Israel Panggil 430 Ribu Tentara Cadangan untuk Kuasai Seluruh Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)— Pemerintah Israel memberikan wewenang kepada Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, untuk memanggil hingga 430 ribu tentara cadangan hingga 30 November 2025. Kebijakan ini dilaporkan oleh penyiar publik Israel, Kan, pada Ahad (10/8/2025).

Langkah tersebut diambil di tengah berlanjutnya rencana Israel untuk menguasai Kota Gaza dan menduduki seluruh wilayah Jalur Gaza. Kan melaporkan, keputusan ini terkait dengan eskalasi operasi militer serta kebutuhan militer untuk memperkuat kemampuan tempur, sesuai keputusan kabinet keamanan pada Kamis sebelumnya.

Jaksa Agung Israel, Gali Baharav-Miara, pada Ahad (10/8) mengatakan bahwa negaranya “tidak memiliki alternatif selain terus memobilisasi tentara cadangan,” seperti dikutip i24NEWS.

Media Israel menyebut, Israel menargetkan perebutan Kota Gaza, yang diperkirakan memakan waktu beberapa bulan, sebelum memindahkan warga Palestina ke kamp konsentrasi di Khan Younis. Tel Aviv juga berencana membangun lebih banyak pusat distribusi bantuan, serupa dengan yang saat ini beroperasi di selatan Gaza dan dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung AS dan Israel.

Sejak awal operasi, setidaknya 1.400 warga Palestina tewas akibat serangan Israel saat mencari bantuan, termasuk di titik distribusi GHF.

Militer Israel memperingatkan bahwa perluasan serangan dapat membahayakan nyawa sekitar 20 tawanan Israel yang masih ditahan Hamas di Gaza serta berisiko menyeret pasukan ke perang gerilya berkepanjangan.

Keluarga tawanan Israel telah menyerukan penghentian operasi militer untuk membuka peluang pertukaran tawanan.

Sementara itu, para pakar PBB dan sejumlah kelompok hak asasi manusia terkemuka menuduh Israel melakukan genosida di Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA

Kelaparan di Gaza Tewaskan 217 Orang, Termasuk 100 Anak

GAZA (jurnalislam.com)– Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lima warga Palestina, termasuk dua anak, meninggal akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir, Ahad (10/8/2025). Dengan tambahan ini, total korban tewas akibat malnutrisi sejak perang dimulai mencapai 217 orang, di antaranya 100 anak.

Sebagian besar kematian akibat kelaparan terjadi dalam beberapa pekan terakhir, di tengah pembatasan ketat Israel terhadap pasokan bantuan. Meskipun sebagian blokade total dicabut pada akhir Mei, pasokan bantuan yang masuk tetap jauh dari kebutuhan minimum.

Sumber medis di Gaza mengatakan, pada Sabtu (9/8), pasukan Israel juga menewaskan sedikitnya 47 orang dalam serangan di berbagai wilayah Jalur Gaza, termasuk puluhan yang sedang menunggu bantuan.

Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, menyebut kelaparan menjadi ancaman serius, khususnya bagi anak-anak dan lansia.

“Malnutrisi pada anak-anak menyebabkan penurunan kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan kematian,” ujarnya kepada Al Jazeera.

𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗵𝗮𝗺𝗯𝗮𝘁

Program Pangan Dunia (WFP) pada Jumat (8/8) meminta Israel mengizinkan setidaknya 100 truk bantuan per hari masuk ke Gaza. Saat ini, hanya 60 pengemudi truk bantuan yang sudah diperiksa dan disetujui militer Israel.

WFP menyebut, kebutuhan minimum harian sebenarnya mencapai 600 truk bantuan, menurut perhitungan badan-badan PBB dan otoritas Gaza. Namun, sejak 27 Juli, 266 truk WFP yang tiba di titik penyeberangan ditolak, termasuk 31 persen yang sebelumnya telah disetujui.

Pergerakan konvoi bantuan juga kerap terhambat perubahan mendadak dari pihak Israel dan situasi keamanan buruk akibat operasi militer di jalur distribusi.

Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) menambahkan, pihaknya tidak diizinkan membawa makanan maupun obat-obatan ke Gaza selama lebih dari lima bulan. Hal ini membuat warga yang kelaparan dan sakit tidak mendapatkan pasokan vital untuk bertahan hidup.

𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗟𝗼𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻

Sumber medis di Gaza melaporkan, enam warga tewas akibat tembakan tentara Israel saat menunggu bantuan di dekat Koridor Netzarim, Gaza Tengah. Dua warga lainnya tewas di lokasi distribusi bantuan GHF di wilayah selatan, dan jenazah mereka dibawa ke Kompleks Medis Nasser.

Di Khan Younis, serangan udara Israel menghantam sebuah apartemen dan menewaskan seorang perempuan serta melukai satu orang lainnya.

Sejak awal perang pada Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 61.369 warga Palestina tewas dan 152.850 lainnya terluka. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Remaja Palestina Tewas Tertimpa Palet Bantuan Udara di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang remaja Palestina berusia 15 tahun tewas tertimpa palet bantuan kemanusiaan yang dijatuhkan dari udara di Jalur Gaza, Sabtu (9/8/2025). Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kecaman internasional terhadap rencana Israel mengambil alih kota terbesar di wilayah tersebut, yang saat ini menjadi tempat berlindung hampir satu juta warga.

Korban bernama Muhannad Zakaria Eid tewas di dekat Koridor Netzarim, Gaza Tengah. Rekaman yang diverifikasi Al Jazeera menunjukkan warga berkerumun di sekitar jenazah korban. Dalam rekaman lain, saudara korban terlihat menggendongnya dari lokasi kejadian, sementara sang ayah memeluk erat jasad anaknya di Rumah Sakit al-Awda, Nuseirat.

Saudara korban kepada Reuters menjelaskan, Muhannad meninggal setelah sebuah kotak bantuan jatuh menimpanya.

“Meskipun kelaparan dan kondisi hidup sulit, saudara saya pergi mengambil bantuan yang dijatuhkan dari pesawat ke laut. Sebuah kotak jatuh tepat di atasnya dan ia gugur,” ujarnya.

“Mereka tidak bisa memasukkan bantuan melalui perbatasan, tetapi menjatuhkannya di atas kami dan membunuh anak-anak kami. Cukuplah Tuhan bagi kami melawan mereka dan bantuan mereka.” imbuhnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa distribusi bantuan melalui udara berisiko tinggi, tidak efisien, dan mahal. PBB mendesak Israel mengizinkan masuknya bantuan secara aman melalui jalur darat.

Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat, sedikitnya 23 warga Palestina tewas dan 124 lainnya terluka akibat insiden bantuan udara.

“Kami berulang kali memperingatkan bahaya metode tidak manusiawi ini dan menyerukan masuknya bantuan melalui jalur darat dengan cara aman dan memadai, terutama bahan makanan, susu bayi, obat-obatan, dan perlengkapan medis,” tulis kantor tersebut dalam pernyataan resmi. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Ratusan Ribu Warga Tel Aviv Demo Tolak Perluasan Perang di Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Ribuan orang memadati jalanan Tel Aviv, Sabtu (9/8/2025), untuk menuntut diakhirinya perang di Gaza. Aksi ini berlangsung sehari setelah pemerintah Israel berjanji memperluas operasi militer dan merebut Kota Gaza.

Para demonstran membawa spanduk dan foto para sandera yang masih ditahan di Gaza, sambil mendesak pemerintah menjamin pembebasan mereka. Wartawan AFP memperkirakan jumlah peserta mencapai puluhan ribu, sementara kelompok keluarga sandera menyebut angka hingga 100.000 orang.

Pihak berwenang tidak memberikan estimasi resmi jumlah massa, namun jumlah peserta dinilai jauh lebih besar dibandingkan aksi anti-perang sebelumnya.

“Kami ingin mengirim pesan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu: jika Anda menyerbu Gaza dan para sandera terbunuh, kami akan mengejar Anda di alun-alun kota, dalam kampanye pemilu, dan di setiap waktu serta tempat,” ujar Shahar Mor Zahiro, kerabat salah satu sandera yang tewas, kepada AFP.

