Gambar Satelit Menunjukkan Desa Muslim Rohingya Kembali Dibakar

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Sebuah kelompok hak asasi internasional menyatakan keprihatinan mereka pada hari Ahad (13/11/2016) atas gambar satelit yang menunjukkan kerusakan luas terkait dengan kebakaran di desa-desa yang didominasi Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, di tengah operasi militer yang diluncurkan setelah serangan mematikan bulan lalu terhadap polisi.

Human Rights Watch (HRW) meminta pemerintah Myanmar untuk segera melakukan penyelidikan dibantu PBB “sebagai langkah pertama menuju dijaminnya keadilan dan keamanan bagi para korban”.

“Gambar satelit yang baru itu tidak hanya mengkonfirmasi kerusakan luas desa Rohingya, bahkan menunjukkan bahwa kerusakannya lebih besar dari yang kita duga awalnya,” direktur HRW Asia, Brad Adams, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Pemberian bantuan dan akses informasi di daerah dekat perbatasan Bangladesh tersebut dikunci militer sejak 9 Oktober, ketika sekelompok orang bersenjata menewaskan sembilan polisi serta mencuri puluhan senjata dan ribuan amunisi.

Operasi militer yang sedang berlangsung di daerah telah menghasilkan laporan pelanggaran meluas terhadap warga sipil Muslim Rohingya.

gambar-satelit-menunjukkan-desa-muslim-rohingya-myanmar-kembali-dibakar

Sementara itu, koran Cahaya Baru Global Myanmar (Global New Light of Myanmar) yang dikelola negara melaporkan bahwa delapan orang – termasuk satu tentara, seorang perwira dan enam lainnya yang diduga penyerang – tewas Sabtu selama operasi pembersihan di kota-kota Maungtaw dan Yathay Taung.

Menurut surat kabar Myawaddy yang dikelola militer, orang-orang bersenjata menyerang tiga desa pada hari Jumat, menewaskan seorang perwira militer dan melukai dua lainnya.

Pada hari Ahad, HRW melaporkan mengidentifikasi total 430 bangunan yang hancur di tiga desa di utara kota Maungdaw setelah menganalisis “gambar satelit dengan resolusi sangat tinggi” yang tercatat sejak 22 Oktober – dengan peringatan bahwa banyak kerusakan yang mungkin tidak terdeteksi karena tertutup pohon lebat.

Namun pejabat pemerintah dan penduduk desa mengklaim bahwa mereka membakar rumah mereka sendiri untuk menarik simpati internasional sebelum tentara memasuki desa-desa untuk mencari terduga penyerang dan senjata yang dicuri.

Men walk at a Rohingya village outside Maugndaw in Rakhine state, Myanmar October 27, 2016. REUTERS/Soe Zeya Tun

“Pembatasan akses menuju daerah bagi wartawan dan pemantau hak asasi manusia yang diberlakukan Pemerintah terus menghambat pengumpulan informasi yang berimbang,” pernyataan Ahad tersebut menggarisbawahi.

Mengacu pada laporan media internasional yang menunjukkan bahwa permintaan pemerintah sipil untuk informasi lebih lanjut tidak terjawab, Adams mengatakan bahwa angkatan bersenjata “tidak hanya melarang pengamat independen memasuki daerah Rohingya yang terkena dampak, mereka tampaknya bahkan tidak mengatakan apa yang terjadi kepada pemerintah mereka sendiri”.

“Pihak berwenang perlu mengizinkan PBB, media, dan pengamat hak asasi untuk mendapat akses tak terbatas menuju daerah untuk menentukan apa yang terjadi dan apa yang perlu dilakukan,” tegasnya, menyerukan pemerintah dan militer untuk segera mengizinkan akses kemanusiaan ke masyarakat yang rentan.

“PBB dan pemerintah yang prihatin perlu meningkatkan tekanan pada otoritas untuk memastikan agar segala bentuk bantuan mencapai semua daerah yang terkena dampak saat krisis ini memasuki bulan kedua,” tambahnya.

Awal bulan ini, beberapa diplomat top dan seorang pejabat PBB yang mengunjungi daerah tersebut meminta pemerintah menyelenggarakan penyelidikan yang kredibel dan independen untuk serangan brutal 9 Oktober dengan laporan bahwa tentara Myanmar membunuhi dan memperkosa warga sipil Muslim Rohingya.

Ternyata Rudal Balistik Iran juga Diproduksi di Irak dan Suriah

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Hussein, penasihat menteri luar negeri Iran, mengatakan bahwa rudal Iran tidak hanya diproduksi di Suriah tetapi juga di negara-negara lain di kawasan, Al Arabiya News Channel melaporkan, Ahad (13/11/2016).

Dia mengatakan Iran memperluas produksi rudal di luar perbatasan karena ancaman dari luar.

Meskipun ia tidak mengungkapkan banyak tentang produksi rudal Iran, ia mengatakan Irak adalah salah satu negara di mana rudal balistik Iran diproduksi.

Pernyataannya muncul dua hari setelah kepala staf Iran mengatakan bahwa manufaktur rudal balistik telah dilakukan di Aleppo selama tahun-tahun terakhir.

Sebuah agen yang berafiliasi dengan Pengawal Revolusi Iran baru-baru ini mengakui bahwa milisi Syiah Houthi telah menggunakan rudal Iran. Namun Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif, membantah laporan tersebut.

Sementara itu, oposisi Iran di luar negeri menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi tegas pada Mahan Air dan menegaskan bahwa Mahan Air dimiliki oleh Garda Revolusi.

Pihak oposisi juga mengatakan bahwa pesawat Mahan Air mentransfer senjata, peralatan dan anggota Pengawal Revolusi Syiah Iran untuk rezim Nushairiyah Suriah menambahkan bahwa ini adalah pelanggaran mencolok resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pasukan Divisi Lapis Baja Irak Rebut Kota Kuno Nimrud dari IS

NINIWE (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah merebut kembali kota kuno Nimrud dari kelompok Islamic State (IS), militer Irak mengatakan Ahad (13/11/2016), World Bulletin melaporkan.

“Pasukan dari Divisi Lapis Baja Kesembilan telah benar-benar membebaskan kota Nimrud dan mengibarkan bendera Irak di atas bangunan,” General Abdulamir Rashid Yarullah, kepala militer Komando Operasi Niniwe, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan pasukan Irak telah menimbulkan kerugian jiwa dan peralatan bagi kelompok IS selama operasi untuk merebut kembali kota Nimrud.

Nimrud terletak sekitar 30 kilometer (20 mil) dari utara kota Mosul, yang berupaya direbut kembali dari militan IS oleh tentara Irak.

Perwira militer Mohamed al-Jabouri mengatakan tentara Irak juga telah menangkap desa Numaniya di pinggir kota kuno itu.

“Pasukan kami sekarang membersihkan desa dari ranjau darat dan bom yang ditanam oleh IS,” katanya.

Nimrud adalah ibukota kerajaan Asyur sekitar 1250 SM dan 610 SM.

Pada 2015, militan IS menghancurkan peninggalan bersejarah di kota kuno.

Bulan lalu, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS dan sekutu lokal di darat – melancarkan operasi luas yang bertujuan untuk merebut kembali Mosul, yang diserbu oleh IS pada pertengahan 2014, bersama dengan sejumlah wilayah di utara dan barat Irak.

Beberapa bulan terakhir tentara Irak dan sekutunya merebut kembali banyak wilayah dari kelompok IS, terutama di pinggiran Mosul dan di provinsi Anbar, Irak barat.

 

Ribuan Pengunjuk Rasa Anti Trump terus Berlanjut, Jutaan Orang Tanda Tangan untuk Berbalik ke Clinton

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Protes nasional terus berlangsung hari Sabtu memasuki hari keempat saat demonstran meluncurkan protes terhadap Presiden terpilih Donald Trump, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (13/11/2016).

Ribuan orang meneriakkan “bukan presiden saya (not my president)” di New York City saat mereka berjalan menuju Trump Tower, dengan protes serupa terjadi di beberapa kota termasuk Chicago, Los Angeles, dan Washington DC.

Meskipun sebagian besar aksi berlangsung damai, demonstrasi berujung penangkapan serta menyebabkan jalan raya dan jembatan harus ditutup. Satu orang ditembak di Portland, Oregon, selama konfrontasi.

Sementara itu, jutaan orang telah menandatangani panggilan bersama untuk anggota Electoral College – diharapkan yang memilih Trump menjadi presiden – untuk berbalik menyetujui Clinton.

Suara ketidakpuasan mereka didengar luas di seluruh penjuru AS setelah kekalahan Clinton yang mengejutkan dalam pemilu yang pahit dan memecah belah tahun ini. Sebagian besar jajak pendapat menempatkan beberapa poin untuk kemenangan Clinton, namun kemenangan jelas diraih mogul bisnis Trump yaitu 290-228.

Presiden terpilih Trump komentar di Twitter menentang protes Kamis malam, menyatakan para demonstran sebagai “pengunjuk rasa profesional yang dihasut oleh media”, dan menggambarkan situasi itu “sangat tidak adil”.

Sebagai pengguna media sosial yang akif, Trump berbalik arah beberapa jam kemudian, mengatakan ia mencintai “fakta bahwa kelompok-kelompok kecil pengunjuk rasa malam terakhir memiliki gairah untuk negara kita yang besar”.

FSA Luncurkan Operasi Militer Baru untuk Bebaskan Al-Bab Suriah dari IS

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pasukan Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) yang didukung Turki telah meluncurkan sebuah fase baru dalam Operasi Perisai Efrat (Euphrates Shield) untuk membebaskan distrik Al-Bab di timur laut Aleppo.

Menurut koresponden Anadolu Agency , Ahad (13/11/2016) di lokasi kejadian, FSA tiba dalam jarak dua kilometer (1,4 mil) dari Al-Bab pada Sabtu malam.

Pasukan FSA juga menguasai enam desa – Hazvan, Susyan, Aldana, Kiyran, Uglan dan Avlan – dan daerah pemukiman lainnya dari Islamic State (IS) pada pukul 02:00 waktu setempat (1100GMT) Ahad, mendekati Al-Bab yang dikendalikan IS.

Langkah ini dilakukan setelah organisasi ekstremis dukungan AS – PKK dan PYD – juga mendekati area yang dikuasai IS.

Hampir 1.600 kilometer persegi (617 mil persegi) wilayah di Suriah utara telah dibersihkan dari IS sebagai bagian dari Operasi Perisai Efrat sejauh ini.

Pasukan FSA baru-baru ini mengambil alih lima desa di Mare, sebelah barat laut Al-Bab, dan Manbij, di timur Al-Bab.

Ahad kemarin menandai hari ke-82 Operasi Perisai Efrat.

Pertempuran Jalanan Berkobar di Kota Mosul

MOSUL (Jurnalislam.com) – Kelompok Islamic State (IS) telah meluncurkan beberapa serangan balik terhadap pasukan Irak di kota Mosul, menggarisbawahi pertempuran seterusnya akan berlangsung intens saat pasukan pemerintah Irak dan sekutu mereka bergerak masuk ke lingkungan padat penduduk, lansir World Bulletin, Sabtu (12/11/2106).

Seorang pembom mobil IS menargetkan tentara Irak di lingkungan Qadisiya di timur Mosul Sabtu dini hari, menimbulkan pertempuran sengit yang melibatkan mortir, tembakan, dan granat berpeluncur roket.

Petugas Irak mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pertempuran juga berlangsung di daerah Arbajiya.

“Pertempuran berlangsung intens pagi ini. Kami sedang berusaha untuk membentengi posisi kami di Arbajiya sebelum melanjutkan serangan kami ke al-Bakr,” Kolonel Muntadhar Salem dari unit kontraterorisme mengatakan.

Salem kemudian menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah mengelilingi kawasan al-Bakr, tapi tidak untuk saat ini.

Di sebelah selatan kota, polisi Irak setingkat militer mengatakan mereka datang dari jarak sekitar 5 km dari bandara Mosul, yang ditunjukkan gambar satelit telah dijaga ketat oleh ISIL.

Gambar, yang diambil awal bulan ini oleh perusahaan intelijen swasta Stratfor yang berbasis di AS, menunjukkan pasukan IS membersihkan medan dan meratakan bangunan di sekitar bandara dan bekas pangkalan militer terdekat di tepi barat Sungai Tigris.

Deretan barikade beton, gundukan tanah dan puing-puing bisa dilihat memblokir rute utama ke pusat kota.

Puluhan Orang Tewas dalam Serangan Bom di Kuil Sufi Pakistan

KARACHI (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 43 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka dalam sebuah ledakan besar di sebuah kuil di barat daya Pakistan pada Sabtu malam, Menteri Dalam Negeri Balochistan, Sarfaraz Bugti mengatakan kepada wartawan Andolu Agency, Sabtu (12/11/2016).

Puluhan orang telah tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka di barat daya Pakistan setelah ledakan bom yang diklaim oleh kelompok bersenjata Islamic State (IS) merobek sebuah kuil penuh jamaah Sufi, lansir Aljazeera.

Ledakan itu terjadi di tempat kelompok sufi Shah Noorani yang terletak di kawasan terpencil Lasbela di provinsi barat daya Balochistan, yang dikunjungi setiap tahun oleh ribuan orang dari seluruh Pakistan.

Tidak ada komentar yang segera muncul menanggapi ledakan itu. Namun, media lokal mengutip sumber-sumber intelijen menyatakan bahwa ledakan itu adalah tindakan seorang pembom yang meledakkan diri dengan rompi peledak di tengah pertemuan di halaman kuil.

Presiden Mamnun Hussain dan Perdana Menteri Nawaz Sharif mengutuk serangan biadab tersebut.

Ledakan itu menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, Hakeem Laasi, seorang pejabat dari Edhi Foundation, sebuah lembaga bantuan kemanusiaan yang bergerak dalam operasi penyelamatan, mengatakan kepada wartawan.

Komisaris Kalat Hashim Gulzai menyebutkan korban tewas berjumlah 25 dan lebih dari 50 lainnya terluka.

Laasi mengatakan banyak yang terluka meninggal karena luka-luka mereka karena tidak dapat segera dialihkan ke rumah sakit karena terpencilnya lokasi kejadian.

Beberapa orang tewas dan terluka akibat kepanikan yang disebabkan oleh ledakan, katanya, menambahkan bahwa puluhan yang terluka diangkut ke rumah sakit dengan kendaraan pribadi oleh pengunjung yang selamat dari serangan.

Banyak mayat, dan korabn yang terluka, kata dia, masih tergeletak di lokasi karena kurangnya ambulans.

Mushtaq Ahmed, seorang wartawan lokal mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon bahwa korban tewas mungkin meningkat menjadi lebih dari 500 orang.

tim penyelamat sedang menghadapi kesulitan dalam operasi mereka karena kegelapan, dan sifat situs yang berada di daerah pegunungan. Pengunjung umumnya harus berjalan dan mendaki bukit untuk mencapai kuil.

Kepala Angkatan Darat Jenderal Raheel Sharif mengatakan bahwa pasukan dan tim medis dikirim untuk bergabung dengan upaya penyelamatan.

Dua Tentara Myanmar Tewas dalam Bentrokan dengan Pejuang Muslim Rohingya

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Militer Myanmar mengatakan pasukannya menewaskan enam orang. Mereka juga kehilangan dua tentara dalam bentrokan dengan penyerang di negara bagian Rakhine, Sabtu, dalam bentrokan terbaru di wilayah yang dilanda krisis kemanusiaan tersebut, World Bulletin melaporkan, Sabtu (12/11/2106

Northern Rakhine, yang merupakan rumah bagi minoritas Muslim Rohingya dan berbatasan dengan Bangladesh, telah berada dalam kekuasaan militer sejak serangan kejutan di pos perbatasan yang menewaskan sembilan polisi Myanmar bulan lalu.

Tentara telah membunuh puluhan orang dan menangkap beberapa orang lainnya dalam memburu penyerang, yang menurut pemerintah adalah pejuang muslim Rohingya yang memiliki link dengan pejuang Islam di luar negeri.

Krisis dan laporan pelanggaran hak asasi berat yang dilakukan bersamaan dengan tindakan brutal tentara Myanmar telah menumpuk tekanan internasional terhadap pemerintah sipil baru Myanmar dan mengangkat pertanyaan tentang kemampuannya untuk mengendalikan tentara.

Pihak berwenang juga sangat membatasi akses ke daerah, sehingga secara independen sulit untuk memverifikasi laporan atau tuduhan pelecehan tentara pemerintah.

Pada hari Sabtu militer mengatakan bahwa mereka mendapat serangan baru di wilayah perbatasan, pertama oleh massa sekitar 60 orang bersenjatakan “senjata kecil dan pedang”.

Bentrokan pecah di pagi hari selama “Operasi pembersihan” di desa Ma Yinn Taung di kota Maungdaw, menurut sebuah pernyataan militer.

“Dalam bentrokan itu, enam mayat penyerang bersama dengan pistol yang dicuri penyerang pada 9 Oktober diambil,” katanya, menambahkan bahwa seorang tentara juga tewas sementara beberapa lainnya terluka.

Pasukan tentara kemudian mengikuti para penyerang ke desa terdekat Gwa Zona di mana mereka menghadapi gerombolan bersenjata sekitar 500 orang, kata militer.

“Tentara kembali menyerang tetapi kelompok itu sangat besar jumlahnya dan tentara harus menggunakan dua helikopter,” kata pernyataan itu, dengan menambahkan bahwa seorang perwira tewas dalam operasi itu.

Lebih dari 100.000 orang, sebagian besar warga Muslim Rohingya, didorong ke kamp-kamp pengungsian dengan pertumpahan darah sementara kelompok-kelompok hak asasi internasional telah berulang kali menyerukan Suu Kyi untuk memikirkan solusi untuk mereka.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Jumat, Zainab Hawa Bangura, perwakilan khusus PBB untuk kekerasan seksual dalam konflik, mengatakan bahwa dia prihatin dengan laporan dan mengatakan sangat penting bagi pemerintah Myanmar untuk mengizinkan akses kemanusiaan ke daerah demi memberikan dukungan bagi korban yang selamat.

“Eskalasi kekerasan baru-baru ini dapat menyebabkan insiden kekerasan seksual yang lebih buruk, dan karena itu saya menyerukan kepada pemerintah Myanmar untuk mengambil langkah-langkah untuk menghentikan spiral kekerasan ini, khususnya terhadap perempuan dan anak perempuan,” katanya.

Sedikitnya 23 Pasukan NATO Tewas dalam Serangan Taliban di Pangkalan Udara AS, Kabul

KABUL (Jurnalislam.com) – Pada Sabtu pagi (12/11/2016), pasukan pencari Syahid Imarah Islam Afghanistan (Taliban), Hafiz Muhammad Parwani, melakukan serangan istisyhad di dalam pangkalan udara Bagram NATO, berdasarkan informasi yang akurat dalam serangan tersebut 23 tentara Amerika termasuk perwira utama tewas dan 44 lainnya luka-luka serta beberapa pasukan Afghanistan juga tewas dan terluka, Al Emarah News melaporkan, Sabtu.

NATO membenarkan tewasnya beberapa korban dalam serangan yang jelas dilakukan Taliban di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, Bagram Airfield dekat Kabul Sabtu pagi, lansir World Bulletin.

Abdul Shakoor Quddusi, kepala distrik Bagram, mengatakan sejumlah orang tewas dan 15 lainnya luka-luka dalam “ledakan kuat”, tapi tidak bisa mengkonfirmasi kebangsaan para korban.

Kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa mereka menyadari ledakan tersebut tapi tidak bisa segera mengkonfirmasi korban.

“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa ada ledakan di Bagram Airfield pagi ini setelah pukul 05:30 (0100 GMT). Ada korban,” kata koalisi militer dalam sebuah pernyataan singkat.

“Pasukan Perlindungan (Force Protection) kami dan tim medis telah menanggapi situasi ini,” tambahnya, tanpa menentukan apa penyebab ledakan.

Ledakan itu menyoroti memburuknya situasi keamanan hampir dua tahun setelah NATO secara resmi mengakhiri operasi tempur di Afghanistan.

Bagram Airfield, dekat dengan Kabul, telah sering diserang oleh Mujahidin Taliban.

Desember lalu, pembom istisyhad Taliban mengendarai sepeda motor menewaskan enam tentara AS di pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan tersebut.

sedikitnya-23-pasukan-nato-tewas-dalam-serangan-taliban-di-pangkalan-udara-as

 

Siswa Muslimah Universitas California Jadi Target Serangan Pendukung Trump

CALIFORNIA (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang di dua universitas di California mengatakan pada hari Kamis bahwa polisi sedang menyelidiki serangan terhadap mahasiswa Muslim perempuan, salah satunya digambarkan sebagai kejahatan rasial, lansir World Bulletin, Jumat (11/11/2016).

Kedua serangan terjadi pada hari Rabu, sehari setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden pada akhir kampanye dimana partai Republik dikritik karena bahasa mereka yang memecah belah dan melukai Muslim.

Dalam salah satu insiden, dua penyerang mengkonfrontasi korban mereka di San Diego State University dan “melontarkan komentar tentang Presiden terpilih Trump dan komunitas Muslim,” menurut polisi kampus.

Dompet, ransel dan kunci mobil wanita itu kemudian dicuri. Dia pergi untuk mencari bantuan dan kembali ke lokasi penyerangan bersama polisi, lalu menemukan mobilnya telah dicuri, kata juru bicara polisi Ronald Broussard.

Kasus ini sedang diselidiki sebagai dugaan kejahatan rasial serta perampokan dengan senjat berat dan pencurian kendaraan, kata Broussard.

“Komentar yang dilontarkan kepada siswa tersebut menunjukkan ia menjadi sasaran karena ia seorang Muslim, termasuk pakaian muslimah dan jilbab yang dikenakannya,” presiden universitas Elliot Hirshman dan kepala polisi interim Josh Mays mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama.

Polisi San Jose State University mengatakan dalam sebuah pernyataan mereka menyelidiki serangan serupa terhadap seorang mahasiswi di sebuah garasi parkir kampus.

Seorang penyerang laki-laki mendekati korban dari belakang, menarik-narik kerudung korban, mencekik dan melemparkan dia hingg kehilangan keseimbangan, menurut pernyataan yang diedarkan kepada siswa pada hari Rabu.

“Pejabat Kampus memantau erat situasi saat penyelidikan terus berlangsung. Tidak ada penangkapan,” kata juru bicara universitas Pat Harris dalam sebuah pernyataan email kepada AFP.

“Kami, tentu saja, sangat prihatin bahwa ini telah terjadi di kampus kami. Tidak ada yang harus mengalami perilaku semacam ini di San Jose State,” tambahnya.

Himpunan Mahasiswa Islam Universitas New York (New York University’s Muslim Students Association) mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu mengatakan bahwa mahasiswa teknik tiba pagi itu dan menemukan kata “Trump” tertulis di pintu ruang sholat.

Organisasi itu mengatakan anggotanya “menyadari bahwa kampus kita tidak kebal terhadap kefanatikan yang melanda Amerika.”

Seorang mahasiswa Muslim di University of Louisiana di Lafayette mengatakan kepada polisi pada hari Rabu bahwa ia diserang oleh dua orang, salah satunya mengenakan topi putih bertulisan “Trump.”

Media setempat melaporkan pernyataan itu kepada polisi pada Kamis namun menyatakan bahwa gadis itu memalsukan serangan.

Departemen Kepolisian Lafayette tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.