600 Pekerja China Masuk Islam di Arab Saudi

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Bekerja selama berbulan-bulan di  "Holy Ritual Train", 600 pekerja China masuk Islam, setelah diperkenalkan dengan ajaran Islam oleh ulama Islam di kota paling suci bagi umat Islam, Makkah.

Sumber media mengungkapkan bahwa para ulama menyiapkan rencana harian di malam hari, ketika mereka menawarkan 12 jam kursus intensif tentang Islam. Program ini dihadiri oleh Muslim China, yang baru-baru ini memeluk Islam, untuk mendukung upaya para ulama.

Para ulama juga menyebarkan buku saku memperkenalkan Islam dalam bahasa China, juga menunjukkan ajaran sejati Islam. Sebelum diluncurkan, program ini awalnya termasuk mengundang insinyur dan pemimpin tim untuk masuk Islam melalui kunjungan khusus dan pertemuan selama sebulan.

Berita itu menyusul laporan sebelumnya Januari lalu ketika 500 warga China kembali ke Islam setelah tersentuh oleh "kesederhanaan" pemakaman almarhum Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Proyek, "Holy Ritual Train", menghubungkan Makkah dengan tempat suci di Mina, Arafah dan Muzdalifah.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

India Akan Memiliki Populasi Muslim Terbesar di Dunia, Ini Penyebabnya

INDIA (Jurnalislam.com) – Pada suatu titik di tahun 2020-an, India akan menjadi rumah bagi lebih banyak Muslim dibanding negara lain di dunia.

Sebuah studi yang dirilis minggu lalu oleh Pew Research Center memprediksi bahwa pada tahun 2050, penduduk Islam dunia akan cukup meningkat sehingga Muslim akan hampir sama banyaknya dengan jumlah orang Kristen, mungkin merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah.

Data laporan menunjukkan populasi Muslim India berencana untuk berkembang pada tingkat yang cukup cepat sehingga negara di Asia Selatan itu akan mengambil alih posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar antara tahun 2020 dan 2030.
"Umat Islam di Indonesia memiliki anak lebih sedikit, sehingga India diprediksi melampaui Indonesia dan menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia," kata laporan itu.

Hindu di India akan terus meningkat jauh melebihi jumlah Muslim. Tapi porsi penduduk Muslim akan naik, menurut Pew, menjadi sekitar 18% pada tahun 2050 dari sekitar 15% hari ini.

Selama periode yang sama, penduduk Hindu India kemungkinan akan tergelincir dari 80% saat ini menjadi sekitar 77% pada tahun 2050.

Menurut Pew, antara tahun 2010 dan 2050, India akan menambah sekitar 325 juta orang Hindu dan 100 juta Muslim. Jumlah tersebut akan mewakili tingkat pertumbuhan sekitar 33% untuk India Hindu dan 57% bagi umat Islam.

Di banyak negara di seluruh dunia, migrasi dan konversi menimbulkan perubahan dalam percampuran agama. Di India pertumbuhan minoritas Muslim terutama disebabkan oleh tingkat kesuburan.
Di India, tingkat kesuburan rata-rata bagi umat Islam adalah 3,2. Itu berarti wanita Muslim rata-rata diperkirakan akan memiliki setidaknya tiga anak dalam hidupnya. Hindu di India memiliki tingkat kesuburan 2,4, sedangkan tingkat kesuburan Kristen 2,3.

Deddy | The Wall Street  Journal | Jurniscom

 

Komite Islam Pattani Tengah Gugat Pasukan Keamanan Thailand Atas Terbunuhnya 4 Orang Muslim di Desa Chud

BANGKOK (Jurnalislam.com) – Empat pria Muslim yang dibunuh oleh pasukan keamanan Thailand dalam serangan bulan lalu tidak memiliki keterkaitan dengan kelompok bersenjata  yang beroperasi di wilayah selatan negara itu, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh komite investigasi Selasa (07/04/2015).

Militer mengatakan bahwa mereka meluncurkan aksi pada 25 Maret setelah informan memperingatkan akan datang serangan ke desa Chud, provinsi Pattani. Sedangkan polisi mengaku mereka melepaskan tembakan setelah ditembak saat mendekati kelompok.

