Cegah Pengungsi Masuk AS, Trump Tuntut Negara-negara Teluk Bangun Zona Aman di Suriah

thumbs_b_c_2f8a759fe90df03211dc948b9fbc0098WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Calon presiden Republik Donald Trump pada Rabu menuntut bahwa pembangunan zona aman di Suriah harus ditanggung oleh negara-negara Teluk, Anadolu Agency melaporkan, Kamis (16/06/2016).

“Anda melihat migrasi besar ini, yang merupakan hal yang mengerikan untuk ditonton – dan omong-omong, saya memiliki hati sebesar orang lain. Kita harus membangun zona aman di sana. Dan kita harus mengurus orang-orang,” kata Trump selama kampanye di Atlanta.

“Di sinilah pembuatan kesepakatan atau apa pun Anda ingin menyebutnya timbul. Kita harus mengupayakan negara-negara Teluk menanggung hal itu,” katanya. Pernyataannya sama dengan yang ia serukan untuk membangun tembok sepanjang perbatasan AS selatan yang ia katakan akan mengupayakan agar Mexico yang menanggung biayanya.

“Mereka memiliki uang dalam jumlah besar. Mereka tidak banyak berbuat. Dan itu adalah wilayah mereka. Dan kita harus mengupayakan mereka untuk membayar, “katanya tentang rencana zona aman-nya.

Dia mengambil ucapan calon presiden Demokrat Hillary Clinton yang mengatakan bahwa ia, seperti Presiden Barack Obama, ingin membawa pengungsi ke AS dan menghabiskan miliaran dolar untuk mereka.

“Muslim percaya bahwa eksekusi untuk hal-hal yang akan Anda katakan adalah – seperti standar hidup,” katanya. “Itulah yang mereka lakukan. Dan kita akan membawa masuk orang-orang ini.”

Setelah serangan teror mematikan di San Bernardino, California Desember lalu, Trump menyerukan larangan pada semua umat Islam memasuki AS sampai pemerintah dapat mengetahui “apa yang sedang terjadi.”

Dia juga mengatakan akan mendeportasi semua migran tidak berdokumen.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Operasi Omari: Belasan Pasukan ANA Tewas, 5 Kendaraan Militer Hancur dan 4 Pos Dikuasai

taaz1-umari-i-620x330HELMAND (Jurnalislam.com) – Di tengah Operasi Omari yang sedang berlangsung, Para pejabat mengatakan pada hari Rabu (15/06/2016) sekitar pukul 18:00 waktu setempat, Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (Taliban) menyerang konvoi pasukan gabungan ANA (Afghanistan National Army) dan pasukan komando di jalan Lashkar Gah antara daerah Loye Charrahi dan Darab Charrahi kabupaten Marjah, lansir Al Emarah News, Kamis (16/06/2016).

Serangan senjata berat dan ringan berlangsung sampai jam malam, mengakibatkan 3 APC, 1 truk tanki bahan bakar dan kendaraan penguat dihancurkan oleh tembakan RPG dan DShK, mengakibatkan semua orang bersenjata di dalam kendaraan tewas atau terluka.

Sedikitnya 9 pasukan boneka tewas dan terluka akibat 2 ledakan bom pinggir jalan selama operasi.

Mujahidin juga berhasil menguasai beberapa amunisi dan peralatan perang lainnya.

Mujahidin juga memulai serangan terkoordinasi pada basis musuh kunci dan pos pemeriksa di sekitar kabupaten Shinkot semalam, kata sebuah laporan baru-baru ini.

Serangan senjata berat dan ringan masih berlangsung, sejauh ini 4 pos pemeriksaan telah dikuasai, membunuh dan melukai 19 pasukan boneka di dalamnya.

 

 

Deddy | Almarah | Jurnalislam

Denmark Larang Siswanya Sholat di Sekolah

namazDENMARK (Jurnalislam.com) – Mahasiswa muslim yang belajar di sekolah Denmark dilarang sholat selama jam sekolah oleh pejabat, World Bulletin melaporkan, Kamis (16/06/2016).

Mia Victoria Lunderød Hansen, seorang mahasiswa dari SOPU Hillerrød, berbagi gambar di Facebook milik teman sekolahnya sedang memegang papan yang berbunyi: “Baru dari Direktur. Bolehkah seseorang sholat di SOPU Hillerrød? Jawabannya adalah TIDAK!”