Sehari sebelumnya, kabinet keamanan Israel menyetujui rencana operasi besar merebut Kota Gaza. Keputusan tersebut memicu kritik domestik dan internasional. Sejumlah negara, termasuk sekutu Israel, mendesak gencatan senjata yang dinegosiasikan untuk memulangkan sandera dan mengatasi krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

Meski menghadapi penolakan keras dan kabar adanya perbedaan pendapat di internal militer, Netanyahu tetap mempertahankan keputusannya. Dalam unggahan di media sosial Jumat malam, ia menegaskan, “Kami tidak akan menduduki Gaza — kami akan membebaskan Gaza dari Hamas.”

Netanyahu telah menghadapi protes rutin selama 22 bulan perang. Banyak aksi sebelumnya menyerukan kesepakatan gencatan senjata, yang di masa lalu menghasilkan pertukaran sandera dengan tahanan Palestina di penjara Israel.

Kecaman Otoritas Palestina
Otoritas Palestina (PA) pada Sabtu mengecam rencana Israel memperluas operasi militernya. Presiden PA Mahmud Abbas menyebut langkah tersebut sebagai “kejahatan baru” dan menegaskan perlunya tindakan segera untuk menghentikannya.

Abbas juga menekankan pentingnya memberikan kewenangan penuh kepada Negara Palestina untuk mengelola Jalur Gaza. Dalam rapat yang sama saat rencana Kota Gaza disetujui, kabinet keamanan Israel juga mengadopsi prinsip untuk mengakhiri perang, termasuk pembentukan pemerintahan baru di Gaza yang bukan berasal dari Hamas maupun PA.

PA, yang dibentuk sebagai langkah awal menuju negara Palestina, hanya memiliki kewenangan terbatas di sebagian wilayah Tepi Barat dan tidak memiliki kendali di Gaza yang dikuasai Hamas sejak 2007.

Korban Sipil Terus Bertambah
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan setidaknya 37 orang tewas akibat serangan Israel di seluruh wilayah tersebut pada Sabtu, termasuk 30 warga sipil yang tengah menunggu bantuan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 61.000 warga Palestina sejak perang pecah, angka yang dinilai Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat diverifikasi. (Bahry)

Sumber: TNA

Turki dan Mesir Desak Perlawanan Internasional atas Rencana Israel Kuasai Gaza

EL ALAMEIN (jurnalislam.com)– Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyerukan negara-negara Muslim untuk bertindak bersama dan menggalang perlawanan internasional terhadap rencana Israel menguasai Kota Gaza. Seruan ini disampaikan usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, di El Alamein, Mesir, Sabtu (9/8/2025).

“Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) telah dipanggil untuk menghadiri pertemuan darurat,” kata Fidan dalam konferensi pers bersama. Ia menegaskan bahwa kebijakan Israel bertujuan memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka melalui kelaparan dan menginvasi Gaza secara permanen.

Menurut Fidan, tidak ada alasan yang dapat membenarkan dukungan negara-negara terhadap Israel. Ankara menilai rencana tersebut sebagai bagian dari kebijakan genosida dan ekspansionis Israel, serta menyerukan langkah global untuk menghentikannya.

Mesir dan Turki pada Jumat (8/8) sama-sama mengecam rencana tersebut. Abdelatty menyebutnya sebagai “perkembangan yang sangat berbahaya” yang tidak hanya mengancam rakyat Palestina, tetapi juga negara-negara tetangga. Ia menegaskan terdapat koordinasi penuh antara Mesir dan Turki dalam isu Gaza.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Komite Menteri OKI pada Sabtu, rencana Israel dinilai sebagai “eskalasi berbahaya dan tidak dapat diterima, pelanggaran berat hukum internasional, dan upaya memperkuat pendudukan ilegal.” Komite memperingatkan bahwa langkah itu akan menghilangkan setiap peluang perdamaian.

Israel telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap bantuan masuk ke Gaza selama lebih dari 22 bulan. Meski demikian, Israel membantah menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dan menuding Hamas bertanggung jawab atas krisis pangan massal.

Para menteri Israel sebelumnya berulang kali menyatakan ambisi untuk mengusir 2,2 juta penduduk Gaza dalam tindakan yang mereka sebut sebagai “emigrasi sukarela,” yang oleh banyak pihak dinilai sebagai pembersihan etnis skala besar.

