Berita Terkini

Makna Pengorbanan

Oleh: Raisya Firza Rahmani

Santriwati PPTQ Al Himmah Dau Malang Kelas 3 ‘Aliyah

Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar dalam agama Islam yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Hari raya ini sering disebut juga sebagai Hari Raya Qurban, karena identik dengan penyembelihan hewan qurban seperti kambing, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di balik tradisi tersebut, terdapat makna mendalam tentang pengorbanan, ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. 

Perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga sarana refleksi diri bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari., keikhlasan, dan kepedulian sosial yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Idul Adha berakar pada kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Perintah tersebut merupakan ujian keimanan yang sangat berat. Dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, Nabi Ibrahim bersedia melaksanakan perintah tersebut.. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah As-Saffat [37]ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ 

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan sebagai bentuk rahmat-Nya. Dari kisah ini, dapat dipahami bahwa pengorbanan bukan hanya tentang kehilangan sesuatu yang berharga, tetapi tentang ketulusan hati dalam menjalankan perintah Allah.

Ayat tersebut menunjukkan betapa kuatnya keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nilai utama yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah keikhlasan dalam beribadah serta kesediaan untuk berkorban demi kebaikan yang lebih besar.

Peristiwa ini menjadi simbol ketundukan dan keikhlasan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Selain itu, Idul Adha juga menjadi momentum untuk memperkuat iman dan ketakwaan. Umat Muslim diajak untuk meneladani sifat sabar, ikhlas, dan tawakal yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan sehari-hari.

Salah satu amalan utama saat Idul Adha adalah pelaksanaan ibadah qurban. Hewan yang disembelih kemudian dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini mengajarkan nilai kepedulian sosial, berbagi rezeki, serta mempererat hubungan antar sesama manusia. 

Ibadah ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial terhadap sesama. Daging qurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu. Nilai pengorbanan juga tercermin dalam ibadah qurban yang dilakukan umat Islam saat Idul Adha. Hewan kurban yang disembelih kemudian dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada suatu amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu benar-benar telah sampai di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka berbahagialah kalian dengannya.” (HR. Tirmidzi no. 1493).

Hadits tersebut menegaskan pentingnya ibadah qurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sarana berbagi rezeki kepada orang lain. Dengan berqurban, umat Islam diajarkan untuk tidak terlalu mencintai harta benda dan lebih mengutamakan kepentingan bersama.

Selain itu, Idul Adha juga mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu berbentuk materi. Pengorbanan bisa berupa waktu, tenaga, dan usaha dalam membantu orang lain, serta kesediaan untuk menahan ego demi kebaikan bersama. Nilai-nilai ini sangat penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan penuh empati.

Di berbagai negara, termasuk Indonesia, Idul Adha dirayakan dengan penuh kebersamaan. Idul Adha menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan. Pelaksanaan salat Id secara berjamaah serta kegiatan gotong royong dalam penyembelihan dan pembagian daging qurban menciptakan suasana kebersamaan yang harmonis di tengah masyarakat.

Sebagai kesimpulan, Idul Adha mengandung pesan moral yang sangat kuat tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, Idul Adha bukan hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan hubungan sosial dalam Masyarakat sekaligus momen penting untuk memahami makna pengorbanan yang sesungguhnya.

Melalui teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, umat Islam diajak untuk menjadi pribadi yang ikhlas, sabar, dan peduli terhadap sesama. Dengan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan setiap individu dapat menjadi lebih baik dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Mau Kurban Tahun Ini? Ini Hal yang Wajib Kamu Tahu Biar Sah dan Berkah

Oleh: Fitriatun Nufus

Santriwati PPTQ Al Himmah Dau Malang Kelas 3 ‘Aliyah

Bismillah…

Gengs, Idul Adha 2026 udah di depan mata nih. Vibes-nya udah mulai kerasa suara takbir, bau kambing di masjid, sama status WA yang isinya “Mohon maaf lahir batin”. Tapi real talk deh, qurban itu bukan cuma FOMO tahunan atau konten motong sapi buat Instagram Story. Ini ibadah keren yang pahalanya gila-gilaan kalau kita lakuinnya bener.

Sayang banget kan kalau udah niat, udah nabung, eh ternyata nggak sah karena kita skip ilmunya? Jadi biar qurbanmu tahun ini nggak cuma sah tapi juga blessed maksimal, nih 4 hal wajib yang harus kamu tahu. Simak sampe habis, ya!

4 Hal Wajib Sebelum Qurban

1. Niatnya Benerin Dulu, Lillahi Ta’ala 

Qurban itu ibadah, bukan biar dipuji tetangga “Wih, sapinya gede banget”. Allah nggak butuh dagingnya, tapi ketakwaan kita yang dinilai. Dalilnya:

لنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ …

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (Q.S. Al-Hajj [22] : 37). 

Niatin karena Allah, bukan karena flexing. Pahala auto deres kalau niatnya lurus.

2. Umur dan Kondisi Hewannya Nggak Boleh Asal 

Jangan sampe niatnya qurban, tapi yang dibeli masih baby goat atau sapinya pincang. Ada aturannya, bestie. Ketentuannya:

Kambing atau domba: minimal 1 tahun, masuk tahun ke-2. Sapi atau kerbau minimal 2 tahun, masuk tahun ke-3.Unta minimal 5 tahun, masuk tahun ke-6.Nggak boleh buta, pincang parah, sakit jelas, atau kurus kering.

Dalilnya: Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلَعُهَا، وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

“Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: yang buta sebelah matanya yang jelas butanya, yang sakit yang jelas sakitnya, yang pincang yang jelas pincangnya, dan yang sangat kurus sampai tidak punya sumsum tulang.” (HR. Abu Dawud no. 2802).

Pilih hewan kurban tuh kayak pilih pasangan seumur hidup. Harus yang qualified, sehat walafiat, nggak cacat. Jangan asal comot.

3. Waktunya Udah Pas Belum? 

Nggak bisa kurban H-7 Lebaran ya. Ada slot time-nya. Waktunya Setelah shalat Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah sampai sebelum maghrib tanggal 13 Dzulhijjah. Total 4 hari. Dalilnya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Q.S. Al-Kautsar : 2). 

Nabi nyembelih setelah shalat Ied. Anak mudanya gini: Motong sebelum shalat Ied = zonk, jatuhnya sedekah biasa. Jadi set alarm ya, jangan kecepetan

4. Bagiin Dagingnya Gimana? 

Setelah disembelih, dagingnya bukan buat stok sekeluarga doang. Ada jatahnya. Aturannya sepertiga buat dimakan keluarga yang kurban. Sepertiga buat dihadiahkan ke tetangga atau teman. Sepertiga buat sedekah ke fakir miskin, dalilnya:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 36).

Prinsipnya sharing is caring. Jangan ditimbun di freezer semua. Kasih ke yang butuh biar berkahnya nyebar.

So, itu dia starter pack biar kurbanmu tahun ini sah dan berkahnya ngalir terus. Tapi btw, tau nggak sih kenapa kita disuruh kurban? Ini semua start dari kisah legend Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bayangin, Nabi Ibrahim nunggu anak 86 tahun. Pas udah punya, sayang banget, tiba-tiba Allah minta disembelih lewat mimpi. Disuruh ngorbanin anak sendiri.

Terus Nabi Ismail jawabnya gimana? Nggak ngambek, nggak kabur. Beliau malah bilang:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Nggak usah tuh ditanyain lagi imannya? Anak sekecil itu udah surrender total ke Allah. Pas pisaunya udah di leher, Allah ganti Ismail dengan domba gede dari surga.

Plot twist terbaik sepanjang masa. Nah, kita sekarang disuruh kurban kambing atau sapi doang. Nggak disuruh ngorbanin manusia. Masa iya masih mikir-mikir? Qurban itu ngajarin kita let go sama “Ismail-Ismail” versi kita harta yang kita sayang, ego, rasa malas, atau comfort zone.

Yuk, gas kurban tahun ini. Nggak harus sapi limosin kok, kambing satu ekor aja udah keren banget. Yang penting ikhlas, bukan flexing.

Remember: Kurban bukan tentang seberapa gede sapinya, tapi seberapa gede kamu nurut sama Allah kayak Nabi Ibrahim dan Ismail. Make it count, guys! Semoga Allah terima kurban kita semua. Aamiin. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Stay blessed, stay tawakal, anda keep the faith!

Di Era Serba Bebas, Gimana Caranya Tetap Menjaga Cinta karena Allah?

Oleh: Rika Arlianti DM

Di zaman sekarang, bicara soal cinta rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Scroll media sosial sedikit, isinya hubungan romantis. Nonton film, temanya cinta. Bahkan kadang ukuran “bahagia” seseorang diukur dari punya pasangan atau tidak.

