Berita Terkini

Larangan Masuk untuk Obama dan Kaum Muslim pada Sebuah Toko di AS jadi Viral

NEW MEXICO (Jurnalislam.com) – Sebuah toko kelontong di negara bagian New Mexico AS menjadi viral setelah memasang slogan-slogan yang kontroversial – termasuk satu yang bertuliskan “Obama & Muslim lainnya Tidak diterima di sini” – di etalase nya.

Toko, yang terletak di kota kecil Mayhill, sekitar 165 mil (265 kilometer) di tenggara Albuquerque, dilaporkan telah memasang tanda larangan seperti itu selama bertahun-tahun hingga menarik perhatian setelah seorang wisatawan tersinggung dengan tanda terbaru dan memberitahu stasiun televisi, lansir World Bulletin, Rabu (04/01/2016).

“Poster itu sudah ada di sini dalam waktu yang lama,” kata Marlon McWilliams kepada stasiun berita tersebut. “Jika Anda masuk ke sana dan Anda menyinggung perasaan pemilik toko, maka Anda tidak bisa masuk ke sana lagi.

“Dia telah mengusir banyak orang.”

McWilliams mengatakan pemilik menargetkan Presiden Barack Obama dan tokoh masyarakat lainnya dan menjual slogan-slogan itu untuk pelanggan.

Salah satu tanda mengatakan “Bunuh Obama” dalam huruf besar dengan kata “care” dalam cetakan kecil di bawahnya.

Posting kontroversial tersebut menuai badai di media sosial dengan banyak seruan untuk memboikot toko. Namun, beberap pihak lain membela pemilik toko dengan alasan memiliki hak untuk kebebasan berbicara.

Pemilik toko, yang akan dijual, tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar ataupun membicarakan tentang penjualan tokonya.

Staf di hotel dan cafe yang terletak di sebelah toko menolak berkomentar ketika ditemui AFP.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (The Council on American-Islamic Relations-CAIR), sebuah kelompok advokasi, telah mengeluarkan pernyataan mendesak pemilik toko untuk menghapus tanda-tanda tersebut.

“Sementara semua orang memiliki amandemen pertama yaitu hak untuk kebebasan berbicara – bahkan pidato menyerang – kami juga mendesak pemilik toko menghapus tanda tersebut untuk kepentingan kesusilaan umum dan kesatuan bangsa kita di saat meningkatnya perpecahan,” kata juru bicara CAIR Ibrahim Hooper.

Syiah Houthi Rekrut Paksa Anak-anak Yaman untuk Dikirim ke Medan Perang

YAMAN (Jurnalislam.com) – Terungkap bahwa milisi Syiah Houthi memaksa merekrut lebih dari 450 anak-anak dari distrik al-Mahwit di barat Sanaa, pada bulan Desember 2016, dan mengirim mereka ke medan perang meskipun orang tua mereka menyatakan keberatan.

Sumber-sumber lokal mengatakan pemberontak Syiah Houthi di gubernuran al-Mahwit merekrut anak-anak kurang dari 13 tahun dan mengirim mereka ke berbagai wilayah, terutama Nahm.

Sementara sumber suku mengatakan kepada Al-Arabiya.net, Rabu (04/01/2017), bahwa milisi Houthi baru membuka kamp untuk melatih ratusan anak-anak di Mahwit, menambahkan bahwa kamp-kamp lainnya juga didirikan di Amran.

Mereka mengatakan anak-anak ini diculik dari orang tua mereka. Menurut mereka, puluhan anak telah tewas dan jenazah mereka telah dikembalikan ke keluarga mereka di Nahm.

Sumber hak asasi manusia Yaman memperkirakan bahwa milisi Houthi merekrut sekitar 10.000 anak-anak selama tahun 2016 saja.

Ahrar al Sham Bertukar Tawanan dengan IS di Hama

SURIAH (Jurnalislam.com)Ahrar al-Sham melakukan pertukaran tawanan delapan anggota masing-masing pihak dengan kelompok Islamic State (IS) pada hari Rabu (04/01/2017) di pedesaan Hama.

Koresponden Eldorar melaporkan bahwa delapan tahanan Ahrar Al-Sham dilepaskan untuk ditukar dengan delapan tahanan IS. Pertukaran berlangsung di Rahjan di pedesaan timur Hama.

Wartawan kami mengatakan bahwa negosiator IS hanya memberikan anggota asing terutama warga Irak, dan tidak menyatakan akan membawa anggota berkebangsaan Suriah.

Kesepakatan pertukaran tahanan ini membebaskan tujuh anggota Jaysh Al sham yang baru bergabung dengan Ahrar Alsham, dan satu anggota Ahrar Al-Sharqya. Mereka ditangkap ketika pertempuran desa Tallil Alhusn di pedesaan utara Aleppo.

Tokoh Sekte Syiah Iran: Hizbullah akan Tetap di Suriah

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Seorang tokoh kunci untuk Pemimpin Tertinggi sekte Syiah Iran, Ali Khamenei, mengatakan pada hari Selasa (03/01/2016) bahwa pasukan kelompok Syiah Hizbullah Libanon tidak akan meninggalkan Suriah meskipun terjadi kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Turki dan Rusia pekan lalu.

Anadolu Agency mengatakan, “Laporan bahwa Hizbullah akan meninggalkan Suriah setelah gencatan senjata hanyalah propaganda,” kata Ali Akbar Velayati pada konferensi pers di Teheran setelah bertemu Wakil Presiden Irak Nuri al-Maliki, menurut kantor berita Iran ISNA.

Velayati melanjutkan untuk menunjukkan bahwa pertemuan khusus membahas ke depan Suriah akan diselenggarakan akhir bulan ini di ibukota Kazakh, Astana, oleh pemerintah rezim Suriah dan sekutunya.

“Mereka yang berusaha menahan proses negosiasi tanpa persetujuan dari pemerintah Suriah tidak akan diizinkan untuk bergabung dengan pembicaraan [di Astana],” katanya.

Seperti Rusia, Iran adalah pendukung setia rezim Assad Suriah, yang sejak tahun 2011 telah memerangi kelompok-kelompok oposisi bersenjata.

Selama lima tahun terakhir, pasukan Syiah Iran dan Syiah Hizbullah telah berperang bersama pasukan rezim Syiah Assad di Suriah. Selama periode ini, lebih dari 1.200 tentara Iran dan milisi pro-Iran diyakini telah tewas dalam pertempuran yang sedang berlangsung.

Velayati membuat pernyataan setelah kelompok oposisi Suriah mengumumkan sebelumnya hari Selasa bahwa mereka tidak akan mengambil bagian dalam pembicaraan mendatang di Astana, yang sedang dipromosikan oleh Turki dan Rusia.

Dalam pernyataan bersama, kelompok oposisi mengatakan lanjutan agresi militer oleh rezim Assad dan sekutu Syiahnya di Suriah merupakan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku Jumat lalu.

Menurut Velayati, Teheran dan Moskow terus berkoordinasi dengan rezm Suriah meskipun terdapat klaim bahwa Moskow mengabaikan kepentingan Iran di negara itu.

Suriah tetap terkunci dalam perang global yang merusak sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Assad dukungan Iran menumpas protes unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas – dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi – sebagai akibat langsung dari konflik, menurut angka PBB.

FSA Bantah Serahkan Peta Kekuatan JFS ke Rusia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Operasi berulang yang menargetkan Jabhat Fath al-Sham (JFS) selama dua hari terakhir hingga pesawat yang diyakini sebagai jet tempur koalisi internasional juga menghantam anggota faksi dan kantor pusat JFS, memancing kontroversi tentang alasan serangan, dan bagaimana bisa Rusia maupun koalisi mampu mendapatkan informasi tentang keberadaan JFS.

Laporan Rusia bahwa mereka memiliki peta yang menggambarkan situasi militer di Suriah setelah perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani antara mereka dan faksi Tentara Pembebasan Suriah beberapa hari lalu menimbulkan kegemparan terutama setelah pada hari Selasa (03/01/2016) jet tempur menargetkan markas JFS.

Penyiar berita rezim Suriah “Musa al-Omar” mengatakan faksi FSA menyerahkan data kepada Rusia dan koalisi internasional terkait dengan markas yang mereka sebut “ekstrimis” dalam referensi mereka untuk JFS.

Sumber di delegasi negosiasi FSA menganggap bahwa ada pihak-pihak yang berusaha untuk menipu dan menyesatkan orang-orang bahwa penyerangan basis Fath al-Sham terjadi sebagai hasil FSA menyerahkan peta ke Rusia, menekankan bahwa mereka mengambil keuntungan dari kurangnya pengetahuan mengenai sifat informasi yang diberikan oleh faksi-faksi sebagai dokumen perjanjian gencatan senjata.

Sumber itu mengatakan dalam laporan eksklusif untuk jaringan ElDorar, Selasa (03/01/2016), “Peta-peta yang disampaikan menggambarkan daerah yang dikuasai faksi FSA secara keseluruhan, dengan kata lain, peta distribusi daerah dibebaskan yang akan diberlakukan gencatan senjata, dan tidak ada peta faksi lainnya, baik JFS atau kelompok lain, dan peta ini mengidentifikasi wilayah yang dikendalikan oleh pasukan rezim Assad dan titik pertempuran dengan mereka, dan semuanya mengatakan sebaliknya… hanya kebohongan dan rekayasa yang bertujuan menghasut untuk mengadu domba.”

