Berita Terkini

‘Selama Keadilan Belum Ditegakkan, Umat Islam Tidak Akan Diam’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati sosial dan terorisme, Harits Abu Ulya menilai bahwa aksi-aksi yang dilakukan umat Islam mulai dari 411, 212 hingga 55 merupakan bukti keseriusan umat Islam mengawal hukum yang adil terhadap terdakwa penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pun bila putusan hakim dirasa mencederai rasa keadilan masyarakat, Harits menilai umat tidak akan berdiam diri. “Selama keadilan belum ditegakkan, umat Islam tidak akan diam. Kuncinya adalah kesadaran umat untuk terus mengawal dan keberanian untuk terus menyampaikan tuntutan mereka,” kata Harits Abu Ulya kepada Jurnalislam.com, Ahad (7/5/2017).

Ia menganggap dengan munculnya kembali seruan dari daerah, perjuangan umat Islam tidak akan berhenti sampai dalam kasus Ahok saja.

“Ini hanya satu kasus dan masih banyak kasus yang lain yang merugikan umat Islam. Dan umat Islam jangan kendor, harus terus melawan proses peradilan kasus penistaan ini sampai umat Islam menerima keadilan,” kata peneliti The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini.

Ia pun meminta umat Islam mewaspadai tindakan pihak yang tidak ingin keadilan ditegakkan. Beberapa bukti yang nyata tentang intervensi terhadap kasus Ahok merupakan sinyalemen bahwa ada pihak yang melindungi Ahok.

“Yang penting adalah umat Islam harus waspada terhadap scenario pihak tertentu yang tidak ramah terhadap Islam dan umatnya,”tutup Harits.

Reporter: Ibnu Fariid

Jika Ahok Bebas, Penistaan Terhadap Islam Dinilai Semakin Merajalela

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati sosial dan terorisme, Harits Abu Ulya mengingatkan akan terjadinya gejolak sosial di masyarakat jika hakim memvonis bebas terdakwa penista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Bahkan, menurutnya bisa jadi kasus penistaan terhadap agama khususnya Islam bisa semakin marak karena buruknya preseden jika Ahok bebas. “Andaikan Ahok itu tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, PR umat Islam semakin berat, karena ke depannya penistaan-penistaan yang diarahkan kepada umat Islam ini kian merajalela,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (7/5/2017).

Namun, menurut Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu, umat Islam di Indonesia tidak akan diam saja apabila hukuman manusia dianggap mengecewakan. Hukum, menurutnya akan mencari jalan keadilannya sendiri.

“Jadi umat Islam harus siap dengan segala keputusan, tapi bukan berarti umat Islam akan berhenti sampai disini,” pungkasnya.

Reporter: Ibnu Fariid

Me-DAN Banten bersama Sejumlah Ormas Bantu Banjir Bandang Serang

SERANG (Jurnalislam.com) – Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Banten bersama sejumlah ormas dan lembaga kemanusiaan membantu daerah bencana banjir di kawasan Baros, Serang, Ahad (7/5/2017).

“Alhamdulillah kita telah diberikan kemudahan membantu warga yang terkena bencana dari berbagai elemen ormas wilayah Banten seperti, Jama’ah Ansyarusy Syari’ah, LUIB, BNPB kab. Serang, PMI dan lainnya yang gak bisa kita sebutkan pesatu,” kata ketua Me-DAN Banten, Adin kepada jurniscom, Ahad (7/5/2017).

Ia mengatakan, kondisi daerah bencana memang cukup parah. Banjir menghanyutkan barang-barang warga dan menyisakan lumpur yang menggenang hingga betis kaki orang dewasa.

“Hingga bangunan di daerah tersebut ada yang runtuh dan longsor sebagian,” ungkapnya.

Warga sekitar terlihat senang akan bantuan yang diberikan. “Warga sangat berterima kasih, mereka sambut dengan senyuman meskipun dirundung bencana,” pungkas Adin.

Reporter: Jajat

Pengamat: Cap Ormas Islam Anti Pancasila Marak Setelah Kekalahan Ahok

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati sosial dan terorisme Harits Abu Ulya menilai munculnya tudingan seperti anti Pancasila, anti NKRI, dll terhadap sejumlah ormas Islam merupakan efek kekalahan terdakwa penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di pilkada.

“Bahkan saya melihat ada syahwat untuk balas dendam dengan mengkriminalisasi terhadap siapapun yang bertanggungjawab atas kekalahan calon mereka. Termasuk munculnya isu larangan terhadap kelompok yang menyerukan khilafah dengan diberikan tagline anti pancasila. Saya melihat ini bagian dari efek kekalahan Ahok,” katanya kepada jurnalislam.com, Ahad (7/5/2017).

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini mengatakan bahwa beberapa ormas bahkan sudah eksis lama, namun tudingan tersebut mulai marak sekarang.

“Karena orang-orang yang mendukung khilafah ini dianggap menjadi bagian integral dari gerakan yang menentang Ahok dan memberi pengaruh yang signifikan atas kekalahan Ahok,” tegasnya.

Reporter: Ibnu Fariid

Neno Warisman: Dalam Sejarah Hukum, Penista Agama Dihukum Seberat-beratnya

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Saksi bahasa kasus penistaan agama, Neno Warisman menyampaikan bahwa aksi-aksi yang dilakukan umat Islam selama ini untuk mengawal proses hukum terhadap terdakwa penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Orang seperti saya yang tidak mengerti hukum pun bias bertanya mengapa hukumannya (dituntut_red) ringan, padahal dalam sejarah, semua yurispudensinya harusnya dihukum seberat-beratnya untuk penista agama,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (7/5/2017).

Ia pun menambahkan bahwa aksi-aksi yang dihelat umat Islam berjalan sesuai dengan koridor hukum dan konstitusi. Karenanya, ia menepis tudingan bahwa aksi dilakukan untuk mengintervensi hakim.

“Kalau dibilang aksi ini adalah upaya intervensi kepada majelis hakim ya kita sabar saja, namanya perjuangan, ada yang nggak senang. Aksi ini murni sebagai aksi simpatik saja,” pungkasnya.

Warga Korban Tanah Longsor Ponorogo: Bantu Kami, Kami Sangat Terpukul

PONOROGO (Jurnalislam.com) – Emergency and Crisis Response (ECR) menggelar bakti sosial (Baksos) di daerah bencana tanah longsor. Baksos yang diadakan di Dusun Tangkil Desa Banaran Pulung, Ponorogo pada Ahad (7/5/2017) ini berupa pelayanan medis dan pemberian sembako kepada warga korban.

Pada baksos kali ini ECR bekerjasama dengan Onsight Foundation dan juga beberapa Mahasiswa Posticom STIKES Kusuma Husada Surakarta. Sebanyak 32 pasien dilayani secara Medis dan pengobatan cara Nabi oleh 8 team Medis dan 7 Terapis cara Nabi.

“Untuk baksos kali ini kita memang tidak mentargetkan banyak-banyak pasien, akan tetapi kami hanya ingin mendengarkan keluh kesah warga pasca bencana,” kata koordinator baksos, Ahmad Faris dilokasi.

“Karena pasca bencana memang biasa banyak uneg-uneg yang ingin disampaikan,” tambahnya.

Selain itu, ECR juga memberikan satunan pendidikan berupa uang tunai kepada 18 anak yatim korban bencana dan paket sembako kepada warga sekitar.

“Kami sangat senang dengan apa yang telah dilakukan oleh para relawan dari ECR pagi ini,” ujar Katimun, warga sekitar seusai mengambil obat-obatan.

Sementara ustaz Takim, seorang guru TPA di daerah bencana ini masih mengharapkan bantuan riil pemerintah dan umat Islam. Sebab, warga cukup merasa terpukul dengan kejadian yang meluluhlantahkan daerah ini beberapa waktu lalu tersebut.

“Kami masih sangat membutuhkan bantuan terutama bagi kaum muslimin untuk membantu mengembalikan mental warga yang menjadi rapuh akibat bencana.”

“Karena warga menjadi sangat terpukul dan sangat membutuhkan dorongan semangat,” pungkasnya.

Pemimpin IS di Afghanistan Terbunuh dalam Operasi Khusus

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Pemimpin kelompok Isamic State (IS) di Afghanistan terbunuh dalam sebuah operasi yang dipimpin oleh pasukan khusus Afghanistan di provinsi timur Nangarhar bulan lalu, pejabat militer AS mengkonfirmasi pada hari Ahad (7/5/2017), lansir Aljazeera.

Abdul Hasib – yang diangkat tahun lalu setelah pendahulunya Hafiz Saeed Khan terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS – diyakini telah memerintahkan serangkaian serangan profil tinggi, termasuk sebuah serangan di bulan Maret di rumah sakit militer utama di Kabul yang menyamar sebagai Dokter.

Bulan lalu, seorang juru bicara Pentagon mengatakan bahwa Hasib mungkin telah terbunuh dalam sebuah serangan oleh pasukan khusus AS dan Afghanistan di Nangarhar, di mana dua tentara AS Rangers terbunuh. Tapi tidak ada konfirmasi.

Mereka berada di dekat kompleks terowongan dimana militer AS pada 13 April menjatuhkan bom non-nuklir terbesarnya, menewaskan 94 pasukan IS, termasuk empat komandan.

Pemerintah Afghanistan mengkonfirmasi kematian Hasib pada 27 April.

Deklarasi Mimbar Syariah untuk Konsolidasi Dai Penegak Syariat Islam

BEKASI (Jurnalislam.com) – Deklarasi pembentukan Mimbar Syariah dilaksanakan di Bekasi, Ahad (7/5/2017). Mimbar Syariah ini dibentuk sebagai forum koordinasi dan konsolidasi para Dai (pendakwah -red) penegak syariah.

“Dibentuk karena menyambut dan merespon seruan ayat suci Al-Quran dalam surat Ali-Imron:103, Allah SWT berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” kata ketua umum Mimbar Syariah, Ustaz Hamzah Baya dalam rilis yang diterima jurniscom, Ahad (7/5/2017).

Hamzah mengatakan, visi dari mimbar Syariah adalah menjadi forum koordinasi dan konsolidasi para Dai yang mempunyai peran strategis dalam penegakkan syari’ah di Indonesia.

Ada pun misi yang akan dilakukan, ia menjelaskan, Mimbar syariah akan berusaha mencetak kader Dai enegak syariah yang tangguh, serta mengkoordinasikan para Dai dalam usaha penegakkan syariat Islam, khususnya di Indonesia.

Selain itu, mimbar syariah juga akan menjadi wahana integratif dan kekeluargaan dari para Dai dan kaum muslimin yang siap berkontribusi untuk dakwah Islam.

“Target goalnya adalah terjadinya koordinasi dan konsolidasi para Dai penegak syariat,” tutupnya.

Parlemen Israel akan Hapus Bahasa Arab dari Negaranya

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Parlemen zionis, Knesset, akan memberikan suara pada sebuah undang-undang yang akan menghapus bahasa Arab di pemerintahannya, setelah undang-undang yang diusulkan disetujui oleh menteri pada hari Ahad (7/5/2017), lansir Anadolu Agency.

Harian Israel Haaretz melaporkan bahwa sebuah komite menteri mendukung versi revisi undang-undang yang menegaskan bahwa Israel adalah “rumah nasional orang-orang Yahudi.”

Selain warga Palestina di wilayah Palestina yang dijajah, ada sekitar 1,4 juta warga Arab Israel dan bahasanya secara resmi dianggap sebagai bahasa negara di samping bahasa Ibrani.

Ayman Odeh, pemimpin koalisi the Joint List yang sebagian besar anggota parlemen Arab, mengatakan bahwa undang-undang tersebut adalah contoh “tirani mayoritas” dan menurunkan orang Arab menjadi “warga kelas dua.”

JFS Sepakati Evakuasi Warga Sipil dari Yarmouk

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah kesepakatan telah dicapai Jabhat Fath al Sham (JFS) untuk mengevakuasi warga sipil dari Yarmouk, di pinggiran selatan Damaskus, ke provinsi Idlib yang dikuasai mujahidin dan oposisi bersenjata, Aljazeera melaporkan, Ahad (7/5/2017).

Kesepakatan tersebut merupakan tahap kedua dari kesepakatan sebelumnya untuk mengevakuasi warga dari dua kota yang dikepung oleh mujahidin Suriah, dan dua kota yang dikepung oleh pasukan pro-rezim Assad, tahap pertama telah dilaksanakan bulan lalu.

“Para aktivis di daerah tersebut mengatakan kepada kami bahwa bus hijau tiba di Yarmouk dan membawa puluhan pejuang Jabhat Fath al Sham bersama keluarga mereka,” kata Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaziantep di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

“Operasi akan berlanjut selama beberapa hari, dan kemudian tentara rezim Suriah akan mengambil alih bagian dari kamp yang berada di bawah kendali JFS setelah ditinggalkan.”

Jabhat Fath al Sham sebelumnya Jabhah Nusrah yang merupakan cabang resmi al-Qaeda di Suriah kemudian bergabung dengan sejumlah faksi-faksi jihad dengan nama baru Hayat Tahrir al-Sham.

Baik JFS maupun Tahrir al-Sham, kadang-kadang bertempur bersama kelompok oposisi lainnya, melawan pemerintah Syiah Nushairiyah Assad.

Yarmouk, di pinggiran selatan Damaskus, adalah lokasi sebuah kamp pengungsi Palestina yang besar. Sebagian wilayah tersebut dipegang oleh rezim Assad, sebagian oleh Hayat Tahrir al-Sham, dan sebagian oleh kelompok Islamic State (IS).

Kesepakatan sebelumnya termasuk mengevakuasi warga sipil dari kota-kota Syiah yang dikepung mujahidin Suriah di Kefraya dan al-Fouaa di provinsi Idlib, sebagai pengganti keberangkatan warga sipil dan pejuang oposisi dari daerah Zabadani dan Madaya, dekat Damaskus yang dikepung oleh rezim Assad dan milisi Syiah internasional dukungan Iran.

Selesai akhir bulan lalu, kesepakatan tersebut merupakan kesepakatan terbesar dan terkuat sejauh ini dalam serangkaian kesepakatan evakuasi untuk wilayah yang terkepung selama tahun lalu dalam perang global enam tahun di Suriah.

Faksi-faksi oposisi mengutuk kesepakatan tersebut sebagai sarana untuk memaksakan perubahan demografis dengan memaksa sejumlah besar warga sipil meninggalkan wilayah pro-oposisi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang belum berpihak pada kesepakatan tersebut, juga menyuarakan kekhawatiran bahwa evakuasi tersebut berujung pemindahan paksa oleh rezim Suriah.