Inger Margrethe Jensen, direktur sekolah, menegaskan keputusannya, mengatakan: “Kami telah mengingatkan siswa kami tentang hal itu dan mencetak ulang kode etik kami karena telah terjadi beberapa insiden sehingga kita perlu bahwa memoles beberapa hal,” isi berita surat kabar Denmark BT.

“Beberapa [siswa] ingin membangun ruang sholat dengan properti sekolah dan sholat umat Islam menjadi jauh lebih terlihat dalam beberapa kasus dan mereka telah menggunakan lorong sekolah untuk sholat. dan pendidikan tidak saling memiliki – agama itu milik kehidupan pribadi.

“Kami sudah bertanya mengapa mereka tidak berdoa pada waktu tertentu karena ada beberapa arahan dalam Islam yang mengharuskan seseorang berdoa pada waktu tertentu dan sangat disayangkan karena itu hanya menambah lebih banyak bahan bakar untuk membakar Islamisme.”

Jensen melarang sholat bagi umat Islam dan juga mengatakan bahwa mereka melarang siswa sholat saat istirahat. Dengan banyak siswa termasuk siswa Kristen menentang larangan tersebut, para siswa telah mulai mengumpulkan tanda tangan untuk dibawa ke hadapan dewan.

Dengan populasi 5,6 juta di Denmark, ada lebih dari 200.000 Muslim yang tinggal di negara ini.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

FPI beserta Kiayi Serang Sambangi Walikota dan DPRD yang Tertekan

FPI Serang Sambangi WalikotaSERANG (Jurnalislam.com) – Siang ini, DPW FPI Kota Serang bersama para kesepuhan kota Serang mendatangi pemkot Serang pada Kamis, (16/06/2016).

Kedatangan ia ke Walikota dan DPRD Serang bertujuan silatutahmi dan mendukung pemkot dalam penegakan Perda no.2 tahun 2010.

“Alhamdulillah, kita sudah selesai bersilaturahmi di pemkot serang,ketemu langsung sama walikota dan ketua DPRD kota Serang,” kata Muhammad Nasehuddin usai acara kepada jurnalislam.

Ketua DPW FPI kota Serang itu mengatakan, Walikota Serang, Tb. Haerul Jaman harus tegas jangan sampai Perda penyakit masyarakat (pekat) yang sesuai dengan kearifan lokal itu dicabut.

“Mensuport Walikota untuk terus tegakan perda no.2 thn.2010 serta menyerukan kepada ketua DPRD kota Serang untuk mempertahankan perda,” ujarnya.

“Siapapun yang tidak mau di atur perda silahkan keluar dari kota Serang,” sambung Nasehuddin.

Dan kami FPI lanjut dia, menegaskan bahwa jika sampai pemkot tidak mau menjalankan perda, maka dia berjanji akan menggantikan tugas dan kinerja pemkot.

“FPI berdoa pemerintah bekerja, jangan sampai dibalik kalau tidak mau panik,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Jihad itu.

Oleh sebab itu, FPI akan menantang siapapun yg mencoba mengganggu kearifan lokal kota Serang yang telah terwujub berupa perda ini.

“Mau Presiden Mentri Agama ataupun Mentri dalam Negeri kita siap melawan mereka semua sampai tetes darah penghabisan!,” Pungkasnya.

Reporter : Muhammad Fajar | Jurnalislam

Mui Kota Bima: Tolak Pencabutan Perda

okBIMA (Jurnalislam.com) – Menanggapi dicabutnya beberapa peraturan daerah di Bima dan Dompu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima Drs. H. Saleh Ismail menyatakan bahwa seharusnya peraturan daerah (perda) itu tidak boleh dicabut.

“Saya menolak dicabutnya peraturan daerah itu, dan kalaupun dicabut maka harus ada peraturan pengganti yang mengikat dan yang lebih besar lagi, bukan hanya di Bima dan Dompu saja, tetapi di seluruh Indonesia,” kata H. Saleh Ismail, kepada tim liputan Jurnalislam.com, Rabu (15/6/2016).

Ketika aturan untuk membaca dan membumikan Al-Quran saja dicabut, maka tidak menutup kemungkinan nantinya Al-Quran juga akan ditinggalkan, padahal isi dari pada Al-Quran itu sebagian besarnya mencakup kepentingan Negara.

“Busana muslim untuk muslimah itu sangat perlu sekali, kemudian membaca dan memahami Al-Quran itu juga sangat penting, maka dengan adanya pencabutan peraturan daerah ini maka sangat merugikan umat Islam yang ada di Bima dan Dompu”, tegasnya.

Selanjutnya beliau mengatakan, “Kalau peraturan itu dicabut, harus ada peraturan baru untuk menggantikannya, dimana aturan itu sifatnya harus lebih mengikat lagi diatas aturan yang telah dicabut. Tetapi kalau peraturan penggantinya tidak dikeluarkan maka bisa jadi daerah-daerah nanti akan menjadi sekuler. Apalagi sekarang ini sedang marak munculnya paham-paham baru, sekularisme, liberalisme, bahkan yang muncul sekarang ini adalah komunisme.”

Drs. H. Saleh Ismail juga menghimbau agar Ormas-ormas Islam tidak tinggal diam.

“Karena dengan adanya peraturan daerah itulah ruh dari Islam tetap ada dan terlihat. Tetapi kalau perda itu dicabut maka Islam akan mudah di rong-rong oleh orang-orang dari luar”, punkasnya.

 

Reporter: Sirath | Editor: Deddy

 

Tokoh dan Ulama Kota Serang: Perda Pekat adalah Harga Mati!

IMG_20160615_170327SERANG (Jurnalislam.com) – Ulama dan tokoh Islam Kota Serang pada hari Rabu (15/06/2016) berkumpul dan berdiskusi membahas Perda Penyakit Masyarakat (Pekat) No 2 tahun 2010, sebagai respon para ulama dan sesepuh Kota Serang terkait pembatalan Perda pasca mencuatnya donasi untuk ibu Saeni.

Dalam diskusi tersebut, hadir tim investigasi dari MUI Kota Serang yang bekerjasama dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) memaparkan hasil temuan di lapangan terkait sosok Saeni, penjual warung makan yang dirazia Satpol PP.

“Kami telah menemukan fakta di lapangan, Ibu Saeni ternyata mempunyai 4 warung serupa dan jam 10:48 salah satu dari warteg itu buka,” kata Ahmad Yani di rumah makan Marga Wiwitan, Cipocok, Serang pada Rabu, (15/6).

Warung makanan (warteg) pertama yang dimiliki keluarga Saeni terletak di Jl. Semaun Bahri lingkungan Kaliwadas, RW 06, Kelurahan Lopang. Warung kedua terletak di Jl. Semaun Bahri lingkungan Tanggul, RT04 RW 12, Kelurahan Cimuncang. Warung yang kedua ini dikelola oleh Udin, anak Saenih.

JITU bersama aparat RW 12 Cimuncang dan MUI Kota Serang berhasil mendapati warung kedua milik Saeni ini tetap berjualan di siang hari. Bahkan, anggota JITU berhasil membeli sebungkus nasi rames di warung tersebut pada pukul 10.48 pada Rabu siang tadi. “Kami sempat membelinya dan memfotonya,” tambah Yani.

Warung Saeni yang ketiga adalah warung yang dirazia Satpol PP pada Rabu (08/06) lalu. Warung tersebut berada di Jl. Cikepuh lingkungan Tanggul, RT 04 RW 12, Kelurahan Cimuncang.

Terakhir, warung yang dimiliki keluarga Saeni disebut-sebut oleh warga setempat berada di area Terminal Pakupatan. Namun, saat ditelusuri di lokasi, JITU dan tim investigasi MUI Kota Serang belum berhasil mendapati lokasi warteg yang dimaksud.

IMG_20160615_172315

Mendapat hasil pemaparan investigasi tersebut, sejumlah tokoh Islam terlihat geram dan memberikan komentar. Ketua harian MUI Kota Serang Hafadzah misalnya, dengan tegas ia mengatakan kami akan melawan jika sampai Perda Pekat No2 Tahun 2010 itu dicabut.

“Kalau mau dibilang toleran, umat Islam Serang sangat toleran, yang bilang intoleran itu tidak pernah mengkaji budaya muslim Serang,” ujarnya.

Di akhir acara, para ulama menyampaikan pers rilis kepada wartawan.

Pertama, alim-ulama dan tokoh Islam Kota Serang memberikan dukungan penuh kepada Satpol PP yang telah melakukan tugasnya secara tegas dan lugas di Kota Serang.

Kedua, ulama dan umat Islam menolak pencabutan Perda Penyakit Masyarakat (Pekat) No.2 Tahun 2010. “Perda pekat no 2 tahun 2010 adalah harga mati dan tidak boleh dicabut, siapapun itu baik dari daerah hingga pucuk tertinggi akan kami lawan,” tegas mereka.

Ketiga, ulama dan umat Islam meminta agar Walikota Serang tidak gentar untuk mempertahankan Perda Pekat. Terakhir, Perda Pekat dibuat dengan suara rakyat, melalui persetujuan rakyat pula. “Maka, tidak mungkin ini merugikan rakyat.”

 

Reporter: Kemal & Fajar Aditya | Editor: Deddy

 

Safari Ramadhan Syeikh Palestina ke Tasikmalaya

20160615_195716TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Untuk kedua kalinya Masjid Al-Amin dikunjungi Syaikh Palestina bersama Syam Organizer dalam Safari Ramadhan Bermakna bersama Imam-imam Palestina di Saguling Panjang Kawalu.

Seteleh selesai shalat sunnah terawih, Syeikh Husam Taher langsung disambut hangat oleh pihak DKM Masjid Al-Amin “Kami warga saguling sangat menyambut kedatangan saudara kita Syaikh Husam Taher, dimana pada moment bulan yang sama, pada Ramadhan tahun sebelumnya kita bertemu dengan saudara kita Syaikh dari palestina” Ujar Ustadz. Ade Ridwan dalam sambutannya.

Dalam agenda safari ini, ketua Syam Organizer Tasikmalaya menuturkan, “Acara safari imam Palestina selama bulan Ramadhan tahun ini roadshow di 160 kota dengan mendatangkan 4 syeikh dari Palestina” tutur pria yang disapa Pak Eri kepada tim liputan Jurnalislam.com, Rabu (15/06/2016).

Pak Eri menjelaskan “Ini menjadikan hal yang berbeda terutama di bulan Ramadhan, dengan hadirnya beliau dan menjelaskan keadaan sesungguhnya seperti apa keberadaan saudara kita di sana, beliau juga menyampaikan rasa terimakasih kaum muslim Palestina kepada muslim Indonesia atas bantuan yang selama ini diberikan kepada kaum muslim Palestina,”jelasnya.

20160615_195434

Syaikh Husam Taher menyampaikan risalah kepada jama’ah yang hadir bahwa “Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tanpa membedakan warna kulit putih ataupun yang berkulit hitam, dan sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah Swt adalah orang yang bertaqwa” ucap Ustadz Furqan Abdillah sebagai mutarjim Syaikh Husam Taher

Beliau menjelaskan kondisi Palestina saat ini yang tiada henti terus digempur oleh kaum Yahudi,

“Kondisi masjid Al-Aqsha terus digempur oleh serangan-serangan Yahudi laknatullah, untuk merobohkan dan meruntuhkan sehingga tiang-tiang Masjid Al-Aqsha menjadi rapuh” ujar Syeikh.

Selanjutnya beliau mengatakan, “kaum Yahudi laknatullah melarang pemuda-pemuda Palestina yang berumur dibawah 40 tahun, untuk sholat memasuki di Masjid Al-Aqsha”.

“Kenapa mereka melarang para pemuda memasuki Masjid Al-Aqsha? karena mereka tahu bahwa pemuda sebagai penerus umat yang memiliki kesepakatan untuk memperjuangkan Islam adalah mereka mereka yang berada di bawah usia 40 tahun” terangnya

Syaikh Husam Taher mengingatkan jamaah diakhir tausiyah, “Sungguh tidak ada kata uzur dan alasan bagi kita dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala ketika kita membiarkan mereka, ketika kita tidak memberikan bantuan untuk mereka terhadap kondisi saudara kita di Palestina,” tegasnya.

Acara ditutup dengan penyerahan cendramata slayer Palestine dari Syaikh Husam Taher kepada seluruh elemen DKM Masjid Al-Amin, pemuda dan Remaja Al-Amin sebagai bentuk dukungan dan kepeduliaan ummat muslim Indonesia terhadap muslim Palestina.

20160615_204257

Reporter: Lutfi | Editor: Deddy

Inilah Alasan Arrahmah.com Berikan Somasi pada Kompas

kompas-2JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai media nasional yang sudah tua, Kompas ternyata tidak lagi peduli dengan etika jurnalistik dan profesionalisme, terutama ketika memberitakan media Islam. Kompas.com tanggal 15 Juni 2016 menulis dengan judul provokatif dan tendensius, “Situs Radikal Raup Rp 6 Juta Per Hari dari Google Adsense”. Isinya memfitnah Arrahmah.com dan memprovokasi pihak lain atas dasar kebencian, intoleran dan diskriminatif.

Sejumlah fitnah yang dituduhkan Kompas -yang di kalangan gerakan Islam dikenal sebagai media Komando Pastur- pada Arrahmah.com, antara lain:

Pertama, menuduh pemilik Arrahmah.com sebagai “tersangka” bom Marriot. Tuduhan ini bohong dan fitnah keji. Dalam persidangan yang dilakukan atas kasus ini tuduhan tersebut tidak terbukti. Tuduhannya hanya sebatas dokumen palsu dan menyembunyikan informasi mengenai terorisme. Mengapa Kompas dengan sengaja mendistorsi fakta kasus yang sebenarnya dengan cara menyudutkan Muhammad Jibriel Abdul Rahman?

Kedua, menyebut situs Arrahmah sebagai penyebar paham radikalisme, yang mendapatkan pemasukan dengan menjual iklan dengan platform yang disediakan oleh raksasa teknologi AS, Google AdSense. Situs Arrahmah legal dan formal sebagaimana situs media lainya, dan pemerintah telah mengaku bersalah karena serampangan melabeli media Islam dengan stigma radikal. Mengapa Kompas dengan sengaja ingin melestarikan stigma buruk, tanpa menyadari sudah berulangkali Kompas memfitnah Islam dan menyakiti umat Islam, lalu dianggap selesai dengan hanya meminta maaf?

Ketiga, menurut situs statistik Six Stat, pendapatan Arrahmah.com dari AdSense per harinya bisa mencapai 499 dollar AS (sekitar Rp 6,6 juta). Apa yang salah jika Arrahmah.com mendapat keuntungan dari kerjasama dari pihak manapun? Bukahkah pihak Kompas juga meraup keuntungan besar dari bisnis media, dan untuk membiayai misi Kristenisasi dan segala hal yang memfitnah Islam? Untuk maksud apa Kompas memprovokasi Google dengan mengatakan menurut Financial Times dapat dikategorikan sebagai tindakan dukungan terhadap terorisme, dan menurut hukum di AS, perusahaan-perusahaan teknologi itu bisa dipidana 20 tahun penjara atau denda mencapai 1 juta dollar AS.

Keempat, Kompas lebih mendahulukan opini media massa dan mengabaikan fakta pengadilan dan hukum untuk merusak citra Arrahmah. Benarlah kesan yang selama ini beredar, bahwa Kompas mengemban misi radikalisme Kristen, dengan bersikap intoleran dan diskriminatif terhadap media Islam.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Arrahmah.com menuntut Kompas.com untuk meminta maaf. Apabila tuntutan ini tidak diindahkan, maka kami akan menempuh jalur hukum atas fitnah yang ditimpakan Kompas.

Demikian somasi ini kami sampaikan agar menjadi perhatian yang serius.‎

 

Arrahmah | Deddy

 

Ramadhan Tov: Ajak Umat Islam Boikot Produk Israel

d9e701cf391e44a4a8d81df18e4ba27c_18PALESTINA (Jurnalislam.com) – “Jangan biarkan pendudukan menyiapkan buka puasa Anda”, isi poster dari kampanye boikot terbaru yang diluncurkan di Tepi Barat yang diduduki, lansir World Bulletin, Rabu (15/06/2016).

Berjudul “Ramadhan Tov” – yang berarti “Selamat Ramadhan” dalam bahasa Ibrani – kampanye telah menyatukan mayoritas gerakan boikot Palestina lokal untuk pertama kalinya di bawah payung kelompok Boikot, Divestasi dan Sanksi internasional (Boycott, Divestment and Sanctions-BDS).

Kampanye ini bertujuan untuk mendorong warga Palestina untuk memboikot produk-produk Israel, makanan khususnya, selama dan setelah bulan Ramadhan. Sasaran mereka adalah perusahaan makanan terbesar Israel termasuk Jafora, Tnuva, Strauss dan Osem. Wajah dari kampanye ini adalah seorang tentara Israel berseragam hijau yang berbeda sedang menyajikan nampan berisi produk makanan populer Israel yang rutin dikonsumsi oleh warga Palestina selama bulan suci.

“Kami sedang berupaya meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif dari produk-produk Israel di pasar lokal. Kami mencoba untuk menunjukkan hubungan antara produk-produk ini dan pelanggaran Israel yang nyata terhadap hak-hak warga Palestina, yang diwakili melalui tentara dan pemukim,” Hazem Abu Helal , anggota komite BDS setempat mengatakan.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Sentimen Anti-Muslim Jerman Mencapai Rekor Tertinggi

thumbs_b_c_426af2d7e90e4f5c7d15ef6ff51573b9BERLIN (Jurnalislam.com) – Jumlah warga Jerman yang memiliki sikap negatif terhadap umat Islam mencapai angka tertinggi, menurut hasil penelitian terbaru oleh Universitas Leipzig yang dirilis di Berlin, Rabu (15/06/2016), Anadolu Agency melaporkan.

50 persen dari warga Jerman yang disurvei mengatakan bahwa mereka, “kadang-kadang merasa seperti orang asing di negeri sendiri karena begitu banyak Muslim yang tinggal di sini,” sementara hampir 41 persen menganjurkan larangan migrasi Muslim.

Perwakilan Penelitian mengungkapkan peningkatan sikap negatif yang signifikan terhadap Muslim dan pengungsi di Jerman, saat negara tersebut sedang mencoba untuk mengatasi masuknya pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II.

Negara dengan ekonomi terbesar di Eropa tersebut menerima lebih dari satu juta pengungsi tahun lalu; kebanyakan mereka berasal dari Suriah, Irak dan Afghanistan.

Hasil penelitian Rabu menunjukkan bahwa krisis pengungsi menjadi penyebab meningkatnya kekhawatiran atas migrasi.

Jumlah warga Jerman yang mengeluh tentang jumlah pendatang Muslim yang tinggal di negara mereka naik menjadi 50 persen tahun ini dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 32,2 persen.

Mereka yang menganjurkan larangan migrasi Muslim ke Jerman meningkat dari 36,6 persen menjadi 41,4 dalam setahun. Mereka yang mendukung larangan tersebut berjumlah 21,4 persen pada 2009.

Survei tersebut juga mengungkapkan prasangka masyarakat Jerman yang mendalam terhadap para pencari suaka. Hampir 60 persen menyatakan keraguan mereka mengenai apakah para pengungsi membutuhkan perlindungan internasional, dan mengklaim bahwa banyak pengungsi yang tidak benar-benar melarikan diri dari penganiayaan di negara asal mereka.

Lebih dari 80 persen warga Jerman yang disurvei berpendapat bahwa Jerman tidak harus bermurah hati ketika memeriksa aplikasi yang dibuat oleh para pencari suaka.

Negara ini telah mengalami pertumbuhan anti-pengungsi dan sentimen anti-Muslim dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh propaganda kelompok kanan jauh dan pihak populis, yang telah mengeksploitasi krisis pengungsi dan ketakutan akan adanya ekstrimis agama dan kelompok-kelompok teroris.

Gerakan kanan Jerman seperti PEGIDA dan Alternatif untuk Jerman (AFD) telah menyerukan langkah-langkah untuk membendung migrasi dan membatasi hak-hak Muslim, yang mereka anggap sebagai “ancaman potensial Islamisasi Jerman.”

Jerman memiliki jumlah penduduk 81.100.000; sekitar lima persennya adalah Muslim. Di antara hampir empat juta penduduk Muslim di negara itu, tiga juta berasal dari Turki. Banyak dari orang-orang ini bermigrasi ke Jerman pada 1960-an.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam