Pasukan Irak dan Kurdi Berebut Kontrol Wilayah di Kota Mosul

MOSUL (Jurnalislam.com) – Perpecahan yang jelas telah muncul antara para pemimpin Irak dan Kurdi atas kontrol teritorial setelah merebut kembali sejumlah wilayah di Mosul, dan meskipun pertempuran untuk benteng terakhir IS di Irak baru memasuki bulan kedua, Aljazeera melaporkan, Kamis (17/11/2016).

Didukung oleh serangan udara koalisi yang dipimpin AS, pasukan Irak melancarkan operasi besar-besaran untuk merebut kembali kota utara pada 17 Oktober, dengan pejuang Peshmerga Kurdi juga memainkan peran utama dalam serangan.

Operasi militer tersebut telah menghasilkan keuntungan di wilayah Kurdistan yang otonom atau memperkuat kontrol atas petak wilayah sengketa di Irak utara.

Dan dalam beberapa hari terakhir, pemimpin Kurdi Massoud Barzani dan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi telah memberikan interpretasi kontras mengenai pemahaman tentang siapa yang akan mengontrol wilayah di daerah Mosul setelah kota ini direbut kembali.

“Kami memiliki perjanjian dengan Amerika Serikat untuk tidak menarik diri dari wilayah Kurdistan,” kata Barzani pada hari Rabu dalam kunjungan ke pejuang garis depan Kurdi Peshmerga di kota Bashiqa yang telah direbut kembali.

Irak Kurdistan telah lama bersikeras bahwa daerah pinggir batas resmi – yang membentang dari perbatasan dengan Suriah di barat, dan ke Iran di timur – merupakan bagian dari wilayah yang harus mereka kontrol. Ini adalah posisi yang sangat ditentang oleh Baghdad.

“Daerah ini dibebaskan oleh darah 11.500 martir dan pasukan Peshmerga yang terluka,” kata Barzani. “Sehingga tidak mungkin setelah semua pengorbanan ini untuk mengembalikan wilayah tersebut kepada kontrol federal.”

Wilayah sekitar Mosul adalah mosaik komunitas etnis dan agama – Arab, Turkmen, Kurdi, Yazidi, Kristen, Sunni dan Syiah – meskipun Sunni merupakan mayoritas besar.

Pemimpin Kurdi bahkan melangkah lebih jauh dan mengatakan bahwa mereka mencapai kesepakatan dengan Baghdad mengenai “kemerdekaan” Kurdistan.

“Kemerdekaan adalah hak alami dari orang-orang kami dan kami tidak akan pernah menyerahkan hak tersebut dalam kondisi apapun dan kami telah membicarakan hal ini dengan jelas dan terbuka dengan Baghdad yang memberi kita respon positif.”

HRW: Pasukan IS Eksekusi 300 Mantan Polisi Irak di Selatan Mosul

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Pasukan Islamic State (IS) dilaporkan membunuh lebih dari 300 mantan polisi Irak tiga pekan yang lalu dan menguburkan mereka di sebuah kuburan massal di dekat kota Hammam al-Alil di selatan Mosul, Human Rights Watch mengatakan pada hari Kamis, 17 November 2016, lansir Al Arabiya News Channel, Kamis.

Seorang wartawan Reuters mengunjungi lokasi kuburan massal, di mana warga mengatakan gerilyawan IS memakamkan korban yang telah ditembak atau dipenggal. Penduduk mengatakan mereka percaya hingga 200 orang tewas beberapa minggu sebelum IS menarik diri dari kota.

Human Rights Watch mengatakan beberapa mantan polisi dipisahkan dari sekelompok orang berjumlah sekitar 2.000 dari desa-desa dan kota-kota terdekat yang dipaksa untuk berbaris di samping militan bulan lalu saat mereka mundur ke utara ke Mosul dan kota Tal Afar.

HRW mengutip buruh yang mengatakan ia melihat pasukan IS mengendarai empat truk-truk besar yang membawa 100 sampai 125 orang, beberapa di antaranya ia akui sebagai mantan polisi, melewati sebuah perguruan tinggi pertanian di dekat lokasi yang menjadi kuburan massal. Beberapa menit kemudian, ia mendengar tembakan senjata otomatis dan teriakan kesakitan, katanya. Malam berikutnya, pada 29 Oktober, adegan serupa diulangi, dengan antara 130-145 orang, ia mengatakan kepada HRW.

