Berita Terkini

‘Islam di Indonesia Dihancurkan Bukan dengan Senjata, Melainkan Lewat Framing Media’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Wartawan Panjimas.com Ranu Muda Adi Nugroho yang sempat dikriminalisasi dan divonis bebas karena terbukti tidak bersalah dalam kasus pengungkapan tindakan amoral di Social Kitchen, mengatakan bahwa potensi media Islam sesungguhnya sangatlah besar.

Menurut anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ini, musuh-musuh Islam justru menghancurkan Islam lewat media.

“Seberapa pentingkah media Islam? Sangat penting. Sekarang saja Islam itu dipojokkan melalui media,” kata Ranu Muda pada acara talkshow Solo Muslim Fair 2017 di Assalam Hypermarket, Pabelan, Sukoharjo, Senin malam (31/7/2017).

baca juga : Tak Terbukti Bersalah, Hakim Vonis Bebas Ranu Muda dan Tokoh LUIS

Umat Islam di Indonesia, kata Ranu, mungkin tidak perlu dihancurkan seperti yang terjadi di Irak,Yaman, dan daerah lainnya.

“Cukuplah melalui media, dibuat pecahbelahlah umat Islam, disudutkan, dihabisi dengan media, tidak perlu dengan peluru dan senjata,” tambahnya.

Sebagai warga Solo, ia mencontohkan bahwa di Solo banyak pergerakan Islam namun minim sekali media Islam. Hal ini kata Ranu berbanding terbalik dengan kaum minoritas yang memiliki media.

“Saya berkali-kali mengatakan di kota Solo, ustadz-ustadznya banyak, Laskarnya banyak, tapi tak punya media, apa media Islamnya? Disisi lain mereka yang minoritas, mereka sudah mendirikan. Sekarang kita mau hantam pakai apa, nggak ada apa-apa,” pungkasnya.

Karenanya, ia mengajak segenap umat untuk mendukung media-media Islam yang saat ini telah hadir di Indonesia.

Hadiri Pertemuan OKI, Indonesia Terus Dorong Kemerdekaan Palestina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Indonesia akan menghadiri pertemuan luar biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) membahas krisis Palestina di Istanbul Turki besok. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi akan mewakili Indonesia dalam pertemuan tersebut.

“Menlu akan bertolak ke Istanbul besok (hari ini). Beliau akan didampingi oleh Plt Dirjen Multilateral,” kata Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir kepada Jawa Pos kemarin (31/7/2017).

Retno akan menyampaikan tiga poin utama dalam pertemuan tersebut. Pria yang akrab disapa Tata itu mengatakan, poin utama yang akan disampakan adalah Indonesia akan kembali menekankan posisi, pandangan, dan langkah yang sudah dilakukan untuk mendorong situasi di Kompleks Masjidilaqsa lebih baik.

“Yang kedua, Indonesia akan meminta kembali soliditas negara-negara anggota OKI untuk menekan Israel mengembalikan status quo Masjidilaqsa serta terus mendorong kemerdekaan Palestina,” tuturnya.

Poin ketiga yang akan disampaikan Retno dalam pertemuan tersebut adalah konsep untuk mendorong masyarakat internasional PBB dalam pengawasan dan perlindungan atau international protection terhadap Masjidilaqsa. Tiga poin utama itulah, kata Tata, yang akan jadi perhatian Indonesia.

Pada kesempatan itu juga, Retno akan kembali mengingatkan negara-negara anggota OKI tentang misi utama OKI. Yakni untuk memerdekakan Palestina yang sekarang sudah 50 tahun dikuasai Israel.

Meskipun OKI masih belum berhasil memerdekakan Palestina, Retno yakin dengan persatuan, misi tersebut bisa terwujud.

“Kita enggak bisa tunggu 50 tahun lagi. Kita harus tingkatkan persatuan negara OKI untuk bisa mendorong masyarakat internasional. Itu yang jadi poin kita,” jelas Tata.

