Iran Retas CCTV Warga Israel untuk Tingkatkan Akurasi Serangan Rudal

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Iran diduga telah meretas kamera keamanan pribadi di seluruh wilayah Israel guna mengumpulkan informasi intelijen dan meningkatkan akurasi serangan rudal ke wilayah pendudukan. Serangan siber ini dikonfirmasi oleh pakar keamanan siber Israel dan diberitakan oleh Bloomberg pada Jumat (20/6).

Refael Franco, mantan Wakil Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel (INCD), mengatakan bahwa dalam dua hingga tiga hari terakhir, Iran berusaha mengakses kamera-kamera tersebut untuk memantau lokasi jatuhnya rudal, dan mengarahkan serangan lanjutan dengan presisi lebih tinggi.

“Kami tahu bahwa dalam dua atau tiga hari terakhir, Iran telah mencoba terhubung ke kamera untuk memahami apa yang terjadi dan di mana rudal mereka mengenai sasaran, demi meningkatkan akurasinya,” ungkap Franco.

Seorang juru bicara INCD juga membenarkan adanya upaya peretasan yang sedang berlangsung selama masa perang, dan menyatakan bahwa serangan ini tengah diperbarui dengan taktik terbaru.

Pejabat INCD lainnya, Gaby Portnoy, menyebut bahwa peretasan kamera serupa juga pernah dilakukan oleh Hamas menjelang Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023. Ia menambahkan bahwa metode ini juga digunakan dalam konflik lain, termasuk oleh Rusia dalam perang di Ukraina.

Sebelumnya pada pekan ini, seorang mantan pejabat keamanan siber Israel memperingatkan publik melalui siaran radio untuk mematikan kamera keamanan rumah atau segera mengganti kata sandinya.

Perang siber kini telah menjadi strategi utama dalam berbagai konflik global, dan Israel dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam pengembangan perangkat mata-mata dan operasi peretasan. Salah satu kelompok peretas yang berafiliasi dengan Israel, Predatory Sparrow, baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap beberapa bank besar di Iran serta platform pertukaran mata uang kripto.

Dalam serangan tersebut, Predatory Sparrow dikabarkan berhasil mencuri mata uang kripto, termasuk bitcoin, senilai lebih dari Rp1,4 triliun (sekitar USD 90 juta).

Sebagai respons atas serangan itu, Iran memberlakukan pemadaman internet nasional guna menekan infiltrasi digital yang diyakini berasal dari intelijen Israel. Menurut laporan kantor berita Tasnim, langkah ini juga disebut berhasil menonaktifkan sejumlah drone yang diluncurkan dari dalam negeri oleh agen-agen yang berafiliasi dengan musuh.

Di tengah meningkatnya intensitas perang, akurasi serangan rudal Iran pun meningkat drastis. Pada Jumat pagi, sebuah rudal balistik Iran menghantam kota Beersheba, dan pertahanan udara Israel dilaporkan gagal mencegatnya.

Pihak berwenang Israel kini melarang media asing menyiarkan rekaman atau dokumentasi lokasi jatuhnya rudal, dengan alasan bahwa “musuh memantau setiap gambar untuk meningkatkan efektivitas serangan balasan.”

Sementara itu, pada Kamis (19/6), seorang pejabat Israel yang dikutip NBC News menyatakan bahwa tingkat keberhasilan intersepsi pertahanan udara Israel menurun hingga 25 persen hanya dalam dua hari terakhir. (Bahry)

Sumber: Cradle

Israel Rugi Triliunan Rupiah per Hari Akibat Serangan Rudal Iran

ISRAEL (jurnalislam.com)– Perang yang berkecamuk antara Israel dan Iran sejak 13 Juni 2025 dilaporkan menelan biaya hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara triliunan rupiah per hari di pihak Israel.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (19/6), beban finansial yang ditanggung Israel berasal dari penggunaan rudal pencegat untuk menangkis serangan rudal balistik Iran, serta amunisi, operasional pesawat, dan kerusakan besar akibat serangan yang disebut para ahli sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya”.

Para analis menyebut, besarnya biaya ini akan sangat memengaruhi berapa lama serangan militer Israel terhadap Iran akan berlangsung.

“Faktor utama yang benar-benar akan menentukan besaran biaya perang adalah durasinya. Jika hanya berlangsung selama seminggu, itu satu hal. Namun jika mencapai dua minggu atau sebulan, itu cerita yang sangat berbeda,” ujar Karnit Flug, mantan Gubernur Bank Israel yang kini menjadi peneliti senior di lembaga pemikir Israel Democracy Institute.

Sejak Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada 13 Juni, Teheran telah menembakkan lebih dari 400 rudal balistik ke wilayah Israel. Untuk menangkisnya, Israel mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow 3.

𝗕𝗶𝗮𝘆𝗮 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗽𝘀𝗶 𝗖𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗥𝗽𝟯,𝟮𝟴 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻 𝗽𝗲𝗿 𝗛𝗮𝗿𝗶

Menurut para ahli, operasi intersepsi rudal saja diperkirakan menghabiskan biaya hingga USD 200 juta per hari, atau sekitar Rp3,28 triliun.

Setiap kali sistem David’s Sling diaktifkan, biayanya sekitar USD 700 ribu (sekitar Rp11,48 miliar), dengan asumsi penggunaan minimal dua rudal pencegat.

Sementara itu, sistem Arrow 3 disebut menghabiskan biaya hingga USD 4 juta per satu kali intersepsi, atau sekitar Rp65,6 miliar.

𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝘀𝘁𝗶𝘁𝘂𝘁 𝗦𝗮𝗶𝗻𝘀 𝗪𝗲𝗶𝘇𝗺𝗮𝗻𝗻

Serangan besar terjadi pada 14 Juni, ketika puluhan rudal Iran menghantam Tel Aviv dan Haifa. Salah satu targetnya adalah Institut Sains Weizmann di Rehovot, yang sering disebut sebagai “MIT-nya Israel”.

Menurut pihak kampus, serangan itu mengakibatkan kerusakan pada tiga gedung utama laboratorium dan memengaruhi sekitar 45 laboratorium lain, dengan total kerugian mencapai 2 miliar shekel atau setara dengan sekitar USD 570 juta (Rp9,35 triliun).

Kerugian tersebut hanya mencakup infrastruktur fisik dan belum termasuk kerugian ilmiah seperti hancurnya bahan penelitian langka, sampel yang tak tergantikan, dan terhentinya riset jangka panjang. Diperkirakan biaya pembangunan ulang tiap laboratorium bisa mencapai puluhan juta dolar (setara ratusan miliar rupiah per laboratorium).

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗛𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿, 𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗹𝗮𝗶𝗺 𝗔𝘀𝘂𝗿𝗮𝗻𝘀𝗶

Iran terus melancarkan serangan hampir setiap hari sejak 13 Juni. Serangan ini mengakibatkan kehancuran atau kerusakan parah pada ribuan bangunan, dan menyebabkan ribuan warga Israel kehilangan tempat tinggal.

Data dari Otoritas Pajak Israel mencatat, hingga awal pekan ini, telah ada 9.900 klaim kompensasi, yang terdiri dari:

– 8.549 klaim untuk kerusakan struktural rumah,

– 668 klaim untuk kerusakan kendaraan, dan

– 683 klaim untuk kerusakan isi rumah dan properti lainnya.

Antara 13 hingga 16 Juni saja, serangan rudal Iran diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 1 miliar shekel, atau setara USD 277 juta (sekitar Rp4,54 triliun).

𝗞𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗶𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸

Risiko keamanan yang meningkat juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan perusahaan internasional di Israel.

Stasiun televisi Channel 12 Israel melaporkan bahwa perusahaan pelayaran raksasa Maersk telah menangguhkan aktivitas di Pelabuhan Haifa karena ancaman serangan rudal dari Iran.

Sementara itu, kilang minyak terbesar di Israel milik Bazan Group di Haifa terpaksa ditutup sejak 16 Juni setelah dihantam rudal Iran. Serangan itu menewaskan tiga pekerja dan melumpuhkan pembangkit listrik utama di kompleks tersebut.

Kilang tersebut menyuplai hampir 60 persen kebutuhan solar Israel dan sekitar 50 persen kebutuhan bensin nasional, sehingga penutupan ini sangat berdampak pada pasokan energi nasional. (Bahry)

Sumber: Cradle

Trump Beri Waktu Dua Pekan, AS Akan Gabung Perang Israel-Iran?

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tenggat waktu dua minggu untuk memutuskan apakah Negeri Paman Sam akan ikut bergabung dalam perang antara Israel dan Iran. Langkah ini diambil untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi sebelum konflik meluas ke skala yang lebih besar, demikian pernyataan dari Gedung Putih pada Kamis (19/6/2025).

Keputusan ini muncul setelah pernyataan terbuka Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran menjadi tujuan perang mereka. Dalam kunjungan ke rumah sakit Soroka di Beersheba yang menjadi sasaran rudal Iran, Katz menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, “tidak boleh dibiarkan hidup.”

“Khamenei telah secara terbuka menyerukan penghancuran Israel dan memerintahkan serangan langsung ke rumah sakit. Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan ada,” tegas Katz di hadapan wartawan.

Israel, yang sebelumnya hanya menargetkan situs militer dan fasilitas nuklir Iran, kini mulai menyerang target-target nonmiliter seperti stasiun penyiaran nasional yang disebut Katz sebagai “simbol rezim.”

Serangan rudal Iran ke rumah sakit Soroka sendiri tidak menimbulkan korban jiwa karena pasien dan staf telah berlindung di tempat aman. Namun, kerusakan bangsal dan suasana panik yang terjadi memicu kemarahan publik Israel.

Rudal lainnya menghantam wilayah sekitar Tel Aviv, menyebabkan lebih dari 200 orang terluka, termasuk empat luka berat. Salah satu rudal menghantam dasar gedung pencakar langit di Ramat Gan, hanya 200 meter dari pusat perdagangan berlian Israel.

“Rasanya seperti bom atom. Seperti gempa bumi,” kata Asher Adiv (69), warga sekitar. Adiv, yang memiliki darah Yahudi Iran dan fasih berbahasa Persia, menyampaikan harapan agar rakyat Iran bangkit menentang rezim Ayatullah.

“Kami berjuang bukan hanya untuk Israel, tapi untuk dunia. Kami minta Trump untuk turun tangan dan selesaikan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mencoba meredam ketegangan dengan menyatakan bahwa perubahan rezim Iran “bukanlah tujuan resmi” dari operasi militer mereka.

Namun, tekanan dari dalam Israel terhadap AS untuk terlibat secara langsung terus meningkat. Terutama karena hanya Amerika Serikat yang memiliki senjata konvensional sekuat bom penghancur bunker GBU-57, yang diyakini mampu menembus situs nuklir Iran yang paling terlindungi seperti Fordow, yang terkubur lebih dari 100 meter di bawah gunung dekat kota suci Qom.

Netanyahu dan para pejabat senior Israel terus mendorong Trump agar tidak hanya mendukung dari belakang, tetapi ikut serta dalam serangan langsung ke jantung program nuklir Iran. Sumber di pemerintahan AS menyebutkan bahwa rencana serangan sudah disusun, namun Trump masih menunggu kemungkinan kesepakatan terakhir dari Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium.

Fordow bukan satu-satunya sasaran. Situs Natanz yang sudah beberapa kali diserang sebelumnya dan reaktor air berat lainnya juga dianggap sebagai target utama karena potensinya dalam menghasilkan plutonium, bahan baku alternatif untuk senjata nuklir.

Iran sendiri bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya telah mengecam Iran karena memperkaya uranium hingga 60%, hanya satu langkah teknis menuju tingkat senjata nuklir.

Ironisnya, Israel yang menuduh Iran, justru merupakan satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan meski tidak pernah secara resmi mengakui memiliki senjata tersebut. Negara Zionis itu juga belum pernah menandatangani perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Di tengah meningkatnya eskalasi, sejumlah negara mulai bersiap mengevakuasi warganya dari Iran dan Israel. Pemerintah Israel juga tengah mengupayakan pemulangan puluhan ribu warganya yang terdampar di luar negeri, sementara bandara utama Israel tetap ditutup sejak gelombang serangan pertama terhadap Iran dimulai. (Bahry)

Sumber: The Guardian

Brigade Al-Qassam Hancurkan Tiga Tank Merkava Israel, Al-Quds Tembak Jatuh Drone Canggih

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, mengklaim telah menghancurkan tiga tank tempur Merkava milik Israel menggunakan alat peledak berkekuatan tinggi.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut aksi ini terjadi pada pertengahan Juni 2025 di kawasan timur kamp pengungsi Jabaliya, Jalur Gaza bagian utara.

“Setelah kembali dari garis pertempuran, para pejuang kami mengonfirmasi penghancuran tiga tank Merkava dengan tiga bom darat berdaya ledak tinggi,” tulis Al-Qassam dalam rilis yang dipublikasikan pada 19 Juni.

Mereka juga mengklaim berhasil menembak mati seorang tentara Israel di timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza, pada 6 Juni lalu.

Sementara itu, Brigade Al-Quds—sayap militer Gerakan Jihad Islam—mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone tempur Israel jenis Matrice 600 di kawasan Al-Tuffah, Gaza timur.

Menurut mereka, drone tersebut bersenjata dan membawa bom serta mortir yang dapat dijatuhkan secara vertikal.

Brigade Al-Quds juga mengklaim telah meledakkan kendaraan militer Israel menggunakan alat peledak di dekat Masjid Riyadh al-Salehin, timur Jabaliya, tiga hari sebelumnya. Dalam serangan itu, mereka menyatakan juga meluncurkan tembakan mortir ke arah pasukan Israel dan mengenai sasaran secara langsung.

Tak hanya itu, para pejuang mereka juga disebut berhasil menghancurkan kendaraan militer Israel lainnya dengan alat peledak laras tinggi yang telah ditanam lebih dulu di daerah Jouret al-Lout, selatan Khan Yunis, Gaza bagian selatan.

Dalam pernyataan terpisah, militer Israel mengonfirmasi tewasnya empat tentaranya di Jalur Gaza. Salah satunya adalah Sersan Staf Stav Halfon (20 tahun) dari Batalyon Teknik Tempur ke-603, yang tewas akibat tembakan penembak jitu di Khan Younis, Gaza selatan, pada Rabu (18/6).

Selain itu, seorang prajurit cadangan dari Brigade Parasut Cadangan ke-646 juga mengalami luka parah di lokasi yang sama. Dua prajurit lainnya, Kapten (Purn.) Tal Movshovitz dan Sersan Staf Naveh Leshem, sebelumnya dilaporkan tewas dalam insiden terpisah di Khan Younis. Hingga saat ini, total korban tewas dari pihak Israel dalam serangan darat di Gaza dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza telah mencapai 433 personel. (Bahry)

Sumber: PC & TOI

IRGC Klaim Kuasai Langit Israel, Rudal Fattah Tembus Pertahanan Udara Zionis

TEHERAN (jurnalislam.com)– Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Rabu (18/6/2024) mengklaim telah menguasai sepenuhnya wilayah udara Israel setelah meluncurkan gelombang serangan rudal hipersonik Fattah-1 dalam Operasi True Promise 3.

IRGC menyatakan bahwa rudal Fattah generasi pertama berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam tempat-tempat perlindungan militer dengan presisi tinggi. Serangan ini diklaim sebagai balasan terhadap agresi militer Israel terhadap situs militer dan nuklir Iran pekan lalu.

“Rudal Fattah yang kuat dan sangat lincah telah menembus perisai pertahanan rudal, mengguncang perlindungan para pengecut Zionis berkali-kali,” demikian kutipan pernyataan resmi IRGC.

“Serangan rudal malam ini membuktikan bahwa kami kini memegang kendali penuh atas langit wilayah yang diduduki.”

Pernyataan tersebut merupakan respons terhadap klaim sebelumnya dari pejabat militer Israel dan Amerika Serikat yang menyatakan telah menguasai wilayah udara Iran. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangan udara intensif dan menyebut kini dapat terbang di atas Teheran tanpa perlawanan signifikan, usai melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran.

Israel juga memperingatkan warga sipil di Teheran untuk mengungsi, dan dilaporkan telah menyerang kantor pusat televisi pemerintah Iran saat sedang melakukan siaran langsung. Serangan tersebut merupakan bagian dari Operasi Lion’s Courage yang dicanangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Serangan ini akan terus berlanjut hingga semua fasilitas nuklir dan persenjataan rudal Iran dihancurkan,” tegas Netanyahu.

Presiden AS Donald Trump, melalui akun Truth Social miliknya, juga mendukung operasi Israel. Ia menulis bahwa pasukan AS dan Israel kini memegang kendali penuh atas langit Iran, menyebut dominasi udara itu sebagai hasil kekuatan teknologi buatan Amerika.

Namun IRGC menegaskan bahwa dengan pengerahan rudal Fattah-1, mereka kini juga memegang kekuasaan penuh atas langit Israel. Rudal hipersonik ini pertama kali diluncurkan Iran pada 2023 dan dirancang khusus untuk menghindari sistem pertahanan seperti Iron Dome dan Arrow.

Fattah-1 adalah rudal jarak menengah sepanjang 12 meter, dengan hulu ledak seberat 200 kilogram, jangkauan hingga 1.400 kilometer, dan kecepatan maksimum Mach 14,6 atau sekitar 17.900 km/jam. Ditenagai bahan bakar padat satu tahap dan dilengkapi wahana luncur hipersonik (HGV), rudal ini mampu bermanuver selama penerbangan untuk menghindari intersepsi.

IRGC menegaskan bahwa penggunaan rudal Fattah-1 dalam konflik saat ini merupakan pengerahan militer strategis pertama sejak konflik eskalatif dimulai pada pertengahan Juni, dan diproyeksikan akan menjadi titik balik signifikan dalam dinamika militer di kawasan.

Dengan kedua pihak kini saling mengklaim supremasi udara, eskalasi konflik tampaknya akan terus berlanjut, belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan mereda dalam waktu dekat. (Bahry)

Sumber: Cradle

Bunker Nuklir Iran Terlalu Kuat, Bom Amerika Jadi Harapan Terakhir?

IRAN (jurnalislam.com)- Bom penghancur bunker milik Amerika Serikat menjadi satu-satunya senjata konvensional yang mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Senjata ini disebut-sebut sebagai pilihan utama Presiden Donald Trump jika ia memutuskan untuk secara militer mendukung Israel menghadapi Iran.

Bom tersebut adalah GBU-57 atau Massive Ordnance Penetrator (MOP) — hulu ledak seberat 30.000 pon (sekitar 13.600 kilogram) yang mampu menembus hingga 200 kaki (61 meter) ke dalam tanah sebelum meledak. Meskipun dirancang untuk menghancurkan target strategis seperti fasilitas nuklir, bom ini tidak tersedia dalam gudang senjata Israel.

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴?

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel telah melakukan serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah komandan militer Iran dan merusak berbagai instalasi di permukaan. Namun, serangan tersebut justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

“Stok rudal, peluncur, pangkalan militer, fasilitas produksi, ilmuwan nuklir, serta sistem komando dan kendali militer Iran telah mengalami kerusakan serius,” ujar Behnam Ben Taleblu, Direktur Program Iran di lembaga kajian Foundation for Defense of Democracies (FDD) yang berbasis di Washington.

Meski begitu, lanjut Taleblu, masih menjadi tanda tanya besar apakah serangan Israel benar-benar mampu menarget jantung program nuklir Iran.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa fasilitas pengayaan uranium Fordow, yang terletak di selatan Teheran, tidak mengalami kerusakan. Berbeda dengan situs Natanz dan Isfahan yang lebih mudah diakses, Fordow dibangun jauh di bawah tanah, dan diyakini berada 300 kaki di bawah permukaan batuan keras, membuatnya di luar jangkauan bom konvensional Israel.

“Semua mata tertuju pada Fordow,” kata Taleblu sebagaimana dilansir dari The New Arab (18/6).

𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗔𝗦 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝘀

Mantan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS sekaligus peneliti di Rand Corporation, Mark Schwartz, menegaskan bahwa hanya Amerika Serikat yang memiliki kapasitas konvensional untuk menghancurkan situs semacam itu — yang dimaksud adalah bom GBU-57.

Militer AS menyatakan bahwa bom ini dirancang khusus untuk menembus struktur bawah tanah yang sangat dalam. Tidak seperti bom pada umumnya yang meledak setelah benturan, GBU-57 memiliki selongsong baja khusus yang diperkeras, serta sekering tahan tekanan tinggi agar mampu menembus batuan dan beton sebelum meledak di dalam tanah.

Pengembangan bom ini dimulai pada awal 2000-an dan kontrak produksi sebanyak 20 unit diberikan kepada Boeing pada 2009.

𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗕𝗼𝗺 𝗜𝗻𝗶 𝗗𝗶𝗸𝗶𝗿𝗶𝗺𝗸𝗮𝗻?

Satu-satunya pesawat yang mampu membawa dan menjatuhkan GBU-57 adalah pesawat pengebom siluman B-2 milik AS. Beberapa unit B-2 sempat terlihat dikerahkan ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, pada awal Mei lalu. Namun, berdasarkan analisis citra satelit dari Planet Labs yang dikutip AFP, pesawat-pesawat ini tak lagi tampak pada pertengahan Juni.

Dengan jangkauan penerbangan yang sangat jauh, B-2 mampu terbang langsung dari AS menuju Timur Tengah untuk melakukan misi pengeboman — sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, menurut peneliti pertahanan CSIS, Masao Dahlgren.

Setiap B-2 mampu membawa dua bom GBU-57, dan menurut Schwartz, satu kali serangan tidak cukup.

“Mereka tidak akan cukup hanya dengan satu bom, kemungkinan besar perlu beberapa bom untuk mencapai efektivitas maksimal,” ujar Schwartz. Ia juga menambahkan bahwa dominasi udara Israel atas wilayah Iran saat ini dapat mengurangi risiko misi pengeboman jika dilakukan oleh AS.

𝗔𝗽𝗮 𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮?

Taleblu menekankan bahwa intervensi militer AS seperti ini akan membawa beban politik besar, mengingat dampaknya terhadap kawasan dan dunia internasional. Ia juga menegaskan bahwa GBU-57 bukan satu-satunya cara untuk menangani program nuklir Iran.

Tanpa bom GBU-57 dan tanpa adanya solusi diplomatik, Israel kemungkinan akan memilih cara alternatif, seperti menyerang pintu masuk fasilitas bawah tanah, menghancurkan jalur listrik dan sistem pendukung lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap situs Natanz. (Bahry)

Sumber: TNA

Malaysia Inisiasi Armada Seribu Kapal untuk Menembus Blokade Gaza

KUALA LUMPUR (jurnalislam.com)– Organisasi masyarakat sipil di Malaysia pada Sabtu (14/6/2025) mengumumkan rencana peluncuran “mobilisasi maritim terbesar di dunia” untuk memutus blokade Israel di Jalur Gaza. Kampanye ini diberi nama “Armada Seribu Kapal” dan bertujuan mengirim kapal dari berbagai benua secara terkoordinasi guna menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menekan Israel untuk mengakhiri pengepungan terhadap Gaza.

Inisiatif tersebut diumumkan dalam konferensi pers di Kuala Lumpur oleh Azmi Abdul Hamid, Ketua Dewan Konsultatif Organisasi Islam Malaysia (MAPIM). Menurutnya, kampanye ini merupakan respons terhadap aksi militer brutal Israel dan kejahatan genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

“Ini adalah tanggapan global terhadap kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina. Kami tidak bisa lagi diam,” ujar Azmi.

Azmi menyampaikan bahwa koordinasi telah dimulai dengan berbagai kelompok masyarakat sipil di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Ia mengklaim bahwa gagasan armada ini telah mendapatkan dukungan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyitaan kapal bantuan Madleen oleh militer Israel beberapa waktu lalu disebut sebagai titik balik dalam upaya global untuk menembus blokade Gaza. Meskipun gagal mencapai tujuannya, kapal itu disebut berhasil menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza.

“Armada kali ini akan jauh lebih besar dan lebih terorganisasi dibanding Mavi Marmara pada tahun 2010,” tambah Azmi, merujuk pada misi bantuan yang berakhir tragis dengan terbunuhnya 10 aktivis oleh pasukan Israel.

Dalam pernyataan bersama yang ditandatangani puluhan organisasi di Malaysia, kampanye ini memiliki empat tujuan utama:

1. Mencabut blokade Israel terhadap Gaza,

2. Memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan,

3. Mengamankan perlindungan internasional bagi warga Palestina,

4. Menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel.

Penyelenggara juga menyerukan perlindungan internasional bagi para relawan dari berbagai negara yang akan berpartisipasi dalam armada ini. Seruan ini ditujukan untuk mendorong tekanan diplomatik tidak langsung terhadap Israel melalui jalur hukum dan diplomasi.

Secara paralel, aktivis Malaysia juga menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia (MIDA). Mereka menuntut pemutusan hubungan dagang dengan perusahaan-perusahaan yang masih beroperasi di wilayah pendudukan Palestina.

Salah satu target kritik adalah perusahaan asal AS, Caterpillar, yang dituding terlibat dalam penghancuran rumah warga Palestina karena menyediakan buldoser untuk militer Israel.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, MAPIM mengumumkan pembentukan sekretariat internasional dan dana keuangan khusus untuk mengoordinasikan logistik, pengadaan kapal, dan dukungan dari kelompok-kelompok kemanusiaan di seluruh dunia. MAPIM juga mengajak individu, organisasi, dan perusahaan untuk memberikan bantuan teknis maupun material.

Kampanye ini muncul di tengah meningkatnya frustrasi global atas kegagalan komunitas internasional dalam menghentikan perang di Gaza atau menegakkan hukum humaniter internasional.

Penyelenggara menyatakan bahwa persiapan tengah berlangsung dan pengumuman lebih lanjut akan disampaikan dalam beberapa pekan mendatang. (Bahry)

Sumber: TNA

AS Waspadai Iran Tanam Ranjau di Selat Hormuz jika Terlibat Dukung Israel

WASHINGTON, DC (jurnalislam.com)– Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, dan kini muncul kekhawatiran baru dari pejabat Amerika Serikat bahwa Iran dapat menanam ranjau di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, jika Washington memutuskan untuk secara langsung mendukung operasi militer Israel terhadap Teheran.

Menurut laporan The New York Times, Selasa (17/6), informasi intelijen yang telah ditinjau oleh pemerintahan Presiden Donald J. Trump menunjukkan bahwa Iran kemungkinan besar akan menempuh strategi militer tersebut dalam upaya menjebak kapal-kapal perang Amerika yang beroperasi di Teluk Persia.

“Para pejabat mengatakan bahwa jika terjadi serangan, Iran dapat mulai menambang di Selat Hormuz, sebuah taktik yang dimaksudkan untuk menjepit kapal perang Amerika di Teluk Persia,” tulis laporan tersebut.

Ancaman ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik berskala terbatas antara Israel dan Iran bisa meningkat menjadi konflik regional besar yang melibatkan bentrokan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi menjadi semakin genting dengan munculnya laporan bahwa Iran telah menyiapkan rudal balistik dan persenjataan lainnya untuk menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Yordania. Target utama Iran disebut-sebut adalah fasilitas nuklir bawah tanah Fordo yang mungkin akan diserang oleh Israel.

Sebagai respons atas potensi ancaman tersebut, militer AS dilaporkan telah menempatkan lebih dari 40.000 tentaranya di kawasan dan meningkatkan kesiagaan di berbagai pangkalan militer di Arab Saudi, UEA, dan Yordania.

Sementara itu, Iran secara terbuka menyatakan siap membalas jika mendapat serangan dari AS atau Israel. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Senin (16/6) menegaskan bahwa:

“Musuh kita harus tahu bahwa mereka tidak dapat mencapai solusi dengan serangan militer terhadap kita dan tidak akan dapat memaksakan keinginan mereka kepada rakyat Iran.” ungkapnya.

Ia juga memperingatkan bahwa AS dan Israel akan bertanggung jawab atas setiap bentuk eskalasi konflik di kawasan.

Pejabat intelijen AS mengatakan, banyak pangkalan rudal Iran saat ini sudah dalam jangkauan pangkalan-pangkalan militer Amerika, sehingga Iran tidak memerlukan persiapan besar-besaran untuk melancarkan serangan balasan.

Di sisi lain, Pentagon disebut tengah mempersiapkan kemungkinan operasi militer, termasuk penggunaan pesawat pembom siluman B-2 dan bom penghancur bunker Massive Ordnance Penetrator, jika Israel kesulitan menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang diperkuat.

Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa keterlibatan langsung AS hanya akan memperburuk situasi. Rosemary Kelanic, analis dari lembaga pemikir Defense Priorities yang berbasis di Washington, menyatakan:

“Tidak ada kata terlambat untuk tidak memulai perang. Intervensi AS hanya akan melipatgandakan secara dramatis dorongan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.” terang Kelanic. (Bahry)

Sumber: AA

Khamenei Bersumpah Tak Akan Ampuni Pemimpin Israel, Trump: Kami Tahu Lokasinya

TEHERAN (jurnalislam.com)– Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada Rabu (18/6) bersumpah bahwa Iran tidak akan menunjukkan belas kasihan terhadap para pemimpin Israel. Pernyataan keras ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang telah berujung pada saling serang dalam beberapa hari terakhir.

“Kita harus memberikan respons yang kuat terhadap rezim Zionis teroris. Kita tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada Zionis,” tulis Khamenei dalam sebuah unggahan di platform X (dulu Twitter).

Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan “penyerahan tanpa syarat” dari Teheran. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa pihaknya mengetahui keberadaan Khamenei dan menyebutnya sebagai “target yang mudah.”

“Kami tahu persis di mana yang disebut ‘Pemimpin Tertinggi’ itu bersembunyi. Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana – Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya untuk saat ini. Namun, kami tidak ingin rudal ditembakkan ke warga sipil, atau tentara Amerika. Kesabaran kami sudah menipis. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tulis Trump.

Konflik antara Israel dan Iran memasuki babak baru sejak Israel melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran terhadap fasilitas nuklir, militer, dan kawasan permukiman di Iran pada pekan lalu. Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan mengerahkan pesawat nirawak ke wilayah Israel. Pada Rabu pagi, Iran menyatakan telah meluncurkan rudal hipersonik ke arah Israel sebagai bagian dari gelombang serangan terbaru.

Situasi semakin memanas seiring dengan saling ancam antara para pemimpin kedua negara. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

50 Pesawat Tempur Israel Hujani Teheran, Targetkan Pabrik Senjata

TEHERAN (jurnalislam.com)– Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke Teheran pada Rabu dini hari (18/6/2025). Serangan ini menargetkan fasilitas nuklir, termasuk lokasi produksi sentrifus dan pembuatan senjata milik Iran, dalam babak terbaru eskalasi militer antara kedua negara.

“Lebih dari 50 jet tempur Angkatan Udara Israel melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah Teheran selama beberapa jam terakhir,” bunyi pernyataan militer Israel.

Target utama serangan tersebut adalah fasilitas produksi sentrifus yang diyakini berperan dalam pengembangan senjata nuklir Iran. Selain itu, beberapa lokasi produksi bahan baku dan komponen rudal permukaan-ke-permukaan juga dihantam.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Israel mengeluarkan peringatan kepada warga sipil Teheran untuk segera meninggalkan distrik ke-3, yang disebut sebagai lokasi infrastruktur militer rezim Iran.

Tak tinggal diam, Iran membalas lewat peluncuran rudal hipersonik Fattah-1 ke arah Israel. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim rudal tersebut “berulang kali mengguncang tempat perlindungan” di pusat kota Tel Aviv.

“Gelombang ke-11 dari Operasi True Promise 3 telah dilakukan menggunakan rudal Fattah-1,” kata IRGC dalam siaran televisi pemerintah.

Rudal hipersonik diketahui mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara dan sulit dilacak oleh sistem pertahanan udara karena kemampuannya bermanuver di udara.

Selain rudal, Iran juga mengirimkan “segerombolan drone” ke wilayah Israel. Militer Israel melaporkan telah berhasil mencegat dua drone di atas wilayah Laut Mati.

Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk menyerah tanpa syarat, dan menegaskan bahwa Washington tidak terlibat dalam serangan udara Israel. Namun, ia memperingatkan bahwa kesabaran Amerika terhadap Iran semakin menipis seiring berlanjutnya konflik yang kini memasuki hari keenam.

Sejak Israel memulai kampanye militer belum pernah terjadi sebelumnya pada Jumat lalu, lebih dari 700 warga negara asing telah meninggalkan Iran menuju negara tetangga seperti Azerbaijan dan Armenia. Di antara mereka terdapat warga Rusia, Jerman, Italia, Tiongkok, hingga negara-negara Asia Tengah.

Ketakutan akan serangan besar-besaran juga membuat banyak warga Teheran mengungsi. Antrian panjang terlihat di SPBU dan toko roti pada hari Selasa. Serangan siber bahkan melumpuhkan Sepah Bank, salah satu bank milik negara Iran, menurut laporan kantor berita Fars.

Di Tel Aviv, sirene peringatan udara terus berbunyi. Beberapa warga memilih tinggal di tempat parkir bawah tanah pusat perbelanjaan sebagai tempat perlindungan sementara.

“Kami memutuskan untuk mendirikan tenda permanen di sini sampai semuanya aman,” kata Mali Papirany (30) kepada AFP. (Bahry)

Sumber: Alarabiya