Tujuh Tentara Israel Tewas dalam Dua Hari di Gaza, Dihantam Bom dan Serangan Hamas

JALUR GAZA (jurnalislam.com)– Dalam dua hari terakhir, militer Israel mengalami kerugian besar dalam operasi daratnya di Jalur Gaza utara. Sebanyak tujuh tentaranya dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka dalam dua insiden terpisah yang terjadi di wilayah Jabalia dan Kota Gaza pada Senin dan Selasa (3–4 Juni 2025).

Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), insiden pertama terjadi pada Senin (3/6/2025) malam ketika sebuah kendaraan militer Humvee yang membawa lima personel terkena bom pinggir jalan di Jabalia. Tiga tentara tewas seketika, sementara dua lainnya mengalami luka sedang.

Ketiga tentara yang gugur adalah Sersan Staf Lior Steinberg (20), tenaga medis tempur dari Petah Tikva; Sersan Staf Ofek Barhana (20), tenaga medis tempur dari Yavne; dan Sersan Staf Omer Van Gelder (22), komandan regu dari Maale Adumim. Mereka bertugas dalam Batalyon Rotem Brigade Givati yang beroperasi di bawah Batalyon Lapis Baja ke-9.

Insiden itu disebut sebagai kerugian paling mematikan bagi Israel sejak dimulainya kembali operasi besar-besaran ke Gaza pada Maret lalu, usai berakhirnya gencatan senjata.

Sehari setelahnya, pada Selasa (4/6), seorang prajurit cadangan Israel dilaporkan tewas dan empat lainnya luka-luka dalam serangan lanjutan di Gaza. Korban tewas adalah Sersan Kepala (Purn.) Alon Farkas (27) dari Brigade Pasukan Terjun Payung Cadangan ke-646. Ia disergap oleh pria bersenjata Palestina yang muncul dari gang di lingkungan Shejaiya, Kota Gaza.

Salah satu dari empat tentara yang terluka disebut berada dalam kondisi serius.

Di lokasi berbeda, kelompok perlawanan Hamas menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk menjatuhkan bahan peledak ke arah pasukan Israel di Jabalia. Serangan itu melukai dua anggota unit elit teknik tempur Yahalom dan satu perwira Shin Bet.

IDF menyatakan, setelah serangan-serangan tersebut, mereka menemukan sekitar 20 bom pinggir jalan yang telah dipasang di sepanjang rute militer Israel di Jabalia. Evakuasi korban pun sempat terhambat karena kawasan tersebut diduga telah dijebak dengan bahan peledak tambahan.

Hingga kini, total tentara Israel yang tewas sejak dimulainya kembali operasi militer darat di Gaza mencapai 425 orang, termasuk dua polisi dan tiga kontraktor sipil dari Kementerian Pertahanan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya para prajurit tersebut.

“Atas nama semua warga negara Israel, istri saya dan saya menyampaikan belasungkawa dari lubuk hati kami yang terdalam kepada keluarga para pejuang kami.”

“Hati kami tertuju kepada keluarga yang ditinggalkan di momen paling mengerikan ini. Kami akan selalu mengenang kepahlawanan para pejuang kami.” ujarnya.

Sejak pertengahan Maret 2025, Israel kembali melancarkan invasi besar-besaran ke Jalur Gaza dengan mengerahkan lima divisi tempur yang terdiri dari puluhan ribu tentara. Operasi ini bertujuan menghancurkan infrastruktur militer Hamas dan menggulingkan otoritas sipil kelompok tersebut di wilayah yang terkepung itu.

Namun, perlawanan sengit dari Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas dan kelompok-kelompok pejuang lainnya terus menimbulkan kerugian serius di pihak militer Israel. (Bahry)

Sumber: ToI

Hamas Kecam Veto AS yang Gagalkan Gencatan Senjata di Gaza

GAZA (jurnalislam.com) – Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, dengan tegas mengutuk keputusan Amerika Serikat (AS) yang menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan gencatan senjata permanen di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (4/6/2025), Hamas menyebut veto tersebut sebagai bukti nyata keberpihakan buta Washington terhadap Israel, yang digambarkan sebagai “pemerintah pendudukan fasis” yang melakukan kejahatan kemanusiaan secara sistematis di wilayah Gaza.

