Istana: Iuran BPJS Akan Naik Lagi untuk Semua Kelas

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Istana Kepresidenan menyatakan kenaikan tarif iuran program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN – KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan akan berlaku untuk semua kelas.

Namun, besaran kenaikan iuran belum juga diputuskan sampai saat ini.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan kenaikan tarif iuran akan diberlakukan untuk semua kelas karena tarif saat ini sudah tidak ideal.

Hal ini tercermin dari jumlah iuran yang tidak sesuai dengan beban biaya yang harus dibayarkan oleh perusahaan peralihan PT Asuransi Kesehatan (Persero) alias Askes itu.

“Semua kelas (akan naik), karena jumlah urunan dengan beban yang dihadapi BPJS tidak seimbang, sangat jauh. Maka, kami pahami sangat wajar iuran dinaikkan,” ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/8).

Lebih lanjut, menurutnya, kenaikan iuran bagi semua kelas juga tidak bisa terelakkan karena biaya kesehatan mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. “Sehat itu mahal, kalau sehat murah, orang nanti semua menyerahkan ke BPJS Kesehatan, mati nanti BPJS,” celetuknya.

sumber: cnnindonesia.com

Menyoal Izin FPI, Akankah Ada Keadilan?

Oleh Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)–Tanggal 20 Juni 2019, adalah tanggal habisnya masa SKT (Surat Keterangan Terdaftar) milik FPI (Front Pembela Islam). Selanjutnya organisasi besutan Habib Rizieq Syihab ini mengajukan ijin perpanjangan SKT.

Uniknya terkait dengan ijin perpanjangan SKT FPI saat ini bisa dibilang rumit dibandingkan dengan pengajuan ijin perpanjangan SKT FPI pada periode sebelumnya sejak berdirinya di tahun 1998. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Slamet Ma’arif bahwa sebelum masa habis, SKT sudah diperpanjang (www. Cnnindonesia.com, 5 Agustus 2019). Indikasi memperlambat sangat kentara dalam hal ini.

Bahkan terkait dengan perpanjangan SKT ini harus melibatkan 3 Kementerian yang memberikan keterangan di samping Presiden dalam mengklarifikasi adanya isu yang beredar bahwa pemerintah mempersulit terbitnya SKT FPI.

Dari pihak Menkopolhukam menegaskan bahwa yang menjadi pertimbangan besar dalam hal ini adalah rekam jejak. Saat ini pemerintah masih mendalami daftar rekam jejak FPI sebagai organisasi kemasyarakatan, menurut Wiranto (www.medan.tribunnews.com, 30 Juli 2019).

Sementara itu dari pihak Kemendagri sendiri akan melibatkan Kementerian Agama dan Polri, khususnya terkait AD/ART Organisasi FPI (www.detiknews.com, 01 Agustus 2019). Begitu pula, Menhan yang menegaskan bahwa ormas yang ada di Indonesia harus sejalan dengan Pancasila. Jika tidak sejalan dengan Pancasila, keluar saja meninggalkan Indonesia (www.cnnindonesia.com, 29 Juli 2019).

Bisa dipahami sikap yang njlimet dari pemerintah terkait perpanjangan SKT FPI erat kaitannya dengan penguatan politik identitas umat Islam di Indonesia. Sebagai sebuah ormas Islam yang platformnya di bidang amar makruf nahi munkar, tentunya punya andil besar terhadap menguatnya politik identitas umat Islam.

Mencermati fenomena penistaan Islam oleh Ahok di tahun 2016, FPI dengan Habib Rizieqnya menjadi penggerak sentral Aksi Bela Islam 212. Umat Islam dalam jumlah jutaan orang berkumpul atas dasar aqidah Islam menuntut hukuman atas penista agama. Hal ini dianggap sudah lunturnya nilai – nilai Kebhinekaan.

Walhasil di tahun 2017, Habib Rizieq Syihab dilaporkan oleh Sukmawati kepada polisi atas tuduhan pelecehan terhadap pancasila. Tesis beliau tentang Pancasila digugat. Akhirnya, Habib Rizieq dibebaskan dari tuduhan. Justru di dalam tesisnya menegaskan bahwa sila pertama tentang Ketuhanan itu sejalan dengan pembukaan UUD 1945 alinea kedua.

Sebaliknya, Sukmawati yang selanjutnya menjadi pihak terlapor atas dugaan penistaan Islam dengan menghina syariat Adzan dan Jilbab, justru tidak dianggap sebagai anti Kebhinekaan dan anti Pancasila. Bukankah Pancasila menjamin bagi setiap agama bisa melaksanakan ajaran agamanya masing – masing dengan baik tanpa diusik?!!

Persoalan Ideologi

Tidak cukup secara individual yang dipersoalkan akan loyalitasnya kepada pancasila, bahkan rekam jejak dan AD/ART organisasi. Pendek kata, yang menghambat terbitnya SKT FPI adalah persoalan ideologi. Indikasi demikian bisa dicermati dari pernyataan Jokowi dalam wawancaranya dengan Associated Press (AP) pada Jum’at, 27 Juli 2019.

“ Jika meninjau dari sudut pandang keamanan dan ideologis menunjukkan bahwa mereka (FPI) tidak sejalan dengan (ideologi) bangsa”, kata Jokowi. Artinya kemungkinan FPI tidak diperpanjang lagi SKT-nya.

Lagi – lagi ada pemaksaan asas tunggal Pancasila dengan pemahaman tunggal milik pemerintah. Tentunya jika demikian, akan timbul paradoks yang sangat kentara. Artinya pemerintah tidak bisa berbuat adil. Secara khususnya terkait dengan ormas Islam yang menginginkan kebaikan bagi negeri ini dengan Syariat Islam.

Kalau parameter yang dipakai adalah pancasilais atau tidak pancasilais, pertanyaannya, siapakah yang layak disebut sebagai seorang Pancasilais? Lantas bagaimana kriterianya untuk melabeli seseorang atau organisasi sebagai anti Pancasila?

Kasus jual beli jabatan di Kemenag yang juga menyeret Menag sendiri, bangkrutnya Krakatau Steel akibat serbuan baja dari China yang berharga murah sehingga menjadikan angka PHK massal yang meningkat, dibukanya kran masuknya tenaga kerja asing dari China dengan legitimasi Perpres No 20 Tahun 2018 di tengah masih tingginya pengangguran di dalam negeri.

Dan juga keterlibatan Indonesia dalam proyek OBOR China, juga angka korupsi yang masih tinggi (www.cnnindonesia, 10 Desember 2018). Ini sebagian saja dari fenomena – fenomena yang justru menunjukkan akan lunturnya pengamalan nilai – nilai Pancasila itu sendiri.

Jika mengklaim mencintai negeri ini, tentunya ditunjukkan dengan perbuatan yang memperbaikinya bukan malah menghancurkannya. Bahkan indikator kehancuran negeri ini telah menyentuh hingga pada level dunia pendidikan yakni menyentuh generasi muda.

Generasi muda selaku generasi penerus bangsa sudah terpapar oleh pergaulan bebas dan fenomena LGBT. Berhentilah beretorika dalam wacana pro dan atau anti pancasila. Sesungguhnya yang dibutuhkan oleh negeri ini adalah upaya perbaikan. Tentunya upaya perbaikan pastinya sejalan dengan Pancasila.

Adapun aktivitas dakwah, amar makruf nahi munkar, yang menjadi platform sebuah ormas Islam, termasuk di dalamnya ada FPI, tentunya menginginkan kebaikan bagi negeri ini.

Karena Islam diturunkan Allah SWT adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat Islam itu hanya akan bisa dirasakan ketika ajaran Islam dilaksanakan baik dalam konteks individu, berkeluarga, berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, berlaku adil itu bagian dari sikap orang yang bertaqwa. Sedangkan orang yang bertakwa akan mampu membedakan antara yang sejatinya memperbaiki dan yang merusak.

*Penulis adalah guru, tinggal di Malang

Nurul Hayat Semarang Salurkan Beasiswa untuk 754 Anak Yatim Dhuafa

SEMARANG (Jurnalislam.com)–Nurul Hayat Semarang kembali menyalurkan uang beasiswa untuk 754 anak yatim dhuafa yang ada di kota Semarang dan sekitarnya.

Sebanyak 417 anak yatim dhuafa dari kabupaten Demak, 51 anak yatim dhuafa dari kabupaten Semarang, dan 286 anak yatim dhuafa dari kota Semarang.

Adapun total nominal beasiswa yang tersalurkan sejumlah Rp 243.620.000.

Selain mendapat beasiswa, anak-anak yatim dhuafa binaan NH juga diarahkan untuk selalu aktif mengaji di TPQ-nya masing-masing.

Para ibu dari anak yatim diarahkan untuk mengikuti kegiatan pengajian bulanan yang memang diperuntukkan khusus untuk bunda yatim.

Untaian Doa Para Tokoh atas Wafatnya KH Maimoen Zubair

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, terkejut atas wafatnya kiai kharismatik KH Maimoen Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen di Makkah Al Mukarromah, hari ini, Selasa(6/8).

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Tertegun. Mbah Moen pulang. Yang Maha Penyayang memanggilnya pulang di Tanah Suci, jauh dari tanah lahir, dekat dengan jannah-Nya,” tulis Anies di laman media sosialnya, Selasa (6/8).

Menurutnya, bangsa Indonesia kehilangan tokoh besar dan menjadi panutan umat selama ini.

“Sungguh kehilangan besar bagi kita. Lahul fatihah,” lanjutnya.

KH Maimoen Zubair lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928. Beliau adalah ulama besar yang disegani dan juga pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sangat merasa kehilangan atas kepergian salah satu tokoh NU ini. Selain sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Mbah Moen juga Mustasyar ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Pengurus NU menyebut bangsa Indonesia telah kehilangan tokoh bersahaja. Indonesia kehilangan tokoh panutan, pemimpin dan pengayom umat.

“Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan innalillahi wainnailaihirajiun. Berduka yang sangat mendalam,” kata Sekjen PBNU A Helmy Faishal Zaini dalam keterangannya, Selasa (6/8).

“Semoga teladan almaghfurlah diteruskan para kader-kader bangsa. Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafannya dan menempatkannya di surga yang terbaik,” tuturnya.

Mengenang Mbah Moen, Sosok Ulama Negarawan yang Sederhana

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera turut berduka atas meninggalnya tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Maimun Zubair atau akrab disapa Mbah Moen.

Dia mengatakan Mbah Moen adalah sosok sederhana dan bersahaja yang kepergiannya akan menjadi kehilangan besar tidak hanya bagi umat Islam tapi juga bangsa Indonesia.

“Beliau sederhana, sangat bersahaja kemudian bijak. Kebijakan itu sulit ditandingi. Itu berkesan buat saya karena saya sedang belajar berpolitik mengurus negara,” katanya kepada Jurnalislam.com, Selasa (06/08/2019).

Menurut Mardani, kebijakan yang dimiliki oleh tokoh yang akrab disapa Mbah Maimun itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam untuknya. Selain itu, politikus PKS itu juga mengaku melihat kebijakan Mbah Maimun menjadi inspirasi untuknya.

“Urus negara ini tidak ada yang mutlak seratus persen benar dan salah. Di sanalah kebijakan Mbah Moen berkesan sekali untuk saya karena beliau selalu bisa melihat sisi yang baik dari keburukan dan sisi yang buruk dari kebaikan,” ungkap Mardani.

Mbah Moen selain pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, juga salah satu tokoh di PPP yang menjabat sebagai ketua Majelis Syariah.

Mbah Moen meninggal dunia saat tengah menjalankan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi pada Selasa pukul 08.17 WIB.

Menag Minta Masyarakat Indonesia Shalat Ghaib untuk Almarhum KH Maimoen Zubair

MEKAH(Jurnalislam.com)–Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, meminta umat Islam di Indonesia shalat ghaib sekaligus mendoakan kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus tokoh PPP, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). Mbah Moen wafat di Makkah, Arab Saudi, pada Selasa pagi (6/8).

Lukman mengaku kehilangan Mbah Moen. Di mata Lukman, Mbah Moen merupakan sosok ulama, orang tua, dan guru bagi dirinya.

“KH Maimoen Zubair wafat secara husnul khotimah dan marilah kita mendoakan mudah-mudahan segala kesalahan dan kekhilafanya diampuni Allah SWT dan diterima segala amal kebajikan dan pada pada akhirnya Allah menempatkan beliau ditempat yang sebaik baiknya,” kata Lukman melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Selasa (06/08/2019).

Lukman menuturkan, jenazah Mbah Moen masih berada di rumah sakit menunggu proses penyelesaian administratif. Rencananya, jenazah Mbah Moen akan disemayamkan di kantor Daker Makkah.

Dia melanjutkan, berdasarkan informasi dari keluarga, kemungkinan besar Mbah Moen akan dimakamkan di Makkan dengan berbagai pertimbangan. Namun, dia tidak merinci pertimbangan yang dimaksud.

“Kita memang kehilangan beliau namun pasti banyak hikmah dibalik kepulangan beliau, mudah-mudahan murid dan santrinya akan banyak yang mengantikan peran beliau selama ini di kehidupan masyarakat,” ucap Menag.

Habib Rizieq Bacakan Doa di Pemakaman KH Maimoen Zubair

MEKAH (Jurnalislam.com)– Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq, ikut membacakan doa saat pemakaman KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen dimakamkan di pemakaman Ma’la, Mekah, Arab Saudi, Selasa siang, 6 Agustus 2019.

Habib Rizieq sudah berada di pemakaman sesaat setelah jenazah Mbah Moen tiba dari Masjidil Haram selepas disalatkan.

Habib Rizieq terlihat datang dengan pengawalan yang cukup ketat. Beberapa pengikut memekikkan takbir setelah Habib Rizieq membaca doa untuk Mbah Moen.
Sejumlah jemaah tampak berebut untuk bersalaman dengan Habib Rizieq, namun sulit karena pengawalan yang cukup ketat. Beberapa ada yang mencoba keras untuk meraih tangan Habib Rizieq. Tapi tetap kandas.

Habib Rizieq menolak untuk berkomentar dengan media Indonesia yang ikut menghadiri pemakaman Mbah Moen. Dia langsung keluar area pemakaman Ma’la usia membacakan doa.

Diketahui, Ma’la adalah pemakaman untuk warga asli Arab Saudi. Di tempat ini, sejumlah keluarga Nabi Muhammad SAW dimakamkan.
Sumber : viva.co.id

KH Abdullah Faishol Terpilih Menjadi Ketua MUI Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- KH. Abdullah Faishol akhirnya terpilih menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukoharjo dalam musyawarah daerah (Musda) ke-9 MUI Sukoharjo di Pendapa Graha Satya Praja Kabupaten Sukoharjo, sabtu, (3/8/2019).

Sebelas orang normatur bertugas untuk bermusyawarah dan akhirnya menunjuk KH Abdullah Faishol untuk menggantikan ketua MUI Sukoharjo sebelumnya yakni Yasid Anwari.

Sebelas orang normatur tersebut meliputi satu orang pembina, satu orang ketua dan sekretaris lama, empat orang perwakilan ormas, dan empat orang perwakilan MUI tingkat kecamatan di Sukoharjo.

Sementara pengurus lainnya adalah sekertaris umum Tri Winarno, bendahara umum Dalono dan ketua dewan pertimbangan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo.

Ketua MUI Jateng, Ahmad Daroji, yang diwakili Sekretaris MUI Jateng, Muhidin mengucapkan, terima kasih sebasar-besarnya kepada Yasid Anwari karena telah menjabat ketua MUI Sukoharjo selama dua periode.

Sementara itu Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya berharap dengan adanya kepengurusan MUI Sukoharjo yang baru akan lebih bermanfaat dan memberikan untuk umat Islam khususnya di wilayah Sukoharjo.

“MUI adalah rumah besar para ulama dan cendikiawan muslim, sehingga MUI diharapkan terus memberikan bimbingan serta tuntunan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dalam masyarakat yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” pungkasnya.

Ini Hasil Ijtima Ulama IV: Tolak Rezim Curang hingga Setop Kriminalisasi

SENTUL – Ijtima Ulama IV telah usai dilaksanakan di Lorin Hotel, Sentul, Bogor, Senin (05/08/2019).

Acara yang dihadiri ratusan ulama menghasilkan beberapa poin penting.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak menyebutkan poin-poin keputusan dan rekomendasi Ijtima Ulama IV sebagai berikut:

1. Menolak Kekuasaan yang berdiri atas Dasar Kecurangan dan Kezaliman serta mengambil jarak dengan kekuasaan tersebut.

2. menolak segala putusan hukum yang tidak sesuai Prinsip Keadilan.

3. Mengajak seluruh Ulama dan Ummat untuk terus berjuang dan memperjuangkan :

3.1. Penegakan hukum terhadap Penodaan Agama apa pun oleh siapapun, sesuai amanat UU Anu Penodaan Agama yang tertuang dalam PNPS No. 1 Tahun 1965 10. UU No. s Tahun 1969 p. KUHP Pasal 156a.

3.2. Mencegah bangkitnya ideologi Marxisme, lenhisme, komunlsme, Maoisme dalam bentuk apapun dan cara bagaimanapun, sesuai Amanat TAP MPRS No. )ON Tahun 1966, UU No. 27 Tahun 1999 Jo. KUHP Pasal 107a, 107b, 107C, 107d dan 107e.

3.3. Hendak segala bentuk pemxjudan mm ekonoml kapitalisme dan liberalisme di segala bidang termasuk penjualan Aset Negara kepada Asing maupun Aseng, dan memberikan kmempatan kepada semua PRIBUMI tanpa memandang suku maupun agama untuk menjadi Tuan di Negeri sendiri.

3.4. Pembentukan Tim Investigasi dan Mvokasi untuk mengusut tuntas TRAGEDI PEMILU 2019 yang terkatt Kematian lebih dari 500 Petugas Pemilu tanpa Otopsi dan lebih dari 11 ribu Petugas Pemilu yang jatuh

sakit, serta ratusan rakyat yang terluka, ditangkap dan dlsiksa, bahkan 10 orang dibunuh seara keji, yang 4 diantaranya adalah Anak-Anak.

3.5. Menghentikan agenda Pembubaran Ormas Islam dan Stop Kriminalisasi Ulama maupun Persekusl Da’I, serta bebaskan semua Ulama dan Aktivis 212 beserta slmpatisannya yang ditahan/dlpeniara pasca MSI 212 Tahun 2016 hlngga klnl dari segala tuntutan, serta memulangkan Imam Besar Umat Islam Indonesia Hablh Muhammad Rizieq bln HLseIn Syihab ke Indonesia tanpa syarat apa pun.

3.6. Mewujudkan NKRI BERSYARIAH yang berdasarkan PANCASILA sebagalmana termaktub dalam Pembukaan dan batang tubuh UUD 1945 dengan prinsip AYAT SUCI DI ATAS AYAT KONSI’ITUSI agar dllmplementaslkan dalam kehidupan Beragama, Berbangsa dan Bemegara.

4. Perlunya Ijtlma Ulama dllembagakan sebagal wadah musyawarah antar Habaib dan Ulama serta Tokoh Istiqomah untuk terus menjaga kemasiahatan Agama, Bangsa dan Negara.

5. Perlunya dibangun kerja sama dan Pusat hingga Daerah antar On’nas Islam dan Partai Politik yang selama lnl lsthomah berjuang bersama Habaib dan Ulama serta Umat Islam dalam membela Agama, Bangsa dan Negara.

6. Menyerukan kepada segenap umat Islam untuk mengkonversi simpanan dalam bentuk logam mulia.

7. Membangun sistem kaderisasi yang sistematis dan terencana sebagai upaya melahlrkan generasi Islam yang tangguh dan berkualitas.

8.Memberikan perhatian secara khusus terhadap issue dan masalah substansial tentang perempuan, anak dan keluarga melalui berbagal kebljakan dan regulasi yang tidak bertentangan dengan Agama dan Budaya.

OJK Targetkan 100 Bank Wakaf Mikro Tahun Ini

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis mampu merealisasikan pertumbuhan hingga 100 Bank Wakaf Mikro (BWM) hingga akhir 2019.

Berdasarkan data OJK hingga Juni 2019, terdapat 51 BWM di seluruh Indonesia.

“Targetnya 2019, diharapkan bisa menjadi 100 BWM, kalau dana sosialnya terkumpul, modalnya dari situ,” kata Direktur Lembaga Keuangan Mikro OJK Suparlan di Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, pembentukan BWM didasari keinginan dan komitmen OJK bersama pemerintah, berperan dalam peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya, yakni melalui perluasan penyediaan akses keuangan masyarakat yang mudah (tanpa agunan) dan murah (imbal hasil 3 persen), khususnya bagi usaha kecil, mikro, hingga ultramikro.

BWM merupakan salah satu produk Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). OJK menggambarkan BWM memiliki potensi besar ekonomi. Kendati memiliki kata-kata wakaf, tetapi tidak murni wakaf.

“Intinya di dalam masjid, ada aktivitas ditopang kegiatan ekonomi, agar berjalan baik. Ada kegiatan masjid yang didukung keuangan mikro,” ujar dia.

Suparlan mengatakan potensi besar di Indonesia yang menonjol dari kegiatan berprinsip syariah, hanya sektor fashion Muslim.

Sementara sektor lainnya masih sangat kurang. Menurut OJK, hal itu menjadi tantangan mengembangkan ekonomi syariah, misalnya makanan halal, media dan rekreasi halal, medis halal.

“Ekonomi syariah menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi engine of growth,” kata Suparlan.

Sumber: republika.co.id