Sekjen MUI: Grand Design Pedoman Tayangan Ramadhan Dibutuhkan untuk Tahun Mendatang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia sore ini melangsungkan acara laporan hasil pantauan tayangan Ramadhan tahap dua. Pemantauan tahap dua merupakan Pemantauan final yang berlangsung mulai 23 April 2021- 06 Mei 2021 untuk melihat masih adanya pelanggaran dan komitmen perbaikan program televisi.

Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan, dirinya berharap agar program pemantauan program Ramadhan untuk tahun depan dilaksanakan lebih maksimal. Salah satunya dengan menyusun grand design pedoman siaran Ramadhan, sehingga tayangan Ramadhan yang tampil tahun depan semakin sesuai dengan nuansa Ramadan.

“Media kita ini, satu sisi kita apresiasi di sisi lain masih ada yang memprihatinkan di bulan Ramadhan. Maka kita meminta kepada KPI agar juga membuat grand design siaran Ramadhan untuk tahun depan. Sehingga kita tidak melulu bersikap reaktif, namun juga proaktif bagaimana menghadirkan siaran Ramadan yang berkualitas,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam acara tersebut, Jumat (07/05) di Kantor MUI Pusat, Jakarta.

Dikatanya, dengan grand design itu maka bisa tumbuh tayangan televisi yang menghadirkan semangat kemanusiaan, kreatif, dan mengandung pesan-pesan edukatif. Termasuk juga tayangan Ramadhan yang ditampilkan di televisi selanjutnya bisa menjadi kebanggaan bersama.

Dia mengatakan, sebetulnya KPI sudah memiliki pedoman sendiri bernama Indeks Kualitas Program Siaran Televisi. Program sejenis itu, kata dia, bisa disinergikan dengan Insan Pertelevisian dan MUI sehingga Ramadan tahun-tahun selanjutnya semakin berkualitas.

“Maka kita harapkan ada sinergi tas antara KPI, televisi, termasuk MUI sebagai bagian dari lembaga keumatan dan keulamaan yang punya masuliah untuk meningkatkan tanggung jawab bagaimana umat kita cerdasan dalam membaca media,” katanya.

Dia menambahkan, MUI tidak ingin program Pemantauan siaran televisi di bulan Ramadhan hanya menjadi sekadar rutinitas tahunan. Keinginan menghadirkan grand gesign panduan siaran Ramadan itu, ujar dia, adalah wujud tanggung jawab MUI kepada umat.

“Pemantauan ini tidak sekadar rutinitas, tetapi ini merupakan mas’uliyah atau tanggung jawab MUI sebagai pelindung umat, pemimpin umat, dan penguat umat. Kami juga ingin sampaikan bahwa siaran Ramadhan ini menjadi bagian kita bagaimana meningkatkan ikhtiar kita meningkatkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” imbuhnya.

Terdampak Larangan Mudik, Momen Haru Porter Stasiun Saat Terima Kado Lebaran

BANDUNG(Jurnalislam.com)--Di momen lebaran dan liburan panjang seperti saat ini, lazimnya porter barang di stasiun sedang banjir rezeki, upah membantu mengangkat barang bawaan para pemudik.

Namun pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setahun terakhir, membuat kehidupan para porter stasiun begitu memprihatinkan. Terlebih pemberlakuan kebijakan larangan mudik musim lebaran tahun 2021 ini.

Kendati mengenakan seragam resmi, tahukah bahwa ternyata para porter kereta yang kerap kita lihat di sudut-sudut stasiun itu tak memiliki gaji bulanan, lho. Penghasilan mereka sepenuhnya bergantung pada upah dari penumpang yang mengenakan jasa mereka. Tak menentukan tarif, para penumpang biasanya memberikan upah mulai dari Rp 20 ribu.

“Pemasukan satu-satunya dari sini aja, Neng. Kalau stasiunnya tutup ya apa aja dilakuin. Bantu ke sawah, kuli bangunan, kalau ga ada kerjaan sama sekali, pinjam sana-sini. Dapet kerja, baru dibayar,” tutur Ratam, salah seorang Porter di stasiun Bandung.

Adapula E. Zainudin, yang telah mengadu nasib sebagai porter sejak tahun 1982. Kondisinya tak berbeda jauh. Pekerjaan apapun dilakoninya untuk peroleh penghasilan. Namun memang, diakui Zainudin tak banyak. Karena fisik dan ketahanan tubuhnya tak lagi sama seperti waktu muda dulu.

“Kalau ada yang nyuruh minta tolong kerjain apa, dari situ dapat penghasilan. Soalnya mau nyari kerja dimana lagi, semua juga sedang susah karena pandemi,” kisah Pak Zainudin.

Karenanya para pejuang nafkah keluarga ini begitu sumringah saat menerima paket kado lebaran, berupa paket sembako dan pakaian, amanah insan peduli via Sinergi Foundation, persis di hari terakhir mereka bekerja, Rabu (5/5/2021), sebelum larangan mudik diberlakukan mulai Kamis (6/5/2021).

Alhamdulillah Rabu kemarin, Sinergi Foundation menyalurkan 34 paket kado lebaran berupa sembako dan pakian untuk petugas porter di Stasiun KAI Bandung. Sekadar bekal mereka, sebagai pejuang nafkah keluarga, hingga stasiun kembali dibuka.

Pertama Kali, Muslimah Pimpin Organisasi Mahasiswa Yale University

CONNECTICUT(Jurnalislam.com) — Yale University, salah satu yang lembaga pendidikan tinggi tertua di Amerika Serikat, mencatatkan sejarah baru. Kampus tersebut memilih seorang mahasiswi Muslim sebagai presiden badan mahasiswa untuk pertama kalinya.

Mahasiswi itu adalah Bayan Galal yang menurut stasiun berita yang berbasis di Connecticut, mendapatkan 56 persen suara mahasiswa untuk Presiden Dewan Yale University. Suara itu menjadikannya Muslim pertama dalam sejarah 320 tahun kampus tersebut.

“Sebagai seorang wanita Muslim, saya mampu mencapai banyak hal dari hal-hal yang saya dapat lakukan karena orang lain yang telah mendukung saya dan orang-orang seperti saya. Tujuan saya adalah membayar utang itu ke generasi mendatang dengan memberikan dampak untuk badan mahasiswa Yale,” kata Galal kepada WFSB

Galal mengambil jurusan ganda dalam biologi molekuler dan urusan global dengan minor dalam studi kesehatan global. Sebagai bagian dari kampanyenya untuk menjadi posisi tersebut, dia menekankan platform membangun Yale yang lebih sehat.

Sumber: republika.co.id

Sebut Lindungi Warga, Pemerintah Minta Maaf Karena Larang Mudik

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Satgas Covid-19 menegaskan peniadaan mudik menjadi opsi yang diputuskan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus.

Sama halnya dengan momentum liburan sebelumnya, aktivitas mudik juga dinilai berpotensi menimbulkan adanya mobilitas manusia yang sangat berisiko menjadi pemicu terjadinya penularan. Oleh sebab itu, Doni meminta kepada masyarakat untuk memahami dan bersabar atas keputusan politik yang diambil Pemerintah demi melindungi segenap masyarakat di Tanah Air.

“Jadi mohon maaf yang punya niat mudik tidak bisa terlaksana pada tahun ini. Mohon bersabar, karena ini keputusan politik negara dan ini juga tidak mudah. Tetapi ini berdasarkan data yang dikumpulkan setahun terakhir dan kita mengacu kepada bagaimana upaya bangsa kita melindungi masyarakatnya,” kata Doni dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/5/2021).

Adapun keputusan pemerintah tersebut adalah sebagaimana yang menjadi arahan Presiden Joko Widodo, bahwa keselamatan masyarakat menjadi hukum yang tertinggi. “Solus Populi Suprema Lex, Keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi,” jelas Doni.

Kemudian, Doni juga menyampaikan apa yang telah diputuskan pemerintah terkait peniadaan mudik juga merupakan cerminan dan implementasi dari apa yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang 1945, bahwa negara wajib untuk memberikan perlindungan kepada warga negara. “Negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,” kata Doni.

Sumber: sindonews.com

MUI Serukan Bayar Zakat ke Lembaga Resmi

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga resmi sehingga ketika proses distribusi ke mustahik (penerima) dapat dipertanggungjawabkan.

