Abu Ubaidah: Perlawanan Kami Akan Terus Berlanjut hingga Zionis Angkat Kaki dari Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajah Zionis Israel akan terus berlanjut, meski wilayah Gaza hancur total akibat agresi brutal zionis.

Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya yang disiarkan pada Jumat (18/7/2025), bertepatan dengan 21 bulan serangan Israel ke Jalur Gaza. Dalam pidato tersebut, Abu Ubaidah menegaskan bahwa kekuatan pendudukan tidak akan mampu memaksakan syarat-syaratnya kepada rakyat dan kelompok perlawanan.

“Kalian tidak akan pernah bisa mendiktekan syarat-syarat kalian kepada kami. Tak satu pun dari syarat kalian akan terpenuhi,” tegas Abu Ubaidah.

Ia juga mengatakan bahwa tentara Israel telah kehilangan kemampuan untuk melindungi diri, apalagi memenangkan perang.

“Kami menyatakan kepada kalian dan kepada dunia bahwa kalian telah kehilangan kemampuan untuk menang, bahkan sekadar untuk bertahan.”

Menurutnya, kekuatan Israel telah mengalami kebangkrutan militer, keamanan, politik, dan moral, serta menderita trauma kolektif akibat kegagalan di medan tempur.

“Hari ini, kami berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Kami menyalakan api di bawah kaki para penjajah. Mereka tidak akan pernah menikmati rasa aman, bahkan untuk sesaat,” ujarnya.

Abu Ubaidah juga mengecam keras rencana pendudukan untuk mendirikan zona penyangga di perbatasan Gaza, dengan menyebutnya sebagai “ilusi belaka.”

“Zona penyangga yang kalian bangun akan menjadi zona pembantaian, kuburan dan kehinaan bagi kalian.”

Ia mengingatkan bahwa penjajah tak akan mampu memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan Al-Quds, apalagi memaksakan normalisasi atas bangsa Palestina.

“Kalian tidak akan mampu melenyapkan perlawanan, bahkan jika kalian menghancurkan Gaza berkeping-keping.”

Pernyataan Abu Ubaidah tersebut menegaskan bahwa konflik di Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda, seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel dan terus menguatnya dukungan moral terhadap perjuangan rakyat Palestina dari berbagai belahan dunia.

AS dan Saudi Semakin Mesra, Gelar Latihan Gabungan Jaga Keamanan Laut Merah

ARAB SAUDI (jurnalislam.com)- Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menyelesaikan fase terakhir dari serangkaian latihan keamanan maritim gabungan, menandai langkah strategis dalam mempererat kemitraan militer kedua negara.

Latihan bertajuk Marine Defender 25 itu melibatkan Angkatan Laut Kerajaan Saudi dan Armada Kelima Komando Pusat AS (CENTCOM), yang dipimpin oleh Angkatan Laut AS. Latihan ini mencakup berbagai skenario operasi, mulai dari penanggulangan ranjau, pelatihan penjinakan bahan peledak, integrasi sistem nirawak, hingga latihan tempur perkotaan dan patroli maritim gabungan.

“Latihan ini menunjukkan kekuatan kerja sama bilateral serta kapabilitas mutakhir dalam peperangan modern,” demikian pernyataan CENTCOM.

Kegiatan berlangsung selama sepekan di Jubail, wilayah timur Arab Saudi yang berbatasan langsung dengan Teluk Arab. Serangkaian kegiatan terkoordinasi dilakukan, seperti inspeksi kapal, pengoperasian kendaraan jarak jauh, pelatihan penanggulangan ranjau darat, serta pemanfaatan teknologi nirawak generasi terbaru. Puncaknya adalah pembentukan formasi angkatan laut gabungan yang mengintegrasikan aset militer AS dan Arab Saudi.

“Latihan militer-ke-militer ini menggarisbawahi komitmen bersama kami terhadap stabilitas kawasan, kesiapan operasional, serta kemitraan pertahanan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Kerajaan Arab Saudi,” ujar Dave Eastburn, juru bicara senior CENTCOM, kepada Al Arabiya English pada Jumat (18/7).

