Berita Terkini

BEM SI: Parade Kita Indonesia Janggal dan Inkonstitusional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Parade ‘Kita Indonesia’ yang dilakukan di Bunderan HI, Jakarta kemarin (4/12), dinilai Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) telah mencederai demokrasi dan melanggar undang-undang.

“Aksi yang berlangsung 4 Desember 2016, kami nilai terdapat banyak kejanggalan dan tindakan inkonstitusional,” kata Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia, Bagus Tito Wibisono, Senin (5/12/2016) seperti dilansir Islamic News Agency.

Ia mengatakan, kejanggalan pertama ada pada pelanggaran Perda DKI Jakarta tentang Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB). Sebab, pada hari itu tidak boleh ada pemanfaatan kepentingan politik.

“HBKB tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik dan SARA serta orasi ajakan yang bersifat menghasut,” cetus Bagus.

Kedua, kata dia, para penegak hukum tebang pilih dalam menegakan supremasi hukum. Aksi yang jelas melanggar konstitusi ini nyatanya tidak dilakukan penindakan oleh aparat penegak hukum.

“Sementara di daerah dan kondisi lain, lazim ditemukan ‘penegakan hukum’ yang represif dengan mencatut supremasi hukum dan otoritas penegak hukum, khususnya pada aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa,” pungkasnya.[]

Reporter: M Fajar/INA

68 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara Rezim Assad di Idlib dan Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 68 warga sipil tewas hari Ahad dalam serangan udara rezim Assad di kota Aleppo dan Idlib di barat laut Suriah, menurut seorang pejabat pertahanan sipil Suriah pro-oposisi, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (04/12/2016).

Abdulaziz Kiytaz, seorang pejabat berbasis Idlib, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa 78 warga sipil lainnya terluka dalam serangan rezim di Idlib dan Aleppo.

“Rezim menargetkan lokasi pasar dan pusat perbelanjaan di distrik provinsi Idlib. Beberapa orang terluka dalam serangan rezim Assad. Korban yang terluka telah dibawa ke rumah sakit yang berbeda. Rezim telah mengintensifkan serangan terhadap Idlib setelah Aleppo.”

Kiytaz menambahkan bahwa serangan menyebabkan kerusakan material berat di daerah, dan menghancurkan beberapa toko.

Sekitar 300.000 warga sipil di Aleppo timur telah terguncang di bawah pengepungan rezim Nushairiyah yang melumpuhkan selama lebih dari tiga bulan.

Sejak pertengahan November, lebih dari 773 warga sipil telah tewas – dan 2.500 lainnya luka-luka – dalam serangan rezim di daerah, menurut angka yang dirilis oleh pejabat pertahanan sipil setempat.

Pengeboman sengit telah membuat rumah sakit dan fasilitas medis lainnya di kota hancur, akibat serangan tersebut sebagian besar kegiatan akademik juga telah dihentikan.

Meningkatnya serangan tersebut terjadi sebagai upaya rezim Assad yang didukung Rusia dan sekutunya untuk merebut kendali bagian timur kota, empat tahun setelah mereka dikuasai oleh koalisi Mujahidin Suriah dan oposisi.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Bashar Assad membantai para aksi unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Musim Semi Arab” – dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, 450 ribu lebih orang diyakini telah tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat konflik.

Lagi Dansa-dansa 24 Orang Tewas dalam Kebakaran di Ajang Musik Oakland

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Dua puluh empat mayat telah ditemukan setelah nyala api memusnahkan sebuah gudang di Oakland, California, kata pihak berwenang, Ahad (04/12/2016), lansir Anadolu Agency.

Pejabat mengantisipasi meningkatnya korban tewas saat responden melanjutkan pencarian, menurut Sheriff Alameda County, Sersan Ray Kelly.

Sabtu pagi kobaran api terjadi di sebuah acara musik Golden Donna’s 100% Silk West Coast tour.

Para pengguna Facebook memposting belasungkawa di halaman Facebook khusus untuk tur tersebut dan mencari informasi tentang orang hilang.

