islam III adalah sepenuhnya dalam rangka munajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

“Karena aksi ini dibawah kepemimpinan ulama, maka yang disampaikan adalah kesan-kesan keagungan Allah,” ujarnya kepada Islamic News Agency (INA), Jum’at (2/12/2016).

Aksi tersebut, terang Bachtiar, akan diisi dengan rangkaian tausyiah, doa, sholawat, dan sholat Jum’at berjamaah.

Ia berharap, dengan berkumpulnya jutaan kaum muslimin untuk bermunajat, hal itu akan menggoncangkan arsy dan menghancurkan kekuatan dzolim.

“Kami akan meminta kepada Allah, kami tidak mengetuk pintu Istana atau mengemis kepada penegak hukum,” tandasnya.

Bachtiar menambahkan, aksi bela Islam III tidak hendak menjatuhkan kekuasaan siapapun. Tapi, ia berkeyakinan, yang tidak menegakan hukum pasti akan jatuh.[]

Reporter: Yahya (INA)

Grand Design GNPF-MUI adalah Allah dan Al-Quran

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI), Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan negara telah gagal dalam memahami situasi yang menyebabkan jutaan umat Islam sudah tiga kali melakukan Aksi Bela Islam.

“Terjadi benturan saat ini, kalau sampai negara gagal membaca situasi ini, semata-mata urusan politik, apakah orang Ciamis jalan kaki hanya untuk urusan Pilkada? Tidak, tapi karena Al-Quran,” tegasnya dalam orasinya di Monas, Jumat (2/12/2016).

Pria yang karib dipaggil UBN itu juga menepis tudingan terkait grand design Aki Bela Islam. Menurutnya, grand design yang bisa menggerakkan jutaan orang seperti ini hanya Al-Quran Surat Al-Ma’idah.

Grand design GNPF apa sih? Mau kemana? Kami tak punya grand desaign, kami hanya menjalankan grand design Allah dari surat al-Maidah,” ungkapnya sebagaimana pantauan Islami News Agency (INA).

Ia pun memaparkan kandungan Surat al-Maidah 54 yang menjelaskan bahwa Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mencintai dan dicintai Allah SWT.

“Saya tidak ingin mengancam, tapi dalam Surat al-Maidah dikatakan andai murtad dari hukum Allah, maka Allah akan datangkan kaumnya dan hari ini kaum itu sudah datang. Kaum yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, kaum yang tidak ada urusanya dengan politik,” paparnya.

Selain itu, kaum tersebut juga digambarkan sebagai kaum yang lembut terhadap umat Islam dan tegas terhadap orang kafir. “Mereka adalah kaum baru yang lemah lembut kepada mukmin dan tegas kepada kafir, mereka tidak takut dicela, tidak takut dibully,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, Allah lah yang mengumpulkan jutaan peserta aksi yang hadir dalam aksi Bela Islam III kemarin. “Yang mengumpulkan kita adalah Allah, shaf kita sampai Jalan Thamrin, Bundaran HI,” ungkapnya terharu.[]

Reporter: Ali Muhtadin (INA)

Tito Sebut Ahok Sudah Tersangka, Massa: Buktikan!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian yang ikut hadir dalam Aksi Bela Islam III menyampaikan sambutannya bahwa kasus Ahok sudah dilimpahkan ke kejaksaan.

“Untuk acara ini alhamdulillah 2 hari lalu kita serahkan kejaksaan,” ungkapnya di panggung utama Tugu Monumen Nasional, Jakarta pusat, Jumat (2/12/16).

Meski Ahok selalu gagal ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Kapolri menegaskan pada kasus ini mampu menetapkan Ahok sebagai tersangka.

“Bayangkan dibeberapa kasus diperiksa KPK tidak bisa jadi tersangka, tapi ditangani Kapolri bisa jadi tersangka,” tuturnya lali disambut dengan teriakan masa aksi.

“Buktikan itu!” teriak massa secara serempak sebagaimana pantauan Islamic News Agency (INA).

Lebih lanjut, Tito menegaskan akan terus memproses kasus hukum.

“Untuk itu saya mohon dukungan dari saudara supaya proses hukum terus berjalan, dan Kapolri akan terus mengawal proses hukum,” ujarnya.

Menyambut pernyataan itu, Dewan Pembina GNPF MUI, Habib Rizieq Shihab menyampaikan apresiasi kepada Kapolri.

“Kita berikan apresiasi yang sudah menjadikan Ahok tersangka,” sambungnya.

Lanjutnya, habib meminta kejaksaan untuk segera menahan ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kapolri.

“Kita minta kejaksaan untuk Ahok segera ditahan,” pungkasnya. []

Rep: Ali Muhtadin (INA)

Kapolri Sebut Aksi Bela Islam III Seperti Haji di Arafah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian mengatakan Aksi Bela Islam III seperti haji di Padang Arafah.

“Betapa indahnya Islam, kita merasakan seperti kita melaksanakan haji dipadang Arafah,” lanjutnya.

Tito hadir di panggung utama dalam Aksi Bela Islam III, Jumat (2/12/16) di Tugu Monumen Nasional, Jakarta Pusat di tengah teriakan massa agar menangkap Ahok.

Dalam orasinya, Tito menyampaikan bahwa aksi tersebut adalah aksi Ibadah.

“Kita semua umat Islam berkumpul di sini dengan suasana betul betul damai dan membahagiakan kita semua,” tuturnya.

Meski sorak riuh peserta aksi semakin kencang, Tito tetap menyampaikan bahwa Islam itu indah.

Di tengah teriakan “tangkap si Ahok” oleh jutaan peserta, Kapolri menyatakan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

“Mari kita laksanakan ibdah, kita dekatlan hari kita dengan niat Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkap Tito yang menggunakan sorban dan peci putih. []

Rep: Ali Muhtadin/INA

MUI: Pemerintah Harus Serius Tanggapi Tuntutan Aksi Bela Islam III

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Fahmi Salim menegaskan pemerintah harus menyerap aspirasi warga Indonesia pada Aksi Bela Islam III.

“Pemerintah dapat menyerap aspirasi umat Islam dengan serius dan tidak dianggap remeh,” katanya di belakang panggung utama Aksi Bela Islam III, Monas, Jakarta, kepada Islamic News Agency (INA), Jumat (2/12/2016).

Ulama muda lulusan Al Azhar ini menjelaskan, kasus penistaan agama di mana pun ditahan bahkan sebelum ditetapkan sebagai tersangka.

Lebih lanjut Fahmi mengucapkan apreasiasinya kepada peserta Aksi Bela Islam III yang telah datang dari berbagai daerah.

“Yang menggerakan bukan kita, bukan MUI, bukan GNPF, ini karena Allah,” ungkap Fahmi yang memakai rompi Aksi Bela Islam III.

“Monas Insyaallah penuh, meluber sampai Thamrin hingga Bunderan HI,” paparnya lagi.[]

Reporter: M Fajar/INA

Habib Rizieq Kukuhkan 2 Desember sebagai Hari Persaudaraan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Penasehat GNPF MUI, Habib Rizieq Shihab mengukuhkan tanggal 2 Desember sebagai Hari Persaudaraan Islam.

“Jika tanggal 4 November bisa dikatakan sebagai Hari Anti Penistaan Agama, maka hari ini pada tanggal 2
Desember bertepatan dengan 2 Robiul Awal bisa-bisa kita katakan sebagai Hari Persaudaraan Islam,” tegasnya disambut pekik takbir jutaan peserta Aksi Bela Islam III di Monumen Nasional, Jumat (2/12/2016).

Jutaan umat Islam memadati monumen nasional (monas) hingga sepanjang jalan Thamrin. Mereka mengikuti dzikir bersama dan shalat Jum’at.

Meskipun hujan turun saat shalat Jumat dimulai, namun massa tak beranjak dan tetap mengikuti shalat jumat dengan khusyu.

Dalam Jurniscom, aksi berlangsung tertib dan damai. Massa membubarkan diri pada pukul 13.30 WIB.

Reporter: Ally Muhammad Abduh