MUI Desak Pemerintah Realisasikan Bantuan untuk Pekerja Informal

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Anwar Abbas mendesak pemerintah agar segera merealisasikan bantuan yang akan diberikan kepada pekerja informal dan rakyat miskin.

“Kebijakan ini harus ditempuh kalau kita sebagai bangsa memang benar-benar serius untuk memutus mata rantai penularan covid-19 ini karena kalau rakyat masih berkeliaran – mencari nafkah – maka akan sulit bagi kita  menghambat penyebarannya,” kata Anwar Abbas dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (27/3/2020).

Dengan diberikannya BLT ini, kata Anwar,  maka pemerintah bisa melarang mereka untuk keluar rumah dan itu tentu akan bisa mereka terima  karena mereka sudah tidak lagi terlalu terbebani dan  dibebani oleh fikiran mencari uang untuk anak dan keluarganya.

“Kita mengharapkan agar kebijakan ini secepatnya dikeluarkan dan  dilaksanakan,” desak Anwar.

Ia juga meminta pemerintah harus memberi sanksi yang  berat kepada pihak-pihak yang mempermain-mainkan dana BLT ini sehingga mengakibatkan  pengalokasian dananya tidak tepat  sasaran.

“Untuk itu kita menghimbau masyarakat  agar  ikut memantau pengelolaannya agar apa yang menjadi tujuan dari pemerintah dan kita bersama dapat cepat dapat tercapai.,” pungkasnya.

Update Corona RI 26 Maret: 893 Positif, 78 Meninggal

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Hingga Kamis (26/3/2020) tercatat 893 kasus positif, 35 sembuh, dan 78 meninggal di Indonesia.

“Ada penambahan kasus konfirmasi positif kurang lebih sebanyak 103 orang sehingga jumlah totalnya menjadi 893,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, Kamis (26/3/2020).

Jumlah kasus positif mengalami penambahan sebanyak 103 kasus menjadi 893 kasus. Penambahan kasus paling banyak dari DKI, juga Sulawesi Selatan sebanyak 14 kasus.

Sementara itu jumlah pasien yang sembuh tercatat bertambah 4 kasus menjadi 35. Sedangkan kasus meninggal dunia mengalami penambahan 20 kasus menjadi 78.

Sumber: detik com

Aceh Tetapkan Status Tanggap Darurat Corona

ACEH(Jurnalislam.com)–Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menetapkan status tanggap darurat skala provinsi untuk menangani pandemi Corona. Status darurat tersebut berlaku selama 71 hari sejak 20 Maret hingga 29 Mei mendatang.

“Seiring berjalan waktu dan meningkatnya eskalasi prevalensi pandemik baik berupa jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 di Aceh, sehingga penetapan status siaga darurat bencana non-alam penyebaran Covid-19 yang ditetapkan pada 17 Meret 2020 perlu ditingkatkan menjadi status tanggap darurat,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh Muhammad Iswanto dalam keterangannya, Kamis (26/3/2020).

Menurutnya, pertimbangan meningkatkan status menjadi tanggap darurat provinsi itu karena penyebaran Corona terus meningkat di Tanah Rencong. Selain itu, penetapan status darurat tersebut juga merujuk Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Berdasarkan surat gubernur tersebut pada 20 Maret lalu itu disebutkan, penetapan status tanggap darurat mencakup pencegahan penyebaran Covid-19, percepatan penanganan Covid-19, dan kesiapan serta kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons terhadap Covid-19.

Iswanto menjelaskan, dalam surat itu disebutkan penetapan status tanggap darurat skala provinsi Covid-19 di Aceh akan berlangsung selama 71 hari, sejak 20 Maret 2020 sampai 29 Mei 2020. Status ini dapat diperpendek atau diperpanjang sesuai dengan pelaksanaan penanganan darurat bencana nonalam.

Menurutnya, pemerintah Aceh terus berupaya maksimal dalam percepatan penanggulangan penyebaran Covid-19. Selain itu, Pemerintah Aceh berharap seluruh kabupaten/kota turut melakukan hal yang sama dengan menerapkan langkah-langkah penanggulangan.

“Insya Allah ini menjadi pedoman bagi kabupaten kota untuk mengambil langkah-langkah terukur dalam penanggulangan virus Corona di Aceh,” ungkap Iswanto.

