Kampanye New Normal Dinilai Kontraproduktif dengan Larangan Arus Balik

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti jajarannya untuk mengendalikan arus balik setelah Lebaran. Ia meminta arus balik perlu diwaspadai agar tidak muncul gelombang kedua penularan Covid-19 di DKI Jakarta dan daerah penyangga.

“Berkaitan pengendalian arus balik, ini penting untuk kita kendalikan agar tidak terjadi sirkulasi bolak balik dalam penyebaran virus yang berpotensi untuk memunculkan gelombang yang kedua,” ujar Jokowi dalam pembukaan rapat terbatas, Rabu (27/5).

Jokowi mengungkapkan, tren R0 (angka reproduksi) dan Rt (R0 terhadap waktu tertentu) untuk wilayah Jabodetabek sudah di bawah angka 1. Dalam kajian epidemiologi, R0 memberikan interpretasi mengenai seberapa parah proses penularan suatu penyakit.

Bila R0 di atas angka 1, tingkat infeksinya terbilang masih tinggi. Bila R0 kurang dari 1, tingkat infeksinya terbilang rendah. “Sehingga ini perlu kita tekan agar lebih menurun lagi,” ujar Jokowi.

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, memaparkan, tim FKM UI mencatat ada 1,7 juta pemudik yang pulang kampung hingga 3 Mei 2020.

“Itu kalau dia balik, sebagian akan menularkan atau akan tertular yang sakit di Jabodetabek sehingga jumlah kasus di Jabodetabek akan meningkat lagi setelah adanya arus balik ini,” kata Pandu saat Selasa (26/5).

Terlebih, jumlah yang masuk Jabodetabek selepas Lebaran biasanya lebih banyak dari yang bertolak sebelum Idul Fitri. Ia juga menilai gelombang penularan arus balik sangat mungkin teramplifikasi dengan kebijakan pemerintah untuk mengembalikan aktivitas ekonomi atau yang dikenal dengan istilah new normal.

“Ini kan seperti undangan ‘ayo balik ke Jakarta, cari duit ke Jakarta’, ekonomi sudah kembali normal, jadi semacam iklan,” ujarnya. Untuk meminimalkan penularan yang ditimbulkan pemudik arus balik, Pandu menilai langkah yang paling tepat adalah dengan melakukan pemeriksaan terhadap para pemudik yang kembali tersebut. Namun, seturut masih kurangnya alat tes, tak kembali ke Jabodetabek adalah pilihan yang lebih masuk akal.

Pengamat lalu lintas dan transportasi, Budiyanto, menjelaskan, mobilitas masyarakat yang mudik dan balik beserta orang baru yang akan ke Jakarta pada umumnya menggunakan kendaraan bermotor, baik sepeda motor, mobil pribadi, maupun angkutan umum. Eks Kepala Subdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya itu menilai, dalam kondisi itu, proses physical distancing dan menghindari kerumunan sulit dilaksanakan dan diawasi.

“Sehingga wajar kalau Pemerintah Provinsi DKI dan pemangku kepentingan yang lain berusaha untuk menyeleksi, mencegah, dan mengendalikan ranmor yang akan ke Jakarta, apalagi Jakarta juga masih diberlakukan PSBB sampai 4 Juni 2020,” papar Budiyanto.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya meminta warga yang berasal dari luar daerah agar tidak memaksa masuk ke Ibu Kota pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Anies menyampaikan, selama PSBB, hanya kalangan yang bekerja di 11 sektor yang diizinkan datang. Itu pun diharuskan mengantongi surat izin keluar masuk (SIKM).

Sumber: republika.co.id

Masjid Hasyim Asy’ari Siapkan Lima Ruang Isolasi Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Masjid KH Hasyim Asy’ari atau Masjid Raya Jakarta, Cengkareng, Jakarta Barat menyiapkan lima ruangan untuk isolasi pemudik dan memiliki izin kembali ke Jakarta. Totalnya, masjid menyiapkan 100 tempat tidur sementara.

