Angkatan Laut Thailand Akan Akhiri Misi Bantuannya, Tinggalkan Imigran Muslim Rohingya di Tengah Laut

BANGKOK (Jurnalislam.com) – Angkatan laut Thailand merubah keputusannya setelah sebelumnya menyatakan bahwa kapal angkatan laut yang digunakan sebagai pusat komando dan kontrol untuk membantu korban krisis manusia perahu Asia Tenggara akan mengakhiri misinya pada hari Rabu (10/06/2015).

Kapten Angkatan Laut Benjamaporn Wongnakornsawang mengatakan bahwa HTMS Ang Thong, yang dilengkapi dengan helikopter pencarian dan unit tanggap darurat, akan melanjutkan misi kemanusiaan di Laut Andaman saat pemerintah berdebat mengenai perannya.

"Kami akan melanjutkan misi sampai ada perintah untuk menghentikannya," kata Wongnakornsawang kepada Anadolu Agency pada hari Rabu.

Angkatan laut tersebut sebelumnya menyatakan bahwa Ang-Thong akan mencapai akhir misinya yang direncanakan selama dua minggu.

Wongnakornsawang berusaha menjelaskan bahwa pertemuan pemerintah saat ini akan menentukan respon yang tepat dan kelanjutan misi mereka.

Sementara itu, laporan terus menyebutkan bahwa para imigran masih terkatung-katung di tengah laut.

The Malay Mail melaporkan hari Rabu bahwa beberapa kapal yang dioperasikan oleh sindikat perdagangan manusia yang membawa Muslim Rohingya dan Bangladesh tetap berada di perairan internasional dekat wilayah Satun, Thailand.

Dikatakan bahwa mereka sedang menunggu untuk melihat apakah mereka bisa masuk Malaysia atau harus berlayar ke Indonesia.

Sejak konferensi tiga-bangsa 20 Mei Thailand menyatakan akan membantu, tapi tidak akan mengijinkan untuk berlabuh. Ribuan manusia perahu tetap berada di laut sejak upaya menindak para pedagang manusia dimulai tanggal 1 Mei.

Malaysia dan Indonesia mengatakan bahwa mereka akan menampung para manusia perahu tersebut selama satu tahun, sambil memastikan yang mana pencari suaka dan yang mana migran ekonomi, dan kemudian masyarakat internasional akan menemukan rumah yang tepat untuk mereka.

The Mail mengutip seorang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya dari stasiun penjaga pantai Satun di Pulau Puyu yang mengatakan bahwa mereka telah memantau kapal-kapal tersebut selama lebih dari satu minggu.

Satun adalah salah satu provinsi selatan Thailand. Provinsi tetangga mereka adalah Trang, Phatthalung, dan Songkhla, di mana kamp perdagangan yang mengubur lebih dari 30 mayat di kuburan dangkal ditemukan di dekat perbatasan Malaysia-Thailand pada 1 Mei.

Di sisi selatan, Satun berbatasan dengan Perlis, Malaysia.

"Kami sedang memantau mereka karena kita tidak dapat bereaksi kecuali mereka menyeberang ke perairan kita. Saat mereka menyeberang ke perairan kita, kita akan mengingatkan Angkatan Laut dan polisi laut untuk mengambil tindakan segera," katanya kepada the Mail.

Ia mengatakan ia mengerti bahwa perahu, yang masing-masing membawa antara 300 hingga 500 orang, telah berlayar dari Myanmar dan Bangladesh sebelum berita mengenai tindakan keras pemerintah mencapai desa-desa terpencil tersebut.

Banyak penghuni perahu Rohingya Muslim ini yang melarikan diri dari negara bagian barat Myanmar, Rakhine, akibat kebrutalan para pemimpin militer negara itu.

