#SaveAleppo, Ribuan Umat Islam Solo Turun ke Jalan Kecam Bashar Asad

SOLO (Jurnalislam.com) – Gelombang kecaman untuk rezim Syiah Nushairiyah Suriah bersama koalisi Rusia dan Iran mulai menyeruak. Sebab, mereka telah menghabisi umat Islam di Aleppo, Suriah hingga kini.

Menanggapi itu, ribuan umat Islam Solo berunjuk rasa, mengecam tindakan brutal dan tidak manusiawi itu di Bundaran Gladak, Solo, Jumat (16/12/2016).

“Di Aleppo telah terjadi pemerkosaan oleh milisi milisi Syiah terhadap muslimah yang tertangkap,” ungkap orator aksi, Ali Badres.

Sementara orator lain, Tengku Azhar menegaskan, Aleppo bukan hanya milik penduduk Syam (Suriah -red). Tetapi milik umat Islam.

“Syam adalah bumi yang di berkahi oleh Alloh. Di sana akan terjadi peperangan besar di akhir zaman nanti,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ia mengimbau umat Islam untuk terus memberitakan apa yang terjadi di Aleppo di berbagai kesempatan, khususnya di Media Sosial.

Selain berunjuk rasa, ribuan massa dari berbagai ormas itu melakukan penggalangan dana untuk muslim Aleppo yang sedang tertindas. Acara ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Dewan Syuro Kota Surakarta (DSKS).

Reporter: Ridho/Ary

Konvoi ke-3 Rombongan Pengungsi Aleppo Tiba di Benteng Mujahidin di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Konvoi ketiga pengungsi warga sipil Aleppo timur telah mencapai banteng mujahidin di Idlib, seorang wartawan Anadolu Agency di tempat menyaksikan pada hari Jumat (16/12/2016).

Sedikitnya 7.500 warga sipil sejauh ini meninggalkan Aleppo timur telah tiba di Idlib, pejabat dari faksi oposisi bersenjata Suriah mengatakan.

Upaya Turki terus berlanjut bagi masyarakat sipil Aleppo selama proses evakuasi. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu Kamis mengatakan dua konvoi bus yang membawa warga sipil juga telah berhasil mencapai daerah yang dikuasai para pejuang dan oposisi di Aleppo Barat.

Menurut kesepakatan antara rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo Timur akan terus menuju ke arah Idlib, yang terletak dekat perbatasan dengan Turki.

Kronologis Pembebasan Pengungsi Aleppo yang Disandera Milisi Syiah

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Teroris Syiah pro-rezim Assad pada Jumat malam akhirnya membebaskan ratusan sandera sipil setelah sempat menahan mereka selama evakuasi dari Aleppo berlangsung.

Empat belas sandera dilaporkan dibunuh oleh para penyandera.

Sementara itu konvoi warga sipil dilaporkan berbalik kembali ke wilayah Aleppo timur yang dikepung.

Jumat sebelumnya, evakuasi warga sipil dari Aleppo sempat dihentikan setelah kelompok milisi asing pro-rezim menghadang konvoi sipil setelah mereka meninggalkan distrik timur Aleppo yang dikepung menuju kota terdekat Idlib.

Menurut koresponden Anadolu Agency di Aleppo, Jumat (16/12/2016) teroris syiah pro-rezim ini menembaki konvoi bus menuju Idlib, yang membawa sekitar 800 warga sipil dari kota Aleppo.

Para milisi memaksa kendaraan untuk berhenti di Ramouseh di pinggiran barat daya Aleppo yang dikuasai rezim Syiah Assad dan mengambil semua penumpang sebagai sandera, koresponden melaporkan.

Beberapa jam kemudian, milisi Syiah pro-rezim membebaskan sandera setelah dilaporkan menewaskan 14 dari mereka.

Menurut ketentuan perjanjian sebelumnya antara rezim Assad dan kelompok oposisi Suriah, warga sipil yang terperangkap di Aleppo Timur akan diizinkan untuk pergi ke kota Idlib yang sebelumnya dikuasai oposisi.

Berada di dekat perbatasan dengan Turki, Idlib terletak sekitar 65 kilometer (sekitar 40 mil) dari Aleppo.

Dalam beberapa hari terakhir, sedikitnya 7.500 warga sipil telah meninggalkan Aleppo timur menuju Idlib, menurut sumber-sumber oposisi.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Assad menumpas protes unjukrasa dengan keganasan militer tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, menyebutkan korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah lebih dari 470.000 orang.

 

60 Lebih Korban Aleppo Tiba di Rumah Sakit Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Lebih dari 60 orang yang terluka dari kota Aleppo yang kritis akibat serangan brutal rezim Assad dan Rusia kini sedang dirawat di rumah sakit Turki, kepala Bulan Sabit Merah Turki (the Turkish Red Crescent) mengkonfirmasi pada hari Jumat (16/12/2016), lansir Anadolu Agency.

Di Twitter, Kerem Kinik mengatakan, “Lebih dari 60 orang terluka telah dibawa ke rumah sakit Turki dari Aleppo yang terkepung sejauh ini,” tapi tidak memberikan jumlah pasti.

Menteri Kesehatan Turki Recep Akdag juga mengatakan kepada televisi Turki Kanal 24 tentang langkah-langkah yang diambil di perbatasan Suriah Border Gate Cilvegozu, bahwa, “Kami menyiapkan tiga rumah sakit lapangan. Kami memiliki 13 ambulans dengan staf dan tiga tim penyelamat medis di sana.

“Sekitar 50 personil akan menyambut yang terluka dan mengambil tindakan segera. Semuanya sudah siap menerima para korban untuk dirawat ke provinsi Hatay, Adana, dan Mersin yang terletak paling dekat.”

Akdag menambahkan bahwa lebih dari 800 tempat tidur di seluruh negeri telah dicadangkan berjaga-jaga jika korban yang terluka tiba-tiba masuk dari Suriah.

Dia mengatakan telah menulis surat mendesak Organisasi Kesehatan Dunia PBB (the World Health Organization-WHO) untuk terlibat langsung. “Ada krisis kesehatan utama. Ini bukan hanya korban yang terluka. Anak-anak tidak diberi makan. Tidak ada yang mendapatkan vaksinasi. Kami melihat epidemi.”

Secara terpisah, Hasan Aydinlik, kepala Layanan Darurat Turki, mengatakan kepada wartawan di distrik Reyhanli Hatay, “Dari 55 koran terluka yang dibawa ke Turki, satu meninggal karena cedera, dan satu bayi berusia dua tahun dan empat orang lainnya masih dalam kondisi kritis.”

 

Begini Kesiapan Turki Menyambut Pengungsi Aleppo di Idlib dan Sekitarnya

Hatay (Jurnalislam.com) – Turki menyiapkan 10.000 tenda bagi pengungsi Aleppo di kamp-kamp di kota Idlib Suriah, presiden Bulan Sabit Merah Turki (the Turkish Red Crescent) mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Jumat (16/12/2016).

Kerem Kinik mengatakan badan amal Turki telah mulai membangun kota tenda menggunakan alat berat konstruksi sekitar 6 sampai 7 kilometer (sekitar 4 mil) dari perbatasan Turki dekat provinsi Hatay selatan.

Kinik mengatakan kota tenda akan dibangun secepatnya.

Bulan Sabit Merah Turki juga bersiap untuk meningkatkan kapasitas kamp-kamp pengungsi saat laporan awal menginformasikan bahwa jumlah orang yang dievakuasi dari Aleppo bisa mencapai hingga 50.000, tambahnya.

Dia mengatakan kamp dekat perbatasan Turki akan menjadi tuan rumah tempat istirahat, sekolah, pusat kesehatan, toilet mobile dan fasilitas mandi.

“Tahap pertama kamp akan selesai dalam waktu tiga sampai empat hari,” tambah Kinik.

Kekerasan meningkat di kota pada hari Senin ketika pasukan rezim Syiah Assad bersama milisi Syiah dukungan Iran maju ke wilayah Aleppo timur yang dikuasai oposisi setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara terus-menerus secara brutal ke pemukiman dan fasilitas-fasilitas umum.

Rezim yang juga didukung penuh oleh militer Rusia telah berusaha merebut atas wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikendalikan oleh faksi-faksi jihad dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes unjuk rasa dengan keganasan militer rezim yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas oleh konflik dan jutaan lebih lainnya mengungsi.

Sebelum Gencatan Senjata Jabhat Fath Al Syam Sempat Kuasai Komplek 1070

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Ini adalah apa yang terjadi kemarin malam, Jabhat Fath Al Syam (JFS) melakukan operasi syahid dari luar Aleppo menargetkan wilayah 1070 dan bukit-bukit sekitarnya, warNPolitics Channel melaporkan, Kamis (15/12/2016).

JFS juga melakukan serangan syahid di sekolah Hikma dan sekitarnya dan menguasai sebagian besar wilayah komplek 1070 dan menewaskan puluhan milisi Syiah.

JFS menghentikan serangan ketika mereka menerima laporan yang menegaskan bahwa rezim Assad telah memberikan jalan penduduk Aleppo timur untuk mengungsi setelah rezim Assad beberapa kali menggagalkan rencana evakuasi sebelumnya.

Semua pihak dituntut untuk menghentikan serangan secara mendadak. Turki dan Rusia buat perjanjian untuk melaksanakan kesepakatan tanpa syarat tambahan dari Iran.

Wakil PM Turki: Rombongan Pertama dan Kedua Pengungsi Aleppo Capai Zona Aman

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pada hari Kamis, rombongan pengungsi kelompok pertama dan kedua yang dievakuasi dari Aleppo telah mencapai zona aman yang dikuasai oposisi di Suriah, menurut Wakil Perdana Menteri Turki Veysi Kaynak, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Konvoi kedua rombongan warga sipil Aleppo dari timur telah mencapai wilayah yang dikuasai oposisi, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan.

“Upaya kami terus untuk Aleppo, 16 bus yang membawa warga sipil mencapai daerah di bawah kendali oposisi di barat Aleppo, “kata Cavusoglu.

Dia juga menyebutkan tentang konvoi ketiga dari Aleppo timur.

“Bus telah kembali ke Aleppo untuk konvoi ke 3, pengungsi akan mendapatkan bus sekarang. Upaya kami terus dan kami sangat ketat mengikuti perkembangan, “katanya dalam akun tweet pribadinya.

“1.198 warga sipil (577 laki-laki, 320 perempuan, 301 anak-anak) yang berangkat dari Timur Aleppo mencapai area di bawah kendali oposisi di barat Aleppo,” tambahnya.

Kekerasan meningkat di kota Aleppo pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke bagian timur kota yang dikuasai oposisi setelah pengepungan rezim selama lima bulan dan pemboman udara brutal dan terus-menerus.

Sekitar 80.000 warga sipil diyakini terperangkap di beberapa daerah.

Rezim Syiah Nushairiyah Assad yang didukung Rusia telah berusaha merebut wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan Musim Semi Arab – dengan keganasan militer Assad tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan jutaan lebih lainnya mengungsi.

 

Liga Arab Dukung PBB Gelar Pertemuan Darurat Luar Biasa Bahas Aleppo

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab telah mengumumkan dukungannya bagi upaya untuk mengadakan “pertemuan darurat” Majelis Umum PBB atas Aleppo.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency, Kamis (15/12/2016), bahwa dukungan itu dibuat selama sidang darurat wakil tetap Liga Arab di Kairo. Liga Arab mengecam pembantaian oleh rezim Suriah Assad dan sekutunya karena melancarkan operasi militer brutal terhadap kota Aleppo dan warga sipilnya.

Baru-baru ini, Turki, Arab Saudi, UEA dan Qatar menyerukan diselenggarakannya sidang darurat luar biasa Majelis Umum PBB untuk membahas situasi di Suriah.

Dalam resolusi, Liga Arab menyerukan masyarakat internasional untuk menekan rezim Suriah dan berupaya membuka koridor yang aman bagi warga sipil yang terperangkap di Aleppo.

Sementara itu, delegasi Lebanon mengatakan, menurut pernyataan itu, bahwa mereka menjauhkan dukungan untuk rancangan resolusi tentang situasi di Aleppo, sejalan dengan Libanon kebijakan “ fence-sitting (duduk di pagar)” terhadap konflik dan kebijakan non-interferensi dalam urusan internal negara-negara lain.

Sementara dibalik pernyataan delegasi, dilaporkan bahwa milisi Syiah Hizbullah Lebanon salah satu paramiliter pendukung rezim Suriah Bashar Assad.

 

Kedutaan Rusia dan Iran Diprotes Pengunjuk Rasa Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ratusan protes meruak pada hari Kamis di depan kedutaan Iran dan Rusia di Ankara atas pelanggaran mereka terhadap gencatan senjata di Aleppo, Anadolu Agency melaporkan Kamis (15/12/2016).

Para pengunjuk rasa dari Human Rights and Service Association, Faith Freedom Platform, dan anggota serikat buruh Turki meneriakkan slogan-slogan mengutuk PBB dan negara-negara yang hanya tinggal diam dalam menghadapi tragedi kemanusiaan di Aleppo.

“Pembantaian di Aleppo dan theater di PBB,” kelompok meneriakkan.

Serkan Codal, juru bicara pengunjuk rasa, mengatakan bahwa Suriah “sedang mengalami pembantaian.”

“Hampir 1 juta orang tewas di Suriah, dan kami berdiri bersama orang-orang yang sekarang sedang disiksa,” katanya.

Secara terpisah, pengunjuk rasa di Ukraina berkumpul di depan Kedutaan Besar Rusia di Kiev atas pelanggaran gencatan senjata Rusia dan tuduhan kejahatan perang terhadap penduduk sipil di kota Aleppo Suriah.

Kelompok itu mengatakan bahwa Rusia dan pasukan rezim “harus segera berhenti menyerang penduduk sipil.”

Kekerasan meningkat di kota pada hari Senin ketika pasukan rezim Suriah maju ke wilayah Aleppo timur yang dipegang oposisi setelah pengepungan selama lima bulan dan pemboman udara terus-menerus. Rezim yang didukung Rusia telah berusaha membangun kembali kontrol atas wilayah Aleppo yang empat tahun lalu dikuasai oleh kelompok-kelompok oposisi bersenjata.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011 ketika rezim Syiah Assad menindak protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakanMusim Semi Arab – dengan keganasan militer tak terduga. Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas akibat konflik dan lebih dari jutaan lainnya mengungsi.

Iran: Setelah Aleppo, Kita akan Bantai Bahrain dan Yaman

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Para pemimpin Syiah, Garda Revolusi Iran meluncurkan pernyataan provokatif terhadap negara-negara Teluk yang mengancam untuk campur tangan di Bahrain dan Yaman, Al Arabiya News Agency melaporkan Jumat (16/12/2016)

Komentar tersebut disiarkan oleh media Iran setelah mereka menganggap telah mencapai “kemenangan di Aleppo,” dengan melakukan pembantaian, menciptakan kelaparan dan menyebabkan warga sipil mengungsi. Aleppo sebelumnya dianggap sebagai salah satu benteng mujahidin; Namun, rezim Suriah merebutnya dengan bantuan dan dukungan dari pasukan militer Iran dan Rusia.

Dalam konteks ini, wakil komandan Pengawal Revolusi Iran Jenderal Hossein Salami mengatakan kepada kantor berita resmi Iran Republic News Agency bahwa, “Kemenangan di Aleppo akan membuka jalan bagi pembebasan Bahrain,” menunjukkan bahwa Iran memiliki proyek ekspansi yang akan meluas ke Bahrain, Yaman dan Mosul setelah jatuhnya kota Aleppo Suriah.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Salami mengatakan bahwa, “Rakyat Bahrain akan mendapatkan keinginan mereka, orang-orang Yaman akan senang, dan penduduk Mosul akan mencicipi kemenangan, ini semua janji-janji Tuhan,” seperti yang ia katakan.

Dia juga menunjukkan bahwa Iran masih memberikan dukungan tak terbatas untuk kelompok pemberontak Syiah Houthi, menyoroti bahwa rudal Iran bisa menghancurkan target musuh di daerah manapun.

Salami menggambarkan kendali pasukan rezim Suriah di kota Aleppo Suriah, yang telah merenggut nyawa ratusan warga sipil sebagai “penaklukan.”

Komentar-komentar dari juru bicara Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Ramadan Sharif mengungkapkan niat Teheran untuk memperluas geografis melalui perang berdarah dan intervensi militer di Dunia Arab.

Sharif mencatat bahwa pasukan Iran dan milisi Syiah dari Irak, Afghanistan, Pakistan dan Syiah Hizbullah dengan dukungan Rusia memainkan peran yang menentukan dan sangat berpengaruh dalam pertempuran Aleppo.

Perlu dicatat bahwa permusuhan Iran melawan Bahrain dan negara-negara Teluk telah meningkat sejak Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bersumpah bahwa negaranya mendukung negara-negara Teluk dalam menghadapi terorisme Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris di Teheran sebagai protes terhadap pernyataan Theresa May selama pidatonya pada 7 Desember di KTT Gulf Cooperation Council, di mana dia menyatakan: “Kita harus bekerja sama untuk mengatasi permusuhan daerah oleh Iran apakah itu di Lebanon, Irak, Yaman, Suriah, atau di Teluk itu sendiri.”