JFS mengatakan dalam laporan eksklusif untuk jaringan ElDorar bahwa kantor pusat JFS di Idlib utara telah ditargetkan juga cabang mereka termasuk kantor dan penjara, sehingga menyebabkan gugurnya sedikitnya 25 anggota JFS pada hari Selasa.

Juru bicara delegasi negosiasi, Osama Abu Zeid, menunjukkan salinan perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani dengan pihak Rusia sebagai jaminan kepada media, yang mencakup semua faksi perlawanan, termasuk Jabhat Fath al-Sham kecuali markas kelompok IS dan daerah yang IS kontrol.

Faksi Perlawanan Suriah Bunuh 15 Pasukan Assad dan Milisi Syiah Hizbullah di Wadi Barada

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Assad dan milisi Syiah Hizbullah tewas di tangan faksi perlawanan Suriah, saat bergerak maju di wilayah Wadi Barada, Provinsi Rif Dimashq.

Pasukan oposisi menggagalkan serangan tembakan meriam di darat didukung pemboman udara yang diluncurkan oleh pasukan rezim Assad di garis depan desa Wadi Barada dan menewaskan 15 pasukan pro Assad, sebagian besar di sumbu al-Husseiniya dan lembah Mekah, sumber-sumber militer mengkonfirmasi, lansir ElDorar AlShamia, Selasa (03/01/2016)

Faksi militer di daerah Wadi Barada mengumumkan bahwa mereka akan menuntut untuk membatalkan perjanjian gencatan senjata dan akan bertempur jika rezim Nushairiyah Assad terus menyerang orang-orang yang berada di sana.

Faksi-faksi Timur Ghouta juga memukul mundur upaya pasukan al-Assad untuk maju di daerah Hazerma & Midaani.

Pasukan Irak Kuasai Distrik Startegis Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak Selasa merebut sebuah distrik utama Mosul yang dikuasai IS dalam serangan militer yang sedang berlangsung yang bertujuan untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) dari kota utara.

“Pasukan Irak telah mengambil distrik Al-Hay al-Senai di tenggara Mosul menyusul bentrokan sengit dengan militan IS,” Khaled al-Saadouni, seorang perwira di lembaga anti-terorisme Irak, mengatakan.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Selasa (03/01/2017) al-Saadouni menambahkan bahwa pasukan anti-terorisme Irak telah menyerang kabupaten dari tiga arah.

Menurut petugas, 21 pasukan IS terbunuh dalam bentrokan berikutnya dengan pasukan Irak.

“Pasukan kami juga menangkap dua pasukan IS, menghancurkan lima kendaraan mereka dan menyita senjata dari kelompok mereka,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa seorang tentara Irak tewas sementara tujuh lainnya terluka.

Juga pada hari Selasa, divisi polisi reaksi cepat yang berafiliasi Irak menguasai distrik Al-Mithaq di tenggara Mosul, Kolonel Tentara Irak Mustafa al-Naderi mengatakan kepada Anadolu Agency.

Al-Mithaq dianggap sebagai salah satu benteng besar terakhir IS di Mosul.

Menurut al-Naderi, pasukan khusus Irak juga berhasil merebut area Maaridh, sebuah distrik komersial yang terletak di sebelah timur kota.

Dalam perkembangan terkait hari yang sama, sembilan militan IS tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS di Mosul timur.

“Mereka tewas ketika sebuah pesawat udara tak berawak menghantam sebuah rumah yang digunakan militan sebagai markas,” Saleh al-Ezi, seorang perwira polisi Irak, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Militer Irak, yang didukung oleh pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS dan sekutu lokal di darat, saat ini terlibat dalam serangan besar ditujukan untuk mengusir IS dari Mosul, yang diserbu IS pada tahun 2014.

Sejak operasi dimulai Oktober lalu, pasukan Irak dilaporkan telah merebut kembali lebih dari seperempat wilayah Mosul, yang pernah dianggap kota terbesar kedua Irak dalam hal populasi.

Meskipun awalnya berharap bahwa kota itu akan direbut kembali akhir tahun ini, Perdana Menteri Haidar al-Abadi mengatakan pekan lalu bahwa sedikitnya tiga bulan akan diperlukan untuk benar-benar mengalahkan IS di Irak.