Padahal, cinta sendiri sebenarnya adalah fitrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa cinta dalam hati manusia. Karena itu, mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika cinta membuat seseorang kehilangan arah, melupakan batas, bahkan menjauh dari Sang Pencipta.

Di era digital seperti sekarang, menjaga hati memang tidak mudah. Godaan datang dari mana saja. Chat tanpa batas, hubungan tanpa kejelasan, budaya pacaran bebas, sampai tren menunjukkan kemesraan di media sosial sering dianggap hal biasa. Akhirnya, banyak orang mengira bahwa semua yang mengatasnamakan cinta pasti benar.

Padahal Islam punya cara pandang yang sangat indah tentang cinta. Islam tidak melarang cinta, tetapi mengajarkan bagaimana cinta tetap suci dan tidak berubah menjadi jalan menuju dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Terjemahnya: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mende¬katinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan.

Menariknya, ayat di atas tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang “mendekatinya”. Artinya, segala hal yang bisa menyeret seseorang ke arah tersebut juga perlu dijaga. Termasuk hubungan yang terlalu bebas tanpa batas syariat.

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam dari Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: “Tiada suatu dosa pun sesudah mempersekutukan Allah yang lebih besar di sisi Allah daripada nutfah (air mani) seorang lelaki yang diletakkannya di dalam rahim yang tidak halal baginya”.

Ketika Cinta Jadi Segalanya

Salah satu masalah yang sering terjadi di kalangan remaja sekarang adalah “cinta buta”. Seseorang bisa terlalu larut dalam perasaan sampai lupa diri. Rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya demi mempertahankan seseorang.

Ada yang jadi malas ibadah karena sibuk memikirkan pasangan. Ada yang emosinya naik turun hanya karena chat tidak dibalas. Bahkan ada yang merasa hidupnya hancur ketika cintanya gagal.

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena hati manusia memang butuh tempat bergantung. Kalau hati tidak dipenuhi cinta kepada-Nya, maka hati akan mudah menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada manusia. Padahal manusia bisa berubah, pergi, bahkan mengecewakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa salah satu tanda manisnya iman adalah ketika seseorang lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dibanding apa pun yang lain.

Saat hati dekat dengan Sang Pencipta, seseorang tidak akan mudah diperbudak perasaan. Ia tetap bisa mencintai dengan sehat, tenang, dan sadar batas.

Media Sosial: Tempat yang Bisa Menjaga atau Menghancurkan Hati

Kalau dipikir-pikir, tantangan menjaga hati di zaman sekarang jauh lebih berat dibanding dulu. Dulu orang harus bertemu langsung. Sekarang cukup lewat layar.

Kadang awalnya cuma saling follow. Lalu jadi sering lihat story. Mulai chat. Muncul rasa nyaman. Lama-lama terjebak dalam hubungan yang tidak jelas.

Belum lagi konten-konten yang membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat pasangan romantis setiap hari bisa membuat seseorang merasa kesepian, buru-buru ingin punya hubungan, atau akhirnya mencari validasi lewat cinta.

Karena itu, menjaga pandangan di era digital menjadi sangat penting. Bukan hanya menjaga mata di dunia nyata, tetapi juga menjaga apa yang kita lihat di layar ponsel. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ

Terjemahnya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).

Ayat di atas merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan bagi mereka. Maka janganlah mereka melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat, dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan.

Jadi apabila pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, maka hendaklah dia memalingkan pandangan matanya dengan segera. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim di dalam hadis shahihnya dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba, lalu beliau memerintahkan kepadaku memalingkan pandanganku”.

Berdasarkan bahwa pandangan mata merupakan sumber bagi rusaknya hati, sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama Salaf, bahwa pandangan mata itu adalah panah beracun yang menembus hati. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjaga kemaluan, sebagaimana Dia memerintahkan untuk menjaga pandangan yang mengantarkan kepada hal itu. (Tafsir Ibnu Katsir).

Menjaga pandangan bukan berarti anti cinta atau anti teknologi. Justru itu cara agar hati tetap bersih dan tidak mudah terseret hawa nafsu.

Jangan Kosongkan Hati dan Waktu

Sering kali cinta yang berlebihan muncul karena seseorang terlalu kosong. Kosong hati, kosong aktivitas, kosong tujuan hidup.

