Berita Terkini

Walaupun Pernah Ditembus Roket Hamas, Azerbaijan Tetap Beli Sistem Pertahanan Udara Israel

BAKU (Jurnalislam.com) – Menteri Industri Pertahanan Yavar Jamalov pada hari Sabtu (17/12/2016) mengumumkan bahwa Azerbaijan akan membeli sistem pertahanan udara “Iron Dome” Israel, World Bulletin melaporkan.

“Ada kesepakatan antara Azerbaijan dan Israel mengenai pengadaan sistem ini,” kata Jamalov kepada wartawan.

Jamalov mengatakan bahwa Azerbaijan membutuhkan sistem tersebut.

Dia juga mengatakan Azerbaijan mulai mengekspor produk seraya menambahkan: “Kami menjual produk industri pertahanan ke lembaga-lembaga negara seperti AS, Kanada, negara-negara Afrika dan Korea Selatan”

Dirancang dan diproduksi di Israel, sistem pertahanan udara “Iron Dome” mulai beroperasi pada tahun 2011.

Sistem pencegat roket jarak pendek tersebut pernah ditembus oleh roket-roket yang ditembakkan oleh kelompok perlawanan Islam Palestina, Hamas, ke Israel selama Operation Protective Edge terbaru di Jalur Gaza pada bulan Juli dan Agustus 2014.

Serangan Bom Mobil Hantam Bis Umum, 13 Tentara Turki Tewas

KAYSERI (Jurnalislam.com) – Tiga belas tentara tewas dan 56 lainnya luka-luka ketika sebuah serangan bom mobil menyerang sebuah bus umum di pusat provinsi Kayseri pada Sabtu (17/12/2016), kata Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu kepada Anadolu Agency.

Dalam pernyataan yang dibuat untuk media di kota Kayseri, Soylu mengatakan tujuh tersangka telah ditahan sehubungan dengan serangan itu, sementara pencarian lima orang lainnya terus berlanjut.

“Dari 56 korban yang terluka, 12 dalam perawatan intensif sementara empat tetap dalam kondisi kritis,” katanya.

Sebelumnya, kata Staf Umum Turki dalam sebuah pernyataan, bom mobil menargetkan bus umum yang membawa pasukan yang tidak sedang bertugas dekat kampus Erciyes University pada pukul 08:45 waktu setempat (0545 GMT).

Perdana Menteri Binali Yildirim kemudian mengatakan kepada wartawan di provinsi Kahramanmaras bahwa ledakan Kayseri adalah “serangan bom bunuh diri”

“Insiden ini tidak dapat melemahkan perjuangan kami melainkan meningkatkan tekad kami,” kata Yildirim.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu juga mengutuk serangan teror. Dalam pernyataan yang dibuat di Turki pada akun resmi Twitter-nya, Cavusoglu menyatakan belasungkawa kepada keluarga para martir dan berharap yang terluka cepat sembuh.

Kepala Staf Umum Jenderal Hulusi Akar juga mengatakan kepada Anadolu Agency: “Tentara Turki bertekad untuk memerangi teroris sampai teroris terakhir dinetralkan.”

Wakil Perdana Menteri Veysi Kaynak membandingkan kejadian tersebut dengan pemboman kembar 10 Desember di Istanbul, yang menewaskan 44 orang, termasuk beberapa petugas polisi.

Pemimpin utama oposisi Partai Republik Rakyat (CHP), Kemal Kilicdaroglu, juga menelepon perdana menteri dan menawarkan belasungkawa atas serangan itu.

Penyelidikan serangan tetap berlangsung.

Dewan Agung Radio dan Televisi (Supreme Board of Radio and Television) Turki memberlakukan larangan sementara liputan media terhadap ledakan Kayseri, yang mencakup siaran langsung dari tempat kejadian, rekaman yang diambil saat ledakan dan setelahnya, dan gambar tubuh/mayat, kata dewan itu dalam sebuah pernyataan.

Tabligh Akbar Dengan Ukhuwah Islamiah, Kita Eratkan Persatuan dan Kesatuan Umat Menuju Kejayaan Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh

Hadirilah Tabligh Akbar

Dengan tema :
DENGAN UKHUWAH ISLAMIAH, KITA ERATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN UMAT MENUJU KEJAYAAN ISLAM

Bersama :
Ustadz Abu Al Izz, Lc
Ketua Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB), Pemerhati Dunia Islam

? Tempat :
Musholla AR Ridho
* Cipacung Asem, Cinangka
. Serang – Banten

? Hari / Tanggal :
Senin, 19 Desember 2016

⏰ Waktu :
Jam: 20:00 sd 22:00

? GRATIS ?
UNTUK UMUM
IKHWAN & AKHWAT
Diselenggarakan Oleh :
? *DKM AR Ridho
** pemuda pemudi Cipacung asem.

Membaca Wacana Terorisme

BOMBARDIR berita soal bom panci ternyata tak begitu saja diterima masyarakat. Di media sosial misalnya, bom panci diolok-olok sebagai bom banci, atau janggalnya ‘teori’ atas bom panci tersebut. Masyarakat tampaknya semakin kritis dan menuntut penjelasan lebih terang ketimbang dan berimbang mengenai wacana terorisme. Persoalan mengenai wacana terorisme sebenarnya bukan saja bermuara di pemerintah, tetapi juga di media massa.

Media yang intens memberitakan seramnya isu terorisme bukan ada begitu saja. Bahkan David L. Altheide (2003) menyebutkan bahwa kecondongan media mengangkat berita yang menakut-nakuti mulai dari soal kriminalitas hingga wabah terinspirasi dari dunia hiburan dan di sisi lain dapat mengalihkan isu dari hal-hal yang mendasar seperti ketimpangan sosial.

Masyarakat berhak untuk kritis terhadap wacana terorisme yang digelontorkan pemerintah dan digaungkan media. Bukan karena kita tak peduli dengan korban-korban terorisme, tetapi justru karena ingin ada lagi korban berjatuhan atas nama ‘terorisme yang dikemas’ ini maka mengritiknya.

Cara media mengemas terorisme sudah memang sudah berlebihan. Bombastis, tendensius bahkan ceroboh. Ini bukan di Indonesia saja, tetapi di mana-mana, termasuk di Amerika maupun Eropa. Kita tentu paham ketika dahulu media mengemas terorisme seperti corong, persis seperti yang diinginkan Presiden Bush, maka dunia seolah tersihir ketika AS beserta koalisinya menyerang Afghanistan kemudian atas nama pre-emptive strike menyerang Irak. Dunia dibohongi bahwa di Irak ada Weapons of Mass Destruction (WMD). Wacana terorisme menurut Susan Moeller, penulis buku Packaging Terorism selalu tentang kuasa. “The Packaging of terrorism by Media or government-or even terrorist themselves-is about power. Power over us.”

Wacana terorisme khsususnya di media tak segamblang apa adanya. Bahkan tak ada definisi terorisme yang disepakati semua pihak. Terorisme itu taktik atau ideologi? (Moeller: 2009) Pemberitaan terorisme dipenuhi kejanggalan. Memakai pihak pelaku aksi kekerasan dengan label terorisme, bahkan memiliki dampak lebih berat. Ia bisa menempel pada siapa saja. Nyatanya berpikiran radikal belum tentu sejalan dengan terorisme. Kita dapat lihat misalnya ketika rezim brutal Suriah, Bashar Assad melabeli para oposisi dengan label teroris. Bahkan label ini diberikan bagi tenaga medis yang menolong kelompok oposisi.

Berbagai kritik dilayangkan pada media ketika mengemas terorisme. Mengapa media, misalnya memakai label teroris padahal pelaku aksi sudah jelas kelompok tertentu? ““Terrorism” and “Terrorist” often have little menacing -they are instead political epithets. When used, they can confuse more than illuminate a political event or environment- especially because politicians and media only rarely explain that “terrorism” is a contested concept and that the language used to make the moral case on terrorism is typically loaded.” (Moeller: 2009)

Mengapa alih-alih menjalankan fungsinya sebagai watch dog, media menjadi corong pemerintah dalam pemberitaan terorisme tanpa melakukan verifikasi atas pernyataan pemerintah? Bandingkan berbedanya pengemasan pemberitaan media soal aksi peledakan di Eropa dengan di Timur Tengah. Aksi peledakan di Eropa pemberitaan bisa jadi dikulik sedemikian rupa, namun aksi serupa di Timur tengah, pemberitaan dikemas dengan mengesankan siklus kekerasan seperti biasa belaka. Atau mengapa media dengan mudahnya menyebut aksi terror jika terkait agama pelaku tetapi gagap menyebut terror pada tindakan negara barat di Timur Tengah dan Afrika? Dan mengapa mereka tak melabeli penjajahan dengan kekejaman oleh Israel di Palestina sebagai terorisme?

Lihat pula dampak dari pemberitaan media yang biasanya menampilkan aksi ‘terorisme’ pada kulit semata; mulai dari angka-angka, ekspose berlebihan pada korban, sampai dangkalnya pemberitaan soal terorisme tanpa elaborasi lebih lanjut. Semua hal-hal tadi hanya sebagian dari kritik dari wacana terorisme. (Moeller : 2009)

Susan Moeller dalam Packaging Terrorism (2009) mengingatkan perlunya sikap kritis kita pemberitaan terhadap terorisme. “Journalism -in print, on air, online- always seems so transparent. The words and pictures are out there for us all to see. But we rarely take the time to consider the choices that are made – the language that is selected, the voices that are heard, the images that are used, the stories that are told. Whose stories are these? Why are we hearing those and not another’s Why do we see? And most of all, why does it all matter?”

Kita tentu tak lupa bagaimana rezim orde baru memakai isu Komando Jihad sebagai alat untuk mengokohkan kekuasaan di tahun 70 sampai 80an. Komando jihad ternyata tak lain adalah permainan operasi intelejen Opsus (Operasi Khsusus) di bawah Ali Moertopo. Mereka merekayasa, meradikalisasi sekelompok orang demi tujuan-tujuan politis rezim orde baru untuk mendiskreditkan politik Umat Islam saat itu. Aksi Komando Jihad seringkali muncul menjelang pemilu saat itu. Modus yang dipakai adalah pancing-jaring-tangkap. Hal ini bisa kita baca salah satunya dari disertasi Busyro Muqoddas yang kemudian dibukukan menjadi Hegemoni Rezim Intelejen. (M. Busyro Muqoddas: 2011)

Kritik terhadap wacana terorisme dan penanganannya mutlak diperlukan. Pemantauan kebijakan pemerintah terhadap isu terorisme harus dilakukan justru agar tak menghasilkan lingkaran kekerasan. Kekerasan direspon dengan kekerasan sehingga menghasilkan kekerasan lainnya yang terus berputar.

Jika kita tidak kritis terhadap wacana terorisme, malah menganggap siapa pun yang dilabeli teroris secara sepihak tanpa proses peradilan sah untuk dihabisi, maka kita akan menemukan tindakan sewenang-wenang yang berwujud state terrorism. Richard Jackson dkk, dalam pendahuluan Contemporary State Terrorism: Theory and Practice mengingatkan “Even more disturbing, government directed campaign of counter terrorism in the past few decease have frequently descended into state terrorism by failing to distinguish between the innocent and the guilty, responding highly disproportionately acts of insurgent violence , and aiming to terrify or intimidate the wider population or particular communities into submission.” (Jackson, et al : 2010)

Jangan lupakan Kasus Siyono, seorang kepala keluarga yang tiba-tiba diculik, kemudian kembali kepada keluarga hanya tinggal jasadnya saja pada Maret 2016 kemarin. Siyono, adalah korban dari ekeskusi diluar proses peradilan. Bahkan dijadikan tersangka pun ia belum pernah. Keluarganya, istrinya, anak-anaknya yang masih kecil tiba-tiba diberitahu ayahnya sudah meninggal begitu saja. Masih banyak nama-nama lain selain Siyono.

Sekali lagi, melihat wacana terorisme secara kritis bukan kita tidak peduli, tetapi justru kita tak ingin para korban aksi ‘terror’ menjadi alat bagi pihak-pihak tertentu yang mendulang keuntungan dan kepentingan di atasnya. Agar tak ada lagi korban-korban dari permainan semacam Komando Jihad buatan penguasa di era Orde Baru, agar tak ada lagi korban seperti anak-anak yang menderita seperti kasus bom gereja di Samarinda, agar tak ada lagi Siyono-Siyono lain di masa mendatang.

Penulis: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Komunitas Kultura

Tunjukan Solidaritas, 50 Stasiun TV Turki akan Siarkan Kekejaman Pasukan Assad Besok Ahad

TURKI (Jurnalislam.com) – Korporasi Radio dan Televisi Turki (Turkish Radio and Television Corporation-TRT) meluncurkan inisiatif solidaritas dengan kota Aleppo, di bawah slogan “Aleppo tidak sendirian-Aleppo is not alone.”

Sebagaimana yang dilaporkan ElDorar AlShamia, Jumat (16/12/2016) bahwa pada hari Ahad (18/12/2016), 50 saluran Turki akan meluncurkan siaran langsung selama 16 jam, dalam solidaritas bersama Aleppo dan memberitakan kekejaman yang dialami kota itu oleh pasukan Rusia, Iran dan rezim Assad.

Banyak orang Turki bersama warga Suriah menggelar aksi protes di depan kedutaan Rusia dan Iran di Ankara kemarin, saat organisasi bantuan Turki IHH mengumpulkan sumbangan dana untuk kepentingan kota Aleppo.

Iran di Aleppo: Bunuh Semua Orang yang Terjebak

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sumber media Suriah mengatakan bahwa pejabat militer Syiah Iran, Jenderal Javad al-Ghafari, komandan Garda Revolusi yang juga pemimpin 16 kelompok milisi IRGC yang didukung Syiah berencana membunuh semua orang yang masih terjebak di timur Aleppo, sehingga menghambat penyelesaian operasi evakuasi warga sipil dan pejuang yang tersisa, lansir Al Arabiya News Channel, Jumat (16/12/2016).

Sumber tersebut mengatakan bahwa Jenderal Ghafari telah bertentangan dengan Rusia sejak awal; karena ia tidak ingin warga sipil dan pejuang oposisi dievakuasi dari lingkungan yang dikepung.

Dia menghambat perjanjian Rusia-Turki. Media Iran juga telah mulai menyerang Rusia yang sejalan dengan pembicaraan tentang perjanjian ini.

Media Iran mengisyaratkan tentang konflik kepentingan antara kedua belah pihak di Suriah.

Jenderal Ghafari, yang memimpin Garda Revolusi Syiah Iran dan milisi Syiah internaional yang berafiliasi dengan rezim Syiah Nushairiyah Suirah setelah pembunuhan Jenderal Hussein Hamadani pada bulan Oktober 2015.

#SaveAleppo, Ribuan Umat Islam Solo Turun ke Jalan Kecam Bashar Asad

SOLO (Jurnalislam.com) – Gelombang kecaman untuk rezim Syiah Nushairiyah Suriah bersama koalisi Rusia dan Iran mulai menyeruak. Sebab, mereka telah menghabisi umat Islam di Aleppo, Suriah hingga kini.

Menanggapi itu, ribuan umat Islam Solo berunjuk rasa, mengecam tindakan brutal dan tidak manusiawi itu di Bundaran Gladak, Solo, Jumat (16/12/2016).

“Di Aleppo telah terjadi pemerkosaan oleh milisi milisi Syiah terhadap muslimah yang tertangkap,” ungkap orator aksi, Ali Badres.

Sementara orator lain, Tengku Azhar menegaskan, Aleppo bukan hanya milik penduduk Syam (Suriah -red). Tetapi milik umat Islam.

“Syam adalah bumi yang di berkahi oleh Alloh. Di sana akan terjadi peperangan besar di akhir zaman nanti,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ia mengimbau umat Islam untuk terus memberitakan apa yang terjadi di Aleppo di berbagai kesempatan, khususnya di Media Sosial.

Selain berunjuk rasa, ribuan massa dari berbagai ormas itu melakukan penggalangan dana untuk muslim Aleppo yang sedang tertindas. Acara ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Dewan Syuro Kota Surakarta (DSKS).

Reporter: Ridho/Ary

Konvoi ke-3 Rombongan Pengungsi Aleppo Tiba di Benteng Mujahidin di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Konvoi ketiga pengungsi warga sipil Aleppo timur telah mencapai banteng mujahidin di Idlib, seorang wartawan Anadolu Agency di tempat menyaksikan pada hari Jumat (16/12/2016).

Sedikitnya 7.500 warga sipil sejauh ini meninggalkan Aleppo timur telah tiba di Idlib, pejabat dari faksi oposisi bersenjata Suriah mengatakan.

Upaya Turki terus berlanjut bagi masyarakat sipil Aleppo selama proses evakuasi. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu Kamis mengatakan dua konvoi bus yang membawa warga sipil juga telah berhasil mencapai daerah yang dikuasai para pejuang dan oposisi di Aleppo Barat.

Menurut kesepakatan antara rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo Timur akan terus menuju ke arah Idlib, yang terletak dekat perbatasan dengan Turki.

Aleppo Tertindas, Anshsrusyariah Semarang Gelar Aksi Sosial

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Jamaah Anshorusyariah Semarang menggelar penggalangan dana untuk kaum muslimin Aleppo yang sedang tertindas oleh rezim Suriah. Aksi sosial itu digelar di Masjid Baiturrahman Simpang Lima Semarang, Jum’at (16/12/2016).

“Pertama aksi ini kita adakan dalam rangka pembelaan saudara kita di Aleppo,” kata Korlap aksi, Danang kepada jurniscom di sela-sela aksi.

Ia mengatakan, sebagai suatu tubuh umat Islam, sudah sepatutnya umat Islam Indonesia khususnya dan dunia umumnya ikut merasakan penderitaan mereka.

“Hadirnya kita disini untuk menggalang dana adalah sebagai hujjah (bukti -red) kita kelak dihadapan Allah, apa yang kalian buat untuk saudaramu di Aleppo,” terangnya.

Sementara itu, otator aksi Amur Huda, mengkritisi pemerintah yang tidak bisa melihat kondisi dengan datangnya Presiden Joko Widodo ke Iran. Sebab, Iran merupakan salah satu bagian dari koalisi yang menyerang habis umat Islam Aleppo.

“Disaat yang sama, saudara-saudara kita meregang nyawa karena pembantaian yang didukung Iran dan Rusia, presiden kita malah berkunjung menemui presiden Iran”, cetusnya

“Kita tak mungkin mengaharapkan pemerintah negri ini untuk membantu saudara kita, hanya diri dan harta kitalah yang dapat membantunya,” pungkasnya.

Diketahui, selain Jamaah Anshorusyariah Semarang, Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Jawa tengah juga ikut membantu terselenggaranya acara.