Belajar yang Tak Kunjung Kita Mulai

Oleh : Ustadz Abu Izzudin Fuad Al Hazimi

Ternyata sangat banyak hal yang kita masih harus terus belajar dan belajar. Belajar memaafkan, belajar mawas diri, lapang dada, itsar, memulyakan saudara, tidak merasa paling baik dan paling benar, belajar untuk selalu merasa kurang ilmu, belajar menyelaraskan kata dengan perbuatan, ucapan dengan tindakan dan ilmu dengan amal. Belajar berkorban, belajar istiqomah, belajar qona’ah, belajar sabar, belajar ridho, belajar ikhlash, belajar tawadhu’, amanah, husnuzhon. Belajar menjauhi su’uzhon, iri, dengki, tamak, sombong, tinggi hati, riya’ dan masih banyak lagi yang kita masih wajib untuk belajar. Pada akhirnya kita tersadar bahwa kita memang sudah mulai belajar ilmu sejak masih kanak-kanak namun sebenarnya kita tak kunjung memulai belajar yang sesungguhnya karena kita melupakan adab atau akhlak, sesuatu yang tak boleh dipisahkan dari ilmu, bahkan karenanya lah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam diutus

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم لأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Oleh karena itulah para ulama salaf lebih mendahulukan adab dibanding ilmu dan mereka amat sangat menjaga adab Islami dalam pikiran, ucapan serta perbuatan mereka. Berikut beberapa nasehat mereka

Imam Ibnul Mubarak berkata :

تعلمت الأدب ثلاثين سنة، وتعلمت العلم عشرين سنة

“Aku belajar adab selama tigapuluh tahun, aku belajar ilmu selama duapuluh tahun”

Seorang ulama Salaf menasehati anaknya :

يا بنى لأن تتعلم بابا من الأدب أحب إلى من أن تتعلم سبعين بابا من أبواب العلم

“Wahai anakku, aku lebih suka melihatmu mempelajari satu bab tentang adab dibanding mempelajari tujuh puluh bab tentang ilmu”

Al Mikhlad bin Husain berkata kepada Imam Ibnul Mubarak :

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث

“Kita jauh lebih membutuhkan banyaknya adab dibanding banyaknya hadits”

Imam Syafi’i berkata :

ليس العلم بما حفظ العلم ما نفع

“Ilmu bukanlah diukur dengan apa yang telah dihafal oleh seseorang, tetapi diukur dengan apa yang bermanfaat bagi dirinya”

Diriwayatkan dari Musa bin Nushair, beliau berkata :
“Aku mendengar Isa bin Hammad menasehati para pelajar ilmu hadits :

تعلموا الحلم قبل العلم

“Pelajarilah kelembutan hati dan kerendahan jiwa sebelum kalian belajar ilmu”

Imam Ibnu Wahab berkata :

ما تعلمت من أدب مالك أفضل من علمه

“Aku lebih mengutamakan belajar adab kepada Imam Malik dibanding belajar ilmu darinya”

Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) berkata :

الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلى من كثير من الفقه لأنها آداب القوم وأخلاقهم

“Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalm majlis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka”

Imam Ibnul Mubarak menyusun sebuah syair

أيها الطالب علما ائت حماد بن زيد
فاقتبس علما وحلما ثم قيده بقيد

Wahai para penuntut ilmu, datanglah kepada Imam Hammad bin Zaid
Dan belajarlah ilmu dan kelembutan hati lalu ikatlah dengan pengikat yang kuat

Semua ini disampaikan oleh para ulama salaf di zaman di mana umat manusia masih sangat dekat dengan ulama dan ahlul ilmi yang menjaga adab dan ilmu mereka, bagaimana dengan zaman akhir yang sudah sangat minim ahlul ilmi sedangkan kemungkaran dan kebodohan telah merajalela ?

Singkat kata :

Kita memang sudah sering belajar tentang sabar, namun kita ternyata masih belum sungguh-sungguh belajar sabar.

Kita memang sudah sering belajar tentang tawadhu’, namun kita ternyata masih belum sungguh-sungguh belajar tawadhu’

dan seterusnya dan seterusnya.

Last but not least, jika saat membaca tulisan pendek ini yang terbayang dalam pikiran kita adalah saudara atau teman kita, bukan karena kita ingin meneladani akhlaknya namun karena kita merasa bahwa nasehat ini sepantasnya untuknya bukan untuk kita, maka sebenarnya kita masih belum kunjung mulai belajar.

Wallohu A’lam