Beginilah Cara Media Barat Memelintir Berita Kudeta Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Setelah kudeta gerakan Fetullah Gulen di Turki yang gagal yang menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang lain, media Barat tampaknya mencoba meremehkan upaya kudeta yang sebenarnya, namun sebaliknya malah berfokus mengkritik respon pemerintah terpilih menghadapi upaya kudeta, Anadolu Agency mengatakan, Kamis (21/07/2016).

Pemerintah Turki mengatakan Organisasi Teror Gulenist atau Struktur Negara Paralel (FETO/PDY) berada di balik kudeta yang untuk menggulingkan pemerintah Turki yang terpilih secara sah, namun media Barat mengabaikan fakta bahwa orang-orang Turki turun ke jalan untuk melindungi pemerintahnya dan aturan hukum terhadap komplotan kudeta yang ilegal. Sebaliknya, media barat malah berfokus pada reaksi otoriter partai yang berkuasa dalam merespon kudeta.

20160720_5_001A186842B484597880857681DE5C5B1

Media Barat yang memiliki banyak artikel berdasarkan opini mereka menilai bahwa langkah pemerintah Turki menahan pegawai negeri sipil yang terhubung dengan Feto dan birokrat di lembaga-lembaga publik seolah-olah bisa lebih berbahaya daripada kudeta gagal yang merenggut ratusan nyawa tersebut.

Beberapa media dan penyiar Barat memilih untuk mengangkat teori konspirasi aneh bahwa kudeta itu sebenarnya dipentaskan oleh pemerintah Turki itu sendiri, sementara yang lain memilih untuk menggambarkan pemimpin kudeta diduga sebagai salah satu ulama muslim paling kuat di dunia.

BBC Inggris menayangkan sebuah video yang menuduh pemimpin FETO Fetullah Gulen memiliki jutaan pengikut di Turki, tanpa menyebutkan infiltrasi FETO selama 40 tahun ke dalam lembaga penting negara seperti tentara, pengadilan, keamanan, unit intelijen dan berbagai lembaga birokrasi dengan berbagai identitas, yang bertujuan untuk menguasai negara.

Sebuah artikel BBC berjudul “Erdogan: Presiden kejam Turki” menggambarkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai salah satu pemimpin yang paling memecah belah dalam sejarah modern Turki, mengabaikan fakta bahwa semua orang dari seluruh sektor negara dan kepercayaan politik bergegas ke jalan-jalan untuk menghentikan upaya kudeta ilegal yang bertujuan menggulingkan pemerintah terpilih.

The Economist menerbitkan sebuah artikel berjudul “Kudeta Turki yang gagal memberikan presidennya kesempatan untuk lebih merebut kekuasaan,” mengklaim bahwa peradilan Turki yang independen akan sepenuhnya dihilangkan, namun tidak menyebutkan bahwa penangkapan pejabat negara dan pegawai negeri sipil bertujuan untuk menjaga lembaga-lembaga negara dari infiltrasi oleh pasukan yang menerima instruksi dari luar negeri.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN International, Senin, Erdogan menolak keras tuduhan bahwa upaya kudeta sebenarnya diatur olehnya (palsu).

“Sayangnya, itu adalah informasi yang salah. Bagaimana seseorang bisa merencanakan hal seperti itu? Bagaimana orang bisa membiarkan begitu banyak warga sipil kehilangan nyawa mereka? Bagaimana bisa nurani manusia mengizinkan hal itu? Itu sangat tidak mungkin,” kata Erdogan.

Fox News Channel yang berbasis di AS memposting secuil berita di situs web mereka berjudul “harapan terakhir Turki telah gugur,” katanya, “Kudeta Jumat malam yang gagal adalah harapan terakhir Turki untuk menghentikan Islamisasi pemerintah dan degradasi masyarakatnya.”

us-fox-news

Fox News, mengabaikan fakta bagaimana orang Turki turun ke jalan dan menghentikan tank yang dikendalikan tentara yang menghianati rantai komando, mengatakan: “Erdogan menggunakan kudeta sebagai alasan untuk mempercepat Islamisasi negaranya dan memimpin Turki memasuki kegelapan yang melanda dunia Muslim. Visinya adalah salah satu dari megalomaniak neo-Ottoman.”

Pejabat pemerintah Turki, di setiap penampilan media, menegaskan bahwa kudeta dilakukan oleh pengikut tokoh Turki Fetullah Gulen yang berbasis di AS, yang melakukan kampanye lama untuk menggulingkan pemerintah melalui infiltrasi negara Turki, khususnya militer, polisi, dan hakim (yudikatif), dan membentuk negara paralel.

Kolom media lainnya, oleh Kebijakan Luar Negeri Michael Rubin, mengatakan, “Tidak ada orang yang bisa disalahkan Erdogan untuk Kudeta melainkan dirinya sendiri,” dan mengklaim kebijakan luar negeri Erdogan, yaitu “tidak ada masalah dengan tetangga” telah menyebabkan masalah dengan “hampir setiap tetangga.”

