Berita Terkini

100 Siswa Kashmir Terluka saat Bentrokan Sengit dengan Pasukan India

KASHMIR (jurnalislam.com) – Sedikitnya 100 pelajar Kashmir terluka dalam bentrokan sengit dengan pasukan India di Kashmir yang dikuasai India saat terjadi demonstrasi dipicu kemarahan atas serangan polisi pada akhir pekan kemarin di sebuah perguruan tinggi.

Polisi pada hari Senin (17/4/2017) melepaskan tembakan gas air mata dan karet saat demonstrasi terjadi di kota utama Srinagar sebelum menyebar ke bagian lain Lembah Kashmir.

“Kami melakukan demonstrasi dengan damai, saudara kami diserang di dalam (perguruan tinggi), kami mendukung mereka karena kami tidak dapat mentolerir ini,” Isma, seorang siswa yang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut, mengatakan kepada Al Jazeera.

Serikat Mahasiswa Universitas Kashmir, sebuah badan mahasiswa yang dilarang, telah menyerukan demonstrasi di semua perguruan tinggi dan universitas setelah lebih dari 50 siswa terluka pada hari Sabtu dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di sebuah perguruan tinggi di kota Pulwama, Kashmir selatan.

Para siswa di Pulwama melaporkan bahwa polisi dan tentara paramiliter menembakkan pelet dan gas air mata saat mereka menyerang perguruan tinggi tersebut untuk mencoba menangkap siswa yang terlibat dalam demonstrasi anti-India di daerah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Serikat Mahasiswa Universitas Kashmir mengatakan bahwa tindakan polisi dirancang untuk membantu negara “diatur oleh represi dan ketakutan”.

“Di sini kita menghadapi penindasan, telah satu tahun kita menghadapi penindasan, kita tidak akan mentoleransi penindasan ini, kita tidak dapat mentolerir lebih banyak penindasan lagi.”

Unit Operasi Homs Utara Lancarkan Serangan Kilat, Puluhan Pasukan Assad Terbunuh dan Terluka

SURIAH (Jurnalislam.com) – Unit operasi “Homs utara” melancarkan serangan kilat melawan pasukan rezim Syiah Suriah yang ditempatkan di jalan Homs-Salamiah, dan berhasil menghancurkan beberapa lokasi, serta membunuh dan melukai puluhan tentara Assad.

Serangan tersebut menargetkan tujuh titik militer pasukan Syiah Assad, di daerah Muzayria dan Dalak, dan berhasil menguasai, membunuh juga melukai puluhan orang, menyita mekanisme dan amunisi kemudian menghancurkan bangunan dan mundur, koresponden ElDorar melaporkan, Senin (17/4/2017).

“Unit Operasi Homs utara (the Operation Room of the northern Homs)” biasa melakukan strategi serangan mendadak semacam itu yang menargetkan titik-titik militer dan pertemuan pasukan rezim Nushairiyah Suriah di jalur pasokan, di mana jalan Homs-Salamiah adalah rute yang paling vital.

Hasil Referendum Dikritik, Erdogan: “Ngomong Nih Ama Tangan”

TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada pemantau pemilu internasional pada hari Senin (17/4/2017) untuk “talk to the hand” setelah mereka mengkritik perilaku referendum Turki, dengan mengatakan bahwa referendum itu diadakan di sebuah “arena permainan yang tidak seimbang,” lansir Aljazeera.

Kemenangan tipis referendum pada hari Ahad memberi kekuatan tambahan bagi presiden Turki. Hasil tidak resmi, yang akan ditantang pihak oposisi, menunjukkan kemenangan tipis sebanyak 51,4 persen suara yang mendukung kampanye “Ya/Setuju”.

Erdogan mengatakan bahwa kekuatan yang terkonsentrasi di tangan presiden sangat penting untuk mencegah ketidakstabilan, seraya menambahkan bahwa suara “Ya” telah mengakhiri semua perdebatan tentang pembentukan sebuah kepresidenan yang lebih kuat.

“Mentalitas tentara salib di Barat dan para pelayannya telah menyerang kita,” katanya kepada kerumunan saat ia tiba di bandara Ankara, menanggapi penilaian pemantau suara tersebut.

“Kami tidak melihat, mendengar, atau mengakui laporan politik yang akan Anda siapkan,” kata Erdogan kemudian di istana.

“Kami akan melanjutkan perjalanan kami, bicaralah kepada tangan (tidak akan menanggapi), negara ini telah melakukan pemilihan paling demokratis, yang tidak pernah terlihat di manapun di Barat.”

Perubahan konstitusional yang baru mengubah tata pemerintahan Turki dari sistem parlementer menjadi presidensi eksekutif, yang secara signifikan memperluas kekuasaan kantor puncak.

Sebelumnya pada hari Senin, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) mengatakan “kurangnya kesempatan yang sama, liputan media sepihak, dan keterbatasan pada kebebasan fundamental” telah menciptakan sebuah “arena permainan yang tidak merata/seimbang” dalam pemungutan suara Turki.

Dekati Masjid al Nuri, Pasukan Irak Atasi Perang dari Pintu ke Pintu IS

MOSUL (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah mengatasi pertempuran antar pintu di Kota Tua Mosul, kata seorang jurubicara militer, untuk merebut ibukota de facto kelompok Islamic state (IS) di negara itu memasuki bulan ketujuh.

Pasukan polisi federal Irak “terlibat dalam bentrokan rumah-ke-rumah yang sulit dengan Daesh [IS] di dalam Kota Tua”, seorang perwira media militer mengatakan kepada kantor berita Reuters, Senin (17/4/2017), lansir Aljazeera.

Drones digunakan untuk menemukan dan mengarahkan serangan udara pada kelompok tersebut, yang bersembunyi di antara warga sipil, katanya.

Pasukan Irak telah mengawasi Masjid al-Nuri yang telah berusia berabad-abad selama beberapa pekan, karena menguasai masjid tersebut akan menjadi kemenangan simbolis atas kelompok Islamic State.

Dari masjid inilah pemimpin kelompok IS Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan sebuah kekhalifahan sepihak pada bulan Juli 2014 setelah kelompok tersebut dengan cepat merebut wilayah-wilayah besar di Irak dan Suriah.

Seorang juru bicara kepolisian mengatakan tentara Irak telah semakin mendekati Masjid tersebut.

Kemajuan operasi berjalan lamban karena sekitar 400.000 warga sipil, atau seperempat populasi sebelum perang Mosul, terjebak di Kota Tua, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebanyak setengah juta orang diperkirakan akan tetap tinggal di lingkungan sekitar yang masih dikendalikan IS di Mosul barat, kata PBB dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.

“Warga sipil di Mosul menghadapi risiko yang luar biasa dan mengerikan,” kata Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB untuk Irak.

“Mereka ditembak, ada banyak artileri, keluarga kehabisan persediaan, obat-obatan langka dan aliran air diputus.”

Perang antara IS dan pasukan Irak menimbulkan korban berat, ratusan ribu warga sipil yang terjebak di dalam kota. Anak-anak (bayi-bayi) dengan gizi buruk mencapai rumah sakit di daerah yang dikuasai pemerintah.

“Mosul telah mendorong kami hingga batas operasional kami,” kata Grande.

Sedikitnya 493.000 orang telah meninggalkan Mosul, meninggalkan hampir semuanya, tambahnya.

Militer Korea Utara Siaga Penuh, Siap Hadapi AS

PYONGYANG (Jurnalislam.com) – Korea Utara telah memperingatkan tentaranya untuk “siaga maksimum” setelah wakil presiden AS mengunjungi perbatasan yang sangat dijaga ketat oleh militer kedua Korea dan menegaskan kembali posisi Washington bahwa “semua pilihan ada di meja (perundingan)” dalam menangani Pyongyang.

Sin Hong-chol, wakil menteri luar negeri Korea Utara, mengatakan kepada Al Jazeera, Senin (17/4/2017) dalam sebuah wawancara eksklusif pada hari Senin bahwa pemerintahan Donald Trump “harus melihat dunia dengan mata terbuka”.

“Siasat mendikte perintah dengan mengacungkan kekuatan militer AS telah usang.Jika para pengusaha yang berkuasa di AS tersebut berpikir untuk mengintimidasi kita dengan ancaman militer atau sanksi – seperti yang Barack Obama lakukan lalu gagal – mereka akan segera mengetahui bahwa ancaman seperti itu tidak ada gunanya,” kata Sin.

“Jika kita melihat ada tanda-tanda serangan terhadap kedaulatan kita, tentara kita akan melancarkan serangan militer tanpa ampun terhadap agresor AS, dimanapun mereka berada, mulai dari daerah terpencil AS hingga ke pangkalan militer Amerika di semenanjung Korea, seperti di Jepang dan di tempat lain.”

Sin juga mengatakan perundingan enam negara yang bertujuan untuk membuat semenanjung Korea bebas dari senjata nuklir “telah dicekoki sejak lahir”.

“Senjata nuklir yang kami miliki bukanlah ilusi, bukan komoditas yang bisa diperdagangkan untuk dolar Amerika – juga bukan untuk dijual, jadi tidak bisa diletakkan di meja perundingan dengan tujuan untuk merobeknya,” katanya.

Ketegangan antara Pyongyang dan Washington telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, saat serangkaian uji coba rudal Korea Utara mendapatkan peringatan berulang kali dari pemerintahan Donald Trump.

Pada hari Senin, Wakil Presiden AS Mike Pence – mengunjungi perbatasan paling dijaga ketat oleh militer di seluruh dunia yang memisahkan kedua Korea mengisyaratkan bahwa opsi militer terhadap Korea Utara tidak dikesampingkan.

“Rakyat Korea Utara, militer Korea Utara seharusnya tidak salah menilai tekad Amerika Serikat untuk berdiri bersama sekutu kita,” kata Pence, menambahkan “era kesabaran strategis sudah berakhir”.

“Semua pilihan ada di meja saat kami terus bahu membahu dengan orang-orang Korea Selatan,” katanya dari desa Panmunjom, di dalam Zona Demiliterisasi (the Demilitarised Zone-DMZ).

Katib Suriah PBNU: ‘Kalau Masih Ada yang Islam, Ya Pilih yang Islam’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait hukum memilih pemimpin non-muslim ternyata cukup tegas. Sebagaimana dikatakan Katib Suriyah PBNU, KH Zulfah Mustofa pada Sabtu (15/4/2015) di Jakarta, bahwa hasil Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo menegaskan haramnya memilih pemimpin non-muslim.

“Keputusan NU tentang hal ini, bagaimana hukum memilih anggota DPR-RI, DPRD, karena waktu itu belum ada pilkada langsung. Jadi keputusannya, haram hukumnya atau tidak boleh memilih selama masih ada yang Islam. Kalau masih ada yang Islam, ya kita pilih yang Islam,” terangnya kepada wartawan, Sabtu (15/4/2017) seperti dilansir actual.com.

Kyau Zulfah menjelaskan, keputusan tersebut bukan berarti NU tidak menghargai perbedaan agama. Akan tetapi, kata dia, sebagai organisasi agama dan social NU harus memperjuangkan nilai-nilai agama.

“Ulama NU mempertanyakan ini karena banyak di bawah calon-calon yang diusung oleh orang Islam yang modalnya kurang selalu kalah dengan calon yang kebetulan orang non-muslim yang modalnya besar. Jadi dalam hal ini demokrasi kita ini ukurannya masih fulus. Ulama itu prihatin, maka dibahaslah masalah itu di Lirboyo,” jelasnya.

Muktamar NU ke-30 dilangsungkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri pada tanggal 21 hingga 27 Nopember 1999. Salah satu pembahasan dalam muktamar itu adalah hokum menyerahkan urusan kepada pemimpin non-muslim.

Reporter: Junaidi

Nahdlatul Wathan dan ACTA Laporkan Penghina TGB. M Zainul Majid

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Nahdlatul Wathan (NW) DKI Jakarta dan Jawa Barat bersama dengan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) mendatangi Mapolda Metro Jaya untuk melaporkan Steven Hadisurya Sulistiyo (26 tahun). Steven dilaporkan atas perkataannya yang menghina gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) yang juga ketua umum Pengurus Besar NW, Ahad (9/4/2017) lalu. Pembina ACTA, Eggie Sudjana akan menjadi kuasa hukum NW dalam kasus ini.

“Saya mewakili sebagai kuasa hukum dan pembina ACTA dapat amanah dalam pengertian surat kuasa, dari NW DKI Jakarta. Dikarenakan, ketua umum NW, TGB mendapatkan perlakuan buruk berupa penghinaan,” ujar Eggie di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/4/2017) seperti dilansir Republika.

Eggie mengatakan, Steven telah melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 terkait penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Menurut Eggie, seharusnya tidak ada lagi pengelompokan pribumi dan nonpribumi di Indonesia.

Pembina ACTA itu mengatakan, perkataan yang disampaikan Steven juga menyinggung dirinya sebagai masyarakat Indonesia. Menurutnya, perkataan Steven sangat menyinggung ketika ia menyebutkan ‘tiko’, yang menurut dia berarti babi dan anjing.

“Steven menghina TGB, ‘Dasar Indon, dasar Pribumi, dan dasar Tiko!’ Tiko-lah yang membuat kami tersinggung. Menurut informasi yang kami dapat, Ti berarti babi dan ko adalah anjing. Itu bahasa hokian mereka” kata Eggie.