“Penolakan Amerika Serikat terhadap keinginan seluruh dunia, yang tercermin dari 14 negara anggota DK PBB yang mendukung resolusi, mencerminkan sikap arogan dan pengabaian terhadap hukum internasional,” tegas Hamas.

Hamas menyatakan bahwa langkah AS tersebut memberi “lampu hijau” kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang saat ini menjadi buronan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk terus melanjutkan agresi brutal terhadap warga sipil di Gaza, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.

Pernyataan itu juga mengecam presentasi yang disampaikan oleh perwakilan AS dalam sesi pemungutan suara, yang menurut Hamas hanya merupakan kelanjutan dari pendekatan “menipu dan memutarbalikkan fakta” Washington, serta bentuk penolakan terhadap hak-hak sah rakyat Palestina dalam menentukan nasib sendiri dan membebaskan diri dari pendudukan.

Hamas menyoroti kegagalan Dewan Keamanan PBB yang selama lebih dari 20 bulan tidak mampu menghentikan agresi dan pengepungan yang menyebabkan bencana kemanusiaan di Gaza.

“Ketidakmampuan ini menunjukkan krisis legitimasi lembaga-lembaga internasional dan tumpulnya efektivitas hukum internasional, yang terus dilanggar tanpa akuntabilitas,” tambahnya.

Sebagai penutup, Hamas menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak menghadapi krisis moral dan politik yang sedang berlangsung, menghentikan perang pemusnahan di Gaza, serta menyeret para pemimpin Israel ke hadapan hukum atas kejahatan mereka terhadap rakyat Palestina.

Trump: Putin Berjanji Akan Balas Serangan Drone Ukraina ke Pesawat Rusia

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama satu jam lebih pada Rabu (4/6), untuk membahas situasi di Ukraina dan Iran. Meski disebut sebagai “pembicaraan yang baik,” Trump mengakui belum ada tanda-tanda perdamaian langsung di Ukraina.

Dalam pernyataan publiknya, Trump mengatakan bahwa Putin dengan tegas menyatakan akan menanggapi serangan besar-besaran pesawat nirawak (drone) Ukraina terhadap pangkalan udara militer Rusia baru-baru ini. Serangan tersebut diklaim telah menghancurkan beberapa pesawat pengebom Rusia bernilai miliaran dolar.

“Presiden Putin mengatakan dengan sangat kuat bahwa dia harus merespons serangan tersebut. Kami juga membahas berbagai serangan lain yang telah dilakukan oleh kedua pihak,” ujar Trump dalam unggahannya di media sosial.

Trump tidak menjelaskan apakah dirinya telah memperingatkan Putin soal kemungkinan pembalasan terhadap Ukraina, negara yang mendapat dukungan miliaran dolar dari Washington sejak invasi Rusia pada 2022.

Mantan presiden dari Partai Republik ini sebelumnya telah berulang kali membuat pernyataan yang mengundang kekhawatiran sekutu Barat karena terkesan bersimpati terhadap posisi Putin dalam konflik Ukraina. Ia juga sempat terlibat perselisihan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam kunjungan resmi di Gedung Putih.

Namun, dalam pernyataan terbaru ini, Trump juga menyuarakan kekecewaannya terhadap Putin, karena konflik berkepanjangan di Ukraina telah menggagalkan janji kampanyenya untuk mengakhiri perang dalam waktu 24 jam.

