Jadikan Agama Sebagai Sumber Peningkatan Peradaban

ACEH(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi berpesan kepada para mahasiswa untuk menjadikan agama sebagai sumber peningkatan peradaban umat. Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan kuliah umum di IAIN Takengon, Aceh.

Kuliah umum diberikan dengan tajuk ‘Penguatan Strategi Pembelajaran Moderasi Beragama pada PTKI’. “Memang seharusnya agama dijadikan sebagai sumber peningkatan peradaban, bukan sebatas identitas kelompok sosial, sehingga tidak dimaknai sebagai ancaman antar kelompok keagamaan itu sendiri, baik eksternal maupun internal,” terang Wameng di Takengon, Sabtu (16/4/2022).

“Kehadiran agama yang berbeda-beda itu mestinya mengintegrasikan, bukan malah dijadikan arena pengukuhan segregasi sosial dan kekerasan atas nama agama,” sambungnya.

Dalam konteks itu, Wamenag melihat pentingnya penguatan moderasi beragama yang saat ini menjadi salah satu program priotitas Kementerian Agama. Menurutnya, pemahaman keagamaan yang moderat melihat dan memahami bahwa keberagamaan atau perbedaan adalah suatu hal yang niscaya dan dinamis.

“Moderasi beragama adalah sebuah komitmen untuk mengajarkan kepada kita tentang ruang-ruang yang ada dalam perbedeaan. Produk dari moderasi beragama adalah toleransi,” sebutnya.

“Moderasi beragama secara prinsip jangan dipahami sebagai moderasi agama. Sebab agama sudah mengajarkan nilai-nilai moderat,” sambungnya.

Menurut Wamenag, agama bisa meneguhkan nilai-nilai Pancasila dan kerukunan, manakala dimaknai sebagai sumber peradaban dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia. “Saya bersyukur dan bangga Indonesia telah final mengatur hal tersebut. Agama dan negara yang saling melengkapi berjalanan seiringan bahkan sebagai pedoman dalam bernegara,” ucap Wamenag.

Bahkan, lanjut Wamenag, hukum agama diadopsi sebagai hukum positif, seperti Undang-undang Pernikahan, Wakaf, Jaminan Produk Halal, bahkan juga UU Tindak Pidana Korupsi. “Hubungan agama dan negara sangat berkaitan erat, tidak dapat dipisahkan,” sebutnya.

Wamenag berpesan agar PTKI mengambil peran terdepan dalam penguatan moderasi beragama. PTKI juga harus beradaptasi dan mengembangkan inovasi-inovasi yang lebih bermanfaat dan berdampak luas.

Rektor IAIN Takengon Zulkarnain menegaskan komitmennya untuk mengawal program priotitas Kementerian Agama dalam penguatan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Negeri. Menurutnya, salah satu kunci dalam proses penguatan moderasi beragama adalah komunikasi yang baik.

“Untuk itu, IAIN Takengon sebagai bagian dari perguruan tinggi keagaman Islam binaan Kementerian Agama siap menyebarluaskan serta memberi pemahaman yang utuh kepada masyarakat tentang moderasi beragama,” terang Zulkarnain.

“IAIN Takengon yang bertranformasi sejak tahun 2020 juga akan terus mengembangkan kampus menuju Cyber Islamic University,” sambungnya.

Menurut Zulkarnain, pihaknya saat ini terus melakukan upaya pengembangan dan peningkatan kualitas perkuliahan di kampus. Sejumlah saran dan prasarana terus dilengkapi. Demikian juga dengan sumber daya manusia (SDM), IAIN Takengon terus berupaya melakukan peningkatan kualitas mereka.

“Ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan perguruan tinggi berkualitas di Bumi Gayo. Kami tengah bersiap untuk transformasi menjadi Universitas Islam Negeri atau UIN,” tandasnya

Turut hadir dalam kuliah umum Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar, Rektor IAIN Takengon Zulkarnain, Direktur Penerangan Islam, Kanwil Kemenag Prov. Aceh Plt. Kabag TU Marzuki, Ka.Kemenag Aceh Tengah Saidi Bentara.

Nuzulul Qur’an, mat Diminta Pahami Isi Al Qur’an

ACEH(Jurnalislam.com)– Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia (hudan lin-nas) dan merupakan buku panduan (manual book) bagi tatanan kehidupan manusia. Dalam menghadapi segala persoalan dan tantangan, umat Islam sebagai pewaris kitab suci ini semestinya kembali kepada Al-Qur’an sebagai manual book.

“Al-Qur’an jangan hanya menjadi jargon yang kehilangan makna. Oleh karena itu, umat Islam harus memahami isi Al-Qur’an secara utuh,” pinta Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat membuka Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) Ke-52 Radio Republik Indonesia (RRI) Tingkat Nasional di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, Rabu (13/04/2022).

Adapun untuk memahami isi Al-Qur’an, sambung Wapres, dibutuhkan bimbingan dan tuntunan para ulama.

“Karena para ulamalah yang memiliki kemampuan tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wapres menuturkan bahwa Al-Qur’an selain mengajarkan tentang ibadah juga mengajarkan tentang tata pergaulan antarmanusia melalui sikap-sikap yang terpuji.

“Jika sudah memahami Al-Qur’an dengan benar dan konsisten mengamalkannya, maka tidak ada lagi praktik adu domba, memproduksi dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, maupun praktik tidak baik lainnya, karena hal tersebut dilarang oleh Al-Qur’an,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kepada generasi pecinta Al-Qur’an, Wapres berpesan harus dapat memberikan kontribusi bagi bangsa dan menghadirkan teladan yang baik (uswah hasanah) bagi masyarakat, sesuai dengan pesan-pesan luhur Al-Qur’an, termasuk menjaga persaudaraan dan persatuan.

“Karena persaudaraan dan persatuan itu akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan bangsa,” pesannya.

Sebagai manual book, kata Wapres, Al-Qur’an juga memberikan tuntunan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Bahkan surat pertama Al-Qur’an yang berbunyi “Iqra bismi rabbik” mengandung arti bukan hanya sekedar membaca tetapi juga melakukan penelitian (attathallu’) dan melakukan riset, karena kalau hanya membaca semata-mata kalimat yang digunakan bukan “iqra” tetapi “utlu” (tilawah),” terang Wapres.

“Oleh karenanya, perlombaan membaca Al-Qur’an tidak menggunakan kalimat Musabaqah Qiraatil Qur’an, tetapi menggunakan Musabaqah Tilawatil Qur’an,” imbuhnya.

Lebih jauh, Wapres menjelaskan bahwa Al-Qur’an juga mengandung ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, antara lain nilai-nilai kejujuran, pemerataan, keadilan, larangan berbuat zalim, ribawi, mengambil hak orang lain secara tidak sah, dan lain-lain.

“Syekh Nawawi Al-Bantani ketika menafsirkan ayat khudzu hidzrakum (Surat Hud), memberikan penjelasan bahwa ayat ini juga menunjukkan tentang kewajiban menjaga diri dari semua marabahaya yang diduga akan terjadi,” paparnya.

Dengan demikian, Wapres menyimpulkan bahwa menjaga diri dari Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi termasuk perbuatan yang wajib dilakukan.

“Kata beliau (Syekh Nawawi), berobat dan menjaga diri dari wabah adalah wajib hukumnya,” tuturnya.

Mengakhiri sambutannya, Wapres pun menyampaikan apresiasi kepada RRI beserta segenap pihak yang mendukung penyelenggaraan Pekan Tilawatil Qur’an RRI Tingkat Nasional yang ke-52. Ia pun berharap acara ini dapat menjadi media yang menyuburkan syiar Islam yang penuh kedamaian dan tidak membeda-bedakan.

“Musabaqah diharapkan dapat semakin mendorong dan meningkatkan perhatian umat Islam, terutama generasi muda Islam, untuk tekun membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an di tengah derasnya arus perubahan sosial dan budaya, serta globalisasi dan transformasi digital dewasa ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan PTQ menjadi salah satu sarana menjaga kemurnian Al-Qur’an melalui tradisi lisan para pembaca, sehingga Al-Qur’an tetap terjaga eksistensinya dari generasi ke generasi, sebagai petunjuk untuk mewujudkan rahmat bagi semesta alam.

“Menurut kami upaya menjaga kemurnian Al-Qur’an inilah yang menjadi salah satu misi dan tujuan penting LPP RRI bersama Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Tengah, dalam menyelenggarakan Pekan Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Nova berharap agar esensi pagelaran PTQ kali ini benar-benar dijadikan sebagai sarana menyebarkan syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sekaligus ajang memperkuat ukhuwah dan mempererat silaturahim antar sesama umat beragama dan antarumat beragama.

“Dengan begitu, event ini diharapkan dapat menambah minat masyarakat dalam membaca dan belajar Al-Qur’an serta mengupayakan agar Al-Qur’an benar-benar tertanam dalam hati masyarakat terutama setiap muslim di Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama LPP RRI I Hendrasmo melaporkan bahwa tema PTQ “Rahmat Semesta, Pulih Bersama, Bangkit Perkasa” memberi pesan bahwa PTQ RRI dimaksudkan bukan hanya sebagai media syiar Islam dan menyemarakkan bulan Ramadan saja, namun juga untuk memberi ruang kepada generasi muda meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Sehingga diharapkan mereka dapat memahami isi dan kandungan Al-Qur’an sebagai penuntun, menuju kualitas kehidupan beragama, yang semakin baik, serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian.

“Selain itu, menjadi pengingat bagi segenap anak bangsa, untuk berjuang tanpa henti guna terbebas dari pandemi Covid-19, serta tangguh menghadapi tekanan ekonomi global melalui kebangkitan ekonomi Indonesia yang kian mapan,” tambahnya.

Selain itu, Hendrasmo melaporkan pula bahwa peserta PTQ tahun ini mencapai 3.164 peserta di seluruh Indonesia, di mana pada 2021 hanya 2,500 peserta.

“Selain melombakan cabang Tilawah, Tausyiah dan Tahfidz, kami juga beri ruang bagi saudara-saudara kita Difabel Sensorik Netra, dalam cabang lomba Tartil yang dilakukan melalui aplikasi Zoom,  dan dinilai oleh Dewan Hakim dari Kementerian Agama RI. Hal ini sebagai bentuk inklusivitas LPP RRI, dalam memberi layanan kepada semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat yang rentan, termarjinalkan, kelompok disabilitas dan sebagainya,” paparnya.

Dalam pelaksanaan PTQ ini, kata Hendrasmo, juga diselenggarakan pameran UMKM binaan Pemda Kabupaten Aceh Tengah, guna mendorong dan meningkatkan gairah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Kegiatan tambahan lainnya adalah penebaran ribuan benih ikan air tawar di danau Lut Tawar oleh 69 satuan kerja RRI se-Indonesia, serta penyelenggaraan seminar,” sebutnya.

Selain membuka PTQ, pada lokasi yang berdekatan Wapres juga menyerahkan Bantuan Langsung Tunai Minyak Goreng; Bantuan Tunai Pedagang Kaki Lima, Warung dan Nelayan (BT-PKLWN); serta bantuan sosial lainnya seperti bantuan untuk anak yatim piatu dan penyandang disabilitas kepada masyarakat.

Hadir dalam acara ini Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar; Ketua dan Anggota DPRD Provinsi Aceh; Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar; Pj. Bupati Bener Meriah Islah; Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Syamsul Bahri; Direktur Kerajsama Kepersertaan BP Tapera Syafi’i Toha; Ketua dan Anggota Dewan Pengawas LPP RRI; Dewan Direksi LPP RRI; segenap Anggota FORKOPIMDA Provinsi Aceh; serta Dewan Hakim, Panitera Peserta, Pendamping, Panitia PTQ LPP RRI Tingkat Nasional Ke-52.

Sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi, Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah Muhammad Imam Aziz, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Lukmanul Hakim, dan Tim Ahli Wapres Farhat Brachma

 Israel Dicap Negara Jahat, MUI Harap Pemerintah RI Bertindak

JAKARTA(Jurnalislam.com) –Aparat Kepolisian Israel menyerang warga Palestina di Komplek Masjid Al-Aqsa yang hendak melaksanakan sholat Shubuh berjamaah, pada Jumat (15/4). Akibatnya, sejumlah warga Palestina menjadi korban luka-luka.

Menanggapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras tindakan Israel terhadap warga Palestina. MUI menyebut Israel adalah negara penjahat dan melakukan tindak kekerasan yang sangat memalukan.

“Tindakan kekerasan dan penyerangan yang dilakukan oleh aparat Yahudi Zionis terhadap jemaah Muslimin dan Muslimat yang melaksanakan ibadah di Masjidil Aqsho benar-benar memalukan,” ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, dalam keterangan tertulis yang diterima MUIDigital, Sabtu (16/4/2022).

Prof Sudarnoto menambahkan, tindakan Israel ini semakin meyakinkan bahwa negara ini memang dipimpin oleh para penjahat kemanusian dan tidak beradab. Menurutnya, hanya penjahatlah yang melakukan tindakan-tindakan seperti itu yang tidak memiliki akal sehat dan nurani.

“Semua tindakan kejahatan eksponensial ini tidak bisa diterima oleh akal sehat dan nurani, bertentangan dengan ajaran agama apapun, dan melanggar hukum termasuk hukum internasional. Umat Islam Indonesia mengutuk tindakan brutal aparat Israel ini,” tegasnya.

Prof Sudarnoto menilai, tindakan yang dilakukan oleh Israel seharusnya semakin menyadarkan kepada negara-negara manapun, terutama negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

 

MUI mengeluarkan tiga rekomendasi atas respon penyerangan Israel terhadap Palestina, khususnya pada negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik.

Pertama, meninjau ulang kerja sama dan hubungan diplomatik dengan Israel. Kedua, melakukan langkah-langkah yang pasti untuk melawan Israel dengan berbagai cara yang bisa dilakukan.

“Agar Israel menghentikan sama sekali kejahilan atau kejahatan yang secara terus menerus dilakukan terhadap warga Palestina,” tambahnya.

Ketiga, meningkatkan kesadaran bahwa Israel memang negara yang tidak bisa dipercaya. Selain itu, MUI juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan langkah serius terhadap Israel.

Salah satunya, dengan memboikot Israel dan menyeret Israel ke Mahkamah Internasional, serta memberikan sanksi internasional kepada Israel.

 

Ia juga menyangkan sikap Amerika Serikat yang selama ini memberikan dukungan terhadap Israel, yang tidak merubah cara pandangnya agar bisa bertindak secara lebih adil dan benar-benar membela kemanusian.

Prof Sudarnoto mengingat janji Presiden Amerika Serikat, Joe Biden saat dilantik menjadi presiden yang menyatakan akan “menghentikan kemungkaran.” Seharusnya, kata dia, janji ini ditepati sehingga tidak sekedar “lip service” untuk menyenangkan umat Islam hanya sementara waktu.

Dengan demikian, MUI meminta Amerika Serikat untuk menunjukkan kemauan dan kemampuannya menghentikan kebrutalan Israel.

“Untuk umat Islam dan warga Indonesia secara umum, saya berharap untuk serta melakukan langkah-langkah positif membela warga, rakyat dan bangsa Palestina dari ketertindasan dan kebrutalan Israel,” pungkasnya.(mui)

 

Ramadhan, Perbanyak istigfar dan Amal Kebaikan

ACEH(Jurnalislam.com)– Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 disebutkan bahwa perintah puasa di bulan Ramadan adalah untuk menjadikan orang-orang yang beriman menjadi hamba yang bertakwa. Oleh karena itu, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengajak segenap umat Islam agar menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan.

“Ramadan yang mubarak ini marilah kita jadikan sebagai momentum untuk menjadikan kita orang yang bertakwa kepada Allah SWT,” tutur Wapres saat memberikan tausiah sebelum salat Tarawih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu malam (13/04/2022).

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan alasan pentingnya umat Islam menjadi hamba yang bertakwa (muttaqin). Menurutnya, derajat manusia yang paling tinggi di sisi Allah adalah orang yang paling muttaqin.

“Kenapa kita harus menjadi muttaqin? Karena di sisi Allah SWT yang memiliki kehormatan itu hanyalah orang muttaqin,” tuturnya.

Wapres pun menambahkan bahwa menjadi muslimin dan mukminin saja tidak cukup tetapi umat Islam harus juga menjadi hamba yang muttaqin.

“Karena memang (semakin tinggi) tingkat kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah orang yang paling muttaqin, bukan karena keturunannya. Tidak juga karena hartanya, pangkatnya, jabatannya, atau kedudukannya,” terang Wapres.

Adapun gelar muttaqin, tutur Wapres, hanya dapat dicapai dengan mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

“(Misalnya) melalui amalan-amalan ibadah puasa, tarawih, salat malam (qiyamul lail), i’tikaf, tadarus Al-Qur’an, serta dengan banyak memberikan sedekah, dan lain-lain,” sebutnya.

Lebih jauh, selain mengajak para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan, Wapres juga mengajak untuk memperbanyak memohon ampunan kepada Allah.

“Yang kedua marilah kita jadikan momentum Ramadan ini untuk memohon ampun pada Allah SWT,” ajaknya.

Menurut Wapres, setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat dan memohon ampunan.

“Kita manusia, kecuali para nabi atau utusan, tidak ada yang maksum, tidak ada yang terpelihara dari salah. Semua manusia itu pernah salah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah itu adalah orang yang bertaubat, baik kesalahan kecil atau besar,” terangnya.

Wapres pun menjelaskan bahwa kesalahan manusia dibagi menjadi dua jenis yakni kesalahan lahir dan kesalahan batin. Namun menurutnya kesalahan batin adalah yang paling susah dihindari dan sering dilalaikan karena yang bisa menyadari hanya diri sendiri.

“Kesalahan batin itu adalah perasaan-perasaan yang tidak baik, seperti takabur, ujub, riya, hasud, dan berbagai perasaan buruk lainnya,” ujarnya.

Kesalahan lahir maupun batin, kata Wapres, sekalipun dilakukan dengan tidak disengaja dan kelupaan tetap bisa menyebabkan dosa.

“Bukankah tidak sengaja itu tidak dianggap berdosa? Memang ada hadist yang menyebutkan tidak berdosa apabila berbuat salah karena tidak sengaja dan kelupaan. Tapi kata ulama yang tidak jadi dosa itu kalau ketidaksengajaan atau lupanya itu karena tidak ada kelalaian, tidak menganggap remeh,” jelasnya.

Misalnya, sebut Wapres, orang yang tidur sebelum shalat Isya hingga dia terlewat dan akhirnya tidak melaksanakan shalat Isya, meskipun tidak sengaja tetap berdosa. Sebab, orang tersebut dianggap lalai dan meremehkan shalat di awal waktu.

“Seperti orang hafalan Qur’an kemudian lupa. Kalau lupanya itu karena dia tetap melakukan murojaah (kegiatan menghafal) maka tidak berdosa. Tapi kalau karena tidak mengulang-ulang hafalannya, itu dianggap lalai, karena punya hafalan tidak terus diulang-ulang. Itu berdosa,” sebut Wapres memberikan contoh lain.

Oleh sebab itulah, Wapres mengajak umat Islam untuk banyak memohon ampunan khususnya di bulan suci Ramadan. Sebab, meskipun bukan nabi yang maksum, setiap orang tetap bisa dijaga dari berbuat salah yakni dengan terus mendekatkan diri kepada Allah.

“Kalau kita mendekat kepada Allah di bulan Ramadan khususnya dan di bulan-bulan lain, kita akan dijaga oleh Allah (melalui) himayah robbaniyyah dan inayah robbaniyyah atau pertolongan Allah. Kita akan dijaga walaupun tidak seperti dijaganya para nabi,” ungkapnya.

Mengakhiri tausiahnya, Wapres berpesan agar para jamaah terus menjadi pemakmur bumi, karena memakmurkan bumi juga merupakan salah satu kewajiban manusia.

“Terakhir saya ingin menyampaikan juga bahwa selain perintah Allah agar menjadi orang yang bertakwa, Allah juga memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi. Itu kewajiban kita,” tutur Wapres.

“Allah SWT berfirman, Dialah yang menjadikan kamu dari bumi dan meminta kamu untuk memakmurkan bumi,” imbuhnya.

Memakmurkan bumi, sebut Wapres, dapat diartikan sebagai membangun bumi melalui berbagai aktivitas ekonomi seperti mengembangkan pertanian, perindustrian, perdagangan, pertambangan, dan lain-lain. Adapun kunci untuk memakmurkan bumi adalah sumber daya manusia (SDM) unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Inilah yang sedang dikembangkan pemerintah Indonesia saat ini dengan apa yang disebut meningkatkan SDM unggul supaya bisa membangun negara ini dengan memakmurkan bumi,” pungkasnya.

Menutup tausiahnya, Wapres berdoa agar masyarakat Indonesia terus mendapatkan pertolongan Allah dan bangsa Indonesia senantiasa dijaga dari segala perpecahan, penyakit atau wabah, serta berbagai kesulitan sehingga menjadi bangsa yang kuat. Usai memberi tausiah, di masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini, Wapres pun turut melaksanakan salat Tarawih dan witir berjamaah.

 

Ngabuburit Ala FLP Sulsel, Dari Kajian Ketuhanan Hingga Menyoal Ade Armando

SUMSEL(Jurnalislam.com)–Forum Lingkar Pena Wilayah Sulawesi Selatan (FLP Sulsel) menggelar kajian keislaman secara daring melalui platform Google Meet, Sabtu (16/4/2022). “Iman dan Nalar Kritis” menjadi tema menarik yang diangkat dalam kajian sembari mengisi waktu ngabuburit tersebut.

Dimoderatori oleh Ika Rini Puspita, ketua FLP Cabang Gowa, kajian yang bertujuan untuk internalisasi nilai spiritual terhadap anggota FLP itu dihadiri oleh 22 orang peserta.

Muhammad Tahir selaku pemateri menyampaikan bahwa iman yang menuntut seseorang untuk meyakini dan mempercayai sesuatu harus disertai nalar kritis yang mempertanyakan terlebih dahulu keyakinan tersebut.

“Kalau kita dalam Islam, mempertanyakan segala sesuatu itu hatta sampai Tuhan, Nabi, Kitab dan lain sebagainya itu, ya silahkan saja. Menguji keyakinan kita hari ini, tidak ada masalah. Lebih baik keimanan setelah keraguan dari pada keraguan setelah keimanan” Jelasnya.

Dosen Hadis/Ilmu di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado itu lalu mengupas secara spesifik keimanan pada Tuhan. Ia Membeberkan bahwa wujud Tuhan dapat dibuktikan secara nash (dalil naqli)

“Kalau kita merujuk kepada Al-Qur’an, ya Tuhan itu ada. Misalnya di surah At-Tur ayat 35, disebutkan “apakah mereka diciptakan tanpa pencipta atau mereka menciptakan diri mereka sendiri?” itu pertanyaan filosofis sekali. Coba jawab pertanyaan itu, anda akan terjebak dan mengakui Tuhan itu ada” Ungkapnya.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa membuktikan wujud Tuhan Jangan bernalar pada dzat-Nya, karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Tapi bernalarlah pada alam semesta.

“Coba anda perhatikan alam semesta, langit yang berdiri tanpa ada tiang, awan berarak, matahari terbit dan terbenam, dan seterusnya. Akhirnya kita sampai pada kesimpulan tidak mungkin ini teratur tanpa ada yang mengaturnya” Jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, Anggota Komisi Fatwa MUI Sulut itu mengingatkan pentingnya menjaga kesalarasan antara Iman dan Nalar Kritis. Menurutnya, keimanan setelah melalui penalaran dan kajian mendalam akan membuatnya tidak mudah goyah.

“Kalau ada yang mengkritik Tuhan, mengkritik Al-Qur’an, mengkritik Islam, yah tidak ngaruh bagi kita, karena kita sudah yakin Islam itu sempurna, yang tidak sempurna itu pemahaman kita” Ungkapnya

Sebaliknya, menurut Muhammad Tahir, Iman tanpa diimbangi dengan nalar kritis akan membuat seseorang mudah terpengaruh, reaktif dan emosional.

“Ada yang mengatakan sholat tidak wajib, mestinya ditanya apa argumentasinya. Jadi otak dihadapi dengan otak, jangan otak dihadapi otot. Seperti kasusnya Ade Armando, karena mungkin tidak bisa dibantah, jadi kita menggunakan otot dan kita merasa menang. Sebenarnya anda yang kalah!” bebernya.

Sebagai Penutup, Muhammad Tahir mengajak peserta untuk menghidupkan nalar kritis dengan banyak berdiskusi, membaca dan menulis.

“Agama itu hadir hanya untuk orang-orang berakal” Pungkasnya.

 

Abd. Rajab Mar’am

(Humas FLP Sulsel)

 

Menag Ingin 5000 Pesantren Jadi Model Kemandirian Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Dalam Islamic Entrepreneurial Marketing Festival 2022, Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan diantara 36.600 pesantren di penjuru negeri, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk percepatan kemandirian finansial pesantren. Hal ini disampaikan dalam rangka menyambut program Corporate Shadaqah yang dirilis saat gelaran IEMF 2022 oleh MarkPlus Islamic, pada 14/4/2022.

“Sejak dilantik sebagai Menteri Agama, kami berharap 5000 pondok pesantren mampu menjadi model penguatan kemandirian ekonomi pesantren.”

“Saya mendorong BUMN dan swasta untuk mengangkat kemandirian ekonomi pesantren. Kalau bisa konsisten, akan mampu menjadi penggerak ekonomi nasional seperti yang diharapkan Presiden Joko Widodo. Oleh karenanya, saya sangat mengapresiasi IEMF dan Islamic Entrepreneurial Marketing Certification.”, tukas Yaqut.

Yaqut menilai peran MarkPlus Islamic sebagai konsultan yang menguasai entrepreneurial marketing merupakan buah dukungan yang esensial, agar potensi pondok pesantren di Indonesia tak hanya pesat dalam sektor keagamaan, namun juga dalam pengembangan umat.

Perpres no 82 tahun 2021 tentang Dana Abadi Pesantren menjadi babak baru rekognisi negara terhadap dunia pesantren, Ia berharap korporasi mampu memberi dukungan melalui program Corporate Shadaqah untuk mengatasi keterbatasan biaya.

“Pesantren butuh dukungan untuk membiayai kegiatan entrepreneurial, termasuk dalam mengikuti pelatihan juga membutuhkan biaya. Karena itu kami mengajak perusahaan untuk mendukung

Sekilas mengenai Islamic Entrepreneurial Marketing Certification, merupakan program pelatihan dan sertifikasi yang didesain untuk memberikan kompetensi praktis seputar pemasaran dan bisnis yang sesuai dengan ilmu muamalah.

Kompetensi sertifikasi ini didesain oleh MarkPlus Institute secara praktis dan mudah diterapkan oleh santri, disertai dengan praktik penulisan ide bisnis dalam esai capstone project. Program ini akan dikemas dalam paket peserta 100 hingga 500 peserta.

Terdapat paket Alif hingga Jim yang bisa dipilih korporasi untuk turut mendukung program pelatihan dan sertifikasi ini. MS Glow, menjadi perusahaan pertama yang telah berpartisipasi sejak program ini diluncurkan pada IEMF 2022.

Dalam perhelatan IEMF 2022 yang dilaksanakan pada Kamis, 14 April 2022 hadir Umi Waheedah selaku pimpinan Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Bogor. Sejak 2010, Umi Waheedah membangun berbagai program yang dikemas pada tiga fokus, bisnis, sosial, dan akhirat.

Selain menghidupi santri melalui tambang batubara dan bisnis perikanan, Ia juga membangun bisnis di sektor f&b seperti produksi roti dan mie dan dikemas dalam program FEWW (Food, Energy, Water and Waste), yang pada operasionalnya melibatkan santri serta staf yayasan. Inovasi ini patut dicontoh oleh pondok pesantren lainnya di Indonesia.

Menutup acara ini, Herry Aslam Wahid sebagai Direktur Eksekutif MES menambahkan “Berhubungan dengan visi MarkPlus Islamic, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam Global Islamic Economy. Sayangnya, industri keuangan syariah seperti bus yang sarat penumpang. Perlu diciptakan pengusaha-pengusaha dari pesantren. Peluang pasar ekonomi syariah global memiliki potensi yang sangat besar. Di tahun 2022 sektor food and beverage sangat besar. Di 2025, akan tumbuh lebih besar.”, ujarnya.

Dalam gelaran Islamic Entrepreneurial Marketing Festival 2022 oleh MarkPlus Islamic telah diulas berbagai wawasan menarik seputar entrepreneurial marketing. Acara ini disponsori oleh Bank BJB Syariah dan MS Glow. Selain itu, pada acara ini sejumlah penganugerahan telah diberikan bagi para perusahaan, institusi, atau individu yang menjadi pemain kuat dalam implementasi entrepreneurial marketing.

 

 

MarkPlus Islamic Gelar Islamic Entrepreneurial Marketing Festival 2022

JAKARTA(Jurnalislam.com)Setelah Muharram Marketing Festival 2022 diadakan pada 2021 silam, MarkPlus Islamic kembali menggelar Islamic Entrepreneurial Marketing Festival pada

14 April 2022 secara virtual. Acara ini diselengarakan MarkPlus Islamic terkait dengan Visi Indonesia untuk duduk di peringkat satu Global Islamic Economy Indicator, sebuah visi yang berpijak pada fakta bahwa Indonesia adalah pasar muslim terbesar di dunia.

Visi perbaikan peringkat Indonesia di Global Islamic Economy Indicator bukan hal yang mudah diwujudkan, karena ukuran perbankan syariah Indonesia saat ini masih lebih kecil dibandingkan di negara-negara yang peringkatnya diatas Indonesia.

Berdasarkan pengalaman membantu pengembangan Grand Strategy Pengembangan Perbankan Syariah untuk Bank Indonesia di tahun 2008, MarkPlus melihat perlunya repositioning Indonesia Islamic Economy dengan menggunakan konsep Fastabiqul Khairat Marketing atau Pemasaran untuk Berlomba-lomba berbuat Kebajikan. Dengan menggunakan momentum bulan Ramadan, MarkPlus menyelenggarakan IEMF 2022 dengan tema Fastabiqul Khairat Marketing: Ramadan and Beyond.

“Kalau upaya perbaikan peringkat Global Islamic Economy akan terkendala ukuran aset perbankan syariah, mengapa tidak mencari pendekatan lain, seperti yang dulu kami lakukan saat membantu Bank Indonesia di tahun 2008, dimana daripada bicara pangsa pasar perbankan syariah lebih baik bicara pertumbuhan perbankan syariah yang bukan hanya double digit dan bahkan bisa triple digit. Karena itu kami ingin ada upaya repositioning Indonesia Islamic Economy, misalnya sebagai penghasil produk halal berkualitas tinggi.”, buka Taufik selaku CEO MarkPlus Islamic.

Proses repositioning berbijak pada definisi Islamic Economy versi penerbit Global Islamic Economy Indicator sebagai perekonomian berbasis nilai etis Islami. Sebagai sebuah bisnis berbasis nilai, tentu akan mudah menghimpun dukungan perwujudannya.

Termasuk dengan menggunakan konsep Fastabiqul Khairat Marketing atau Pemasaran untuk Berlomba-lomba Kebajikan. Melalui kolaborasi dengan konsep Fastabiqul Khairat Marketing, maka Indonesia Islamic Economy bisa diarahkan ke tingkat kualitas yang lebih tinggi.

Prosesnya tidak mudah. Mesti dimulai menggunakan pendekatan fathonah atau kecerdasan dan kebijaksanaan oleh orang yang amanah atau dapat dipercaya dan siddiq atau jujur dan bisa tabligh yang menjangkau sebanyak mungkin orang.

Lirik lagu Aisyah Adinda Kita adalah contoh terbaik proses penerapan Fastabiqul Khairat Marketing dengan pendekatan fathonah, amanah, siddiq dan tabligh (FAST) dalam kampanye mengajak menggunakan hijab.

Dalam lirik lagu tersebut muncul ajakan mengikuti jejak Aisyah, seorang calon insinyur yang merupakan bintang di kampus dengan indeks prestasi tiga tahun lamanya yang berhijab dan akan terus berhijab bersama jutaan Aisyah lainnya.

Barangkali karena peran lagu tersebut, dalam perjalanannya hijab telah
berkembang sebagai salah satu industri besar di Indonesia. “Citra perempuan
berhijab dahulu belum seperti sekarang. Ini bagus, kampanye dari beberapa pihak menjadi kunci perkembangan halal lifestyle,” kata Nurhayati Subakat, Founder PT Paragon Technology and Innovation. Sebagai bentuk pengakuan akan kontribusi lagu tersebut diserahkan sertifikat penghargaan kepada pencipta lirik dan lagu Aisyah Adinda Kita, Taufiq Ismail dan Sam Bimbo.

Penerapan Fastabiqul Khairat Marketing tentu juga mencakup penerapan konsep penerapan konsep marketing yang baik dan benar juga. Misalnya mempunyai positioning yang clear, diferensiasi yang solid, sehingga bisa menjadi brand yang solid. Itulah sebabnya, pada saat ini telah muncul pemain-pemain yang bisa menjadi benchmark di Indonesia Islamic Economy, baik di bisnis seperti Wardah, SiSeSa, BSI, Bank Muamalat, atau sosial seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan Aksi Cepat Tanggap. Dengan visi terus menciptakan berbagai kebajikan baru sebagai solusi masalah yang dihadapi Indonesia, para pemain terkemuka tersebut bisa berkolaborasi menciptakan produk dan layanan baru yang nantinya akan membantu penciptaan persepsi kualitas tinggi Indonesia Islamic Economy.

Sayangnya pengembangan ekosistem bisnis islami tak luput dari kendala, terutama bagi UMKM. Padahal peran UMKM bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia sangat signifikan, menyumbang lebih dari 90% nilai PDB. Direktur Retail Banking BSI mengungkap “Kelemahan UMKM adalah akses pasar. Ini yang terus kita lakukan penguatan. Baik melalui pelatihan go digital maupun pengembangan lain seperti melibatkan UMKM di Expo, serta akses pembiayaan”, ujarnya.

Selain akses pasar, Afdhal Aliasar selaku Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah mengungkap kendala ekosistem bisnis islami lainnya “Infrastruktur, halal value chain, dan yang paling dasar sekali adalah harus meningkatkan awareness dari masyarakat Indonesia, pemerintah, dan pemangku kepentingan di Indonesia”.

Lebih lanjut dalam keterangannya Afdhal mengungkap berbagai solusi yang bisa diterapkan pemangku kebijakan Indonesia, “Master plan itu penting untuk mengembangkan Islamic Economy di Indonesia. Kita ingin melihat pengembangan dengan ekonomi syariah dengan strategis.”

MarkPlus Islamic juga menghadirkan pembicara dari sektor UMKM, yaitu Senaz Nasansia selaku owner Si.Se.Sa. Merintis bisnisnya sejak 2013, Senaz hadir dengan slogan Dynamicity is our tactic”. Menargetkan konsumen berbusana syar’i dari upper class, Senaz menyampaikan “Niche market yang sempit dan rumit ini justru membuat kami tetap fokus”.

Approach yang dilakukan Si.Se.Sa untuk menyentuh upper class market mulai dari menghadiri beragam fashion show dan Expo.

Memiliki 17 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, Senaz selalu berupaya untuk dinamis mengikuti tren fesyen yang ada dengan taktik seperti desain, motif, penggunaan aksesoris premium seperti swarovski, dan bentuk logo yang unik.

Yang menarik, 81% konsumen di Indonesia condong memilih produk halal. Hal ini mendorong meningkatnya tren sertifikasi halal di Indonesia. Sementara untuk makanan halal, Indonesia terus mengalami kenaikan dari posisi keempat ke kedua pada Global Islamic Economy. Muslim-friendly travels dan media rekreasi terus meningkat, ditambah fakta bahwa kabarnya Indonesia memproduksi vaksin halal. Dari sektor modest fashion, Indonesia luar

Perhelatan Islamic Entrepreneurial Marketing Festival telah membuka mata para pemangku kebijakan bahwa masih banyak yang perlu dievaluasi, mengingat dari market share, Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga.

Kolaborasi dengan pemerintahaan, kementrian, regulator dan industri lainnya dapat mendukung entrepreneurship ini. Bagaimana pemerintah melakukan pelatihan dan pendampingan, memberdayakan UMKM dengan ekosistem halal.

Islamic Entrepreneurial Marketing Festival 2022 hadir dengan berbagai topik diskusi, seperti Islamic Entrepreneurial Marketing, Islamic Sociopreneurship, dan Islami Entrepreneurship. Pada sesi Islamic Entrepreneurial Marketing, hadir Bahrun Afriansyah selaku Vice President Marketing PT. Paragon Technology & Innovation dan Agus Amir selaku Head of Islamic Business Bank Muamalat.

“Kita tidak bisa take it for granted bahwa halal saja sudah cukup. Perlu strategi marketing yang optimal seperti syariah marketing yang dikembangkan oleh MarkPlus”, tutup Agus.

Mengusung tema Fastabiqul Khairat Marketing, Taufik berharap para stakeholders mampu mengakselerasi pengembangan ini dengan prinsip pemasaran yang solid dan unik. “Kita nantinya akan menggunakan prinsip PDB (Positioning, Differentiation, dan Branding) yang ada di MarkPlus agar Indonesia memiliki positioning yang solid di ekosistem halal dunia”, ujarnya.

 

 

Helatan IEMF, Markplus Beri Penghargaan Pada Brand, Lembaga, hingga Dai Nasional

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Dalam gelaran acara Islamic Entrepreneurial Marketing Festival 2022 yang diselenggarakan MarkPlus Islamic pada Kamis 14 April 2022, terdapat penghargaan bagi para brand bertajuk ‘Indonesia WOW Halal Champion’.

Nominasi penghargaan ini berasal dari kumpulan brand sebagai pemain pasar yang kuat di berbagai kategori, utamanya pada Global Islamic Economy. Brand yang termasuk dalam nominasi diseleksi dari kemampuan mereka menjadi brand pilihan melalui survey WOW Brand, berbasis buku Marketing 4.0. yang telah diterjemahkan ke dalam 27 bahasa internasional.

MarkPlus telah melakukan survey WOW Brand sejak tahun 2013, yang kemudian menyelenggarakan WOW Brand Festive Day sejak tahun 2015. Tahun ini, WOW Brand Festive Day dilaksanakan secara virtual pada 23 Maret 2022.

Penghargaan ini diadakan sebagai bentuk dukungan dari keinginan KNEKS yang diketuai oleh Presiden Jokowi dan

yang diketuai Menteri BUMN Erick Thohir. Melalui pertemuan dengan tim KNEKS dan MES, MarkPlus akan membantu proses tersebut melalui promosi brand-brand yang menjadi Indonesia WOW Halal Champions.

Untuk memastikan kelayakan nominasi, MarkPlus mengundang nominator yang diseleksi berdasarkan hasil survey WOW Brand untuk mengisi kelengkapan data pendukung. Indonesia WOW Halal Champions akan di-update setiap tahunnya, yang hasilnya akan dipublikasi melalui penerbitan e-book dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. E-Book akan diterbitkan menjelang KTT G-20, dan metaverse diharapkan bisa rilis saat tahun baru hijriyah.

Menjadi brand dan individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai islam, diperlukan konsep FAST seperti 4 sifat Rasulullah yang terdiri dari Fathonah, Amanah, Siddiq, dan Tabligh untuk diterapkan. MarkPlus Islamic sangat mengapresiasi brand dan sosok inspirasional yang berhasil membawa nilai-nilai islam ke dalam bisnisnya. Tidak hanya apda tingkat nasional, tetapi juga ke kancah global dengan penghargaan FAST Award. Penerima FAST Award adalah Ustadz Adi Hidayat, Voice of Baceprot, dan Aksi Cepat Tanggap.

Adi Hidayat menunjukkan sifat amanah yang luar biasa ketika berhasil membantu penggalangan dana untuk kebutuhan sesama dan begitu terkumpul sesuai target kemudian menyerahkan ke pihak lain yang dipercaya, seperti Majelis Ulama Indonesia, sebagai upaya menjaga kepercayaan yang menitipkan dana. Sementara Voice of Baceprot melakukan

 

 

Seratus Ribu Umat Islam Ikuti Puncak Khatam Qur’an 1443 H

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Peringatan Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan 1443 H ini menjadi momentum yang sangat spesial. Pasalnya, kurang lebih seratus ribu umat Islam, secara bersama-sama mengikuti program Khatam Qur’an yang digelar UBN Podcast dan Tabung Infak, Senin petang, 18 April 2022.

Acara yang digelar secara hybrid itu dipusatkan di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, disiarkan secara multimedia dan diikuti peserta yang berkumpul di lebih dari 200 titik dari wilayah Indonesia barat hingga Fak-Fak, Papua Barat. Sedangkan dari luar negeri peserta berkumpul mengikuti Khatam Qur’an secara virtual dari Turki, Amerika Serikat, Malaysia, Brunei Darussalam, Hong Kong, Selandia Baru, Singapura dan Inggris.

Acara Khatam Qur’an ditandai dengan pembacaan 13 surat terakhir dalam Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ustaz Deden Muhammad Makhyaruddin, MA. Dimulai dengan Surat At-Takaatsur, diakhiri dengan Surat An-Naas.

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) berkesempatan menyapa para jamaah dari forum offline hingga online. Dari Masjid Baitul Makmur, Malaka Jaya, Jakarta Timur hingga menuju ke Studio Utama di AQL Islamic Center.

Dalam tausiyahnya, UBN mengajak umat Islam untuk berjuang keras meraih kemuliaan di malam kemuliaan (Lailatul Qadar) sekaligus malam turunnya permulaan Al-Qur’an.

UBN mengingatkan, orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an secara tartil, membaca dengan hati tenteram dan menikmati dengan penuh keimanan. Mereka juga menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

“Ini saatnya kita menguatkan sendi-sendi tubuh kita dengan huruf-huruf Al-Qur’an. Tegak, berdiri dan berbaring dengan Al-Qur’an, bahkan kalau perlu bermimpilah bersama Al-Qur’an,” kata UBN memotivasi.

UBN juga berpesan kepada mereka yang merasa berat hidupnya, tak sanggup lagi meenghadapi beban berat dan tanggungan agar bersegara membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali.

“Langsung kalian akan punya harapan, tidak ada lagi yang sedih. Satu huruf Al-Qur’an, jika kamu imani sudah cukup untuk terbukanya langit-langit rahmat,” ungkap UBN optimis.

UBN mengajak umat Islam untuk terus membaca Al-Qur’an dan berpuas-puas dengan Al-Qur’an. Sebab, kata dia, siapa saja yang berniat membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya, meskipun pada akhirnya tidak sampai khatam ia telah mendapatkan pahala. “Yang penting kamu tunaikan janjimu,” lanjutnya.

Sedangkan untuk menjemput Lailatul Qadar, UBN memberikan tiga kata kunci: siyam, qiyam dan Qur’an. Ia berpesan, usai malam 17 Ramadhan harapannya umat Islam masih dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sekali lagi.

“Pokoknya kita cuma diminta niat dan memulai, nanti Allah yang menyempurnakan,” tandasnya.

Tidak lupa, UBN mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terlaksananya Program Khatam Qur’an 17 Ramadhan 1443 H.

“Terima kasih semua donatur, para muhsinin, semoga Allah berkahi usianya, hartanya, usahanya, keluarganya, dan semua ibadahnya,” pungkasnya. []

Israel Serang Al Aqsha, Ustaz Bachtiar Nasir: Mereka Bermental Destruktif

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ustaz Bachtiar Nasir turut mengomentari penyerangan tentara Israel ke Masjid Al Aqsha yang terjadi baru-baru ini.

Menurut UBN, sapaan akrab Ustaz Bachtiar Nasir, penyerangan tentara Israel ke kiblat pertama umat Islam tersebut digambarkan dalam Alquran surat Al Isra ayat 4-8.

“Pendudukan Zionis Israel yang telah berlangsung 74 tahun jika dihitung dari tahun 1948 maka ini semua menggambarkan apa yang ada di dalam surah Al Isra, khususnya di ayat 4,” kata UBN, Senin (18/4/2022).

Zionis Israel, jelas UBN, adalah mahluk bermental destruktif yang selalu melakukan kerusakan di muka bumi.

“Apa yang mereka lakukan saat ini adalah pengulangan demi pengulangan dari masa lalunya yang memiliki mental destruktif yang memiliki kecenderungan merusak tatanan peradaban,” ungkap UBN, pimpinan AQL Islamic Center ini.

Dilanjutkan UBN, penyerangan tentara Israel pada bulan Ramadhan ini merupakan ujian kesabaran umat Islam dunia. Mereka ingin merusak ketenangan umat Islam saat beribadah puasa.

“Apa yang mereka lakukan saat ini adalah ingin merusak ketenangan umat Islam di bulan Ramadan,” tegas dia.

Zionis Israel, jelas UBN, tidak menginginkan orang Islam itu tenang berpuasa. Mereka tidak rela orang Islam berislam dengan benar. Sebab jika umat Islam berislam dengan benar dengan sendirinya akan anti penjajahan, anti penistaan tempat ibadah dan anti penistaan agama.

“Umat Islam juga tidak akan mau kongkalikong dengan politik yang dilakukan oleh kelompk moderat sekalipun,” ujar alumni Madinah Islamic University.

UBN mengajak umat Islam bersatu dalam menghadapi kepongahan dan kebengisan Zionis Israel. Menghadapi Zionis Israel tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri atau ikhtiar kemanusiaan.

Sebab jika dari sisi manusia, Nabi Musa AS pun tidak berhasil membawa Bani Israel ke Baitul Maqdis. Sehingga mereka dihukum oleh Allah terlunta-lunta mendiaspora selama 40 tahun di Padang Tiih.

“Karena itu pelajaran penting, sebagai umat Muhammad Saw agar senantiasa menjadi pengikut yang setia. Membenarkan yang dibawanya, Al-Qur’an. Harus kita tingkatkan keimanan kita,” kata UBN.*