TGB sendiri dikatakan telah memaafkan tindakan yang dilakukan Steven. Meskipun begitu, Eggie mengatakan, hal tersebut tidak menghilangkan unsur pidana dan proses hukum akan tetap berjalan. Menurutnya, Steven harus bertanggungjawab karena telah merusak kebinekaan di Indonesia.

“Jika Steven gentle dan berani, muncul untuk datang ke polda ini untuk menyerahkan diri,” kata Eggie.

Kejadian penghinaan yang dilakukan Steven terhadap TGB terjadi Ahad (9/4/2017) lalu, pukul 14.30 waktu Singapura. Saat itu TGB sedang mengantre di counter check in Bandara Changi, Singapura. Ia keluar dari antrean untuk sejenak melihat jadwal penerbangan dan beberapa saat kemudian kembali ke barisan.

Tiba-tiba dari arah belakang TGB, Steven marah kepadanya karena merasa diselak dan melontarkan kata-kata bernada SARA dan kebencian. Ketika pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, TGB langsung melaporkan Steven ke kepolisian bandara.

Steven sendiri telah melayangkan surat permohonan maaf kepada TGB, Ahad (9/4/2017). Meskipun begitu, pihak NW sendiri masih akan terus menindaklanjuti kasus ini agar kejadian seperti ini tidak kembali terulang.

“Ini harus kita proses hukum agar ia bisa diberi pelajaran. Jika dalam waktu 1×24 jam Steven tidak diproses pihak yang berwajib maka kami yang akan menindaklanjuti,” kata Muslihan.

Reporter: Sirath

Said Aqil Siroj Dukung Ahok, Seluruh Elemen PCNU Abdya Mundur Massal

ACEH (Jurnalislam.com) – Sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung Ahok berbuntut pahit. Seluruh elemen dari PBNU atau Pengurus Cabang NU di Aceh Barat Daya (Abdya) membubarkan diri dari ormas terbesar di Indonesia itu.

Pernyataan mundur massal itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Cafe Lauser, Minggu (16/4/2017). Ketua Harian Syuriyah PCNU Abdya, Tgk Armisli menyatakan, mundurnya seluruh pengurus sebagai protes terkait sikap Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj yang mendukung Ahok-Djarot.

“Ini bukti kami membela Islam dan pemimpin Islam. Setidaknya di akhirat Allah SWT tahu PBNU Abdya menolak kafir jadi pemimpin,” tegasnya seperti dilansir dari Rakyat Aceh, Senin (17/4/2017).

Adapun elemen NU yang membubarkan diri tersebut yakni, Dewan Mustasyar (Dewan Penasehat), Pengurus Harian Syuriyah, A’wan (Dewan Pakar) dan Pengurus Harian Tanfidziyah.

Tgk Armisli mengatakan, selaku umat Islam pihaknya tidak mungkin membela orang kafir. “Yang harus dibela itu harus orang Islam. Bukan seperti yang dipertontonkan oleh PBNU yang mendukung kafir,” sesalnya.

Sebelumnya, kata Tgk Armisli, dirinya menduga statemen Said Aqil Siroj mendukung Ahok adalah sebagai taktik untuk menumbangkan pada penghina Islam itu dengan cara masuk ke barisan mereka. Ternyata sikap PBNU itu serius membela Ahok.

“Kami berpikir itu taktik masuk ke kelompok Ahok sebagai siasat politik untuk mengalahkan, ternyata serius sekali tidak ada tanda-tanda mundur membela kafir,” jelasnya.

Sementara itu Ketua MPU Abdya Tgk. Dahlan menambahkan, dirinya sangat tidak setuju pemahaman politik dari Said Aqil Siroj. Sebab pada dasarnya, dalam Surat Al Baqarah telah menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani sama sekali tidak pernah akan senang terhadap Islam. Kedua, dasarnya mundur dari PBNU karena hadist Nabi “Saya khawatir umatku lahir pemimpin-pemimpin menyesatkan umat yang menginjak ajaran Islam,” katanya.

Ditambahkan lagi, pemimpin adalah pengganti para nabi menjaga syariat Islam dan politik di dunia yang islami. Bila ada pemimpin yang membela kafir dari pada Islam, maka Islam akan runtuh dan umat Islam akan kacau.

“Pemimpin yang begitu jangan diikuti,” tegasnya.

Senada dengan Dewan Mustasyar Tgk Abdurahman Badar yang dengan tegas menyatakan dia menarik diri dari kepengurusan PCNU Abdya karena kecewa dengan sikap PBNU Pusat yang sudah menyentuh aqidah. Akibat ucapan dan sikap politiknyas yang mendukung Ahok yang bukan beragama Islam.

“Kita mundur dan keluar dari NU karena pengurus NU Pusat sudah mendukung kafir,” tegasnya.

Reporter: Junaidi

Didukung Puluhan Serangan Udara Rusia, Pasukan Assad Bergerak ke Kota Soran

HAMA (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Syiah Assad kembali ke kota strategis Soran di dekat kota Hama di bagian tengah Suriah barat pada hari Ahad (16/4/2017) dengan serangan yang didukung oleh serangan udara berat Rusia, kata oposisi dan penduduk, Al Arabiya News Channel melaporkan.

Sebagian besar pasukan oposisi telah mundur dari kota setelah pasukan Nushairiyah Assad menyerbu kota tersebut menyusul puluhan serangan udara yang diyakini berasal dari jet Rusia sejak fajar, termasuk bom parasut yang juga menargetkan kota-kota lain di wilayah tersebut, termasuk Latamneh dan Kafr Zeita.

“Pemboman intensif menargetkan kota dan seluruh wilayah dan oposisi melakukan perlawanan sengit sampai mereka memuutuskan untuk mundur,” kata seorang anggota kelompok oposisi Jaish al Izza, yang memiliki kehadiran kuat di provinsi Hama.

Tentara rezim dibantu oleh milisi Syi’ah internasional yang didukung Iran dalam mendukung pasukan Assad yang sering berlebihan dalam bertindak, kata oposisi.

Benteng Soran adalah pintu gerbang utara tentara ke kota Hama, ibu kota provinsi tersebut. Benteng itu direbut oleh tentara Assad tahun lalu, lalu kembli dalam kekuasaan pejuang Suriah dalam serangan terbaru.

Pergerakan tentara rezim ke Soran merebut sebagian teritorial yang diperoleh oposisi, termasuk faksi faksi jihad, setelah serangan besar bulan lalu di provinsi Hama utara di pusat wilayah barat negara tersebut.

Oposisi yang melakukan pembalasan telah menembakkan sejumlah roket ke bandara militer Hama di dekatnya. Video yang diunduh di media sosial menunjukkan asap mengepul dari kejauhan.

Jaish al Nasr, sebuah kelompok oposisi Tentara Pembebasan Suriah, mengatakan telah menyerang bandara dengan 40 roket, menyebabkan beberapa kebakaran di kompleks pangkalan udara tersebut.

Oposisi dan faksi faksi jihad masih menguasai kota strategis Morek, sebelah utara kota Hama. Kota itu terletak di jalan raya utara-selatan utama yang berperan penting untuk mengendalikan Suriah barat.

Pasukan Irak Mulai Mendekati Jantung Kota Mosul

MOSUL (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak melancarkan serangan baru terhadap kelompok Islamic State (IS) di Kota Tua Mosul pada hari Ahad (16/4/2017), kata beberapa pejabat militer, berusaha memecahkan kebuntuan dalam usaha merebut markas pertahanan milisi tersebut, lansir Middle East Eye.

Mosul, kota terbesar kedua Irak, dikuasai oleh IS pada tahun 2014, namun pasukan Irak telah merebut kembali sebagian besar wilayah tersebut selama operasi enam bulan.

Namun pasukan Irak hampir tidak lagi memperoleh kemajuan lebih dari satu bulan, karena IS bertahan di Kota Tua yang padat penduduknya di Mosul barat tersebut, di mana tank dan kendaraan berat tidak dapat beroperasi karena sempitnya jalan-jalan.

Polisi federal Irak bergerak mendekati 200 meter lebih dalam ke Kota Tua, semakin dekat ke Masjid al-Nuri, sebuah pernyataan mengatakan.

Masjid ini sangat simbolis karena di sanalah pemimpin IS Abu Bakr al-Baghdadi memproklamirkan dirinya sendiri sebagai kepala khilafah secara sepihak.

Pasukan Irak telah mengawasi Masjid berusia ratusan tahun itu sejak bulan lalu.

Seorang kapten di kepolisian federal mengatakan bahwa pada Ahad pagi tentara mulai mencari militan dari rumah ke rumah.

“Motor bunuh diri IS sekarang adalah senjata favorit mereka di dalam Kota Tua,” katanya. “Kita harus mengawasi setiap rumah untuk menghindari penyerang di atas sepeda motor yang dilengkapi bahan peledak.”

Pasukan pemerintah Irak, telah membersihkan timur Mosul dan setengah Mosul barat dan sekarang fokus pada Kota Tua.

Sekitar 400.000 orang terjebak di Kota Tua sementara lebih dari 300.000 orang lainnya telah melarikan diri dari pertempuran sejak operasi dimulai pada bulan Oktober, kata beberapa pejabat.