Ketika ditanya mengenai tujuan latihan, Eastburn menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas operasional di lingkungan yang belum dikenal serta memperkuat interoperabilitas antarnegara mitra. Ia menambahkan, CENTCOM tetap berkomitmen memperdalam pemahaman bersama, membagikan taktik, teknik, dan prosedur, serta mempertahankan kesiapsiagaan pasukan untuk menghadapi ancaman bersama.

“Bekerja sama dengan mitra regional utama seperti Kerajaan Arab Saudi merupakan peluang berharga untuk memperkuat keamanan kawasan,” tegasnya.

Sebelumnya pada awal tahun ini, kedua negara juga menggelar latihan besar bertajuk Nautical Defender 25 di lokasi yang sama, yang bertujuan meningkatkan koordinasi keamanan maritim dan interoperabilitas militer.

Latihan Marine Defender 25 digelar tidak lama setelah kunjungan Jenderal Erik Kurilla, Kepala CENTCOM, ke Arab Saudi. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Saudi, Jenderal Fayyad bin Hamed Al-Ruwaili, dan menyaksikan pencapaian operasional penuh baterai pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) pertama milik Kerajaan.

Sementara itu, pada Kamis lalu, diplomat tertinggi AS juga mengadakan pembicaraan dengan mitranya dari Saudi mengenai upaya bersama untuk menstabilkan kawasan. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, kedua belah pihak turut membahas kerja sama dalam menjaga keamanan Laut Merah serta memperkuat hubungan strategis AS-Saudi yang terus berlangsung.

Latihan ini juga menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah, yang belakangan diblokade oleh kelompok Houthi di Yaman. Aksi tersebut telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan memicu kekhawatiran global terkait keamanan maritim. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Blokade Houthi Efektif, Pelabuhan Eilat Israel Bangkrut dan Resmi Tutup Mulai Ahad

PALESTINA (jurnalislam.com)- Pelabuhan Eilat, pelabuhan paling selatan Israel yang terletak di Laut Merah, dilaporkan akan menghentikan seluruh operasinya mulai Ahad (21/7/2025), setelah gagal membayar utang dan mengalami krisis keuangan akibat blokade yang diberlakukan oleh kelompok Houthi Yaman.

Menurut laporan Channel 12 Israel, Pemerintah Kota Eilat telah membekukan rekening bank milik pelabuhan dengan nilai sekitar 10 juta shekel atau sekitar Rp42 miliar. Dana tersebut merupakan tunggakan utang pelabuhan kepada pemerintah kota yang tidak dapat dibayarkan karena penurunan pendapatan yang sangat tajam.

Pendapatan Pelabuhan Eilat anjlok drastis pada tahun 2024 menjadi hanya 42 juta shekel atau sekitar Rp176 miliar, turun hampir 80 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencatat pendapatan sebesar 212 juta shekel atau sekitar Rp888 miliar. Penurunan ini terjadi setelah pengalihan rute pengiriman kapal menuju pelabuhan di Mediterania seperti Ashdod dan Haifa.

“Menyusul penutupan Pelabuhan Eilat dari operasi reguler dan krisis keuangan yang dialaminya akibat konflik yang sedang berlangsung, Pemerintah Kota Eilat memberi tahu manajemen pelabuhan tentang penyitaan semua rekening banknya karena utang kepada pemerintah kota,” demikian pernyataan Otoritas Pelabuhan dan Pengiriman Israel yang dikutip oleh The New Arab, Kamis (17/7).

“Sebagai konsekuensinya, pemberitahuan telah diterima dari Otoritas Pengiriman dan Pelabuhan bahwa Pelabuhan Eilat diperkirakan akan ditutup dan menghentikan seluruh aktivitasnya mulai Minggu mendatang,” lanjut pernyataan tersebut.

Pelabuhan Eilat selama ini merupakan salah satu jalur penting perdagangan Israel, menghubungkan rute dari Terusan Suez Mesir serta menjadi lokasi strategis jaringan pipa Eilat-Ashkelon yang mengalirkan minyak mentah ke Laut Mediterania.

Namun sejak November 2023, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran telah meluncurkan berbagai serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke kapal-kapal yang terafiliasi dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina dan kecaman terhadap genosida Israel di Gaza.

Pada Rabu (16/7), kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan drone ganda yang menghantam Pelabuhan Eilat dan satu lokasi militer di wilayah Negev, dan menyebutnya sebagai “operasi simultan yang sukses.”

Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana penutupan permanen Pelabuhan Eilat. (Bahry)

Sumber: TNA

Setelah 90 Serangan Udara di Suriah, Netanyahu Umumkan Gencatan Senjata

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Para diplomat Barat dilaporkan berada hanya beberapa meter dari kompleks Kementerian Pertahanan Suriah saat serangan udara besar-besaran Israel mengguncang ibu kota Damaskus pada Rabu (16/7/2025). Informasi ini diungkap oleh dua sumber yang mengetahui insiden tersebut serta sejumlah saksi mata yang berbicara kepada kantor berita Reuters.

Para diplomat yang tengah melintas dengan kendaraan lapis baja dilaporkan tetap melanjutkan perjalanan mereka setelah beberapa rudal menghantam area sekitar Kementerian Pertahanan. Identitas serta jumlah diplomat tidak diungkapkan demi alasan keamanan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, kantor berita Anadolu asal Turki pada Kamis (17/7) melaporkan bahwa Ankara memainkan peran penting dalam menengahi gencatan senjata di wilayah Sweida pada hari yang sama. Menurut sumber keamanan Turki, pihak intelijen negara tersebut mengadakan pembicaraan intensif dengan para pejabat dari Amerika Serikat, Suriah, dan Israel guna meredakan situasi. Kepala intelijen Turki disebut aktif terlibat dalam proses diplomasi tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis pernyataan resmi melalui sebuah video pada Kamis, menjelaskan tujuan dan dampak serangan Israel terhadap Suriah. Ia menyatakan bahwa Damaskus telah melanggar dua “garis merah” Israel: yakni pemerintah Suriah mengirim pasukan ke zona demiliterisasi selatan Damaskus dan menyerang warga Druze di wilayah Pegunungan Druze.

“Kami memiliki kebijakan yang jelas: demiliterisasi wilayah selatan Damaskus dari Dataran Tinggi Golan hingga Pegunungan Druze serta perlindungan atas saudara-saudara kami dari kaum Druze,” ujar Netanyahu.

“Karena rezim Damaskus melanggar itu, saya menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk merespons dengan tegas. Angkatan Udara kami menghantam regu-regu pembunuh dan kendaraan lapis baja mereka. Saya juga memerintahkan serangan langsung ke Damaskus termasuk Kementerian Pertahanan.”

Netanyahu menambahkan bahwa gencatan senjata berhasil dicapai usai serangan besar-besaran tersebut, menyebutnya sebagai “perdamaian melalui kekuatan.”

Selain menghantam Kementerian Pertahanan, IDF juga dilaporkan menargetkan pintu masuk utama kompleks militer Suriah di Damaskus. Media Suriah menyebut dua serangan tambahan menyasar bangunan strategis di sekitar Lapangan Umayyah, yang diketahui sebagai pusat penting militer Suriah. Sebuah saluran televisi setempat menggambarkan serangan itu menciptakan “cincin api” di sekitar markas militer.

Laporan juga muncul terkait serangan di area belakang Istana Rakyat, kediaman resmi Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa.

Menurut pernyataan militer Israel, sekitar 90 serangan udara dilancarkan di berbagai wilayah Suriah. Lebih dari 100 rudal dan bom dijatuhkan oleh jet tempur dan drone, menyasar kendaraan tempur, tank, dan kendaraan lapis baja milik rezim Suriah. Penilaian awal menyebutkan bahwa pusat komando utama militer Suriah mengalami kerusakan besar dan kemungkinan hancur total.

