Tokoh Adat Bima Tolak Keberadaan Patung Wane Berdalih Pariwisata

BIMA(Jurnalislam.com)– Dalam rangka menindaklanjuti laporan dari asyarakat  Wane, dengan Viralnya berita di media sosial dengan adanya Patung di Pantai Wane kec. Monta Kab. Bima, Forum ummat islam (FUI) Bersama dengan tokoh Ormas dan tokoh Masyarakat, mendatangi kantor DPRD Kabupaten Bima. Senin (18/11/2019).

Ketua Adat Lasdo, Arifin SH menyampaikan bahwa dalam aturan dan hukum  SKB 3 Mentri, dari sisi ijin untuk pembuatan Rumah ibadah Baru harus 60 KK.

“Makanya mereka pake untuk pariwisata, kami mengharapkan lembaga DPR supaya bersama dengan Kami, untuk bisah menghancurkan Patung ini, karena sangat melukai ummat Islam Bima,” kata Arifin.

Sementara itu,Ketua ormas Islam Ansharus Syariah Kota Bima, ustaz Edwin mengatakan bahwa dalam Pengembangan pariwisata PP 39 Tentang Regulasi wisata, pada aturan itu ada dasar untuk membangun wisata, seperti membangun wisata religi, wisata halal, kearifan Lokal; berdasarkan syari’at Islam.

“Jadi kalo patung itu termasuk dalam Pariwisata, apa masuk dalam dasar dan kriterianya,”pungkasnya.

kontributor: saad

Warga Sampaikan Aspirasi ke DPRD Bima Tolak Keberadaan Patung Wane

BIMA(Jurnalislam.com)– Dalam rangka menindaklanjuti laporan dari asyarakat  Wane, dengan Viralnya berita di media sosial dengan adanya Patung di Pantai Wane kec. Monta Kab. Bima, Forum ummat islam (FUI) Bersama dengan tokoh Ormas dan tokoh Masyarakat, mendatangi kantor DPRD Kabupaten Bima. Senin (18/11/2019).

Kedatang Forum ummat Islam (FUI) di sambut oleh Komisi IV DPRD di ruangan Komisi DPRD Kabupatem. Bima.

Dalam pembahasannya, Ketua FUI, ustadz Asikin menyampaikan bahwa pihaknya mendapatkan laporan 4 bulan lalu tentang kagetnya warga yang  melihat patung-patung yang Besar yang berada di Pinggiran Pantai Wane.

“Lalu kami melakukan Safari Jum’at di wane sebulan Sesudah di laporkan, untuk mengetahui kepastian  tentang adanya Patung, ternyata betul Patung itu benar adanya,” kata ustaz Asikin.

Akhirnya FUI  mendatangi kepala desa setempat tentang perizinan  pembuatan patung, ternyata tidak ada laporan,  Masyarakat sanggat resah Keberadaan Patung tersebut

“Kami Forum Ummat Islam (FUI) sudah mendatangi seluruh istansi Pemerintah tentang perijinan Patung Wane,mulai dari Kepala Dinas keperijinan, Kepala Pariwisata, Ketua Mui, ternyata keberadaan patung itu belum di ijinkan ke pihak pemerintah,”katanya.

kontributor: Saad

 

MUI: Khilafiyah Ditoleransi, Penyimpangan dan Penodaan Agama Diamputasi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang para dai atau penceramah untuk bermusyawarah dan bertukar pikiran menyatakan visi mengenai dakwah.

Kegiatan tersebut dalam rangka melaksanakan program standarisasi dai yang digelar MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Dia menjelaskan. metode dakwah yang disepakati adalah yang menguatkan keagamaan Islam sekaligus memperkokoh persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Permasalahan khilafiyah harus ditoleransi dan menghormati perbedaan.

Namun masalah penyimpangan (inhiraf) penodaan agama harus diamputasi.

Menurut dia, standarisasi dai ini dalam rangka menyatukan persepsi (taswiyatul afkar) dalam mengembangkan ajaran Islam dan mengoordinasi langkah dakwah (tansiqul harakah) agar maksimal dalam menyebarkan dakwah Islamiyah.

“Di akhir acara semua peserta dai bersepakat untuk memgembangkan dakwah Islam Wasathi dan menjaga keutuhan NKRI,” katanya.

Sumber: sindonews.com

Perkuat Akidah Ahlus Sunnah, MUI Mulai Program Standardisasi Dai

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang para dai atau penceramah untuk bermusyawarah dan bertukar pikiran menyatakan visi mengenai dakwah.

Kegiatan tersebut dalam rangka melaksanakan program standarisasi dai yang digelar MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI, Jakarta, Senin (18/11/2019).

“Hari ini (Senin, 18/11/19) dimulai kegiatan standarisasi dai, lebih dikenal sebutan dai,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, M Cholil Nafis dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/11/2019).

Adapun materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut secara garis besar mengenai keislaman, wawasan kebangsaan dan metode dakwah.

“Materi Wawasan Islam wasathi (moderat) mengulas tentang paham Islam yang diajarkan Rasulullah saw dan dijelaskan oleh para sahabatnya. Islam wasathi sebagai arus utama paham Islam Indonesia. Mengikuti akidah Ahlussunnah wal-jamaah. Islam yang tidak ekstrem kanan juga tidak ekstrem kiri,” tutur Cholil.

sumber: sindonews.com

Wapres Ingatkan Sukmawati Agar Jaga Omongan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Polemik pidato Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad dengan Presiden pertama RI Sukarno jadi kontroversi.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin melalui juru bicaranya, Masduki Baidlowi, meminta Sukmawati tidak lagi melontarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial.

“Kepada Ibu Sukma saya kira bagaimana agar tidak banyak melakukan ucapan-ucapan yang kontroversial lah, yang banyak menimbulkan soal yang sebenarnya tidak perlu itu,” kata juru bicara (jubir) Wapres, Masduki Baidlowi, saat ditemui di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2019).

Pernyataan Masduki ini menjawab pertanyaan apa imbauan Ma’ruf Amin terkait polemik ucapan Sukmawati.

Masduki mengatakan soal pidato ini tidak perlu diramaikan. Dia mempercayai masyarakat pun mampu berpikir dewasa dalam menyikapi soal pidato ini.

“Ibu Sukmawati saya kira tidak perlu terlalu ditanggapi secara serius karena logika yang dibangun atas pidato itu tidak match. Oleh karena itu, masyarakat, terutama umat Islam, saya kira cukup dewasa. Kita meyakini bahwa umat Islam sangat dewasa menanggapi pernyataan atau pidato dari Bu Sukmawati itu. Oleh karena itu, nggak perlu diramaikan. Karena ya itu nggak match,” ucapnya.

Menghubungkan satu tokoh dengan tokoh yang lain yang tidak selevel, udah gitu Nabi, terus zamannya berbeda dengan Sukarno yang zamannya juga berbeda, di mana Sukarno sangat taat dan sangat menghormati Nabi Muhammad. Jadi itu sangat nggak logic. Ya itu sesuatu hal yang tidak perlu ditanggapi, ngapain orang itu nggak logic. Kalau kita nanggepin itu malah kita justru nggak logic juga,” sambung Masduki.

sumber: detik.com

MUI Harap Polisi Tangani Kasus Sukmawati dengan Baik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikhsan Abdullah, meminta agar Sukmawati Soekarnoputri segera menyampaikan klarifikasi ke publik terkait pernyataannya yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama RI, Soekarno.

Bahkan apabila perlu, menurutnya, Sukmawati meminta maaf kepada masyarakat, khususnya umat Islam.

Dalam hal ini, ia mengatakan, diperlukan langkah tabayyun dengan Sukmawati mengenai kebenaran video tersebut dan apa sesungguhnya yang dimaksud dalam pernyataannya.

Sebab, kata Ikhsan, masyarakat membutuhkan ketenteraman dan kedamaian agar kehidupan di masyarakat tercipta sikap saling menghormati, bekerja sama, saling menolong dan saling membantu.

“Pernyataan Bu Sukmawati yang dianggap kurang sensitif dan menjadi viral sebaiknya diklarifikasi oleh Bu Sukmawati, apa sebenarnya yang dimaksudkan, agar tidak ditafsirkan secara liar oleh berbagai pihak, terutama kelompok tertentu yang kurang suka kalau masyarakat kita hidup tentram dan damai,” kata Ikhsan, melalui pesan elektronik, Senin (18/11/2019).

Sementara itu, terkait laporan polisi masyarakat atas Sukmawati, ia mengimbau agar polisi dapat menjadi media pengayom yang baik yang menampung keluhan berbagai pihak, baik pihak pelapor maupun terlapor.

Hal itu karena, menurutnya, tidak semua pernyataan seseorang harus berakhir di pengadilan pidana.

Dalam hal ini, ia juga mengatakan bahwa pemidanaan seharusnya menjadi ‘ultimum remedium’ atau sanksi terakhir, sehingga dapat meminimalisir kegaduhan di masyarakat.

“Polisi diharapkan dapat mengayomi semua pihak dan saya yakin ke depan paradigma ini yang harus dikembangkan,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Mengaku Ucapannya Diedit, Sukmawati Ogah Minta Maaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sukmawati Soekarnoputri ogah memintah maaf terkait ucapannya yang disebut membandingkan Nabi Muhammad dengan Presiden Soekarno.

Ia merasa tidak bersalah atas ucapannya.

“Saya merasa tidak salah, jadi ngapain musti minta maaf? Diteliti dulu dong apa kata-kata saya yang benar, yang bukan diubah ataupun diedit,” kata Sukmawati saat dihubungi, Senin (18/11/2019) malam.

Sukmawati juga memasrahkan laporan-laporan pihak yang merasa tersinggung dengan ucapannya kepada pihak kepolisian dan tim pengacaranya.

Menurut Sukmawati, bukan dirinya yang membuat publik gaduh dengan pernyataan tersebut, tetapi ‘tangan-tangan jahil’

“Pokoknya ini juga bagaimana, saya terserah polisi dan tim lawyer kalau harus sampai ke ranah hukum. Yang membuat gaduh saya pikir yang ‘tangan-tangan jahil’ tersebut karena kata-kata saya nggak ada yang nggak benar,” ucap Sukmawati

Sukmawati Terus Dilaporkan Warga Terkait Pernyataanya Singgung Nabi Muhammad

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sukmawati Soekarnoputri kembali dilaporkan ke polisi terkait ucapannya yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan presiden pertama RI Sukarno.

Kali ini, seorang warga bernama Irvan Noviandana melaporkan putri sang proklamator itu ke polisi.

“Saya pribadi sebagai muslim, saya sangat tersinggung,” kata Irvan kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Irvan mengatakan dirinya mengetahui ucapan Sukmawati pertama kali di media massa sebelum kasus itu viral. Dia sudah menyaksikan dengan saksama video Sukmawati yang berdurasi 30 menit tersebut

“Kita simak semuanya memang pernyataannya banyak sekali, bukan hanya tentang Nabi juga bandingkan Alquran dengan Pancasila dan sebagainya,” ungkap Irvan.

Irvan mengaku merasa dirugikan karena Nabi Muhammad disebutnya direndahkan dengan perkataan Sukmawati.

Menurutnya, Sukmawati tidak pantas membandingkan Nabi dengan orang lain meskipun itu dengan orang tua sendiri.

“Saya sebagai pribadi, seorang muslim merasa nabi saya, junjungan saya yang mengenalkan saya kepada Allah itu direndahkan,” kaya Irvan.

“Jadi gini, orang tua saya paling berjasa di hidup saya, ibu. Tapi pantes nggak, ‘siapa yang lebih berjasa antara ibu saya atau Nabi?’ Pernyataan itu saja sudah nggak pantes, apalagi Nabi coba dibandingkan jasanya dengan Sukarno. Sukarno manusia biasa, ya punya jasa dan kesalahannya,” sambungnya.

Dia menilai ucapan Sukmawati seolah-olah menggiring pemikiran masyarakat bahwa adanya radikalisme hingga kekerasan bersumber dari Islam. Dia juga enggan berdamai dengan Sukmawati meskipun Sukmawati meminta maaf terkait pernyataan itu.

sumber: detik.com

BMH Bagikan Paket Sekolah Dalam Peringatan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional

SIDOARJO (Jurnalislam.com) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali membagikan bantuan paket sekolah berupa tas serta peralatan sekolah lainnya kepada anak-anak yatim.

Acar aini masih dalam rangkaian Jalan Sehat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia  (PGRI) ke-74 & Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019, Pendopo Alun-alun Sidoarjo,  Kabupaten Sidoarjo, Ahad (17/11/2019).

Perlengkapan Sekolah dibagikan setelah kegiatan Jalan Sehat berlangsung yang diikuti para Guru dan ratusan warga Sidoarjo, saat penutupan Acara Peringatan HUT PGRI ke-74 dan HGN 2019.

Turut Serta dalam memeriahkan Acara Peringatan HUT PGRI ke-74 dan HGN 2019 yaitu Bupati Sidoarjo Bapak Saiful Ilah, Kepala dinas pendidikan  dan kebudayaan serta kepala PGRI Sidoarjo bapak Suprapto didampingi manager BMH  Ustadz M.Yasin.

“Alhamdulillah, acara pembagian peralatan sekolah untuk adik-adik yatim pada pagi hari ini berjalan lancar, terimakasih dukungan dari bapak Bupati Saiful Ilah serta jajaran Dinas Pendidikan &kebudayaan Sidoarjo,  dan yang pasti tidak lupa para donatur yang ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk fasilitas perlengkapan Sekolah untuk adik-adik yatim yang membutuhkan” ungkap M. Yasin.

Tidak hanya bagi-bagi perlengkapan sekolah, tapi BMH juga menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis dari awal acara hingga selesai Acara HUT ke-74 PGRI dan HGN 2019.

“BMH tidak hanya bagikan Perlatan sekolah untuk adik-adik yang membutuhkan, melaikan BMH juga membuka posko cek kesahatan dari cek gula darah, asam urat, kolesterol, tekanan darah tinggi, Berat Badan secara Gratis untuk para guru pahlawan tanpa tanda jasa dan semua masyarkat yang mengikuti, ” tutupnya.

107 Tahun Muhammadiyah Membangun Negeri

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya melaksanakan upacara Milad Ke-107 Muhammadiyah di Lapangan Keputih, Sukolilo, Surabaya, Ahad (18/11/2019).

Hadir sebagai inspektur upacara adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr. H. Mahsun Djayadi M.Ag. Dalam pidato miladnya ia menepis isu yang menuduh Muhammadiyah kurang mencintai NKRI,

“Jangan mengajari Muhammadiyah tentang kecintaan terhadap NKRI dan Pancasila, Muhammadiyah sudah khatam mengenai hal tersebut,” terangnya.

“Karena Muhammadiyah juga membantu memajukan bangsa dari segi pendidikan, kesehatan, sosial, dan lain-lain mulai dari tahun 1912,” imbuhnya.

Ia juga menerangkan dakwah Muhammadiyah dalam pendidikan sudah menjangkau daerah pelosok,

“Sebelum pemerintah turun ke daerah pelosok di Jayapura, Muhammadiyah sudah turun membangun perkuliahan yang mana muridnya banyak dari non muslim.” katanya.

“Jadi milad Muhammadiyah yang ke 107 ini membuktikan Muhammadiyah masih eksis membangun negeri ini lebih maju lagi,” pungkasnya.

Selesai pidato milad, acara dilanjutkan dengan pemberian buku dengan judul “Memimpin Gaya Profetik” karya Dr. H. Mahsun Djayadi M.Ag. kepada para tamu VIP dan ketua majelis organisasi otonom muhammadiyah.

Kontributor: Ma’sum