Tim mediasi dari Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat masih berupaya mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hamas. OKI mendesak negara-negara adidaya dan Dewan Keamanan PBB untuk memikul tanggung jawab hukum dan kemanusiaan mereka, serta mengambil langkah segera menghentikan rencana Israel di Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA

Bupati dan Wakil Bupati Bone Kompak Hadiri Tabligh Akbar IPC Bersama Ustaz Bachtiar Nasir

BONE (jurnalislam.com)– Konvoi solidaritas Palestina bertajuk Indonesia Peace Convoy (IPC) kembali menyapa Sulawesi Selatan. Sabtu pagi (9/8/2025), giliran Kabupaten Bone menjadi tuan rumah kegiatan yang dipimpin langsung oleh inisiator IPC, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).

Lebih dari 500 kendaraan roda dua dan roda empat ikut dalam iring-iringan sepanjang sekitar satu kilometer. Rute konvoi dimulai dari Lapangan H. Andi Palentei, Tonra, menuju Masjid Agung Kabupaten Bone sejauh kurang lebih 59 kilometer.

Pelaksanaan IPC di Bone bertepatan dengan peringatan milad ke-10 tahun Madrasah Hafizh Quran (MHQ) Tonra, lembaga pendidikan penghafal Alquran binaan UBN.

Sabtu sore, ribuan santri dan masyarakat jalan santai dari Masjid Agung Bone menuju Lapangan Merdeka sejauh tiga kilometer. Jalan santai dilepas oleh Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin. Sepanjang jalan, para santri membawa bendera Palestina sembari meneriakkan yel-yel “Free Palestine”.

Puncak kegiatan pada Sabtu malam diisi dengan tabligh akbar di Lapangan Merdeka. UBN berkesempatan menjadi penceramah.

Acara puncak IPC dihadiri Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman dan Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, bersama ribuan warga.

Dalam sambutannya, Bupati Andi Asman menyampaikan apresiasi terhadap kiprah dakwah UBN yang telah dikenal luas melalui media massa.

“Kepada Kiai Haji Bachtiar, terima kasih kakandaku sudah sampai di Bone. Kita sering melihat di media, beliau adalah salah satu putra Bone yang selama ini berjuang untuk Kabupaten Bone,” ujar Bupati Andi Asman.

Pada kesempatan ini, Bupati Andi Asman memaparkan rencana pembangunan pelabuhan di dekat MHQ Tonra dan mengajak masyarakat mendukung proyek tersebut. Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan dakwah seperti IPC, zikir, dan tabligh akbar bisa diselenggarakan secara rutin di Bone.

Sementara itu, UBN dalam ceramahnya memberikan pesan kepada para santri untuk mempersiapkan diri memerdekakan Palestina.

“Biarlah anak-anak kami di MHQ untuk sementara jauh dari HP, jauh dari dunia, tetapi kalian dekat dengan iman sejati,” jelas UBN.

Dengan kondisi itu, kata UBN, diharapkan santri dapat membangkitkan peradaban dunia dengan Quran. Termasuk membebaskan Palestina dan Masjid Al Aqsha.

Menurut UBN, dalam catatan sejarah kerajaan Bani Israil berkuasa tidak lebih dari 80 tahun. Hal ini seperti yang Allah janjikan.

“Sejak tahun 1948 Palestina diambil alih oleh Israel, dan sebentar lagi 80 tahun, 2028 dia akan hancur dan peradaban Islam akan bangkit,” tegas UBN.

Dengan Semangat Kemerdekaan, Dewan Dakwah Lepas 225 Da’i Muda Terbaik ke Pelosok Negeri dari Gedung MPR RI

JAKARTA (jurnalislam.com)- Dalam momentum menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menggelar acara pelepasan 225 da’i muda terbaik, dan terbanyak sepanjang penugasan, di Gedung Nusantara V Komplek DPR MPR RI, Senayan, Jakarta pada Jum’at, (8/8/2025).

Acara yang bertajuk “Dengan Semangat Kemerdekaan, Membangun Peradaban dari Pedalaman” ini bukan hanya menjadi agenda penting bagi dunia dakwah, namun juga menjadi bagian dari langkah nyata membangun bangsa melalui pendidikan, pencerahan, dan pelayanan umat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara lembaga dakwah dengan institusi negara dalam mendorong pembangunan karakter bangsa berbasis nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Para da’i yang dilepas adalah lulusan terbaik dari lembaga pendidikan milik Dewan Da’wah, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) M. Natsir, dan telah menjalani pelatihan intensif, pembekalan dakwah, serta kesiapan menghadapi kondisi sosial dan geografis daerah tugas masing-masing.

Para da’i membawa misi besar dan strategis untuk dakwah dan kemajuan bangsa, salah satunya adalah menamkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada masyarakat binaan.

Acara ini mempertemukan elemen-elemen penting dan strategis bangsa, di antaranya; Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, Lc., M.A, Wakil Ketua MPR RI, Tamsil Linrung, Wakil Ketua DPD RI, Menteri Transmigrasi RI, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pembangunan & Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Dr. Sigit Mustofa Nurudin, ST.MM, Menteri Pertanian Republik Indonesia, diwakili oleh Ketua BRMP Pascapanen Pertanian, Dr. Zainal Abidin, S.P., M.P, Ir. H. Muhammad Noor Rifani, S.H., S.T., M.T, Bupati Tabalong, Dato’ Aneng Bupati Kabupaten Anambas, hingga Prof.(H.C.) Dr.Zainulbahar Noor, S.E., M.Ec, Pimpinan BAZNAS RI.

Ketua Umum Dewan Dakwah, Dr. Adian Husaini, dalam sambutannya menegaskan bahwa misi pengiriman da’i bukan sekadar aktivitas keagamaan, tetapi bagian dari membangun peradaban bangsa dari wilayah pedalaman. “Da’i adalah agen perubahan. Mereka menjalankan misi Bapak Mohammad Natsir dalam mengokohkan Indonesia dalam persatuan umat dan juga memajukan bangsa,” ujarnya.

Islam inilah yang mengikat nusantara, pengiriman da’i ini adalah cara kita memajukan Indonesia,” tambahnya.

Pada momen kenegaraan ini, Dewan Dakwah sekaligus melakukan penandatangan kerjasama (MoU) dengan Baznas RI dan Kabupaten Tabalong.

“Pelepasan dai ini juga sejalan dengan visi misi kami, Tabalong SMART (Sejahtera, Maju, Religius, dan Terdepan), di mana salah satu poinnya adalah hadirnya para da’i di setiap desa dan pertemuan ini jadi langkah awal da’i-da’i Dewan Dakwah akan ada di setiap desa kami di Tabalong,” tutur Muhammad Noor Rifani, Bupati Tabalong

Para da’i yang dilepas akan diberangkatkan menuju tempat bertugas dan mengabdi selama 1 hingga 2 tahun di 175 titik di 29 Provinsi di Indonesia, seperti Papua, NTT, pedalaman Kalimantan, pesisir Sulawesi, hingga perbatasan Sumatera dan Malaysia. Mereka akan menjadi pelopor dakwah, pendidikan, hingga penguatan ekonomi umat di komunitas-komunitas Muslim minoritas.

Dewan Dakwah memastikan bahwa setiap da’i tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga keteladanan. Sehingga pengiriman da’i berdampak luas terhadap masyarakat dari akar rumput.

“Ini adalah bukti konkret Dewan Dakwah untuk mewujudkan keadilan sosial dengan membangun indonesia dari pinggiran. Para da’i yang jadi pelita di tengah pedalaman yang bukan hanya menerangi tapi juga menghangatkan masyarakat dengan dakwah kita,” ujar Tamsil Linrung dalam sambutannya.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid menyampaikan nasihat untuk para dai tentang kesatuan Indonesia yang telah dilakukan oleh Bapak Mohammad Natsir saat merangkai dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga bisa terus berjalan hingga hari ini.

“Hal ini senafas dengan bagaimana dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam tentang pendekatan secara universal untuk persatuan,” kata Hidayat.

Lebih dari itu, Wakil Ketua MPR RI juga memberikan suntikan semangat dalam nasihatnya untuk para da’i agar bisa berdakwah, berdampak dan jadi manifestasi kebaikan yang akan digapai pada momen Indonesia Emas 2045 nanti. “Apa yang kita tanam hari ini melalui para dai yang dikirim ke penjuru negeri adalah apa yang akan kita tuai saat Indonesia Emas 2045 nanti,” tambahnya.

