Berita Terkini

Resmi Dibuka, Muffest 2019 Tampilkan Tren Fesyen Modern Syar’i

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Perhelatan Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) 2019 telah resmi dibuka dan akan digelar mulai tanggal 1 sampai 4 Mei 2019, di area Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC).

MUFFEST 2019 dibuka oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto.

Dalam kata sambutannya, Airlangga mengatakan, kualitas busana Muslim Indonesia tidak kalah dengan produk-produk dari negara lain.

Indonesia bahkan, digadang-gadang akan menjadi kiblat busana muslim dalam beberapa tahun ke depan.

“Satu hal yang membanggakan bagi kita bersama adalah peningkatan prestasi Indonesia di dunia internasional yang sangat signifikan. Sesuai data dari The State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, Indonesia merupakan runner up negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia setelah Uni Emirat Arab,” papar Airlangga.

Komitmen Bersama

Kendati demikian, Ali Charisma, selaku National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) menegaskan bahwa dibutuhkan komitmen dan kontribusi berbagai pihak untuk mengembangan industri fashion Muslim Indonesia.

Oleh karenanya, melalui ajang MUFFEST 2019 ini diharapkan seluruh pihak dan stakeholder terkait dapat saling bersinergi dan terintegrasi dalam menjalin kerjasama yang berkelanjutan.

“Kita semua harus saling bekerjasasama untuk mengantarkan Indonesia menjadi pusat fashion Muslim global,” papar Ali Charisma

Lebih lanjut, Ali menjelaskan, di tahun ke-4 penyelenggaraannya, Muffest akan menekankan tren busana ready to wear.

Hal ini diperkuat dengan desain-desain modern dan syari sesuai dengan tema yang diusung yakni, “Singularity”.

“Muffest mau menekankan ready to wear dan ada yang syari juga tapi memang masih sedikit. Tapi nantinya akan mengarah kesana karena pasarnya besar. Jadi bisa masuk ke dalam dan luar ngeri,” papar Ali.

Selain menghadirkan exhibition ritel atau B2C (Business to Customer), Muffest 2019 juga menyelenggarakan fashion show yang menampilkan keragaman gaya busana muslim di Indonesia. Sebagian besar mengikuti Trend Forecasting (Muslim Fashion Trend) 2019/2020.

Sederet desainer kenamaan Indonesia juga diketahui akan turut memamerkan koleksi terbaru mereka. Mulai dari MUFFEST 2019 pun menghadirkan Ayu Dyah Andari, Ria Miranda, Mandjha Hijab, Ivan Gunawan Premium Collection, Sofie, Raegitazoro, Hannie Hananto, Noore, Aldre’, dan Irna Mutiara.

sumber: sindonews.com

 

MUI Ingatkan Penyelenggara Pemilu Agar Menunaikan Amanah

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Terkait pemilu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbaui agar aparatur negara bekerja dengan penuh dedikasi, amanah, untuk kemaslahatan bangsa.

Selain itu, Komisi Fatwa MUI juga meminta masyarakat untuk menjadikan hasil-hasil ijtima ulama Komisi Fatwa MUI.

Hal tersebut sebagai pedoman, menyelesaikan masalah strategis kebangsaan.

Hal tersebut diutarakan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Dr. Asrorun Niam Saleh. Terkait dengan masalah strategis kebangsaan, Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI telah menghasilkan beberapa fatwa yang dapat dijadikan pedoman.

Khususnya dalam kehidupan berbangsa, di antaranya tentang fatwa Peneguhan Bentuk dan Eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (2006).

Kemudian fatwa tentang Prinsip-prinsip ajaran Islam tentang hubungan antarumat beragama dalam bingkai NKRI (2009).

Kemudian fatwa tentang Prinsip-Prinsip Pemerintahan yang Baik Menurut Islam (Mabâdi’ al-Hukûmah al-Fâdhilah) (2012), serta fatwa terkait Kriteria Ketaaan kepada ulil amri (pemerintah) dan Batasannya (2018). Termasuk fatwa MUI tentang Menjaga Eksistensi NKRI dan Kewajiban Bela Negara (2018).

Asrorun Niam mengungkapkan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI dilaksanakan rutin setiap tiga tahun, sejak 2003.

Forum ijtima ulama komisi fatwa diikuti oleh seluruh pimpinan komisi fatwa MUI se-Indonesia, pimpinan lembaga fatwa Ormas Islam tingkat pusat, pimpinan pondok pesantren, pimpinan fakultas syariah PTAI, serta individu yang memiliki kompetensi di bidang hukum Islam.

Lingkup pembahasan dalam forum Ijtima Ulama adalah masalah-masalah keagamaan kontemporer untuk jadi panduan dan pegangan umat dan pemerintah, baik terkait dengan masalah strategis kebangsaan (masail asaiyyah wathaniyyah), masalah fikih kontemporer (masail fiqhiyyah muashirah), maupun masalah hukum dan perundang2an (masail qanuniyah).

sumber: republika.co.id

Pasca Pilpres, MUI: Jangan Saling Curiga, Jaga Kondusifitas

JAKARTA – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh meminta seluruh elemen bangsa, khususnya umat Islam untuk menjaga kondusifitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Sesama umat Islam jangan saling curiga, menjaga ukhuwah dan persaudaraan,” katanya saat rapat pleno komisi fatwa MUI, Kamis (02/05/2019).

Dia mengatakan tujuan dilaksanakannya rapat pleno dalam rangka sumbangsih terhadap kebaikan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan perspektif hukum Islam.

“Rapat juga menyerukan untuk menghormati lembaga negara yang diberikan tugas dan kewenangan oleh konstitusi, mempercayakan kepada lembaga yang memiliki kewenangan dan kompetensi untuk menjalankan tugas secara baik terkait dengan proses pemilu hingga tuntas,” ujarnya.

Kalau ada masukan, ketidakpuasan, kritik, atau protes, lanjutnya. Sampaikan dengan cara yang baik sesuai mekanisme yang dibenarkan.

“Tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik, dan dampak yang ditimbulkan juga baik,” pungkasnya.

Kaitkan dengan Dugaan Kecurangan KPU, Tokoh Solo Bicara tentang ‘People Power’

SOLO (Jurnalislam.com)- Tokoh Solo cum Mega Bintang Mudrick M Sangidoe mengimbau kepada pendukung Prabowo-Sandi untuk terus mengawal rekapitulasi C1 plano.

Menurutnya semua harus diperhatikan mulai dari kecamatan, provinsi sampai pusat hingga pengumuman dari KPU 22 mei mendatang.

“Berdasarkan laporan para saksi TPS dan rekapitulasi C1 Plano yang telah dikumpulkan oleh BPN Pusat, Pasangan calon Presiden Wakil Presiden Prabowo Subianto Sandiaga Salahudi Uno memenangi perolehan suara pemilih,” katanya kepada jurniscom di Solo, rabu, (1/4/2019).

“Kemenangan rakyat ini harus dikawal sampai diumumkannya perolehan suara oleh KPU,” sambungnya.

Mudrick menyebut relawan Mega Bintang akan terus mengawal kemenangan Prabowo Sandi.

“Segenap Relawan Mega Bintang dan seluruh ekemen pendukung Prabowo Sandi siap berdiri dibelakang bapak Prabowo Subianto,” katanya.

Ia juga  mendukung penuh pilihan sikap dan langkah hukum maupun politik yang konstitusional dari Badan Pemenangan Nasional.

Lebih lanjut, ia bersama rakyat mengaku siap untuk melakukan people power.

Hal itu, tambahnya, apabila KPU terbukti melakukan kecurangan kecurangan dalam pemilu 2019 saat ini.

“People Power atau Kekuatan Rakyat adalah wujud Kedaulatan Rakyat yang secara Konstitusional dilindungi dan tidak bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 28E Ayat 3,” tandasnya.

Pemilu Makan Korban, 17 April Diusulkan Jadi Hari Berkabung Nasional

SOLO (Jurnalislam.com)- Tokoh Mega Bintang Mudrick M Sangidoe mendesak pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk meminta maaf.

Khususnya kepada rakyat atas meninggalnya ratusan anggota KPPS yang meninggal saat bertugas di pemilu 2019.

Tercacat hingga tanggal 1 Mei 2019 pukul 09.00 wib, Sekjen KPU Arif Rahman menyebut korban jiwa yang meninggal mencapai 377 orang.

“Kami mengusulkan tanggal 17 April dijadikan hari berkabung demokrasi nasional, menuntut dibentuknya Komisi Penyelidikan Independen atas jatuhnya korban tersebut,” katanya kepada Jurniscom di Gedung Umat Islam (GUI) Surakarta, Rabu, (1/4/2019).

“Selanjutnya Pemerintah dan KPU harus meminta maaf atas tragedi tersebut,” imbuhnya.

Mudrick juga menyoroti masifnya dugaan kecurangan yang dilakukan.

Hal ini dinilainya  tampak dari peserta maupun penyelenggara di pemilu 2019 saat ini, baik di Pilpres maupun di Pileg.

“Tidak bisa dipungkiri telah banyak terjadi kejahatan pemilu yang berupa pelanggaran pelanggaran pemilu yang dilakukan peserta pemilu maupun penyelenggara pemilu,” ujarnya.

Untuk itu, ia mendesak Bawaslu dapat bersikap tegas dan adil untuk memproses ke jalur hukum.

Khususnya pihak pihak yang diketahui melakukan pelanggaran dalam pilpres 2019 saat ini.

“Pelanggaran pelanggaran ini tidak boleh dibiarkan tanpa proses hukum bagi para pelanggarnya,” paparnya.

Baitul Wakaf Diluncurkan untuk Ajak Milenial Berwakaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya mengatakan tujuan diluncurkannya Baitul Wakaf untuk mengajak kaum milenial mengenal wakaf.

“Wakaf selama ini identik dengan orang yang memiliki banyak harta dan sudah tua. Kita ingin mematahkan ungkapan seperti itu,” katanya saat acara peluncuran Baitul Wakaf di kawasan Tebet, Jaksel, Kamis (02/05/2019).

Menurutnya kalau ungkapan itu tidak dipatahkan, anak-anak muda tidak akan tersentuh dan tidak akan mau wakaf.

“Dengan program khusus anak muda, kita ingin anak muda tertarik dengan wakaf,” ujarnya.

Dia menjelaskan dengan tagline ‘Semua Bisa Semua Mudah’ memiliki arti semua orang apapun profesinya dan berapapun penghasilannya bisa berwakaf dan bisa melalui apapun.

“Ovo dan gopay,” pungkasnya.

Prioritas Pendidikan Generasi

Oleh: Agastya Harjunadhi
Pegiat Dunia Pendidikan, Founder Bina Keluarga & Mentor Komunitas @TheRealUmmi

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU 20/2003 pasal 3)

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 (UU 20/2003), Warga Negara Indonesia (WNI) berhak dan berkewajiban untuk mengikuti program pendidikan formal wajib belajar 9 tahun, yaitu jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jenjang pendidikan formal selanjutnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang umumnya dilanjutkan minimal 4 tahun di jenjang pendidikan tinggi untuk program sarjana. Artinya secara umum, rata-rata generasi muda Indonesia perlu mengikuti pendidikan formal minimal selama 16 tahun sebelum akhirnya dikategorikan siap terjun ke dunia kerja.

Dalam praktiknya, sebagaimana disebutkan dalam pasal 12.1.a peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan keyakinan yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Sebagaimana merujuk cita-cita mulia yang tercantum dalam UU tersebut, maka keluarga muslim memiliki alternatif untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Islam terpadu yang diyakini baik. Yaitu sekolah yang tidak hanya mengakomodir kurikulum nasional dan/atau internasional, tapi juga memfasilitasi pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai Islam secara lebih intensif.

Meskipun kita sebagai orang tua telah memilih sekolah terbaik berdasarkan pertimbangan maupun sumber daya yang dimiliki, namun penting bagi kita untuk tetap memonitor dan mengarahkan putra-putri kita. Pendidikan di sekolah dikategorikan sebagai pendidikan formal dan pendidikan oleh orang tua (keluarga dan lingkungan) dikategorikan sebagai pendidikan informal menurut UU 20/2003, namun peran orang tua sesungguhnya jauh lebih penting dalam proses pembentukan akhlak, karakter, dan masa depan putra-putrinya.

Oleh karena itu, sebagai keluarga muslim yang bercita-cita masuk surga sekeluarga, kita perlu mengupayakan agar prioritas pendidikan putra-putri kita adalah berorientasi akhirat. UU 20/2003 juga telah jelas memberikan urutan prioritas. Yaitu:

1. “Menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Iman dan taqwa menjadi prioritas tertinggi karena tanpa dua hal ini, semua usaha kita berikutnya akan sia-sia. Keyakinan ini harus kokoh tertanam dalam sanubari anak sejak dini melalui pengenalan ilmu tauhid, pengenalan syariat dan nilai-nilai luhur yang bersumber dari firman Allah (Al Quran) dan teladan rasulullah saw. Pendidikan agama inilah landasan dan satu-satunya pintu gerbang pendidikan yang berorientasi kepada akhirat, agar generasi kita memiliki ukuran kebahagiaan dan kesuksesan bukan sebab ranking nilai yang tinggi dan hal-hal lain yang bersifat materi semata.

2. “manusia yang berakhlak mulia, sehat, berilmu”. Selain menjadi pintu gerbang dan landasan keimanan dan ketaqwaan, pendidikan agama diyakini menjadi sumber utama untuk menanamkan serta menumbuhkan akhlak mulia peserta didik. Karena akhlak adalah wujud nyata atau buah dari proses ibadah yang benar, ibadah yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan. Akhlak ini kemudian yang akan berperan dalam harmonisasi adat, kultur, yang hadir dari luar nilai agama. Keserasian dan keharmonisan keduanyalah yang kemudian akan menghasilkan peradaban suatu bangsa. Maka benar adanya, bahwa generasi yang berkhlak mulia adalah pondasi peradaban mulia. Agama juga mengajarkan agar kita memiliki ilmu, pemikiran dan badan yang sehat, agar semakin luas manfaat. Bukankah rasulullah bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada manusia yang lain?

3. “Cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Setelah “beres” software internal manusia, maka tugas pendidikan selanjutnya adalah membentuk karakter dan mental manusia yang cakap ( good lifeskill /berkompeten), kreatif, mandiri, yang nantinya akan berhubungan kuat dengan amanah/pekerjaan-pekerjaan kolektif. Prioritas pendidikan ini harus kita sadari, sebab salah satu masalah utama hari ini atau bahkan tantangan abad ini adalah banyaknya orang baik namun tidak cakap (tidak kompeten) dalam memegang amanah/tugas/pekerjaan. Sehingga kemudian kebaikan individunya tidak memiliki dampak sosial yg lebih luas (kurang manfaat) untuk banyak manusia. Kita sebagai orang tua hendaknya memandang penting akan kecakapan ini, agar anak-anak menjadi insan yang “problem solver”. Kemudian mental kratif dan mandiri juga penting agar menjadi pribadi yang cerdas dalam mencari jalan keluar dan tidak mudah putus asa. Terlebih mental demokratis dan bertanggung jawab, harus tertanam baik dalam pribadi anak-anak kita, agar ketika bekerjasama dengan tim ia menjadi pribadi yang bijaksana, tidak mudah memaksakan kehendak, setia dan tidak berlaku curang.

Semua hal yang menjadi cita-cita pendidikan negara kita di atas, wajib kita wujudkan bersama. Kita harus mendukung program-program pemerintah yang memang baik. Kita juga bisa mendukung dengan cara membuat program-program independen yang bermanfaat. Semua dilakukan dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Apalagi Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia, kita ummat Islam sangat bersykur bisa berseiringan antara berteladan kepada rasulullah dan membantu mewujudkan cita-cita konstitusi negara.

Ini sekaligus bukti bahwa konstitusi kita sudah sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Tak berlebihan jika menyebutkan bahwa karakter generasi yang diidamkan konstitusi negara kita, sesungguhnya juga terwujud indah dan sempurna dalam kepribadian Rasulullah SAW dan generasi para sahabat. Sehingga belajar dari Rasulullah SAW dalam mendidik generasi hebat di masa lalu, menjadi kebutuhan utama. Dalam aplikasinya, metode belajar, bentuk kurikulum bisa disesuaikan dengan usia anak, termasuk selektif dalam memilih sekolah sebagai pendidikan formal bagi putra-putri kita.

Mari berjanji kepada diri kita dan keluarga, bahwa kita mau bersungguh-sungguh memprioritaskan ilmu agama dan kecakapan (lifeskill) menjadi dua garis besar haluan pendidikan anak/generasi kita, yang pada akhirnya kita mampu mencetak human being, menjadi khalifah di muka bumi yang menebarkan manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama, bukan sekedar mencetak human working. Mari berjanji menghadirkan generasi yang meyakini bahwa agama mampu memimpin modernitas menjadi lebih baik, sehingga kemudian sumber ukuran kebahagiaan dan kesuksesan mereka kelak bukanlah nilai-nilai materialistis.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019.
Kokoh generasiku, jayalah bangsaku Indonesia!

UBN: Ijtima Ulama Untuk Meluruskan Arah Politik Bangsa

SENTUL (Jurnalislam.com) – Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan, Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional III dihelat untuk meluruskan arah politik bangsa.

Pernyataan itu sekaligus merespon tanggapan wakil presien Jusuf Kalla beberapa waktu lalu yang mengatakan Ijtima Ulama jangan berdasarkan politis.

“Terus kalau disebut gak boleh berpolitik, loh ini kan hak warga negara, hak konstitusi, jadi gak ada yang salah kalau Ijtima Ulama juga membicarakan hal-hal yang bisa meluruskan politik terutama arah kebangsaan kita,” katanya kepada wartawan di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Rabu (1/5/2019).

Baca juga: Dinilai Lakukan Kecurangan TSM, Ijtima Ulama III: Diskualifikasi Paslon 01

UBN juga mengatakan, harus dibedakan antara ijma’ dan ijtima’. “Ijtima itu beda dengan ijma’ yang harus ada tahapan-tahan syar’inya. Tapi ini kan ijtima’ artinya pertemuan. Syarat syar’inya apa? Kita sudah diperintahkan kok untuk bermusyawarah,” paparnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Ijtima Ulama itu harus betul-betul berdasarkan pedoman atau aturan dan hadits sehingga berdasar hukum yang benar.

“jangan dasarnya politis,” kata dia di Istana Wakil Presiden, Selasa (30/4/2019).

Babe Haikal Ingin Temui Kiai Ma’ruf Tanyakan Soal Kecurangan Pilpres

SENTUL (Jurnalislam.com) – Ustaz Haikal Hassan (Babe Haikal) mengusulkan para tokoh dan ulama di forum Ijtima’ Ulama III untuk sowan ke cawapres KH Ma’ruf Amin. Alasannya, untuk berbicara terkait dengan kecurangan di Pemilu 2019.

“Saya secara pribadi mengusulkan dengan kaidah-kaidah, dengan keilmuan, dengan segala macam kecurangan yang sudah ada dan bisa dibuktikan, apa iya seorang kiai yang memahami jahatnya sebuah kecurangan, kalau terbukti, apa iya seorang kiai yang memahami segala unsur fikih, syariah, ilmu agama, Al-Quran, Hadis, setelah dibuktikan betul-betul ada kecurangan, masih mau memimpin dengan cara yang curang? Apa iya?” kata babe Haikal di Hotel Lor In, Sentul, Bogor, Rabu (1/5/2019).

Ia meyakini Kiai Ma’ruf tahu betul ganjaran bagi orang-orang yang berbuat curang. Ia akan mempertanyakan jika Kiai Ma’ruf masih berminat menjadi pemimpin apabila kepemimpinannya diraih dengan cara curang.

“Kita tinjau dari sisi hukum agama bahaya, bahaya, gajinya bisa jadi haram, fasilitas bisa jadi haram, karena terjadi kecurangan. Walaupun bukan beliau yang lakukan kecurangan, mungkin fanatik beliau yang tutup mata yang melakukan kecurangan secara terstruktur sistematis dan masif,” kata Haikal.

Ia, yang mengaku sebagai moderator di forum Ijtima’ Ulama III, akan melakukan pendekatan kepada Kiai Ma’ruf. Haikal berharap para ulama dan tokoh agama bisa bertemu dengan cawapres nomor urut 01 itu.

Babe Haikal menyebut usulannya ini sedang dibahas. Dia mengatakan hasilnya akan segera disampaikan sore ini.

“Mau dibicarakan sekarang, belum ada pembicaraan, tanya-jawab setelah asar,” katanya.

Umat Islam Diminta Tak Diam Lihat Kecurangan Pemilu

SENTUL (Jurnalislam.com)–  Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional III telah selesai dilaksanakan di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/5/2019) hari ini.

Pertemuan yang diikuti oleh ribuan peserta termasuk ulama, habaib, hingga tokoh nasional dan daerah dari seluruh Indonesia.

Penanggung Jawab Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional III Yusuf Martak mengatakan bahwa seluruh pihak harus bersuara terhadap kecurangan yang ada dalam pemilu.

Karenanya, ia meminta seluruh tokoh bangsa bersuara melihat kecurangan yang terjadi di depan mata.

Tak hanya itu, ia meminta masyarakat turut mengawal proses pemilu ini hingga tuntas.

“Kami mengajak umat Islam untuk mengawal dan menampingi perjuangan penegakkan hukum dengan cara syar’i dan legal konstitusional dalam melawan kecurangan dan ketidakadilan serta perjuangan pembatalan/diskualifikasi paslong yang melakukan kecurangan,” kata Yusuf Martak.

Ia menegaskan bahwa para ulama memutuskan bahwa perjuangan melawan kecurangan dan ketidakadilan adalah merupakan bentuk amar ma’ruf nahi munkar, bukan perbuatan melawan hukum.

Hadir dalam Ijtima Ulama III para Kiai seperti KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii, KH Shabri Lubis, KH Fahmi Salim, KH Bachtiar Nasir, dan ribuan tokoh agama lainnya.