Berita Terkini

Wakil PM Turki: Rombongan Pertama dan Kedua Pengungsi Aleppo Capai Zona Aman

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Kamis, rombongan pengungsi kelompok pertama dan kedua yang dievakuasi dari Aleppo telah mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Konvoi kedua rombongan warga sipil Aleppo dari timur telah mencapai wilayah yang dikuasai oposisi, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan.

“Upaya kami terus untuk Aleppo, 16 bus yang membawa warga sipil mencapai daerah di bawah kendali oposisi di barat Aleppo, “kata Cavusoglu.

Dia juga menyebutkan tentang konvoi ketiga dari Aleppo timur.

“Bus telah kembali ke Aleppo untuk konvoi ke 3, pengungsi akan mendapatkan bus sekarang. Upaya kami terus dan kami sangat ketat mengikuti perkembangan, “katanya dalam akun tweet pribadinya.

“1.198 warga sipil (577 laki-laki, 320 perempuan, 301 anak-anak) yang berangkat dari Timur Aleppo mencapai area di bawah kendali oposisi di barat Aleppo,” tambahnya.

Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke bagian timur kota yang dikuasai oposisi setelah pengepungan rezim selama lima bulan dan pemboman udara brutal dan terus-menerus.

Sekitar 80.000 warga sipil diyakini terperangkap di beberapa daerah.

Rezim Syiah Nushairiyah Assad yang didukung Rusia telah berusaha merebut wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan Musim Semi Arab – dengan keganasan militer Assad tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan jutaan lebih lainnya mengungsi.

 

Liga Arab Dukung PBB Gelar Pertemuan Darurat Luar Biasa Bahas Aleppo

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab telah mengumumkan dukungannya bagi upaya untuk mengadakan “pertemuan darurat” Majelis Umum PBB atas Aleppo.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency, Kamis (15/12/2016), bahwa dukungan itu dibuat selama sidang darurat wakil tetap Liga Arab di Kairo. Liga Arab mengecam pembantaian oleh rezim Suriah Assad dan sekutunya karena melancarkan operasi militer brutal terhadap kota Aleppo dan warga sipilnya.

Baru-baru ini, Turki, Arab Saudi, UEA dan Qatar menyerukan diselenggarakannya sidang darurat luar biasa Majelis Umum PBB untuk membahas situasi di Suriah.

Dalam resolusi, Liga Arab menyerukan masyarakat internasional untuk menekan rezim Suriah dan berupaya membuka koridor yang aman bagi warga sipil yang terperangkap di Aleppo.

Sementara itu, delegasi Lebanon mengatakan, menurut pernyataan itu, bahwa mereka menjauhkan dukungan untuk rancangan resolusi tentang situasi di Aleppo, sejalan dengan Libanon kebijakan “ fence-sitting (duduk di pagar)” terhadap konflik dan kebijakan non-interferensi dalam urusan internal negara-negara lain.

Sementara dibalik pernyataan delegasi, dilaporkan bahwa milisi Syiah Hizbullah Lebanon salah satu paramiliter pendukung rezim Suriah Bashar Assad.

 

Kedutaan Rusia dan Iran Diprotes Pengunjuk Rasa Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ratusan protes meruak pada hari Kamis di depan kedutaan Iran dan Rusia di Ankara atas pelanggaran mereka terhadap gencatan senjata di Aleppo, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Para pengunjuk rasa dari Human Rights and Service Association, Faith Freedom Platform, dan anggota serikat buruh Turki meneriakkan slogan-slogan mengutuk PBB dan negara-negara yang hanya tinggal diam dalam menghadapi tragedi kemanusiaan di Aleppo.

“Pembantaian di Aleppo dan theater di PBB,” kelompok meneriakkan.

Serkan Codal, juru bicara pengunjuk rasa, mengatakan bahwa Suriah “sedang mengalami pembantaian.”

“Hampir 1 juta orang tewas di Suriah, dan kami berdiri bersama orang-orang yang sekarang sedang disiksa,” katanya.

Secara terpisah, pengunjuk rasa di Ukraina berkumpul di depan Kedutaan Besar Rusia di Kiev atas pelanggaran gencatan senjata Rusia dan tuduhan kejahatan perang terhadap penduduk sipil di kota Aleppo Suriah.

Kelompok itu mengatakan bahwa Rusia dan pasukan rezim “harus segera berhenti menyerang penduduk sipil.”