“MUI mengimbau agar dalam pembagian zakat, infak, sedekah dilakukan dengan menyalurkannya melalui lembaga yang resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat lainnya,” bunyi tausiyah MUI Nomor: Kep-880/DP-MUI/V/2021 yang terbit pada Kamis (6/5).

Tausiyah MUI dalam menyambut Idul Fitri 1442 Hijriah itu ditandatangani Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar dan Sekretaris Amirsyah Tambunan.

MUI menyatakan apabila penyaluran zakat lewat lembaga resmi maka dana yang terhimpun dalam jumlah besar dapat dialokasikan secara proporsional. Selain itu, penyalurannya bisa tersampaikan secara tepat sasaran.

Namun apabila tidak memungkinkan melalui lembaga resmi, masyarakat bisa menyalurkannya secara langsung ke mustahik asal dengan catatan lewat perencanaan yang matang.

“Dengan perencanaan yang baik dan benar, dikoordinasikan dengan aparat keamanan terkait, supaya tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan,” tulis MUI.

Jelang Idul Fitri, MUI juga menyerukan agar masyarakat berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena pada Ramadhan, nilai kebaikan dari setiap aktivitas yang bernilai ibadah menjadi lebih tinggi dari bulan-bulan lain.

Bahkan, amal kebaikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.”Setelah menjalani serangkaian ibadah selama bulan Ramadhan dapat lebih meningkatkan kepatuhannya terhadap ajaran Islam dan kepeduliannya terhadap sesama, terutama kepada kaum dhuafa, fakir-miskin, dan anak yatim-piatu terdampak Covid-19, dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat harta, infaq, sedekah dan wakaf,” bunyi tausiyah itu.

Dalam Tausiyah itu juga MUI meminta masyarakat tak melakukan mudik lebaran demi memutus rantai penularan Covid-19. MUI tak ingin kasus meledaknya angka penularan dan kematian di India terjadi di Indonesia.

“Tidak melakukan kegiatan mudik lebaran demi menjaga keselamatan jiwa diri sendiri, keluarga dan warga sekeliling,” kata dia.

Pun demikian dengan masyarakat yang akan melaksanakan ibadah Idul Fitri di zona hijau dan kuning agar tetap mematuhi protokol kesehatan seperti pembatasan kapasitas ruangan, memakai masker, rutin mencuci tangan, hingga tidak berkerumun.

MUI juga mendorong pemerintah mengambil langkah tegas dalam setiap upaya menekan angka penularan Covid-19. “Mengimbau kepada Pemerintah agar tidak ragu mengambil langkah tegas dan bijaksana untuk melindungi keselamatan seluruh warga melalui pembatasan mobilitas warga masyarakat,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

Satgas Ingatkan Agar Indonesia Jangan Seperti India

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Satgas Covid-19 mengingatkan semua pihak untuk belajar fenomena lonjakan kasus Covid-19 dari India.

Menurut data dan informasi terkini bahwa India tengah mengalami ledakan kasus Covid-19 yang dipicu dari adanya upacara keagamaan dan festival masyarakat yang dilakukan tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

 

Akibatnya, kasus Covid-19 di India saat ini telah mencapai 3.493.655 dan Indonesia berada sangat jauh di bawahnya yakni 98.217.

 

Padahal pada awal 2021, kasus di India telah melandai bahkan berada di bawah Indonesia.

Menurut Doni, angka kasus di Indonesia tersebut merupakan yang terendah sejak menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan, kasus aktif terus turun dalam beberapa hari terakhir.

 

“Kita lihat kasus India, per hari ini kasus aktif di India mencapai 3.493.665 dan Indonesia 98.217. Ini adalah kasus terendah kita, sejak kita menghadapi pandemi COVID-19. Dalam beberapa hari terakhir kasus aktif kita turun terus,” jelas Doni dalam keterangan yang diterima, Jumat (7/5/2021).

 

Atas prestasi tersebut, Doni mengatakan Presiden telah memberi arahan bahwa segala upaya yang telah dilakukan dalam rangka penanganan dan pengendalian Covid-19 di Tanah Air agar tidak diubah dan ditingkatkan performanya.

 

Oleh sebab itu, dalam rangka mengantisipasi lonjakan kasus dengan membuat aturan peniadaan mudik menjadi langkah yang tepat.

 

Sekali lagi bahwa hal itu semata-mata untuk melindungi segenap warga negara. “Ini sudah sangat baik dan Presiden mengatakan setelannya jangan diubah. Oleh karenanya kebijakan larangan mudik ini semata-mata untuk melindungi warga negara kita,” tandasnya.

Sumber: sindonews.com

Survei Kemenag: Mayoritas Ibadah Seusai Surat Edaran Taat Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag menggelar survei tentang “Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan 1442 H/2021 M”. Penelitian diselenggarakan secara online dengan penyebaran angket pada periode 26-30 April 2021.

Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan M. Adlin Sila mengatakan, survei bertujuan memberikan gambaran mengenai kepatuhan masyarakat terhadap Surat Edaran Menag RI No SE 04 Tahun 2021 tentang panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M. Kepatuhan ini terutama dalam melaksanakan ibadah dengan penerapan disiplin prokes.

“Survei ini pun diharapkan dapat mengevaluasi kebijakan yang menjadi panduan umat Islam dalam ibadah Ramadan dan Idulfitri tahun 2021. Apakah regulasi berdampak positif atau negatif terhadap penanggulangan penyebaran covid-19. Tentu saja harapannya masyarakat dapat tetap beribadah dengan disiplin menerapkan prokes sebagai upata mengurangi penularan dan penyebaran penyakit,” ujar Adlin Sila saat membuka Majelis Reboan secara daring dengan tema Diskusi Kebijakan Ber-Ramadan di Masa Pandemi, Rabu (5/5/2021).

Acara ini sekaligus mendiskusikan hasil survei Puslitbang BImas Agama dan Layanan Keagamaan. Hadir sebagai pembahas, Sekretaris Ditjen Bimas Islam M. Fuad Nasar dan Juru Bicara Vaksinasi Satgas Penanganan Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Hasil survei dipaparkan oleh Peneliti Madya pada Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Akmal Salim. Menurutnya, hasil survei menggambarkan bahwa secara umum responden berupaya mematuhi prokes dan ketentuan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE.04/2021. Pandemi tidak menghalangi mayoritas responden (97,09%) untuk berpuasa. Sementara itu, 62,59% responden memilih tarawih di rumah.

“Saat ke masjid, umumnya (88,6%) mengaku taati prokes. Khusus responden laki-laki, 93,93%-nya melaksanakan Jumatan di masjid dengan prokes. Ada 4,02% responden yang mengaku mengganti Salat Jumatnya dengan shalat Dzuhur, dan hanya 0,08% yang ikut Jumatan Online,” papar Akmal Salim.

Hasil survei juga menggambarkan bahwa mayoritas responden (92,64%) berzakat dengan menitipkan pada BAZNAS/LAZ, dan 91,28% setuju jika ZIS didayagunakan untuk masyarakat terdampak pandemi. Terkait Idulfitri, lanjut Akmal, 94,18% responden mengaku akan ikut shalat Ied di masjid atau lapangan, dan hanya 18,63% yang berencana akan mudik. “Sementara itu, silaturahmi via VideoCall jadi pilihan 85,54% responden,” ujar Akmal.

Jika dibandingkan dengan temuan tiga (3) survei sebelumnya, ada tren responden (umat) semakin saat ini lebih sering ibadat dan beracara-bersama di rumah ibadat, sementara acara daring menurun intensitasnya. Secara umum, responden mematuhi 5M, hanya saja agak kurang dalam “(M)enjauhi kerumunan” dan “(M)embatasi mobilitas.” “Ada tren mereka semakin sering keluar dari rumah dan kurang menjaga jarak,” lanjut Akmal.

Menurut Akmal, teknik pengambilan sampel dalam survei ini menggunakan accidental sampling (non-inferensial). Survei berhasil menjaring 2.012 responden yang tersebar di 34 provinsi. Kondisi ini sebangun dengan komposisi muslim Indonesia. Sebanyak 48% responden berusia 26-55 tahun dan 34% usia 40-55 tahun, umumnya pengguna medsos.

“Responden yang 56%-nya laki-laki, umumnya berpendidikan baik dan telah bekerja. Sebanyak 50,65% mengaku bagian atau dekat dengan ormas NU, 18,64% Muhammadiyah, 5,37% ormas lainnya, dan 25,35% mengaku tak berormas. Sebanyak 23,76% responden adalah pengurus masjid, dan lainnya umat biasa,” ungkapnya.

Dari hasil analisis-silang, diketahui semakin muda usia responden, semakin abai prokes 5M. Selain itu, penerapan prokes semakin longgar pada responden di zona hijau.

Berdasarkan temuan-temuan di atas, lanjut Akmal, Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan merekomendasikan beberapa hal. Pertama, Surat Edaran 04/2021 perlu lebih masif disosialisasikan. “Penyuluh agama Islam dapat dioptimalkan menyosialisasikannya dan mengawal pelaksanaannya,” kata peneliti madya Akmal.

Kedua, masjid-masjid perlu difasilitasi perangkat prokesnya, seperti: thermogun dan disinfektasi, terutama masjid di ruang publik atau masjid transit. Ketiga, pengurus masjid agar mengangkat petugas khusus untuk mengawal penerapan prokes di masjid.

Keempat, ormas Islam agar secara sinergis membantu sosialisasi dan pelaksanaan kebijakan penanganan Covid-19. Terakhir, umat perlu terus diingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan di manapun, dalam konteks ini, saat ibadat-bersama di masjid.

“Singkat kata, kalau tidak bisa taati prokes, ibadat di rumah saja! Itu aman bagi Anda dan orang di lain di masa pandemi Covid-19 ini,” tandasnya.

Untuk melihat paparan hasil survei, sila klik Dinamika Umat Islam Menjalani Ramadan 1442 H/2021 M

Menag: Silaturahim Idul Fitri Sunnah, Menjaga Kesehatan Wajib

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat mendahulukan yang wajib sebelum menjalankan sunah. Silahturahmi, Salat Idul Fitri adalah sunah dan menjaga kesehatan adalah wajib.

Hal itu dikatakan Gus Yaqut panggilan Yaqut Cholil Qoumas melalui cuitannya di media sosial twitter @YaqutCQoumas, Rabu (5/5/2021). Menurutnya, Salat Idul Fitri secara hukum adalah sunah. Sementara menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan adalah wajib.

 

Dengan demikian, masyarakat hendaknya mendahulukan yang wajib ketimbang sunah. “Dahulukan yang utama demi kesehatan kita, demi keluarga tercinta, demi masyarakat sekitar kita, demi Indonesia,” seperti dikutip Rabu (5/5/2021).

Selain itu, kata Gus Yaqut, hukum mudik juga sunah. Sementara kesehatan adalah wajib. Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak mudik dan patuhi kritik 5 M. Di antaranya Mencuci Tangan; Memakai Masker; Menjaga Jarak; Menghindari Kerumunan; Mengurangi Mobilitas.

Kemudian, lanjut Yaqut, halal bihalal atau silahturahmi Lebaran saat pandemi bisa dilakukan secara virtual tanpa mengurangi makna. Dia meminta masyarakat jangan pernah lelah saling mengingatkan agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

 

“Negara tetangga mengalami kenaikan angka yang terpapar Covid-19, meningkatnya jumlah korban meninggal dunia, dan juga merebaknya cluster penular besar atau super spreader. Adalah alarm bagi kita semua untuk tingkatkan disiplin diri. Jangan lengah!,” pungkasnya.

Sumber: sindonews.com

Sukses Dunia Akhirat Dengan Al-Quran Lahirkan Generasi Muda Berakhlak Mulia

BOGOR(Jurnalislam.com) – Insan Cendekia Boarding School merupakan sekolah berbasis asrama dan merupakan tempat yang sangat menantang dalam menempa diri menjadi sosok yang cerdas dan mandiri, di bawah bimbingan pendidik yang professional.

SMP dan SMA Insan Cendekia Boarding School menekankan pada sinergi keunggulan dibidang IMTAQ (Iman dan Taqwa) dengan IPTEK (Imu Pengetahuan dan Teknologi) yang diharapkan menjadi Energi Luar Biasa bagi perkembangan siswanya saat ini maupun di masa yang akan datang.

Sistem pendidikan di Insan Cendekia, tidak hanya menekankan pada aspek prestasi akademik semata, akan tetapi juga mendidik generasi muda untuk berakhlak mulia, saling menghargai dan saling berbagi terhadap sesama yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini Sekolah Islam Cedekia Boarding School berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa dalam penyaluran Zakat, Infak, Sedekah & Wakaf selama bulan Ramadhan dan Insyaallah akan berkelanjutan, sehingga diharapkan nilai donasi yang berhasil terhimpun secara keseluruhan dapat menjadi pengurang beban bagi para mustahik yang membutuhkan.

Kolaborasi pertama yaitu  dengan dilaksanakannya acara Parenting dan Motivation yang telah terlaksana di hari Jumat, 23 April 2021 dengan Tema ” Sukses Dunia Akhirat dengan Al-Quran” oleh Ust. Ahmad Pranggono ( Da’i Ambassador Dompet Dhuafa), dilakukan Via Zoom, YT Channel nya Insan Cendikia Boarding School Sentul. dan juga dengan dihadiri santri dan wali santri yang mana pada hari tersebut di pulangkannya santri yang bermukim  (libur Ramadan).

Ust. Sundito selaku Kepala Kampus Insan Cendikia Boarding School Sentul mengatakan, “Harapan dari kolaborasi dengan Dompet Dhuafa ini adalah semoga dapat bersinergi dengan baik karena potensi dari penghimpunan ZIS ini insyaAllah bisa membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, dan tentunya harapannya juga dengan Dompet Dhuafa dapat tepat sasaran”.

“Semoga kolaborasi yang dijalin oleh Insan Cendikia Boarding School dan Dompet Dhuafa dapat berjalan dengan lancar dan menginspirasi bagi sekolah-sekolah dan masyarakat yang lain untuk saling berbagi, saling bersinergi dalam menebar kebaikan,” tambah Ust. Sundito.

Di sisi lain Yudha Andilla selaku Manager Retail Dompet Dhuafa juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan tentunya ungkapan rasa terima kasih kepada Ust Sundito dan manajemen yayasan Insan Cendikia, “insyaAllah sinergi kebaikan ini bisa menjadi wasilah kebaikan dan keberkahan bagi kita semua khususnya manajemen Insan Cendikia Boarding School Sentul, orang tua, para guru dan tentunya bagi para siswa. Tentunya saya berharap sinergi kebaikan ini bisa terus berjalan bersama pada masa-masa yang akan datang.”

Baitul Maal Salimah dan Relawan Sukoharjo Bantu Anak Yatim

SUKOHARJO-(jurnalislam.com)- Baitul maal Salimah bersama Relawan Rosok Barokah dan Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Ansharu Syariah Sukoharjo mengadakan kegiatan sosial dengan memberikan santunan kepada 50 anak yatim di Gedung Dakwah Salimah pada Ahad, (25/4/2021).

Pembina Yayasan Dakwah Salimah Lentera Umat (YDSLU) yang merupakan yayasan yang menaungi Baitul Maal Salimah Ustadz Surawijaya menyebut bahwa kegiatan tersebut dalam rangka mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah yang memerintahkan untuk memuliakan anak yatim.

“Mari luruskan niat bahwa kegiatan ini hanya untuk mencari ridho Allah semata bukan karena yang lain, dengan menyayangi anak yatim, sebagai bukti keimanan kita kepada Allah,” katanya saat memberikan sambutan.

Sementara itu, ketua Baitul maal Salimah Ustadz Marsono berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu harta, tenaga dan pikiran, untuk terlaksanaya kegiatan tersebut.

“kami selaku penggurus Baitul Maal Salimah mengucapkan jazakallahu khairan kepada seluruh donatur dan semua pihak yang membantu terlaksananya program santunan ini, semoga Allah memberi pahala yang berlipat, apalagi ini bulan Ramadhan,” jelasnya

Selain program santunan anak yatim, Baiitul Maal Salimah juga mempunyai program rutin tiap bulan yakni membagikan puluhan paket sembako kepada warga yang membutuhkan.

Reporter: Ridho.A