Turut serta di dalam kegiatan Pelepasan Da’i ini kisah inspiratif dari Ustadz Sigit, da’i senior Dewan Dakwah, yang telah mengabdi lebih dari 21 tahun di pedalaman Morowali Utara. Ia membawa surat-surat harapan anak bangsa di Dusun Ngoyo untuk kita semua

“Dan hari ini, 225 dai di hadapan kita menjadi bagian tali estafet yang akan melanjutkan perjuangan untuk memerdekakan anak bangsa yang belum merasakan arti kemerdekaan di wilayah pedalaman,” tutur Ustadz Sigit menatap penuh arti para da’i dari podium tempatnya bicara.

Kegiatan ini menegaskan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya dirayakan, tapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata ke wilayah yang selama ini sering terlupa bahkan belum tersentuh secara merata. Bahwa dakwah bukan hanya domain agama, tetapi juga instrumen kenegaraan dalam membina masyarakat. Melalui dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan, LAZNAS Dewan Dakwah ikut hadir dan berkomitmen membersamai para dai dan menjadikan pedalaman sebagai titik tolak peradaban baru; kuat dalam iman, mandiri dalam ekonomi, dan kokoh dalam semangat kebangsaan.

UBN Serukan Boikot Israel di Indonesia Peace Convoy Sinjai–Bulukumba

SINJAI (jurnalislam.com)- Ulama nasional sekaligus aktivis kemerdekaan Palestina, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menyerukan aksi boikot produk-produk terafiliasi Israel saat memimpin Indonesia Peace Convoy (IPC) di Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Jumat (8/8/2025).

“Boikot… boikot… boikot Israel! Boikot Israel sekarang juga!” teriak UBN yang juga inisiator IPC, disambut pekikan takbir ratusan peserta konvoi.

Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu membeberkan kondisi terkini Gaza yang menurutnya “bukan kelaparan, tetapi dilaparkan” akibat blokade Israel yang juga dibantu Mesir.

“Saat ini bantuan internasional menumpuk hingga 14 ribu ton di perbatasan Rafah, bahkan ada yang sudah basi,” ujarnya.

UBN menegaskan, IPC adalah simbol persatuan rakyat Indonesia untuk Palestina sekaligus bukti bahwa pesan kemanusiaan bisa disampaikan secara damai namun penuh makna. Hingga pelaksanaan di Sinjai–Bulukumba, IPC telah digelar 15 putaran di berbagai kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Aksi solidaritas ini menempuh jarak sekitar 60 kilometer, dimulai dari Alun-Alun Sinjai Bersatu dan berakhir di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Bontobahari, Bulukumba. Sepanjang rute, ratusan kendaraan roda dua dan roda empat mengibarkan bendera Palestina, disambut hangat oleh warga yang berdiri di tepi jalan.

Dukungan penuh datang dari Pemerintah Kabupaten Sinjai. Staf Ahli Bupati Sinjai Bidang Sosial dan SDM, Andi Mandasini, menyampaikan apresiasi kepada Aliansi Rakyat Sinjai Bela Palestina dan seluruh pihak yang terlibat.

“Anak-anak kehilangan masa depan, ibu-ibu kehilangan keluarga, dan pemuda kehilangan hak-hak dasarnya. Kemerdekaan bukan hanya urusan dunia Arab atau umat Islam, tetapi urusan umat manusia,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi bukti nyata kepedulian dan kebersamaan masyarakat Sinjai terhadap penderitaan rakyat Palestina.

“Semangat kepedulian di Sinjai tidak pernah padam. Mari jadikan konvoi ini momentum untuk terus menyuarakan kebenaran dan mendoakan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan kepada saudara-saudara kita di Palestina,” tambahnya.

Hamas Janji Lanjutkan Perlawanan, Dunia Kecam Rencana Pendudukan Gaza oleh Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Hamas menegaskan akan melanjutkan perlawanan bersenjata setelah kabinet Israel menyetujui rencana pendudukan Jalur Gaza. Kelompok itu menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membalikkan arah negosiasi gencatan senjata dan mengorbankan para sandera demi kepentingan politiknya.

“Netanyahu berusaha menyingkirkan para sandera dan mengorbankan mereka demi agenda ideologis ekstremisnya,” demikian pernyataan resmi Hamas pada Jum’at (8/8/2025).

Sementara itu, Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP) juga mengecam langkah tersebut dengan mengatakan, “Netanyahu tidak peduli pada nyawa tentaranya yang kelelahan akibat perang, dan juga tidak peduli pada warga Palestina yang kelaparan di Gaza.”