Dua orang tewas, yang berusia sekitar 23 dan 32 tahun, diduga terkait dengan Rundan Kumpulan Kecil (RKK) – salah satu kelompok perlawanan yang paling aktif di selatan.

Waedueramae Mamingi, ketua Komite Islam Pattani Tengah yang memimpin komite investigasi, meragukan keterangan militer tersebut.

"Komite menyimpulkan bahwa keempat almarhum bukanlah kaum militan dan bukan juga anggota dari kelompok militan," katanya kepada kantor berita Isra pada hari Selasa.

Dia mengatakan tidak ada "bukti jelas" yang menghubungkan mereka yang tewas dengan senapan otomatis yang dilaporkan ditemukan di dekat tubuh mereka, dan juga menyatakan keraguan tentang "keterangan lain tentang serangan itu."

Komite beranggotakan 15 orang, yang terdiri dari pejabat pemerintah, perwakilan militer dan pemimpin agama, merekomendasikan bahwa petugas yang terlibat dalam serangan itu akan dituntut dan keluarga korban memperoleh kompensasi finansial.

Tujuh tentara yang terlibat dalam serangan akan dimintai pertanggungjawabannya "pada pertengahan April," situs berita Khaosod mengutip polisi mengatakan. Kelompok ini tidak melapor ke polisi untuk panggilan pertama mereka pekan lalu.

Panitia telah dibentuk setelah orang tua korban dan tokoh masyarakat sangat tidak setuju dengan keterangan militer mengenai kejadian tersebut. Hasil investigasi direncanakan akan dirilis Jumat lalu, tetapi ditunda karena terdapat "perdebatan internal dan poin bertentangan," menurut Mamingi.

Pada waktu lalu, warga sipil Muslim telah dibunuh oleh militer, polisi atau pasukan paramiliter secara brutal.

September lalu, seorang tentara menembak dan membunuh seorang remaja 14 tahun yang sedang mengendarai sepeda motornya di provinsi Narathiwat. Tentara tersebut kemudian menempatkan pistol di tangan anak itu dan mengklaim bahwa ia adalah seorang pemberontak.

Penyelidikan polisi menyimpulkan bahwa relawan militer itu telah mencoba untuk menutupi pembunuhan dan ia didakwa dengan pembunuhan.

Tiga provinsi Thailand selatan – Pattani, Yala dan Narathiwat – menegakkan sebuah kesultanan Islam yang merdeka dengan pengaruh agama besar di dunia Muslim Asia Tenggara sampai akhirnya mereka dimasukkan ke Siam setelah perjanjian Anglo-Siamese tahun 1909.

Inggris kemudian menjadi master kolonial di Malaysia dan mengontrol wilayah tersebut.

Dari tahun 1938, kampanye nasionalis licik yang diselenggarakan oleh pemerintah Field Marshall Phibulsongkhram mencoba untuk memaksakan norma-norma budaya Thai kepada Muslim Melayu, yang menolak dengan meminta beberapa hak otonomi politik dan budaya.

Namun, keadaan berubah menjadi buruk di tahun 1960-an, ketika diktator militer Field Marshall Tarit Sanarat berusaha untuk mengendalikan pesantren, yang dikenal sebagai pondok.

Beberapa kelompok Muslim mengangkat senjata dan memulai perang gerilya melawan pemerintah Thailand.

Situasi berlangsung tenang di akhir 1980-an dan "masalah Selatan" dianggap selesai. Namun, pada bulan Januari 2004, sebuah gelombang serangan baru terhadap militer, polisi dan para biksu Buddha mengguncang pemerintah Thailand.

Sejak itu, kekerasan terus berlanjut, dengan klaim lebih dari 6.000 orang tewas, baik dari kelompok Buddha atau Muslim. Kekerasan juga telah menyebabkan sekitar 11.000 orang cedera.

Pemerintahan mantan PM Yingluck Shinawatra pada tahun 2013 memulai kembali dialog perdamaian dengan pejuang Muslim, tetapi pemerintahan itu digulingkan dalam kudeta Mei lalu.

