Pertempuran Sengit Mujahidin IIA dengan Arbakis di Takhar, 12 Pasukan Gabungan Tewas

TAKHAR (Jurnalislam.com)AlEmarah News, pada hari Jumat, 30 Oktober 2015 memberitakan pertempuran sengit antara Mujahidin Imarah Islam dan Arbakis (tentara bayaran) di distrik Khwaja Ghar provinsi utara, Takhar, Afghanistan, kemarin malam yang menyebabkan terbunuhnya sekitar 12 pasukan gabungan Arbakis dan polisi Afghanistan, di mana dua kendaraan pengangkut lapis baja juga hancur  dalam pertempuran Jumat malam itu.

Klaim musuh yang mengatakan bahwa mereka telah membunuh 30 pejuang Mujahidin tidak benar, itu tidak lebih hanya propaganda tak berdasar untuk menyelamatkan muka mereka.

Bahkan, dari seluruh pertempuran hanya satu Mujahid yang memeluk kesyahidan. Semoga Allah menerima dia sebagai Syuhada.

Menurut laporan dari provinsi tetangga Baghlan, tiga polisi mengalami luka fatal dalam pertempuran singkat dengan Mujahidin di distrik Poli Hisar.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

Lagi, Militer Mesir Banjiri Terowongan Gaza dengan Air Laut

MESIR (Jurnalislam.com) – Untuk kedua kalinya dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Mesir membanjiri wilayah sepanjang perbatasan Gaza dengan air untuk menghancurkan terowongan bawah tanah antara Sinai dan wilayah Palestina, lansir World Bulletin, Jumat (30/10/2015).

Sebuah sumber Palestina mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa banyak terowongan dibanjiri air laut di enam wilayah di Gaza selatan.

Militer Mesir telah membangun jaringan pipa besar di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza dan mulai membanjiri lokasi tersebut dengan air laut pada bulan September untuk menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah antara wilayah Palestina dan Semenanjung Sinai.

Diblokade oleh Israel sejak 2007, Gaza menerima pasokan barang-barang yang sangat dibutuhkan melalui jaringan terowongan di perbatasan dengan Semenanjung Sinai Mesir.

Sejak kudeta militer terhadap Presiden Mohamed Mursi tahun 2013, pemerintah Mesir hasil kudeta telah melenyapkan banyak terowongan.

Deddy | world Bulletin | Jurniscom

Pertemuan di Wina: Setuju atau Tidak Setuju Rezim Assad Harus Berakhir

AUSTRIA (Jurnalislam.com) – Pertemuan negara-negara besar di Wina gagal mencapai kesepakatan mengenai Suriah, terutama masa depan rezim Suriah Bashar al-Assad yang harus segera diakhiri, tetapi menemukan landasan bersama yang cukup untuk bertemu kembali pada perundingan babak berikutnya, bahkan saat konflik memasuki fase baru dengan penyebaran pasukan khusus AS di negara yang dilanda perang tersebut, Aljazeera melaporkan, Jumat (30/10/2015).

"Ada percakapan yang sulit hari ini," kata Menteri Luar Negeri AS John Kerry dalam konferensi pers, Jumat. "Ini adalah awal dari proses diplomatik baru."

Kerry mengakui bahwa mereka yang hadir memiliki perbedaan besar mengenai rezim Assad.

"Tapi kita tidak bisa membiarkan perbedaan yang ada menutupi jalan diplomasi untuk mengakhiri pembunuhan."

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius sebelumnya mengatakan bahwa semua masalah, bahkan yang paling sulit, dibahas selama pembicaraan, yang untuk pertama kalinya berhasil mempertemukan semua pelaku asing utama dalam konflik.

"Ada poin ketidaksepakatan, tapi kami menghasilkan kemajuan yang cukup untuk bertemu kembali, dalam konfigurasi yang sama, dalam dua minggu."

Federica Mogherini, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, mengatakan ada harapan untuk memajukan proses politik, mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam pembicaraan menemukan kesamaan untuk diskusi lebih lanjut.

"Itu adalah pertemuan yang sangat panjang dan sangat besar. Tidak mudah, tapi pasti mencatat sejarah," katanya sambil memuji orang-orang yang mengambil keputusan sulit untuk bergabung dengan pembicaraan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa mereka yang hadir dalam pertemuan itu membahas panjang upaya untuk mendorong proses inklusif perdamaian Suriah.

Dalam sedikit kemajuan diplomatik yang langka, Teheran mensinyalir akan mendukung masa transisi politik enam bulan di Suriah diikuti dengan pemilihan untuk menentukan nasib Assad, meskipun musuh Assad menolak proposal tersebut karena menganggapnya hanya sebagai trik untuk menjaga presiden yang berkuasa.

Selain tidak ada terobosan yang diharapkan tentang nasib Assad, poin mencuat lain yang telah lama dibahas termasuk pertanyaan kelompok pejuang mana yang harus dipertimbangkan sebagai "teroris" dan siapa yang harus terlibat dalam proses politik.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, melaporkan dari Wina, mengatakan bahwa ada "suasana optimisme" setelah pembicaraan.

"Ada harapan, yang telah absen dalam pembicaraan ini untuk waktu yang cukup lama sekarang."

Pembicaraan pada hari Jumat terjadi saat serangan udara rezim pemerintah Suriah terus berlanjut di wilayah yang dikuasai pejuang, menewaskan sedikitnya 65 orang dan melukai lebih dari 100 orang lainnya di pinggiran Douma, Damaskus.

Untuk pertama kalinya delegasi Iran ikut dalam pembicaraan hari Jumat di ibukota Austria tersebut.

Perwakilan dari Inggris, Mesir, Perancis, Jerman, Italia, Lebanon, Uni Eropa, dan negara-negara Arab lainnya, juga hadir.

Saat menteri luar negeri berbicara di Wina, AS mengumumkan bahwa sejumlah kecil pasukan operasi khusus akan dikirim ke Suriah utara untuk bekerja dengan pasukan lokal dalam memerangi IS, menandai pertama kalinya pasukan Amerika dikerahkan secara terbuka di tanah Suriah.

Barack Obama memerintahkan penyebaran kurang dari 50 pasukan komando untuk membantu pasukan koalisi berkoordinasi dengan pasukan lokal, juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan Jumat.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Rezim Syiah Assad Bombardir Pasar di Pinggiran Damaskus 40 Orang Tewas dan 100 Terluka

DAMASKUS (Jurnalislam.com)World Bulletin melaporkan sedikitnya empat puluh orang tewas pada hari Jumat ( 30/10/2015) ketika roket-roket yang ditembakkan oleh pasukan rezim Syiah Suriah menghantam sebuah pasar dipinggiran kota Damaskus, kata monitor.

"Ada 40 orang tewas dan sedikitnya 100 terluka di pusat Douma," sebuah kota di Ghouta Timur pinggiran ibukota Suriah, Rami Abdel Rahman, kepala Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kepada AFP.

" Api makin membesar sekarang, dengan kedua roket dan mortir," katanya, ia menambahkan bahwa jumlah korban diperkirakan akan meningkat karena orang masih  di dalam bangunan yang rusak.

Pejuang Suriah menguasai Douma terletak di Ghouta Timur, kubu pejuang Suriah terbesar di provinsi Damaskus.

Daerah ini secara teratur ditargetkan oleh serangan roket, penembakan, dan serangan udara oleh pasukan Syiah Assad, dan faksi faksi oposisi juga membalasnya menembakkan roket ke ibukota.

Pada hari Kamis (29/10/2015), serangan udara rezim Assad menghantam pasar dan rumah sakit di Douma, menewaskan sedikitnya sembilan orang, menurut Observatorium.

Pada bulan Agustus, 117 orang tewas dalam satu hari serangan udara di Douma, menyebabkan protes global hampir di seluruh dunia.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom
 

 

Kejahatan Israel terus Meningkat, Liga Arab Gelar Pertemuan Darurat

PALESTINA (jurnalislam.com) – Liga Arab mengumumkan pertemuan darurat level menteri luar negeri Negara anggota pada 9 November mendatang, untuk membahas kejahatan zionis yang terus meningkat terhadap rakyat Palestina di wilayah jajahan, lansir Infopalestina, Jumat (30/10/2015).

Wakil Sekjen Liga Arab, Ahmad bin Hali mengatakan, pertemuan akan digelar di RIyad pasca rangkaian KTT ke 4 dengan sejumlah Negara Amerika Selatan, untuk membahas perkembangan terkini di Palestina, terutama berkaitan dengan berlanjutnya kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina dan tempat suci umat Islam.

Bin Hali menegaskan, Liga Arab mengutuk keras kejahatan yang dilakukan pasukan Israel terhadap rakyat Palestina, menembaki rakyat sipil dan kebijakan sanksi sosial dan beragam aksi teror terhadap rakyat Palestina.

Sejak awal Oktober, meletus Intifadah Al-Quds di sejumlah wilayah Palestina menentang kejahatan Israel dan para pemukim zionis yahudi.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Diancam di PTUN-kan Kelompok Syiah, Bima Arya : Saya Siap!

BOGOR (Jurnalislam.com) – Walikota Bogor, Bima Arya menyatakan kesiapannya untuk menghadapi gugatan yang akan disampaikan Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education (OASE) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait Surat Edaran Walikota Bogor tentang pelarangan perayaan Asyura Syiah di kota Bogor.

"Saya siap. Saya akan bertanggungjawab untuk menjelaskan langkah-langkah yang saya lakukan sebagai kepala daerah dan bertanggungjawab atas keamanan dan ketertiban kota Bogor," tegasnya kepada wartawan usai menggelar shalat istisqha di Lapangan Sempur Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/10/2015) siang.

Atas Surat Edaran tersebut, Bima juga mendapat surat teguran dari Komnas HAM yang meminta Bima Arya untuk menarik kembali Surat Edaran bertanggal 22 Oktober 2015 tentang Himbauan Pelarangan Perayaan Asyura Syiah di Kota Bogor itu.

Bima mengaku telah merespon surat teguran Komnas HAM tersebut dan menjelaskan alasan dikeluarkannya Surat Edaran itu atas dasar pertimbangan keamanan.

"Sebagai kepala daerah wajib hukumnya untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa menimbulkan konflik," ujarnya.

Bima menegaskan dirinya akan selalu menjaga keharmonisan antar umat beragama di Bogor. "Sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan tidak mengancam kehidupan sosial di masyarakat," pungkasnya.

Ancaman OASE tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Rabu (28/10/2015). 

Reporter : Wahid | Editor : Ally

Taliban: Sebagian Besar Provinsi Badakshan Berhasil Dikuasai

BADAKSHAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin Imarah Islam membersihkan sejumlah besar area dari pasukan musuh di provinsi Badakhshan di utara Afghanistan setelah meluncurkan serangan pembersihan pada Kamis malam, Al-Emarah News memberitakan, Kamis (29/10/2015).

Mujahidin Imarah Islam bergerak ke kabupaten Argo di provinsi Badakhstan di tengah operasi pembersihan dan mengusir Arbakis (tentara bayaran) dari sejumlah besar wilayah setelah pertempuran berjam-jam.

Sejumlah besar area dikatakan telah dibersihkan dari ancaman Arbaki, sementara Mujahidin menutup rute pelarian musuh.

Sementara di distrik Khwaja Ghar provinsi utara, Takhar, Mujahidin Imarah Islam melancarkan serangan mematikan pada musuh memicu bentrokan di mana 7 tentara musuh tewas.

Sebuah tank lapis baja juga hancur dalam pertempuran itu, dan mayat musuh dikatakan masih berada di dalam tank karena  tidak dapat dibawa keluar dari tempat kejadian.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

Penyelidik Keterlibatan Inggris dalam Perang di Irak 2001 Dikritik

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Sebuah penyelidikan independen mengenai keterlibatan Inggris dalam perang Irak  yang telah lama ditunggu-tunggu mendapatkan kritikan karena baru akan dipublikasikan Juni atau Juli mendatang, tujuh tahun setelah pertama kali diumumkan, lansir World Buletin, Kamis (29/10/2015).

Penyelidikan publik yang dipimpin oleh Sir John Chilcot awalnya ditugaskan oleh mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown untuk memeriksa keterlibatan Inggris di Irak antara tahun 2001 dan 2009.

"Saya menganggap bahwa setelah Keamanan Nasional telah selesai diperiksa, Anda (Perdana Menteri James Cameron) kemungkinan harus setuju untuk publikasi pada bulan Juni atau Juli 2016," tulis Chilcot dalam sebuah surat kepada perdana menteri yang dirilis oleh Downing Street Kamis .

Dalam balasannya, Cameron mengatakan dia "kecewa" bahwa laporan tersebut akan selesai musim panas mendatang.

Dia menambahkan ia senang memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk "mempercepat tahap akhir pemeriksaan" dan menambahkan bahwa ia bermaksud menyelesaikan peninjauan dokumen keamanan nasional itu "secepat mungkin".

Chilcot katanya memperkirakan teks laporan akan lengkap "di minggu-minggu awal April 2016" tetapi menambahkan bahwa proses peninjauan dokumen untuk memastikan bahwa keamanan nasional Inggris tidak dilanggar oleh isi dokumen akan memakan waktu "beberapa minggu", terutama mengingat Laporan tersebut berisi lebih dari 2 juta kata.

Laporan ini mengambil bukti dari berbagai tokoh-tokoh kunci masyarakat, termasuk Brown dan mantan Perdana Menteri Tony Blair, tetapi sejak itu terhambat oleh fakta lamanya pengecekan dan proses yang dikenal sebagai Maxwellisation, di mana setiap individu diberi kesempatan untuk menanggapi kritik dalam laporan tersebut.

Reg Keys, yang anaknya, Thomas, adalah seorang tentara Inggris yang tewas di Irak, mengatakan penundaan itu "berlangsung terlalu lama".

Dia mengatakan kepada BBC: "Kami, keluarga, percaya bahwa Sir John memungkinkan proses Maxwellisation yang konyol ini berjalan terlalu lama. Ia memakan waktu dua tahun, seharusnya enam bulan saja."

"Tidak ada persyaratan hukum baginya karena melakukan hal itu, dan kita semua sekarang akan menerima laporan tersebut dalam versi yang berbeda yang dilakukan Sir John terhadap para PNS dan politisi senior."

Deddy | World Bulletin | Jurniscom
 

Para Pemain Kunci Perang Suriah Cari Jalan Keluar Dari Konflik di Wina

WINA (Jurnalislam.com) – Pendukung utama dari pihak-pihak yang saling berperang di Suriah akan berusaha untuk mempersempit kerusakan demi masa depan negara dan rakyat Suriah. AS, Rusia, Arab Saudi, Turki dan Iran akan bertemu di Wina, pada hari ini, Jumat (30/10/2015), dengan tujuan mencapai penyelesaian politik untuk membantu mengakhiri perang Suriah, Aljazeera melaporkan, Kamis (29/10/2015).

Negara Negara tersebut sebelumnya telah bertemu satu minggu lalu, tanpa delegasi Iran.

Perwakilan dari Inggris, Mesir, Perancis, Jerman, Italia, Lebanon, Uni Eropa, dan mungkin negara-negara Arab lainnya, juga diharapkan hadir.

"Ini awal yang sangat baik karena sekarang Iran ikut terlibat … Semua orang telah menyadari bahwa krisis Suriah tidak bisa dimenangkan secara militer," Lina Khatib, asosiasi penelitian the Arab Reform Initiative di SOAS University, mengatakan kepada Al Jazeera.

"Sayangnya, oposisi Suriah tidak hadir. Mereka harus memiliki pendapat  apa pun yang terjadi. Mereka harus dilibatkan dalam negosiasi tahap berikutnya," tambahnya.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry bertemu rekan Iran-nya, Javad Zarif, di ibukota Austria pada hari Kamis dalam pertemuan tertutup.

Kemudian, Kerry bertemu dengan rekan-rekannya dari Rusia, Turki dan Arab Saudi untuk membahas perbedaan mereka menjelang pembicaraan yang lebih luas hari Jumat.

Iran Zarif juga dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menjelang putaran baru perundingan, menurut kawat berita Rusia Interfax.

Teheran pertama kali berpartisipasi dalam negosiasi internasional yang ditujukan untuk memecahkan krisis, dengan fokus pada masa depan Assad di Suriah.

Dimasukkannya Iran – pendukung kunci rezim Assad – menandai pergeseran penting setelah Iran dikeluarkan dari diskusi sebelumnya, terutama karena oposisi dari Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Reporter Al Jazeera Mohammed Jamjoom, berbicara di Wina, mengatakan: "Salah satu hal penting yang akan terungkap adalah apakah akan bisa mempertemukan rezim  Assad dan kelompok-kelompok oposisi untuk berbicara satu sama lain."

Meskipun oposisi Suriah saat ini tidak ada dalam pembicaraan tersebut, seorang diplomat senior Rusia mengatakan dia bertemu dengan salah satu kelompok oposisi yaitu Tentara Pembebasan Suriah (FSA).

Tanpa menyebut dengan siapa ia bertemu, Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov menegaskan pertemuan tersebut berlangsung di Moskow dan Kairo, kantor berita negara RIA Novosti melaporkan pada hari Kamis.

Bogdanov menambahkan bahwa ia juga melakukan pembicaraan dengan berbagai tokoh oposisi Suriah lainnya.

Rusia menolak kritik dari barat bahwa Rusia gagal untuk memfokuskan serangan udara di Suriah pada target yang mereka nyatakan, yaitu IS, dan justru kenyataannya menargetkan oposisi  moderat yang melawan militer Assad dan Koalisi pejuang Suriah lainnya serta warga sipil termasuk anak anak.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Qatar Tunda Intervensi Militer di Suriah, Inilah Sebabnya

QATAR (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Qatar Khalid al Attiyah telah mengesampingkan intervensi militer di wilayah Suriah, menambahkan bahwa bantuan keuangan lebih dibutuhkan di negara yang dilanda perang tersebut, lansir Aljazeera, Kamis (29/10/2015).

Meskipun baru-baru ini telah mengatakan bahwa Qatar akan melakukan "intervensi militer" untuk melindungi Suriah yang terjebak dalam perang antara tentara rezim Assad dan sekutunya dengan pejuang oposisi Suriah, al Attiyah mengesampingkan kemungkinan pengerahan pasukan darat atau serangan udara Qatar, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera untuk ditayangkan pada hari Jumat.

"Mereka dapat membebaskan negara mereka sendiri. Apa yang mereka inginkan adalah dukungan finansial, mereka ingin orang mendengarkan mereka."

Ditanyakan oleh host dari Up Front Mehdi Hasan tentang dukungan Qatar untuk kelompok pejuang Ahrar al Sham, yang oleh kelompok hak asasi manusia dituduh melakukan kejahatan perang, al Attiyah mengatakan: "Saya tidak berpikir Ahrar al Sham melakukan tindak kejahatan tersebut. "

Seminggu sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan CNN, al Attiyah menyarankan Qatar melakukan intervensi militer menyusul intervensi Rusia dalam mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad, tapi mengatakan masih menyukai solusi politik untuk mengatasi krisis Suriah.

Komentar-komentar tersebut dibalas cepat oleh pemerintah Assad dengan peringatan dari seorang pejabat senior bahwa Damaskus akan menanggapi dengan keras setiap "agresi langsung."

Ketika ditanyakan oleh CNN akankah Qatar mendukung aksi militer Saudi dalam menanggapi intervensi Rusia, al Attiyah mengatakan: "Segala upaya untuk melindungi rakyat Suriah dan Negara Suriah akan kita laksanakan dengan saudara Saudi dan Turki, tidak peduli apa pun bentuknya.”

Deddy | Al Jazeera | Jurniscom