Kekerasan meningkat di kota pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke wilayah Aleppo timur yang dipegang oposisi setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara terus-menerus. Rezim yang didukung Rusia telah berusaha membangun kembali kontrol atas wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim Syiah Assad menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakanMusim Semi Arab – dengan keganasan militer tak terduga. Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan lebih dari jutaan lainnya mengungsi.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Para pemimpin Syiah, Garda Revolusi Iran meluncurkan pernyataan provokatif terhadap negara-negara Teluk yang mengancam untuk campur tangan di Bahrain dan Yaman, Al Arabiya News Agency melaporkan Jumat (16/12/2016)

Komentar tersebut disiarkan oleh media Iran setelah mereka menganggap telah mencapai “kemenangan di Aleppo,” dengan melakukan pembantaian, menciptakan kelaparan dan menyebabkan warga sipil mengungsi. Aleppo sebelumnya dianggap sebagai salah satu benteng mujahidin; Namun, rezim Suriah merebutnya dengan bantuan dan dukungan dari pasukan militer Iran dan Rusia.

Dalam konteks ini, wakil komandan Pengawal Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami mengatakan kepada kantor berita resmi Iran Republic News Agency bahwa, “Kemenangan di Aleppo akan membuka jalan bagi pembebasan Bahrain,” menunjukkan bahwa Iran memiliki proyek ekspansi yang akan meluas ke Bahrain, Yaman dan Mosul setelah jatuhnya kota Aleppo Suriah.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Salami mengatakan bahwa, “Rakyat Bahrain akan mendapatkan keinginan mereka, orang-orang Yaman akan senang, dan penduduk Mosul akan mencicipi kemenangan, ini semua janji-janji Tuhan,” seperti yang ia katakan.

Dia juga menunjukkan bahwa Iran masih memberikan dukungan tak terbatas untuk kelompok pemberontak Syiah Houthi, menyoroti bahwa rudal Iran bisa menghancurkan target musuh di daerah manapun.

Salami menggambarkan kendali pasukan rezim Suriah di kota Aleppo Suriah, yang telah merenggut nyawa ratusan warga sipil sebagai “penaklukan.”

Komentar-komentar dari juru bicara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Ramadan Sharif mengungkapkan niat Teheran untuk memperluas geografis melalui perang berdarah dan intervensi militer di Dunia Arab.

Sharif mencatat bahwa pasukan Iran dan milisi Syiah dari Irak, Afghanistan, Pakistan dan Syiah Hizbullah dengan dukungan Rusia memainkan peran yang menentukan dan sangat berpengaruh dalam pertempuran Aleppo.

Perlu dicatat bahwa permusuhan Iran melawan Bahrain dan negara-negara Teluk telah meningkat sejak Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bersumpah bahwa negaranya mendukung negara-negara Teluk dalam menghadapi terorisme Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris di Teheran sebagai protes terhadap pernyataan Theresa May selama pidatonya pada 7 Desember di KTT Gulf Cooperation Council, di mana dia menyatakan: “Kita harus bekerja sama untuk mengatasi permusuhan daerah oleh Iran apakah itu di Lebanon, Irak, Yaman, Suriah, atau di Teluk itu sendiri.”

Tanggapi Tuntutan Warga, Dua Kekuatan Besar Anshar al Syam dan Jaysh al Islam Bergabung

SURIAH (Jurnalislam.com) – Dua faksi jihad berkekuatan besar, Anshar al Syam di Suriah pada hari Kamis mengumumkan merger dengan Jaysh al Islam, dalam menanggapi tuntutan warga sipil sebagai pendukung Revolusi nyata, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (15/12/2016).

Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Anshar al Syam, bahwa dalam menanggapi tuntutan pendukung revolusi Suriah dari warga sipil di dalam dan di luar, Brigade mengumumkan bergabung dengan Faksi Jaysh al Islam, dan kami mengajak semua faksi-faksi jihad dan oposisi mengambil langkah-langkah mendesak dan praktis untuk bersatu dan berkumpul.

Pernyataan itu menambahkan “bahwa perang di tanah Syam saat ini telah sampai ke titik krisis, dan wilayah Suriah telah diserang oleh pasukan rezim teroris, milisi Syiah dan pasukan negara-negara pendukung Assad, untuk memusnahkan rakyat Suriah, yang ingin hidup dalam kebebasan dan martabat, seperti Aleppo yang dikepung sehingga anak-anak, perempuan dan orang tua di sana akhirnya tewas, juga rumah sakit, sekolah dan rumah penduduk dibom oleh penjahat dari Rusia, Iran dan rezim Syiah Assad, sementara masyarakat internasional hanya menyaksikan dan menonton tidak mengangkat sebuah jari pun.”

Unjuk rasa dimulai dua hari yang lalu di beberapa daerah di utara dan selatan Suriah, menuntut faksi jihad dan oposisi bersenjata agar bersatu dan berkumpul untuk mengkompensasi kerugian yang memukul revolusi Suriah dan untuk mencegah rezim Assad mencapai keuntungan militer baru.