The New York Times mengatakan di akun Twitter resminya, “Pendukung Erdogan adalah domba, dan mereka akan mengikuti apa pun katanya,” tapi kalimat ini tidak muncul dalam artikel yang utuh, sehingga sangat menunjukkan bias jurnalisme.
nyt-bias2
Cerita yang berjudul “Pembersihan besar-besaran di Turki saat Ribuan Ditahan dalam serangan balasan Pasca Kudeta,” juga mengabaikan fakta bahwa semua orang – bahkan para pengkritik Erdogan – turun ke jalan untuk menyelamatkan negara mereka dari pengambilalihan militer ilegal.

Dalam cerita lain berjudul, ” Kemenangan Erdogan Setelah upaya kudeta, tapi nasib Turki tidak jelas,” surat kabar memberi kesan palsu bahwa semua warga negara Turki yang membanjiri jalan-jalan di malam hari saat upaya kudeta adalah pendukung Presiden Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang saat ini berkuasa.

Apa yang sebenarnya terjadi benar-benar berbeda. Banyak warga tanpa afiliasi politik – atau berafiliasi dengan partai oposisi utama negara itu (termasuk Partai Republik Rakyat, atau CHP, dan Partai Gerakan Nasionalis, atau MHP) – juga berpartisipasi dalam demonstrasi anti-kudeta yang menyerang negara itu pada Jumat malam.

Sebelum kekalahan kudeta Jumat, situs AS Daily Beast memposting cerita yang mengatakan bahwa Erdogan telah meninggalkan negara dan keberadaannya tidak diketahui.

Website tersebut bahkan mengklaim bahwa Erdogan sedang mencari suaka di Jerman, mengutip klaim palsu seorang pejabat militer AS ke NBC News. Website itu kemudian merubah judul nya, namun hanya berubah menjadi, “Lokasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak diketahui,” dan menambahkan, “The Daily Beast tidak bisa mengkonfirmasi laporan-laporan ini.”

Faktanya adalah presiden tidak pernah meninggalkan negara selama upaya kudeta ilegal. Sebaliknya, ia dengan cepat kembali menuju ke Istanbul setelah mendesak warga turun ke jalan untuk menegakkan lembaga-lembaga demokratis Turki.

Mayor harian Jerman Die Welt, sementara itu mengkritik tanpa ampun tindakan keras pemerintah Turki pada tersangka komplotan kudeta, sementara mengabaikan pembantaian yang dilakukan oleh unsur-unsur pro-kudeta militer terhadap warga sipil pada malam kudeta yang gagal itu.

Duta Besar AS: Fetullah Gulen Jadi Prioritas Kami

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – John Bass, Duta Besar AS untuk Turki, pada hari Rabu mengatakan kasus Fetullah Gulen, tokoh yang berada di balik kudeta yang gagal pekan lalu, akan menjadi prioritas yang sangat tinggi untuk Washington, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (20/07/2016).

“Prioritas akan tergantung pada ruang lingkup dan kualitas bukti yang diberikan serta seberapa mendesaknya untuk dilakukan. Tapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami berkomitmen untuk segera meninjau cepat setelah kami menerima materi. Ini akan menjadi prioritas yang sangat tinggi bagi Departemen Kehakiman AS,” kata Bass kepada sekelompok wartawan sebelum penerimaan Konsulat Jenderal AS di Istanbul 4 Juli, mengomentari berapa lama waktu yang dibutuhkan pejabat AS untuk meninjau dokumen.

Turki mengtakan Gulen yang berbasis di AS berada di balik upaya kudeta dan menuntut agar ia diekstradisi untuk diadili.

Materi yang berhubungan dengan ekstradisi tokoh yang tinggal di pengasingan di negara bagian Pennsylvania AS tersebut telah disampaikan kepada otoritas AS.

Jumat lalu upaya kudeta oleh oknum-oknum militer menewaskan sedikitnya 240 orang dan melukai hampir 1.500 orang lainnya.

Bass menolak berkomentar tentang masa depan hubungan Turki-Amerika jika Washington tidak menyerahkan Gulen kembali ke Ankara.

“Pemerintah Amerika Serikat fokus pada apa yang bisa kita lakukan bersama antara dua negara untuk membantu Turki mengejar penyelidikan ini,” tegasnya.

Bass juga mengangkat kekhawatiran tentang langkah-langkah Ankara untuk memecat puluhan ribu karyawan publik di militer, polisi, sektor pendidikan, dan layanan sipil yang terlibat.

“Kami melihat penangkapan massal atau penahanan dan pemecatan massal orang-orang dari posisi pekerjaannya dalam waktu yang sangat cepat tanpa banyak bukti yang tersedia untuk tindakan tersebut menciptakan kekhawatiran,” katanya.

Tentang bagaimana kudeta yang digagalkan mempengaruhi operasi terhadap Islamic State (IS) di Incirlik Air Base di Adana, Turki selatan, Bass mengatakan bahwa masih tidak ada listrik di pangkalan tersebut.

Dia mengatakan pemerintah Turki memotong seluruh listrik di pangkalan udara dalam menanggapi upaya kudeta.

“Jika semakin lama akan semakin banyak dampak yang akan terjadi bagi operasi, yang tidak menguntungkan baik bagi Turki atau Amerika Serikat atau negara lain yang terancam oleh IS,” katanya.

Para menteri pertahanan Turki dan Amerika Serikat juga membahas situasi di Incirlik Air Base melalui telepon, Selasa.

