Faksi Perlawanan Suriah Bunuh 15 Pasukan Assad di Hama

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi Perlawanan Suriah (Syrian Resistance) berhasil membunuh 15 pasukan rezim Assad di pedesaan Hama dalam dua ledakan selama dua puluh empat jam sebelumnya, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (19/12/2016).

Sumber militer mengumumkan pembunuhan sepuluh tentara Assad, termasuk seorang perwira pada hari Ahad, di pos pemeriksaan”al-Dahra” di sebelah barat kota Ma’an di pedesaan timur Hama selain kehancuran tangki dan senapan mesin, saat mereka mampu membunuh lima tentara Nushairiyah lainnya kemarin malam di “Soran” di utara pedesaan Hama.

Pasukan rezim Syiah Assad telah kembali menguasai Soran dan daerah lain di pedesaan Utara Hama setelah sebelumnya dibebasankan oleh faksi perlawanan Suriah sejak sekitar lima puluh hari.

 

Pesawat Pembawa Pasukan Rusia Jatuh, 16 Pasukan Kritis?

RUSIA (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat yang membawa tentara Rusia jatuh Senin pagi, 16 menderita luka parah, kata kementerian pertahanan, yang dikutip kantor-kantor berita Rusia, lansir World Bulletin, Senin (19/12/2016).

Semua orang selamat tapi 16 kritis, lembaga RIA Novosti melaporkan, mengutip kementerian pertahanan, menambahkan sedikitnya 20 dari mereka memerlukan rawat inap.

Tidak segera jelas apakah pesawat itu milik militer atau bukan.

Sebuah sumber di kementerian pertahanan mengatakan kepada Interfax bahwa pesawat itu tidak memberikan sinyal bahaya dan bahwa penerbangan berlangsung dalam kondisi cuaca buruk yang bisa menyebabkan pesawat membeku.

 

Konvoi 46 Bis Pengungsi Tiba di Pinggiran Barat Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Empat puluh enam bus yang membawa warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo tiba di pedesaan barat Aleppo pada hari Senin, menurut sumber-sumber oposisi lokal.

Sumber tersebut mengatakan pengungsi dari wilayah Aleppo timur yang dikuasai oposisi telah tiba di distrik Al-Rashdeen di pinggiran barat kota dalam konvoi 46 bus, lansir Anadolu Agency Senin (19/12/2016).

Sepuluh bus lain yang membawa warga sipil juga berangkat dari kota Al-Fuah dan Kefraya, sumber yang sama menambahkan, meminta anonimitas karena kekhawatiran akan keselamatan mereka.

Proses evakuasi dilanjutkan Senin di bawah kesepakatan sebelumnya yang ditengahi oleh Turki dan Rusia dimana sekitar 20.000 warga sipil dan pejuang harus dievakuasi dari Aleppo timur pada hari Senin dan Selasa.

Evakuasi warga sipil juga direncanakan di kota Madaya dan al-Zabadani – yang melibatkan sekitar 1.500 orang – serta dari Al-Fuah dan Kefraya, yang memiliki populasi berjumlah 15.000.

Pekan lalu, pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan rezim Assad untuk memungkinkan warga sipil dievakuasi dari kota.

Karena proses evakuasi dimulai Kamis lalu, sekitar 14.000 orang telah berangkat dari Aleppo menuju provinsi terdekat Idlib di dekat perbatasan Turki, menurut sumber lokal yang berbicara kepada Anadolu Agency.

Koresponden Anadolu Agency di Idlib mengatakan 10 bus yang membawa warga sipil dari Al-Fuah dan Kefraya telah tiba dengan aman di pinggiran barat Aleppo sejak dimulainya kembali proses evakuasi.

Pada hari Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas evakuasi warga sipil dari Aleppo yang sedang berlangsung melalui telepon, menurut sumber presiden Turki.

Proses evakuasi sementara ditunda pada hari Jumat setelah kelompok teroris Syiah internasional pro-rezim menyerang konvoi sipil yang meninggalkan kota, menewaskan sejumlah pengungsi.

Sambut Puluhan Ribu Warga Aleppo, Turki Persiapkan 18 Kamp Pengungsi di Sepanjang Perbatasan

TURKI (Jurnalislam.com) – Sumber media Turki melaporkan bahwa Turki telah memulai pembangunan tenda untuk mengakomodasi kelompok yang paling rentan, untuk membantu warga Suriah yang telah dievakuasi dari kota Aleppo, ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (18/12/2016).

Sumber mencatat bahwa Turki membangun sebuah kamp di kota Rihaniyya, negara bagian Hatay yang dapat menampung hingga seribu orang, sambil terus bekerja membangun 18 kamp di dekat lintas batas Bab al-Hawa yang dapat menampung puluhan ribu warga sipil Aleppo, dan menjelaskan bahwa tiga tempat sedang diidentifikasi dalam rangka membangun tempat penampungan sementara, dikoordinasikan oleh Departemen bencana dan darurat Turki, dalam rangka menerima warga sipil yang terperangkap di Aleppo.

Dikatakan bahwa sekitar 85 ribu warga sipil sebelumnya terdampar di kota Aleppo yang terkepung oleh rezim al-Assad di lingkungan timur. Sekitar delapan ribu dari mereka telah dievakuasi meninggalkan sekitar 70 ribu lainnya menunggu penyelesaian proses evakuasi.

Gencatan Senjata Diperpanjang, Evakuasi di Aleppo Timur Berlanjut

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Evakuasi di Aleppo timur dilanjutkan Senin pagi dengan 500 orang tiba di daerah yang dikuasai oposisi di barat kota, menurut sumber-sumber lokal, lansir Anadolu Agency Ahad (18/12/2016).

Pasukan rezim Syiah Suriah dan oposisi menerapkan kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan Rusia awal bulan ini.

Kesepakatan ini menuntut evakuasi 20.000 warga sipil dan pejuang dari Aleppo timur, yang waktu evakuasinya diperpanjang pada Senin, dan sisanya pada hari Selasa.

Akan ada evakuasi di kota-kota Madaya dan al-Zabadani – yang melibatkan 1.500 orang – serta di kota-kota yang dikuasai Syiah di al-Fu’ah dan Kefraya, yang memiliki populasi gabungan sejumlah 15.000 warga.

Pada hari Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas evakuasi warga sipil di kota Aleppo Suriah yang dilanda perang di telepon, menurut sumber presiden.

Awal pekan ini, pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan rezim Bashar al-Assad untuk mengevakuasi warga sipil dari kota.

Sejak itu, sedikitnya 7.500 warga sipil telah meninggalkan Aleppo menuju banteng mujahidin di Idlib – yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki – menurut pejabat kelompok oposisi Suriah.

Laporan kekerasan terhadap warga sipil di Aleppo beberapa pekan terakhir semakin intensif yang dilakukan oleh milisi Syiah gabungan yang di dukung Iran.

PBB dan negara-negara Barat menyerukan Moskow dan Damaskus untuk memungkinkan evakuasi yang aman bagi warga sipil dan pejuang oposisi yang mau bekerja sama saat pasukan Rusia dan rezim Suriah membombardir warga sipil secara brutal dan mengepung kota.

Laporan Lengkap Serangan Bersenjata di Bekas Benteng Tentara Salib Yordania, 10 Tewas

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Sekelompok orang bersenjata telah membunuh 10 orang, termasuk petugas polisi dan seorang turis Kanada, di Yordania selatan di mana pasukan keamanan dilaporkan telah menembak empat penyerang tak dikenal.

Sebagaimana yang dilansir Aljazeera, Ahad (18/12/2016), seorang juru bicara pemerintah mengatakan kepada media berita Yordania pada hari Ahad malam bahwa operasi keamanan di Karak, sebuah kota 120 km di selatan ibukota Amman, telah berakhir.

Departemen keamanan umum Jordan mengatakan tujuh polisi, seorang turis wanita Kanada dan dua warga sipil lokal tewas dalam serangkaian penembakan.

Dikatakan bahwa selain korban tewas, 27 orang lain, termasuk petugas polisi dan warga sipil, terluka dalam serangan itu.

Pemerintah Kanada mengkonfirmasi kematian salah seorang warga negaranya.

Sebuah pernyataan polisi terpisah mengatakan bahwa, “Sejumlah penjahat yang melakukan kejahatannya sore ini telah dibunuh,” dan bahwa pasukan keamanan menyisir benteng era Tentara Salib di kota itu untuk menangkap penyerang lainnya.

Serangan pertama terjadi ketika patroli polisi pergi untuk memeriksa api yang membakar sebuah rumah di Karak, kata departemen keamanan umum.

“Begitu mereka sampai di daerah tersebut, orang-orang bersenjata tak dikenal yang berada di dalam rumah menembaki patroli, melukai seorang polisi, dan kemudian melarikan diri dengan mobil,” katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Petra.

“Tak lama setelah itu, orang-orang bersenjata menembaki patroli lain tanpa menimbulkan korban.

Pada saat yang sama, penyerang dalam benteng, situs tujuan wisata terkenal, menembaki kantor polisi Karak, “melukai beberapa polisi dan orang yang lewat” yang dilarikan ke rumah sakit.

“Pasukan Polisi dan keamanan … mengelilingi benteng dan sekitarnya dan melancarkan operasi untuk memburu orang-orang bersenjata,” kata pernyataan itu.

Sebuah sumber keamanan senior mengatakan beberapa orang terjebak di lantai bawah benteng ketika penyerang berlindung di sana, tetapi membantah laporan media bahwa mereka disandera.

“Tidak ada sandera. Tetapi beberapa orang yang berada di lantai bawah takut meninggalkan lokasi saat orang bersenjata dan pasukan keamanan saling melepaskan tembakan,” kata sumber yang tidak ingin diidentifikasi.

Dia mengatakan bahwa para penyerang berada di tingkat (lantai) yang lebih tinggi di dalam benteng.

Dewan Pariwisata Jordan menggambarkan benteng Karak, yang dibangun di abad ke-12 dan telah menjadi lokasi pertahanan dari pengepungan, sebagai “labirin ruang batu melengkung dengan lorong-lorong tak berujung”.

Pernyataan Departemen Keamanan Umum mengatakan “lima atau enam orang bersenjata” diduga terlibat dalam penembakan.

Namun, Hani al-Mulki, Perdana Menteri Yordania, yang menangani parlemen pada saat penembakan, mengatakan bahwa “pasukan khusus dan polisi mengelilingi 10 orang bersenjata yang bersembunyi di dalam benteng Karak”.

Tidak segera jelas siapa yang berada di balik penembakan.

Lagi Antri Ambil Gaji Dibom, 43 Tentara Pro Yaman Anti Syiah Houthi Tewas

ADEN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 43 tentara pro Yaman yang memerangi pemberontak Syiah Houthi tewas dalam serangan bom sabuk yang diklaim oleh kelompok Islamic State (IS) di kota Aden di selatan Yaman pada hari Ahad (18/12/2016).

Seorang pembom meledakkan dirinya di tengah kerumunan tentara yang berkumpul untuk mengambil gaji mereka di pangkalan al-Solban di timur laut Aden, lansir Anadolu Agency

Serangan itu menewaskan 43 tentara dan melukai puluhan lainnya, sumber medis Yaman mengatakan pada kondisi anonimitas karena ia tidak berwenang berbicara kepada media.

IS dengan cepat mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Dalam sebuah pernyataan yang beredar di media sosial, IS mengatakan anggota kelompok mereka telah meledakkan rompi peledak di sebuah pertemuan tentara di Aden, menewaskan 70 dari mereka.

Pekan lalu, IS mengklaim pemboman sabuk di kota selatan, yang menewaskan lebih dari 50 tentara pro Yaman.

Aden saat ini menjadi kursi sementara pemerintah Yaman, yang terpaksa berpindah dari Sana’a pada akhir 2014 setelah pemberontak Houthi Syiah Houthi menyerbu ibukota dan provinsi lainnya.

Tahun lalu, Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan operasi udara besar-besaran di Yaman bertujuan membalikkan keuntungan militer Houthi dan memulihkan pemerintah yang diperangi.

Dua putaran pembicaraan damai yang didukung PBB gagal untuk menyelesaikan konflik yang berkecamuk, di mana ribuan warga Yaman diyakini telah tewas dan sekitar 2,5 juta lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Pengumuman Resmi Pemimpin Libya: IS telah Berakhir di Negeri Ini

LIBYA (Jurnalislam.com) – Pemimpin pemerintah persatuan Libya, Fayez al-Sarraj, pada hari Sabtu secara resmi mengumumkan berakhirnya operasi militer di Sirte, setelah terbebas dari kelompok Islamic State (IS) di wilayah penting yang terakhir mereka kuasai di negara itu. Namun Perdana menteri terpilih Sarraj memperingatkan bahwa pertempuran melawan militan lainnya belum berakhir.

Delapan bulan setelah dimulainya operasi terhadap IS di kota pesisir Sirte “Saya resmi mengumumkan akhir dari operasi militer dan pembebasan kota”, Sarraj mengatakan dalam pidato televisi dua pekan setelah pengumuman bahwa daerah telah dikontrol oleh pasukan yang setia kepada pemerintah, lansir Al Arabiya News Channel, Ahad (18/12/2016).

Perebutan Sirte, yang pertama kali diumumkan pada tanggal 5 Desember, meningkatkan kewenangan Sarraj di Pemerintahan Accord Nasional (Government of National Accord-GNA) yang didukung PBB dan diluncurkan di Tripoli pada Maret. Tapi legitimasi GNA ditentang oleh pemerintahan saingan yang berbasis di Libya timur.

Izzuddin al Qassam Bersumpah akan Balas Kematian Insinyur Drone Hamas pada Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas mengatakan Israel membunuh seorang insinyur penerbangan mereka di Tunisia pekan ini dan bersumpah untuk membalas kematiannya, World Bulletin melaporkan, Ahad (18/12/2016).

Mohamed al-Zawari ditembak mati di luar rumahnya di tenggara kota Sfax, Kamis.

Brigade Izzuddin al Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengatakan bahwa al-Zawari adalah salah satu komandan dan merupakan pengawas Program drone kelompok Hamas.

“Pembunuhan al-Zawari adalah serangan terhadap perlawanan dan Brigade Qassam,” kata kelompok itu, “dan kami bersumpah untuk membalasnya,” lanjutnya.

“Qassam berkabung dengan para syuhada Palestina, syuhada Tunisia, syuhada negara-negara Arab dan Islam dan syuhada dari Brigade Qassam, Mohamed al-Zawari,” kata Brigade Qassam dalam sebuah pernyataan hari Sabtu.

Al-Zawari dikatakan telah bekerja dengan perlawanan selama satu dekade.

“Pembunuhan syuhada al-Zawari adalah pengingat bagi semua negara Arab dan Muslim bahwa musuh Zionis dan agen-agennya berkeliaran bebas di kawasan, memainkan peran kotor mereka,” kata pernyataan itu.

Pihak berwenang Tunisia mengatakan lima tersangka telah ditahan karena dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Al-Zawari telah kembali ke Tunisia pada 2011 setelah menghabiskan dua dekade di luar negeri.

“Dia meninggalkan Tunisia pada tahun 1991 ke Libya sebelum pindah ke Sudan dan Suriah,” kata wartawan Tunisia Borhane Besais kepada Anadolu Agency.

“Di Suriah, ia bekerja sama dengan sayap bersenjata Hamas … mengembangkan program drone-nya,” katanya.

Hamas tidak menjabarkan bukti untuk laporan terhadap Israel, tapi negara Yahudi itu diyakini telah membunuh anggota kelompok Hamas di luar negeri di masa lalu.

Pada tahun 1997, anggota agen mata-mata Israel Mossad mencoba membunuh pemimpin politik Hamas Khaled Meshaal di Yordania dengan menyemprotkan racun ke telinganya.

Mossad juga diyakini berada di balik pembunuhan komandan Hamas Mahmud al-Mabhuh di sebuah hotel Dubai pada tahun 2010.

 

217 Target IS di Suriah Terkena Serangan

ANKARA (Jurnalislam.com) – 217 target kelompok Islamic State (IS) terkena serangan pada hari Ahad di Suriah utara sebagai bagian dari Operasi Perisai Efrat (the Euphrates Shield), Anadolu Agency meloporkan Ahad (18/12/2016).

Angkatan Bersenjata Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 160 target telah “dilumpuhkan” oleh kendaraan pendukung serangan selama operasi.

Selain itu, 57 target, termasuk persenjataan, dihancurkan oleh pesawat-pesawat tempur Turki di al-Bab, Bzagah, Zammar, Suflaniyyah dan wilayah Kabr al Mukri.

Operasi Perisai Efrat yang dimulai pada akhir Agustus pada hari Selasa memasuki hari ke-117.

Operasi bertujuan untuk meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki dengan bekerja sama dengan pejuang Tentara Pembebasan Suriah yang didukung oleh persenjataan, artileri, dan pesawat jet Turki.