Rencana pendudukan Gaza itu memicu gelombang kecaman internasional. Kepala HAM PBB Volker Turk menilai langkah Israel tersebut “bertentangan dengan keputusan Mahkamah Internasional yang memerintahkan Israel mengakhiri pendudukannya sesegera mungkin, demi terwujudnya solusi dua negara dan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.”

Perdana Menteri Inggris Kier Starmer juga menolak rencana itu.

“Tindakan ini tidak akan mengakhiri konflik atau membantu mengamankan pembebasan para sandera,” ujarnya.

Senada, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mendesak Israel “untuk tidak menempuh jalan ini, karena hanya akan memperburuk bencana kemanusiaan di Gaza.”

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan “kekhawatiran serius” atas keputusan tersebut, seraya menegaskan bahwa “penyelesaian penuh konflik Gaza hanya dapat dicapai melalui gencatan senjata; hanya dengan demikian jalan menuju de-eskalasi dapat diaspal dan keamanan regional terjamin.”

Dari Ankara, Kementerian Luar Negeri Turki menyerukan “masyarakat internasional untuk memenuhi tanggung jawabnya guna mencegah penerapan keputusan ini, yang bertujuan menggusur paksa warga Palestina dari tanah mereka.”

Sementara itu, seorang pejabat Yordania mengatakan kepada Reuters bahwa “negara-negara Arab hanya akan mendukung apa yang diputuskan rakyat Palestina mengenai tata kelola Gaza” dan menegaskan bahwa “kami tidak akan menyetujui kebijakan Netanyahu dan tidak akan memperbaiki apa yang telah ia rusak.”

Menurut data otoritas kesehatan Gaza, perang yang berlangsung sejak tahun lalu telah menewaskan 61.258 warga Palestina dan melukai 152.045 orang lainnya. Sebagian besar infrastruktur di wilayah tersebut kini hancur, membuat Gaza nyaris tidak layak huni. (Bahry)

Sumber: TNA

4.000 Pengungsi Suriah Kembali dari Jerman Sejak Jatuhnya Rezim Assad

BERLIN (jurnalislam.com)– Sekitar 4.000 pengungsi Suriah telah kembali dari Jerman ke negara asal mereka sejak jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad pada Januari lalu, menurut data yang dikutip Deutsche Welle.

Pemerintah Jerman terus mendanai dan mempromosikan program repatriasi sukarela, namun sebagian besar pengungsi yang pulang tidak menerima dukungan keuangan resmi.

Data menunjukkan hanya 995 orang yang memanfaatkan program pemulangan sukarela yang dikelola pemerintah federal dan negara bagian. Program ini biasanya menanggung biaya perjalanan dan memberikan pembayaran satu kali sebesar €1.000 (sekitar Rp18 juta) per orang dewasa sebagai “insentif awal”.

Selain itu, 193 orang lainnya kembali melalui inisiatif terpisah di tingkat negara bagian, yang juga menyediakan bantuan transportasi dan tunjangan keuangan untuk proses reintegrasi.

Sementara itu, kelompok terbesar, yakni 2.727 warga Suriah, pulang tanpa bantuan pemerintah. Kementerian Dalam Negeri Jerman menyatakan tidak memiliki konfirmasi resmi bahwa mereka telah tiba di Suriah, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah mereka benar-benar kembali ke rumah atau keluar dari sistem suaka Jerman.

Hingga akhir April 2025, sebanyak 464 warga Suriah dipulangkan di bawah pengawasan Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi (BAMF), menurut laporan jaringan media Jerman, RND.

Jerman saat ini menampung populasi pengungsi Suriah terbesar di Eropa, yakni sekitar satu juta orang. Sebagian besar tiba pada periode 2014–2015, di puncak konflik Suriah. Antara 2015 dan 2023, lebih dari 163.000 warga Suriah telah memperoleh kewarganegaraan Jerman.

Meski Suriah mengalami transisi politik, jumlah pengungsi yang kembali dari Eropa masih tergolong rendah. Sebaliknya, negara-negara tetangga seperti Lebanon, Turki, Yordania, dan Irak mencatat sekitar 500.000 pengungsi yang pulang, menurut data PBB. (Bahry)

Sumber: TNA