The East Bay Times melaporkan bahwa kejadian tersebut kemungkinan menjadi salah satu kebakaran struktur tunggal yang paling mematikan dalam sejarah Oakland.

Surat kabar itu mengatakan tempat tersebut digunakan oleh sekitar 50 seniman secara kolektif dan bahwa 55 petugas pemadam kebakaran dipanggil ke tempat kejadian untuk membantu memadamkan api.

Umat Islam Sudah Bangkit, Ansharusyariah Nusra Desak Pemerintah Bersikap Adil

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam Aksi Bela Islam III yang digelar umat Islam Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (2/12/2016), Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara (Nusra), Ustadz Abdul Hakim menyayangkan sikap aparat yang kurang sigap menangani kasus Ahok.

“Ahok telah menghina agama kami, tetapi sampai hari ini kami belum melihat tindakan yang adil dari aparat dan penguasa. Padahal dari beberapa kasus penistaan serupa, mereka langsung ditangkap dan dihukum tanpa ada pertimbangan, tanpa mendatangkan saksi-saksi ahli,” katanya.

Ia menilai, kasus Ahok adalah pertunjukkan ketidakadilan yang sedang sangat nyata dipertontonkan kepada rakyat Indonesia. Ustadz Abdul Hakim khawatir jika dibiarkan, hal tersebut akan menyebabkan kekacauan.

“Hari ini kami melihat ketidakadilan sedang dipertontonkan di negeri ini, karena umat Islam yang jumlahnya berjuta-juta, bahkan sudah berkali-kali turun untuk meminta keadilan ditegakkan tetapi tidak dihargai di negeri ini. Kalau ketidakadilan terus dipertontonkan maka kami khawatir akan terus terjadi kekacauan di negeri ini,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ditahannya Ahok setelah ditetapkan tersangka dalam kasus penistaan agama, dinilainya sudah benar-benar tidak memenuhi rasa keadilan.

“Umat Islam merasa dikhianati, karena hukum sudah tidak memihak kepada rasa keadilan,” cetusnya.

Ia mengingatkan pemerintah agar berlaku adil dan jangan menjadikan umat Islam sebagai musuh. “Sekarang kami melihat umat Islam yang tertidur hari ini mereka semuanya sudah bangkit, itu semua tiada lain dan tiada bukan karena pengaruh daripada Al-Quran,” tegasnya. Umat Islam, lanjutnya, tidak akan puas sebelum Ahok dipenjara.

Sebagaimana diketahui, beberapa daerah melakukan aksi Bela Islam pada 2 Desember sebagai bentuk dukungan Aksi Bela Islam III di Jakarta.

Reporter: Sirath

Koalisi Mujahidin Aleppo Lancarkan Serangan Balik di Al Muyasar, Ini Laporannya

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Faksi-faksi mujahidin Aleppo melakukan upaya serangan balik pada pasukan rezim Nushairiyah Assad dan milisi Syiah al-Quds Brigade untuk membuat kemajuan di garis depan “al-Muyasar” di distrik-distrik bagian timur Aleppo yang terkepung, ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (04/12/2016).

Koresponden ElDorar, mengutip sumber militer mengatakan pasukan Syiah Assad mencoba menembus kekuatan pertahanan faksi mujahidin Suriah di garis depan “al-Muyasar”, dimana pertempuran berakhir dengan hancurnya dua tank dan sebuah kendaraan lapis baja, serta banyaknya pasukan Assad yang tewas dan terluka.

Sementara itu, faksi jihad Aleppo juga berhasil menangkap seorang perwira Iran dan menewaskan beberapa lainnya selama pertempuran, yang berlangsung beberapa jam di garis depan Aziza di selatan Aleppo.

Laporan tersebut juga menambahkan bahwa faksi militer Aleppo telah menguasai kembali lingkungan timur yang terkepung; dimana mereka menarik diri dari beberapa lingkungan sebelumnya dalam rangka membangun garis pertahanan baru untuk mengusir setiap potensi serangan dari pasukan rezim Assad dan milisi pendukungnya.