Turki Kirim Bulan Sabit Merah Bantu Korban Aleppo

HATAY (Jurnalislam.com) – Lembaga tinggi negara dan kelompok bantuan sipil telah menyelesaikan persiapan untuk mengevakuasi warga sipil dari kota Aleppo Suriah yang dilanda perang menuju ke provinsi perbatasan Turki, Hatay, pejabat Turkish Red Crescent (Bulan Sabit Merah Turki) mengatakan pada hari Kamis (15/12/2016), lansir Anadolu Agency.

Di bawah koordinasi Manajemen Bencana dan Darurat Kepresidenan (the Disaster and Emergency Management Presidency-AFAD), Bulan Sabit Merah dan Yayasan Bantuan Kemanusiaan (Humanitarian Relief Foundation-IHH) telah menyusun rencana, kepala Bulan Sabit Merah Kerem Kinik mengatakan kepada wartawan.

“Dalam rencana operasi ini, pertama-tama korban yang terluka akan ditransfer ke Turki, dan Departemen Kesehatan bekerja dalam operasi ini,” tambahnya.

Menurut kementerian, sedikitnya 90 korban yang terluka sudah menunggu, dan Turki mendesak akan mendirikan rumah sakit mobile untuk merawat mereka.

Banyak ambulans juga waspada untuk kemungkinan cedera serius di Cilvegozu Border Gate Turki yang terletak di distrik Reyhanli Hatay.

Sementara itu, 25 truk PBB membawa makanan, obat-obatan, dan pasokan bantuan lainnya telah menyeberangi Cilvegozu Border Gate ke Suriah.

Secara terpisah, Rabu, banyak orang di beberapa negara Eropa, termasuk Perancis dan Denmark, memprotes pembantaian warga sipil oleh rezim Suriah dan sekutunya di Aleppo.

Kekerasan meningkat di kota pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke bagian Aleppo timur yang dikuasai oposisi setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara brutal secara terus-menerus.

Rezim Syiah Nushairiyah Assad yang didukung Rusia telah berusaha merebut atas wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan Musim Semi Arab – dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas oleh konflik dan jutaan lebih lainnya mengungsi.

Sempat Diserang Milisi Syiah, 20 Bus Konvoi Pengungsi Aleppo menuju Benteng Mujahidin Idlib

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Konvoi sipil yang terikat dengan Idlib telah kembali berangkat dari Aleppo Timur yang dilanda perang setelah upaya pertama mereka mendapat serangan dari milisi Syiah, menurut laporan setempat, lansir Anadolu Agency, Kamis (15/12/2016).

Konvoi 20 bus tersebut membawa sedikitnya 200 orang luka-luka – lebih dari 50 dalam kondisi kritis – menurut seorang wartawan Anadolu Agency di tempat serangan itu.

Konvoi akan menuju ke arah provinsi Idlib yang dikuasai mujahidin Suriah setelah melalui pos pemeriksaan di daerah Aleppo yang dipegang rezim.

Upaya pertama konvoi untuk meninggalkan Aleppo pada Kamis sebelumnya terhalang ketika milisi Syiah yang didukung Iran melepaskan tembakan, menewaskan sedikitnya empat warga sipil.

Warga sipil di bus sedang menunggu untuk pindah ke distrik Ramuse saat konvoi mereka diserang.

Jenderal Valery Gerasimov, kepala Rusia Staf Umum, mengatakan evakuasi sekitar 5.000 orang, termasuk kelompok-kelompok bersenjata, dari Aleppo timur telah dimulai.

Dia mengatakan koridor kemanusiaan sepanjang 21 kilometer telah disiapkan untuk evakuasi.

Sebuah pusat koordinasi militer Rusia di Suriah juga mengumumkan bahwa mereka sedang memantau konvoi dengan drone.

Ia juga mengatakan bahwa selain bus, 10 mobil ambulans hadir agar perjalanan warga sipil ke daerah lain berlangsung aman.

Komite Internasional Palang Merah (The International Committee of the Red Cross) dan Bulan Sabit Merah Suriah (The Syrian Arab Red Crescent) kabarnya telah mengawal konvoi dari Aleppo timur.

Aksi Muslim Bosnia Mengutuk Pembantaian Warga Aleppo oleh Rezim Assad

BOSNIA (Jurnalislam.com) – Ribuan orang berkumpul di Bosnia untuk mengutuk kebrutalan dan genosida (pembantaian) kaum muslim Suriah yang terjadi di Aleppo

Lebih dari 1.071 warga sipil telah tewas di Aleppo timur akibat serangan oleh rezim Suriah dan pesawat-pesawat tempur Rusia sejak pertengahan November.

Dalam dua hari terakhir, sejumlah warga sipil di Aleppo timur telah dibunuhi secara brutal oleh milisi Syiah pro rezim – situasi yang digambarkan PBB sebagai peristiwa yang sangat mengerikan.

