Berita Terkini

Gerebek Rumah Bersih, RBC #BerbagiBingkisanBergizi Bersama Dhuafa

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Selama Ramadhan 1438 H, Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) Sinergi Foundation melakukan Gerebek Rumah Bersih di sejumlah rumah dhuafa di Soreang Kabupaten Bandung, Rabu (7/6/2017). Empat orang kaum papa yang juga merupakan member RBC di daerah tersebut mendapat kesempatan kunjungan dari tim Gerebek Rumah Bersih.

Dalam kegiatan ini, para dhuafa diberi paket #BerbagiBingkisanBergizi berupa makanan-makanan sehat, seperti susu, buah-buahan, telur, dan multivitamin anak; juga seperangkat alat-alat kebersihan yang menunjang keresikan rumah mereka.

Selain itu, tim RBC pun sekaligus melakukan penyuluhan kesehatan bertema Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS). Penyuluhan ini memuat 10 tips bagi mereka dalam membina rumah sehat, di antaranya: persalinan oleh tenaga medis, memberi ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik, dan tidak merokok.

“Barangkali tips-tips ini tak bisa sempurna mereka lakukan. Tapi melalui penyuluhan ini, kami berharap mereka bisa melaksanakan tips ini semampu mereka,” kata Tita Yulia, salah seorang tim RBC.

Nurhayati, salah seorang penerima manfaat asal Cijerah, bersyukur dengan program Gerebek Rumah Sehat. “Terima kasih RBC dan Sinergi Foundation atas bantuan makanan bergizi dan terutama ilmunya. Insya Allah ilmu tersebut akan bermanfaat untuk saya dan keluarga demi kehidupan yang lebih sehat,” tutur Nurhayati.

Nurhayati merupakan member RBC yang tinggal di sebuah gubuk ringkih di Cijerah bersama suami dan ketiga anaknya. Sempat, ia selama delapan tahun tinggal di kuburan tak jauh dari tempat tinggalnya kini, karena keterbatasan biaya. RBC sempat membantu persalinan dan dana permberdayaan untuk keluarga Nurhayati. []

Siaran Pers

Ahli: Perundang-undangan Indonesia Belum Mengenal Istilah Persekusi

JEMBER (Jurnalislam.com) – Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Emy Kholifah R. MSi, mengatakan bahwa istilah persekusi yang kini ramai mencuat di media kurang pas, sebab Undang-undang di Indonesia belum mengatur hal itu. Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Mencegah Persekusi yang diadakan oleh Polres Jember di Hall News Sari Utama, Jl. Hayam Wuruk Kaliwates, Kamis (8 /6/2017).

Baca juga : Kriminalisasi Kian Menjadi, UBN: Pemerintah Semakin Represif

“Istilah persekusi merupakan penderitaan yang diakibatkan oleh sebuah tindakan yang termasuk dalam jenis kejahatan luar biasa seperti Genosida atau kejahatan perang lainnya. Sehingga harus ada definisi yang lebih spesifik lagi untuk mendefiniskan perbuatan yang saat ini dilakukan oleh beberapa kelompok dan sedang ramai jadi perbincangan. Istilah persekusi kurang pas untuk disematkan apalagi Undang-undang di Indonesia belum mengatur hal itu,“ terangnya.

Senada dengan Emy, pembicara lainnya, Dr. Nurul Gufron, SH. MH menyampaikan bahwa persekusi ditinjau dari pandangan hukum merupakan sebuah jenis kejahatan kemanusiaan yang didefinisikan dalam statuta Roma Mahkamah hukum Internasional.

“Hukum perundang-undangan Indonesia sendiri belum mengatur masalah persekusi dan hanya mengadopsi undang-undang tentang HAM pasal 9 untuk memberikan sanski pada pelaku persekusi,” ungkap Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember itu.

Acara juga dihadiri oleh pejabat dari Forum Pimpinan Daerah Kabupaten Jember dan Rektor beberapa Perguruan Tinggi di Jember, serta Ketua FKUB Jember, perwakilan ormas-ormas Islam di Jember, dan organisasi kepemudaan (OKPK) dan Organisasi Kemahasiswaan se-Jember.