Makanya, salah satu cara terbaik menjaga diri adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar, membangun mimpi, membantu orang tua, ikut kajian, membaca, olahraga, atau mengembangkan skill bisa membuat hidup lebih sehat secara emosional.

Orang yang punya tujuan hidup biasanya tidak mudah tenggelam dalam hubungan yang merusak.

Islam Punya Solusi: Pernikahan

Islam adalah agama yang realistis. Islam memahami bahwa manusia punya rasa cinta. Karena itu, Islam memberikan jalan yang halal dan mulia, yaitu pernikahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pernikahan bukan sekadar tentang romantis, tetapi tentang ibadah, tanggung jawab, dan membangun kehidupan bersama dengan cara yang diridai-Nya.

Cinta yang Membawa Dekat kepada Allah

Pada akhirnya, cinta yang baik bukan cinta yang membuat seseorang lalai ibadah, overthinking setiap malam, atau rela melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mempertahankan hubungan.

Cinta yang benar adalah cinta yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Lebih dekat kepada-Nya. Lebih menjaga diri. Lebih menghargai kehormatan dirinya.

Karena cinta sejati bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang menjaga hati agar tetap berada di jalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridai.

Referensi:
Kajian Ustadz Nuzul Dzikri: Cinta Buta Vs Cinta yang Rasional.
Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah: Mengundang Azab Allah Lewat Pacaran.

Solo Peace Convoy Gelar Aksi “Al Quds Memanggil”, Serukan Solidaritas untuk Palestina

SOLO (jurnalislam.com)— Solo Peace Convoy di bawah naungan Dewan Syariah Kota Surakarta menggelar aksi konvoi peduli Palestina di Kota Solo, pada Ahad, (3/5/2026).

Aksi yang mengusung tema “Al Quds Memanggil” ini diikuti berbagai elemen masyarakat Islam di Solo Raya. Ratusan peserta memadati ruas jalan kota dengan membawa bendera Palestina, spanduk dukungan, serta poster berisi pesan kemanusiaan dan perdamaian.

Konvoi dimulai dari depan Masjid Nurul Huda Manahan dan berakhir di kawasan Lapangan Sriwedari. Sepanjang perjalanan, peserta menyuarakan solidaritas serta mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina.

Koordinator aksi, Muhammad Alief Rifai, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu Palestina, khususnya terkait kondisi Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa.

“Melalui rute yang melintasi titik-titik strategis kota, peserta akan menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan, ajakan kepedulian, serta informasi yang mendorong solidaritas masyarakat,” ungkapnya

Selain itu, dalam aksi tersebut juga disampaikan duka atas gugurnya empat anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa konflik berkepanjangan terus menelan korban, termasuk para penjaga perdamaian.

“Kami mengajak seluruh masyarakat Solo dan sekitarnya untuk turut berpartisipasi dan menjadi bagian dari gerakan kepedulian ini,” harapnya.

Aksi konvoi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustadz Muzayyin. Para peserta berharap dukungan masyarakat terhadap Palestina terus menguat dan menjadi pesan moral bagi dunia internasional.

“Harapannya, dukungan dari berbagai daerah di Indonesia dapat menjadi pesan kuat bagi dunia untuk segera menghentikan kekerasan dan mewujudkan perdamaian,”pungkasnya.

Pengrajin Alkohol Bekonang Ikrar Hentikan Produksi Ciu, Fokus ke Industri dan Medis

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Puluhan pengrajin alkohol dari wilayah Bekonang dan sekitarnya mengikuti sarasehan di Kantor Kecamatan Mojolaban, Rabu (29/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, para pengrajin menyatakan komitmen bersama untuk tidak lagi memproduksi minuman keras (miras) jenis ciu.

Kegiatan yang dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta menghadirkan Ustadz Sholeh Ahmad ini menjadi momentum penting dalam upaya menekan peredaran miras di wilayah Sukoharjo.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan ikrar oleh perwakilan pengrajin. Mereka sepakat mengalihkan produksi alkohol hanya untuk kebutuhan medis dan industri, serta tidak lagi mengolahnya menjadi minuman keras.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Sholeh Ahmad menekankan pentingnya menjalankan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan dan tidak melanggar aturan.

“Kita semua saudara, harus saling bersinergi. Meski profesi kita berbeda-beda, tujuannya satu: membangun Sukoharjo yang lebih maju dan bermartabat. Ikrar hari ini adalah bukti komitmen kita bersama,” ujar Ustadz Sholeh Ahmad saat ditemui usai acara.

Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menyadarkan para produsen agar tidak lagi memproduksi ciu yang selama ini menjadi persoalan sosial di masyarakat.

“Kedepan kita juga akan menggandeng pemerintah kabupaten Sukoharjo dalam hal pengawasan dan pembinaan. Sehingga para perajin bisa fokus dalam bekerja sesuai izin yang ada yaitu memproduksi alkohol dan etanol,” pungkasnya.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Para pengrajin berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, khususnya dalam pengembangan produk turunan alkohol non-konsumsi, sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa melanggar hukum.

Daycare Tak Aman, Jalan Pulang Mengancam: Dilema Working Mom

Oleh: Rika Arlianti DM

Setiap pagi, ada jutaan ibu di Indonesia yang melakukan satu hal yang sama, yakni menelan rasa bersalah.

Mereka meninggalkan anaknya di rumah, di tangan pengasuh, atau di daycare dengan satu doa yang berulang, “Ya Allah, jaga anakku saat aku tidak ada”.

Namun pertanyaannya hari ini menjadi jauh lebih menakutkan. Apakah doa itu sedang menggantikan fungsi sistem yang seharusnya bekerja?

Kasus kekerasan di daycare yang kembali viral bukanlah kejadian tunggal. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menegaskan bahwa kekerasan di daycare terjadi berulang dan membutuhkan evaluasi nasional menyeluruh.

Sepanjang tahun 2024 saja, KPAI menerima 2.057 pengaduan kasus terkait anak, angka yang menunjukkan bahwa ancaman terhadap anak bukan sesuatu yang sporadis, tapi sistemik. Bahkan pada 2025, tercatat sekitar 2.031 kasus kekerasan terhadap anak, dengan lebih dari 51% korban adalah anak perempuan.

Artinya, setiap hari ada anak yang terluka, dan sebagian dari mereka adalah anak-anak yang dititipkan karena orang tuanya bekerja.

Sebagai ibu bekerja, saya membaca angka-angka ini bukan sebagai statistik, tapi sebagai kemungkinan. Kemungkinan bahwa anak saya bisa menjadi salah satu dari angka itu.

Lalu kita beralih ke sisi lain dari realitas, di mana ibu-ibu yang berangkat bekerja. Data Kementerian PPPA menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia pada 2024 mencapai 56,42%.

Di kota-kota besar, bahkan angkanya bisa lebih tinggi sekitar 55% perempuan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Dengan kata lain, lebih dari separuh perempuan dewasa di negeri ini hidup dalam ritme yang sama. Pergi pagi, pulang sore, meninggalkan anak demi bertahan hidup.

Namun ironinya, semakin banyak ibu bekerja, semakin besar pula ruang risiko yang mereka hadapi, dan sistem belum bergerak secepat itu untuk melindungi mereka.

Kecelakaan kereta di Bekasi menjadi pukulan kedua. Gerbong wanita bukan sekadar ruang transportasi. Ia adalah ruang harapan. Di dalamnya ada ibu-ibu yang sedang menghitung waktu untuk pulang. Ada yang membawa janji, “Mama sebentar lagi sampai”.

Namun realitas berkata lain, perjalanan pulang tidak selalu berujung pelukan.

Di titik ini, menjadi ibu bekerja di Indonesia terasa seperti hidup di antara dua ketidakpastian.
1. Saat pergi, kita cemas meninggalkan anak di sistem yang belum sepenuhnya aman;
2. Saat pulang, kita menghadapi risiko di perjalanan yang juga tidak sepenuhnya terjamin.

Ini bukan sekadar beban emosional. Ini adalah beban struktural yang dipikul oleh perempuan sendirian.

Negara sering merayakan “perempuan tangguh”. Tapi jarang bertanya, mengapa mereka harus setangguh itu untuk sekadar hidup normal?

Dalam Islam, menjaga anak bukan hanya urusan keluarga, ia adalah amanah sosial.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ

Terjemahnya: “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Maka ketika sistem gagal melindungi dan gagal memastikan keselamatan di transportasi publik, ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan kelalaian amanah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan dalam Quran Surah Al-Maidah ayat 32 bahwa menjaga satu kehidupan sama seperti menjaga seluruh manusia.

Namun hari ini, kita seperti terbiasa dengan berita kehilangan. Kita berduka. Kita marah. Lalu kita lupa.

Benar, takdir tidak pernah salah alamat. Jika sesuatu memang harus terjadi, ia akan menemukan jalannya. Karenanya, kita sering berlindung di balik kata takdir, seolah itu alasan untuk berhenti berbenah. Padahal takdir tidak pernah memerintahkan kita untuk abai.

Jika kecelakaan terjadi karena sistem yang lalai, jika anak terluka karena pengawasan yang lemah, maka itu bukan semata takdir, tapi hasil dari sesuatu yang dibiarkan.

Kita tidak bisa menghindari semua kemungkinan buruk, tapi kita bisa memastikan untuk tidak ikut membuka jalannya. Karena yang dipertanyakan kelak bukan hanya apa yang terjadi, tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mencegahnya.

Sejatinya, kita tidak kekurangan ibu yang kuat. Kita sedang kekurangan sistem yang serius.

Jika lebih dari setengah perempuan Indonesia bekerja, maka daycare bukan lagi pilihan tambahan, tapi kebutuhan utama, dan transportasi publik bukan lagi fasilitas, melainkan tulang punggung kehidupan. Keduanya harus aman, tanpa kompromi.

Sebagai ibu bekerja, saya tidak meminta kemewahan. Saya hanya meminta sesuatu yang seharusnya menjadi hak paling dasar. Tempat yang aman untuk anak saat saya bekerja, dan jalan yang aman agar bisa pulang memeluknya.

Karena bagi seorang ibu, dunia ini sederhana: Pergi dengan doa, dan pulang dengan selamat.

Jika itu saja belum bisa dijamin, maka yang perlu dipertanyakan bukan ketangguhan ibu, melainkan keseriusan kita dalam menjaga kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab.

Komitmen Menjaga Moral Masyarakat, Aktivis Islam Tasik Selatan Musnahkan Minuman Keras

TASIKMALAYA (jurnalislam.com)- Dalam upaya menjaga ketertiban masyarakat serta melindungi generasi dari dampak negatif minuman keras, sejumlah aktivis Islam yang tergabung dalam Aktivis Islam Tasik Selatan melaksanakan kegiatan pemusnahan minuman keras (miras) hasil razia gabungan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya pada Senin, (27/4/2026).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari operasi lapangan yang dilakukan secara terpadu di beberapa titik wilayah Tasik Selatan yang diduga menjadi lokasi peredaran miras ilegal. Dari hasil razia tersebut, petugas berhasil mengamankan berbagai jenis minuman keras yang tidak memiliki izin edar dan berpotensi merusak moral masyarakat.

Pemusnahan dilakukan secara terbuka sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat, sekaligus menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah, kepolisian, dan seluruh elemen masyarakat dalam memberantas peredaran miras. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi simbol keseriusan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan kondusif.

Perwakilan Aktivis Islam Tasik Selatan, Evan Abu Jibril, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar penertiban, melainkan juga bagian dari dakwah sosial untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya miras, baik dari sisi kesehatan, keamanan, maupun nilai-nilai agama.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga diri dan lingkungan dari pengaruh negatif miras. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Kedepan, Aktivis Islam Tasik Selatan berkomitmen untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik, serta mendukung upaya-upaya preventif dan edukatif di tengah masyarakat.

Memahami Dunia Anak Usia Dini Kunci Penting dalam Psikologi Perkembangan dan Pertumbuhan

Oleh: Siska Afrianti
Mahasiswi PIAUD Semester 2 STAI Putra Galuh Ciamis

Anak usia dini sering disebut sebagai golden age atau masa emas dalam kehidupan manusia. Pada periode ini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, sosial-emosional, maupun bahasa. Oleh karena itu, memahami psikologi perkembangan anak usia dini menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi pendidik dan orang tua.

Secara umum, pertumbuhan merujuk pada perubahan fisik yang dapat diukur, seperti tinggi badan, berat badan, dan perkembangan organ tubuh. Sementara itu, perkembangan mencakup perubahan kemampuan dan fungsi yang lebih kompleks, seperti kemampuan berpikir, berbicara, serta berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam perspektif psikologi, anak usia dini berada pada tahap eksplorasi aktif. Mereka belajar melalui pengalaman langsung, bermain, serta interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Misalnya, seorang anak yang bermain balok tidak hanya sekadar menyusun, tetapi juga sedang mengembangkan kemampuan motorik halus, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Salah satu aspek penting dalam perkembangan anak adalah perkembangan kognitif. Pada tahap ini, anak mulai mengenal simbol, bahasa, dan konsep sederhana. Mereka juga mulai memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sering bertanya “mengapa” terhadap berbagai hal. Ini menunjukkan bahwa proses berpikir mereka sedang berkembang dengan pesat.