Berikut ini foto-foto aksi solidaritas Muslim Bosnia untuk kaum Muslim Aleppo, yang dikumpulkan oleh World Bulletin, Rabu (14/12/2016).

 

Densus 88 Tangkap Satu Keluarga di Tasik Terkait Kasus Bom Bekasi

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Densus 88 Mabes Polri menangkap terduga teroris inisial TS (37) dan suaminya HG (36) beserta anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar warga Padasuka, Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Kamis (15/12/2016) pagi ini.

Menurut Ketua RT setempat, Aang Suryana, penangkapan yang dilakukan pukul 05.00 itu berlangsung cepat tanpa ada perlawanan.

Penangkapan tersebut dibenarkan Kapolsek Indihiang, Kompol Tri Sumarsono. Terduga yang merupakan satu keluarga diduga terlibat dalam jaringan teroris Bekasi.

“Itu indikasi kaitannya dengan penangkapan yang di Bekasi. Mereka bukan warga asli disini, melainkan pendatang. Mereka bekerja sebagai tukang bekam dan penjual obat herbal, ” papar Tri, Kamis (15/12/2016).

Usai penangkapan, tim Gegana Polda Jabar menyisir rumah kontrakan terduga teroris untuk mencari barang bukti. Pencarian ini dilakukan hingga ke bagian atap rumah. “Saat ini masih dilakukan penyisiran oleh tim Gegana Polda Jabar, ” pungkas Tri.

Reporter: Aryo Jipang

Hindari Diperkosa Milisi Syiah, Inilah Pesan Muslimah Aleppo Sebelum Mengakhiri Hidupnya

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Pesan terkahir muslimah Aleppo menyebar di media sosial bahwa beberapa ayah di Timur Aleppo meminta ulama apakah mereka diperbolehkan untuk membunuh anak perempuan mereka sebelum ditangkap dan diperkosa oleh pasukan rezim Syiah Assad, Hizbullah, atau milisi Iran.

Pasukan rezim Syiah Nshairiyah Assad dan milisi Syiah Libanon, Irak dan Iran melakukan hampir 200 pembunuhan di Aleppo pada hari Senin, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut saksi mata dari dalam kota, Al Arabiya News Channel melaporkan, Rabu (14/12/2016).

Aktivis di lokasi mengatakan Syiah Hizbullah Libanon melakukan sebagian besar eksekusi massal di kota Aleppo yang dilanda perang. Sumber mengkonfirmasi ke Al Arabiya bahwa milisi Syiah yang setia kepada rezim Assad membunuh secara biadab sembilan anak-anak dan empat wanita, dengan membakar mereka sampai mati.

Informasi lain melalui akun Facebook, yang diposting oleh seorang aktivis Aleppo menyampaikan pesan dari seorang gadis di Aleppo, berbunyi:

“Kepada semua pemimpin agama dan ulama dunia. Untuk semua orang yang diduga membawa beban di bahu mereka. Aku salah satu dari gadis-gadis Aleppo yang menanti perkosaan dalam beberapa jam lagi. Tidak ada laki-laki maupun senjata yang berdiri di antara kami dan raksasa yang disebut tentara Suriah.”

Saya tidak menginginkan apa-apa dari Anda, bahkan tidak menginginkan doa kalian. Saya masih bisa berbicara dan saya percaya doa saya lebih tulus daripada Anda. Satu yang saya minta hanyalah jangan ambil tempat Allah dan menilai saya ketika saya bunuh diri. Saya akan bunuh diri dan saya tidak peduli jika Anda mengutuk saya ke neraka.

Saya akan bunuh diri karena saya tidak mampu bertahan sepanjang waktu di rumah ayah saya secara sia-sia!! Ayah saya meninggal karena kesedihan dan ketakutan atas yang ia tinggalkan. Saya melakukan bunuh diri sehingga tubuh saya tidak menjadi kesenangan bagi mereka yang bahkan tidak berani menyebutkan nama Aleppo ini beberapa hari lalu.

“Saya bunuh diri di Aleppo karena hari kiamat baru saja terjadi dan saya tidak berpikir neraka lebih buruk dari hidup kita saat ini.”

“Aku akan bunuh diri dan saya tahu Anda semua akan bersatu menilai takdir saya ke neraka. Aku tahu satu-satunya hal yang akan menyatukan kalian semua adalah seorang gadis bunuh diri. Saya bukan ibu atau saudara perempuan atau istri Anda. Saya hanya seorang gadis yang tidak Anda pedulikan.”

“Saya akan menyelesaikan pernyataan saya dengan mengatakan fatwa Anda tidak berarti apa-apa kepada saya dan tidak menarik minat saya lagi. Simpan saja untuk keluarga Anda. Saya bunuh diri dan ketika Anda membaca pesan ini Anda harus tahu saya baru saja mati dalam keadaan suci dan tak tersentuh bahkan oleh Anda semua.”