 

Hadirilah! Bedah Buku ‘Perjuangan Yang Dilupakan’ di Surabaya

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Jurnal Islam bekerjasama dengan Pro-U Media menggelar bedah buku ‘Perjuangan yang Dilupakan” karya Rizki Lesus. Acara Insya Allah akan dilangsungkan pada Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 08.00 – 11.30 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jl. Bubutan 85-87, Kota Surabaya.

Selain Rizki Lesus, akan hadir juga Dr. Alwi Alatas, M.H. Sc. sebagai pakar sejarah serta Ustadz Muhammad Yunus dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur.

Mengadili Ketidakadilan

Oleh: Dr. Ahmad Sastra (Kepala Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia)

Sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia dengan bergantinya penguasa, bisa didapati berbagai kebijakan yang sering kali justru menuai penolakan oleh rakyatnya sendiri. Belum pernah ada rezim dari orde lama, orde baru hingga reformasi yang sepi dari kritik. Meski seringkali pemerintah selalu berada pada posisi pembelaan subyektif atas kebijakan yang diambilnya, sementara kaum intelektual dan pengamat berdiri pada posisi obyektif, namun pada akhirnya politik kekuasaan seringkali yang menang. Sementara dari rezim yang satu ke rezim yang lain, masyarakat belum beranjak lebih baik.

Tak terkecuali pada saat ini, belum tuntas pemerintah menyelesaikan kondisi genting darurat narkoba yang telah menewaskan jutaan anak bangsa, justru pemerintah menerbitkan perppu ormas yang memantik pro kontra dan menajamkan kegaduhan baru di tengah masyarakat. Belum tuntas pemerintah menangani gelembung hutang negara yang terus menggunung, justru pemerintah menakut-nakuti rakyatnya dengan ancaman pidana bagi bekas pengikut ormas yang telah mereka bubarkan sendiri. Meski HTI telah dibubarkan, namun bekas pengikutnya justru dipermasalahkan dan diburu seperti penjahat. Ini ironi negeri yang katanya berdasarkan hukum.

Tidak mengherankan jika pemerintah dianggap oleh banyak kalangan justru telah melanggar konstitusinya sendiri. Sebab penerbitan perppu ormas dianggap sebagai tindakan semena-mena atas hak rakyat untuk berserikat dan berkumpul serta menyuarakan pendapat. Penerbitan perppu adalah langkah yang sombrono karena meniadakan proses dan prosedur hukum yang selama ini justru dijadikan sebagai pilar atas negara ini.

Ketidakadilan penerbitan perppu ormas ini dibuktikan oleh ketidakjelasan latar belakangnya. Jika ormas HTI dianggap sebagai ormas anti-pancasila, alasan inipun tidak pernah dengan jelas dipaparkan oleh pemerintah. Sebab secara substansial tidak ada satupun sila dari lima pancasila dilanggar oleh HTI. Sebaliknya jika dicermati, justru perilaku anti pancasila telah mewarnai negeri ini seperti korupsi, kriminalitas, LGBT, narkoba, privatisasi aset negara, dan gerakan sparatis yang jelas telah melecehkan simbol-simbol negara.

Adalah paradoks jika ormasnya telah dibubarkan, sementara bekas pengikutnya justru masih dianggap sebagai anggota yang kemudian diberikan pilihan untuk tetap sebagai PNS atau tetap sebagai anggota HTI. Sebab pembubaran ormas tentu diikuti oleh tidak sahnya keanggotaan ormas yang telah resmi dibubarkan. Pemberian pilihan kepada eks HTI adalah bentuk pelanggaran HAM di satu sisi dan ketidakpahaman pemerintah di sisi lain. Perburuan eks HTI mengingatkan sejarah perburuan eks PKI pada masa orde baru.

Semestinya pemerintah menghormati gagasan-gagasan yang disampaikan oleh masyarakat dengan cara yang seimbang. Sebab gagasan syariah sebagai solusi yang diemban oleh HTI adalah ajaran Islam itu sendiri. Bukankah penerapan syariah ini telah juga dilakukan di berbagai bidang seperti perbankkan syariah, wisata syariah, asuransi syariah, hotel syariah dan berbagai bidang lainnya. Bahkan Inggris dan Jepang adalah dua negara yang justru mengakui keunggulan sistem syariah ini. Disinilah pemerintah harus tetap tenang dan obyektif melihat kecenderungan dan perkembangan dunia dan melepas diri dari berbagai tekanan negara asing kapitalisme yang secara ideologis bertentangan dengan sistem Islam.

Penerbitan perppu akhirnya dianggap oleh sebagian kalangan masyarakat justru bentuk ketidakadilan pemerintah kepada rakyatnya sendiri yang justru ingin berkontribusi membangun bangsa ini lebih baik. Berbagai ormas Islam telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi karena perppu ini dianggap berpotensi disalahgunakan oleh pemerintah untuk menyingkirkan lawan politik yang tidak sejalan dengan keinginan rezim penguasa. Perppu ini juga dikhawatirkan akan mengulang masa represif dan otoriterianisme rezim masa lalu kepada umat Islam pada khususnya.

Lebih tegas diungkapkan oleh komisioner komisi nasional HAM, Natalius Pigai [Republika, 27/7] bahwa pelarangan gagasan-gagasan berbasis syariah hingga menyisir mantan anggota ormas yang telah dibubarkan maka, menristek bisa saja dituduh telah melakukan penistaan terhadap agama, maka kebijakan ini bisa diadili. Hermanto Siregar, wakil rektor Institut Pertanian Bogor juga menegaskan bahwa selama ini mantan pengikut ormas HTI yang menjadi dosen atau PNS di lingkungan IPB tidak bermasalah. Mereka tidak pernah melakukan tindakan kriminal atau tindakan melanggar hukum, meskipun pasca pembubaran HTI, IPB akan melakukan pembinaan persuasif jika dosen eks HTI melanggar sesuatu.

Terkait gagasan HTI dianggap bertentangan dengan Pancasila, ditegaskan oleh Natalius Pigai, bahwa di Indonesia, ideologi yang bertentangan dengan Pancasila adalah komunisme dan marxisme. Sementara gagasan Islam yang dibawa HTI tidaklah bertentangan dengan nilai Pancasila, sebab sila satu berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dalam pengelolaannya dianggap sah dan boleh. Karena itu negara harus memastikan kebebasan menjalankan hukum syariahnya [agama] setiap warga negara, kebebasan warga negara menjalankan syariat agamanya. [Republika, 27/7].

Jika mau obyektiif, ideologi kapitalisme sekuler jika ditelisik lebih mendalam justru menjauhkan negeri ini dari nilai-nilai Pancasila di semua aspek berbangsa dan bernegara. Sila pertama yang menyatakan keesaan Tuhan (tauhid) justru dinodai oleh berbagai penyimpangan agama yang semakin tumbuh tak terkendali. Sila kedua yang menyatakan kemanusiaan dan keberadaban justru dinodai oleh segala bentuk kriminalitas dan kezaliman yang semakin mengkhawatirkan.

Sistem ekonomi kapitalisme terbukti telah melahirkan kesenjangan ekonomi yang semakin dalam. Kekayaan di negeri ini hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat, sementara rakyat kecil mayoritas belum bisa beranjak dari status warga miskin. Kemiskinan dan ketidaksejahteraan inilah yang seringkali memicu kriminalitas dan bahkan upaya disintegrasi. Cita-cita persatuan Indonesia justru berada di ujung tanduk dibawah hegemoni kapitalisme yang tak berkeadilan. Pertanyaannya, apa kapitalisme itu pancasilais ?. Wajar jika Din Syamsudin menegaskan bahwa mestinya yang dibubarkan adalah kapitalisme, bukan ormas Islam. Sementara PKS menegaskan bahwa perppu ormas terbuktif represif [Republika, 27/7]. Jadi ketidakadilan ini semestinya diadili jika negeri ini mau berkemanusiaan yang adil dan beradab.[]

Tahun Ini, Saudi Siap Layani 83.828 Jamaah Haji Asal Iran

SAUDI (Jurnalislam.com)–Menteri Haji dan Umrah Muhammad Saleh Bantan pada hari Rabu (19/7) melakukan kunjungan inspeksi ke markas besar Haji Tawafa asal peziarah Iran.