Beberapa warga Rohingya telah meninggalkan kamp-kamp pengungsi di wilayah Cox Bazar Bangladesh, sementara yang lain mengatakan dipaksa ke kapal oleh penyelundup manusia, yang kemudian menuntut uang tebusan dari keluarga mereka untuk menjamin perjalanan yang aman mereka kembali ke rumah.

Rohingya bergabung dengan migran ekonomi dari Bangladesh, yang putus asa dan berusaha mencapai kesempatan kerja yang mereka percaya sedang menunggu mereka di pembangkit tenaga listrik daerah Malaysia.

The Mail mengutip seseorang warga Myanmar berusia 42 tahun yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa kapal membutuhkan waktu antara 30-40 hari untuk tiba ke Satun dari Myanmar.

"Ada lima atau enam kapal yang berlabuh di Pulau Puyu, sebelum terjadi tindakan keras oleh pemerintah Thailand awal bulan lalu menyusul ditemukannya kuburan massal di perbatasan Malaysia-Thailand," tambahnya.

Imran Gafur, seorang nelayan Thailand berusia 45 tahun, mengatakan kepada Mail bahwa sampai 10 hari yang lalu empat muatan kapal imigran berlabuh di dekat pulau hingga otoritas mengusir mereka.

"Kapal yang membawa imigran Myanmar dan Bangladesh telah mendarat di sini selama satu dekade dan kami pikir mereka ingin pergi ke Malaysia. Penduduk desa tidak menyadari bahwa sindikat mengambil uang untuk mengangkut mereka, sampai ditemukan kuburan massal ini," katanya.

"Para penduduk desa bersimpati dengan para pendatang. Sekarang kita menyadari bahwa mereka adalah orang-orang tak berdosa yang disiksa, dilecehkan dan perempuan diperkosa oleh agen. Kami tidak mentolerir kekejaman terhadap manusia lain."

Sejak krisis dimulai, sekitar 5.600 Muslim Rohingya telah tiba di Thailand, Malaysia dan Indonesia, Chris Lewa dari Arakan Project mengatakan kepada Anadolu Agency.

Namun, dia mengatakan tidak jelas berapa banyak yang masih di laut.

Sejak 2012, Rohingya – yang oleh PBB dianggap etnis minoritas paling teraniaya di dunia – telah melarikan diri dari Myanmar berbondong-bondong, takut akan kekerasan yang oleh beberapa kelompok hak asasi manusia dianggap disponsori negara.

Kelompok-kelompok HAM memperkirakan bahwa sebanyak 10 persen dari jutaan etnis yang kuat telah melarikan diri dari negara tersebut untuk mencari peluang yang lebih baik di Negara mayoritas Muslim, Indonesia dan Malaysia.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Asosiasi Pengacara Muslim Afrika Selatan : “Tangkap Presiden Mesir Saat Tiba di Kota Johannesburg"

AFRIKA SELATAN (Jurnalislam.com) – Asosiasi Pengacara Muslim Afrika Selatan (MLA) telah mengajukan permintaan hukum resmi untuk penangkapan Abdel Fattah al-Sisi saat ia tiba di Johannesburg pada 16 Juni untuk menghadiri the 25th African Union Summit.

"Kami percaya al-Sisi melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam pembunuhan mengerikan saat kudeta [2013] di Mesir," pengacara Yousha Tayoub, anggota MLA, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Rabu (10/06/2015).

Dia mengatakan kunjungan Sisi yang akan datang ini menyajikan kesempatan yang baik bagi pemerintah Afrika Selatan untuk menangkap, menyelidiki dan menuntut presiden Mesir tersebut atas tuduhan kejahatannya.

"Kami memiliki bukti bahwa al-Sisi melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kami telah mengajukan bukti tersebut kepada pihak berwenang dan berharap mereka akan bertindak, "kata Tayoub.

Dia menambahkan bahwa Sisi harus diberi kesempatan untuk menjawab tuduhan terhadap dirinya di pengadilan.

"Telah ada banyak pembunuhan dan penganiayaan anggota  Ikhwanul Muslimin Mesir dan pendukungnya di bawah pemerintahan al-Sisi," katanya.

Tayoub mencatat bahwa Afrika Selatan adalah penandatangan Statuta Roma, yang secara resmi mendirikan the International Criminal Court (ICC), yang berarti bahwa pihak berwenang Afrika Selatan bisa menangkap siapa pun yang dituduh melakukan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang atau kejahatan agresi.

The Media Review Network (MRN), sebuah kelompok advokasi Afrika Selatan, juga mendukung panggilan untuk penangkapan Sisi setibanya di negara ini.

" MRN mengingatkan pemerintah Afrika Selatan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh al-Sisi secara universal dianggap pelanggaran," kata juru bicara MRN Ibrahim Vawda pada hari Rabu. "Penjahat perang adalah musuh bagi seluruh umat manusia; demokrasi kita yang masih muda tidak boleh dianggap sebagai tempat yang aman bagi para penjahat tersebut. "

Dia mengatakan bahwa pemerintah Afrika Selatan harus memberlakukan dirinya sebagai anggota terhormat dari AU dan anggota yang bertanggung jawab dari masyarakat internasional.

"Oleh karena itu, resolusi cepat dari aplikasi penangkapan Sisi ini harus diperlakukan sebagai hal yang mendesak," katanya dalam sebuah pernyataan email kepada Anadolu Agency.

Namun belum terlihat, apakah pemerintah Afrika Selatan akan mengambil langkah-langkah untuk menangkap al-Sisi saat mengunjungi Afrika Selatan.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Sudah 1100 Pengungsi Palestina Gugur di Kamp Yarmuk

DAMASKUS (Jurnalislam.com) –  LSM Palestina-Suriah mengungkap jumlah korban meninggal di kalangan pengungsi Palestina di kamp Yarmuk mencapai 1100 orang, sejak meletusnya konflik Suriah tahun 2011, yang menjadikan kamp sebagai kuburan bagi para pengungsi.

Data mencatat, penyebab para korban meninggal antara lain oleh gempuran senjata berat, bentrokan senjata, penyiksaan sampai mati, di samping blokade yang diterapkan pasukan rezim Suriah dan kelompok bersenjata. Di samping itu terdapat 176 pengungsi yang meninggal akibat gizi buruk dan tak mendapatkan perawatan medis.

Secara global, data korban pengungsi Palestina di Suriah mencapai 2880 orang, di samping ribuan hilang dan ditangkap, sementara mereka yang eksodus keluar Suriah mencapai 8000 orang lebih, sebanyak 28 ribu menuju Eropa dan lainnya tersebar di sejumlah negara tetangga.

Sementara itu para pengungsi Palestina yang ingin meninggalkan Suriah tak mendapatkan ijin dari sejumlah negara tetangga, meski UU internasional menegaskan pentingnya memberikan ijin bagi pengungsi dari kawasan konflik, dan memberikan bantuan bagi mereka, namun sampai saat ini pintu gerbang mereka masih tertutup bagi pengungsi Palestina-Suriah.

Pemerintah Yordania masih memberlakukan larangan menerima pengungsi Palestina-Suriah memasuki wilayah mereka. Irak mengambil kebijakan yang sama, sementara Turki menghentikan penerbitan visa bagi pengungsi Palestina dari Suriah, kecuali mereka memiliki ijin tinggal di negara Teluk atau Eropa, hal yang tak dimiliki mayoritas pengungsi Palestina-Suriah.

Pemerintah Libanon membuat kebijakan ketat bagi pengungsi Palestina-Suriah memasuki wilayah mereka. Sejumlah syarat ditetapkan, seperti syarat Turki, sehingga puluhan pengungsi tertahan dan tak bisa masuk, sehingga terpaksa menyelundup ke wilayah Turki, perjalanan yang sangat sulit, terutama bagi para pengungsi wanita dan anak-anak.

 Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Lima Pilar Islamophobia Barat

JURNALISLAM.COM – Status Muslim di barat berada di bawah ancaman. Meningkatnya prevalensi kejahatan dengan latar belakang kebencian anti Muslim hanya salah satu konsekuensi yang bisa dilihat. Di Inggris, menurut serikat pengajar, anak-anak sekolah Muslim menderita penyerangan; Muslimah menjadi korban lebih dari setengah serangan Islamofobia, Tell MAMA mengatakan.

Meskipun kejahatan kekerasan terhadap Muslim dipahami sebagai isu utama bagi umat Islam dan gerakan anti-rasis, namun merupakan suatu kesalahan jika berpikir bahwa Islamophobia adalah masalah rasisme yang dilakukan oleh sekelompok minoritas kecil di jalanan, atau mereka yang berada di pinggiran politik. Kenyataannya lebih dari itu. Islamophobia telah tertanam jauh di dalam politik dan masyarakat, dan merupakan masalah yang lebih serius daripada yang diakui banyak penulis. Selain itu, sementara sebagian besar pembahasan Islamophobia menunjukkan bahwa rasisme anti-Muslim hanyalah seputar masalah prasangka, yang mungkin memiliki konsekuensi sosial, perlu dipahami bahwa Islamophobia lebih besar dari hanya masalah pemikiran rasis saja.

Rasisme dan prasangka jelas merupakan bagian penting dari Islamophobia tetapi agar ide-ide tersebut efektif maka perlu dikembangkan dan diproduksi secara aktif dan dipraktekkan sehingga menyebar dan dilembagakan dalam kebijakan dan praktek-praktek baru. Rasisme anti-Muslim ditopang oleh 'lima pilar' Islamofobia.

Pilar pertama dan paling penting adalah lembaga negara – terutama aparat 'kontra-terorisme' yang meluas, sebagai penghubung utama dari lembaga-lembaga dan praktek-praktek yang mentargetkan para 'ekstrimis' dan mereka yang dikatakan telah 'menjadi radikal'. Ketidakakuratan konsep yang didefinisikan dan dioperasionalkan dalam wacana resmi, juga  praktik rutin yang dilakukan kepolisian dan intelijen, menjadikan ribuan orang, termasuk non-Muslim, dianggap sebagai target yang sah untuk kecurigaan, pengawasan dan pengumpulan data intel.

Beberapa penulis akademis melihat negara sebagai lembaga yang progresif, atau setidaknya netral, dan mampu membantu tantangan rasisme anti-Muslim dengan menciptakan ruang bagi keterlibatan budaya dan masyarakat Muslim. Tapi dalam pandangan kami, negara tidaklah netral. Kebijakan kontra-terorisme merugikan Islam (dan lainnya) melalui perundang-undangan yang luar biasa, cacat pre-emptive serta intel dan pengawasan. Ditambah lagi aparat kontra-terorisme telah menyebar dari rumah tradisional mereka di kepolisian dan lembaga intelijen untuk menduduki hampir setiap cabang negara, dari sekolah dan universitas hingga ke perpustakaan.

Barisan terdepan yang relatif baru dalam perang untuk mengusir umat Islam dari ranah publik adalah sektor LSM. The Charity Commission, yang dipimpin oleh seorang neo-konservatif, Lord Shawcross, telah memimpin peningkatan yang signifikan dalam penyelidikan terhadap badan-badan amal Muslim. Sebuah lembaga think tank, Claystone, melaporkan bahwa The Charity Commission telah menandai 55 badan amal Inggris dengan kode 'ekstremisme dan radikalisasi', tanpa sepengetahuan organisasi  yang bersangkutan. Pemberian kode ini mempengaruhi badan amal Muslim secara tidak proporsional.

Empat pilar Islamophobia lainnya adalah gerakan sosial atau politik yang mendukung atau mendorong negara ke arah gerakan sosial kanan – yang oleh sosiolog Laurence Cox dan Gunvald Nilsen disebut  gerakan sosial 'dari atas', yang berarti 'kelompok dominan'.

Gerakan sosial yang pertama adalah yang paling terkenal – yaitu yang paling kanan. Perwakilan tradisional di partai neo-fasis ini sangat anti-Muslim, tetapi dalam beberapa tahun terakhir mereka telah bergabung bersama sejumlah partai baru (seperti Demokrat Swedia, Partai Rakyat Denmark dan UKIP di Inggris), pergerakan jalanan seperti English Defence League, PEGIDA di Jerman (juga Inggris, Austria, Denmark, Norwegia dan Swedia) dan 'gerakan kontra-jihad' lainnya yang beroperasi di hampir setiap negara Uni Eropa, serta di AS.

Gerakan paling kanan tidak dibatasi dengan rapi dan terdapat semacam tumpang tindih dengan gerakan sosial lainnya, yang masing-masing saling berbenturan. Mereka diantaranya adalah gerakan neo-konservatif, sangat aktif di Uni Eropa maupun di Amerika Serikat, negara asalnya; gerakan Zionis; dan sejumlah arus kiri/liberal yang pro-perang. Ketiganya adalah gerakan transnasional dan memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok yang lebih ke kanan, serta gerakan konservatif yang lebih utama dan think tank neo-liberal sayap kanan.

Gerakan sosial ini, meskipun terbagi pada beberapa hal, saling bekerja sama – dan berkolaborasi dengan negara – untuk memproduksi, mereproduksi dan memberlakukan rasisme anti-Muslim, dalam proses memasukkan rencana kebijakan dan pengaturan praktis yang menjamin subordinasi Muslim biasa .

Sebagai contoh, Henry Jackson Society yang neo-konservatif, yaitu sebuah think tank yang menyatukan neo-konservatif kunci AS dan Inggris, termasuk William Kristol dan Richard Perle. Di antara pendukung keuangan utama Henry Jackson Society adalah rekan Konservatifnya, Stanley Kalms, mantan bendahara Partai Konservatif dan presiden DSG International (sebelumnya Dixons). Kalms adalah anggota terkemuka dari the Conservatve Friends of Israel, meskipun pada tahun 2009 ia bermain mata dengan UKIP. Dia telah mendukung Henry Jackson Society dan pendahulunya yaitu the Centre for Social Cohesion melalui Traditional Alternatives Foundation dan Stanley Kalms Foundation, dan keterikatannya dengan lembaga konservatis yang lebih utama diilustrasikan oleh dukungan keuangannya untuk the Institute for Economic Affairs dan the Centre for Social Justice.

Kalms tampaknya memiliki pandangan 'radikal' terhadap Islam dan umat Islam. Menurut Tony Lerman, penulis dan 'murtad' Zionis, Kalms hadir pada pertemuan pada tanggal 17 November 2006 di mana ia berkata: 'Kebanyakan Muslim tidak ingin berintegrasi … akhirnya mereka akan berbaris di belakang fundamentalis.' Gerakan Sosial kanan dan elemen gerakan neo-konservatif serta Zionis, berperan aktif penting dalam membina rasisme anti-Muslim.

Kami tidak akan mengubah kembali gelombang Islamophobia hanya dengan menghadapi ancaman UKIP dalam politik, atau EDL dan bagian lain dari transnasional 'gerakan kontra-jihad' di jalanan. Kita juga perlu memusatkan perhatian kita pada elemen gerakan neo-konservatif (yang juga transnasional) dan Zionis yang memberikan informasi, 'penelitian' dan advokasi yang dapat menyeret negara dan politik ke sayap kanan dan mempertajam kebijakan Islamofobia, seperti yang kita lihat di Inggris dengan revisi program ‘Prevent’ pada tahun 2010 (menggambar pada bahan dari Pusat neo-konservatif untuk Kohesi Sosial) dan di the Counter-Terrorism and Security Act 2015.

Yang paling penting, kita perlu memahami bahwa Negara itu sendiri beserta mesin pengawasan dan represi yang dimilikinya, yang sebenarnya berada di barisan depan untuk memastikan bahwa umat Islam secara kolektif didorong ke tepi kehidupan publik dengan konsekuensi politik demokratis yang sangat serius untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Niat mereka tampak jelas: perbedaan pendapat, baik itu dengan organisasi Muslim, gerakan sosial atau serikat pekerja, selalu dikriminalisasi untuk melindungi penguasa dari tekanan yang timbul dari bawah.

Tulisan ini adalah sebuah komentar menyedihkan tentang keadaan histeria mengenai Islam di Inggris saat ini yang bahkan mendokumentasikan bukti Islamophobia sebagai bukti 'ekstremisme' atau 'radikalisasi'. Hanya dengan menulis artikel ini kita berpotensi memasuki apa yang oleh polisi disebut sebagai 'ruang pra-kriminal', yang cukup untuk mendapat perhatian dari intel dan lembaga kepolisian.

 

Sumber : Artikel ini didasarkan pada makalah yang disampaikan saat konferensi Understanding Conflict di University of Bath, pada 08-11 Juni 2015.

Deddy | Jurniscom

 

Mujahidin IIA Cegat Konvoi Musuh Hancurkan 14 Kendaraan Militer

HELMAND (Jurnalislam.com) – Sebuah konvoi musuh dalam perjalanan dari Gerishk menuju distrik Nawzad dihentikan oleh Mujahidin pada hari Selasa (09/06/2015) di daerah Garmi Karez dan Karez Safid, memicu pertempuran yang berlangsung sampai sekitar pukul 2:00 di sore hari.

Dikatakan bahwa 4 APC musuh hancur oleh tembakan artileri RPG dan 82mm, 3 truk Kamaz militer dibakar dan 7 lainnya hancur.

Banyak musuh tewas dalam pertempuran namun jumlah mereka tidak bisa dikonfirmasi.

Segala puji hanya bagi Allah, tidak ada Mujahidin yang dirugikan dalam pertempuran.

Sedangkan laporan dari Nimroz sebuah post musuh  diserang oleh Mujahidin dengan tembakan mortir di Zari daerah kabupaten Khashrod kemarin dini hari, menyebabkan pos musuh tersebut hancur.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Pimpinan CIA dan Militer AS Kunjungi Israel Bahas Kesepakatan Nuklir Iran

TEL AVIV (Jurnalislam.com) – Pimpinan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey menemui sejumlah pejabat Israel di Tel Aviv pada hari Selasa (09/06/2015) untuk membahas kerjasama keamanan bilateral.

Dempsey, yang tiba di negara itu pada hari Senin atas undangan Kepala Staf Angkatan Darat Israel Gadi Eisenkot, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon, menurut Radio Israel.

"Dia [Dempsey] juga akan bertemu dengan pejabat militer dan keamanan senior di Israel untuk membahas kerjasama keamanan bersama antara kedua negara," penyiar melaporkan.

Dalam perkembangan terkait, media harian Israel, Haaretz, pada hari Selasa melaporkan bahwa Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA) John Brennanhad melakukan kunjungan mendadak ke Israel pekan lalu.

"Kepala CIA, tamu pimpinan Mossad Tamir Pardo, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu," tulis koran tersebut.

Menurut Haaretz, kunjungan Brennan terutama untuk membahas kesepakatan antara AS  dan Iran mengenai program nuklir yang terbaru.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Karena Berjilbab, Seorang Muslimah Diserang 3 Wanita di London

LONDON (Jurnalislam.com) – Muslimah Inggris kembali mendapat perlakuan rasial. Kali ini seorang muslimah berjilbab diserang tiga orang wanita. Mereka meneriaki muslimah itu dan memaksa dia melepaskan jilbabnya hingga jilbab itu sobek.

Seperti dilansir oleh portal berita India, DNA, pada Ahad (8/6/2015), tiga orang wanita menendang serta memukuli wanita tersebut lantaran mereka tak menyukai ia mengenakan jilbab. 

"Mereka menarik jilbab saya hingga lepas, lalu mulai memukul dan menendang saya. Salah satunya menyeret, sementara yang lain memukuli saya. Mereka begitu rasis dan melontarkan kata-kata hinaan," kata ibu yang ingin namanya dirahasiakan tersebut.

Peristiwa itu terjadi saat muslimah itu hendak menjemput anaknya di sekolah swasta Islam, Al-Khair, di Derby Road, Croydon, London selatan. Tiba-tiba tiga wanita itu berteriak menghinanya serta menanyakan alasannya mengenakan jilbab, padahal cuaca sedang panas.

Beruntung sang muslimah tidak menderita cedera serius. Hanya, rambutnya tercabut beberapa helai. Saat tiba di lokasi kejadian, polisi langsung menangkap dua dari tiga wanita penyerang dan membawa mereka ke kantor polisi.

Namun keduanya dibebaskan setelah semalaman ditahan di sel karena ditebus dengan jaminan oleh keluarga masing-masing. Menurut polisi, investigasi terus dilakukan dengan menggunakan pasal dugaan penyerangan dan rasial serta pelanggaran ketertiban umum.

Sumber : Tempo | Editor : Ally | Jurniscom

Warga Tolak Rencana Pembangunan Gereja di Desa Pilangsari

CIREBON (Jurnalislam.com) – Ratusan warga Desa Pilangsari, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon bersama Aliansi Masyarakat Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Almanar) menggelar unjuk rasa menolak rencana pembangunan gereja di desa tersebut, Senin (7/6/2015).

Mereka berorasi dan membentangkan spanduk bertuliskan pernyataan bersama seluruh warga desa yang menolak pembangunan geraja tersebut.

"Sekali lagi kami ingatkan kepada pemilik bangunan bahwa pemerintah Desa Pilangsari dan seluruh masyarakat Desa Pilangsari menolak pembangunan gereja di desa Pilangsari," tegas Kepala Desa Pilangsari, Muhadi yang memimpin langsung aksi tersebut.

Sementara itu, perwakilan Almanar, Ustadz Andi Mulya menegaskan kesiapannya untuk membantu masyarkat Pilangsari seandainya ada yang didzalimi oleh pihak gereja. Berdasarkan laporan warga, pihak gereja telah mencoba untuk menyuap salah satu tokoh desa dengan sejumlah uang, tapi ditolak.

"Kami Almanar siap membantu masyarakat yang mendapatkan perlakuan secara dzolim oleh pihak-pihak yang mendzalimi masyarakat. Kemudian kami sampaikan kepada orang kafir Nasrani kalian jangan kasak-kusuk, mengadu domba dan membuat resah warga desa Pilangsari dalam pembangunan gereja. Warga sudah menolak, maka kalian jangan tetap memaksakan kehendak. Jika kalian tetap ingin memaksakan kehendak maka kalian akan berhadapan dengan umat Islam kota Wali," tegasnya.

Unjuk rasa yang dikawal puluhan aparat kepolisian itu berlangsung tertib. Massa pun membubarkan diri setelah memasangkan spanduk penolakan mereka di dinding bangunan tersebut.

Reporter : Agung | Editor : Ally | Jurniscom

Kepala Desa Pilangsari, Muhadi

 

Jaysh al Fath, Koalisi Mujahidin Suriah Terus Peroleh Kemenangan di Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com)Jaysh al Fath (Army of Conquest), sebuah koalisi beberapa faksi jihad, menyapu beberapa kota dan desa di provinsi Idlib Suriah dalam beberapa hari terakhir. Keberhasilan koalisi militer tersebut dimulai sejak Maret, ketika aliansi diumumkan dan dengan cepat menyerbu pasukan rezim Syiah Assad di kota Idlib.

Daerah pemukiman yang baru dikuasai adalah di dekat Jisr Al Shughur dan Ariha, dua kota yang jatuh ke tangan jihadis dalam beberapa bulan terakhir.

Jabhah Nusrah, cabang resmi Al Qaeda di Suriah, adalah salah satu kelompok kunci dalam Jaysh al Fath.

Jabhah Nusrah telah memposting gambar dan video daerah yang baru "dibebaskan" dalam Twitter.

Kota-kota dan desa-desa yang dikuasai oleh Jaysh al Fath termasuk A'yn al Hamra, Basnaqul, Muhambel, dan Sanqara. Pos pemeriksaan militer lainnya juga jatuh.

Seperti yang biasa dilakukan setelah keberhasilan militer, para faksi jihad memposting gambar "ghanimah" yang direbut dari pemerintah  rezim Suriah, termasuk senjata dan kendaraan lapis baja.

Beberapa foto yang diposting di situs media sosial Jabhah Nusrah mempublikasikan fakta bahwa kemenangan baru ini memberikan akses pejuangnya lebih mudah ke provinsi tetangga di pesisir Latakia, yang telah lama menjadi kubu keluarga rezim Assad. Gambar-gambar termasuk gambar tentara Suriah tergeletak mati di jalan raya antara Idlib dan Latakia.

Rezim Suriah telah mengakui bahwa pasukannya mundur dari daerah tersebut.

Agence France Presse (AFP) mengutip sumber militer Suriah  yang mengatakan bahwa "tentara meninggalkan beberapa situs militer di sekitar kota Muhambel di provinsi Idlib."

Dan SANA, kantor berita propaganda rezim, mengatakan bahwa tentara Assad "pindah ke posisi dan garis baru yang lebih cocok untuk melaksanakan misi tempur berikutnya”.

Keberhasilan terbaru Jaysh al Fath di Idlib terjadi pada saat kelompok kunci dalam koalisi Jaysh al Fath menerjunkan kembali beberapa mujahid mujahid mereka dari  Jabhah Nusrah, Ahrar al Sham, dan faksi jihad lain di Jaysh al Fateh ke Aleppo.

Sehingga di wilayah yang baru-baru dikuasai ini akan mendorong para mujahidin Jaysh al Fath untuk maju ke Latakia.

 

Deddy | Jurniscom

 

 

Operasi Azm : Komandan dan 7 Pasukan Musuh Tewas, 4 Pos Dikuasai

URUZGAN (Jurnalislam.com) – Di tengah serangan tahunan 'Azm'yang sedang berlangsung, Mujahidin Imarah Islam Afghanistan melancarkan serangan terkoordinasi terhadap posisi musuh di daerah Khar Khordi kabupaten Char Chino, 4 pos pemeriksaan pasukan ANA  (Afghan Nasional Army) benar-benar berhasil dikuasai, 7 orang tentara bentukan AS ini termasuk seorang komandan tewas, 11 terluka dan sisanya terpaksa kabur serta sebuah truk Kamaz yang dikemas dengan peralatan hancur, El Emarah News melaporkan hari Senin (08/06/2015).

Para pejabat mengatakan bahwa sebuah DShK, 2 senapan mesin AS, 4 senapan Ak, amunisi dan peralatan lainnya disita, menambahkan bahwa 3 mujahidin juga terluka dalam operasi itu dan 2 orang lainnya dihargai syahid (semoga Allah menerima mereka).

Mujahidin Imarah Islam Afghanistan sekarang telah mengepung pusat kabupaten dan mengambil posisi sekitar 300 meter dari bangunan markas musuh.

Deddy | Shahamat | Jurniscom