Sumber: detik.com

Pertumbuhan Diprediski Cuma 0.3 %, Ekonomi Dunia di Ambang Krisis

INTERNASIONAL (Jurnalislam.com)–Krisis wabah covid-19 diprediksi menekan perekonomian global tahun ini hingga pertumbuhan bakal nyaris nol persen atau mirip seperti era krisis tahun 2009, menyusul makin banyaknya lockdown (karantina wilayah) di berbagai negara.

Dalam diskusi melalui Webcast pada Kamis (26/3/2020), Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bakal tumbuh 0,3% setahun penuh 2020. Bahkan dalam skenario bearish (pesimistis), ekonomi dunia diprediksi minus 2,1%.

“Tim ekonomi kami sekarang memperkirakan ada resesi global pada 2020, sama seperti serupa tahun 2009, yang diikuti pemulihan pada 2021 berkat kombinasi stimulus moneter dan fiskal dan teratasinya Covid-19,” tutur Kepala Perencana Investasi Asia dan Emerging Market di Morgan Stanley, Jonathan Garner.

Jika kondisi memburuk, lanjutnya, resesi bakal berlangsung lebih lama dari krisis finansial global 2009. Proyeksi terbaru ini lebih rendah dari proyeksi mereka sebelumnya pada 17 Maret yang memprediksi angka pertumbuhan ekonomi dunia 2% (skenario dasar) dan 0,9% (skenario pesimistis).

Menurut Ekonom Morgan Stanley untuk China Robin Xing, proyeksi yang baru ini dipatok merespons makin banyaknya negara-negara maju yang melakukan lockdown. Kebijakan ini menimbulkan tekanan lebih panjang terhadap konsumsi masyarakat.

“Banyak negara besar kini juga melakukan lockdown, meski China mulai longgar… Virus mungkin terkendali secara umum, tapi social distancing masih akan ada untuk mengantisipasi agar virus tak muncul lagi,” tutur dia.

Situasi tersebut, lanjutnya, bakal menekan pertumbuhan konsumsi masyarakat yang menjadi komponen penting pembentukan produk domestik bruto (PDB). Pola konsumsi saat ini, menurut Morgan Stanley, masih perlu social gathering.

Robin memberi contoh China. Jika disrupsi di Negeri Panda itu berlangsung sampai kuartal ketiga, Morgan Stanley memprediksi pertumbuhan ekonomi mereka bakal turun 0,8% meskipun ada kebijakan agresif dari sisi moneter dan fiskal.

“Perlu 4 pekan untuk mengontrol wabah dalam arti kasus baru di luar Hubei di bawah 100 orang per hari. Pada pekan kedelapan, produksi industri kembali ke level normal kisaran 80%. Namun, pemulihan konsumsi masih lambat karena berlanjutnya social distancing,” tutur dia.

Sumber: cnbcindoesia

Menag Ajak Shalat Ghaib untuk Ibunda Presiden

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menteri Agama, Fachrul Razi, turut berduka cita atas wafatnya ibunda Presiden Joko Widodo, Hj Sujiatmi Notomiharjo. Fachrul menyampaikan duka mendalam.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Turut berduka atas wafatnya ibunda Bapak Presiden Joko Widodo, Hj Sujiatmi Notomiharjo,” katanya melalui keterangan tertulis Kamis (26/03/2020).

Fachrul mengimbau umat Islam untuk melaksanakan Salat Gaib. “Mari kita umat Islam Indonesia masing-masing melaksanakan salat gaib dan mendoakan almarhumah husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,” ucapya.

Dia juga mengimbau nonmuslim mendoakan ibunda Jokowi. “Bagi yang nonmuslim, mohon berkenan mendoakan sesuai kepercayaan agama masing-masing,” katanya.

Almarhumah wafat di Solo, Rabu, 25 Maret 2020, pukul 16.45 WIB. Kabar terakhir, Jokowi beserta keluarga sampai di RS Slamet Riyadi Surakarta sekitar pukul 18.20 WIB.

Thailand Putuskan Lock Down Selama Satu Bulan

BANGKOK(Jurnalislam.com)— Thailand melaporkan 111 infeksi baru corona sehingga jumlah total kasus di negara itu mencapai 1.045, kata pemerintah di Twitter pada Kamis (26/3). Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha sebelumnya telah mengatakan pada konferensi pers bahwa Thailand dikunci mulai 26 Maret selama sebulan untuk menangani wabah corona.

Kondisi keadaan darurat itu berarti perdana menteri akan memiliki kekuatan eksekutif untuk menyatakan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengatasi virus. Termasuk memberikan wewenang ekstra kepada para pejabat dan memungkinkan pendirian pos pemeriksaan untuk mengurangi pergerakan orang. Demikian diungkapkan Prayuth.

Kebijakan keadaan darurat mulai diberlakukan di negara itu. Pihak berwenang di Thailand, yang telah melaporkan empat kematian akibat Covid-19, mendirikan pos pemeriksaan di jalan-jalan utama yang menghubungkan provinsi-provinsi.

Pendirian pos pemeriksaan tersebut dapat meningkatkan penyaringan dalam upaya membatasi penyebaran virus. Kedatangan warga negara asing yang bukan penduduk juga telah dilarang.

Sumber: republika.co.id

Harga Emas Dunia dan Antam Meroket

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)- Emas dunia dan logam mulia yang diproduksi PT Antam Tbk (ANTM) atau emas Antam di Tanah Air tengah mendapat momentum penguatan harga yang signifikan. Kedua instrumen investasi safe haven ini terus mencetak penguatan harga di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Mengacu data Refinitiv, harga emas dunia terbang tinggi dalam 2 hari terakhir hingga kembali ke atas level US$ 1.600/troy ons. Rencana Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang kembali menggelontorkan stimulus masif menjadi pemicu kenaikan harga logam mulia ini.

Di awal pekan, harga emas dunia melesat 3,7%, sementara pada Selasa (24/3/2020), harga logam mulia ini bahkan sempat meroket 5,11% ke US$ 1.632,35/troy ons, sebelum terpangkas dan mengakhiri perdagangan di level US$ 1.610,02/troy ons atau naik 3,67%.

Total hanya dalam 2 hari, harga emas sudah melesat lebih dari 7%. Laju kenaikan emas masih berlanjut pada Rabu (25/3/2020), pada pukul 6:53 WIB harga emas sudah naik 1,6% ke US$ 1.635.79/troy ons.

Sumber: cnbcindonesia

Kemenag Juga Pastikan UN Madrasah Ditiadakan

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 Kementerian Agama (Kemenag) memastikan Ujian Nasional (UN) bagi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) ditiadakan.

Hal ini menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo dan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat pencegahan penyebaran Corona.

“UN jenjang MTs dan MA tahun pelajaran 2019/2020 dibatalkan. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tidak lagi gunakan nilai UN sebagaimana tahun sebelumnya,” ujar Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, A. Umar dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (25/3).

Kebijakan yang sama juga berlaku bagi pelaksanaan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) MA dan MTs. Menurut Umar, UAMBN ditiadakan bagi madrasah yang belum menyelenggarakannya. Namun, bagi madrasah yang telah melaksanakan, pesertanya akan mendapatkan Sertifikat Hasil UAMBN (SHUAMBN), yang dapat dicetak langsung oleh madrasah melalui aplikasi UAMBN-BK.

Panitia UAMBN Kanwil Kemenag Provinsi dapat mengunduh hasil UAMBN-BK jenjang MA dan MTs pada laman uambnbk.kemenag.go.id mulai 26 Maret 2020. Selanjutnya hasil UAMBN-BK didistribusikan kepada MA dan MTs di wilayahnya dalam bentuk soft file.

“Nilai UAMBN yang sudah dihasilkan hanya diperlukan untuk pemetaan kompetensi siswa madrasah dan tidak digunakan sebagai prasyarat kelulusan dan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” jelas Umar.

Umar menjelaskan, ujian madrasah untuk kelulusan berpedoman pada SK Dirjen Nomor 247 Tahun 2020 tentang POS Ujian Madrasah. Dalam konteks saat ini, kata dia, ujian madrasah untuk kelulusan dalam bentuk tes yang mengumpulkan siswa tidak boleh dilakukan, kecuali bagi yang telah melaksanakannya beberapa waktu lalu.

sumber: republika.co.id

PBNU: Ikuti Protokol Pemerintah, Tetap Diam di Rumah!

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan rasa keprihatinan atas adanya musibah wabah virus korona baru (Covid-19).