Dalam pertemuan dengan Presiden Direksi Haji Tawafa, Talal Qutb, Saleh Bantan membahas rencana berbagai persoalan operasional hai dan pengaturan untuk musim haji yang akan datang.

Dalam pertemuan ttu dibahas hampir semua aspek operasi haji, termasuk penerimaan peziarah dan pengelompokan mereka, serta akomodasi, transportasi, makanan, program layanan dan fasilitas lainnya sejak kedatangan mereka sampai keberangkatan.

Seperti dilansir Suadigazette.com, Saleh Bantan menggarisbawahi kebutuhan untuk memperbaiki layanan dan fasilitas sehingga memungkinkan para peziarah melakukan ritual mereka dengan mudah dan nyaman. Pembahasan ini pening terutama untuk memastikan layanan bagi jamaah haji asal Iran yang tahun ini berjumlah 83.828 orang.

Qutb mengatakan bahwa visa elektronik dikeluarkan untuk para peziarah Iran. Dia mengatakan bahwa pengaturan untuk peziarah dari Iran dimulai segera setelah akhir musim haji terakhir.

“Pengaturan untuk peziarah Iran tidak berbeda dengan para peziarah dari belahan dunia lain,” katanya. Selain itu pun Qutb mengatakan semua persiapan dilakukan dengan baik untuk memungkinkan peziarah Iran melakukan ritual mereka dalam kedamaian dan ketenangan.

Selain mengunjungi markas pengurus jamaah haji Iran, setelah itu Bantan juga mengunjungi fasilitas Kantor Zamzam Serikat dan pengaturan untuk distribusi air Zamzam kepada para peziarah.

sumber: ihram.co.id

21 Ribu Jamaah Haji Indonesia Sudah Berada di Madinah

MADINAH (Jurnalislam.com) – Hari keempat pemberangkatan gelombang pertama, tercatat lebih dari 21ribu jemaah haji Indonesia sudah berada di Madinah. Rilis data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) menyebutkan bahwa total ada 52 kloter yang sudah mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah sampai dengan Senin (31/7/2017).

Sebanyak 16 kloter diperkirakan akan kembali tiba di Madinah sampai dengan Selasa (01/08) sore. Mereka berasal dari 8 embarkasi, yaitu:
1. Kloter duabelas sampai empatbelas Embarkasi Solo (SOC 12, SOC 13, dan SOC 14);
2. Kloter tujuh dan delapan Embarkasi Jakarta – Pondok Gede (JKG 07 dan JKG 08);

3. Kloter dua Embarkasi Batam (BTH 02);
4. Kloter tiga Embarkasi Balikpapan (BPN 03);

5. Kloter sebelas sampai tiga belas Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS 11, JKS 12, dan JKS 13);
6. Kloter dua Embarkasi Banjarmasin (BDJ 02);

7. Kloter dua belas sampai lima belas Embarkasi Surabaya (SUB 12, SUB 13, SUB 14, dan SUB 15); dan
8. Kloter lima Embarkasi Medan (MES 05)

sumber: mch kemenag

Akhiri Jabatan, Asrorun Ni’am Sholeh Sukses Jalankan Amanah Ketua KPAI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membuat Asrorun Niam Sholeh keluar sebagai tokoh nasional di bidang perlindungan anak. Dia menjadi komisioner KPAI selama dua periode, dengan posisi terakhir adalah Ketua. Posisinya berakhir pada tahun ini, karena memang regulasi membatasi dua tahun bagi komisioner KPAI.

Beberapa prestasi yang diukirnya adalah membongkar kasus-kasus besar soal anak, mulai dari pelecehan seksual anak di Jakarta Internasional School (JIS), revisi UU Perlindungan Anak hingga mengadvokasi lahirnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Atas prestasi itu, Ni’am meraih penghargaan dari Sugeng Sarjadi Syndicate (SSS), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Setahun lalu, dia bahkan menjadi ikon tokoh perlindungan anak dari Majalah Gatra. Ini tentu pencapaian yang luar biasa dari seorang ayah dengan empat anak ini.

Ni’am, demikian dia biasa disapa, menikmati betul posisinya selama menjabat sebagai Ketua KPAI. Latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa 98 membuat kehidupannya memang tidak lepas dari pergerakan. Dia adalah mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tulisan-tulisannya menghiasi media massa mainstream yang menjadi rujukan isu perlindungan anak. Tidak heran jika kemudian pergulatannya di bidang anak, membuat suami Lia Zahiroh ini sering “berurusan” dengan wartawan. Dia kerap menjadi pembicara di forum internasional dan nasional. Wajahnya sering hadir di media televisi, suaranya menghiasi media radio, bahkan ucapannya dikutip di media koran nasional.

Pria kelahiran Nganjuk ini memiliki motto “Mengabdi Tiada Henti, Beribadah Tak Kenal Lelah” telah menerbitkan buku biografinya yang berjudul “Rahasia-rahasia Nikmat Asrorun Niam Sholeh: 40 Tahun Mengabdi Tiada Henti, Beribadah Tak Kenal Lelah”. Begitulah. Hobbinya menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, menyebabkan buku yang ditulisnya enak dibaca, mudah dicerna dan tentunya memberi inspirasi semua pihak.

Selain biografi, Niam pun menuangkan keilmuannya dalam karya ilmiah yang diakui oleh banyak akademisi. Beberapa karyanya adalah “Fikih Anak, Perlindungan Anak dalam Perspektif Islam,””Jejak-jejak Peradaban”, “Sadd al-Dzari’ah, “Pendekatan Preventif dalam Penetapan hukum”, “Islam Jalan Tengah”, “Fikih Haji”, “Fatwa-Fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga”, “Fatwa dalam Sistem hukum Islam”, “Perpustakaan Jendela Peradaban”, “Membumikan Islam Rahmatan lil Alamin” , “Detik-detik Perlindungan Anak” , dan masih banyak yang lainnya.

Di samping di dalam negeri, dia memiliki jam terbang ke luar negeri cukup banyak, baik untuk kepentingan studi, penelitian, pelatihan maupun seminar. Negara yang pernah dikunjunginya, antara lain New Zealand, Australia, Italia, Jerman, India, Bangladesh, China, Jepang, Mesir, Bahrain, Iran, Arab Saudi, Chili, Brasil, Argentina, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Pada akhir tahun 2010, Niam berkesempatan menjadi Visiting Research Fellow di Nasional University of Singapore. Dan pada 2013, Niam melakukan workshop tentang isu-isu perlindungan anak dan kesehatan reproduksi di Universitas al-Azhar Kairo serta studi banding di Kementerian Kependudukan Mesir.

Aktivitasnya beragam. Sosoknya yang ramah membuat mudah menjalin komunikasi dengan semua pihak. Oleh sebab itu, dia memiliki jaringan ke berbagai instansi. Sebagai akademisi ia melakukan diskusi terkait dengan perlindungan anak Indonesia, baik pada aspek regulasi, aspek pendidikan, aspek kesehatan, dan juga aspek hukum. Ia pernah menjalin kerja sama dengan BKKBN untuk kampanye kesehatan reproduksi perempuan dalam rangka mencegah kelahiran anak cacat, penggunaan alat kontrasepsi yang aman untuk menghindari terjadinya baby booming yang berdampak pada lahirnya genarasi anak-anak yang lemah.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah melalui talk show radio. Kerja sama juga pernah terjalin dengan Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU), Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak (MPKS) Departemen Kesehatan, Kementerian Agama RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (*)

Perpindahan Ribuan Warga Sipil dan Pasukan JFS dari Perbatasan ke Idlib akan Digelar Hari Ini

SURIAH (Jurnalislam.com) – Perpindahan ribuan pengungsi dan pejuang Suriah dari wilayah perbatasan Lebanon ke wilayah benteng mujahidin di Idlib dengan pertukaran sejumlah tahanan milisi Syiah Hizbullah akan dilaksanakan hari ini, Selasa (1/8/2017), lansir Aljazeera.

Sebuah unit media militer Syiah Hizbullah mengatakan bahwa penundaan pertukaran tersebut adalah untuk memungkinkan “tindakan logistik”, termasuk kedatangan semua bus yang digunakan untuk transportasi di bawah kesepakatan gencatan senjata lokal.

Di bawah kesepakatan antara pejuang oposisi dan Hizbullah, sekitar 9.000 warga sipil Suriah, pejuang dan saudara-saudara mereka berpindah ke daerah yang dikendalikan oposisi di Suriah dengan imbalan delapan pasukan Syiah Hizbullah yang ditahan oleh Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah diserahkan.

Langkah pertama gencatan senjata, yang ditengahi oleh badan keamanan internal Lebanon, dibuka pada hari Ahad saat kedua belah pihak saling menukar jenazah pasukannya yang terbunuh.

Kesepakatan tersebut mencakup keberangkatan semua mujahidin Jabhat Fath al-Sham dari wilayah perbatasan Lebanon di sekitar kota Arsal, bersama dengan warga sipil di kamp-kamp pengungsi terdekat yang ingin pergi.

Kesepakatan tersebut mengikuti kesepakatan yang terjadi di Suriah dimana Damaskus telah menyerang pejuang oposisi dan mujahidin serta warga sipil ke provinsi Idlib dan pada wilayah oposisi lainnya.

Berbicara dari Labweh, sebuah kota Lebanon di dekat perbatasan, Imtiaz Tyab, Al Jazeera menyebut kesepakatan terakhir tersebut “belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Ini adalah pertama kalinya kami melihat sebuah kesepakatan dimana sejumlah besar pengungsi dan pejuang Suriah yang menentang rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad, dan telah melakukan konflik terbuka dengan pasukan Syiah Hizbullah dan Lebanon, keluar dari

daerah mereka dan pergi ke daerah lain di Suriah,” katanya.

Milisi Syiah Hizbullah Libanon telah memainkan peran penting bagi rezim dalam memerangi mujahidin di sepanjang perbatasan selama perang enam tahun Suriah, dengan mengirim ribuan pasukan untuk mendukung pemerintahan Syiah Assad.

Tentara regular Lebanon, yang mendapat banyak dukungan militer AS dan Inggris, tidak mengambil bagian aktif dalam operasi tersebut, dan membentuk posisi defensif di sekitar Arsal.

Badan pengungsi PBB, yang tidak terlibat dalam kesepakatan tersebut, berusaha menjangkau pengungsi di wilayah Arsal untuk menilai apakah pengembalian tersebut bersifat sukarela, juru bicara Lisa Abou Khaled mengatakan.

“UNHCR percaya bahwa belum ada kondisi di Suriah dimana pengungsi kembali dengan aman dan bermartabat,” katanya, dengan perang berlanjut melintasi petak-petak besar di negara tersebut.

Konflik Suriah multi-sisi telah menewaskan ratusan ribu orang dan menyebabkan sedikitnya 11 juta penduduk mengungsi dari rumah mereka – sekitar setengah dari populasi pra-perang Suriah.

Hampir 1,5 juta pengungsi telah dibawa ke Lebanon dan mereka sekarang membentuk sekitar seperempat dari populasi negara tersebut. Kamp-kamp darurat di sebelah timur Arsal adalah yang paling menderita dalam kehidupan yang sangat sulit dan beberapa ribu orang tinggal di sana.

DOHA: Arab Saudi Tidak Menjamin Keamanan Jamaah Haji Asal Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang Qatar mengatakan bahwa Arab Saudi membahayakan ibadah haji tahunan pada jamaah Qatari yang ke Mekah dengan menolak menjamin keamanan mereka, World Bulletin melaporkan Senin (31/7/2017).

Pada tanggal 20 Juli, Riyadh mengatakan bahwa warga Qatar yang ingin melaksanakan haji tahun ini akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan untuk ibadah tersebut, namun memberlakukan pembatasan tertentu.

Kementerian haji Saudi mengatakan bahwa jamaah Qatari yang tiba dengan pesawat harus menggunakan maskapai penerbangan sesuai kesepakatan dengan Riyadh.

Mereka juga perlu mendapatkan visa setibanya di Jeddah atau Madinah, satu-satunya titik masuk mereka di kerajaan.

Kementerian Urusan Islam Qatari, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor berita resmi QNA pada hari Ahad (30/7/2017), mengatakan bahwa pihak Saudi “menolak untuk berkomunikasi mengenai keamanan jamaah haji dan memfasilitasi haji mereka”.

Kementerian tersebut menuduh Riyadh “mempolitisir salah satu pilar Islam, yang dapat merampas hak banyak umat Islam untuk melaksanakan kewajiban suci ini”.

Menurut pernyataan tersebut, 20.000 warga Qatar telah terdaftar untuk ambil bagian tahun ini. Kementerian tersebut menolak klaim Saudi yang mengatakan bahwa Doha telah menangguhkan pendaftaran.

“Penyimpangan fakta dimaksudkan untuk membuat hambatan bagi jamaah dari Qatar ke Mekkah, menyusul krisis yang diciptakan oleh negara-negara pengepung (pemblokir),” kementerian Qatar menambahkan, merujuk pada Arab Saudi dan sekutu-sekutunya.

Beberapa media Teluk mengklaim bahwa pernyataan Qatar adalah seruan untuk “internasionalisasi” pengelolaan ibadah haji, yang selama ini dijalankan oleh pemerintah Saudi.

“Setiap ajakan untuk menginternasionalisasi (pengelolaan) haji adalah tindakan agresif dan sebuah deklarasi perang,” Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kepada saluran berita Arabiya pada hari Ahad.

Namun Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani menggambarkan klaim tersebut sebagai “fabrikasi (buatan) – framing- media”.

“Belum ada satu pernyataan dari pejabat Qatar mengenai internasionalisasi haji,” katanya kepada saluran berita Al-Jazeera.

Komite Hak Asasi Manusia Nasional Qatar pada hari Senin mengatakan akan mengeluhkan pembatasan Saudi tersebut kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam.

“Retorika anti-Qatar … mengancam keamanan jamaah Qatar,” kata panitia dalam sebuah pernyataan.

Haji, sebuah rukun Islam bagi yang mampu yang dilakukan umat Islam sedikitnya sekali dalam seumur hidup, akan berlangsung tahun ini di awal bulan September.

Arab Saudi dan sekutunya Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan sanksi terhadap Doha pada bulan Juni, termasuk penutupan wilayah udara mereka bagi maskapai penerbangan Qatar.

Keempat negara Arab tersebut menuduh Qatar mendukung pejuang Islam di Suriah, Palestina dan dekat dengan Iran yang didominasi Syiah, saingan utama negara Arab.

Qatar membantah tuduhan tersebut dan menuduh blok pimpinan Saudi memaksakan sebuah “pengepungan” terhadap emirat kecil tersebut setelah kunjungan Donald Trump ke negara-negara Teluk.

15 Tahun Perang Melawan Taliban Lalu Kalah, Ini Laporan Kerugian Amerika Serikat

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sebuah laporan triwulanan baru yang diterbitkan oleh Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction (SIGAR) menunjukkan bahwa AS gagal memperhitungkan ratusan miliar dolar yang dihabiskannya untuk menopang pemerintah Afghanistan, lansir Aljazeera Selasa (1/8/2017).

AS telah menghabiskan lebih dari $ 714 miliar dalam 15 tahun terakhir untuk mendukung

pemerintah Afghanistan, memperkuat angkatan bersenjata dan membangun infrastruktur di negara tersebut, namun karena budaya korupsi yang merajalela dan kurangnya pemantauan di AS, hasilnya mengecewakan.

Menurut SIGAR, meski ada pengeluaran besar dari AS, keseimbangan antara pemerintah Afghanistan yang didukung AS dan pejuang tetap macet sejak 2016. Enam puluh persen dari total distrik di negara tersebut berada di bawah kendali pemerintah dan 40 persen sisanya tetap berada di bawah kendali Taliban.

Jumlah pemboman dan bentrokan antara Taliban dan pasukan pemerintah bentukan AS juga meningkat selama periode pelaporan.

“Dari tanggal 1 sampai 31 Mei 2017, PBB mencatat 6.262 insiden keamanan, meningkat 21 persen dari kuartal terakhir,” demikian laporan tersebut.

“1 Januari 2017, sampai 8 Mei 2017, ada 2.531 anggota pasukan Afghanistan yang tewas saat bertindak dan 4.238 lainnya terluka saat bertindak.”

Pada tanggal 13 Juni 2017, Sekretaris Pertahanan James Mattis mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat bahwa AS “Kalah Perang di Afghanistan saat ini, dan kami akan memperbaikinya sesegera mungkin”.

Mattis diharapkan dapat memberikan Trump strategi baru untuk Afghanistan, Pakistan dan India dalam beberapa hari mendatang. Menurut beberapa laporan, strategi AS yang baru diharapkan akan mengirim lebih banyak tentara AS ke Afghanistan sebagai penasihat dan pelatih bagi angkatan bersenjata mereka.

Namun seorang pejabat Departemen Pertahanan, yang menolak berbicara di depan umum karena dia tidak berwenang untuk melakukannya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemikiran di kalangan petinggi DOD adalah bahwa strategi baru di Afghanistan dapat berjalan baik. “Pemerintah belum memutuskan apakah akan meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan atau bahkan menurunkannya,” kata pejabat tersebut.

Strategi regional yang baru juga akan melihat pendekatan yang berbeda dengan Pakistan seperti yang dikatakan oleh pejabat DOD.

“Pakistan mungkin akan mengalami pendekatan yang lebih ketat dari administrasi Trump yang mengharuskan mereka mengakhiri praktik pemberian tempat perlindungan bagi elemen pemberontak di dalam wilayahnya,” katanya.

Namun sebuah laporan oleh Wall Street Journal pada hari Ahad (31/7/2017), mengutip seorang pejabat senior pemerintah yang mengatakan bahwa Gedung Putih mungkin akan mengurangi kehadiran pasukan AS di Afghanistan.

Jika pemerintah Trump telah memutuskan untuk mengurangi kehadiran tentara AS, situasi saat ini di negara tersebut mungkin akan menjadi lebih buruk daripada sekarang.

SIGAR merekomendasikan dalam laporannya bahwa AS tidak boleh menghindar dari mengambil risiko dan harus berusaha keluar dari gedung kedutaan AS yang dijaga dengan ketat untuk memantau investasi dan pengeluaran AS di negara tersebut.

Tetapi jika pemerintah memutuskan untuk mengurangi jejak kaki AS di negara ini, akan lebih jelas bagaimana AS akan memperhitungkan miliaran dolar yang telah dialokasikan untuk digunakan di Afghanistan pada tahun fiskal 2018.

“SIGAR prihatin bahwa pejabat AS, baik di State, USAID, Justice, Treasury, Commerce, atau di tempat lain, tidak dapat mengawasi miliaran dolar yang didedikasikan Amerika Serikat untuk rekonstruksi Afghanistan jika, sebagian besar mereka tidak dapat meninggalkan gedung kedutaan AS,” kata John Sopko, Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan.

“Bersembunyi di balik tembok anti ledakan tidak hanya merusak misi sipil AS tapi juga mengurangi misi militer AS,” katanya.