Selain Ukraina, kedua pemimpin juga membahas isu nuklir Iran. Trump mengatakan bahwa Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk ikut serta dalam perundingan internasional mengenai program nuklir Iran. Menurut Trump, mereka sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“Presiden Putin menyarankan bahwa dia akan berpartisipasi dalam diskusi dengan Iran dan mungkin bisa membantu menyelesaikan ini dengan cepat,” ujar Trump.

Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya mendesak tanggapan cepat dari Teheran terhadap tawaran kesepakatan yang diajukan oleh Amerika Serikat.

Sementara itu, Kremlin mengonfirmasi bahwa Presiden Putin telah menyampaikan kepada Presiden terpilih Iran, Masoud Pezeshkian, kesiapan Rusia untuk membantu memajukan perundingan nuklir.

Namun demikian, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa usulan dari Washington bertentangan dengan kepentingan nasional Iran, terutama terkait isu pengayaan uranium. (Bahry)

Sumber: Alarabiya 

AS Gunakan Hak Veto demi Izinkan Israel Lanjutkan Serangan di Gaza

AMERIKA SERIKAT (jurnalislam.com)- Amerika Serikat kembali menunjukkan sikap kontroversialnya dengan memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menyerukan gencatan senjata segera, permanen, dan tanpa syarat di Jalur Gaza. Veto ini dikeluarkan pada Rabu (4/6/2025), di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa dan krisis kemanusiaan akut akibat blokade bantuan Israel.

Dari 15 anggota DK PBB, 14 negara mendukung resolusi tersebut. Namun, AS menjadi satu-satunya negara yang menolaknya, kembali memanfaatkan hak veto demi membela Israel, sekutu lamanya.

Resolusi tersebut, yang diajukan oleh 10 negara anggota dewan, tidak hanya menyerukan penghentian kekerasan, tetapi juga pembebasan para tawanan Israel yang ditahan di Gaza. Namun Washington menolak dengan alasan bahwa tuntutan gencatan senjata tidak dikaitkan langsung dengan pembebasan tawanan.

Penjabat Duta Besar AS untuk PBB, Dorothy Shea, menyatakan bahwa posisi AS “tidak mengejutkan”, karena sejak awal konflik, Washington menegaskan dukungan terhadap “hak Israel untuk membela diri, termasuk mengalahkan Hamas”.

Sikap AS ini menuai kritik tajam dari berbagai negara. Duta Besar Tiongkok, Fu Cong, mengatakan bahwa tindakan Israel telah “melewati setiap garis merah” dalam hukum humaniter internasional dan secara terang-terangan melanggar resolusi PBB.

“Namun karena dilindungi oleh satu negara, pelanggaran ini belum dihentikan dan belum ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban,” tegas Fu.

Duta Besar Inggris, Barbara Woodward, yang memberikan suara mendukung resolusi, mengatakan, “Situasi di Gaza sudah tak tertahankan dan harus diakhiri. Kami berkomitmen untuk mengakhiri perang ini, membebaskan sandera, dan meredakan krisis kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina.”

Analis senior politik Al Jazeera, Marwan Bishara, menilai bahwa veto ini semakin mengisolasi Amerika Serikat di kancah internasional.

“AS semakin berdiri sendiri, melawan arus global yang menuntut keadilan dan penghentian pembantaian di Gaza,” ujar Bishara.

“Israel tidak sedang membela diri, melainkan mempertahankan pendudukan dan pengepungan brutalnya atas Gaza.” imbuhnya.

Veto ini datang saat hampir 100 warga Palestina tewas hanya dalam 24 jam terakhir, di tengah krisis bantuan yang semakin memburuk akibat blokade Israel. Dunia kembali menyaksikan bagaimana kepentingan politik segelintir negara telah mengalahkan suara kemanusiaan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Jerman Dukung Persenjataan Israel, Rp8,5 Triliun Mengalir sejak Serangan ke Gaza

BERLIN (jurnalislam.com)- Pemerintah Jerman mengonfirmasi telah menyetujui ekspor senjata ke Israel senilai 485,1 juta euro atau setara sekitar Rp8,5 triliun (kurs Rp17.500 per euro) sejak dimulainya agresi militer Israel ke Jalur Gaza pada Oktober 2023.

Informasi tersebut diungkapkan dalam jawaban pemerintah atas pertanyaan resmi dari Partai Kiri (Die Linke) di parlemen, seperti dilaporkan pada Selasa (3/6).

Ekspor tersebut mencakup berbagai jenis peralatan militer, termasuk sistem persenjataan, amunisi, radar, perangkat komunikasi, serta suku cadang untuk kendaraan lapis baja.

Pemerintah Jerman mengatakan bahwa mereka hanya memberikan informasi terbatas mengenai jenis dan rincian ekspor militer tersebut, dengan alasan keamanan dan perlindungan terhadap kebutuhan militer Israel. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Federal Jerman, pengungkapan detail ekspor dapat membahayakan hubungan luar negeri Jerman, terutama dengan Israel.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan bahwa Berlin mungkin akan meninjau ulang dan mempertimbangkan pembatasan ekspor senjata ke Israel di masa mendatang, mengingat operasi militer Israel yang terus berlanjut di Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, sedikitnya 54.470 warga Palestina telah terbunuh akibat serangan Israel di Jalur Gaza, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza pada Senin (2/6).

Pasukan Israel kembali melancarkan serangan intensif pada 18 Maret 2025, menewaskan 4.201 warga Palestina dan melukai hampir 12.652 orang lainnya. Serangan ini juga mencabut perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang sebelumnya berlaku sejak Januari.

Pada November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi gugatan atas dugaan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serangannya terhadap penduduk sipil Palestina di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: AA

Pemerintah Suriah Rekrut Eks Pejuang HTS dan Uighur ke Divisi Militer Baru

SURIAH (jurnalislam.com)- Amerika Serikat dilaporkan mendukung rencana pemerintah Suriah untuk mengasimilasi sekitar 3.500 pejuang asing, terutama dari etnis Uighur asal Tiongkok dan Asia Tengah ke dalam angkatan bersenjata Suriah. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan Washington terhadap konflik Suriah.

Menurut laporan Reuters pada Senin (2/6/2025), ribuan pejuang tersebut akan dimasukkan ke dalam Divisi ke-84 Angkatan Darat Suriah yang baru dibentuk, bersama pasukan lokal. Tiga pejabat pertahanan Suriah mengonfirmasi informasi ini.

Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus Presiden Donald Trump untuk Suriah, Tom Barrack, mengatakan bahwa Washington bersikap transparan dalam upaya tersebut dan mengakui adanya “kesepahaman” dengan pihak Suriah.

Dalam pertemuan di Istanbul pada Sabtu (31/5), Barrack memuji Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa atas langkah-langkah yang dinilai “bermakna” dalam mengelola pejuang asing. Ia menilai strategi untuk menahan dan mengintegrasikan mereka ke dalam struktur militer lebih efektif ketimbang mengecualikan mereka.

“Banyak dari mereka sangat loyal kepada pemerintahan baru,” ujar Barrack. Pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap Washington sebelumnya yang menuntut agar pejuang asing dikeluarkan dari struktur kekuasaan pasca-Bashar al-Assad.

Perubahan pendekatan ini disebut-sebut sebagai dampak dari kunjungan Presiden Trump ke Timur Tengah pada Mei lalu. Dalam kunjungan itu, Trump disebut telah menyetujui pertemuan dengan pemimpin baru Suriah dan berencana mencabut sanksi ekonomi jangka panjang yang dijatuhkan kepada Damaskus sejak 1979, ketika Suriah dimasukkan dalam daftar negara sponsor terorisme.

Tom Barrack juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat akan mulai mengurangi kehadiran militernya di wilayah Suriah.

𝗣𝗲𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗔𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝘀𝘂 𝗨𝗶𝗴𝗵𝘂𝗿

Sebagian besar pejuang asing yang akan direkrut berasal dari kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang berperan penting dalam menggulingkan Bashar al-Assad pada tahun lalu setelah perang selama 13 tahun. Banyak dari mereka adalah warga Uighur, etnis Muslim berbahasa Turki yang berasal dari Xinjiang, Tiongkok.

Mereka bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata selama perang Suriah, sebagian besar melalui Partai Islam Turkistan, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Tiongkok.

Menanggapi laporan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan bahwa negaranya berharap Suriah akan menolak segala bentuk terorisme dan ekstremisme demi menjaga stabilitas kawasan.

Tiongkok sendiri dituduh menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp di Xinjiang. Tuduhan yang mencakup penyiksaan dan pelanggaran hak asasi manusia itu telah dikategorikan sebagai “genosida” oleh sejumlah negara dan lembaga internasional. Namun pemerintah Tiongkok membantah semua tuduhan tersebut.

Sementara itu, Presiden Ahmed al-Sharaa mengatakan bahwa mengintegrasikan para pejuang asing ke dalam militer Suriah lebih aman ketimbang memulangkan mereka ke negara asal, karena mereka lebih rentan untuk direkrut kembali oleh kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS.

Menurut laporan The National, para pejuang asing tersebut bahkan akan diberikan kewarganegaraan Suriah sebagai bagian dari proses integrasi tersebut. (Bahry)

Sumber: MEE

Brigade Misterius Klaim Serang Israel, Suriah Justru Jadi Sasaran Balasan

SURIAH (jurnalislam.com)– Pemerintah Suriah mengecam keras serangan militer Israel di Provinsi Deraa yang terjadi pada Selasa (3/6/2025). Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut serangan tersebut menyebabkan “kerugian manusia dan material yang signifikan”, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi SANA.

Serangan ini terjadi menyusul pernyataan militer Israel yang mengklaim dua proyektil diluncurkan dari wilayah Suriah dan jatuh di area terbuka di Dataran Tinggi Golan yang masih diduduki Israel. Namun, pihak Suriah membantah keterlibatan mereka dan menyebut laporan tersebut sebagai “belum terverifikasi”.

“Kami menegaskan bahwa Suriah tidak pernah dan tidak akan menjadi ancaman bagi siapa pun di kawasan ini,” tulis Kementerian Luar Negeri Suriah dalam pernyataan resminya. Mereka juga menambahkan bahwa ada kemungkinan pihak-pihak lain yang berusaha menciptakan kekacauan demi kepentingan sendiri.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, langsung menyalahkan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa atas insiden tersebut.

“Kami menganggap presiden Suriah bertanggung jawab langsung atas setiap ancaman dan tembakan terhadap negara Israel, dan kami akan memberikan tanggapan penuh dalam waktu dekat,” kata Katz.

Di tengah meningkatnya ketegangan, beberapa laporan dari media Arab dan Palestina menyebut kelompok bernama Brigade Muhammad Deif sebagai pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peluncuran proyektil. Kelompok ini mengacu pada nama pemimpin militer Hamas yang gugur dalam serangan Israel pada tahun 2024. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Militer Israel menyatakan telah menanggapi insiden tersebut dengan tembakan artileri ke wilayah Suriah selatan. Penduduk setempat melaporkan bahwa mortir Israel menghantam wilayah Wadi Yarmouk di bagian barat Deraa, dekat perbatasan Dataran Tinggi Golan.

Dalam beberapa minggu terakhir, daerah tersebut telah mengalami peningkatan aktivitas militer Israel, termasuk pemboman udara dan laporan pembatasan terhadap warga yang dilarang mengolah lahan pertanian mereka.

Israel diketahui telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak Perang Arab-Israel 1967, dan memperluas kontrolnya atas wilayah tersebut pasca penggulingan Presiden Bashar al-Assad pada Desember lalu, dengan alasan kekhawatiran terhadap masa lalu pemerintahan baru Suriah.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan insiden di Suriah, militer Israel juga mengklaim berhasil mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman. Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, mengaku menargetkan kota pesisir Jaffa sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di tengah konflik Israel-Gaza yang masih berlangsung. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Rusia Tuduh Ukraina di Balik Ledakan Rel Kereta Api Mematikan di Wilayah Perbatasan

RUSIA (jurnalislam.com)— Pemerintah Rusia pada Selasa (3/6/2025) menuding Ukraina berada di balik serangan sabotase yang menyebabkan tergelincirnya kereta penumpang di wilayah Bryansk, dekat perbatasan Ukraina, pada akhir pekan lalu. Insiden tersebut menewaskan tujuh orang dan melukai puluhan lainnya.

Menurut otoritas Rusia, ledakan tersebut terjadi pada Sabtu malam (31/5), menghancurkan sebuah jembatan jalan yang berada di atas jalur kereta api. Akibatnya, kereta penumpang yang melintas tergelincir dan menyebabkan korban jiwa.

“Para teroris, yang bertindak atas perintah rezim Kyiv, merencanakan segalanya dengan sangat cermat sehingga ratusan warga sipil tak berdosa menjadi sasaran serangan mereka,” kata Komite Investigasi Rusia dalam pernyataan yang dirilis melalui Telegram.

Moskow sebelumnya menyebut insiden ini sebagai aksi terorisme, meski belum secara langsung menyebut Ukraina sebagai pelaku. Namun dalam pernyataan terbaru, tudingan itu kini diarahkan secara eksplisit ke Kyiv.

Para penyelidik mengatakan bahwa mereka telah menemukan sejumlah bagian dari alat peledak di lokasi kejadian dan telah mengumpulkan kesaksian dari korban serta saksi mata.

Beberapa jam setelah insiden di Bryansk, sebuah jembatan rel lain di wilayah tetangga Kursk juga dilaporkan diledakkan pada Minggu dini hari. Serangan ini menyebabkan kereta barang tergelincir dan melukai masinisnya.

Ketika ditanya soal insiden tersebut, pihak Kremlin enggan memberikan rincian lebih lanjut dengan alasan proses penyelidikan yang masih berlangsung.

Rusia telah mengalami puluhan serangan sabotase sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Banyak dari serangan tersebut menargetkan jaringan rel kereta api, yang disebut Ukraina digunakan Rusia untuk mengangkut pasukan dan persenjataan ke medan perang. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Serangan Ukraina Picu Pemadaman Listrik di Wilayah Pendudukan Rusia di Zaporizhzhia dan Kherson

UKRAINA (jurnalislam.com)— Serangan Ukraina menggunakan penembakan dan pesawat tak berawak pada Selasa pagi (3/6) menyebabkan pemadaman listrik massal di wilayah Zaporizhzhia dan Kherson, dua daerah di Ukraina selatan yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Menurut pejabat Rusia yang ditunjuk di wilayah tersebut, serangan tersebut tidak berdampak pada operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, yang merupakan fasilitas nuklir terbesar di Eropa. Fasilitas itu telah dikuasai Rusia sejak beberapa minggu setelah invasi dimulai pada Februari 2022.

Pejabat pengelola PLTN menyatakan bahwa tingkat radiasi di area tersebut tetap normal. PLTN tersebut saat ini beroperasi dalam mode mati dan tidak menghasilkan listrik.

Gubernur yang ditunjuk Rusia untuk wilayah Zaporizhzhia, Yevgeny Balitsky, menyampaikan bahwa seluruh wilayah yang berada di bawah kendali Rusia mengalami pemadaman listrik.

“Akibat penembakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina, peralatan listrik bertegangan tinggi di wilayah barat laut Zaporizhzhia mengalami kerusakan,” kata Balitsky melalui Telegram.

“Seluruh wilayah kini tidak memiliki pasokan listrik. Kementerian Energi wilayah Zaporizhzhia telah diperintahkan untuk mengembangkan sumber daya listrik cadangan. Fasilitas kesehatan telah dialihkan ke sumber listrik darurat.”

Di wilayah Kherson yang berdekatan, Gubernur Vladimir Saldo menyatakan bahwa puing-puing dari pesawat nirawak Ukraina yang jatuh merusak dua gardu induk, memutus aliran listrik bagi lebih dari 100.000 warga di sekitar 150 kota dan desa yang dikuasai Rusia.

Tim darurat telah dikerahkan untuk memulihkan aliran listrik sesegera mungkin.

Selama musim dingin lalu, kota-kota di Ukraina juga sempat mengalami pemadaman listrik yang berulang akibat serangan Rusia yang menargetkan infrastruktur energi.

Baik Ukraina maupun Rusia telah saling menuduh satu sama lain atas serangan terhadap PLTN Zaporizhzhia, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana nuklir.

Sementara itu, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan minggu lalu bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda Rusia berencana mengaktifkan kembali PLTN tersebut dan menyambungkannya ke jaringan listrik Rusia, menanggapi kekhawatiran dari pihak Ukraina.

IAEA saat ini memiliki tim pemantau yang ditempatkan secara permanen di fasilitas tersebut serta di PLTN lain di Ukraina. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Serangan Udara Rusia Tewaskan Satu Orang di Kharkiv, Ukraina Tolak Syarat Damai Moskow

UKRAINA (jurnalislam.com)- Serangan udara Rusia pada Senin malam (2/6/2025) menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya di wilayah timur laut Ukraina, Kharkiv, serta memicu kebakaran di kota Chernihiv. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah pertemuan delegasi Rusia dan Ukraina di Turki untuk membahas perdamaian, yang kembali berujung buntu.

Di kota kecil Balakliia, dekat perbatasan Rusia, sebuah perusahaan swasta menjadi sasaran serangan besar-besaran menggunakan kendaraan udara tak berawak (UAV). Kepala administrasi militer setempat, Vitali Karabanov, menyebutkan bahwa satu orang tewas dan sejumlah lainnya terluka.

“Serangan UAV besar-besaran terhadap kota itu,” ujar Karabanov melalui Telegram, tanpa merinci lebih jauh mengenai skala serangan.

Sementara itu, di Chernihiv, puing-puing dari pesawat nirawak yang ditembak jatuh menyebabkan kebakaran di beberapa titik, termasuk di kawasan permukiman warga. Menurut Kepala Administrasi Militer Kota Chernihiv, Dmytro Bryzhynskyi, empat orang dilarikan ke rumah sakit, sementara 20 lainnya—termasuk delapan anak-anak—mendapatkan perawatan medis di lokasi.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api dalam gelap dan tim medis yang tengah menangani anak-anak korban serangan.

Di Odesa, serangan udara Rusia juga dilaporkan merusak bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil. Namun, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, menurut keterangan Wali Kota Hennadiy Trukhanov.

Hingga saat ini, skala penuh dari serangan Rusia tersebut belum dapat dipastikan. Pihak Moskow belum memberikan komentar resmi, dan laporan dari pihak Ukraina belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional.

Sementara itu, dalam pertemuan di Turki, Rusia kembali menegaskan bahwa pihaknya hanya bersedia mengakhiri perang jika Ukraina bersedia menyerahkan lebih banyak wilayah dan menerima pembatasan jumlah angkatan bersenjatanya. Ukraina dengan tegas menolak syarat tersebut, menyebutnya sebagai bentuk penyerahan diri yang tidak dapat diterima.

Perang yang dimulai oleh Rusia pada Februari 2022 ini telah menewaskan ribuan warga sipil, mayoritas dari pihak Ukraina, meski kedua pihak terus membantah menargetkan warga sipil dalam serangan mereka. (Bahry)

Sumber: Alarabiya