Berita Terkini

Kasus Slamet Ma’arif Disetop, TARC Dorong Aparat Tetap Independen dan Profesional

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Tim Advokasi Reaksi Cepat (TARC), Muhammad Taufik mengapresiasi langkah Polri dalam menghentikan kasus dugaan pelanggaran pemilu yang menyeret ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 ustaz Slamet Ma’arif.

Menurutnya, aparat kepolisian harus tetap bisa bersikap adil dan independen dalam menangani sejumlah kasus, terutama dalam tahun politik seperti saat ini.

“Mudah-mudahan polisi tetap bersikap independen, prosedural, profesional, dan benar-benar berkata dengan hukum,” katanya saat menggelar jumpa pers di Roemah Djoeang Laweyan, Solo, Selasa (26/2/2019).

Ia menyatakan, aparatur pemerintah harus menjaga Independensi dan profesionalitas dalam berbagai penanganan kasus, khususnya pada pelanggaran pemilihan umum (pemilu).

“Ketika tidak ditemukan alat bukti jangan dipaksakan itu dikatakan sebuah pelanggaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Taufik juga menegaskan bahwa sejak awal digelarnya Tabligh Akbar 212 di Bundaran Gladak Solo itu tidak ada agenda politik praktis.

“Itu hanya dalam rangka memutihkan Solo,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Polri menghentikan kasus ustaz Slamet Ma’arif pada Senin (25/2/2019). Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Agus Tri Atmaja kepada wartawan.

Kelola Sampah, Ponpes Al Fathonah Tasik Raih Penghargaan Lingkungan Hidup

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Islam, Al Fathonah mendapatkan penghargaan “Peduli Sampah” dari Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tasikmalaya di Alun-alun Singaparna, Selasa (26/2/2019).

Apresiasi sebagai salah satu sekolah atau komunitas yang peduli kebersihan lingkungan itu diberikan karena ponpes Islam ini mempunyai program Bank Sampah.

Staff Bidang Pengelolaan Sampah Dinas LH Kabupaten Tasikmalaya, Muhtar Jajuli mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan kepada pihak-pihak atau perseorangan yang peduli terhadap lingkungan dan membantu dalam upaya pengelolaan sampah.

“Ada sekitar 8 pihak yang menerima penghargaan ini, baik perseorangan maupun organisasi dan komunitas lainnya,” ungkapnya disela-sela acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019 ini.

Sementara itu Muhtar menyebutkan, program Bank Sampah ini dapat menginspirasi komunitas serta masyarakat umum dalam pengelolaan sampah. Apalagi, kata dia, hal ini berbasis pesantren.

“Jadi saya pikir ini adalah hal yang luarbiasa,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Islam Al Fathonah merupakan Pondok Pesantren yang dirintis oleh Ustaz Arif Ar Rafi’ie di Kampung Arjasari, Desa Arjasari Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya.

Penulis Buku NU: Nahdiyin Tengah Menjadi Korban Kekuasaan

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Penulis buku “NU Jadi Tumbal Politik Kekuasaan, Siapa Bertanggungjawab?”, Choirul Anam menilai, saat ini ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) tengah menjadi korban kekuasaan.

Pernyataan itu disampaikan pada acara bedah bukunya yang digelar oleh Pergerakan Penganut Khittah Nahdiyyah (PPKN) di Graha Astranawa, Surabaya, Selasa (26/2/2019).

Ia menjelaskan, saat ini ormas Islam terbesar di Indonesia ini seperti kehilangan organ jantung. Sebab kekosongan posisi Rais Aam PBNU.

“Dikarenakan Rais Aam PBNU hingga saat ini kosong selepas KH Ma’aruf Amin dijadikan Cawapres dari petahana,” ungkapnya kepada jurniscom seusai acara.

Menurutnya, hal itu bertentangan oleh AD/ART NU dan berpotensi memancing perpecahan dikalangan umat. Saat ini, kata dia, NU tengah menjadi “tumbal” dan korban dari politik kekuasaan.

“Hal ini dikarenakan banyak di kalangan NU struktural yang sudah tidak sesuai dengan Khitthah Nahdiyyah,” jelas Anam.

“Segera NU Struktural untuk kembali kepada jalan dan aturannya,” pungkasnya menambahkan.

Ekonomi Melambat, Koperasi Syariah Tetap Kuat

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional melambat tak membuat kinerja koperasi goyah. Salah satunya Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT UGT Sidogiri, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

KSPPS BMT UGT Sidogiri mampu membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) setelah zakat dan beban akhir tahun sebesar Rp71,77 miliar. Atas capaian tersebut membuat KSPPS BMT UGT Sidogiri tahan banting terhadap melambatnya ekonomi.

“Pendapatan SHU tahun kemarin 15,02% dan tahun sekarang 15,01%. Jadi tidak merosot tajam, apalagi dengan kondisi ekonomi yang melambat saat ini,” ujar Ketua Pengurus KSPPS BMT UGT Sidogiri KH Mahmud Ali Zain, dalam keterangan persnya yang dilansir Senin (25/2/2019).

Selain pendapatan SHU yang tetap kuat, jumlah aset KSPPS BMT UGT Sidogiri juga mengalami kenaikan Rp2,25 triliun. Jumlah aset tersebut menjadikan KSPPS BMT UGT Sidogiri sebagai koperasi syariah terbesar di seluruh Indonesia.

Sementara dalam kinerja keuangan lain, koperasi yang memiliki jumlah anggota 18.060 orang dengan kantor cabang dan cabang pembantu 288 unit yang tersebar di Jawa dan luar Jawa tersebut, memiliki non performing financing (NPF) sebesar 2,61% pada 2017.

Sementara financing to deposit ratio (FDR) sebesar 74,13%, capital adequacy ratio (CAR) 18,58% dan return on equity (ROE) 20,63% di tahun yang sama.

“Dengan pencapaian ini kami berharap kinerja tersebut terus dipertahankan oleh pengurus dan pengelola KSPPS BMT UGT Sidogiri,” kata Ali Zain.

Untuk mengembangkan pembiayaan kepada para anggota pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), KSPPS BTM UGT juga menjalankan kemitraan dengan bank syariah, seperti Bank Syariah Mandiri (BSM), BCA Syariah, BRI Syariah, Bank Panin Dubai Syariah, BPD Jatim Syariah danBank DKI Syariah.

Selain bank syariah, KSPPS BMT Sidogiri terlibat menyalurkan dana program Ultra Mikro (UMI) Kementerian Keuangan, di mana sejak diluncurkan program tersebut KSPPS BMT UGT Sidogiri telah mampu menyalurkan program UMI Rp50 miliar kepada anggotanya.

“Banyaknya lembaga-lembaga keuangan syariah bermitra dengan KSPPS BMT UGT Sidogiri, membuktikan tingkat kepercayaan kepada BMT UGT Sidogiri tinggi. Hal ini akan memberikan semangat kepada manajemen koperasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para anggota dan mitra,” ujar Ali Zain.

sumber: viva.co.id

Rizal Ramli : Pidato Presiden Jokowi Ngawur dan Banyak Hoaks

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ekonom senior, Rizal Ramli berpendapat pidato kebangsaan Presiden Joko Widodo di Sentul, Bogor, Jawa Barat, kemarin, hanyalah pengulangan dari pidato-pidato sebelumnya. Bahkan, Pidato itu, banyak memakai data-data yang keliru.

 

“Pidato Presiden Widodo di Sentul kemarin tidak lain adalah pengulangan dari pidato-pidato sebelumnya, laporan tentang apa-apa yang dilakukan dengan angka-angka yang ngasal, termasuk diragukan kebenarannya,” kata Rizal melalui rilis yang diterima Jurnalislam.com, Senin (25/02/2019).

 

Menurutnya, pidato Jokowi sama seperti debat kedua. Banyak sekali data yang ngasal, ngawur dan cenderung hoaks.

 

Mantan menteri perekonomian era presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini menjelaskan, penyebab klaim berlebihan yang disampaikan oleh bekas Wali Kota Solo itu, karena para pembantunya lagi-lagi kurang menyampaikan data-data yang akurat.

 

“Hal itu terjadi karena kebiasaan Presiden Widodo yang doyan mengklaim prestasi berlebihan atau over klaim dan lingkaran dalamnya memang bermental Asal Bapak Senang (ABS),” kata Rizal.

 

Rizal memberikan contoh terkait klaim soal Dana Desa. Menurut Rizal, dana desa itu adalah amanat Undang-Undang Desa. UU tersebut diperjuangkan oleh asosiasi-asosiasi kepala Desa, terutama Parade Nusantara dengan Ketua Umum Sudir Santoso dan Ketua Dewan Pembina Rizal Ramli.

 

“Pembahasan UU tersebut banyak dibantu oleh Marwan Ja’far, Ketua Fraksi PKB Ahmad Muqowam Ketua Pansus dari PPP, serta dibantu Ketua DPR Marzuki Alie,” kata Rizal Ramli.

Jokowi Disebut Doyan Over Klaim Keberhasilan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ekonom Senior, Rizal Ramli menilai pidato kebangsaan Presiden Joko Widodo di Sentul, Bogor, Jawa Barat, kemarin tentang capaian-capaiannya selama memerintah, dianggap klaim yang berlebihan.

Bahkan, data-data yang disampaikan bekas Gubernur DKI Jakarta itu cenderung kurang akurat.

Menurutnya, penyebab over klaim tersebut, lantaran lingkarannya banyak menyampaikan data yang hanya ingin menyenangkan presiden.

“Pidato di Sentul kemaren data yang ngasal, ngawur dan cenderung hoaks. Hal itu terjadi karena kebiasaan Presiden Widodo yang doyan mengklaim, ekspektasi berlebihan, over klaim dan lingkaran dalamnya bermental ABS sehingga presiden Jokowi over klaim,” katanya melalui rilis yang diterima Jurnalislam.com Senin (25/02/2019).

Mantan menteri perekonomian era presiden Gus Dur ini memberikan contoh soal Dana Desa yang diklaim dimulai era Jokowi. Menurut dia, alokasi Dana Desa lebih dari 1 miliar itu adalah amanah undang-undang Desa.

UU tersebut diperjuangkan oleh asosiasi-asosiasi Kepala Desa, terutama Parade Nusantara dimana ketua umumnya Sudir Santoso dan Ketua Dewan Pembinanya Rizal Ramli.

Dalam pembahasan UU tersebut dibantu oleh Marwan Ja’far, Ketua Fraksi PKB dan Ahmad Muqowam Ketua Pansus dari PPP serta dibantu oleh ketua DPR Marzuki Alie.

“Kok bisa-bisanya bilang Pak jokowi dimulai dari dia yang alokasi dana desa. Kalau tidak ada undang-undang, presiden tidak bisa bagi-bagi uang itu. Bisa kena tuduhan korupsi dia,” kata RR, sapaan akrabnya.

“Jadi, kebiasaan Pak Jokowi over klaim dan meniadakan prestasi orang lain ini menunjukan sikap-sikap kurang ksatria, saya mohon maaf.”

Polisi Tutup Kasus Ketua PA 212 Slamet Maarif. Apa Alasannya?

SOLO (Jurnalislam.com)—Setelah mendapat banyak protes dari masyarakat, Senin kemarin (25/2019) polisi mengaku secara resmi menutup kasus dugaan pelanggaran pidana pemilu yang dilakukan ketua umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 ustaz Slamet Ma’arif.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Agus Tri Atmaja mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan Slamet Maarif akhirnya dilepaskan dari tudingan tersangka.

“Pertama, adanya perbedaan antara ahli pidana pemilu dan KPUD Surakarta dalam menafsirkan makna kampanye,” kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng) Kombes Agus Tri Atmaja lansir Detikcom Senin (25/2/2019).

“Kedua, unsur mens rea (niat jahat-red) atau niat pelaku belum bisa dibuktikan karena sampai sekarang tersangka dipanggil dan belum bisa hadir. Sedangkan kami hanya punya waktu 14 hari,” imbuh Agus.

Dan alasan yang terakhir, kata Agus, telah terjadi kesepakatan bersama dalam rapat sentra Gakkumdu Surakarta.

“Hasil pembahasan terhadap hal tersebut dengan melibatkan Sentra Gakkumdu, para ahli dengan koordinasi, diperoleh keputusan bahwa perbuatan yang dilakukan Slamet Ma’arif pada saat itu belum bisa dilimpahkan ke kejaksaan. Berarti ditutup (kasusnya),” ujarnya.

 

Sebagaimana diketahui sebelumnya, ketua umum PA 212 ustaz Slamet Ma’arif dituding melakukan pelanggaran pidana pemilu saat menjadi pembicara Tabligh Akbar 212 di Bundaran Gladak ahad, (13/1/2019) yang lalu.

 

Ia dijerat dengan Pasal 492 dan 521 Undang Undang no 7 Tahun 2017 tentang melakukan kampanye yang dilarang bagi peserta pemilu dan tim kampanye.

Komunitas Diharap Jadi Basis Perkembagan Industri Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan sektor industri halal.

Hal ini tercermin dari persentase penduduk Indonesia sebesar 12,7 persen dari populasi penduduk Muslim dunia.

Potensi tersebut membuat Bank Indonesia (BI) menyebut sektor industri halal dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya terus mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia melalui berbagai kebijakan.

“Kebijakan-kebijakan Bank Indonesia diarahkan ke sana, mulai dari komunitas maupun strategi dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan berbagai pelaku industri untuk mengembangkan industri halal,” ujarnya di Gedung BI, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, Bank Indonesia telah membangun ekosistem halal dari sejumlah komunitas-komunitas seperti pengembangan komunitas halal, pesantren maupun pelaku industri halal.

“Ekosistemnya harus dikembangkan jadi ekonomi halal yang berbasis komunitas. Apakah pesanten maupun komunitas Muslim, ekonomi halal yang berbasis industri baik industri kelas menengah ataupun besar,” ungkapnya.

Perry mengungkapkan pertumbuhan ekonomi halal bisa memanfaatkan beberapa sektor industri seperti kuliner, fashion, pariwisata dan kosmetika.

Dia juga mengakui, saat ini produk-produk halal mulai menjadi sorotan dunia, termasuk negara non muslim.

Selain itu, industri mode syariah juga berkembang pesat di Indonesia. Belakangan, pariwisata halal tengah berkembang di Indonesia.

“Kuliner halal, fashion halal dan tourism halal. Tentu ke depan terkait dengan kosmetik halal,” ucapnya.

Dalam rangka mendukung program pemberdayaan industri halal, BI bekerja sama dengan lembaga zakat, mengoptimalkan dana sosial syariah seperti zakat, infak, sedekah dan wakaf tunai, sebagai salah satu sumber pembiayaan syariah.

BI memandang pentingnya mendorong ekonomi dan keuangan syariah sebagai bagian dari bauran kebijakan.

“Pengembangan ini diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan global saat ini dan mendatang,” ungkapnya.

Ke depan, untuk meningkatkan peran dan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah secara global dan nasional, kata Perry, diperlukan peran aktif semua pihak. Ini mencakup pembuat kebijakan, pelaku ekonomi, maupun dunia pendidikan.

Sumber : republika.co.id

 

Dibanding Negara Lain, Indonesia Masih Tertinggal urusan Industri Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics, Aziz Setiawan, mengkritisi posisi Indonesia yang sangat tertinggal dibandingkan Malaysia dan Thailand dalam memasarkan industri halal.

Apalagi saat ini ia melihat basis industri yang terpukul selama satu dekade dan mempengaruhi produksi produk halal.

“Kunci penting untuk masuk dan berperan kita harus benahi basis produksi halal kita,”kata Aziz baru-baru ini.

Sayangnya, menurutnya, satu dekade terakhir ini Indonesia mengalami declining di basis industri.

“Perusahaan garmen banyak terpukul, dan ketergantungan impor makin meningkat bahkan untuk kebutuhan pangan. Kita mengalami deindustrialisasi, involusi pertanian dan sektor maritime yang potensial juga belum dioptimalkan,” ujar Aziz.

Menurutnya, untuk membangun halal industrial park adalah dengan membangun halal supply chain.

Artinya, produksi barang atau jasa harus dipastikan halal dari hulu ke hilir dengan mengoptimalkan sumber daya yang menjadi keunggulan kita.

Dia mencontohkan, Malaysia yang sudah menerapkan lebih dari 20 halal industrial park.

Dengan konsep ini, mereka bisa memproduksi barang-barang halal untuk diekspor dan mencukupi kebutuhan makanan, kosmetik, dan fashion di dunia.

Selain itu, ia menilai harus juga dibangun hubungan industri halal kecil dan besar, dimana potensi besar UMKM harus mendapatkan akses yang lebih baik.

Indonesia harus memiliki mimpi untuk menjadi dominan dalam “Global Halal  Supply Chain” dan ini butuh kebijakan pemerintah yang kuat dan konsisten.

Hal yang penting juga, kata Aziz, adalah memperkuat Marketing Industri dan jasa Halal kita baik memperkuat Positioning, Diferensiasi dan Branding (PDB) di pasar internasional. Untuk itu juga harus dibenahi hal-hal yang mendasar untuk peningkatan produksi dan pasokan nasional. 

Harus ada perbaikan agricultural supply chainmaritime supply  chain, dan supply chain pada SDA sebagai rantai halal dan diharapkan menjadi pusat pertumbuhan dan produksi baru.

Perbaikan Ekosistem dan Industrialisasi sektor halal butuh kebijakan yang kuat bukan sekedar retorika dan pelaksanaan kebijakan yang konsisten.

“Kita sangat terlambat dan sayang juga sangat lambat untuk bergerak mengejar ketertinggalan tersebut. Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Jaminan Produk Halal sudah lima tahun sebagai turunan UU tahun 2014 belum juga selesai. Jadi dalam konteks kebijakan saja belum sungguh-sungguh, apalagi penyiapan lanskap industrialisasi halalnya, tentu masih berat,” jelasnya.

Pemerintah Dinilai Lamban Kembangkan Industri Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Indonesia dinilai sangat tertinggal dalam mengembangkan industri halal yang potensinya sangat besar.

Pada tahun ini, Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan fokus pada peta jalan industri halal dan keuangan syariah.

Laporan States of Global Islamic Economy 2015-2016 (SGIE 2015-2016) mencatat konsumsi Muslim terus meningkat dari 1,8 triliun dolar AS pada 2014 menjadi 2,6 triliun dolar AS pada 2020.

Pendapatan domestik bruto (GDP) Muslim mencapai 6,7 triliun dolar AS. Data- data tersebut menunjukkan potensi industri halal yang sangat besar.

Kepala Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) Institut Pertanian Bogor (IPB) Irfan Syauqi Beik mengatakan, perkembangan industri halal global sangat positif, terutama di sektor makanan halal dan pariwisata. 

“Indonesia sudah mulai untuk berkembang. Tapi memang kita belum berkapitalisasi dengan baik industri halalnya. Jadi kita masih belum segesit Malaysia untuk menangkap potensi halal,” ujar Irfan Syauqi Beik lansir Republika, baru-baru ini.

Saat ini 21 persen dari ekspor makanan Indonesia merupakan produk halal.

Meskipun Irfan menilai kontribusi ekspor makanan sudah signifikan, namun dibandingkan potensi, porsi tersebut masih belum besar. Berdasarkan data Indonesia Halal Lifestyle Center, ekspor makanan halal, farmasi dan kosmetik telah menghasilkan pendapatan sebesar 100 juta dolar AS.

Sementara itu, Irfan menilai beberapa upaya pemerintah untuk mengembangkan industri halal dinilai sangat lambat, seperti peta jalan industri halal yang dibentuk oleh KNKS serta pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJH) yang baru akan beroperasi pada Oktober 2019 mendatang.

Irfan juga mempertanyakan rencana Kementerian Perindustrian untuk membangun kawasan industri halal.

“Saya menunggu gerak KNKS. Kemenperin ngomongnya kawasan industri halal, tapi realisasinya belum ada. Semua masih wacana. Yang kita butuh lebih konkret dan signifikan untuk mendorong industri halal,” ujar Irfan.

Sumber: republika