Sebagai catatan, wilayah Sweida dan Dataran Tinggi Golan secara hukum internasional merupakan bagian sah dari wilayah kedaulatan Suriah. Sweida terletak di selatan Suriah dan dikenal sebagai wilayah mayoritas Druze yang relatif stabil selama konflik. Sementara itu, Dataran Tinggi Golan diduduki oleh Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967 dan dianeksasi secara sepihak pada 1981 langkah yang tidak diakui oleh mayoritas komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Klaim Israel atas wilayah ini tetap menjadi sumber ketegangan dalam hubungan regional. (Bahry)

Sumber: ynetnews

Shoigu: NATO Jadi Ancaman Utama bagi Rusia

MOSKOW (jurnalislam.com)— Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, menyatakan bahwa NATO kini menjadi salah satu “ancaman utama” bagi keamanan nasional Rusia. Dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Selasa (15/7/2025), Shoigu memperingatkan bahwa militerisasi aliansi Barat dan peningkatan pertahanan Uni Eropa dapat merusak stabilitas global.

Dalam wawancara eksklusif dengan harian Rusia Kommersant, Shoigu menggambarkan KTT NATO terbaru sebagai “KTT Trump”, merujuk pada pengaruh mantan Presiden AS Donald Trump terhadap arah kebijakan pertahanan Eropa. Ia menuduh negara-negara Eropa tunduk pada tuntutan Washington untuk menaikkan anggaran pertahanan hingga 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka pada tahun 2035.

“Orang-orang Eropa telah mengubah penipuan menjadi strategi. Mereka berpura-pura menyetujui tuntutan Trump sambil mengalihkan anggaran pertahanan ke proyek-proyek sipil seperti jalan, jembatan, dan pelabuhan,” kata Shoigu, mencontohkan proyek Jembatan Sisilia di Italia sebagai bentuk penyamaran investasi militer.

Shoigu juga membeberkan kekuatan militer NATO yang menurutnya kini terdiri dari lebih dari 50.000 kendaraan lapis baja, 7.000 pesawat, dan 750 kapal perang. Ia menambahkan bahwa sistem satelit milik aliansi digunakan secara aktif dalam mendukung operasi Ukraina melawan Rusia.

𝗧𝘂𝗱𝗶𝗻𝗴 𝗨𝗘 𝗚𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗔𝘀𝗲𝘁 𝗥𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗯𝗲𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻

Lebih lanjut, Shoigu menuduh Uni Eropa tengah merencanakan ekspansi militernya dengan cara memangkas layanan sosial dalam negeri dan menggunakan aset Rusia yang dibekukan.

Ia juga mengklaim bahwa sebagian besar biaya dukungan terhadap Ukraina telah dialihkan oleh Washington kepada negara-negara Eropa. Hal itu tercermin dalam rencana pengeluaran militer blok Eropa sebesar €800 miliar (sekitar USD 870 miliar) hingga tahun 2030 di bawah strategi pertahanan “Kesiapan 2030”.

“Barat memanipulasi statistik untuk menampilkan peningkatan anggaran ini sebagai hal yang moderat. Padahal kenyataannya, beban ekonomi riil bisa mengarah pada kehancuran ekonomi dan penipuan di antara anggota NATO,” ujarnya.

Shoigu juga mengecam rencana Uni Eropa untuk menggunakan bunga hasil aset Rusia yang dibekukan sebagai dana bantuan untuk Ukraina, menyebutnya sebagai bentuk pencurian.

“Barat sudah terbiasa mencuri uang orang lain. Libya, Suriah, Afghanistan sekarang Rusia,” tambahnya.

Meski melontarkan kritik tajam, Shoigu menyatakan bahwa Rusia tetap terbuka untuk berdialog dengan Eropa. Ia merujuk pada seruan Presiden Vladimir Putin yang mengusulkan pembentukan sistem keamanan Eurasia yang baru sebagai alternatif dari dominasi NATO dan AS di kawasan tersebut. (Bahry)

Sumber: AA

UNRWA: Israel Bunuh Rata-Rata Satu Kelas Anak Palestina Setiap Hari Sejak Serangan ke Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengungkapkan fakta mengerikan terkait dampak serangan militer Israel di Jalur Gaza. Dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X (dahulu Twitter) pada Senin (14/7), UNRWA menyatakan bahwa sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober 2023, rata-rata 35 hingga 45 anak Palestina tewas setiap harinya setara dengan satu kelas sekolah UNRWA.

“Setiap hari sejak awal perang di Gaza, rata-rata satu kelas anak-anak terbunuh,” ujar Sam Rose, Direktur Urusan UNRWA di Gaza.

Rose juga menggambarkan penderitaan anak-anak yang setiap pagi harus mengantre demi mendapatkan air dan makanan bagi keluarga mereka aktivitas yang justru membuat mereka menjadi sasaran tembakan.

“Kami melihat anak-anak berdiri di pinggir jalan dengan jeriken kuning, menunggu truk air datang. Salah satu antrean ini menjadi lokasi serangan kemarin,” katanya, merujuk pada insiden pada Ahad lalu di Gaza tengah, di mana pasukan Israel menembaki kerumunan warga di titik distribusi air dan menewaskan sedikitnya tujuh anak.

“Setiap kematian adalah tragedi. Namun yang ini sangat simbolik, mengingat konteksnya. Mereka bukan satu-satunya anak yang tewas di Gaza kemarin, dan sayangnya bukan yang terakhir hari ini,” tambahnya.

Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 18.000 anak Palestina telah tewas sejak serangan dimulai. Jumlah total korban jiwa mencapai 58.600 orang, dengan rata-rata hampir 100 korban meninggal setiap harinya dalam beberapa pekan terakhir. Jumlah ini diyakini masih jauh dari angka sebenarnya karena ribuan korban masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗚𝗶𝘇𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗚𝗮𝘇𝗮

Penderitaan anak-anak Gaza tak berhenti pada ancaman kematian akibat serangan. Menurut UNRWA, 1 dari 10 anak yang diperiksa di fasilitas kesehatan mereka mengalami malnutrisi.

“Kasus-kasus ini sebelumnya hanya kami lihat di buku teks dan film dokumenter,” ujar seorang perawat kepada UNRWA.

“Sekarang kami menanganinya langsung, setiap hari.”

Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma, menambahkan bahwa malnutrisi akut pada anak-anak sebelumnya jarang terjadi di Gaza sebelum perang. Namun kini, sistem kesehatan yang runtuh dan blokade ketat Israel memperburuk kondisi kemanusiaan secara drastis.

Hingga Juni 2025, sedikitnya 66 anak Palestina dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi. Pemerintah Gaza menyalahkan larangan Israel atas pengiriman susu formula dan makanan bayi, serta penutupan perbatasan yang membuat distribusi bantuan kemanusiaan terhenti.

𝗔𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗔𝗺𝗽𝘂𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗠𝗮𝘀𝘀𝗮𝗹

Kantor HAM PBB untuk wilayah Palestina pada hari Selasa juga melaporkan statistik mengejutkan: sedikitnya 10 anak per hari kehilangan satu atau kedua kaki akibat serangan Israel. Selain itu, sekitar 40.500 anak mengalami luka baru terkait perang.

Banyak prosedur amputasi dilakukan tanpa anestesi karena keterbatasan fasilitas medis dan obat-obatan. Gaza kini disebut UNICEF sebagai wilayah dengan jumlah anak amputasi tertinggi di dunia.

“Dunia tidak bisa terus membuang muka,” tegas UNRWA. (Bahry)

Sumber: TNA

Menteri Israel Serukan Pembunuhan Presiden Suriah, Israel Lancarkan Serangan Udara ke Damaskus

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Ketegangan antara Suriah dan Israel kembali meningkat setelah Menteri Urusan Diaspora Israel, Amichai Chikli, menyerukan pembunuhan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa. Chikli menjuluki Presiden Suriah sebagai “teroris” dan “pembunuh brutal”, menyusul eskalasi kekerasan sektarian di provinsi Sweida yang mayoritas penduduknya berasal dari komunitas Druze.

“Shar’a adalah teroris. Lebih baik kita singkirkan dia sekarang,” ujar Chikli dalam pernyataannya yang kontroversial, seperti dikutip The New Arab, Rabu (16/7).

Ia menyamakan Presiden Suriah dengan kelompok Hamas, dan menuduh rezim Suriah melakukan pembantaian terhadap kaum Druze di selatan negara itu. Pernyataan tersebut menuai kritik keras dari berbagai pihak yang menilai hal itu sebagai hasutan untuk melakukan pembunuhan terhadap kepala negara berdaulat.

Tak lama setelah pernyataan Chikli, militer Israel melancarkan serangan udara ke beberapa sasaran strategis di ibu kota Suriah, Damaskus. Serangan tersebut menghantam wilayah dekat Kementerian Pertahanan dan Istana Kepresidenan. Menurut laporan awal, sedikitnya tiga orang tewas dan 18 lainnya luka-luka.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa serangan itu dilakukan atas perintah langsung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang saat ini sedang dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga ikut melontarkan tuduhan terhadap Presiden Suriah, menyebut kepemimpinan negara tersebut sebagai “ekstremis Islamis yang brutal.”

Ia menegaskan bahwa Israel harus mempertahankan kendali atas zona penyangga dan wilayah Gunung Hermon—bagian dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel—untuk “melindungi permukiman Yahudi”.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shibani, menegaskan bahwa melindungi komunitas Druze merupakan tanggung jawab internal pemerintah Suriah. Ia memperingatkan pihak asing, termasuk Israel, agar tidak mencampuri urusan dalam negeri Suriah.

“Campur tangan luar hanya akan memperburuk ketegangan dan mengancam kedaulatan nasional kami,” tegas al-Shibani.

Dalam perkembangan di lapangan, pasukan Suriah dan aparat Kementerian Dalam Negeri dikerahkan ke Sweida untuk meredam bentrokan antara milisi Druze dan pejuang suku Badui yang telah berlangsung sejak Ahad (13/7). Menurut sejumlah saksi mata, bentrokan menyebabkan puluhan orang tewas atau terluka.

Namun, laporan dari aktivis dan media lokal menyebut bahwa pasukan pemerintah diduga terlibat dalam ‘eksekusi lapangan’ terhadap warga sipil Druze. Beberapa video yang beredar menunjukkan pria-pria Druze yang dianiaya dan dipermalukan oleh aparat Suriah. Laporan-laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengonfirmasi adanya serangan udara Israel di wilayah Sweida pada Selasa (15/7), namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampaknya.

Israel secara rutin menyatakan bahwa serangan udaranya di Suriah ditujukan untuk mencegah pengaruh Iran atau untuk melindungi komunitas Druze, khususnya mereka yang memiliki hubungan dengan Druze Israel. Namun, sebagian besar tokoh Druze di Suriah menolak segala bentuk intervensi asing dan menegaskan dukungan terhadap kedaulatan Suriah.

Diperkirakan terdapat sekitar 800.000 warga Druze di Suriah, yang tersebar di provinsi Sweida, pedesaan Damaskus, Quneitra, serta sebagian wilayah Idlib. Mereka merupakan bagian dari populasi Suriah yang berjumlah sekitar 22 juta jiwa. (Bahry)

Sumber: TNA

Tolak Peredaran Miras, SMIJ Temui DPRD Surakarta

SURAKARTA (jurnalislam.com)- Solo Madani Indonesia Jaya (SMIJ) bersama sejumlah elemen umat Islam mendatangi Gedung DPRD Surakarta guna melakukan audensi dengan anggota dewan terkait peredaran Minuman Keras (Miras) di kota Surakarta pada Rabu, (16/7/2025).

Dalam kesempatan, rombongan SMIJ diterima oleh Wakil ketua DPRD dari Fraksi PKS Daryono, Agus Widodo dari komisi 2 dan Wahyu Haryanto dari komisi 1 Fraksi Partai PDIP sejumlah anggota dewan lainnya.

Ketua SMIJ Ustaz Yusuf Suparno meminta kepada Presiden Republik Indonesia Jend. Purn. H. Prabowo Subianto untuk meninjau ulang dan mencabut Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol
demi melaksanakan Konstitusi negara dan Undang-Undang.

“Presiden Republik Indonesia segera mencabut Perpres No. 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol dan mengganti dengan Perpres yang sesuai dengan konstitusi, nilai agama, dan aspirasi masyarakat Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” katanya.

“DPR RI melakukan pengawasan serta menyuarakan kehendak rakyat terkait regulasi
minuman beralkohol. Segera mengagendakan RUU Larangan Minuman Beralkohol yang
sudah dimasukkan ke Baleg (Badan Legislasi) DPR RI tahun 2020 dalam pembahasan
Prolegnas Prioritas DPR RI,” imbuh ustaz Yusuf.

Ia juga berharap kepada anggota dewan di DPRD Kota maupun Kabupaten yang ada di Indonesia untuk bisa membuat Perda tentang pelarangan dengan pembatasan miras.

“DPRD Kabupaten atau Kota seluruh Indonesia agar membuat Perda atau Perdais pelarangan dengan pembatasan minuman beralkohol sebagai upaya membangun jati diri bangsa (Nation and Character Building) sesuai dengan falsafah negara Pancasila dan UUD NRI 1945,” terangnya.

Lebih lanjut, Ustadz Yusuf dan sejumlah perwakilan elemen umat Islam juga menyampaikan soal temuan temuan pelarangan peredaran miras di kota Surakarta.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Surakarta Daryono berjanji akan menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan oleh SMIJ dan perwakilan elemen umat Islam.

“Saya kira ini menjadi masukan bagi kami, atas nama DPRD Supaya bisa memfollow up i aspirasi dari bapak bapak yang tadi hadir terkait dengan peredaran miras di kota Surakarta,” ungkapnya.

“Yang saya kira juga ketika tidak ada pembatasan dan pengaturan itu yang terjadi adalah kerusakan moral masyarakat kemudian ada pelanggaran ketertiban yang ini pasti akan berdampak negatif juga dalam konteks masyarakat Surakarta,” pungkasnya.

Jurnalis: Podcast Jadi Media Strategis Sebar Isu Palestina, Tapi Waspadai Hoaks

JAKARTA (jurnalislam.com)– Jurnalis Gazamedia sekaligus host Timteng Podcast, Pizaro Gozali Idrus, menegaskan pentingnya literasi media dan validasi informasi di era digital, khususnya terkait isu Palestina dan geopolitik global.

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam seminar bertema Navigasi Informasi di Era Digital, di hadapan mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STID Mohammad Natsir, pada Senin (14/7).

Menurut Pizaro, saat ini pola konsumsi informasi masyarakat telah bergeser dari teks ke visual. “Orang sekarang lebih suka lihat visual. Karena itu, penyebaran informasi tentang Palestina dan geopolitik dunia sekarang bisa melalui platform seperti podcast,” ujar kandidat Doktor Hubungan Internasional USM Malaysia ini.

Namun, ia mengingatkan bahwa arus informasi yang deras juga membawa risiko misinformasi dan hoaks.

“Seperti hoaks tentang pesawat China yang disebut berhasil menembus blokade Israel di Gaza. Faktanya, video pesawat itu diambil di wilayah lain, bukan di Gaza,” tegas Duta Kemanusiaan Dewan Dakwah ini.

Dalam era banjir informasi ini, ia mendorong jurnalis maupun masyarakat untuk tidak sekadar menerapkan prinsip check and recheck, tetapi triple check.

“Pastikan sumber yang kita kutip berasal dari media kredibel, bukan hanya dari Instagram, TikTok, Facebook, dan sebagainya. Kita juga harus lakukan validasi sana-sini untuk menulis berita,” kata mantan redaktur Kantor Berita Anadolu ini.

*Perhatian Dunia terhadap Palestina Meningkat*

Pizaro menilai bahwa dalam satu dekade terakhir, perhatian dunia terhadap isu Palestina semakin tinggi. “Kalau dulu, 10–20 tahun lalu, isu Palestina seolah jadi isu Timur Tengah saja. Tapi sekarang dunia mulai peduli karena fakta-fakta genosida di Gaza sudah terbuka,” ujarnya.

Ia menyebut tekanan publik internasional terhadap Israel meningkat tajam, terutama setelah banyak bukti visual yang menunjukkan jatuhnya korban jiwa, termasuk anak-anak, tersebar di berbagai platform.

“Untuk mengalihkan perhatian dari tekanan itu, Israel kemudian menyerang Iran. Itu strategi menciptakan musuh baru agar dunia lupa pada Gaza, dan sekaligus meredam desakan agar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mundur. Iran seolah-seolah dijadikan kapal penyelamat oleh Netanyahu untuk keluar dari tekanan atas genosida Gaza.”

Seminar ini merupakan bagian dari upaya penguatan literasi media dan pemahaman geopolitik global bagi mahasiswa, agar mampu menyikapi isu-isu internasional secara kritis dan bertanggung jawab.

Israel Serang Tank di Sweida Suriah, Hamas Kutuk Keras Agresi Militer

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap beberapa tank di wilayah selatan Suriah pada Senin (14/7/2025), di tengah meningkatnya ketegangan sektarian yang menewaskan puluhan orang di provinsi Sweida.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform X, juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, menyatakan bahwa serangan dilakukan di wilayah desa Sami, provinsi Sweida. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari respons terhadap situasi keamanan yang memburuk di kawasan itu.

Sebelumnya, bentrokan sengit pecah antara kelompok bersenjata Druze dan milisi suku Badui Sunni di kota Sweida pada Ahad (13/7), menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Menurut laporan salah satu pemantau konflik di Suriah, sedikitnya 89 orang tewas, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Sumber keamanan menyebutkan bahwa enam anggota pasukan keamanan Suriah yang dikerahkan untuk meredam bentrokan turut tewas dalam insiden tersebut. Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan telah mengirim tambahan pasukan ke ibu kota provinsi untuk menjaga ketertiban dan menjamin keselamatan warga sipil yang mengungsi.

Media lokal Sweida24 melaporkan bahwa baku tembak kembali terjadi pada Senin pagi, mengindikasikan situasi yang masih belum kondusif. Sumber Kementerian Pertahanan kepada Reuters mengonfirmasi enam tentara Suriah tewas dalam bentrokan lanjutan itu.

Pertikaian ini menandai babak baru konflik sektarian di wilayah selatan Suriah, yang mayoritas penduduknya berasal dari kelompok minoritas Druze. Ketegangan di Sweida telah meningkat sejak pejuang pembebasan yang menggulingkan Presiden Bashar al-Assad pada Desember lalu. Meski sejumlah kelompok pejuang menyatakan bergabung dengan Kementerian Pertahanan, proses integrasi milisi dari kelompok minoritas seperti Druze dan Kurdi belum sepenuhnya berhasil.

Situasi di wilayah selatan kian rumit dengan sikap Israel yang menolak kehadiran militer baru Suriah di kawasan tersebut. Israel menuntut agar wilayah Sweida dan sekitarnya dijadikan zona demiliterisasi—sebuah posisi yang ditolak oleh pemerintah Damaskus karena dinilai melanggar kedaulatan negara.

Menteri Dalam Negeri Suriah, Anas Khattab, menyebut tidak adanya peran aktif lembaga negara, khususnya militer dan keamanan, sebagai faktor utama meningkatnya ketegangan di Sweida dan daerah pedesaan di sekitarnya. Ia juga merujuk pada serangkaian penculikan sebagai pemicu kekerasan terbaru, termasuk penculikan seorang pedagang Druze pada Jumat lalu di jalan raya penghubung Damaskus-Sweida.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗞𝘂𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗴𝗿𝗲𝘀𝗶 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Menanggapi serangan tersebut, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras agresi Israel terhadap wilayah Suriah. Dalam siaran pers yang diterbitkan pada Selasa (15/7), Hamas menyebut tindakan militer Israel sebagai “agresi fasis” dan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

“Agresi Zionis terhadap Suriah merupakan bentuk arogansi dan upaya untuk memaksakan hegemoni atas negara-negara di kawasan,” tulis Hamas dalam pernyataannya. Mereka menyerukan solidaritas negara-negara Arab dan Islam serta rakyat dunia untuk bersatu melawan agresi dan rencana pendudukan Israel di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA