Komunitas Pendaki Gunung Priangan Timur Gelar Aksi Bagi-bagi Takjil

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Raya (KPGIR) Wilayah Priangan Timur melakukan aksi sosial dengan membagikan ta’jil di Bulan Ramadhan, Ahad, 26/05/2019.
 
Jali Koordinator KPGIR mengatakan “Agenda ini adalah agenda tahunan yang kami selenggarakan, sebagai kepedulian kita kepada masyarakat di Bulan yang penuh berkah ini”
 
Sebanyak 50 anggota yang tergabung dalam kegiatan ini, Jali merangkul berbagai komunitas untuk turut serta dalam bagi-bagi ta’jil.
Adcara berlokasi di  alun-alun Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya.
 
“Kami merangkul berbagai komunitas daerah seperti Banjar, Ciamis, Tasik, Singaparna, dan Ciawi untuk sama-sama meramaikan kegiatan ini,”katanya
 
Haparan besar  dari seorang Jali sebagai Koordinator KPGIR Priangan Timur, agar semua komunitas dapat andil menuai keberkahan dalam momentum bulan suci ramadhan ini.
Ia juga  berharap agar agenda selanjutnya dapat menyambangi kaum dhuafa sebagai kepedulian kami terhadap masyarakat sosial.
 

BSMI Santuni Keluarga Korban Meninggal Aksi 22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) memberi santunan kepada keluarga korban kerusuhan di Jakarta 22 Mei silam. Ketua Umum BSMI Djazuli Ambari memberikan bantuan dan santunan kepada keluarga almarhum Harun Rasyid di Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta dan keluarga almarhum Adam Noor Ryan di wilayah Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Djazuli menerangkan, BSMI akan memberikan santunan kepada keluarga semua korban meninggal pada kejadian di Jakarta beberapa waktu lalu. Santunan yang diberikan berupa uang tunai dan bingkisan sembako untuk menyambut hari raya Idul Fitri 1440 H.

“Semoga dengan sedikit santunan, bisa membantu keluarga yang ditinggalkan. Semakin bertambah sabar karena ditinggal anggota keluarga yang dicintai,” papar Djazuli dalam keterangannya, Senin (27/5).

Djazuli menyebut saat kunjungan ke keluarga almarhum Adam Noor Ryan, nampak keluarga besar cukup tegar dan ikhlas menerima kepergiaan Ryan yang masih berusia 19 tahun.

Sementara, kondisi berbeda dialami keluarga besar Harun Rasyid yang masih berusia 15 tahun. Kakak almarhum masih depresi dan sangat terpukul kehilangan Harun yang masih duduk di bangku SMP. “BSMI menyarankan pendampingan profesional untuk keluarga para korban terutama yang menunjukkan gejala depresi. Kami berdoa semoga kelurga almarhum dikuatkan dan diberikan ketabahan,” papar Djazuli.

Djazuli menyebutkan, BSMI fokus pada aksi-aksi kemanusiaan terlepas dari latar belakang sebuah aksi yang terjadi. Ia menegaskan, jika dalam sebuah peristiwa jatuh korban, maka BSMI terpanggil untuk membantu menyelamatkan korban karena panggilan kemanusiaan.

“Tim BSMI sebelumnya juga membantu merawat korban luka dan bekerjasama dengan rumah sakit dalam mengirim dan merawat korban. Kami memegang prinsip selamatkan satu jiwa sambung seribu asa. Satu-satunya motif kami adalah kemanusiaan,” ujar dia.

Amnesty Internasional Indonesia Desak Pelaku Kekerasan 22 Mei Diadili

JAKARTA – Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid mendesak Kepolisian dan Komnas HAM harus bersama-sama untuk segera melakukan investigasi.

Investigasi ini harus independen dan menyeluruh terhadap segala bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi saat aksi 22 Mei 2019 di Jakarta.

Rentetan aksi kekerasan terjadi setelah demonstrasi pada 22 Mei berlangsung di antaranya, jatuhnya korban tewas sebanyak delapan orang.

Diduga beberapa disebabkan oleh luka tembak dan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat dalam menangkap salah seorang warga di Kampung Bali, Jakarta Pusat.

“Para pelaku kekerasan, apakah itu berasal dari kepolisian maupun pihak-pihak dari luar yang memicu kerusuhan, harus diinvestigasi dan dibawa ke muka hukum untuk diadili,” kata Usman melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (27/05/2019).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga telah menyebutkan bahwa terdapat tiga anak tewas pasca aksi 22.

“Harusada investigasi mendalam dan menyeluruh untuk mengungkap fakta yang sebenarnya dan segera mengadili para pelaku,”tambahnya.

Menurutnya indikasi pelanggaran HAM berupa perlakuan yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia oleh aparat seperti yang terlihat dalam video yang viral di media sosial.

Dan juga telah dikonfirmasi oleh kepolisian menunjukkan bahwa kepolisian gagal dalam menerapkan prinsip hak asasi manusia dalam menjalankan tugasnya.

“Hal tersebut adalah pelanggaran serius terhadap SOP kepolisian itu sendiri karena apapun status hukum seseorang, aparat tidak boleh memperlakukan ia secara kejam,”ujarnya.

Apalagi sampai tidak manusiawi yang merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia.

“Aparat yang melakukan pemukulan harus diadili dan dihukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,”tambahnya.

Usman menilai penting untuk memastikan Komnas HAM secara aktif terlibat dalam melakukan investigasi untuk mengumpulkan bukti-bukti dugaan pelanggaran HAM yang terjadi.

Amnesty International Indonesia juga menyayangkan pemerintah Indonesia mengambil langkah menerapkan restriksi terhadap platform media sosial.

Seperti Facebook, Instagram, Whatsapp dan Twitter selama beberapa hari setelah aksi 22 Mei.

Walaupun pembatasan tersebut telah dicabut oleh pemerintah per 25 Mei 2019, Amnesty International tetap mengingatkan pemerintah karena telah melanggar HAM.

Sosok Ustaz Arifin Ilham di Mata Habib Novel Alaydrus

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Meninggalnya ulama karismatik Ustaz Arifin Ilham meninggalkan banyak kenangan.

Termasuk kenangan di mata ulama kondang Habib Novel Alaydrus.

Pengasuh Ponpes Ar-Raudhah, Solo menilai akhlak ustaz Arifin Ilham luar biasa.

“Yang saya lihat akhlaknya ma shaa allah. Kalau ketemu orang tua beliau panggil ayah, lebih tua darinya dipanggil kakak, ketemu ulama panggilnya guru. Selalu menempatkan orang lain lebih mulia dari dirinya,” kenangnya saat menceritakan kepada Jurnalislam.com usai mengisi kajian Hijrah Fest 2019 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakpus, Sabtu (25/05/2019).

Lelaki yang akrab disapa Habib Novel ini juga mengatakan mental pengasuh ponpes Az-Zikra saat menghadapi ujian sakitnya luar biasa. Pasalnya, saat orang menghadapi ujian sakit itu tidak mudah, ibadah akan menurun. Tetapi beliau tidak, tetap istiqomah.

“Kita saja saat terkena flu sedikit, ibadah langsung kurang. Sedangkan Ustaz Arifin dengan penyakit yang dideritanya, bahkan ketika paham penyakitnya akan membuatnya bisa kehilangan nyawanya, dia mempersiapkan diri untuk menyambut nyawanya diambil. Beliau menyambutnya dengan terus beribadah,” tuturnya.

Hari Terakhir Hijrahfest 2019 Akan Didedikasikan Untuk Almarhum Ustaz Arifin Ilham

Ustaz Arifin Ilham di Mata Keluarga Ustaz Abu Bakar Ba’asyir

Mengenang Kembali Pesan Cinta Ustaz Arifin untuk Para Peserta Aksi 212

Sikapi Perlakuan Pemerintah, Umat Islam Diminta Bersabar Sambil Terus Berjuang

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharu Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir angkat suara pasca aksi represif aparat terhadap para pengunjuk rasa 22 Mei lalu.

Melihat situasi terakhir, pria yang karib disapa Iim ini mengatakan bahwa hari-hari umat Islam ke depan akan semakin berat.

Menurutnya, umat Islam akan dituntut untuk mempunyai kesabaran ekstra.

Ia melihat rezim saat ini adalah ujian bagi kaum muslimin.

Dengan segala kedzaliman yang dilakukan rezim kepada umat Islam, kata Iim, semua itu  adalah cara Allah untuk mengangkat derajat umat Islam Indonesia.

“Semua ujian itu tujuannya adalah untuk mengangkat derajat seseorang hamba itu di hadapan Allah kalau kita lulus maka nilainya akan semakin tinggi, kalau kita gak lulus ya kita akan terjerembab di situ,” katanya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (25/5/2019).

Bahkan tambahnya, umat harus bersabar dan terus berjuang.

“Bersabar dan tetap istiqomah dalam perjuangan menegakkan Dinul Islam sembari terus melakukan evaluasi internal,” pungkasnya.

Lakukan Verifikasi, Media Islam Disarankan Jadi Sumber Informasi Netizen Muslim

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharu Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir mengatakan bahwa para netizen muslim diminta bijak bermedia sosial.

Ustaz Iim juga meminta umat Islam untuk bijak dalam menyikapi informasi yang berkembang.

“Umat Islam untuk melakukan verifikasi informasi kepada pihak-pihak yang terpercaya di kalangan umat seperti media-media Islam,” katanya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (25/5/2019).

Dalam kondisi seperti ini, kata dia, umat Islam wajib mengamalkan surat Al-Hujurat ayat 6.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Seperti diketahui, banyak hoax-hoax bertebaran di media sosial, yang tidak terverifasi kebenarannya.

Bahkan hoax ini disebarkan oleh kalangan umat Islam sendiri.

 

Aparat Diminta Jangan Halangi Hak Warga untuk Sampaikan Aspirasi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Juru bicara Jamaah Ansharu Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir mengatakan, menyampaikan aspirasi akan ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah merupakan hak warga negara.

Hak ini yang dilindungi oleh Undang-undang. Akan tetapi dalam aksi 22 Mei, Ustaz Iim, sapaan karibnya, menilai justru aparat telah menghalangi hak-hak tersebut.

Hal itu dapat dilihat dari banyaknya upaya penghadangan massa yang ingin mengikuti aksi yang digelar di depan kantor Bawaslu RI, Jl.Thamrin, Jakarta Pusat itu.

“Upaya menghalangi perjalanan mereka itu begitu masif, banyak yang dicegat dijalan,” katanya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (25/5/2019).

Belum lagi, tambahnya, ada yang disuruh kembali dan bahkan ditangkap lalu dibawa ke kantor polisi dan di proses,”

Aparat, kata dia, seharusnya melayani hak konstitusi warga untuk menyampaikan pendapat.

Bukannya, kata Iim, malah  menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan.

Tindakan aparat tersebut justru menjatuhkan simpati masyarakat terhadap institusi kepolisian.

“Seharusnya tidak boleh menghalanginya tapi memberikan ruang untuk supaya rakyat menyampaikan ketidakpuasannya,” kata Iim Baasyir, panggilan karibnya.

Kemudian, pemerintah dimintanya mengambil langkah-langkah yang terbaik untuk menangani atau mengatasi permasalahan-permasalahan.

Khususnya yang diadukan rakyat itu dan merespon dengan sebaik-baiknya.

“Lalu kemudian mencari solusi terbaik dari permasalahan yang ada sehingga tidak terjadi kekacauan dan tidak ketidapuasan yang berkepanjangan di masyarakat,” pungkasnya.

Delegasi Hamas Akhiri Kunjungan Resminya ke Malaysia

KUALA LUMPUR (Jurnalislam.com) – Delegas pemerintahan Palestina,  HAMAS yang dipimpin oleh tokoh Palestina Khaled Meshaal telah mengakhiri kunjungan resminya ke Malaysia pada hari Jumat 24 Mei.

Kunjungan ini bertepatan dengan acara buka tahunan iftar akbar ke-9 yang dihelat Organisasi Budaya Palestina Malaysia (PCOM).

Delegasi memulai kunjungan dengan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad.

Delegasi juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Tan Sri Muhyiddin Yassin, Menteri Pertahanan Mr. Mohamad Sabu, Menteri Wilayah Federal Mr. Khaled Samad.

Delegasi juga bertemu dengan para pemimpin partai politik seperti pemimpin PKR Dato ‘Seri Anwar Ibrahim, pemimpin PAS Dato Seri Abdulhadi Awang.

Ada juga pemimpin UMNO Dato’ Seri Zahid Hamidi, dan Wakil Menteri Luar Negeri Dato ‘Marzouki Yahya.

Khaled Meshaal menyoroti situasi Palestina saat ini, terutama pelanggaran terhadap Yerusalem, pengepungan Israel di Gaza, dan “Kesepakatan Satu Abad”.

Yaitu, Amerika yang ingin menjadikan al Quds sebagai Ibu Kota Israel.

Meshaal menekankan pentingnya menangani rencana-rencana ini dan mengambil posisi yang jelas untuk menolaknya.

Dia juga memuji peran dan kepemimpinan Malaysia yang berani dalam mendukung perjuangan dan hak-hak rakyat Palestina.

Perdana Menteri Malaysia menegaskan kembali posisinya yang teguh dalam mendukung rakyat Palestina dan tujuan mereka yang adil serta menolak proyek politik apa pun yang tidak memenuhi hak-hak rakyat Palestina.

Ombudsman: Pemerintah Berlebihan Blokir Media Sosial

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Kebijakan pemerintah membatasi akses penggunaan media sosial alias medsos merupakan tindakan berlebihan. Karena tingkat ketergantungan masyarakat pada medsos saat ini sangat tinggi.

“Saya lihat ini agak berlebih terlalu jauh pemerintah mengambil tindakan memblokir medsos. Karena, medsos ini sekarang sudah semakin canggih dan masyarakat, termasuk rakyat dibangsa ini, ketergantungannya tinggi terhadap medsos,” kata Komisioner Ombudsman RI Laode Ida melalui rilis yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (24/5/19).

Menurut Laode, penggunaan medsos itu bukan hanya soal mendapatkan informasi, namun juga banyak pekerjaan, agar lebih efisien, memanfaatkan medsos. Seperti mengirim surat melalui WhatsApp (WA).

Oleh sebab itu, jika pembatasan medsos ini masih berlanjut, artinya pemerintah telah menganggu pelayanan publik.

“Ini sudah menjadi bagian dari sumber kehidupan orang di samping orang kerja. Ketika saya harus mengirim perintah kepada teman, mengirim surat untuk memperlancar kerja kami, ternyata tidak bisa dikirim lewat WA, karena masih terganggu. Itu artinya menganggu, menganggu pelayanan publik secara umum,” kata Laode.

Selain itu, pemerintah juga sudah membatasi hak warga negara untuk memperoleh informasi dengan menggunakan teknologi.

“Artinya, penghapusan hak orang menjadi terganggu. itu pelanggaran hak warga sebetulnya,” kata Laode.

FPI Dorong Investigasi Menyeluruh Dugaan Hilangnya 57 Orang di Ricuh 22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Tim Investigasi FPI, Ali Alatas mengatakan akan mendorong Komnas HAM untuk melakukan investigasi korban hilang yang mencapai 57 orang.

“Kita dorong betul Komnas HAM melakukan investigasi menyeluruh. Autopsi, uji balistik dll,” katanya saat konferensi pers di kawasan Tebet, Jumat (24/05/2019).

Front Pembela Islam menerima laporan hilangnya 57 orang dalam kerusuhan usai demonstrasi di Bawaslu pada 21-22 Mei.

Ali Alatas mengatakan laporan itu berasal dari para warga yang mendatangi kantor FPI maupun menyampaikannya melalui aplikasi Whataspp.

Ali mengaku tidak dapat memastikan nasib 57 orang tersebut apakah masih hidup atau meninggal dunia

“Kita masih mencari tahu kondisi mereka,” terang Ali.

Ali menerangkan pihaknya akan melakukan investigasi mengenai 57 orang yang hilang tersebut.