Jet Tempur Israel Serang Pasukan Rusia di Suriah, Dubes Zionis Dipanggil

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Kementerian luar negeri Rusia, pada hari Senin (20/03/2017) mengatakan telah memanggil duta besar Israel terkait serangan udara di sekitar pasukan Rusia dekat kota bersejarah Suriah, Palmyra, World Bulletin melaporkan.

Kementerian “menyatakan keprihatinan” mereka terhadap serangan yang terjadi di dekat lokasi militer Rusia, kata Bogdanov.

Rusia – yang melakukan pengeboman di Suriah untuk mendukung rezim Nushairiyah Bashar al-Assad – mengatakan awal bulan ini bahwa lebih dari 180 tentaranya sudah mulai membersihkan ranjau di sekitar monumen kuno Palmyra.

Rusia dan Israel telah menyiapkan “saluran komunikasi langsung” untuk menghindari bentrokan udara di langit Suriah dan Bogdanov mengatakan Moskow “ingin saluran ini bekerja lebih efektif” untuk memastikan tidak ada “kesalahpahaman tentang siapa yang melakukan apa.”

Pesawat-pesawat tempur Israel menyerang beberapa sasaran pada hari Jumat, mendorong pembalasan peluncuran rudal Suriah, dalam insiden paling serius antara kedua negara tersebut sejak perang dimulai enam tahun lalu.

Militer Suriah mengatakan telah menjatuhkan sebuah pesawat Israel dan menembak satu pesawat lainnya saat mereka melakukan serangan sebelum fajar dekat Palmyra, kota gurun terkenal yang direbut kembali dari IS bulan ini.

Militer Israel membantah bahwa pesawat mereka telah terkena tembakan.

Pada hari Ahad, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengancam untuk menghancurkan sistem pertahanan udara Suriah “tanpa ragu” jika ada kejadian serupa.

Rusia telah mengerahkan sistem pertahanan rudal teknologi tinggi untuk melindungi pasukan mereka di Suriah.

Terindikasi Ada Kecurangan pada Pemilu AS, FBI Selidiki Intervensi Rusia

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – FBI sedang menyelidiki intervensi Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun lalu, serta menyelidiki setiap hubungan antara Moskow dan kampanye Trump, Direktur James Comey mengatakan pada hari Senin (2003/2017).

“FBI sebagai bagian dari misi kontra intelijen kami sedang menyelidiki upaya pemerintah Rusia untuk campur tangan dalam pemilihan presiden 2016,” katanya kepada anggota parlemen saat bersaksi di Capitol Hill, lansir Anadolu Agency.

“Termasuk menyelidiki setiap hubungan antara individu yang terkait dengan kampanye Trump dan pemerintah Rusia, dan apakah ada koordinasi antara kampanye dengan upaya Rusia,” katanya.

Konfirmasi publik mengenai investigasi rahasia FBI yang sedang berlangsung ini sangat jarang terjadi, tapi Comey mengatakan hal itu dilakukan demi kepentingan publik.

Penyelidikan ini akan mencakup penilaian apakah kejahatan telah dilakukan, Comey mengatakan, mencatat bahwa rincian lebih lanjut tidak akan dipublikasi karena penyelidikan bersifat tertutup.

Tergantung pada hasilnya, penyelidikan akan menguntungkan salah satu pihak.

Demokrat telah lama menyebut pengaruh Rusia pada kampanye tahun lalu sebagai tindakan yang curang/kotor, sementara Partai Republik berusaha mengecilkan efek yang ditimbulkan.

Para pejabat intelijen AS menyimpulkan pada bulan Januari bahwa Rusia berusaha mempengaruhi pemilu mendukung Presiden Donald Trump dalam kampanye dengan disutradarai oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Trump telah mengakui upaya tersebut, namun mengklaim bahwa upaya mereka itu “benar-benar tidak berpengaruh” pada hasil suara.

Pembajakan Komite Nasional Demokrat (the Democratic National Committee-DNC) serta ungkapan ketua kampanye Clinton John Podesta menjelaskan rincian buruk tentang bagaimana organisasi yang seharusnya netral berkonspirasi untuk mendukung Clinton terhadap populis Bernie Sanders untuk memenangkan nominasi Partai Demokrat untuk presiden.

Kebocoran DNC dan email Clinton beberapa bulan menjelang polling 8 November menegaskan opini populer bahwa calon presiden wanita pertama dari partai besar tersebut tidak dapat dipercaya.

Comey lebih lanjut mengatakan ia tidak memiliki informasi untuk mendukung tuduhan Trump bahwa mantan Presiden Barack Obama telah “menyadap” Manhattan Trump Tower.

“Betapa rendahnya tindakan Presiden Obama dengan men-tapp (menyadap) ponsel saya selama proses pemilihan yang sangat sakral. Ini adalah Nixon/Watergate. Pria yang jahat (Bad guy)!” Trump mengatakan dalam serangkaian tweet tanggal 4 Maret, dengan salah mengeja “tap menjadi tapp“.

“Kami tidak memiliki informasi yang mendukung tuduhan tersebut,” kata Comey, merespon tweet Trump.

“Tidak ada seorang pun di Amerika Serikat yang dapat mengarahkan pengawasan elektronik terhadap siapa pun,” tambahnya, mencatat bahwa proses untuk melakukan penyapan membutuhkan persetujuan dari hakim.

 

Pemerintah Kabul Desak AS untuk Tambah Pasukan Asing di Afghanistan

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Pemerintah Kabul bentukan AS pada hari Ahad (19/03/2017) meminta lebih banyak tentara asing di Afghanistan karena kelompok bersenjata melanjutkan strategi mereka menunggu pasukan asing Menteri Luar Negeri Afghanistan Salahuddin Rabbani mengatakan pada Anadolu Agency, Senin (20/03/2017).

Jenderal John W. Nicholson, komandan pasukan militer internasional pimpinan AS di Afghanistan, bulan lalu mengatakan “beberapa ribu” tentara tambahan diperlukan untuk lebih efektif melatih dan membimbing tentara Afghanistan.

Ada sekitar 13.300 tentara asing yang ditempatkan di Afghanistan, 8.400 dari mereka adalah tentara Amerika.

Rabbani menambahkan ia akan melakukan pembicaraan yang rinci dan fokus dengan sekutunya di Washington tentang prestasi dan kekurangan pemerintah Afghanistan dalam operasi anti-terorisme.

Senyum Merekah Saat Ranu Muda Dikunjungi JITU di Lapas Kedungpane Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Sebuah senyuman tersungging di bibir Ranu Muda (36 tahun) tatkala keluar dari gerbang berterali besi. Ia menyambut hangat sejumlah wartawan media Islam yang sebagian besar datang dari Jakarta ke Lapas Kedungpane, Semarang, Jawa Tengah.

Satu persatu wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menjabat dan memeluk erat wartawan Panjimas itu. Ranu adalah anggota JITU yang berdomisili di Solo.

Pada Ahad, 18 Desember 2016, ia melakukan liputan jurnalistik saat Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) menyampaikan surat somasi ke Restoran Social Kitchen. Pasalnya, restoran ini kerap menggelar tarian telanjang dan minuman keras tanpa izin.

Saat menjalankan tugas liputan itu, Ranu ditangkap aparat karena dituding melakukan provokasi dan sebagai tim dokumentasi kelaskaran.

“Saya baru enam hari di sini,” kata Ranu di Lapas Kedungpane, Semarang, Senin (20/3/2017).

Sebelumnya, Ranu dan anggota laskar sempat ditahan di Polda Jateng.

Pantauan Islamic News Agency, Ranu dalam keadaan sehat wal afiat. Wajahnya terlihat cerah. Ia tampak ceria dalam balutan jubah putih dipadu dengan celana panjang sebatas mata kaki berwarna hitam.

“Di sini (Lapas Kedungpane, red) serasa jadi manusia lagi. Waktu di Polda kita ditahan secara terpisah. Cuma bisa lihat langit dari kotak 2,5 x 2,5 meter,” kata ayah dua anak ini.

(Baca juga:

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS)

Kedatangan wartawan JITU ke Lapas Kedungpane memang bertujuan untuk memberikan semangat kepada Ranu. Sekjen JITU, Muhammad Pizaro mengungkapkan, ini merupakan bentuk dukungan dan solidaritas sesama wartawan Muslim.

“Kita memberikan support kepada Ranu selaku wartawan sekaligus anggota JITU yang meringkuk di penjara karena dianggap melawan hokum. Padahal, ia sedang melakukan tugas jurnalistik. Dan itu sudah diakui oleh pemimpin redaksi yang bersangkutan,” ujar Pizaro kepada Islamic News Agency di luar Lapas Kedungpane.

Menurutnya, JITU sebagai organisasi wartawan Muslim mendorong pemerintah untuk bersikap jernih dan objektif dalam persoalan ini. Seharusnya, tidak boleh ada unsur kriminalisasi terhadap wartawan karena energi bangsa sudah terkuras. Pun demikian, terhadap kriminalisasi para ulama.

“Ini tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat dan proses hukum yang jujur,” ujar dia.
JITU juga mendesak anggota DPR, DPD dan Komnas HAM untuk bereaksi terhadap kasus ini. Pasalnya, apa yang dilakukan LUIS dan Ranu merupakan bagian dari aspirasi masyarakat yang resah dengan tindakan penyakit masyarakat di Kota Solo.

(Baca juga:

Kasus Social Kitchen Solo Makin Runyam, LUIS Desak Non-aktifkan Jaksa Terkait)

Kepada Islamic News Agency, Sekjen LUIS Endro Sudarsono menjelaskan, apa yang dilakukan oleh laskar Islam di Solo telah menempuh upaya prosedural dan konstitusional.

“Selama ini LUIS sudah bekerjasama dan berkoordinasi dengan kepolisian, DPRD dan Walikota Solo. Di sini lah pentingnya peran jurnalis seperti Ranu untuk mengawal masalah ini,” pungkas Pizaro.

Reporter: Fajar Shadiq/INA

Lucu, Israel Malah Marah Pemerintahnya Terbukti Bangun Negara Apartheid di Palestina

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pemerintah zionis pada hari Ahad (19/03/2017) mengecam keputusan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menghormati mantan kepala komisi PBB yang bertanggung jawab atas laporan yang membuktikan Israel membangun negara apartheid di Palestina, Anadolu Agency melaporkan.

Rima Khalaf mengundurkan diri sebagai kepala Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (the Economic and Social Commission for Western Asia-ESCWA) pada hari Jumat (17/03/2017) setelah Sekretaris Jenderal PBB memintanya untuk memblokir laporan, yang sejak itu telah dihapus.

Pada hari Sabtu, Abbas mengatakan ia akan memberi penghargaan medali Palestina tertinggi untuk Khalaf karena berdiri dengan berani untuk mendukung Negara Palestina.

Ofir Gendelman, juru bicara Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, mengatakan di Twitter bahwa Abbas sedang melancarkan “perang diplomatik terhadap Israel” dengan mengumumkan penghargaan tersebut, menggambarkan laporan itu sebagai “memfitnah dan palsu”.

Laporan ESCWA mengatakan Israel “mendirikan rezim apartheid yang mendominasi rakyat Palestina secara keseluruhan” dan ada “bukti” bahwa Israel telah melakukan “kejahatan apartheid”.

Hanan Ashrawi, anggota eksekutif payung Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization-PLO), mengatakan laporan itu “adalah sebuah langkah ke arah yang benar” dan harus didukung.

“Daripada menyerah pada pemerasan politik atau membuka jalan untuk disensor atau diintimidasi oleh pihak eksternal, PBB seharusnya mengutuk tindakan yang dijelaskan dalam laporan dan meminta Israel bertanggung jawab,” kata Ashrawi dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

Israel bereaksi marah atas laporan tersebut, dengan juru bicara kementerian luar negeri Emmanuel Nahason membandingkannya dengan propaganda era Nazi.

Sumber Militer: 4 Perwira Rusia Tewas Diracun Intelijen Iran saat Pesta di Meridian Hotel

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sumber-sumber militer, di daerah yang dikuasai rezim Nushairiyah Suriah di Aleppo mengungkapkan kepada jaringan ElDorar AlShamia, Ahad (19/03/2017), bahwa intelijen Iran bekerjasama dengan Intelijen Suriah loyalis Iran membunuh sejumlah perwira Rusia.

Sumber menegaskan bahwa empat perwira Rusia, termasuk seorang perwira wanita Rusia tewas di tangan intelijen Iran di awal tahun ini selama pesta berlangsung di Dedeman Hotel yang dahulu bernama “Meridian Hotel,” dan secara detail sumber mengatakan bahwa intelijen telah merekrut sekelompok karyawan di hotel untuk menyuntikkan zat beracun ke wadah minuman “anggur” beralkohol yang disajikan sehingga mereka (4 petugas) tewas di tempat.

Dalam insiden lain sumber yang sama mengungkapkan bahwa sepekan yang lalu seorang perwira Rusia yang bekerja sebagai ahli pesawat teknisi juga tewas dalam keadaan misterius, tuduhan jatuh ke agen intelijen Iran.

Insiden ini mulai menunjukkan dengan jelas pelebaran sengketa Rusia-Iran, khususnya di wilayah yang dikuasai rezim Assad yang dikelola oleh dua kekuatan pendukung utama rezim. Di kota Aleppo telah terjadi pembunuhan tiga tentara Rusia dari Batalyon Polisi Militer Rusia di tangan milisi Syiah yang bertempur bersama pasukan Nushairiyah Assad, dan menerima dukungan dari Iran di Januari 2017.

Beberapa sumber telah mengkonfirmasi bahwa tiga tentara Rusia tewas dekat bundaran timur “al-Helwaniah” di Aleppo di tangan milisi Syiah brigade Mohammed Baqir yang dipimpin oleh “Khaled Marei”, yang mendapatkan dukungan dari Iran dan memperluas pengaruh mereka di sebagian besar lingkungan timur yaitu kabupaten Karm Homad, Tariq al-Bab, al-Sh’aa, Salhin, Fardos dan Hanano.

Di setiap kota Aleppo saat ini terjadi bentrokan antara pasukan Rusia dan milisi yang didukung rezim akibat perselisihan internal yang berkaitan dengan daerah yang dikuasai. Bentrokan terbaru terjadi sepekan lalu antara tentara Rusia melawan kelompok yang berafiliasi dengan Pertahanan Nasional di wilayah Kallaseh.

Sedikitnya 3 Tentara AS Sekarat Diberondong 1 Pasukan Khusus Afghanistan di Pangkalan NATO

HELMAND (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tiga tentara Amerika terluka parah setelah seorang tentara Afghanistan menembaki mereka di sebuah pangkalan militer di provinsi selatan Helmand, misi Resolute Support pimpinan NATO mengatakan. Serangan dan bentrokan terpisah di seluruh negeri menewaskan puluhan tentara AS.

Seorang juru bicara militer Afghanistan di selatan negara itu mengatakan pada Aljazeera Ahad (19/03/2017), bahwa 1 tentara pasukan khusus Afghanistan ditembak mati setelah menembaki serdadu AS di pangkalan udara Amerika di Camp Shorab pada hari Ahad.

“Tentara itu kehilangan nyawanya dalam baku tembak,” kata Mohammad Rasoul Zazai kepada Reuters.

Para prajurit AS yang terluka menerima perawatan medis, misi pelatihan dan bantuan yang dipimpin NATO mengatakan di Twitter.

Serangan insider yang disebut “green-on-blue” yang dilakukan oleh seorang pasukan khusus Afghanistan terhadap pasukan internasional adalah masalah besar sejak beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang jarang terjadi setelah langkah-langkah pengamanan ditingkatkan dan jumlah pasukan asing di negara itu menurun tajam.

Sebagian besar pasukan tempur asing ditarik mundur dari Afghanistan pada akhir 2014, namun sekitar 13.000 tentara yang dipimpin NATO masih menetap selain untuk membantu pertempuran juga memberikan saran dan melatih pasukan Afghanistan dalam memerangi mujahidin Taliban yang sedang bangkit kembali.

Mei tahun lalu dua tentara NATO asal Rumania tewas dan tentara yang ketiga terluka parah setelah dua anggota satuan polisi lokal Afghanistan yang mereka latih menembak mereka.

Camp Shorab di Helmand, sebelumnya dikenal sebagai Camp Bastion, adalah bekas pangkalan utama AS dan Inggris yang sekarang dikuasai oleh tentara Afghanistan.

Helmand telah menjadi salah satu daerah yang paling sengit diperebutkan, yang lebih dari 1.000 tentara koalisi AS-NATO tewas di sana sejak intervensi militer pimpinan AS untuk menjajah Afganistan pada 2001.

Serangan Mendadak Hayat Tahrir al Sham di Ibukota Suriah, 35 Pasukan Rezim Tewas

DAMASKUS (Jurnalislam.com)Hayat Tahrir al Sham (HTS) dan Faylaq Rahman pada Ahad (19/03/2017) pagi meluncurkan serangan mendadak terhadap pasukan rezim Suriah yang ditempatkan di wilayah Jobar di pinggiran ibukota Suriah Damaskus.

Bentrokan berat mengguncang distrik timur ibukota Suriah pada hari Ahad setelah para jihadis melancarkan serangan kejutan terkoordinasi pada pasukan rezim Assad, kata monitor dan televisi negara, lansir Aljazeera.

Pemboman dan baku tembak bisa didengar di seluruh Damaskus pada hari Ahad saat faksi-faksi jihad yang bersekutu dengan mantan afiliasi Al-Qaeda – Jabhat Fateh al Sham – yang tergabung dalam HTS melancarkan serangan terhadap posisi-posisi pasukan rezim Suriah di timur kota.

Koresponden ElDorar AlShamia melaporkan bahwa mujahidin HTS memulai serangan dengan dua bom kendaraan, diikuti oleh serbuan cepat setelah pejuang infiltrasi dari Faylaq dan HTS menguasai beberapa bangunan di wilayah.

Koresponden mengatakan bahwa perkiraan korban tewas dari pasukan Syiah Nushairiyah Assad sedikitnya mencapai 35 tentara, pesawat tempur rezim kemudian melakukan balasan dengan serangan udara intensif di lokasi pertempuran yang masih berlangsung saat berita ini disiapkan.

Bentrokan berpusat pada wilayah rezim antara dua kantong-kantong oposisi yang terkepung, di lingkungan Jobar dan Qaboun. Faksi jihad Ahrar al-Sham mengatakan para pejuang telah “membebaskan” wilayah itu.

Hayat Tahrir al-Sham – sebuah kelompok koalisi yang terdiri dari faksi-faksi jihad Suriah yang diprakasai oleh Jabhat Fateh al Sham pada bulan lalu – dan faksi jihad independen Failaq al-Rahman juga berpartisipasi dalam serangan itu.

Begini Pidato Komandan Ahrar al Sham dan Hayat Tahrir al Sham saat Revolusi Suriah Masuk Tahun Ketujuh

SURIAH (Jurnalislam.com) – Dua Komandan faksi jihad terbesar di Suriah Ahrar al Sham “Abu Ammar al-Omar” dan Hayat Tahrir al Sham (HTS) “Abu Jaber al Sheikh” menerbitkan dua pidato pada hari Jumat (17/03/2017) untuk menandai masuknya revolusi Suriah di tahun ketujuh, Eldorar Alshamia melaporkan Ahad (19/03/2017).

Komandan Ahrar al Sham “Abu Ammar al-Omar” mengatakan dalam sambutannya bahwa gerakan ini berusaha membangun sebuah entitas politik yang bersatu untuk mewakili rakyat Suriah, tidak kompromi pada prinsip-prinsip di bawah tekanan dari pihak manapun, dan mengatakan bahwa pembicaraan untuk solusi politik adalah sia-sia dan tanpa isi, dan setara antara pelaku dan korban.

Dia menambahkan bahwa banyaknya entitas yang mewakili revolusi politik, yang sebagian besar tanpa kebebasan pengambilan keputusan telah membuat rezim Nushairiyah Assad menjadi penerima keuntungan paling besar.

Dia mencatat dalam pidatonya bahwa gerakan perjuangan memiliki banyak kesalahan, tetapi mereka sekarang lebih mendekati reformasi daripada sebelumnya dan menekankan bahwa hal itu tidak akan memberikan manfaat bagi gerakan melainkan akan mendahulukan kepentingan rakyat, bahkan jika pembubaran gerakan akan memberikan kontribusi untuk mengurangi rasa sakit rakyat, maka gerakan akan dibubarkan.

Al-Omar mengkonfirmasi tekad gerakan persatuan dan memanggil ulama, warga sipil dan personel militer dalam pertemuan darurat untuk membahas situasi saat revolusi dan cara-cara untuk menyatukan barisan.

Sementara Komandan Umum HTS “Abu Jaber Al-Sheikh,” mengumumkan pada sambutannya bahwa proyek HTS dibentuk dalam menanggapi tuntutan rakyat yang keluar melakukan unjuk rasa menuntut unifikasi (penyatuan) dan menuntut untuk masuk ke dalam sebuah serikat proyek demi mempercepat tercapainya tuntutan rakyat.

Abu Jaber menuduh negara-negara Friends of Syria berpihak pada fragmentasi dan mencegah persatuan menggunakan uang, sehingga para pejuang berubah menjadi seperti karyawan yang mematuhi perintah dari pihak yang memberi uang dan senjata.

Al-Sheikh mencatat bahwa proyek HTS telah menyelesaikan masalah administrasi dan organisasi dan sekarang diposisikan untuk mengobarkan pertempuran pembebasan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka telah bekerja untuk menyesuaikan garis internal dan memanfaatkan kader kelompok melalui prinsip partisipatif dan bukan penjatahan.

Al-Sheikh mengirim beberapa pesan. Yang paling penting adalah berterima kasih kepada “tentara revolusi”, pertahanan sipil serta organisasi kemanusiaan dan ambulans dan memanggil organisasi media dan jurnalis independen untuk memasuki daerah yang telah dibebaskan untuk melihat realitas situasi dan mendengarkan HTS.

Aktivis, politisi dan wartawan telah meluncurkan kampanye media menuntut agar Ahrar al-Sham mengadopsi bendera revolusi dengan menandai “bendera revolusi Ahrar al-Sham,” yang dihadiri oleh tokoh-tokoh terkenal dalam gerakan, terutama “Labib al Nahhas” kepala hubungan luar negeri politik gerakan, yang mengatakan di akun Twitter, “ini adalah bendera orang-orang Suriah yang bebas ketika menuntut kelahiran baru dari bangsa mereka, ini adalah bendera Suriah pada hari kemenangan revolusi kita, in sya Allah,” kemudian ia menambahkan: “bendera kita saat memberontak melawan penghinaan dan kain kafan bagi para syuhada kami, yang malu harus mempertimbangkan kembali proyeknya.”

Sementara itu, “Hussam Salama” seorang komandan di Ahrar al-Sham menganggap bahwa revolusi bendera adalah “bendera Islam menjadi bendera pertama yang dikibarkan menentang tiran, dan keluar dari masjid meneriakkan Allahu Akbar.”

Apa Itu Aliansi Intelijen Five Eyes?

WASHINGTON (Jurnalisam.com) – Pertikaian diplomatik antara Inggris dan Amerika Serikat, setelah Gedung Putih menuduh bahwa mata-mata London telah mengintai Donald Trump, adalah insiden terbaru yang membuat fokus kembali tertuju pada aliansi intelijen internasional Five Eyes, lansir World Bulletin, Sabtu (18/03/2017).

Gedung Putih bersikeras pada hari Jumat (17/03/2017) bahwa juru bicara Sean Spicer tidak menuduh Inggris memata-matai Trump tetapi “hanya menunjuk laporan masyarakat,” menyusul siaran cerita oleh Fox News yang menunjukkan pendahulu Trump, Barack Obama, telah menggunakan badan intelijen GCHQ Inggris untuk melakukan penyadapan.

Seorang juru bicara GCHQ memberi label tuduhan penyadapan itu sebagai “omong kosong,” tapi skandal itu menghidupkan kembali fokus pada kelompok jaringan intelijen sekutu Anglo-Saxon yaitu AS, Inggris, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Badan-badan yang terlibat adalah Badan Keamanan Nasional AS (the National Security Agency), GCHQ Inggris, Direktorat Sinyal Australia (the Australian Signals Directorate), Lembaga Keamanan Komunikasi Kanada (Canada Communications Security Establishment) dan Biro Keamanan Komunikasi Pemerintah Selandia Baru (New Zealand’s Government Communications Security Bureau).

NSA dan GCHQ mengukuhkan upaya kolaborasi mereka pada tahun 1946 di bawah Perjanjian UKUSA yang menyediakan kerjasama pada sinyal intelijen, atau SIGINT, antara kedua pihak.

Tiga negara lain menambahkan “lembaga intel” mereka pada tahun 1955.

Selama bertahun-tahun, Five Eyes telah mengembangkan platform besar untuk spionase, intersepsi, pengumpulan data, analisis dan dekripsi komunikasi. Setiap negara berbagi informasi dan sejumlah besar data dengan empat Negara lainnya.

Luasnya data yang dikumpulkan oleh aliansi itu sendiri selama kolaborasi panjang rahasia yang batasnya tidak jelas – pertama kali diungkapkan oleh mantan kontraktor NSA Edward Snowden, saat kebocoran dokumen tahun 2013 menunjukkan jaringan intel global yang massal.

Dokumen itu menunjukkan bahwa anggota Five Eyes sengaja memata-matai warga negara sekutu dan berbagi informasi tersebut dengan negara-negara sekutu lainnya untuk menyiasatii undang-undang negara yang melarang penyadapan warga negara mereka sendiri.

Snowden menjelaskan Five Eyes pada saat itu sebagai “organisasi intelijen supra-nasional yang tidak menghormati hukum negara sendiri.”

Awal tahun lalu, Kanada mengumumkan tidak akan lagi berbagi metadata dengan sekutunya di Five Eyes karena kehidupan pribadi warga negara Kanada tidak dapat dikompromikan oleh mata-mata intelijen komunikasi tersebut.

Tetangga Amerika tidak meninggalkan aliansi, tapi keputusannya mencerminkan meningkatnya kekhawatiran mengenai privasi.

Partisipasi Ottawa mengalami pukulan pada 2012, ketika sub-letnan Angkatan Laut Kanada ditangkap karena telah menyerahkan data intelijen rahasia ke Rusia sejak tahun 2007.