Pemerintah Turki mengatakan komplotan kudeta menggunakan pangkalan udara sebagai stasiun utama untuk upaya pengambilalihan. Tanker udara pengisian bahan bakar yang digunakan dalam kudeta diluncurkan dari pangkalan tersebut, di mana 3.000 tentara AS dan pesawat AS ditempatkan dalam operasi anti-IS.

Apartemen Pencakar Langit Dubai Terbakar

1145872-dubaifire-1469022801-211-640x480DUBAI (Jurnalislam.com) – Api melahap blok apartemen 75 lantai di Dubai Rabu, memaksa polisi untuk mengevakuasi daerah yang mengalami serangkaian kebakaran gedung pencakar langit terbaru di negara Teluk tersebut, lansir World Bulletin rabu (20/07/2016).

Seorang wartawan melihat puing-puing jatuh terbakar dari fasad Sulafa Tower di Dubai Marina saat api menyebar sedikitnya di 15 lantai bangunan.

Pihak berwenang mengatakan petugas pemadam kebakaran telah mengevakuasi bangunan dan bekerja keras memadamkan api. Pertahanan Sipil Dubai mengatakan tidak ada korban yang dilaporkan.

Kebakaran telah melanda beberapa bangunan bertingkat tinggi di Uni Emirat Arab, yang terkenal karena gedung pencakar langitnya yang banyak memecahkan rekor.

Pada malam tahun baru kobaran besar merobek Address Downtown Hotel yang mewah, melukai 16 orang hanya beberapa jam sebelum pertunjukan kembang api spektakuler dimulai di dekatnya.

Pada November tahun lalu, api melalap tiga blok perumahan di pusat Dubai dan menyebabkan layanan pada jalur metro ditangguhkan, meskipun tidak ada yang terluka.

Pada bulan Februari, nyala api memusnahkan salah satu bangunan tertinggi emirat, juga di lingkungan Dubai Marina tersebut.

Api tersebut menghancurkan flat mewah di menara Torch dan mendorong pemerintah untuk mengevakuasi blok terdekat.

Pada tahun 2012, sebuah kebakaran besar merobohkan Menara Tamweel 34-lantai di dekat Jumeirah Lake Towers. Terungkap kemudian bahwa kebakaran disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang ke tempat sampah.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Helikopter Militer Ditembak Jatuh di Benghazi Tiga Pasukan Perancis Tewas

A picture taken in the night of June 14, 2011 on the French amphibious assault helicopter carrier "Tonnerre" (BPC) off the Libyan coast, shows French Tigre helicopter pilots with bullpup-styled assault rifles, FAMAS, are seen after an air raid in Libya. The "Tonnerre" participates in the Harmattan operation, the codename for the French participation in the 2011 military intervention in Libya. AFP PHOTO JOEL SAGET / AFP PHOTO / JOEL SAGET

LIBYA (Jurnalislam.com) – Tiga tentara Prancis tewas saat melakukan operasi kontra-ekstremisme di Libya, Kementerian Pertahanan Prancis mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan Rabu, lansir World Bulletin Rabu (20/07/2016).

“Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian menyesalkan hilangnya tiga pasukan Perancis yang tewas saat bertugas di Libya,” kata pernyataan itu.

“Dia menghormati keberanian dan dedikasi para tentara yang mewakili Perancis melakukan misi berbahaya harian melawan militan,” tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan awal pekan ini oleh Radio France Internationale, juru bicara pemerintah Prancis Stephane Le Foll mengkonfirmasi kehadiran pasukan Prancis di Libya dalam konteks kegiatan kontra-ekstremisme yang sedang berlangsung.

Di media sosial, kelompok yang menamakan dirinya Brigade Pertahanan Benghazi (the Benghazi Defense Brigades) mengaku bertanggung jawab atas tewasnya tentara Perancis, mengatakan para pejuangnya telah menembak jatuh sebuah helikopter militer Perancis di barat Benghazi.

Brigade Pertahanan Benghazi dilaporkan terdiri dari mantan personil militer dan kaum revolusioner yang mengambil bagian dalam pemberontakan 2011 terhadap orang kuat lama Libya, Muammar Gaddafi.

Kelompok ini menentang Khalifa Haftar, yang pada tahun 2015 diangkat sebagai kepala militer oleh pemerintah Libya yang berbasis di Tobruk.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Erdogan Tetapkan 3 Bulan Darurat Nasional Turki

erdogan-reutersANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu mengumumkan keadaan darurat nasional tiga bulan setelah kudeta Jumat yang gagal yang menewaskan 246 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang lainnya, Anadolu Agency melaporkan, Rabu (20/07/2016).

“Keadaan darurat adalah yang paling efektif dan cepat dalam mengambil langkah yang diperlukan untuk menghilangkan ancaman pemberontak di negara kita, aturan hukum, dan hak-hak serta kebebasan warga negara kita,” kata Erdogan.

Setelah berulang kali betemu Dewan Keamanan Nasional dan mengadakan pertemuan Kabinet – yang pertama sejak kudeta – Erdogan membuat pernyataan yang mengatakan darurat negara tiga bulan dinyatakan berdasarkan Pasal 120 Konstitusi Turki.

Menurut Pasal 120, dalam situasi yang terindikasi serius akibat tindakan kekerasan meluas yang ditujukan untuk kehancuran tatanan pemerintah yang sah, keadaan darurat dapat dinyatakan dalam satu atau lebih daerah atau di seluruh negeri untuk jangka waktu tidak melebihi enam bulan.

Mengeluarkan kalimat penghiburan kepada masyarakat Turki, Erdogan mengatakan: “Jangan khawatir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Dia mengatakan, “Angkatan bersenjata tidak akan dapat merebut kekuasaan. Malah sebaliknya, otoritas dan kehendak para pemimpin (sipil) akan semakin bertumbuh dalam proses ini.”

“Kami tidak pernah kompromi untuk demokrasi, dan kami tidak akan berkompromi,” tambahnya.

Pemerintah Turki mengatakan kudeta dilakukan oleh pengikut tokoh Turki yang berbasis di AS Fetullah Gulen, yang dituduh melakukan kampanye yang telah lama berjalan untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga negara Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, serta membentuk negara paralel.

Sedikitnya 246 orang, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil, menjadi martir selama kudeta yang gagal tersebut, dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka ketika mereka memprotes kudeta.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Komandan Turki Terbukti sebagai Loyalis Gulen, Inilah Pengakuannya

thumbs_b_c_542501c73681b486945eeac8667f5618ANKARA (Jurnalislam.com) – Letnan Kolonel Levent Turkkan, ajudan Kepala Staf Umum Turki Hulusi Akar, mengaku memiliki hubungan dengan Organisasi Teroris Fetullah (the Fetullah Terrorist Organization-Feto), yang ia katakan adalah pelaku utama upaya kudeta Jumat yang gagal.

Dalam kesaksiannya yang dirilis Rabu pagi, Turkkan mengatakan ia adalah anggota setia kelompok Feto sejak muda, Anadolu Agency, Rabu (20/07/2016).

“Saya anggota dari negara paralel, atau Feto. Saya telah melayani komunitas ini selama bertahun-tahun secara sukarela. Saya menuruti perintah dan instruksi dari saudara besar secara persis,” jelasnya.

Turkkan ditahan sebelumnya karena diduga memiliki link dengan upaya kudeta mematikan, yang terjadi pada Jumat malam ketika oknum-oknum militer Turki mencoba untuk menggulingkan pemerintah yang terpilih secara syah di negara itu.

Sedikitnya 240 orang, termasuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil, tewas di Istanbul dan Ankara dan hampir 1.500 lainnya luka-luka ketika mereka memprotes kudeta.

Turkkan mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga sederhana di distrik barat laut Bursa dan bertemu kelompok tersebut saat berada di sekolah menengah sementara ia tinggal di asrama.

“Sejak saya berusia 5 tahun, keinginan terbesar saya adalah untuk menjadi seorang perwira militer. Dan mimpi saya menjadi seorang perwira militer membuat senang keluarga saya,” katanya, menambahkan bahwa ia mengikuti ujian masuk sekolah militer pada tahun 1989.

Turkkan mengatakan ia adalah seorang mahasiswa yang pandai dan ia yakin akan lulus ujian dengan usahanya sendiri.

“Tapi malam sebelum ujian, saudara besar (big brother) memberi saya kunci jawaban dari pertanyaan ujian di sebuah rumah milik mereka di Bursa,” katanya.

Berlanjut untuk melihat saudara besar-nya selama dan setelah bertahun-tahun sekolah militer, Turkkan mengatakan bahwa ia “melayani mereka selama misi di Istanbul, Trabzon, Diyarbakir, Lefkosa, Kiziltepe dan terakhir di Ankara.”

Turkkan juga mengaku ia memata-matai Mantan Kepala Staf Necdet Ozel selama menjabat antara 2011- 2015. Turkkan awalnya menjabat sebagai wakil pembantu dan kemudian menjadi ajudan setelah Necdet Ozel pensiun.

Turkkan mengatakan bahwa dia memenuhi perintah gerakan Gulen setelah menjadi pembantu dekat di Staf Umum.

“Saya memata-matai (mantan) Kepala Staf Necdet Ozel sepanjang waktu. Aku meletakkan alat perekam di ruangannya di pagi hari dan membawanya kembali di malam hari,” kata Turkkan. “Perangkat ini memiliki kapasitas besar dan bisa melakukan penyadapan selama 10-15 jam.”

Selama interogasi oleh jaksa, Turkkan mengaku ia menerima perangkat tersebut dari orang yang mengaku bekerja di Turk Telecom, pusat telekomunikasi Turki.

“(Dia) memerintahkan saya untuk menguping Jenderal (Necdet Ozel). Dia mengatakan kepada saya ‘Kami akan memanfaatkan dia untuk tujuan informasi; tidak ada yang akan terjadi. “Saya tidak mempertanyakannya dan menerima perangkat itu,” katanya.

Turkkan katanya memiliki sedikitnya dua alat perekam dan mengembalikan perangkat saat kapasitasnya sudah penuh.

Letnan Kolonel Turkkan juga mengakui bahwa Mayor Mehmet Akkurt – yang diakui Turkkan sebagai anggota gerakan Gulen dan bekerja sama dengannya – memata-matai jenderal berpangkat tinggi, termasuk Kepala Staf Hulusi Akar.

Dia tidak menentukan waktu yang tepat ketika mereka menyadap Akar.

“Saya pikir gerakan memata-matai para jenderal untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam angkatan bersenjata,” Turkkan mengaku.

Setelah Jenderal Hulusi Akar dipromosikan sebagai Kepala Staf, Turkkan mengatakan bahwa ia berhenti melakukan penyadapan.

Selama interogasi, Turkkan juga memberikan informasi tentang bagaimana gerakan Gulen berada dalam militer Turki.

“Saya percaya 60-70 persen dari orang-orang yang telah diterima dalam angkatan bersenjata sejak 1990-an adalah orang-orang yang terhubung dengan Gulen,” katanya.

Turkkan mengatakan ia menerima informasi tentang kudeta militer pada 14 Juli sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat (1900GMT) dari Staf Kolonel Orhan Yikilkan, yang menjabat sebagai Kepala Staf penasihat.

“Yikilkan mengatakan bahwa Presiden, Perdana Menteri, Kepala Staf dan kepala Komandan akan ditangkap, yang akan dilakukan (dengan) diam-diam; (kudeta militer) akan dipentaskan pukul 03:00 pada Sabtu (16 Juli), “kata Turkkan.

Turkkan mengatakan ia mengunjungi saudaranya untuk memeriksa apakah ia menyadari militer mengambil-alih, tetapi gagal menemuinya.

Dia mengatakan kepada jaksa bahwa ia bertemu dengan anggota gerakan lain di rumah saudaranya.

“Ketika saya bertanya kepada mereka, mereka marah kepada saya ‘Bagaimana Anda tahu? Siapa yang mengatakannya? Apakah Anda memberitahu kepada orang lain? “… Mereka mengatakan kepada saya untuk tetap tenang,” kata Turkkan.

LEVENT_TURKKAN

Setelah upaya digagalkan, Turkkan mengatakan ia menyerah kepada pejabat militer yang menyerahkannya dia ke polisi.

Turkkan mengatakan ia menyesal karena ambil bagian dalam kudeta kekerasan.

“Hingga kudeta terjadi, saya pikir gerakan Gulen bertindak hanya demi Tuhan dan Gulen sendiri memiliki identitas spiritual,” kata Turkkan.

“Sampai hari ini, saya tidak pernah berpikir gerakan Gulen adalah seorang pengkhianat. Tapi sekarang, saya menyadari siapa mereka sebenarnya. Mereka (para anggota Feto) haus darah. Aku belum pernah melihat Fetullah Gulen, tapi dia sama saja,” dia berkata.

“Saya merasa menyesal tidak hanya karena ambil bagian dalam kudeta, tetapi juga menjadi anggota gerakan Fetullah Gulen,” tambahnya.

Pemerintah telah berulang kali mengatakan kudeta diselenggarakan oleh pengikut tokoh Turki yang berbasis di AS Fetullah Gulen, yang melancarkan kampanye dan telah berjalan lama untuk menggulingkan pemerintah Turki melalui pendukungnya yang tinggal di dalam negara Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan, dan membentuk negara paralel.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

Selangkah Lagi Tokoh Politik Anti Islam Donald Trump akan Jadi Presiden AS

thumbs_b_c_41ab890eceeca4ef6f3581c1dc88012e

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Donald Trump telah mengamankan posisinya dalam Partai Republik untuk menjadi calon presiden AS berikutnya setelah kampanye kontroversial berbulan-bulan yang telah membagi hak spektrum politik Amerika.

Seperti yang dilansir Aljazeera hari Selasa (19/07/2016) pengusaha miliarder Anti-Islam tersebut diharapkan partainya dapat melewati 1.237 delegasi yang dibutuhkan untuk menyegel kesepakatan pada pemungutan suara pertama. Trump diletakkan di atas oleh negara asalnya, New York.

“Ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah saya lupa,” kata Trump pada video feed dari New York.

“Bersama-sama kami telah mencapai hasil yang bersejarah dengan total suara terbesar dalam sejarah partai Republik. Ini adalah sebuah gerakan, tapi kami harus jalankan bersama.”

Pasukan anti-Trump bertahan selama keberuntungan akhir pada Selasa setelah berusaha meyakinkan para delegasi bahwa suara mereka tidak terikat dan bahwa mereka bisa memilih sesuai hati nurani mereka, tapi tidak pernah berhasil.

Banyak orang Amerika menentang naiknya Trump dalam politik AS, mencerca laporan kampanyenya yang kontroversial, termasuk memanggil imigran pemerkosa dan pengedar narkoba Meksiko yang akan ia deportasi jika terpilih sebagai presiden. Dia juga menyerukan larangan Muslim memasuki Amerika Serikat.

Ini adalah loncatan yang jauh bagi orang yang paling tidak diperkirakan akan mencapai tahap hasil sejauh ini.

“Setelah semua prediksi bahwa ia tidak dapat melakukannya – masyarakat tidak menginginkan seseorang tanpa pengalaman legislatif, tidak ada pengalaman dalam pemerintahan – mereka telah memilih seorang pria yang telah mencatatkan namanya pertama-tama dalam bisnis dan belakangan sebagai pembawa acara reality show di TV,” lapor reporter Al Jazeera Alan Fisher dari konvensi di Cleveland.