Selain itu, perkembangan sosial-emosional juga tidak kalah penting. Anak belajar mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta mulai membangun hubungan sosial. Lingkungan yang hangat dan responsif akan membantu anak merasa aman, sehingga mereka lebih percaya diri dalam bereksplorasi.

Peran orang tua dan pendidik sangat besar dalam mendukung proses ini. Stimulasi yang tepat, seperti memberikan kesempatan bermain yang edukatif, komunikasi yang positif, serta kasih sayang yang konsisten, akan membantu mengoptimalkan perkembangan anak. Sebaliknya, kurangnya perhatian atau stimulasi dapat menghambat potensi perkembangan mereka.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PIAUD), pemahaman tentang psikologi perkembangan menjadi landasan utama dalam merancang pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang memahami kebutuhan dan karakteristik setiap anak.

Kesimpulannya, memahami psikologi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini bukan hanya penting bagi akademisi, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibatnya dalam kehidupan anak. Dengan pemahaman yang baik, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga mereka dapat berkembang menjadi individu yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Rayakan Milad ke-29, FLP Luncurkan Gerakan Nasional Literasi Berdaya

PEKANBARU (jurnalislam.com)- Momentum bersejarah kembali tercipta di dunia literasi Indonesia. Merayakan hari jadinya yang ke-29, Forum Lingkar Pena (FLP) resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk ‘Gerakan Nasional Literasi Berdaya’. Sebagai bentuk apresiasi terhadap geliat budaya di Bumi Lancang Kuning, Kota Pekanbaru secara resmi terpilih menjadi tuan rumah perayaan nasional tahun 2026.

Acara yang diselenggarakan selama tiga hari ini, Jumat-Ahad (24-26 April 2026) ini menjadi aksi serentak yang melibatkan seluruh simpul organisasi di tingkat wilayah hingga ranting sepanjang bulan April, guna memperkuat fondasi literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Inovasi Literasi Melalui Aksi Sosial

Milad kali ini tidak hanya dirayakan dengan seremoni, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan. FLP membuka peluang kepada para penulis dari seluruh daerah di Indonesia mengikuti kegiatan Residensi Penulis dengan latar Bumi melayu Pekanbaru. FLP juga memperkenalkan program Donasi Buku ke Ojol dan Kafe sebagai upaya mendekatkan buku kepada masyarakat di ruang-ruang publik.

Donasi Buku ke Ojol dilaksanakan di Kawasan Purna MTQ Pekanbaru, program ini menyasar pengemudi ojek online agar tetap bisa mengakses bacaan berkualitas di sela waktu kerja mereka. Proses donasi dibantu oleh para penulis residensi FLP yang lolos dari berbagai daerah di Indonesia.

Kolaborasi dan Sinergi Nasional

Selain aksi donasi, Gerakan Nasional ini juga mendorong seluruh struktur pengurus FLP untuk aktif melakukan kunjungan silaturahmi dan kolaborasi dengan berbagai tokoh serta instansi terkait. Hal ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem literasi yang lebih profesional dan berkelanjutan di tingkat pusat maupun daerah.

“Khusus untuk wilayah Pekanbaru, sebelumnya kami sudah melakukan kunjungan ke beberapa tokoh. Silaturrahim ke Balai Bahasa, Dinas Perpustakaan Wilayah, Bunda Literasi dan silaturrahim kepada petinggi pemerintah kota Pekanbaru,” papar Nafi’ah Al-Ma’rab, Ketua Umum FLP di sela-sela kesibukannya.

Estafet kebermanfaatan berlanjut. Usai menyukseskan aksi donasi buku kepada para pengemudi ojol, FLP kembali menggebrak dengan menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Bahasa Melayu sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia’. Forum ilmiah ini menghadirkan jajaran pakar dan tokoh terkemuka yang mengupas tuntas peran krusial Bahasa Melayu Riau sebagai fondasi pemersatu bangsa.

Tak berhenti di situ, semarak Milad ke-29 ini ditutup dengan agenda City Tour yang mempertemukan para penulis residensi terpilih dari berbagai penjuru nusantara mulai dari Makassar, Probolinggo, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, hingga Padang untuk menyelami kekayaan sejarah di Bumi Lancang Kuning.

Harapan untuk Indonesia Cerdas

Dalam pesannya, Ketua Umum FLP, Nafi’ah Alma’rab menyampaikan bahwa gerakan ini adalah bentuk komitmen organisasi untuk terus berkontribusi bagi bangsa.

“Melalui gerakan ini, Forum Lingkar Pena berharap Indonesia semakin cerdas dan semakin dekat dengan budaya baca yang baik. Selamat melaksanakan Gerakan Nasional untuk seluruh anggota FLP di mana pun Anda berada,” ujarnya.

Dengan semangat Milad ke-29, FLP terus berupaya membuktikan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas menulis dan membaca, melainkan sebuah gerakan pemberdayaan yang mampu menjangkau seluruh segmen dan kalangan masyarakat.

Mediasi Warung Mie Babi di Parangjoro Sukoharjo Belum Temui Titik Temu

SUKOHARJO (jurnalislam.com)— Proses mediasi antara warga Desa Parangjoro dan pengelola warung mi babi masih belum menghasilkan kesepakatan. Dialog yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo tersebut berlangsung guna meredam keresahan masyarakat terkait keberadaan usaha yang menjual menu nonhalal di lingkungan setempat.

Warga RW 10 Desa Parangjoro yang mayoritas beragama Islam menyampaikan keberatan atas penjualan makanan nonhalal secara terbuka. Namun, mereka menegaskan tidak bermaksud menghalangi aktivitas usaha, melainkan meminta adanya penyesuaian dengan norma lingkungan.

Ketua RW 10, Bandowi, menyampaikan bahwa warga mengedepankan pendekatan persuasif dalam menyampaikan aspirasi.

“Pada prinsipnya, kami warga yang mayoritas muslim tidak ingin mengganggu orang lain yang sedang berusaha. Prinsipnya sederhana, silakan berbisnis, tetapi yang penting halal saja. Makanan yang halal masih banyak,” ujarnya usai melakukan audensi, Senin, (21/4/2026).

Ia menambahkan, apabila permintaan tersebut tidak direspons dan tetap menimbulkan ketidaknyamanan, warga akan meminta pemerintah daerah untuk meninjau ulang perizinan usaha tersebut.

“Kalau memang hal itu dirasa memberatkan dan tetap mengganggu, kami memohon agar izinnya dicabut. Kami meminta pemerintah untuk mengkaji ulang perizinan tersebut karena selama ini telah menimbulkan keresahan di kalangan warga muslim,” tambahnya.

Warga berharap pihak pengelola warung dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka menjalankan usaha. Mengutip peribahasa, Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung, warga meminta pengelola agar bersikap tenggang rasa.

“Harapan kami, Jodi mau mengerti perasaan warga. Seperti pepatah, Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung. Mohon bisa menyesuaikan diri dengan kami. Kami tidak akan menuntut yang macam-macam, permintaan kami cuma satu, menu nonhalalnya dihilangkan,” tegas perwakilan warga.

Sebagai solusi, warga menyatakan siap mendukung usaha tersebut apabila pengelola bersedia mengubah konsep menjadi sepenuhnya halal.

“Silakan berjualan di sini, akan kami bantu. Kalau menjual makanan halal seperti mi ayam atau bakso, kami justru akan membeli dan meramaikan,” ungkap perwakilan warga.

Warga juga berharap penyelesaian dapat dilakukan dalam waktu dekat, meski tetap menunggu arahan dari pemerintah daerah.
Di sisi lain, kuasa hukum pemilik usaha, Cucuk Kustiyawan, menyatakan pihaknya menghargai proses mediasi, namun belum dapat langsung memenuhi permintaan warga.

“Kami masih membutuhkan waktu untuk mengkalkulasi berbagai aspek, terutama terkait perubahan jenis usaha yang tidak bisa dilakukan secara instan,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Sukoharjo, Teguh Pramono, menyampaikan bahwa pemerintah berupaya memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak.

“Kami memberikan waktu kepada kedua pihak. Warga mengusulkan penghapusan menu non-halal, sementara pemilik usaha meminta waktu untuk mempertimbangkan. Harapannya ada titik temu,” jelasnya.

Mediasi lanjutan direncanakan akan dilakukan setelah pihak pemilik usaha menyampaikan keputusan resmi. Hingga saat ini, belum ada kepastian waktu terkait penyelesaian persoalan tersebut.