“Pria dan wanita dipisah. Pria ditaruh di aula dan wanita serta anak-anak di empat ruangan bersekat,” ujar Pengurus Masjid KH Hasyim Asy’ari Suprapto di Jakarta, Rabu (27/5).

Para pemudik yang dicegat karena tak membawa surat izin keluar masuk (SIKM), wajib jalani isolasi terlebih dahulu di masjid tersebut selama 14 hari. Petugas dari tiga pilar Jakarta Barat baik dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI, dan Polisi sudah bersiap mengamankan pemudik di masjid tersebut.

Tak hanya itu, masjid tersebut menyediakan posko kesehatan untuk memeriksa para pemudik, sebelum menjalani isolasi. Hingga saat ini, Suprapto mengaku belum ada pemudik yang ditampung di masjid tersebut.

“Sampai saat ini masih kosong. Jadi fasilitas itu belum terpakai sama sekali,” ujar dia.

Jika sudah ada pemudik yang diamankan, maka mereka harus dicek kesehatan terlebih dahulu di Masjid KH Hasyim Asy’ari.

Pemudik akan jalani tes cepat yang disediakan tenaga kesehatan.

Jika positif maka pemudik akan dibawa ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet. “Namun jika negatif pemudik harus tetap jalani isolasi di Masjid KH Hasyim Asy’ari selama 14 hari,” ujar dia.
Sumber: republika.co.id

DPR MInta Pemerintah Tidak ‘Ngebet’ Jalankan New Normal

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua DPR RI Puan Maharani mengatakan, rencana pemerintah untuk melaksanakan Protokol Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 perlu dipastikan terlebih dahulu berbagai rinciannya.

“Jangan sampai teknis protokolnya disiapkan secara terburu-buru sehingga tidak matang dan malah memunculkan kebingungan baru di masyarakat,” kata Puan Maharani, Rabu (27/5/2020).

Sebab, lanjut Puan Maharani, protokol kenormalan baru tentu akan berbeda-beda untuk setiap jenis kegiatan atau lokasi. “Contohnya protokol di pasar, pusat perbelanjaan, sekolah, tempat kerja, atau tempat umum lainnya akan memiliki variasi-nya masing-masing,” kata Puan Marahani.

WHO sendiri, kata Puan Maharani, telah menyusun beberapa pertimbangan bagi negara-negara sebelum menerapkan kehidupan normal baru. Seperti kemampuan untuk mengendalikan transmisi virus corona. Kemudian kemampuan rumah sakit untuk menguji, mengisolasi serta menangani tiap kasus dan melacak tiap kontak.

Selain itu, kata Puan Maharani, kajian-kajian ilmiah sebelum penerapan kenormalan baru harus dilakukan secara mendalam sebagai acuan pengambilan kebijakan. “Transparansi data menjadi penting sebab pemerintah perlu menjelaskan kepada rakyat saat ini posisi Indonesia tepatnya ada di mana dalam kurva pandemic Covid-19, serta bagaimana prediksi perkembangannya ke depan. Sehingga rakyat mengetahui jelas mengapa disusun protokol kenormalan baru,” katanya.

Di dalam protokol kenormalan baru, tambah Puan Maharani, harus ada skenario dan simulasi apa yang harus segera dilakukan jika tiba-tiba ada gelombang baru penyebaran virus corona.

“Harus benar-benar lengkap rincian antisipasi dan langkah-langkahnya. Termasuk pihak mana saja yang bertanggungjawab atas setiap tindakan,” kata Puan Maharani.

Kesemuanya nanti, kata Puan, harus dilakukan secara disiplin. Baik dari aparat pemerintah yang mengawasi, maupun juga disiplin dari warga.

Sumber: beritasatu.com

Bahas Ibadah di Era New Normal, MUI: Menjaga Nyawa Diutamakan!

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah membahas pola penyelenggaraan ibadah maupun aktivitas keagamaan di era new normal nanti.

MUI juga melakukan evaluasi terhadap efektivitas aturan pemerintah di masa pandemi selama ini. Setelah itu MUI akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. “Kita tidak mau terburu-buru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang fatwa, KH Sholahuddin Al Aiyub, di Jakarta, Rabu (27/5).