“Dia sekarang akan berada di atas tiket Republik November mendatang.”

Maestro real estate tersebut meraih kemenangan dalam serangkaian pemilihan partai di seluruh negara, mengumpulkan lebih dari 13 juta orang – terbanyak dibanding calon Partai Republik lain yang pernah ada sebelumnya.

Konvensi dirancang untuk memenangkan calon dari partai, mengajak kelompok akar rumput, dan mendorong partai menuju pemilihan presiden bulan November. Trump akan melawan calon partai Demokrat, Hillary Clinton.

Kampanye Trump berharap pencalonan resmi ini akan mengakhiri perselisihan di partai Republik dan menutupi pembukaan konvensi yang kacau, termasuk tuduhan plagiarisme yang melibatkan istrinya, Melania Trump, dalam pidatonya pada malam pembukaan.

IMG-20160720-WA005

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” kata Johnny McMahan, delegasi Trump dari Arkansas.

Dua bagian dari perkataan Melania Trump – masing-masing terdiri dari 30 kata atau lebih – mirip dengan konvensi Demokrat tahun 2008 oleh Michelle Obama – istri Presiden AS Barack Obama – hampir kata demi kata.

Kampanye Trump hanya berhasil menjaga kontroversi hidup pada Hari ke-2 konvensi dengan bersikeras tidak ada bukti plagiarisme, sambil menawarkan penjelasan bagaimana kalimat-kalimat tersebut sangat mirip dengan pidato istrinya.

Namun Clinton membantah itu. “Itu hanya plagiat Donald Trump yang tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan kepada orang-orang Amerika,” katanya dalam pidatonya di Las Vegas.

Konvensi empat hari tersebut adalah kesempatan profil tertinggi bagi tokoh anti Islam Trump untuk mempengaruhi para pemilih bahwa dia lebih cocok untuk menjadi presiden dibandingkan Clinton, yang akan resmi dinominasikan pada pertemuan Demokrat pekan depan.

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

50.000 Orang termasuk Tentara, Polisi, Hakim, Guru dan PNS Terlibat Upaya Kudeta yang Berbasis di AS

366077AB00000578-0-image-m-8_1468826965566ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Turki berjanji untuk membasmi sekutu tokoh Turki, Fetullah Gulen, yang berbasis di AS yang melakukan kudeta gagal pekan lalu, memperluas pembersihan tentara, polisi dan peradilan pada hari Selasa hingga ke universitas dan sekolah, badan intelijen dan otoritas keagamaan, Al Arabiya News Channel melaporkan Selasa (19/07/2016).

Sekitar 50.000 tentara, polisi, hakim, pegawai negeri dan guru telah diberhentikan atau ditahan sejak upaya kudeta, memicu ketegangan di seluruh negara berpenduduk 80 juta jiwa yang berbatasan dengan Suriah.

“Organisasi pemberontak paralel ini tidak akan lagi menjadi pion yang efektif bagi negara manapun,” kata Perdana Menteri Binali Yildirim, merujuk pada Negara paralel yang telah lama diduga pemerintah sebagai sebuah negara dalam negara yang dikendalikan oleh pengikut Fethullah Gulen.

“Kami akan menggali mereka hingga ke akar-akarnya,” katanya kepada parlemen.

Seorang juru bicara Presiden Tayyip Erdogan mengatakan pemerintah sedang menyiapkan permintaan resmi ekstradisi Gulen kepada Amerika Serikat, yang dituduh Turki mengatur pengambilalihan militer yang gagal pada hari Jumat di mana sedikitnya 232 orang tewas.

Gulen, 75 tahun, yang tinggal di pengasingan di Pennsylvania, tetapi memiliki jaringan pendukung di Turki dalam upaya kudeta.

Sebagai seorang mantan sekutu Erdogan yang berubah menjadi kritikus, ia menyatakan bahwa presiden menuduhnya sebagai alasan melakukan tindakan keras setelah akumulasi kontrol yang stabil selama berkuasa 14 tahun.

Pada hari Selasa, pihak berwenang menutup media yang dianggap mendukung Gulen dan mengatakan 15.000 orang dari kementerian pendidikan telah dipecat, juga 492 dari Departemen Direktorat Agama, 257 dari kantor perdana menteri dan 100 pejabat intelijen.

Lira melemah terhadap dolar setelah media negara TRT mengatakan semua dekan universitas telah diperintahkan untuk mengundurkan diri, mengadakan pembersihan besar-besaran setelah kudeta militer yang sukses di masa lalu.

Sebagai bukti perhatian internasional, seorang pejabat Jerman mengatakan perpecahan yang serius sedang terjadi di Turki dan ia takut pertempuran akan pecah dalam masyarakat Turki yang besar yang berada di Jerman.

“Sebuah perpecahan yang mendalam muncul di masyarakat Turki,” kata Menteri Dalam Negeri Bavaria Joachim Herrmann kepada koran Berliner Zeitung. “Bahaya eskalasi kekerasan antara pendukung Erdogan dan lawannya juga meningkat di Jerman.”

Sekutu Barat telah menyatakan solidaritas dengan pemerintah Turki atas upaya kudeta, tetapi juga khawatir tentang skala dan kecepatan respon, mendesak untuk mematuhi nilai-nilai demokrasi.

Perdana Menteri Yildirim menuduh Washington, yang mengatakan akan mempertimbangkan ekstradisi Gulen hanya jika bukti yang jelas telah tersedia, dan menyebut AS memiliki standar ganda dalam memerangi pemberontakan.

Yildirim mengatakan kementerian kehakiman telah mengirimkan berkas kepada pihak berwenang AS mengenai Gulen, yang gerakan religiusnya memadukan nilai-nilai konservatif dengan penampilan luar pro-Barat dan memiliki jaringan pendukung di Turki.

fethullah-gulen-introduction
Fetullah Gulen

“Kami memiliki bukti lebih dari cukup, lebih dari yang Anda bisa minta, mengenai Gulen,” kata Menteri Kehakiman Bekir Bozdag kepada wartawan di luar parlemen. “Tidak perlu membuktikan upaya kudeta, semua bukti menunjukkan bahwa upaya kudeta diselenggarakan atas kehendak dan perintahnya.”

Membantah berita bahwa Turki mengalami ketidakstabilan dalam waktu lama, tentara mengatakan telah kembali menguasai kontrol secara penuh. Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus membantah laporan bahwa 14 kapal angkatan laut hilang dan komandan mereka berusaha untuk membelot.

Kurtulmus juga mengatakan kepada wartawan bahwa 9.322 orang telah berada di bawah proses hukum sehubungan dengan kudeta.

Delapan tentara telah mencari suaka di negara tetangga Yunani dan Turki mengatakan mereka harus diserahkan kembali atau tidak akan membantu hubungan antara tetangga, yang telah lama tidak nyaman.

Sekitar 1.400 orang terluka saat tentara dalam tank, helikopter serang dan pesawat tempur, memberondong parlemen dan markas intelijen dan mencoba merebut bandara utama serta jembatan di Istanbul.

Tentara staf umum mengatakan akan menghukum dengan cara yang paling parah setiap anggota angkatan bersenjata yang bertanggung jawab untuk aib ini, menambahkan bahwa sebagian besar tidak ada hubungannya dengan kudeta.

“Tidak akan ada organisasi teroris klandestin yang memiliki keberanian untuk mengkhianati rakyat kita yang diberkati lagi,” kata Yildirim.

Beberapa pemimpin Barat menyatakan keprihatinan mereka bahwa Erdogan, yang mengatakan bahwa ia hampir dibunuh atau ditangkap oleh pemberontak, menggunakan kesempatan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan selanjutnya akan melumpuhkan perbedaan pendapat.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra’ad Al Hussein, memperingatkan dengan serius pada hari Selasa mengenai penahanan hakim dan jaksa secara massal dan mendesak Turki mengizinkan pemantau independen untuk mengunjungi orang-orang yang telah ditahan.

Kementerian luar negeri mengatakan kritik terhadap tindakan pemerintah meningkatkan dukungan bagi kudeta.

Turki membatalkan hukuman mati pada tahun 2004 sebagai bagian dari upaya untuk bergabung dengan Uni Eropa, dan para pemimpin Eropa telah memperingatkan Ankara bahwa memulihkan hukuman mati akan menggelincirkan aspirasi Uni Eropa-nya.

Namun setelah terjadinya kudeta, Erdogan telah berulang kali menyerukan parlemen untuk mempertimbangkan tuntutan pendukungnya untuk menerapkan hukuman mati bagi komplotan.

Yildirim mengatakan Turki akan menghormati aturan hukum dan tidak didorong oleh balas dendam dalam menuntut terduga komplotan kudeta. Berbicara bersama pemimpin oposisi sekuler utama, Partai Rakyat Republik (CHP), ia mengatakan negara harus menghindari risiko bahwa beberapa orang mencoba untuk mengeksploitasi situasi saat ini.

“Kita perlu persatuan … dan persaudaraan sekarang,” katanya.

Partai Gerakan Nasionalis (MHP), kelompok sayap kanan dan merupakan kelompok terkecil dari tiga partai oposisi di parlemen, mengatakan akan mendukung pemerintah jika memutuskan untuk mengembalikan hukuman mati.

Lebih dari 6.000 tentara dan sekitar 1.500 lainnya telah ditahan sejak kudeta yang gagal. Sekitar 8.000 petugas polisi, termasuk di ibukota Ankara dan kota terbesar Istanbul, telah dihapus karena dicurigai memiliki hubungan dengan plot kudeta.

Sekitar 1.500 pejabat kementerian keuangan juga telah dicopot dari jabatan mereka. Cuti tahunan telah ditangguhkan bagi lebih dari tiga juta pegawai negeri sipil, sementara hampir 3.000 hakim dan jaksa juga telah dibersihkan. Sebuah pengadilan menyerahkan 26 jenderal dan laksamana dalam tahanan pada hari Senin, kata media Turki.

Para pejabat di Ankara mengatakan mantan kepala angkatan udara Akin Ozturk, yang telah muncul di tahanan dengan wajah dan lengan memar dan satu telinga diperban, adalah wakil-pemimpin kudeta. Media Turki mengatakan pada hari Senin ia menyangkal tuduhan tersebut di hadapan jaksa, mengatakan ia telah mencoba mencegah usaha kudeta.

Kudeta hancur setelah Erdogan, yang sedang berlibur dengan keluarganya di resor pantai Marmaris, menelepon program berita televisi dan menyerukan rakyatnya untuk turun ke jalan. Dia berhasil terbang ke Istanbul pada dini hari Sabtu, setelah pilot pemberontak mengincar pesawatnya dalam pandangan mereka tetapi tidak menembaknya hingga jatuh.

Ia mengatakan pada hari Senin bahwa dia mungkin telah terbunuh jika tidak meninggalkan Marmaris secepatnya dan dua pengawalnya tewas.

Pertumpahan darah tersebut mengejutkan bangsa, di mana tentara menggunakan kekuatan untuk melakukan kudeta sukses dilakukan terakhir kali lebih dari 30 tahun yang lalu.

Sejak kudeta digagalkan, Erdogan mengatakan musuh negara masih mengancam bangsa dan mendesak warga Turki untuk turun ke jalan setiap malam sampai Jumat untuk menunjukkan dukungan bagi pemerintah.

 

Deddy | Alarabiya | Jurnalislam

Warga Palestina Diberondong Peluru Zionis Setelah Tikam 2 Serdadu Israel

-775860012PALESTINA (Jurnalislam.com) – Mustafa Muhammad Utsman Bardzaiyah (51 tahun) warga asal Kamp Arub, utara Hebron akhirnya meninggal dunia, syahid, akibat luka tembak yang dideritanya, diberondong peluru Zionis, paska aksinya menikam dua serdadu Zionis.

Department Kesehatan Palestina dalam pernyataan persnya yang dilansir pusat infopalestina, Selasa (19/07/2016) menyebutkan, seorang warga sipil, Mustafa Muhammad Utsman Bardzaiyah (51 tahun) akhirnya meninggal dunia, syahid kemarin, setelah ditembak serdadu Zionis di dekat kamp Arub.

Terkait hal ini, gerakan perlawanan Islam Hamas mengumumkan syahidnya Bardzaiyah dan memuji aksi kepahlawanannya. Dengan gugurnya Bardzaiyah maka jumlah jenazah syuhada yang ditahan Zionis meningkat menjadi 14 orang.

Selasa kemarin, dua serdadu Zionis luka-luka akibat operasi penikaman yang dilakukan Bardzaiyah di dekat permukiman Gauts Etzion, bagian utara Hebron.

Sementara itu, situs militer Israel, 0404 mengatakan, warga Palestina tersebut menyerang dua serdadu yang sedang berjaga di kamp Arub, salah satunya mengalami luka di bagian leher dan satunya lagi dibagian tanganya. Sementara pelaku ditembak tentara.

 

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam

Pilot Turki yang Jatuhkan Jet Tempur Rusia Ikut Ditahan Pasca Kudeta

04-04-09-474a88e8-1e1c-44e5-b0ea-4004642e13e0TURKI (Jurnalislam.com) – Dua pilot Turki yang berperan dalam jatuhnya sebuah jet Rusia pada bulan November berada di tahanan selama kudeta 15 Juli yang gagal di Turki, kata seorang pejabat Turki, lansir Aljazeera, Selasa (1907/2016).

Jatuhnya jet tempur Rusia di perbatasan Suriah November lalu memicu krisis diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Turki dan Rusia.

“Dua pilot yang merupakan bagian dari operasi untuk menjatuhkan jet Rusia Su-24 bulan November 2015 berada di tahanan,” kata seorang pejabat Turki kepada AFP, Senin (18/07/2016).

Ketika ditanya tentang masalah ini oleh media Turki, Menteri Kehakiman Bekir Bozda mengatakan ada laporan bahwa pilot tersebut ditahan tapi mereka belum dapat mengkonfirmasi.

Pejabat berbicara dengan AFP menegaskan bahwa pilot militer telah ditangkap atas hubungannya dengan kudeta dan bukan karena serangan terhadap pesawat Rusia.

Walikota Ankara Melih Gokcek berpendapat bahwa pilot tersebut diduga pendukung Fettullah Gulen yang berbasis di AS.

Pemerintah Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan menyalahkan gerakan Gulen, yang mereka sebut sebagai negara paralel, dan para pendukungnya dalam tentara karena mencoba melakukan kudeta yang gagal.

Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 17 Juli, menggambarkan bahwa kudeta tidak dapat diterima dan menyuarakan harapan agar Turki cepat kembali mengalami stabilitas.

Kedua pria itu direncanakan bertemu pekan pertama Agustus, di pertemuan tatap muka pertama mereka sejak konflik ditembak jatuhnya pesawat Rusia.

Sebuah faksi di militer Turki berusaha melakukan kudeta pada Jumat malam. Dalam adegan dramatis, tank memblokir jembatan di Istanbul, jet terlihat di langit sedikitnya di atas dua kota, dan gedung parlemen serta markas intel diberondong dengan tembakan dari helikopter serang.

Sedikkitnya 290 orang tewas dan lebih dari 1.400 lainnya terluka. Erdogan menyalahkan mantan sekutunya yang sejak itu menjadi saingan pahit, Fethullah Gulen, atas usaha kudeta.

Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan pada hari Senin bahwa lebih dari 7.500 tersangka telah ditahan sehubungan dengan upaya kudeta.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam