Pasukan Penyusup Taliban Bunuh 4 Serdadu AS di Nangarhar

NANGARHAR (Jurnalislam.com) – Di tengah ‘Operasi Mansouri’ yang sedang berlangsung seorang Mujahid infiltrator berada di jajaran pasukan musuh melepaskan tembakan ke arah pasukan AS yang berkumpul dengan pasukan bayaran asing mereka di daerah Lata Band di distrik Achin, provinsi Nangarhar timur, Al Emarah News melaporkan, Ahad (11/6/2017).

Serangan yang terjadi siang hari Ahad menewaskan 4 penjajah AS seketika dan beberapa lainnya luka-luka, menurut pejabat yang mengatakan bahwa mujahid itu kemudian menjadi martir (semoga Allah menerimanya) akibat tembakan balasan tentara asing.

Juru bicara Imarah Islam Afghanistan (Taliban) Zabihullah Mujahid mengatakan, penjajah Amerika berada di dalam pasukan asing di sebagian besar wilayah negara tersebut, dimana Mujahidin telah meluncurkan tindakan balasan karena banyak penyusup sedang menunggu kesempatan untuk melakukan serangan semacam itu di balik garis-garis musuh.


Krisis Teluk, Iran Kirim Dua kapal Perangnya ke Oman

TEHERAN (Jurnalislam.com)Iran mengirim dua kapal perang ke Oman sebelum mereka memulai misi mereka di perairan internasional di dekat pantai Yaman, kata angkatan laut negara tersebut, Aljazeera melaporkan, Ahad (11/6/2017).

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa kedua kapal tersebut, kapal perusak Alborz dan kapal logistik perang Bushehr, akan berangkat dari kota pelabuhan Bandar Abbas pada hari Ahad untuk misi luar negeri ke Oman dan kemudian menuju perairan internasional.

“Armada kapal angkatan laut Iran akan berangkat ke Oman pada hari Ahad dan kemudian akan pergi ke utara Samudra Hindia dan Teluk Aden,” kata badan tersebut mengutip angkatan laut itu.

Teluk Aden, yang terletak di antara Tanduk Afrika dan ujung selatan Jazirah Arab, adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan samudra Hindia dengan Laut Merah dan Terusan Suez.

Langkah tersebut dilakukan di tengah krisis di Teluk setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar karena dituduh mendukung “ekstremisme”.

Qatar membantah keras tuduhan tersebut.

Pemerintah Qatar mengatakan telah memimpin wilayah dalam menyerang apa yang disebut akar “terorisme”, termasuk memberi harapan kepada kaum muda melalui lapangan pekerjaan, mendidik ratusan ribu pengungsi Suriah dan mendanai program masyarakat untuk menantang agenda kelompok bersenjata.

“Posisi kami dalam melawan terorisme lebih kuat daripada kebanyakan penandatangan pernyataan bersama – sebuah fakta yang diabaikan oleh para penuduh,” kata pemerintah.

Qatar Tolak Keras Daftar Individu dan Lembaga Teroris yang Dituduhkan Arab

JERMAN (Jurnalislam.com) – Qatar pada hari Jumat (9/6/2017) menolak keras tuduhan bahwa pihaknya mendukung kelompok teroris dan meminta solusi diplomatik atas meningkatkan ketegangan antara negara-negara Teluk, lansir World Bulletin.

Berbicara di Jerman, Menteri Luar Negeri Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan sebuah daftar hitam terorisme yang dikeluarkan oleh Arab Saudi dan sekutunya kemarin termasuk tuduhan “tidak berdasar” terhadap Qatar.

“Kami melihat ke dalam daftar ini tadi malam dan melihat bahwa orang-orang dan organisasi yang termasuk dalam daftar ini banyak yang tidak memiliki hubungan dengan Qatar,” katanya dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, setelah pertemuan mereka di kota pusat Jerman Wolfenbuettel.

Al-Thani mengatakan bahwa banyak orang dalam daftar tersebut tidak pernah menginjakkan kaki di Qatar, beberapa di antaranya tinggal di negara-negara Teluk lainnya, dan beberapa organisasi dalam daftar tersebut adalah organisasi yang diakui secara internasional yang bahkan bekerja sama dengan PBB – Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada hari Kamis, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan UEA mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang menuduh 59 individu dan 12 organisasi amal di Qatar “terkait dengan teror”.

Diplomat tertinggi Qatar mengatakan bahwa daftar tersebut tidak memenuhi standar internasional, dan termasuk tuduhan “tidak berdasar” untuk menekan Qatar di tengah ketegangan baru-baru ini.

Setelah Qatar Diblokade, AS Kirim Pesan Beragam ke Negara-negara Teluk

WASHINGTON (Jurnalislam.com)Pemerintah AS telah mengirim pesan beragam ke negara-negara Teluk Arab di tengah salah satu krisis diplomatik terbesar yang mencengkeram wilayah tersebut.

Berbicara di Rose Garden di Gedung Putih pada hari Jumat (9/6/2017), Presiden yang dikenal anti-Islam pada waktu lalu, Donald Trump, meminta Qatar dan negara-negara lain untuk meningkatkan usaha mereka dengan dalih melawan terorisme, lansir Aljazeera.

Beberapa menit sebelumnya, Rex Tillerson, sekretaris negara AS, mendesak Arab Saudi dan tiga negara Arab lainnya untuk mengurangi blokade mereka terhadap Qatar.

Trump dan Tillerson berbicara lima hari setelah Arab Saudi, Bahrain, UEA, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan transportasi dengan Qatar, serta menutup dan membatasi perbatasan darat dan laut sehingga negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (the Gulf Cooperation CouncilGCC) tersebut mengalami krisis terbesar mereka sejak bertahun-tahun lamanya.

“Qatar, kami ingin Anda kembali ke persatuan negara-negara yang bertanggung jawab,” kata Trump, berdiri di samping Presiden Romani Klaus Iohannis.

“Kami meminta Qatar dan negara-negara lain di kawasan ini untuk berbuat lebih banyak [untuk memerangi terorisme] dan melakukannya lebih cepat.”

Qatar dengan keras menolak tuduhan yang dilontarkan oleh Trump dan blok Saudi tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, pemerintah Qatar mengatakan telah memimpin wilayah tersebut dalam menyerang apa yang disebut akar “terorisme”, termasuk memberi harapan kepada kaum muda melalui pekerjaan, mendidik ratusan ribu pengungsi Suriah dan mendanai program masyarakat untuk menantang agenda dari kelompok bersenjata

“Posisi kami dalam melawan terorisme lebih kuat daripada banyak penandatangan pernyataan bersama – sebuah fakta yang telah diabaikan oleh para penulis,” kata pernyataan tersebut.

Namun, dalam sambutannya pada hari Jumat, Trump mengatakan “negara Qatar secara historis merupakan penyandang dana terorisme pada tingkat yang sangat tinggi”, tetapi Trump gagal menunjukkan bukti apapun.

Arab Tuduh Qatar Danai Lembaga Teroris, Erdogan: Tidak Mungkin, Saya Kenal Yayasan Itu!

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jumat (9/6/2017) bahwa Turki akan berdiri di belakang Qatar di tengah perselisihan diplomatik yang melanda negara Teluk tersebut.

“Kami tidak akan meninggalkan saudara Qatar kami,” kata Erdogan kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di sebuah acara buka puasa di Istanbul, lansir Anadolu Agency.

Berbicara tentang sebuah daftar yang diterbitkan pada hari Kamis yang mengklaim bahwa beberapa yayasan amal yang didukung oleh Qatar memiliki hubungan teroris, Erdogan mengatakan: “Tidak mungkin. Saya mengenal yayasan tersebut.”

Kamis malam, sebuah pernyataan bersama oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UAE Menuduh 59 individu dan 12 organisasi amal di Qatar “terkait dengan teror”, media setempat melaporkan.

Ketua Majelis Ulama Internasional Muslim, Yousef al-Qaradawi, dan Abdullah bin Khalid, mantan menteri dalam negeri Qatar termasuk dalam daftar tersebut.

Qatar pada hari Jumat membalas dalam sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri dengan menggambarkan tuduhan tersebut sebagai “tidak berdasar” dan “fitnah”.

Erdogan mengatakan bahwa dia tidak pernah menyaksikan Doha mendukung terorisme, menambahkan Turki “akan terus memberikan segala jenis dukungan kepada Qatar”.

Pada hari Rabu, parlemen Turki meratifikasi dua kesepakatan untuk mengerahkan pasukan ke Qatar dan melatih angkatan bersenjata negara Teluk tersebut.

Kesepakatan untuk menyebarkan pasukan Turki di Qatar, yang bertujuan untuk memperbaiki tentara Qatar dan meningkatkan kerja sama militer, ditandatangani pada bulan April 2016 di Doha.

Presiden Turki juga meminta Arab Saudi untuk menghapus semua sanksi terhadap Qatar dan membuka perundingan diplomatik.

Sementara itu, sebuah pernyataan di hari Jumat dari kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan bahwa blok Eropa tersebut meminta semua pihak untuk “menghindari eskalasi lebih lanjut dan ikut terlibat dalam dialog politik”.

Berbicara sebelumnya di Washington, Sekretaris Negara AS Rex Tillerson mendesak Arab Saudi dan sekutu Arabnya untuk mengurangi blokade mereka di Qatar sambil meminta Doha berbuat lebih banyak untuk mengakhiri dukungannya terhadap kelompok-kelompok teror.

Pada hari Senin, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, UAE, Bahrain dan Yaman – memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduh Doha mendukung terorisme.

Eskalasi tersebut terjadi dua pekan setelah situs resmi kantor berita resmi Qatar diduga diretas oleh orang-orang tak dikenal yang dilaporkan menerbitkan pernyataan yang dikaitkan dengan emir negara tersebut, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani.

Insiden tersebut memicu perselisihan diplomatik antara Qatar dan tetangganya.

Jet Tempur Koalisi Arab Serang Pemukiman Warga di Sanaa, 3 Bocah Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya empat warga sipil, termasuk tiga anak, tewas setelah serangan udara koalisi pimpinan-Saudi yang merobek sebuah daerah pemukiman di ibukota Yaman, Sanaa.

Hussain Albukhaiti, seorang aktivis yang bermarkas di Sanaa, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Jumat siang (9/6/2017) bahwa tiga orang masih hilang setelah serangan larut malam yang melanda bagian selatan kota tersebut.

“Empat anggota keluarga al-Mahdi, termasuk seorang wanita tua dan ketiga cucunya, terbunuh setelah rumah mereka diserang dengan serangan udara sesaat setelah tengah malam,” kata Albukhaiti.

Dia mengatakan tidak ada instalasi militer di dekat lokasi serangan tersebut dan tidak ada kegiatan pasukan Houthi yang dilaporkan, yang oleh koalisi sedang diperangi.

“Tidak ada penghentian serangan dari Saudi sejak awal bulan Ramadan. Selama dua pekan terakhir, setiap malam, pesawat Saudi melayang di langit hingga dini hari.”

“Kami tidak tahu apa yang mereka lakukan – entah itu rekonsepsi atau pengumpulan data intelijen – tapi warga sipil terus-menerus terbunuh.”

Serangan ini adalah yang terbaru dari serangkaian serangan udara untuk menargetkan warga sipil sejak Arab Saudi, bersama dengan koalisi negara-negara Arab lainnya, melakukan intervensi di Yaman pada bulan Maret 2015.

Pada bulan Agustus tahun lalu, Doctors Without Borders (MSF), satu dari segelintir kelompok bantuan internasional yang beroperasi di Yaman, mengevakuasi stafnya dari utara negara tersebut setelah sebuah serangan udara koalisi menimpa sebuah fasilitas kesehatan yang dioperasikan oleh kelompok tersebut, membunuh 19 orang.

Dan pada bulan September, sebuah laporan oleh Yemen Data Project, sekelompok peneliti keamanan dan hak asasi manusia, menemukan bahwa lebih dari sepertiga serangan udara menyerang situs-situs sipil termasuk sekolah, rumah sakit dan masjid.

Laporan tersebut menemukan bahwa dari 8.600 lebih serangan udara yang diperiksa, 3.577 tercatat mencapai lokasi militer dan 3.158 jatuh di lokasi non-militer, sementara 1.882 serangan diklasifikasikan sebagai tidak diketahui.

Menurut PBB, lebih dari 10.000 orang telah terbunuh dan 2,8 juta orang lainnya terusir dari rumah mereka dengan berperang di seluruh negeri.

Pasukan India Tembak Mati Remaja Kashmir, Protes Anti India Merebak di Seluruh Negeri

KASHMIR (Jurnalislam.com)Penutupan total diberlakukan di Kashmir pada hari Jumat (9/6/2017) untuk memprotes pembunuhan seorang pelajar berusia 19 tahun oleh pasukan India, lansir World Bulletin.

Kantor dan bisnis tutup saat protes anti-India digelar di seluruh wilayah Kashmir.

Adil Ahmad Magray tewas pada hari Rabu saat pasukan India menembaki demonstran pro-kemerdekaan di distrik Shopian.

Pembunuhan itu memicu protes mahasiswa dan bentrokan dengan pasukan India.

Dengan memperkirakan bahwa protes akan berlanjut, pihak berwenang menutup institusi pendidikan pada hari Kamis dan Jumat.

Kashmir yang mayoritas Muslim terbagi antara India dan Pakistan. Lebih dari 70.000 orang dilaporkan terbunuh sejak 1989 dalam sebuah konflik antara pejuang Muslim Kashmir dan pasukan penjajah India.

Saudi Larang Penayangan Saluran Aljazeera di Setiap Hotel dan Tempat Wisata

RIYADH (Jurnalislam.com)Arab Saudi melarang penayangan saluran berita Al Jazeera bagi hotel dan fasilitas turis lainnya dan mengancam akan menghukum pelanggar dengan penutupan fasilitas dan denda hingga $ 26.000.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat (9/6/2017), Komisi Saudi untuk Pariwisata dan Budaya Nasional (the Saudi Commission for Tourism and National Heritage) memerintahkan agar “semua saluran dari Al Jazeera Media Network harus dihapus” dan diganti dengan saluran yang kompatibel dengan “televisi resmi Saudi”.

“Komisi dengan ini mengulangi bahwa semua saluran Al Jazeera Network harus dihapus dari semua kamar hotel dan fasilitas wisata serta unit hunian lengkap, semuanya dan seluruhnya, termasuk dari daftar saluran TV,” kata surat kabar tersebut.

“Setiap fasilitas yang melakukan pelanggaran terhadap Surat Edaran tersebut di atas akan dikenakan sanksi hukum dan dikenakan denda sebesar SR100.000 atau pembatalan lisensi, atau keduanya.”

Sejak perselisihan diplomatik meningkat antara negara-negara Teluk dan Qatar pada hari Senin, Arab Saudi, UEA dan Bahrain mengancam akan menjatuhkan hukuman penjara yang lama dan denda bagi warga negaranya yang bersimpati dengan Qatar di media sosial.

UEA mengatakan pelanggar akan menghadapi hukuman penjara tiga hingga 15 tahun, dan denda tidak kurang dari AED 500.000 ($ 136.000).

Slogan yang mendukung Qatar telah menjadi topik utama yang dibahas di Twitter dalam bahasa Arab, yang merupakan media ekspresi yang sangat populer di dunia Arab.

Seiring dengan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar, sebuah blokade yang dipimpin Riyadh juga diberlakukan terhadap Doha. Saudi, yang berbagi satu-satunya perbatasan darat dengan Qatar, menutup persimpangan dan menghentikan pengiriman barang ke tetangganya tersebut.

Saudi, UEA dan Bahrain juga menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan dari dan ke Qatar, memaksa maskapai penerbangan untuk menghapus Doha dari daftar tujuan mereka.

Langkah tersebut berhasil mengalihkan ribuan penumpang dan mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi maskapai yang terjebak dalam keretakan.

Asosiasi Aangkutan Udara Internasional memohon agar hubungan udara dipulihkan, namun permintaan mereka sejauh ini hanya disambut dengan diam.

Perselisihan antara Qatar dan negara-negara Arab meningkat setelah sebuah berita baru-baru ini dari kantor berita Qatar yang dikelola negara.

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Puntland, Puluhan Tentara Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Al Qaeda di Afrika, al Shabaab, menyerbu sebuah pangkalan militer di wilayah otonomi Puntland di Somalia utara hari Kamis (8/6/2017) dan membunuh puluhan tentara selama pertempuran tersebut. Pejuang dari cabang Al Qaeda di Afrika Timur tersebut telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan menjatuhkan banyak korban jiwa, Long War Journal melaporkan.

Pejabat keamanan mengatakan kepada Garowe Online bahwa lebih dari 30 tentara Puntland terbunuh dan beberapa lainnya yang tidak diketahui jumlahnya ditangkap dalam serangan Shabaab di sebuah basis di Af Urur yang terletak di pegunungan Galgala. Para mujahidin Shabaab “benar-benar mengambil alih kendali” basis dan menyita senjata, amunisi, dan peralatan militer lainnya.

Shabaab membenarkan serangan tersebut dalam sebuah pernyataan yang diperoleh oleh SITE Intelligence. Menurut Shabaab, mereka membunuh 61 tentara, termasuk tiga perwira, dan menangkap “16 kendaraan militer dan sejumlah besar senjata dan amunisi sebagai rampasan.”

Pegunungan Galgala telah lama menjadi benteng al Shabaab, yang telah melakukan sejumlah serangan profil tinggi di sana. Baru-baru ini, pada tanggal 23 April, mujahidin Shabaab membunuh delapan tentara dan melukai beberapa lainnya dalam serangan IED yang kompleks. Shabaab diperkirakan memiliki sekitar 300 pejuang yang beroperasi di pegunungan Galgala.

Al Shabaab telah berhasil menguasai basis Somalia dan Afrika di masa lalu dan melumpuhkan sejumlah besar pasukan yang berbasis di sana. Pada bulan Januari 2016, mujahidin al Shabaab menyerang sebuah pangkalan di Al Ade di selatan dan membunuh sedikitnya 100 tentara Kenya. Pada bulan Juni 2015, Shabaab membunuh sekitar 60 tentara Ethiopia di selatan. Pada bulan yang sama, pejuang Shabaab membunuh lebih dari 50 tentara Burundi di Leego.

Shabaab telah bangkit kembali di Somalia. Kelompok jihad tersebut perlahan-lahan mengambil alih beberapa kota dan desa yang hilang, termasuk kota pesisir Marka.

Karena khawatir dengan kebangkitan Shabaab, pemerintah Trump memperluas wewenang militer AS untuk menargetkan faksi jihad tersebut dengan “tembakan presisi tambahan.” Di masa lalu, di bawah pemerintahan Obama, Komando Afrika AS (AFRICOM) telah menargetkan pemimpin dan tokoh senior Shabaab dalam serangan pesawat tak berawak dan serangan udara konvensional. Selain itu, pesawat AS akan menyerang pejuang Shabaab saat personil AS bersama pasukan Somalia dalam penyerangan, namun menyembunyikan operasi tersebut dengan kedok misi “operasi bertahan“.

Upaya AFRICOM untuk menyembunyikan operasi tempur langsung terhadap target Shabaab seperti kamp pelatihan dan pabrik IED sebagai saran dan untuk membantu misi yang berhasil memutihkan lebih dari 10 tahun perang dilakukan oleh pemerintah Somalia yang lemah, Uni Afrika, dan Amerika Serikat yang berperang melawan al Qaeda di Somalia.

Pada 2016, AFRICOM mengumumkan sembilan serangan “mempertahankan diri” dan “operasi bertahan” di Somalia. Departemen Pertahanan bahkan telah membenarkan serangan udara di kamp pelatihan Shabaab, seperti yang ada di Raso pada tanggal 5 Maret 2016, sebagai operasi pertahanan padahal operasi penyerangan.

Situs Web dan Aljazeera Media Network Digempur Hacker

QATAR (Jurnalislam.com)Situs web dan platform digital Al Jazeera Media Network diserang upaya hacking yang sistematis dan terus-menerus.

Upaya ini semakin intens dan muncul dalam berbagai bentuk. Namun, platform belum dikompromikan.

Bulan lalu, kantor berita resmi Qatar diretas dan pernyataan palsu yang dikaitkan dengan penguasa negara tersebut diposkan hingga memicu keretakan dengan negara-negara Teluk Arab lainnya.

Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain memutuskan hubungan mereka dengan Doha pada hari Senin sebagian karena komentar tersebut diposting sebentar di Kantor Berita Qatar.

Laporan palsu tersebut mengatakan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dalam sebuah pidato di sebuah upacara wisuda militer, mengkritik adanya ketegangan baru dengan Iran, menyatakan kebutuhan untuk mengkontekstualisasi Hizbullah dan Hamas sebagai gerakan perlawanan, dan menyarankan agar Presiden AS Donald Trump tidak berkuasa lama.

Tim Federal Bureau of Investigations (FBI) telah berada di Doha dalam sepekan terakhir setelah pemerintah Qatar meminta bantuan AS menyusul pelanggaran keamanan oleh para hacker.

Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan akan merilis temuan penuh setelah penyelidikan selesai, namun tidak mengatakan kapan akan terjadi.