Menurut dia, keselamatan jiwa masyarakat harus diutamakan daripada kepentingan-kepentingan yang lain, bahkan kepentingan masalah keagamaan sekalipun. Ia juga mengingatkan, dalam hal masalah keagamaan itu ada alternatif lain yaitu alternatif rukhsoh.

“Sementara kalau untuk menjaga jiwa masyarakat atau umat Islam itu tidak ada alternatif lain. Maka dalam hal ini, MUI ingin mendahulukan itu (perlindungan jiwa masyarakat). Kesimpulan seperti apa, saat ini masih digodok,” katanya.

Menurut Sholahuddin, perlu pendekatan yang lebih mikro dan bukan secara nasional untuk memastikan apakah suatu daerah bisa melaksanakan aktivitas keagamaan di rumah ibadah pada era new normal nanti.

“Kondisi daerahnya seperti apa, tingkat penyebarannya seperti apa, karena ini variabel yang penting,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia mengaku heran dengan kurva kasus Covid-19 yang masih menunjukkan tingginya penularan. Padahal menurutnya tingkat kepatuhan dan pemahaman masyarakat terhadap protokol medis sudah cukup bagus.

Contohnya pada saat melaksanakan sholat Idul Fitri akhir pekan lalu. “Kita mendapat laporan, aspek protokol kesehatan menjadi pertimbangan utama para jamaah untuk melakukan sholat Id,” ujar dia.

Sholahuddin menjelaskan, banyak kalangan Muslim saat itu yang tidak menggelar sholat Id dalam kapasitas yang besar. Mereka menggelar shalat Id di lingkup yang kecil seperti di area perumahan dengan membagi per blok atau klaster.

Dalam kondisi demikian, Sholahuddin mengakui, memang seharusnya ada dampak terhadap kurva kasus Covid-19. Tetapi nyatanya, masih belum berdampak pada penurunan grafik penularan Covid-19. Bahkan masih tinggi. Karena itu dia mengatakan, MUI ingin mengkajinya secara mendalam.

Menurut dia, variabel kepatuhan protokol medis sudah bagus.

“Tetapi kok penularan masih tinggi, ini sebenarnya karena apa. Informasi-informasi ini akan menjadi pertimbangan yang penting untuk merumuskan rekomendasi MUI kepada pemerintah. (MUI),” pungkasnya.

Pemerintah Diminta Kaji Ulang New Normal, Haedar: Jangan Sampai Rakyat Dikorbankan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Umum PP Muhamamdiyah Haedar Nasir meminta pemerintah agar mengkaji dengan seksama pemberlakuan “new normal”.

Ia mempertanyakan beberapa hal terkait kampanye new normal seperti dasar kebijakan “new normal” dari aspek utama yakni kondisi penularan Covid-19 di Indonesia saat ini,

Lalu, maksud dan tujuan “new normal”; juga  konsekwensi terhadap peraturan yang sudah berlaku, khususnya PSBB dan berbagai layanan publik,

Pemerintah juga diminta mengkaji jjaminan daerah yang sudah dinyatakan aman atau zona hijau yang diberlakukan “new normal”.

Ia meminta dilakukan persiapan-persiapan yang seksama agar masyarakat tidak menjadi korban, termasuk menjaga kemungkinan masih luasnya penularan wabah Covid-19.

“Pemerintah dengan segala otoritas dan sumberdaya yang dimiliki tentu memiliki legalitas kuat untuk mengambil kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan demikian akan sepenuhnya bertanggungjawab atas segala konsekuensi dari kebijakan “new normal” yang akan diterapkan di negeri tercinta,” kata dia (28/5/2020) dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Muhammadiyah: Covid-19 Belum Berhasil Diatasi, Pemerintah Malah Wacanakan ‘New Normal’

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Pengurus Pusat Muhammadiyah mengkritisi pernyataan pemerintah yang akan menerapkan ‘new normal’ dalam menghadapi covid-19.

“Perlu ada penjelasan dari Pemerintah tentang kebijakan “new normal”. Jangan sampai masyarakat membuat penafsiran masing-masing,” kata Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir, Kamis (28/5/2020) dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Menurut Haedar, mengutip laporan BNPB bahwa bahwa pandemi Covid-19 masih belum dapat diatasi.

“Tetapi Pemerintah justru melonggarkan aturan dan mulai mewacanakan new normal,” tambahnya.

Ia mempertanyakan apakah kampanye new normal benar-benar sudah dikaji secara valid dan seksama dari para ahli epidemiologi.

“Wajar jika kemudian tumbuh persepsi publik yang menilai kehidupan masyarakat dikalahkan untuk kepentingan ekonomi,” kata Haedar.

“Penyelamatan ekonomi memang penting, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah keselamatan jiwa masyarakat ketika wabah Covid-19 belum dapat dipastikan penurunannya,” pungkasnya.

 

Jokowi Minta Pelaku Industri Pariwisata Beradaptasi

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa preferensi liburan bagi para turis akan berubah seiring dengan era new normal.

Hal tersebut ditegaskan Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan tatanan normal baru di sektor pariwisata yang produktif dan aman Covid-19 di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Saya ingin mengingatkan pandemi Covid akan membuka perubahan tentang tren pariwisata di dunia. Di mana isu health, hygine, serta safety dan security akan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan yang ingin melancong,” kata Jokowi, Kamis (28/5/2020).

“Preferensi liburan akan bergeser ke alternatif yang tidak banyak orang seperti solo travel tourwellness tour, termasuk di dalamnya virtual tourism dan staycation,” katanya.

Jokowi mengingatkan bahwa para pelaku industri pariwisata maupun ekonomi kreatif betul-betul harus jeli melihat situasi saat ini. Para pelaku diminta melakukan adaptasi dengan perubahan ini.

“Pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif harus betul mengantisipasi perubahan tren ini dan kita harus betul-betul bisa mencium perubahan ke arah mana,” katanya.

Eks Gubernur DKI Jakarta itu meminta jajarannya untuk merancang sebuah inovasi untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dalam negeri di era new normal hidup berdampingan bersama Covid-19.

“Sehabis pandemi ini kita harus melakukan inovasi, melakukan perbaikan sehingga cepat beradaptasi dengan perubahan tren yang kemungkinan besar nanti akan terjadi di dunia pariwisata global,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Kelompok Teroris Pro Iran dan Bashar Al Assad Gali Kuburan Khalifah Umar bin Abdul Aziz

SURIAH(Jurnalislam.com)–Kelompok-kelompok teroris dukungan Iran di pasukan rezim Bashar al-Assad di Suriah menggali kuburan Umar bin Abdulaziz, salah satu khalifah Islam dari Dinasti Umayyah.

Kini belum diketahui nasib sisa-sisa tubuh khalifah tersebut.

Gambar yang dibagikan oleh pasukan rezim lewat akun media sosial mereka menunjukkan makam Khalifah Umar bin Abdulaziz, di Desa Deir Sharqi dekat distrik Maarat Numan di Idlib, telah digali.

Makam khalifah yang merupakan cucu dari Umar bin Khattab, khalifah Islam yang kedua, nampak kosong.

Pasukan rezim melanggar konsensus Sochi dan perjanjian Astana serta menghancurkan makam Kekhalifahan Islam di Distrik Maarat Numan, yang mereka rebut dan rusak pada bulan-bulan sebelumnya.

Sumber: anadolu agency

 

Pengamat Nilai Penerapan New Normal Munculkan Banyak Persoalan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) Hurriyah menilai, keputusan pemerintah menggelar pilkada serentak pada 9 Desember 2020 merupakan bagian dari normalitas baru (new normal) yang tengah dipersiapkan untuk diterapkan.

Namun, ia melihat rencana pemerintah untuk menetapkan situasi new normal pada saat ini memunculkan sejumlah persoalan.

“Kalau merujuk pada ketentuan yang ditetapkan WHO, ada beberapa prasyarat yang cukup ketat untuk sebuah negara bisa menerapkan konsep new normal,” kata Hurriyah dalam diskusi daring, Rabu (27/5).

Hurriyah menjelaskan, salah satu syaratnya yaitu adanya perlambatan kasus positif Covid-19. Menurutnya, saat ini perlambatan kasus Covid-19 di Indonesia belum terlihat.

“Belum lagi kemungkinan lonjakan setelah lebaran ini karena ada arus mudik,” ujarnya.

Selain itu, Hurriyah menganggap salah satu syarat penting yang diabaikan pemerintah adalah belum dilibatkannya masyarakat dalam memberi masukan terkait proses masa transisi ke new normal.

Kaitannya dengan pilkada, ia melihat pemerintah juga belum melibatkan masyarakat dengan cara mendengarkan dan memperhatikan aspirasi yang disampaikan.

“Banyak sekali teman-teman dari pegiat pemilu, opini-opini atau bahkan pendapat yang disampaikan untuk penundaan pilkada tapi kok sepertinya ini tidak cukup didengar kalau kita lihat hasil keputusan untuk menyelenggarakan pilkada hari ini,” ucapnya.

Karena itu, ia ikut mendukung adanya petisi penundaan pilkada hingga 2021 yang digagas oleh para pegiat pemilu. Hal tersebut dinilai penting untuk memastikan warga negara dilibatkan dalam memberi masukan untuk ikut serta di dalam urusan-urusan publik seperti halnya pilkada.

Sumber: republika.co.id

Cara Muslim Chicago Rayakan Idul Fitri di Tengah Pandemi

CHICAGO(Jurnalislam.com) – Umat Muslim di Chicago, Amerika Serikat memang tak bisa menggelar sholat Id berjamaah karena dalam penguncian wilayah.

Mayoritas Muslim hanya dapat melaksanakan sholat Id di rumahnya masing-masing. Meski begitu, umat Muslim di Chicago punya cara unik untuk menyemarakkan perayaan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19.

 

Seperti dilansir Patch pada (26/5), banyak masjid dan Islamic Center di Chicago membuat Drive Thru Celebration yakni kegiatan dimana masjid memberikan hadiah kepada umat Muslim tanpa harus turun dari kendaraan mereka.

 

Kegiatan ini diselenggarakan di beberapa tempat seperti Mekah Center Willow, Yayasan Masjid Bridgeview, Pusat Islam Naperville, Pusat Islam Wheaton, Sabah Chicago, MEC Morton Grove, dan beberapa tempat lainnya.

 

Orang-orang berkendara dengan mobil-mobil yang telah didekorasi. Mereka berparade di sekitar lingkungan pusat-pusat kegiatan Islam dan menerima hadiah seperti tas, permen, dan minuman segar.

 

Mereka hanya diperbolehkan tetap di kendaraan masing-masing dan tak diizinkan keluar dari kendaraan untuk memasuki area. Salah satu muslim yang mengikuti kegiatan itu adalah Ali Khan. Dia datang bersama istri dan tiga anaknya ke MEC Morton Grove.

 

Dia berharap memperoleh kegembiraan dalam perayaan Idul Fitri. “Saya berharap bahwa dalam upaya kita, hari-hari yang baik akan datang bersama dengan kegembiraan Idul Fitri,” katanya.

 

Sementara itu Presiden Amerika, Donald Trump, serta beberapa senator dan anggota kongres Amerika  dan tokoh-tokoh di Chicago memberikan selamat kepada umat Muslim atas perayaan Idul Fitri.

 

“Tentang Idul Fitri, Saya mengirim salam hangat kepada umat Islam di Amerika Serikat dan seluruh dunia saat mereka merayakannya. Selama beberapa bulan terakhir, kami berjuang melawan viru corona, kami mengandalkan keyakinan, keluarga, dan teman-teman untuk membantu membimbing kita melalui masa-masa yang belum pernah terjadi. Ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, kami berharap mereka menemukan kenyamanan dan kekuatan penyembuhan doa dan pengabdian,” katanya.

Sumber: republika.co.id