Hadapi Pasukan Assad dan IS, 4 Faksi di Suriah Selatan Bentuk Jaysh al Thawrah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Empat faksi perlawanan yang beroperasi di daerah “Horan” Suriah selatan mengumumkan pembentukan “koalisi tentara revolusi atau Jaysh al-Thawrah”, menegaskan tujuannya untuk melawan pasukan rezim Nushairiyah Assad dan juga kelompok Islamic State (IS), ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (04/12/2016).

Serikat kerja sama baru tersebut terdiri dari “Jaysh al-Yarmouk, Jaysh al-Moataz Bellah al-Muhajrin & al-Ansar Brigade dan al-Hasan bin Ali Brigade” yang menegaskan bahwa aksesi ini terbuka untuk semua faksi, kelompok dan individu, menurut pernyataan penggabungan tersebut.

Garis depan Horan dan pedesaan Daraa sebelumnya relative tenang selama hampir satu tahun, karena di kawasan ini hanya sedikit terjadi upaya kekerasan oleh pasukan rezim Assad yaitu di pedesaan Quneitra dan Daraa tapi baru-baru ini menjadi semakin sering terjadi walaupun tidak ada yang bertahan lama.

 

 

Pengamat Komunikasi: 5 Alasan Mengapa Media Mainstream Vulgar Alihkan Kasus Penjarakan Ahok dalam Aksi Damai

Islamic News Agency (INA)—Banyak yang terperanjat mengapa Aksi Damai Bela Islam III hari Jumat, 02 Desember 2016 di Lapangan Monumen Nasional (Monas) justru lebih besar dihadiri umat Islam. Meski sebelumnya banyak aksi intimidasi, pelarangan dan serangkaian penggembosan, fakta lain justru banyak umat Islam menghadiri acara yang diinisiasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI ini.

Di sisi lain, secara mengejutkan aksi yang dihadiri jutaan orang (berdasakan Google Eart, ada yang menaksir acara Aksi Super Damai 212 ini dihadiri lebih 5 juta orang) ini justru dipandang sebelah mata banyak media mainstrem.

Aksi doa yang menuntut penegak hukum memenjarakan penista agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ini justru ditutupi media massa, seolah-olah hanya acara doa dan zikir untuk kedamaian Indonesia. Bahkan ada media yang justru mengangkat kehadiran Presiden Joko Widodo kurang dari 3 menit menemui peserta aksi sebagai laporan utama.

Sementara tuntutan utama “memenjarakan Ahok” yang disuarakan sejak Aksi Bela Islam I, II dan III hilang dari peliputan koran dan televisi Indoneisa. Apa yang terjadi?

Islamic News Agency (INA), jaringan berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), mewawancari pengamat komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo, Mohammad Nur Hidayat menyoroti hilangnya tuntutan utama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI yang ingin penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok segera dipenjara.

“Mereka membelokkan isu aksi damai hanya sekedar doa untuk negeri sehingga agenda setting memutarbalikkan opini sangat jelas terlihat. Bahkan bisa dibilang sangat vulgar. Malah ada media mainstream yang tetap menghubungkan Aksi Super Damai ini dengan isu makar,” demikian disampaikan dosen ilmu komunikasi ini kepada Islamic News Agency (INA), Ahad (05/12/2016).

Menurut penulis buku Kapita Selekta Jurnalisme ini ada beberapa alasan mengapa sejak awal media maenstrem dinilai tidak bisa cukup adil melihat aksi gerakan Bela Islam sejak edisi I sampai III ini.

Setidaknya, lima alasan mengapa media maintream ‘melindungi’ Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok;

Pertama, media umum membuat framing (membingkai peristiwa) Aksi Bela Islam III sebagai aksi doa dan kehebatan Jokowi.

“Mau tidak mau media mainstream tetap harus memberitakan aksi jutaan orang ini, meski terpaksa memberitakan menurut menurut versi mereka. Mereka hilangkan tuntutan utama umat untuk memenjarakan Ahok menjadi hanya aksi berdoa dan kehebatan Jokowi datang beberapa menit yang tidak mengatakan apapun terkait Ahok,” ujarnya.

Meski tetap memberitakan, tapi framingnya membelokkan isu ini hanya doa untuk negeri. “Sehingga agenda setting memutarbalikkan opini sangat terlihat. Bahkan bisa dibilang vulgar. Malah ada media mainstream yang tetap menghubungkan Aksi Super Damai ini dengan isu makar. Bahkan ada media asing mengait-mengaitkan makar dengan berhubungan ISIS lagi. Mereka sangat paksakan diri untuk menghubung-hubungkan. Istilah Jawa ini otak atik gathuk.”

Kedua, media mainstream di Indonesia saat ini dalam posisi sulit.

Di satu sisi seolah tidak ingin gerakan Aksi Damai sebagai berita besar. Meski gerakan ini sudah mendapat tempat di hati banyak umat Islam, faktanya, mereka sengaja tetap membingkai agar ini gerakan kecil. Sementara di saat yang sama, semua mata umat fokus pada gerakan ini, jadinya harus tetap menjadikan sebagai berita utama.

“Mau tidak mau media mainstream harus memberitakannya sebagai berita utama. Sebab jika tidak, mereka terancam kehilangan pasar. Aneh saja, aksi lebih 2 juta orang tidak jadi perhatian, sementara aksi Kebhhinekaan hanya segelintir orang saja dimuat?,” ujarnya.

Di sisi lain, mereka seolah masih berat hati jika menjadikan Ahok sebagai orang yang tersudut. Ibarat makan buah simalakama. Diberitakan ada peluang Ahok makin tersudut, tidak diberitakan, umat Islam yang menjadi konsumen mereka ditakutkan akan lari.”

Ketiga, kekuaatan media sosial (Medsos). Menurut Nurhidayat, media mainstream luma saat ini umat Islam lebih cenderung mengandalkan jaringan media sosial (Medsos) akibat bertahun-tahun sering diplintir dalam pemberitaannya oleh media mainstream .

Ia melihat sejak Aksi Damai I sampai Aksi Damai 411 (Jumat 4 Nopember 2016), kalangan warga terdidik justru lebih mengandalkan jaringan Medsos dan grup-grup di WhatsApp untuk berkampanye karena rasa kecewanya paada televisi dan media umum.

“Jikalau tidak bisa ikut aksi secara fisik, banyak yang meresa terpanggil ‘jihad’ dengan hanya ikut menyebarluaskanj aksi via medsos. Terutama WA, Facebook dan Twitter. Ini justru besar pengaruhnya.”

Karena itu, menurutnya, jika media masih tetap tidak adil, mainkan media sosial. Jika media mainstream tetap bermain dengan cara seperti itu kepada kelompok Islam, menurut Nurhidayat, media-media ini akan digilas media sosial.

Keempat, gagal menerapkan teori kuno

Media mainstream gagal menerapkaan Teori Goebbels dalam Aksi Bela Islam. Teori ini diambil dari Paul Joseph Goebbels atau dikenal teknik Big Lie (kebohongan besar), dimana menyebarluaskan berita bohong sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran.

Menurutnya, media mainstream percaya Ahok simbol kebhinekaan dan toleransi, padahal bagi umat Islam ia justru lebih berbahaya Jyllands Posten yang melecehkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Media seolah menutupi semua perilaku buruk (terutama lisan) Ahok setiap hari di media massa.

Usaha media besar ‘menyelamatkan Ahok’ dan mempraktikkan Teori Goebbels rupanya gagal total. Sebab, diam-diam umat percaya komando ulama non formal (dalam hal ini di MUI dan GNPF-MUI). Semakin MUI dibully dan dinistakan, rupanya umat semakin kuat. Ini yang tidak bisa dibaca dengan hati nurani media mainstream .

“Semakin ulama dilecehkan, maka sama artinya dengan nabi yang dilecehkan. Pantaslah banyak umat yang ikut mendemo beliau. Banyak umat meninggalkan baju ormas, meski pimpinan mereka melarang. sebab ini sudah harga diri ulama.”

Media dinilai lupa ketika kasus tahun 2000 dimana Banser ‘menyerbut’ Kantor Jawapos di Surabaya karena dinilai salah memberitakan seorang ulama NU tentang kasus korupsi. Akibatnya, koran itu tidak bisa terbit lebih dari 2 hari.

Kelima, mayoritas media mainstream membela kaum pemodal dan kepentingan asing

Terakhir, media mainstream di Indonesia Indonesia sudah dikuasai kelompok pemodal dan asing yang punya kepentingan ‘menyelamatkan Ahok’. Akibatnya, susah mencari media besar di Indonesia bisa jujur melihat perasaan umat Islam di Indonesia terkait kasus ini.

“Ada yang ingin menaikan citra Ahok, bahwa ada seorang non Muslim bisa jadi pemimpin di negara berpenduduk Muslim terbesar,” ujarnya.

“Memang ownernya secara resmi orang Indonesia, tapi dibalik itu ada kepentingan asing. Ada konglomerat dan raja-raja media seperti George Soros, Rupert Murdoch, bahkan Donald Trump yang sangat anti Islam juga ada. Maka tidak heran Ahok menjadi representasi kelompok kaum liberalis meski sia gampang melecehkan agama dan melukai umat Islam.”

Menurut Nurhidayat, meski tindakan media yang tidak adil ini dinilai mengecewakan umat Islam, tidak seharusnya umat berhenti berbuat sesuatu. Baginya, masih ada harapan umat melawan aksi dengan cara simpatik.

Dua hal yang masih bisa dilakukan adalah; tinggalkan membaca dan menonton media maintream yang tidak adil pada Islam dan memulai alternatif lain. Ia menyarankan menggunakan media sosial dan berlangganan membaca media-media Islam yang reputasinya dipercaya umat.

“Umat Islam juga bisa melakukan perlawanan atas ketidakadilan media seperti ini. Boikot media terebut, jangan beli korannya, jangan tonton TV nya, jangan akses dot.com nya. Bahkan lebih manjur lagi boikot produk-produk yang diiklankan media tsb. Beralihkan kepada media Islam dan kita terus dorong mereka menulis lebih baik agar umat punya informasi yang membela mereka, “ ujarnya.*

Rep: Cha (INA)

GNPF MUI Berikan Penghargaan Khusus untuk Massa dari Ciamis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pembina GNPF-MUI, Habib Rizieq Shihab memberikan penghargaan khusus kepada massa Aksi Bela Islam III dari Ciamis yang datang ke Jakarta dengan berjalan kaki.

Penghargaan itu berikan Habib Rizieq secara simbolis dengan mangalungkan sorban kepada K.H. Nonop Hanafi selaku pimpinan massa Ciamis di Mimbar Utama Aksi Bela Islam III di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12/2016).

“Perjuangan umat Islam tidak akan bisa dihentikan. Walaupun digembosi, meskipun perusahaan transportasi menghentikan sepihak,” ujar Habib Rizieq.

Sementara itu, K.H. Nonop dalam orasinya menyampaikan bahwa melalui perjalanan yang ditempuh, dirinya menemukan hal baru tentang Indonesia.

“Ketika kita disentuh oleh iman maka siapapun bergerak menjadi arus utama. Tidak perlu takut kepada siapa pun,” tuturnya.

Menurutnya, bangsa Indonesia punya modal besar, bahwa masyarakatnya siap berkontribusi untuk agama.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Pimpinan Rombongan Ciamis: Hati Kami Tertarik Magnet Al-Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Rombongan massa Ciamis, KH. Nonop Hanafi diberikan kesempatan khusus untuk berbicara di mimbar utama Aksi Bela Islam III di Monas, Jakarta, Jum’at (02/12).

Pada kesempatan itu, Nonop menyampaikan, bahwa yang membuat umat Islam dan santri Ciamis teguh untuk berjalan kaki ke Jakarta adalah karena hati yang terpaut dengan al-Qur’an.

“Kenapa kami dari Ciamis jauh-jauh ratusan kilometer kesini, karena hati kami tertarik oleh magnet al-Qur’an,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, yang membuat umat Islam dan santri Ciamis teguh untuk berjalan kaki ke Jakarta karena memegang teguh satu ajaran yang dipelajari di pondok pesantren.

“Bahwa aku tidak akan duduk bertopang dagu walaupun gelombang musuh silih berganti datang,” tuturnya disambut pekikan takbir peserta lain.

K.H. Nonop menegaskan, mendukung penuh upaya penegakan hukum terhadap tersangka penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Kalau Pak Kapolri bisa menjebloskan Ahok ke penjara, kami di belakang Pak Kapolri,” tandasnya.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/INA

Aksi 212: Dua Kali Doa, Dua Kali Hujan Turun

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Cuaca mendung dan cerah silih berganti menaungi para jamaah peserta Aksi Bela Islam III di silang Monas, Jakarta. Secara umum cuaca pada 2 Desember 2016 pagi terasa cukup sejuk. Pantauan Islamic News Agency, hujan rintik-rintik turun saat para ulama dan para peserta aksi turut menengadahkan do’a bagi sang pencipta.

Dua kali turunnya hujan itu pertama berlangsung ketika pimpinan Majelis Az-Zikra, KH. Arifin Ilham tampil ke muka panggung untuk memimpin zikir dan do’a. Di sela-sela do’a panjangnya untuk kaum muslimin Indonesia, hujan lalu turun.

Da’i yang dikenal dengan suara serak-serak basah itu pun mengharap agar hujan tersebut adalah bagian dari tanda doa-doa peserta aksi dikabulkan.

“Ya Allah rahmatMu kau turunkan untuk kami ya Allah. Hujani kami dengan rahmatMu ya Allah… Sebagai tanda harapan kami Kau ijabah, doa kami Kau ijabah, (Allahumma) shoyyiban nafi’an [Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat, red],” pintanya yang membuat lautan peserta aksi bergemuruh dan banjir air mata.

Kedua, hujan rintik-rintik kembali menyapa jamaah ketika Pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, KH. Abdullah Gymnatsiar berdiri untuk memberikan ceramah di atas panggung utama.

Da’i yang akrab disapa Aa Gym ini membuka tausiyahnya dengan pesan agar kaum muslimin senantiasa menyucikan hati agar jauh dari sikap dan ucapan yang buruk. Selain itu, Aa Gym pun turut mengajak persatuan umat Islam Indonesia dari bahaya perpecahan, salah satunya adalah masalah khilafiyah.

Mengakhiri ceramahnya yang khas dengan pendekatan Manajemen Qalbu itu, Aa Gym turut memanjatkan doa bagi kaum muslimin dan bangsa Indonesia. Tak lama berselang, langit kembali mengucurkan hujan. Rintikan hujan itu tampak membuat para peserta syahdu.

Melihat “fenomena langit” ini, Ketua GNPF-MUI, Ustadz Bachtiar Nasir, menilai ini semua adalah karunia dari Sang Pencipta. Ia pun bertanya kepada lautan manusia di silang Monas apakah mereka semua turut merasakan jika cuaca kerap berubah: dari hujan, cerah, mendung, berangin, lalu kembali cerah. Secara umum suasana sejuk, kata Bachtiar.

“Ini semua berkah dari Allah,” ucapnya.

Hujan cukup deras akhirnya benar-benar tumpah ruah dari langit ketika jutaan massa umat Islam hendak melaksanakan shalat Jum’at. Meski demikian, para jamaah pantang meninggalkan lokasi dan tetap menggelar sholat jamaah bersama para ulama.

Dalam sholat Jum’at, Imam membacakan Qunut Nazilah untuk mendoakan kaum muslim Indonesia maupun mereka yang sedang tertindas di sejumlah negara seperti Palestina, Suriah, Libya, Afghanistan, Thailand, Rohingya, dan lain sebagainya.[]

Reporter: Pizaro/INA