Setelah kudeta 22 Mei lalu, junta Thailand mengumumkan keinginannya untuk melanjutkan dialog resmi. Namun beberapa kelompok pejuang Muslim enggan untuk bergabung karena tidak akan ada agenda pembicaraan otonomi politik.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Pasukan Musuh Tinggalkan 18 Pos di Sangin, Ratusan Ulama dan Tetua Suku di Pusht Rod Dukung Imarah Islam Afghanistan

Helmand (Jurnalislam.com) – Laporan dari daerah Sarwan Kala Kabupaten Sangin mengatakan bahwa Mujahidin menyerang tentara bayaran di jalan Kajaki di daerah Charda, menewaskan 3 orang bersenjata, melukai 2 lainnya dan merebut senapan, Selasa (07/04/2015).

Laporan menambahkan bahwa sekitar pukul 10:00 malam yang sama, pasukan komando bayaran pengecut meninggalkan 3 pos pemeriksaan di daerah Pan Kili sementara sekitar satu jam kemudian, polisi bayaran, tentara ANA dan milisi Arbaki melarikan diri dan meninggalkan 15 pos pemeriksaan di wilayah Sarwan Kala.

Musuh yang mundur membuka wilayah luas sehingga memudahkan pergerakan Mujahidin, pejabat mengatakan dan menambahkan bahwa peralatan yang ditinggalkan oleh orang-orang bersenjata juga disita.

Senin malam juga sekitar pukul 08:30, seorang tentara ANA dan konvoi komando menuju kabupaten Gerishk dicegat oleh Mujahidin di daerah Tarmi. Kendaraan APC juga dihancurkan dengan ledakan taktis, menewaskan 5 orang bersenjata yang sedang berada di dalamnya.

Sedangkan di Farah Para pejabat melaporkan bahwa ribuan penduduk setempat di ibukota Farah, kabupaten Khak-e-Safid, Bala Baluk, Anar Dara, Pusht Koh dan Sheb Koh termasuk ratusan ulama, tokoh dan tetua suku mengadakan pertemuan di kabupaten Pusht Rod pukul 8:00 kemarin pagi .

Pertemuan tersebut dimulai dengan beberapa ayat Al-Qur'an diikuti khotbah singkat oleh setiap ulama, pemimpin spiritual dan suku tentang kewajiban/pentingnya/manfaat Jihad, mengikuti perintah dari pemimpin, kebenaran Imarah Islam dan cinta/pengorbanan bangsa Afghanistan untuk agama Islam.

Pertemuan tersebut berakhir pada pukul 1:00 di sore hari dengan semua peserta sekali lagi mengulangi dukungan lengkap mereka untuk Imarah Islam Afghanistan dan mengingkari rezim antek barat (Amerika Serikat), sementara pejabat Imarah Islam mengucapkan terima kasih kepada para ulama, pemimpin spiritual, tokoh dan tetua suku dan memuji kecintaan alami mereka untuk Islam sebelum menutup dengan doa untuk para syuhada, kemakmuran bangsa Afghanistan dan kemenangan Imarah Islam Afghanistan.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Perkembangan Terkini Kamp Pengungsi Palestina di Yarmuk, Suriah

YARMUK (Jurnalislam.com) –  Hari ke 6 Bentrokan senjata terus berlanjut di kamp Yarmuk, Damaskus antara Brigade Aknaf Baitul Makdis dan Pemuda Kamp Yarmuk di satu pihak dengan Islamic State (IS) di pihak lain, dilansir Infopalestina (07/04/2015).

Gempuran terus menerpa kamp Yarmuk, di samping bertambahnya korban di kalangan pengungsi Palestina sejak masuknya IS, sudah 4 pengungsi gugur akibat bentrokan di Yarmuk.

Berikut ringkasan peristiwa terkini di Yarmuk:

–      Kolonel Khalid Hasan gugur saat menghadang serangan kelompok IS  ke kamp Yarmuk. Beliau bersama sejumlah pejuang pemuda sebelumnya membentuk kelompok perlawanan. Dalam bentrokan tersebut juga gugur Muhammad Ibrahim, dan Amir Rashid saat menghadang gempuran IS.

–      Bentrokan senjata terus berlanjut secara sporadis antara Brigade Aknaf Baitul Maqdis dan IS yang menyerbu kamp Yarmuk sejak beberapa hari lalu, sampai saat ini IS masih menguasai 80 % area kamp Yarmuk.

–      Kondisi kemanusiaan makin memburuk, terutama di sektor medis. Tak ada tindakan medis bagi puluhan korban luka di kamp Yarmuk, karena ketiadaan obat-obatan dan perlengkapan medis.

–      Sebanyak 975 keluarga mengungsi meninggalkan kamp Yarmuk, saat ini mereka berada di kota Bet Saham, dekat Yarmuk.

–      Serangan gencar terus menimpa kamp Yarmuk, bersamaan tibanya delegasi PLO ke ibukota Suriah, Damaskus.

–      LSM Palestina-Suriah mendesak segenap pihak yang tengah bertempur untuk melakukan gencatan senjata demi alasan kemanusiaan, dan membuka saluran kemanusiaan bagi rakyat sipil dengan jaminan internasional dan pengawasan Palang Merah Internasional dan UNRWA.

–      Pusat Hak Kembali Palestina di London menyerukan untuk memberikan perlindungan bagi pengungsi Palestina.

–      Lembaga HAM Syahid merilis laporan tentang kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di Yarmuk.

–      Liga Arab diminta untuk melindungi kamp Yarmuk dan pemukiman Palestina lainnya di Suriah.

–      Aksi Solidaritas berlangsung di Al-Quds, Gaza, Nablus, Kamp Nahrul Barid Libanon, Berlin, Malmo Swedia meminta pihak internasional agar segera bergerak menyelamatkan warga kamp Yarmuk.

–      Data terakhir menyebutkan; 17 pengungsi Palestina meninggal dunia sejak penyerbuan IS ke kamp Yarmuk.

–      Militer Rezim Suriah memblokade Yarmuk sejak 639 hari lalu.

–      Listrik terputus dari kamp Yarmuk sejak 719 hari

–      Suplai air bersih terputus sejak 209 hari

–      Jumlah korban meninggal di kalangan pengungsi Palestina mencapai 173 orang.

 

Deddy  | Infopalestina | Jurniscom

 

8 Tentara Republik Iran Tewas Diserang Kelompok Bersenjata di perbatasan Pakistan

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya delapan pasukan Republik  Iran tewas oleh kelompok bersenjata di wilayah Sistan-Baluchestan, yang berbatasan dengan Pakistan, menurut Kantor Berita Republik Iran.

Pasukan tersebut  tewas dalam bentrokan dengan kelompok bersenjata yang menyusup dari negara tetangga Pakistan, kantor berita resmi Iran IRNA melaporkan pada hari Selasa (07/04/2015).

Ali Asghar Mirshekari, Wakil gubernur provinsi Sistan Baluchistan, mengatakan kepada IRNA,"Kelompok bersenjata memasuki wilayah  Iran dari Pakistan dan membunuh delapan tentara".

Kantor berita itu mengatakan para penjaga sedang berpatroli saat serangan terjadi. Para penyerang diduga dari  Jaish ul-Adl,  kemudian melarikan diri kembali ke Pakistan setelah serangan.

Jaish ul-Adl  adalah kelompok bersenjata  Muslim Sunni yang berbasis di Pakistan didirikan tahun 2012 oleh  Abdul Malik Rig, seorang anggota dari Jundallah.

Iran menuduh Pakistan menerapkan langkah-langkah longgar pada keamanan perbatasannya dan mengatakan kelompok bersenjata menggunakan perbatasan Pakistan sebagai platform/awalan untuk meluncurkan serangan terhadap pasukan  Republik Syiah Iran.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

MUI Ajak BNPT Bahas Strategi Penanggulangan Terorisme Komprehensif Cara Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai cara yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 dalam menanggulangi terorisme hanya akan melanggengkan terorisme itu sendiri. Oleh sebab itu, MUI mengajak BNPT untuk duduk bersama membahas strategi penanggulangan terorisme yang komprehensif cara yang Indonesia.  

"Mari kita duduk bersama membahas strategi nasional penanggulangan terorisme yang komprehensif. Sebab kami menilai cara yang dilakukan selama ini oleh BNPT oleh Densus apalagi, itu hanya akan melanggengkan terorisme. Kalau terorisme langgeng, Islam rugi.  Ini berarti tendensius untuk melakukan stigmatisasi terhadap Islam," tegas Din dalam jumpa pers di Kantor MUI Pusat, Selasa (7/4/2015) kemarin.

Menurut Din, jika terorisme langgeng, maka ormas-ormas Islam seperti MUI yang berpegang kepada wasathiyah rahmatan lil alamin akan mendapat musuh baru di dalam keluarga sendiri. "Maka kami menolak cara-cara seperti yang ada sekarang ini. Ini kelihatannya hanya melanggengkan saja," ujarnya.

Maka MUI menghimbau BNPT untuk menangulangi terorisme dengan komprehensif "cara Indonesia" kalau memang BNPT berniat untuk menanggulangi terorisme. "Tapi kalau berniat mau melanggengkan demi proyek yang permanen, yaa itu kami tidak tahu. Tapi belum selesai duduk bersama, sudah main blokir-blokir gitu," tutupnnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, MUI juga menyesalkan tindakan refresif BNPT memblokir sejumlah situs media Islam. Menurut MUI hal tersebut akan membawa stigma negatif bagi dakwah Islamiyah. 

Reporter : Ridwan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Din Syamsuddin : Diblokir Dua Puluh Dua, 220 Ribu Akan Tumbuh

Dinilai Membawa Stigma Negatif Bagi Dakwah Islamiyah, MUI Sesalkan Pemblokiran Situs Media Islam

Soal Konflik di Yaman, MUI Bersikap Netral

Din Syamsuddin : Diblokir Dua Puluh Dua, 220 Ribu Akan Tumbuh

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyesalkan sikap refresif Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atas pemblokiran sejumlah situs media Islam. 

"Pemerintah harus menyadari fungsi dan tugasnya. Dalam rangka menanggulangi terorisme BNPT tidak bisa bersikap seperti itu terus," kata Din Syamsudin dalam jumpa pers, Selasa (7/4/2015) di Kantor Pusat MUI, Jakarta.

Din berpendapat, sikap seperti itu justru akan menumbuhkan kekecewaan masyarakat kepada pemerintah yang akan semakin mendorong radikalisasi.

"Tau gak, dengan diblokir dua puluh dua, itu dua ratus dua puluh ribu bisa muncul lagi situs-situs itu. Ini semakin mendorong radikalisasi karena kekecewaan kepada negara dengan rezim yang refresif seperti yang ditunjukkan sekarang ini," pungkasnya.

Jumpa pers tersebut digelar MUI untuk menjawab desakan dari pimpinan ormas Islam terkait sikap MUI terhadap gejolak konflik di Yaman.

Reporter : Ridwan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Dinilai Membawa Stigma Negatif Bagi Dakwah Islamiyah, MUI Sesalkan Pemblokiran Situs Media Islam

Soal Konflik di Yaman, MUI Bersikap Netral

Dinilai Membawa Stigma Negatif Bagi Dakwah Islamiyah, MUI Sesalkan Pemblokiran Situs Media Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan pemblokiran situs-situs media Islam yang dilakukan Kemkominfo atas usulan BNPT. Disampaikan Ketua MUI Din Syamsudin, pemblokiran itu dinilai akan membawa stigma negatif terhadap dakwah Islamiyah. 

"Kami menyesalkan kebijakan yang tidak bijak itu, apalagi dikaitkan dengan label Islam yang tentu akan membawa stigma negatif terhadap dakwah Islamiyah," kata Ketua MUI Din Syamsudin dalam acara Jumpa Pers selepas pertemuan Forum Ukhuwah Islamiyah MUI di Kantor Pusat MUI di Jalan Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2015)

Din mengatakan bahwa sikap MUI tegas terhadap radikalisme agama yang menggunakan cara-cara kekerasan, namun MUI menyesalkan cara BNPT yang refresif dalam memblokir situs-situs tersebut.

"Tanpa komunikasi, tanpa dialog, tanpa persuasi. Ini sama aja pukul duluan urusan belakangan. Ini gak boleh terjadi lagi di Republik ini. Bagi saya ini refresif," tegas Din.

Din menyarankan BNPT mengedepankan tabayun dan mengajak MUI sebagai lembaga tertinggi umat Islam agar tidak memutuskan sendiri. "Maka semuanya sepakat, kami semua menyesalkan kejadian itu," lanjut Din.

Menurut Din, pemerintah harus menyadari fungsi dan tugasnya. Dalam rangka menanggulangi terorisme, sambung Din, BNPT tidak bisa bersikap refresif seperti itu terus.

"Tau gak, dengan diblokir dua puluh dua, itu dua ratus dua puluh ribu bisa muncul lagi situs-situs itu. Ini semakin mendorong radikalisasi karena kekecewaan kepada negara dengan rezim yang refresif seperti yang ditunjukkan sekarang ini," cetusnya.

Pertemuan Forum Ukhuwah Islamiyah yang terdiri dari MUI dan pimpinan ormas-ormas Islam itu juga membahas gejolak konflik yang terjadi di Yaman. Hasilnya, MUI menyatakan sikap netral dan mendorong pihak-pihak terlibat konflik untuk menyelesaikan dengan cara damai.

Reporter : Ridwan | Editor : Ally | Jurniscom

Soal Konflik di Yaman, MUI Bersikap Netral

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) siang tadi (07/04/2015) menggelar Jumpa Pers terkait konflik yang sedang terjadi di Yaman. Jumpa Pers yang dilaksanakan setelah pertemuan Forum Ukhuwah Islamiyah antara MUI dengan pimpinan ormas Islam ini digelar di Kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia di Jalan Proklamasi No. 51, Menteng, Jakarta Pusat.

Melalui Ketua Bidang Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri KH Muhyidin Junaidi,  MUI menegaskan bahwa sikap MUI terkait konflik tersebut netral dan menghimbau kepada pihak yang bertikai untuk menyelesaikan masalah dengan damai.

“MUI sebagai civil society bersikap netral, tidak berpihak kepada pihak yang bertikai, MUI menghimbau kepada pihak-pihak yang bertikai untuk duduk bersama-sama menyelesaikan secara damai dengan mengedepankan musyawarah dan dialog. Karena peperangan itu justru menyebabkan berbagai dampak baik moril maupun materil.” tegasnya.

Adapun menyangkut situasi politik yang terjadi di Yaman, KH Muhidin Junadi menegaskan MUI tidak masuk pada ranah politik dan menghimbau kepada pihak-pihak yang bertikai untuk berdamai sehingga tidak merugikan Umat Islam dan tidak merusak nama Islam di mata dunia Internasional.

Selain itu MUI juga mengharapkan agar masyarakat Indonesia tidak terprovokasi kelompok tertentu yang ingin mengeksploitasi pergolakan di Timur Tengah,

“Kepada umat Islam di Indonesia diharapkan tidak terpancing provokasi oleh kelompok tertentu yang ingin mengekspolitasi peperangan dan pergolakan di Timur-Tengah untuk menciptakan konflik horizontal dengan mengangkat isu-isu sekterianisme, yang paling mudah adalah perang antara mazhab.” lanjut KH. Muhyidin Junaidi.

Kepada pemerintah Indonesia, MUI meminta agar Pemerintah Indonesia untuk berperan aktif sesuai dengan kebijakan luar negeri yang bebas-aktif.

"Saatnya Indonesia yang masyarakatnya mayoritas Muslim terbesar diatas pemukaan bumi ini harus menjadi juru damai. Inilah momentum terbaik bagi kita, karena kita memang sudah memiliki modal dasar dan kita sudah berhasil untuk mendamaikan beberapa pihak yang bertikai di negara ini" pungkasnya.

Reporter : Ridwan | Editor : Ally | Jurniscom