Saksi lain, seorang warga bernama Hammam al-Alil, mengatakan ia mendengar tembakan senjata otomatis di daerah ersebut selama kurang lebih tujuh menit, tiga malam berturut-turut. “Ini adalah bukti lain pembunuhan massal yang mengerikan oleh IS (Islamic State) terhadap mantan aparat di dalam dan sekitar Mosul,” kata Joe Stork, wakil direktur Timur Tengah di Human Rights Watch. “IS harus bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Dalam 48 Jam Serangan Udara Brutal Rusia Bunuh 94 Warga Sipil Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sembilan puluh empat warga sipil tewas dalam serangan udara di distrik Aleppo Timur yang terkepung selama 48 jam terakhir, sumber-sumber pertahanan sipil setempat mengatakan pada hari Kamis (17/11/2016).

Najib al-Ansari, seorang pejabat pertahanan sipil berbasis Aleppo, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sedikitnya 150 orang telah terluka dalam serangan udara – yang, katanya, sedang dilakukan oleh pesawat tempur rezim Rusia dan Suriah – dalam periode yang sama.

Setelah tiga minggu relatif tenang, wilayah Aleppo yang dikuasai oposisi berada di bawah pemboman sengit sejak Selasa sore, menurut sumber-sumber lokal.

Al-Ansari mengatakan serentetan serangan terakhir menggunakan amunisi cluster dan vakum, serta bom barel.

Laporan oleh sumber-sumber lokal membantah klaim Kementerian Pertahanan Rusia Igor Knonashenkov, yang baru-baru menyanggah tuduhan bahwa pesawat tempur Rusia masih menyerang Aleppo.

“Jet Rusia tidak melakukan serangan di Aleppo selama 28 hari terakhir,” kata Knonashenkov dalam sebuah pernyataan Selasa.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad menumpas protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Musim Semi Arab” – dengan keganasan militer rezim tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat konflik.

Pada 30 September tahun lalu, Rusia meluncurkan serangan udara yang luas di Suriah dengan tujuan menopang rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad yang diperangi mujahidin dan oposisi Suriah.

Yahudisasi Palestina, Zionis Terbitkan Undang-undang untuk Muazzin

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Politisi Palestina di Israel telah menemukan sekutu tak terduga dalam pemerintahan Israel untuk menentang RUU baru yang melarang Masjid menggunakan pengeras suara untuk menyiarkan azan, Aljazeera melaporkan, Rabu (16/11/2016).

Muazzin Bill (Undang-undang Muazzin) – dinamakan sama dengan orang yang menyerukan adzan – disetujui oleh sebuah komite menteri pada hari Ahad, dengan alasan bahwa RUU itu diperlukan untuk mengurangi “polusi suara” dari Masjid.

Pemungutan suara pertama di parlemen Israel untuk membahas undang-undang tesebut – yang rencananya diselenggarakan pada hari Rabu – harus ditunda, setelah partai agama Yahudi kecil menyatakan keberatan.

Yaakov Litzman, menteri kesehatan, melaporkan kekhawatirannya bahwa kata-kata yang digunakan dalam undang-undang ini, yang menyebut “rumah ibadah”, mungkin juga mencakup sinagog. Sinagog sering menggunakan sirene untuk mengumumkan awal dan akhir hari Sabat.

Pemimpin Palestina di Israel takut penundaan itu hanya berumur pendek. RUU ini mendapat dukungan luas dari dalam pemerintah, termasuk dari Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu.

“RUU ini adalah produk jelek Islamophobia yang telah mendominasi Israel,” kata Thabet Abu Ras, dari Dana Ibrahim (Abraham Fund), yang mempromosikan hubungan lebih baik antara warga Yahudi dan Palestina Israel.

“Sekarang pemerintah akan mencoba untuk membingkai ulang RUU untuk memuaskan pihak agama Yahudi sehingga bisa dilanjutkan.”

Dari awal, para pemimpin Palestina telah menyatakan bahwa RUU tersebut bukanlah tentang kebisingan, tetapi ditujukan hanya untuk membungkam Masjid, sebuah kecurigaan yang dapat dikonfirmasi, kata Abu Ras, dengan adanya kesepakatan pemerintah meninjau kembali undang-undang untuk mengatasi kekhawatiran Litzman ini.

Israel termasuk komunitas 1,7 juta warga Palestina, seperlima dari penduduk, yang sebagian besar adalah Muslim. Israel juga mengatur 300.000 warga Palestina lain di Yerusalem Timur, yang dicaplok Israel dengan melanggar hukum internasional.

Tekanan terhadap undang-undang sangat kuat datangnya dari pemukim di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Inisiator utama RUU ini, Moti Yogev, dari partai Rumah Yahudi (the Jewish Home), tinggal di sebuah pemukiman di Tepi Barat.

Masjid-masjid di Tepi Barat dan Israel telah berulang kali dicorat-coret dengan grafiti atau dibakar oleh ekstremis zionis Yahudi.

Ketika RUU awalnya disampaikan awal tahun ini, pembatasan pada pengeras suara Masjid dibenarkan dengan alasan bahwa penyebaran “pesan agama atau nasionalis” dan “hasutan” akan dicegah.

RUU itu harus disusun ulang setelah penasihat hukum pemerintah menyatakan keprihatinan. Perubahan-perubahan inilah yang sekarang meningkatkan keraguan dari dua pihak agama Yahudi kecil, Shas dan United Torah Judaism. Keduanya duduk dalam pemerintahan.

Abu Ras mengatakan kepada Al Jazeera: “Israel sudah memiliki undang-undang polusi suara, yang jarang diterapkan. RUU ini merupakan indikasi suasana hati Israel saat ini, yaitu tumbuhnya intoleransi terhadap warga non-Yahudi..”

Dia mengatakan tujuan utama RUU ini lebih lanjut adalah “Judaisation” Yerusalem (menjadikan Yerusalem Yahudi), dan akan digunakan terhadap Masjid al-Aqsha di Al Quds. Masjid ini telah menjadi titik bentrokan, dengan meningkatnya kekhawatiran dari Palestina bahwa Israel mencari kontrol yang semakin besar atas situs tersebut.

Youssef Ideiss, menteri urusan agama Otoritas Palestina, memperingatkan pada hari Ahad bahwa RUU ini mempertaruhkan daerah tersebut berubah menjadi “perang agama”. Jordania, yang mengawasi masalah agama di Masjid al-Aqsha di Yerusalem, juga mendukung oposisi pada hari Selasa. Abdullah Abbadi, menteri urusan Islam, melaporkan Israel merusak status quo yang halus di Yerusalem.

Ia mengatakan, mengingat bahwa Israel adalah kekuatan penjajah, setiap perubahan yang dibuat Israel di Yerusalem “dibatalkan dan tidak berlaku”.

Meskipun adzan berkumandang lima kali sehari, adzan subuh yang tampaknya membuat reaksi utama dari orang Yahudi Israel, terutama mereka yang tinggal di dekat Jerusalem Timur dan puluhan komunitas Palestina di Israel.

Dalam mendukung RUU ini, zionis Netanyahu mengatakan dia berkomitmen untuk kebebasan beragama bagi semua tapi “juga bertanggung jawab untuk melindungi warga yahudi dari kebisingan. Itulah cara yang digunakan di kota-kota di Eropa. Saya mendukung undang-undang yang sama dan penegakan hukum di Israel.”

Laporan yang disampaikan oleh parlemen Israel pada tahun 2011 menemukan bahwa beberapa negara Eropa telah membatasi adzan, termasuk Perancis, Belgia, Austria dan Belanda. Di Swiss, masjid dilarang mendirikan menara.

Haneen Zoabi, anggota Palestina dari parlemen Israel, menyebut perbandingan dengan Eropa tersebut “konyol”. Dia mengatakan kepada Al Jazeera: “Jika Netanyahu benar-benar sangat mengagumi Eropa, apa yang mencegah dia kembali ke sana?” Dia menambahkan bahwa orang-orang Yahudi yang tersinggung oleh suara Masjid adalah mereka yang telah memilih untuk menetap di dekat masyarakat Palestina di Israel atau wilayah-wilayah pendudukan.

“Masalahnya bukan tentang kebisingan di telinga mereka tapi tentang kebisingan di pikiran mereka. Apa yang sangat mengganggu mereka adalah suara kehadiran tanah air Palestina di pemukiman mereka sendiri.

“Netanyahu dan rasis lainnya di pemerintah masih bersikap seperti penjajah yang menolak untuk menginternalisasi bahwa mereka harus menjadi bagian dari wilayah tempat tinggal mereka.”

Legislator Palestina lain, Ahmad Tibi, pekan ini menyerukan kampanye pembangkangan sipil untuk memblokir RUU. Pada hari Selasa, menteri pertahanan dari partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman menyerukan kepada Jaksa Agung untuk menyelidiki Tibi atas tuduhan “hasutan untuk melakukan kekerasan”.

Dukungan untuk Muazzin Bill terutama sangat kuat di permukiman Yahudi besar di Yerusalem Timur. Sekitar 200.000 pemukim yahudi ilegal tinggal dekat dengan masyarakat Palestina di sana.

Utusan Washington Benarkan Militer AS Kerahkan Pasukan YPG ke Kota Manbij

SURIAH (Jurnalislam.com) – Utusan presiden AS pada hari Rabu mengakui keberadaan PKK/PYD di kota Manbij Suriah utara dari di keberangkatan dari pernyataan sebelumnya, lansir World Bulletin, Rabu (16/11/2016).

Mengumumkan penarikan mundur PKK/PYD dari kota, yang terletak sekitar 30 kilometer (19 mil) di barat Sungai Efrat, Brett McGurk tweeted: “Milestone: semua unit #YPG meninggalkan Manbij & kembali ke timur Efrat setelah unit lokal melengkapi pelatihan untuk menjaga keamanan dari #ISIL.”

YPG adalah sayap bersenjata PYD, yang merupakan sayap Suriah PKK. Turki, AS dan Uni Eropa telah memasukkan PKK dalam daftar organisasi teror.

Turki telah lama menyerukan penghapusan PKK/PYD dari wilayah perbatasan ke barat Efrat untuk mencegah kelompok itu merebut sebagian besar wilayah perbatasan Turki dengan Suriah. Pada bulan September, Pentagon mengatakan kelompok itu telah mundur tapi intelijen Turki melaporkan bahwa mereka masih tetap berada di wilayah tersebut.

Kekuatan lokal sekarang diharapkan menjaga keamanan di daerah yang telah dibersihkan dari IS.

“Koalisi kami bangga karena telah melatih dan mendukung pasukan lokal untuk mempertahankan wilayah rumah mereka sebagai formula terbaik untuk memastikan IS tidak pernah bisa kembali,” kata McGurk.

Dia juga tweeted bahwa Pasukan Demokratik Suriah, yang dipelopori oleh YPG, sedang menuju ke Raqqah, ibukota de facto IS di Suriah.

Milisi Syiah Irak Ambil Alih Bandara Tal Afar di Mosul dari IS

Mosul (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah Irak Hashd al-Shabi Rabu malam telah mengkonfirmasi bahwa mereka telah merebut Tal Afar Airport dari Islamic State (IS), Anadolu Agency melaporkan, Rabu (16/11/2016).

Pengumuman itu muncul dari kantor pers milisi Syiah Hashd al-Shaabi – sebuah kelompok payung milisi Syiah pro-pemerintah Irak yang didukung Iran yang didirikan pada pertengahan 2014 untuk melawan IS.

Pada hari Senin, milisi Syiah, dalam koordinasi dengan Komando Operasi Gabungan tentara Irak, meluncurkan operasi tahap ketiga yang sedang berlangsung untuk merebut kembali daerah-daerah timur kota Tal Afar (sekitar 65 kilometer (40 mil) barat dari Mosul) dari IS.

Tiga Hari Pertempuran: 30.000 Warga Tinggalkan Fallujah, 300 Lebih Pasukan Irak dan Syiah Tewas

Tal Afar adalah kota mayoritas Turkmen di provinsi Nineveh utara Irak, yang ibukota provinsinya adalah Mosul.

Pemerintah Turki telah berulang kali memperingatkan risiko konflik agama jika milisi Syiah diperbolehkan untuk masuk Mosul yang mayoritas Sunni.

Di wilayah Irak lain yang baru-baru ini diambil alih milisi Syiah Hashd al-Shaabi dari IS, termasuk Fallujah dan Ramadi, dilaporkan pasukan Syiah menganiaya warga Sunni setempat.

An Iraqi special forces soldier looks at a part of Mosul controlled by Islamic State fighters in Iraq, November 15, 2016. REUTERS/Goran Tomasevic - RTX2TRBY

Biadab, Serangan Udara Rusia Kembali Bunuh 61 Warga Sipil Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 61 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dan puluhan lainnya terluka pada hari Rabu (16/11/2016) dalam serangan berkelanjutan oleh pesawat tempur Rusia dan Suriah di lingkungan Aleppo timur yang terkepung, menurut seorang pejabat pertahanan sipil, lansir Anadolu Agency, Rabu.

Baybars Meshaal dari pertahanan sipil Aleppo mengatakan bahwa pemboman telah berlangsung sejak Selasa sore.

Meshaal mengatakan penembakan menargetkan lingkungan Salahuddin, Al-Ansari, Al-Sukkari, al-Firdaus, Al-Qatirgi, Al-Maysar, Al-Shaar, Al-Sakhur, dan Bab al-Nairab.

Sebuah sekolah di lingkungan Al-Shaar ditargetkan oleh serangan ini dan sejumlah anak-anak terluka, ia menambahkan.

“Tim-tim pertahanan sipil dan kru medis kesulitan untuk mencapai tempat-tempat yang ditargetkan karena penembakan intensif masih berlangsung dan menargetkan segala sesuatu yang bergerak,” tambahnya.

Dia mengatakan seorang paramedis tewas ketika sebuah granat mendarat di dekat ambulans saat mencoba mencapai tempat-tempat yang ditargetkan.

Selasa sore serangan udara sengit diluncurkan terhadap kawasan yang dikendalikan oleh mujahidin dan pejuang oposisi Suriah di Aleppo setelah sekitar tiga pekan suasana relatif tenang.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Assad menumpas unjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang telah tewas – dan lebih dari 10 juta orang lainnya kehilangan tempat tinggal – di seluruh negeri yang babak belur akibat perang tersebut, menurut angka PBB.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan total korban tewas akibat konflik lima tahun di Suriah berjumlah lebih dari 470.000.

Pada 30 September tahun lalu, Rusia meluncurkan operasi udara brutal di Suriah dengan tujuan menopang rezim pemimpin Suriah Bashar al-Assad.

Pengadilan Mesir Batalkan Hukuman Mati Muhammad Mursi, Ini Laporannya

MESIR (Jurnalislam.com) – Sebuah pengadilan banding Mesir pada Selasa membatalkan hukuman mati yang dijatuhkan terhadap presiden terguling Muhammad Mursi di salah satu dari empat pengadilan sejak penggulingannya tahun 2013.

Keputusan itu adalah kemenangan pertama bagi Mursi yang telah dinyatakan bersalah dan dihukum dalam semua kasus terhadap dirinya sejak digulingkan oleh Abdel Fattah al-Sisi yang saat itu menjabat kepala militer dan sekarang menjadi Presiden menyusul protes massa jalanan, lansir World Bulletin, Selasa (15/11/2016)

Gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Mursi sejak itu masuk dalam daftar hitam dan dikenakan tindakan keras yang telah menewaskan ratusan pendukungnya dan memenjarakan ribuan lainnya.

Mursi telah mengenakan seragam merah yang disediakan untuk tahanan hukuman mati setelah dijatuhi hukuman mati pada bulan Juni tahun lalu atas kasus pembobolan penjara tahun 2011.

“Dia akan melepas seragam merah,” salah satu pengacaranya, Abdel Moneim Abdel Maqsud, mengatakan pada hari Selasa.

Sebagai presiden sipil Mesir pertama yang dipilih secara bebas, Mursi berkuasa setelah pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan presiden Hosni Mubarak yang lama berkuasa.

Pengadilan Kasasi pada Selasa memerintahkan Morsi diadili kembali atas tuduhan ambil bagian dalam pembobolan penjara dan kekerasan terhadap polisi selama pemberontakan tahun 2011, kata seorang pejabat pengadilan.

Lima terdakwa, termasuk pemimpin tertinggi Ikhwanul, Mohamed Badie, yang juga menerima hukuman mati dalam kasus yang sama, akan diadili kembali juga.

Hampir 100 orang lain yang diadili in absentia tidak terpengaruh oleh putusan banding.

“Putusan awal tersebut menandai kelemahan peradilan sehingga kita mengharapkan keputusan dari Pengadilan Kasasi ini,” kata Abdel Maqsud.

Bulan lalu, pengadilan banding yang sama menunda putusan 20 tahun penjara yang dijatuhkan terhadap Mursi pada bulan April di pengadilan terpisah atas tuduhan memerintahkan penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran saat berkuasa.

Mursi juga telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dalam dua pengadilan lainnya. Tim kuasa hukumnya telah mengajukan banding atas kedua putusan pengadilan tersebut.

Pengadilan Kasasi akan mengeluarkan putusan pada Selasa pekan depan terhadap banding hukuman seumur hidup atas tuduhan menjadi mata-mata untuk Iran, kelompok militan Syiah Lebanon Hizbullah dan gerakan Palestina Hamas.

Dan pengadilan yang sama mulai 27 November akan melaksanakan ulasan banding Mursi terhadap keputusan yang sama dalam kasus lain di mana ia dinyatakan bersalah mencuri dokumen yang berhubungan dengan keamanan nasional dan menyerahkan mereka ke Qatar, pendukung lama Ikhwanul.

Mursi ditahan di penjara Borg el-Arab dekat kota utara Alexandria.

Ratusan pendukungnya telah dijatuhi hukuman mati di pengadilan massal cepat yang telah dikutuk oleh PBB dan kelompok hak asasi manusia.

Beberapa keputusan telah dibatalkan oleh Pengadilan Kasasi setelah banding.

Pejuang Islam melancarkan pemberontakan yang menewaskan ratusan polisi dan tentara sejak penggulingan Mursi.

Seorang hakim di salah satu pengadilan Mursi awal bulan ini lolos tanpa cedera ketika sebuah bom mobil meledak di Kairo.

Dan pada bulan September, pejuang meledakkan sebuah bom mobil saat wakil jaksa negara Mesir lewat. Dia terluka.

Faksi Mujahidin Suriah Kembali Kuasai Timur Ghouta dari Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Senin Jaysh al Islam meluncurkan serangan balasan melawan pasukan rezim Syiah Assad dan milisi sekutu Syiah Internasional di garis depan “Rayhan” di Ghouta timur, di mana mujahidin mampu merebut kembali wilayah yang hilang di sana dan menimbulkan banyak kematian di pihak pasukan rezim Assad, ElDorar AlShamia melaporkan, Selasa (15/11/2016).

Pasukan rezim Assad kemarin menguasai sejumlah wilayah di daerah Rayhan dalam serangan besar-besaran di garis depan “Rayhan” dan penjara pusat di Damaskus, tetapi Jaysh al-Islam, menurut pengumuman telah mampu mendapatkan kembali wilayah-wilayah tersebut setelah beberapa jam kemudian.

Serangan itu menewaskan lebih dari 13 pasukan al-Assad dan milisi sekutu, tapi mereka hanya bisa menarik empat mayat, tidak semuanya.

Timur Ghouta pada umumnya dan Rayhan khususnya terkena serangan sengit dan perang yang diluncurkan oleh pasukan Syiah Assad dan milisi sekutu selama lima bulan; di mana mereka menyerang hampir setiap hari meskipun mereka mendapatkan kerugian terus menerus.

faksi-mujahidin-suriah-kembali-kuasai-timur-ghouta-dari-pasukan-assad2

Pembangunan 9 Masjid di Gaza oleh Turki telah Selesai dan Siap Digunakan

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Yayasan Kepresidenan Urusan Agama (Religious Affairs Presidency Foundation) Turki telah membangun kembali sembilan Masjid yang hancur selama serangan militer Israel tahun 2014 di Jalur Gaza yang diblokade, pernyataan resmi mengatakan pada hari Selasa (15/11/2016), lansir Anadolu Agency.

Direktorat Urusan Agama mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa Masjid-masjid di Gaza sekarang siap untuk digunakan oleh kaum Muslimin.

Masjid-masjid, yang memiliki kapasitas ruangan untuk ribuan jamaah, akan dibuka secara resmi bulan depan, pernyataan tersebut menambahkan.

Yayasan Turki tersebut mengumumkan proyek rekonstruksi tahun lalu, mengatakan total biaya akan berjumlah sebesar $ 4,5 juta.

Menurut Departemen Wakaf Keagamaan Palestina, 64 masjid telah hancur dan 150 lainnya rusak sebagian selama serangan biadab militer zionis yahudi yang menghancurkan pada tahun 2014. Tentara zionis telah membombardir Jalur Gaza selama tujuh minggu – melalui udara, darat dan laut – dengan alasan yang dibuat-buat yaitu menangkis serangan roket Hamas.

Selain menewaskan lebih dari 2.150 warga sipil Palestina dan melukai ribuan lainnya, serangan juga meruntuhkan petak-petak infrastruktur penting Gaza, yang sebagian besar belum dibangun kembali.