Pihaknya juga menyampaikan duka yang sangat mendalam bagi para korban, termasuk sejumlah tenaga medis yang gugur dalam perjuangan melawan Covid-19.

Atas kondisi wabah virus Corona yang kian meningkat, PBNU mengimbau agar seluruh kaum Muslimin, termasuk warga NU, untuk mematuhi instruksi serta protokol yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam pernyataannya, Helmy juga meminta seluruh jajaran PBNU, sejak pusat hingga wilayah dan ranting, agar aktif turut melakukan sosialisasi protokol pemerintah itu.

Sosialisasi dapat melalui sarana-sarana yang dimiliki. Misalnya, melalui speaker (pengeras suara), media sosial dan lainnya.

“Hindari kegiatan-kegiatan yang bersifat kolosal, berkumpul dan bergerombol. Segala aktivitas keagamaan bisa dilakukan di rumah demi keamanan bersama,” kata Helmy, Selasa (24/3).

Selain itu, Helmy juga mengimbau kepada seluruh pesantren yang berada di bawah naungan NU untuk senantiasa mengikuti protokol dan edaran yang telah dikeluarkan oleh PBNU.

Ia juga mengajak umat untuk tetap memperbanyak do’a, dan memohon pertolongan Allah SWT. Hal itu menurutnya bisa dilakukan melalui istighotsah, pembacaan shalawat thibbil qulub, dan amalan-amalan dari para kiai dan guru.

Hingga Selasa (24/3), jumlah pasien positif terinfeksi virus Corona di Indonesia dilaporkan bertambah menjadi 686 orang. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 55 orang, dengan jumlah yang sembuh 33 orang.

Sumber: republika.co.id

 

MUI: Fatwa Demi Kemasalahatan Pribadi dan Banyak orang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Hasanuddin AF menyampaikan bahwa Fatwa MUI adalah pedoman atau petunjuk bagi umat Islam. Supaya wabah virus corona atau Covid-19 tidak semakin menyebar di tengah masyarakat Indonesia.

KH Hasanuddin mengatakan, masing-masing individu harus memiliki kesadaran untuk menaati dan melaksanakan Fatwa MUI.

“Contoh Masjid Istiqlal sudah mengikuti Fatwa MUI, di Masjid Raya Bandung juga seperti itu, mengikuti Fatwa MUI ini demi (keselamatan) diri sendiri dan demi orang lain juga,” kata KH Hasanuddin, Senin (23/3).

Menurutnya, setelah Fatwa MUI dikeluarkan selanjutnya tinggal sosialisasi yang perlu dibuat masif agar setiap Muslim memahaminya. Misalnya para dai dan ormas-ormas Islam ikut lebih menyebarluaskan dan mensosialisasikan Fatwa MUI.

Komisi Fatwa MUI berpandangan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan fatwa ulama juga berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang bahaya wabah Covid-19. Jadi semestinya pemerintah lebih gencar mensosialisasikan bahaya wabah Covid-19 ke masyarakat.

“Upaya pemerintah harus benar-benar bisa menyadarkan masyarakat dengan berbagai upaya, kalau kesadarannya kurang saya kira perlu lebih digencarkan lagi,” ujarnya.

Komisi Fatwa MUI juga menanggapi adanya masyarakat yang tidak terima masjid ditutup sementara waktu untuk shalat jamaah. KH Hasanuddin menceritakan, saat menjelaskan Fatwa MUI dalam forum memang harus detail dan menyampaikan banyak hal.

Bahkan ada yang mengatakan mengapa menanggulangi wabah Covid-19 bukan dengan meningkatkan ketakwaan tapi malah mengurangi ketakwaan dengan tidak melaksanakan shalat berjamaah.

Jadi, dia mengatakan, bila di tengah masyarakat ada yang tidak terima masjid ditutup untuk shalat jamaah sementara waktu itu hal yang wajar. Tapi, KH Hasanuddin mengingatkan, mana yang lebih besar mudharatnya antara ketakwaan berkurang atau ketakwaan berhenti karena terinfeksi wabah Covid-19 dan mati.

“Kalau Fatwa MUI ini dianggap mengurangi ketakwaan, saya bilang mana yang lebih besar bahayanya, ketakwaan kita berkurang atau ketakwaan kita berhenti. Ini (Fatwa MUI) bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk keselamatan orang lain juga,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id