45 Milisi Syiah Houthi Tewas Saat Konvoi Militer di Taiz Dihajar Rudal Koalisi Arab

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 45 milisi Syiah Houthi tewas setelah rudal serangan udara koalisi Arab menargetkan konvoi militer mereka di dekat kota Burj, di barat Taiz.

Di antara mereka yang tewas adalah tokoh senior pemberontak Houthi Amin al-Humaidan selama serangan yang juga menghancurkan sejumlah senjata dan kendaraan milisi.

Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah koalisi Arab melaporkan bahwa mereka mencegat rudal balistik yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi ke arah pos tentara Yaman di provinsi al-Dhabbab di Taiz.

Sumber militer melaporkan bahwa rudal itu diluncurkan dari kamp Khaled dekat Taiz, lansir Al Arabiya News Channel, Sabtu (18/03/2017).

Sebagian besar provinsi Taiz dikendalikan oleh milisi Syiah Houthi, yang mengepung pasukan sekutu Presiden yang didukung PBB Abedrabbo Mansour Hadi yang bersembunyi di ibukota provinsi Taiz.

Di provinsi barat Hodeida, pesawat koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan serangkaian serangan di sebuah kamp pelatihan pemberontak Syiah pada Sabtu, meninggalkan “puluhan tewas dan terluka,” kata seorang pejabat militer.

Kamp yang terletak 70 kilometer (45 mil) di timur kota Hodeida, adalah rumah bagi rekrutan muda yang terdaftar dalam milisi Houthi. Dua pekan lalu Houthi memaksa setiap kabupaten di Hodeida untuk mengirim 30 orang pemuda mereka untuk menjalani wajib militer.

Kloter Pertama Pejuang Oposisi Suriah dan Warga Sipil Tinggalkan Homs

HOMS (Jurnalislam.com) – Rombongan pertama pejuang oposisi anti rezim Nushairiyah dan warga sipil meninggalkan kota Homs Suriah pada hari Sabtu (18/03/2017) di bawah kesepakatan yang didukung Turki – Rusia antara oposisi dan rezim Suriah, menurut sumber-sumber lokal.

Sekitar 1.500 pejuang dan warga sipil dengan 40 bus meninggalkan Waer, kabupaten terakhir yang dikuasai pejuang oposisi di Homs, menuju Jarabulus di Suriah utara, kata sumber-sumber dalam kondisi anonimitas karena pembatasan berbicara kepada media.

Kelompok pejuang dan warga sipil lainnya diharapkan untuk meninggalkan Waer dalam dua bulan ke depan.

Kabupaten Waer telah dikepung oleh pasukan rezim Syiah Assad dan milisi Syiah pendukung rezim selama empat tahun.

Lebih dari 20.000 orang telah mendaftar untuk meninggalkan Waer di bawah kesepakatan, yang berakhir pada 13 Maret.

Sedikitnya 12.000 orang akan dipindahkan ke provinsi Aleppo, 6.200 menuju Idlib dan 2.400 lainnya akan direlokasi ke Homs.

Berbicara kepada Anadolu Agency di provinsi tenggara Gaziantep pada Sabtu malam, Presiden Bulan Sabit Merah Turki Kerem Kinik mengatakan akan ada sekitar 50 penduduk yang menderita luka-luka, tiga dalam situasi kritis – di antara konvoi pertama.

“Kelompok pertama akan dibawa ke Jarabulus. Manajemen Bencana dan Darurat Kepresidenan Turki[Turkey’s Disaster and Emergency Management Presidency-AFAD] membangun tenda-tenda dan pusat berlindung di sana,” kata Kinik.

Dia juga menyebutkan bahwa Bulan Sabit Merah Turki menyiapkan makanan dan kebutuhan dasar bagi warga sipil, mengingat bahwa warga Suriah tersebut akan menempuh 7 jam perjalanan untuk mencapai Turki.

Kinik mengatakan ada daerah berisiko sepanjang 10 kilometer yang harus dilalui konvoi, “Kami berharap Tentara Pembebasan Suriah (FSA) – yang didukung Turki – dan rezim Suriah sama-sama mematuhi perjanjian, yang memungkinkan warga sipil melewati daerah tersebut dengan aman.”

Dinilai Janggal dan Sepihak, Ratusan Massa Umat Islam Gelar Unjuk Rasa di Kejari Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – Ratusan massa dari berbagai elemen umat Islam melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta, yang terletak di Jalan Kepatihan No. 1 Surakarta Jum’at (17/3/2017). Mereka menuntut Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta untuk memindahkan Ke 11 pengurus LUIS dan 1 wartawan panjimas.com ke LP Surakarta dan menggelar persidangan di kota Surakarta.

“Aksi yang kami lakukan siang ini menuntut keadilan bagi para pejuang Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sedang di zalimi oleh para penguasa terutama pihak Kejari Surakarta dan JPU kasus Social Kitchen,” Kata Korlap aksi, Achmad Sigit kepada jurniscom di sela-sela aksi.

Menurutnya, sesuai surat penetapan dari Pengadilan Negeri (PN) nomor 07/pen.pid/2017/PN.skt. menerangkan penambahan penahan bagi keduabelas tersangka selama 1 bulan terhitung sejak 5 maret dan penahan ditempatkan di LP Surakarta.

“Akan tetapi ketika kami dan keluarga membezuk ke sana tidak kami ketemukan,” ungkapnya.

Aksi yang juga dihadiri keluarga tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) ini mendapatkan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Mapolresta Surakarta. Aksi tersebut di isi dengan orasi dari para perwakilan elemen dan dari perwakilan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS).

Dalam orasinya, Suro Wijoyo, anggota divisi advokasi dan kelaskaran DSKS mempertanyakan keputusan dari kajari tentang tidak dilakasanakannya keputusan dari PN Surakarta. Ia menilai, alasan keamanan bukan menjadi pilihan untuk melakukan pemutusan sepihak ini.

“Domilisi kejadian di Solo lalu kenapa disidang di Semarang, kalian sudah dijamin keamanan oleh Kapolres, DSKS, MUI Solo tapi kenapa tidak mau dan tidak percaya dengan umat Islam. Pak Bambang (ketua kajari) dan stafnya lakukanlah keputusan dari pengadilan negeri Solo,” katanya mempertanyakan.

Sementara itu Sekjen DSKS, Ustaz Tengku Adzar menegaskan, alasan keamanan yang menjadikan tidak dipindahkannya para aktifis LUIS ini bentuk teror terhadap rakyat Solo. Ia menyatakan, selama ini umat Islam Solo selalu taat dan damai mengikuti prosedur hukum untuk mengawal para tersangka yang tersandung kasus Social Kitchen ini.

“Jika terbukti bahwa kejari tidak menjalankan keputusan dari PN Surakarta bahwa para tersangka kasus sosial kitchen seharusnya 5 Maret sudah dipenjara atau ditahan di rutan Surakarta tapi kemudian ditolak oleh kejari, maka bertobatlah kepada Allah dan lakukan upaya hukum agar para tersangka ini bisa dipindahkan ke rutan Surakarta,” tegas dia.

“Namun jika alasannya bahwa nanti di Solo muncul orang orang yang radikal berarti aparat lah yang telah menuduh dan melakukan teror di kota Solo ini,” pungkasnya.

Acara yang berlangsung tertib dan aman ini ditutup dengan doa oleh ustadz Tengku Adzar untuk pertolongan para pegiat pemberantasan kemaksiatan ini.

Reporter: Arie Ristyan

Ansharusy Syariah Sebut KH Hasyim Muzadi Figur Pluralitas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sesosok tokoh dan aset umat Islam, mendiang KH Hasyim Muzadi mengedukasi tentang arti kuat sebuah toleransi beragama. Ia dinilai Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir sebagai tokoh pluralitas, bukan pluarisme.

“Beliau ini mengakui pluralitas tapi tidak pluralisme pemikirannya. Tidak pernah menganggap semua agama itu sama,” katanya kepada jurniscom, Jumat (17/3/2017).

Ustaz Iim, sapaan karibnya menjelaskan perbedaan diantara keduanya. Menurutnya, pluralisme itu yang sifatnya berpikir menyamakan semua agama, kalau pluralitas mengakui adanya perbedaan diantara agama-agama.

“Ranah Ijtihad yang sangat luas dan beliau saya lihat masih dalam koridor yang pas. Maaf kalau Gusdur kan pluralisme, kalau beliau ini tidak pernah,” jelas putra sulung Abu Bakar Baasyir ini.

“Kalau saya lihat beliau cukup bisa memposisikan masalah toleransi. Bisa berdiri dalam posisinya,” tambahnya.

KH Hasyim dalam beberapa sikap, kata dia, menunjukan ketegasan sebagai muslim kepada kalangan anti Islam. Ketika tudingan-tudingan yang tidak baik ditujukan kepada Islam, dia cukup tegas untuk membungkam pandangan mereka.

“Pernah beliau ucapkan secara tegas masalah toleransi dalam beragama. Satu hal yang cukup bagus,” paparnya.

Lebih dari itu, pengasuh pondok pesantren Al Mukmin, Ngruki ini merasa kehilangan teladan yang cukup aktif mengedukasi masyarakat ini. Ia menyebut, KH Hasyim mempunyai visi cinta kepada negeri lebih dari masyarakat umumnya.

“Beliau salah seorang seorang ulama umat yang memberikan banyak pelajaran. Walaupun bukan berarti sebagai sosok yang tidak memiliki kekurangan, kita bukan memuji sampai tingkat memuja,” papar dia.

Tepat 6 Tahun Perang Suriah, 67.000 Tentara Assad Tewas, Ini Perinciannya

SURIAH (Jurnalislam.com) – Revolusi Suriah mendekati tahun keenam, di mana tanggal hari ini Sabtu 18 Maret adalah tepat tahun keenam pecahnya revolusi yang berubah mejadi perjuangan bersenjata global yang pada awalnya karena sejumlah besar kekerasan yang dilancarkan rezim Nushairiyah Suriah dalam menekan protes damai rakyatnya dengan keganasan militer.

Unit Statistik jaringan ElDorar AlShamia bekerjasama dengan beberapa sumber militer telah mendokumentasikan perkiraan statistik jumlah kerugian pasukan rezim Syiah Suriah, dan milisi yang didukung Iran selama enam tahun terakhir.

Jumlah kematian pasukan rezim Syiah Assad secara resmi diperkirakan 67.000 lebih tentara tewas, di mana Divisi Ketiga, Keempat, Ketujuh dan Kesembilan menderita kerugian porsi terbesar, sementara milisi Pertahanan nasional secara resmi diperkirakan kehilangan 31.000 milisi Syiah pendukung militer Assad.

Pasukan rezim Nushairiyah dan milisi Syiah Pertahanan Nasional paling banyak tewas di pedesaan selatan Latakia, Tartous, dan pedesaan barat Hama serta pedesaan barat Homs.

Jumlah korban tewas milisi Syiah Hizbullah Lebanon adalah yang paling banyak di antara milisi Syiah lain dukungan Iran yang berperang di Suriah, diperkirakan 2.700 pasukan, sedangkan milisi Syiah Irak dan Syiah Afghanistan kehilangan 3600 militan, terbanyak adalah Brigade Syiah Afghanistan Fatemion dan gerakan Syiah Irak Nujaba.

Pengawal Garda Revolusi Iran, Pasukan Khusus dan Brigade 65 Iran diperkirakan kehilangan 1.300 pasukan, dimana kerugian mereka meningkat secara signifikan pada akhir 2015.

Statistik juga menunjukkan bahwa kerugian untuk faksi revolusioner (Ahrar al-Sham, Jaish al-Islam, Jabhat Fath al-Sham/Jabhah Nusrah dan Lewaa ‘al-Tawhid) diperkirakan 26.700 mujahidin. Sedangkan faksi FSA (Free Syirian Army) kehilangan sedikitnya9 ribu orang.

Perlu dicatat bahwa pada tahun 2016, terutama pada semester pertama, jumlah korban faksi revolusioner meningkat karena intervensi militer Rusia langsung yang dimulai September 2015.

Taliban: 17 Tewas dan 2 Tank Hancur dalam Pertempuran di Baghlan

BAGHLAN (Jurnalislam.com)Al-Emarah News Jumat (17/03/2017) mengatakan sebanyak 17 personil militer gabungan bentukan AS telah tewas dalam pertempuran mematikan di bagian utara Afghanistan di provinsi Baghlan.

Pertempuran yang berlangsung sepanjang hari menewaskan 14 tentara boneka AS di distrik Baghlan-e-Markazi di provinsi Baghlan Utara saat serangan musuh untuk memecahkan pengepungan Mujahidin terhadap basis mereka digagalkan, tambahnya.

Al-Emarah News secara terpisah mengatakan, sedikitnya 3 tentara boneka tewas dan 2 tank lapis baja hancur setelah serangan Taliban terhadap konvoi militer musuh di distrik Pol-i-Khomri provinsi ini pada hari Jumat.

Sedikitnya 42 Orang Tewas dalam Serangan Udara pada Kapal Pengungsi Somalia

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 42 orang tewas dan 80 lainnya terluka dalam serangan udara menargetkan kapal yang membawa migran Somalia, termasuk wanita dan anak-anak, Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM) mengatakan pada hari Jumat (17/03/2017).

“Serangan itu terjadi di Laut Merah Yaman, Kamis malam,” kata juru bicara IOM Joel Millman dalam konferensi pers di Jenewa, World Bulletin melaporkan Jumat.

Millman mengatakan ia tidak dapat mengkonfirmasi apakah serangan itu dilakukan oleh helikopter tempur Apache.

“Perahu penuh dengan imigran Somalia yang menuju ke Sudan. Sejauh ini, sedikitnya 31 imigran dipastikan tewas,” katanya.

Dari 80 orang yang terluka, 24 tetap dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Anshar Jihad Rilis Video Latihan Pertempuran Jarak Dekat Unit Khusus

SURIAH (Jurnalislam.com)Anshar Jihad, sebuah faksi jihad al Qaeda yang terdiri dari pejuang Asia dan Turki Tengah, telah merilis sebuah video memperlihatkan kamp pelatihan lain di Suriah utara. Tidak seperti video kamp pelatihan lainnya, kamp sementara ini berfokus pada pelatihan senjata ringan, bahan peledak, dan unit tempur khusus dalam pertempuran jarak dekat. The Long War Journal melaporkan, Jumat (17/03/2017)

Sebagian besar video didedikasikan untuk menunjukkan pelatihan menembakkan senjata serbu di dekat bangunan yang telah ditinggalkan di suatu tempat di barat laut Suriah. Senapan serbu Kalashnikov dan senapan mesin PK ditampilkan, bersama dengan penggunaan bahan peledak dan granat roket (RPG). Video berakhir dengan mujahidin mengambil bagian dalam pelatihan fisik. Video pelatihan sebelumnya berfokus pada penembak jitu dan pertempuran jarak dekat.

Anshar Jihad adalah faksi jihad al Qaeda yang telah berjuang bersama cabang utama al Qaeda di Suriah dalam banyak pertempuran. Kelompok ini telah memberitakan perannya dalam pertempuran di Aleppo, termasuk serangan Oktober 2016 pimpinan al Qaeda bernama “Battle of Abu Omar Saraqib.” Seorang komandan militer Uighur al Qaeda yang syahid dalam serangan pesawat tak berawak AS awal tahun ini bersama seorang veteran al Qaeda yang dikenal sebagai Abu Khattab al Qahtani.

Komandan jihadis, Abu Omar al Turkistani, merupakan tokoh peran utama dalam terbentuknya Hay’at Tahrir al Sham (HTS), penggabungan antara Jabhat Fatah al Sham (JFS, cabang Al Qaeda di Suriah) dan beberapa faksi-faksi jihad lainnya. Turkistani mengambil posisi di tandzim jihad yang baru dibentuk itu. Dengan demikian, kemungkinan Anshar Jihad merupakan anak dari JFS / HTS.

Anshar Jihad juga memiliki hubungan dengan Uni Jihad Islam al-Qaeda (Islamic Jihad Union-IJU) di Afghanistan. Turkistani adalah mantan komandan di IJU sejak sekitar 2011 hingga 2015 saat ia pindah ke Suriah untuk bergabung dengan jihadis di sana. Pada halaman Telegram Anshar Jihad, mereka juga memuji pejuang IJU yang gugur dan telah berbagi video tentang perjuangan mereka.

Turki Kutuk Serangan di Masjid Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus pada hari Jumat mengutuk pemboman sebuah masjid di Suriah utara sebagai “kejahatan perang”, Anadolu Agency melaporkan Jumat (17/03/2017).

Serangan udara di sebuah masjid di desa Al-Jina, yang terletak di sebelah barat kota Aleppo menuju perbatasan dengan provinsi Idlib, menewaskan 58 orang sedang Shalat pada Kamis malam.

“Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, ini adalah kejahatan perang,” kata Kurtulmus kepada wartawan di provinsi barat laut Canakkale. “Membom warga sipil sedang Shalat, orang di masjid, dan rumah ibadah tidak dapat diterima.”

Masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab untuk serangan udara tersebut. Pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia beroperasi di daerah tersebut, dan militer AS mengatakan melakukan serangan udara menargetkan mujahidin al-Qaeda pada hari Kamis di Idlib tetapi menghindar dan membantah membom sebuah masjid.

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS

Pejabat pertahanan sipil Yahya Javad mengatakan, serangan itu juga melukai puluhan lainnya di daerah kota Al-Etarip.

Javad mengatakan pejabat pertahanan sipil berusaha menyelamatkan orang dari reruntuhan masjid: “Ada 200-300 orang di masjid [saat serangan terjadi].”

Dia mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat, meskipun tim pertahanan sipil telah berupaya menjangkau orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan.

Dia menekankan: “Menyerang masjid dengan jet tidak dapat diterima.”

Serangan udara itu terjadi sehari setelah serangan bom martir di ibukota Damaskus yang menewaskan sedikitnya 30 orang dilingkungan rezim Syiah Nushairiyah.

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Kementerian Pertahanan Rusia telah meminta AS untuk menjelaskan mengenai serangan udara hari Kamis (16/03/2017) di sebuah masjid di barat laut Suriah karena ada upaya menghindar dari tanggung jawab atas serangan itu.

Rusia juga mengatakan pada hari Jumat (17/03/2017) tidak meragukan bahwa AS menargetkan kelompok jihadis tapi salah sasaran.

Tass News Agency Rusia mengutip Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova mengatakan: “Moskow tidak memiliki keraguan bahwa serangan udara dilakukan AS, yang dilancarkan di desa al-Jina Suriah pada hari Kamis.

Korban serangan udara AS yang menghancurkan sebuah masjid di kota Aleppo sebagian besar adalah anggota Jamaah Tabligh, bukan sebuah kelompok jihadis.

Pada Kamis malam, sebuah pesawat perang AS menyerang sebuah masjid di desa Al-Jina di barat kota Aleppo, menewaskan sedikitnya 58 orang.

Namun menurut sumber lokal di tempat kejadian, sebagian besar dari mereka yang tewas akibat serangan tersebut adalah anggota Jamaah Tabligh gerakan Islam non-politik.

Pedesaan barat Aleppo adalah rumah bagi sebuah komunitas kecil penganut Jamaah Tabligh yang mengadakan pertemuan rutin setiap hari Kamis malam di Masjid Omar.

Menurut sumber setempat, serangan udara Kamis malam sebagian besar merobohkan masjid menjadi puing-puing. Pejabat lokal menyebutkan jumlah orang di dalam masjid ketika serangan terjadi berjumlah antara 200 hingga 300 orang.

“Kami tiba di lokasi sekitar lima menit setelah serangan,” kata pejabat pertahanan sipil setempat Mustafa Ebeid kepada Anadolu Agency.

“Kami menemukan banyak orang tergeletak di tanah,” katanya. “Banyak yang kehilangan bagian tubuhnya.”

Ebeid mengutip saksi mata lokal mengatakan bahwa masjid dibom oleh tiga rudal dan rudal ke empat menargetkan mereka yang mencoba untuk meninggalkan gedung.

Jamaah Tabligh didirikan di India pada tahun 1927 oleh Muhammad Ilyas. Penganut kelompok ini hidup terutama di India, Pakistan dan Bangladesh, tetapi kelompok kecil Jamaah Tabligh juga dapat ditemukan di beberapa negara Arab.

Kelompok ini dikenal menghindari politik dan menolak kekerasan.

Dalam sebuah pernyataan hari Jumat, Central Command AS (CENTCOM) mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tanpa konfirmasi atau menyangkal bahwa masjid telah sengaja ditargetkan.

Menurut CENTCOM, serangan sebenarnya menargetkan anggota Al-Qaeda.