Baca juga: GNPF MUI Serukan Umat Islam Lakukan Qunut Nazilah

Dari beberapa tokoh yang hadir, Ketua DPW Front Pembela Islam (FPI) Jember Ustadz Muhammad Faidzin memberikan tanggapan terkait tudingan persekusi kepada salah satu ormas Islam di Jember yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

“Yang ditudingkan persekusi sebenarnya merupakan sebuah reaksi akibat adanya penghinaan terhadap tokoh, ulama ataupun kelompok tertentu melalui sosial media. Dalam aksi tersebut itu pun bukan diancam, tapi diklarifikasi atau tabayyun apakah benar yang bersangkutan mengatakan demikian di sosial media, jika benar kita suruh dia untuk meminta maaf,” jelasnya.

“Jadi tidak benar jika hal tersebut dikaitkan perbuatan mengancam atau mengintimidasi,” tandasnya.

Reporter: Budi Eko

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Puntland, Puluhan Tentara Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Al Qaeda di Afrika, al Shabaab, menyerbu sebuah pangkalan militer di wilayah otonomi Puntland di Somalia utara hari Kamis (8/6/2017) dan membunuh puluhan tentara selama pertempuran tersebut. Pejuang dari cabang Al Qaeda di Afrika Timur tersebut telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan menjatuhkan banyak korban jiwa, Long War Journal melaporkan.

Pejabat keamanan mengatakan kepada Garowe Online bahwa lebih dari 30 tentara Puntland terbunuh dan beberapa lainnya yang tidak diketahui jumlahnya ditangkap dalam serangan Shabaab di sebuah basis di Af Urur yang terletak di pegunungan Galgala. Para mujahidin Shabaab “benar-benar mengambil alih kendali” basis dan menyita senjata, amunisi, dan peralatan militer lainnya.

Shabaab membenarkan serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang diperoleh oleh SITE Intelligence. Menurut Shabaab, mereka membunuh 61 tentara, termasuk tiga perwira, dan menangkap “16 kendaraan militer dan sejumlah besar senjata dan amunisi sebagai rampasan.”

Pegunungan Galgala telah lama menjadi benteng al Shabaab, yang telah melakukan sejumlah serangan profil tinggi di sana. Baru-baru ini, pada tanggal 23 April, mujahidin Shabaab membunuh delapan tentara dan melukai beberapa lainnya dalam serangan IED yang kompleks. Shabaab diperkirakan memiliki sekitar 300 pejuang yang beroperasi di pegunungan Galgala.

Al Shabaab telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan melumpuhkan sejumlah besar pasukan yang berbasis di sana. Pada bulan Januari 2016, mujahidin al Shabaab menyerang sebuah pangkalan di Al Ade di selatan dan membunuh sedikitnya 100 tentara Kenya. Pada bulan Juni 2015, Shabaab membunuh sekitar 60 tentara Ethiopia di selatan. Pada bulan yang sama, pejuang Shabaab membunuh lebih dari 50 tentara Burundi di Leego.

Shabaab telah bangkit kembali di Somalia. Kelompok jihad tersebut perlahan-lahan mengambil alih beberapa kota dan desa yang hilang, termasuk kota pesisir Marka.

Karena khawatir dengan kebangkitan Shabaab, pemerintah Trump memperluas wewenang militer AS untuk menargetkan faksi jihad tersebut dengan “tembakan presisi tambahan.” Di masa lalu, di bawah pemerintahan Obama, Komando Afrika AS (AFRICOM) telah menargetkan pemimpin dan tokoh senior Shabaab dalam serangan pesawat tak berawak dan serangan udara konvensional. Selain itu, pesawat AS akan menyerang pejuang Shabaab saat personil AS bersama pasukan Somalia dalam penyerangan, namun menyembunyikan operasi tersebut dengan kedok misi “operasi bertahan“.

Upaya AFRICOM untuk menyembunyikan operasi tempur langsung terhadap target Shabaab seperti kamp pelatihan dan pabrik IED sebagai saran dan untuk membantu misi yang berhasil memutihkan lebih dari 10 tahun perang dilakukan oleh pemerintah Somalia yang lemah, Uni Afrika, dan Amerika Serikat yang berperang melawan al Qaeda di Somalia.

Pada 2016, AFRICOM mengumumkan sembilan serangan “mempertahankan diri” dan “operasi bertahan” di Somalia. Departemen Pertahanan bahkan telah membenarkan serangan udara di kamp pelatihan Shabaab, seperti yang ada di Raso pada tanggal 5 Maret 2016, sebagai operasi pertahanan padahal operasi penyerangan.

Situs Web dan Aljazeera Media Network Digempur Hacker

QATAR (Jurnalislam.com)Situs web dan platform digital Al Jazeera Media Network diserang upaya hacking yang sistematis dan terus-menerus.

Upaya ini semakin intens dan muncul dalam berbagai bentuk. Namun, platform belum dikompromikan.

Bulan lalu, kantor berita resmi Qatar diretas dan pernyataan palsu yang dikaitkan dengan penguasa negara tersebut diposkan hingga memicu keretakan dengan negara-negara Teluk Arab lainnya.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain memutuskan hubungan mereka dengan Doha pada hari Senin sebagian karena komentar tersebut diposting sebentar di Kantor Berita Qatar.

Laporan palsu tersebut mengatakan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dalam sebuah pidato di sebuah upacara wisuda militer, mengkritik adanya ketegangan baru dengan Iran, menyatakan kebutuhan untuk mengkontekstualisasi Hizbullah dan Hamas sebagai gerakan perlawanan, dan menyarankan agar Presiden AS Donald Trump tidak berkuasa lama.

Tim Federal Bureau of Investigations (FBI) telah berada di Doha dalam sepekan terakhir setelah pemerintah Qatar meminta bantuan AS menyusul pelanggaran keamanan oleh para hacker.

Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan akan merilis temuan penuh setelah penyelidikan selesai, namun tidak mengatakan kapan akan terjadi.


Kelompok Saudi Keluarkan Daftar Individu dan Organisasi Islam yang Didanai Qatar

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com)Pernyataan bersama oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA menempatkan 59 individu dan 12 organisasi Islam – yang berbasis Qatar atau didanai oleh Qatar – dalam sebuah “daftar teror, lansir Aljazeera, Kamis (8/6/2017).

Pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin Syeikh Yusuf al-Qaradawi termasuk dalam daftar individu.

“Pernyataan ini sehubungan dengan komitmen kami untuk memerangi terorisme, mengeringkan sumber pendanaan terorisme, memerangi ideologi ekstrem dan instrumen yang menyebarkan dan mempublikasikannya,” bunyi pernyataan tersebut.

“Ini adalah akibat berlanjutnya pelanggaran otoritas di Doha mengenai komitmen dan kesepakatan yang ditandatangani, termasuk komitmen untuk tidak mendukung atau melindungi elemen atau kelompok yang mengancam keamanan negara.”

Arab Saudi dan sekutunya termasuk UEA, Bahrain dan Mesir – yang bukan anggota GCC – pada hari Senin memangkas hubungan diplomatik dengan negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Qatar atas klaim Qatar mendukung “ekstremisme”.

Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Erdogan: Turki Sepakat Kirim Pasukan dan Melatih Tentara Qatar

TURKI (Jurnalislam.com)Presiden Recep Tayyip Erdogan Kamis malam (8/6/2017) meratifikasi dua kesepakatan untuk mengerahkan pasukan Turki di Qatar dan melatih pasukan negara Teluk tersebut, menurut kepresidenan, lansir World Bulletin.

Parlemen Turki sebelumnya telah meratifikasi kesepakatan tersebut pada hari Rabu. Keputusan tersebut diputuskan hanya beberapa hari setelah lima negara Arab memutuskan hubungan dengan Qatar.

Kesepakatan untuk menggelar pasukan di Qatar, yang bertujuan untuk memperbaiki angkatan bersenjata negara tersebut dan meningkatkan kerja sama militer, telah ditandatangani pada bulan April di Doha.

Di bawah undang-undang tersebut, tentara kedua negara juga akan bisa melakukan latihan bersama. Langkah ini bertujuan untuk berkontribusi pada perdamaian regional dan dunia.

Selain itu, pasukan Turki akan dapat melatih pasukan Qatar, di bawah kesepakatan lain antara kementerian dalam negeri kedua negara pada bulan Desember 2015.

Pada hari Senin, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Qatar membantah tuduhan tersebut, menyebut tindakan tersebut “tidak dapat dibenarkan”.

Eskalasi tersebut terjadi dua pekan setelah situs resmi kantor berita resmi Qatar diduga diretas oleh orang-orang tak dikenal yang dilaporkan menerbitkan pernyataan yang dikaitkan dengan emir negara tersebut, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.

Insiden tersebut memicu perselisihan diplomatik antara Qatar dan tetangganya.

Hamas Bantah Tuduhan Kirim Pasukan ke Libya

PALESTINA (Jurnalislam.com)Kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas pada hari Kamis (8/6/2017) membantah klaim baru-baru ini bahwa mereka telah mengirim pasukannya ke Libya yang sedang dilanda perang, World Bulletin melaporkan.

Penyangkalan tersebut muncul satu hari setelah juru bicara komandan militer Libya Khalifa Haftar menuduh kelompok perjuangan Islam yang berbasis di Gaza itu mengirim anggota sayap bersenjata mereka untuk berperang di Libya atas nama Qatar, yang saat ini terlibat dalam perselisihan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan beberapa Negara Arab lainnya.

“Hamas tidak – dan tidak akan – mengirim pasukannya dan senjata ke luar negeri,” kata pemimpin Hamas Khalil al-Hayya dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.

“Moncong senjata kita tetap diarahkan semata-mata ke Israel, yang akan terus kita usir – bahkan jika itu berarti mengorbankan pemimpin kita, anak-anak kita dan rumah kita,” al-Hayya menyatakan.

Dia membuat pernyataan tersebut saat mengambil bagian dalam pemakaman anggota Hamas yang baru saja meninggal di kota Rafah di Jalur Gaza selatan.

Haftar, yang berafiliasi dengan parlemen Libya berbasis Tobruk, mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab dan Mesir, yang keduanya – bersama dengan Arab Saudi, Bahrain dan Yaman – secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar awal pekan ini.

Garda Revolusi Iran Tuding Arab Saudi dan IS Dibalik Serangan di Teheran

TEHERAN (Jurnalislam.com)Korps Garda Revolusi Iran menuduh Arab Saudi berada di balik serangan ganda pada hari Rabu (7/6/2017) di ibukota Teheran yang menewaskan sedikitnya 12 orang.

Islamic State (IS) mengaku bertanggung jawab dan merilis video yang menunjukkan sekelompok orang bersenjata di dalam gedung parlemen.

Pasukan elit bersumpah dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu untuk membalas dendam.

“Fakta bahwa IS mengklaim bertanggung jawab membuktikan bahwa mereka terlibat dalam serangan brutal tersebut,” mengacu pada Arab Saudi.

Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa “darah orang yang tumpah tidak akan tetap diam tak berdaya”.

Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir, yang berbicara di ibukota Jerman Berlin, mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dan tidak ada bukti bahwa warga Saudi terlibat.

Ghanbar Naderi, wartawan Kayhan International, yang berbicara dari Teheran, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “banyak pihak tidak percaya bahwa IS bertindak sendiri”.

“Mereka memiliki pelanggan, mereka memiliki rekan di Timur Tengah dan sekitarnya. Arab Saudi adalah salah satu tersangka utama karena ideologinya yang sesuai dengan apa yang dirasakan, dipikirkan dan dipercayai oleh para anggota IS,” katanya.

Pesawat Militer Myanmar yang Hilang Ditemukan di Tengah Laut Andaman, 100 Tewas

MYANMAR (Juralislam.com) – Potongan-potongan pesawat militer Myanmar yang hilang bersama lebih dari 100 tentara dan anggota keluarga mereka ditemukan di Laut Andaman pada Rabu malam (7/6/2017), kata seorang pejabat setempat.

Lebih dari selusin anak diyakini berada di antara penumpang dalam pesawat yang melakukan perjalanan dari kota selatan Myeik menuju Yangon.

“Sekarang mereka telah menemukan potongan-potongan pesawat yang rusak di laut sejauh 136 mil (218 km) dari kota Dawei,” kata Naing Lin Zaw, seorang pejabat pariwisata di Myeik, menambahkan bahwa angkatan laut masih mencari-cari di laut.

Sebuah sumber angkatan udara mengkonfirmasi kepada AFP bahwa sebuah kapal pencari dan penyelamatan angkatan laut telah menemukan potongan-potongan pesawat di laut sekitar satu jam penerbangan di selatan Yangon, ibukota komersial Myanmar.

Kantor kepala komandan mengatakan pesawat tersebut kehilangan kontak sekitar pukul 01:35 waktu setempat (05:05 GMT) di lepas pantai selatan Myanmar.

Ada informasi yang bertentangan tentang jumlah orang yang ada di dalamnya.

Dengan informasi jumlah yang diperbarui, kantor tersebut mengatakan bahwa 106 penumpang yaitu tentara dan anggota keluarga mereka saat itu berada di dalam pesawat bersama 14 awak kapal.

Sumber angkatan udara mengatakan lebih dari selusin penumpang yang ada di dalamnya adalah anak-anak.

Empat kapal angkatan laut dan dua pesawat angkatan udara dikirim untuk mencari pesawat yang terbang pada ketinggian lebih dari 18.000 kaki (5.486 meter).

Saat ini adalah musim hujan di Myanmar tapi tidak ada laporan cuaca buruk saat pesawat hilang.

Berpuasalah Sebagaimana Puasa Terakhir!

Andaikan kita mendapatkan hak akses untuk mengetahui kapankah kita akan meninggalkan dunia ini untuk melanjutkan perjalanan panjang ke negeri akhirat… Andaikan kita mengetahui bahwa Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir bagi kita… Tentu kita akan sangat sibuk dengan kebaikan demi kebaikan siang dan malam. Kita akan lakukan setiap kebaikan yang kita mampu, tidak peduli ringan maupun yang berat. Kita akan sangat sibuk untuk memperbaiki niat dan berusaha untuk menjadikannya ikhlas tanpa lagi mempedulikan pujian, sanjungan, balasan, dan kehormatan dari manusia. Demikianlah kiranya seandainya kita tahu bahwa Ramadan ini adalah Ramadan terakhir bagi kita.

Kesadaran akan saat-saat perpisahan dengan dunia, saat-saat kesempatan terakhir, dan saat-saat sempitnya waktu karena sebentar lagi semua akan ditinggalkan untuk berjumpa dengan Sang Pencipta alam, mampu membangkitkan perhatian, kesungguhan, keseriusan, dan fokus dalam diri yang tidak bisa dibangkitkan dengan cara apa pun selainnya. Karena itulah, ketika suatu saat datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW sambil berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلِّمْنِيْ وَأَوْجِزْ

“Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu kepadaku secara ringkas!”

Maka beliau menjawab,

إِذَا قُمْتَ فِيْ صَلَاتِكَ، فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Jika engkau berdiri dalam salatmu maka salatlah seperti salat orang yang akan berpisah dengan dunia.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Ayyub al-Anshari RA)

Rasulullah SAW mengajarkan pada Sahabat tersebut agar setiap salat yang didirikan, hendaklah ia membayangkan bahwa salat tersebut adalah salatnya yang terakhir dan malaikat Maut sedang menunggunya untuk membawanya pergi setelah ia selesai dari salatnya guna berpindah dari alam dunia fana menuju alam akhirat yang kekal selamanya.

Bayangkanlah bagaimanakah kondisi batin dalam keadaan seperti itu? Apakah ketika itu tidak ada usaha sekuat tenaga untuk khusyu’? Apakah ketika itu hati dan pikiran masih sempat melayang ke sana kemari sementara jasad kita ruku’ sujud di hadapan Ilahi? Apakah ketika itu tidak ada usaha maksimal untuk menyempurnakan salat? Apakah ketika itu tidak ada usaha untuk mengikhlaskan niat? Dan… dan… dan…. Tentu dalam kondisi seperti itu, seorang hamba akan melaksanakan salatnya yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya metode praktis agar bisa mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allah SWT yaitu dengan menghadirkan suasana dalam diri bahwa ibadah yang sedang dilakukan adalah ibadahnya yang terakhir. Tentu yang dimaksud ibadah ini bukan hanya salat, tapi mencakup ibadah-ibadah lainnya baik yang mahdhah maupun ghairu mahdhah, karena kita dituntut untuk melaksanakan semua ibadah itu sesempurna mungkin. Adapun hanya salat yang disebut dalam hadis ini hanya sebagai contoh praktik dan juga untuk menunjukkan bahwa ibadah salat menempati posisi yang sangat penting di antara ibadah-ibadah yang lain. Allahu a’lam.

Bagaimanakah ibadah kita di bulan Ramadan tahun ini? Sudahkah kita menghadirkan suasana bahwa Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir bagi kita? Jika belum mari kita belajar menghadirkannya sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT agar membantu kita untuk memperbaiki semua ibadah kita.

Rasulullah SAW selalu membaca doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam riwayat lain Rasulullah berdoa:

‎اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” (HR Muslim) []