Jumlah Warga Sipil Aleppo yang Dirawat di RS Turki Meningkat

HATAY (Jurnalislam.com) – Jumlah warga sipil dari kota Aleppo Suriah yang terluka dan dikirim ke rumah sakit di Turki telah mencapai 360, menurut otoritas Turki pada hari Selasa (03/01/2017), lansir Anadolu Agency.

Warga Aleppo tersebut tiba di Turki setelah mereka dievakuasi dari kota Suriah di bawah kesepakatan.

Menurut informasi yang diterima dari Kantor Perdana Menteri Direktorat Jenderal Pers dan Informasi, 48 dari 360 warga sipil yang terluka telah menyerah pada luka-luka mereka sementara 67 orang lainnya telah keluar dari rumah sakit.

168 orang yang cedera juga berumur di bawah 18 tahun.

Akhir bulan lalu, pasukan oposisi Suriah dan rezim mencapai kesepakatan gencatan senjata, yang ditengahi oleh Turki dan Rusia, untuk mengevakuasi warga sipil dari Aleppo timur ke daerah Idlib yang aman yang dikuasai oposisi.

Sejauh ini, sekitar 44.000 orang telah dievakuasi dari daerah tersebut, menurut pihak berwenang Turki.

Yayasan bantuan dan organisasi kemanusiaan Turki terus memberikan bantuan untuk pengungsi di Idlib.

Suriah telah terkunci dalam perang global yang menghancurkan sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar al-Assad menumpas protes unjuk rasa dengan keganasan militer yang tak terduga.

JFS: Koalisi Internasional yang Menyerang Markas Kami

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pesawat yang diduga milik koalisi pimpinan AS menyerang sebuah markas lokal Jabhat Fath al Syam (JFS) yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah di Suriah pada Selasa malam (03/01/2017), kata juru bicara JFS, kantor berita Middle East Eye melaporkan, Selasa.

Hingga 25 anggota Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah afiliasi al-Qaeda, gugur ketika sebuah bangunan tempat mereka bertemu di provinsi utara Idlib diserang.

Selasa kemarin adalah hari kelima gencatan senjata nasional di Suriah tetapi pihak sponsor, Rusia dan Turki, mengatakan gencatan ini tidak termasuk Jabhat Fath al-Sham beserta koalisinya dan Islamic State (IS).

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Observatory for Human Rights), sebuah lembaga monitor berbasis di Inggris, mengatakan tidak jelas siapa yang melakukan serangan tersebut.

Namun Juru bicara Jabhat Fateh al-Sham, Syeikh Abu Anas al-Shami, mengatakan serangan itu dilakukan oleh koalisi internasional.

“Markas yang ditargetkan oleh koalisi internasional beberapa waktu lalu adalah markas utama untuk wilayah itu dan berisi sejumlah kantor cabang, dan mengakibatkan pembunuhan saudara kami,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Pentagon, yang mengarahkan kegiatan koalisi pimpinan AS di Suriah dan Irak, tidak segera mengomentari pernyataan itu.

Begini Suasana Massa Pendukung Ahok dan Umat Islam di Luar Gedung Persidangan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Persidangan keempat terdakwa kasus penista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok digelar di Auditorium Kementerian Peternakan, Jl RM. Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (3/1/2017).

Massa pendukung Ahok dan massa umat Islam berkerumun di luar persidangan. Mereka dipisahkan oleh barikade kepolisian. Kedua kubu tak henti menyemangati massa dengan cara masing-masing.

Dari massa umat Islam, pekik takbir, lantunan ayat suci dan orasi penyemangat terus bersahutan tiada henti.
Sementara massa pendukung Ahok hanya memainkan musik dan berjoged-joged. Mereka hanya berorasi di awal saja. Bahkan saat azan dzuhur berkumandang pun musik masih terdengar.

Menjelang siang, terik matahari mulai menyengat. Massa umat Islam tetap bertahan. Sementara pendukung Ahok memilih berteduh.

Pantauan Islamic News Agency (INA), saat beranjak petang, lagu-lagu kembali diputar. Massa pendukung Ahok yang terdiri dari ibu-ibu itu pun kembali berjoged ria.

“Masih semangat?? Mari kita bergoyang lagi,” seru seseorang dari atas mobil pengeras suara pendukung Ahok.
Di mobil komando mereka terlihat, lelaki yang sesekali menenggak minuman berwarna hitam pekat yang dituang di gelas air mineral.

Massa pendukung Ahok membubarkan diri terlebih dahulu tepat pukul 17.00 disusul massa umat Islam pada pukul 18.00. Usai menunaikan shalat Maghrib berjamaah di Masjid Nurul Falah, massa umat Islam memilih untuk menunggu persidangan yang dijadwalkan selesai pada pukul 21.00.

Reporter: Ally Muhammad Abduh/INA