Israel Perluas Pengepungan Kota Gaza, Abaikan Seruan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Menteri Pertahanan Israel pada Rabu (20/8/2025) menyetujui rencana militer untuk penaklukan Kota Gaza, termasuk pemanggilan sekitar 60.000 pasukan cadangan. Langkah ini diambil di tengah tekanan internasional agar Israel menyetujui gencatan senjata dengan Hamas.

Pejuang Palestina menanggapi keputusan tersebut dengan menyebut Israel telah menunjukkan “pengabaian terang-terangan” terhadap upaya mediasi, termasuk kesepakatan pembebasan tawanan. Mereka menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi “penghalang nyata” yang menghambat tercapainya perjanjian.

Seorang juru bicara militer Israel membenarkan persetujuan rencana itu. Pemerintah, kata dia, tetap bersikeras bahwa Hamas harus membebaskan seluruh tawanan Israel dalam kesepakatan apa pun.

𝗣𝗿𝗼𝗽𝗼𝘀𝗮𝗹 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Kerangka gencatan senjata yang disetujui Hamas mengacu pada proposal utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Usulan itu mencakup gencatan senjata awal 60 hari, pembebasan tawanan Israel secara bertahap, pelepasan sejumlah tahanan Palestina, serta akses masuk bantuan ke Gaza.

Sumber dari Hamas dan Jihad Islam menyebutkan, tahap awal akan mencakup pembebasan 10 tawanan dan 18 jenazah dari Gaza. Sisanya akan dibebaskan dalam pertukaran berikutnya selama periode 60 hari, sementara negosiasi untuk gencatan senjata permanen berlangsung.

Qatar, salah satu mediator, mengatakan proposal terbaru “hampir identik” dengan kesepakatan yang sebelumnya pernah disetujui Israel. Namun hingga kini Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi, meski ia sempat menyatakan hanya menerima kesepakatan jika seluruh tawanan dibebaskan sekaligus sesuai syarat Israel.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Di Kota Gaza, kondisi semakin memburuk. Mustafa Qazzaat, kepala komite darurat setempat, menyebut situasi sebagai “bencana” dengan gelombang pengungsian massal, terutama dari kawasan timur.

Seorang warga, Anis Daloul (64), mengatakan sebagian besar bangunan di kawasan Zeitoun hancur akibat gempuran militer Israel. “Ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka,” ujarnya.

Menurut pejabat medis, serangan udara dan tembakan Israel pada Rabu (20/8) menewaskan sedikitnya 76 orang di seluruh Jalur Gaza. Militer Israel mengatakan masih menyelidiki laporan delapan warga sipil tewas di dekat lokasi distribusi bantuan di Gaza tengah.

AFP mencatat, pembatasan media dan sulitnya akses ke wilayah Gaza membuat verifikasi independen atas jumlah korban tidak memungkinkan.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Persetujuan rencana penaklukan Kota Gaza menuai kritik dari sejumlah pihak. Pemerintah Jerman menegaskan penolakannya terhadap eskalasi baru Israel, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan operasi itu hanya akan membawa “bencana total bagi kedua bangsa” dan berisiko menyeret kawasan ke dalam “perang permanen”.

Kabinet keamanan Israel sendiri telah lebih dulu menyetujui operasi militer di Gaza pada awal Agustus, yang menurut laporan akan memicu pengungsian besar-besaran dan memperburuk krisis kemanusiaan.

Selain Gaza, Israel pada Rabu juga menyetujui proyek permukiman baru di Tepi Barat, langkah yang dikecam keras Otoritas Palestina karena dianggap semakin mengikis prospek berdirinya negara Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA

Empat Tentara Israel Terluka Akibat Ledakan Granat di Suriah Selatan

SURIAH (jurnalislam.com)– Empat tentara Israel dilaporkan terluka akibat ledakan granat tua saat operasi militer di wilayah Suriah selatan, Rabu (20/8/2025).

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan, ledakan tersebut diduga berasal dari granat peninggalan lama Suriah yang ditemukan dalam operasi di wilayah Gunung Hermon. Para tentara yang terluka segera dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

“Menurut penyelidikan awal, pasukan menemukan sejumlah senjata dalam operasi semalam, termasuk sebuah granat tua yang meledak tanpa sebab yang jelas,” ungkap pernyataan IDF.

Militer Israel menyebut operasi di kawasan tersebut kini telah selesai.

Kejadian ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di Suriah. Sejak jatuhnya rezim Assad, Israel diketahui menempatkan pasukan di sembilan pos di Suriah selatan, sebagian besar berada dalam zona penyangga yang diawasi PBB.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, sehari sebelumnya melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Hassan al-Shaibani, mengadakan pertemuan dengan pejabat Israel guna membahas upaya meredakan ketegangan serta memulihkan perjanjian gencatan senjata tahun 1974.

Media Israel berbahasa Ibrani menyebut perundingan itu juga dihadiri oleh Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer dan utusan Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack. Namun, pihak Israel belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

𝗞𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Israel dan Suriah secara teknis masih berada dalam status perang sejak 1948. Israel merebut sekitar dua pertiga wilayah Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada Perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian mencaploknya pada 1981. Langkah tersebut ditolak oleh mayoritas komunitas internasional, kecuali Amerika Serikat.

Sejak Desember lalu, pasukan Israel dilaporkan telah beroperasi hingga 15 kilometer ke dalam wilayah Suriah untuk menyita senjata yang diklaim dapat mengancam Israel bila jatuh ke tangan kelompok bersenjata. Dalam beberapa bulan terakhir, IDF mengaku telah melaksanakan lebih dari 300 operasi di Suriah selatan, termasuk penangkapan tersangka, pencegahan penyelundupan senjata ke Lebanon, serta serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah.

Pada Juli lalu, Israel melancarkan serangan udara dengan dalih melindungi komunitas Druze Suriah di wilayah Suwayda yang terlibat bentrokan dengan pasukan pro-rezim. Selain itu, Israel juga membangun penghalang baru di sepanjang perbatasan Suriah-Israel, yang disebut sebagai proyek “Timur Baru”, berupa parit raksasa untuk mencegah pergerakan kendaraan lintas batas. (Bahry)

Sumber: TOI

Al Qassam Gempur Pos Israel di Khan Younis, Pertempuran Sengit Pecah Berjam-jam

GAZA (jurnalislam.com)– Kontak senjata besar terjadi antara pejuang Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas, dengan tentara Israel di wilayah tenggara Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada Rabu pagi (20/8/2025).

Militer Israel (IDF) menyatakan sedikitnya tiga tentaranya terluka, satu di antaranya dalam kondisi serius, akibat serangan tersebut. IDF menuding pejuang Hamas berupaya melakukan penculikan terhadap pasukan yang bertugas di perkemahan militer.

Menurut keterangan militer Israel, insiden bermula sekitar pukul 09.00 pagi ketika sekelompok anggota Hamas muncul dari sebuah terowongan di selatan Khan Younis. Mereka menembaki pasukan dengan senapan mesin dan roket RPG.

“Pasukan mengidentifikasi lebih dari 15 orang yang muncul dari sebuah terowongan dan melepaskan tembakan, termasuk tembakan RPG, ke arah pasukan,” ujar Juru Bicara IDF Brigjen Effie Defrin dalam konferensi pers.

Defrin juga menyebut beberapa pejuang berhasil masuk ke bangunan tempat pasukan Israel berlindung. Rekaman yang dirilis IDF menunjukkan serangan udara balasan dan upaya tank dari Batalyon Lapis Baja ke-74 menabrak salah seorang pejuang yang membawa RPG.

Pasukan yang terluka diketahui berasal dari Batalyon Nahshon Brigade Kfir. IDF menyatakan sedang melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang terlibat.

Sementara itu, melalui pernyataan resminya, Brigade Al Qassam mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyebut operasi dilakukan oleh satu peleton infanteri yang menyerbu posisi baru tentara Israel di tenggara Khan Younis.

Menurut Al Qassam, pasukan mereka menargetkan sejumlah tank Merkava 4 dengan rudal Shawaza, peluru Al-Yassin 105, serta aksi bom syahid. Para pejuang juga menyerang rumah-rumah yang dijadikan tempat persembunyian tentara Israel dengan rudal anti-benteng, senapan mesin, dan granat tangan.

Dalam pernyataan itu, Al Qassam mengklaim berhasil menewaskan sejumlah tentara Israel dalam pertempuran jarak dekat, termasuk seorang komandan tank. Mereka juga menyebut melancarkan tembakan mortir untuk memutus jalur bantuan musuh, sekaligus mengamankan jalur mundur para pejuang.

“Segera setelah kedatangan pasukan penyelamat, salah satu pelaku bom syahid meledakkan dirinya di antara tentara, menewaskan dan melukai mereka,” tulis pernyataan tersebut.

Pertempuran berlangsung selama beberapa jam, disertai pendaratan helikopter Israel untuk mengevakuasi korban.

Insiden pada Rabu ini disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap pos militer Israel di Khan Younis dalam beberapa bulan terakhir. (Bahry)

Sumber: TOI

Ratusan Ribu Orang Gelar Aksi Protes di Tel Aviv, Tuntut Akhiri Perang Gaza dan Bebaskan Sandera

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Ratusan ribu orang memadati pusat Kota Tel Aviv pada Ahad malam (17/8/2025), menutup hari protes nasional yang menuntut pemerintah Israel mengakhiri perang di Gaza dan mengamankan pembebasan para sandera.

Menurut Forum Sandera dan Keluarga Hilang, demonstrasi tersebut dihadiri lebih dari setengah juta orang, menjadikannya salah satu aksi terbesar sejak perang dimulai hampir dua tahun lalu. Forum itu juga memperkirakan sekitar 1 juta orang turun ke jalan di berbagai kota sepanjang hari, termasuk di Yerusalem, Haifa, Beersheba, dan sejumlah kota kecil.

Aksi ini bertepatan dengan mogok nasional yang melibatkan ratusan otoritas lokal, universitas, perusahaan teknologi, dan berbagai organisasi, meski serikat buruh pusat Israel, Histadrut, tidak ikut serta. Para demonstran memblokir jalan raya dan jalan tol untuk menekan pemerintah segera menghentikan perang.

Sebelum aksi besar malam hari, polisi telah menangkap sedikitnya 38 orang di berbagai wilayah akibat bentrokan saat aktivis memblokir jalan. Setelah demonstrasi, enam orang lainnya kembali ditahan di Tel Aviv karena memblokir Jalan Raya Ayalon dan bentrok dengan aparat.

𝗧𝘂𝗱𝗶𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗔𝗯𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮

Dalam orasinya, sejumlah keluarga sandera mengecam pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Ofir Braslavaski, ayah dari sandera Rom Braslavski, mengatakan putranya semakin kurus dan tak berdaya.

“Seluruh negeri menyaksikan, semua pemimpin menyaksikan, tetapi kabinet memilih memperluas perang dan meninggalkan mereka. Rom saya tidak punya waktu, para sandera tidak punya waktu,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yehuda Cohen, ayah dari sandera Nimrod Cohen. “Putra saya menderita agar pemerintah dapat membangun permukiman di Gaza. Saya menolak membiarkannya dikorbankan,” katanya. Ia menegaskan, negara tidak akan kembali normal sebelum sandera dibebaskan melalui kesepakatan dan perang diakhiri.

Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker, juga menyampaikan pesan emosional setelah video putranya ditayangkan.
“Matan-ku, pahlawanku, aku bangga padamu. Tetaplah kuat. Matan minta suara, jadi beri dia suara!” serunya disambut tepuk tangan ribuan massa.

𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗧𝗿𝘂𝗺𝗽

Dalam unjuk rasa itu, penyelenggara juga menayangkan video sejumlah mantan sandera yang dibebaskan pada Maret lalu. Mereka menyerukan langsung kepada Presiden AS Donald Trump agar mendorong diakhirinya perang.

“Terima kasih, Presiden Trump, karena telah membawa kami pulang,” kata Naama Levy.

“Setiap peluru, setiap serangan membahayakan mereka,” tambah Sasha Troufanov, merujuk pada kondisi para sandera yang masih ditawan.

Iair Horn, saudara dari seorang sandera, menegaskan, “Anda memiliki kekuatan untuk menciptakan perdamaian, mengakhiri perang, mengakhiri penderitaan, termasuk penderitaan adik laki-laki saya.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TOI

PBB: Anak-Anak Jadi Korban Utama Serangan Israel, 18.885 Tewas di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa setidaknya 18.885 anak-anak termasuk di antara lebih dari 62.000 warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel sejak dimulainya perang hampir dua tahun lalu.

Data memilukan ini dirilis bersamaan dengan peringatan badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) pada Selasa (19/8) bahwa tidak ada tempat aman bagi anak-anak di Jalur Gaza. UNRWA menegaskan kelaparan yang meluas di wilayah tersebut merupakan dampak langsung blokade Israel terhadap bantuan pangan dan pasokan medis.

“Ratusan ribu orang berlindung di sekolah-sekolah PBB, namun tempat itu justru berubah menjadi lokasi kematian, termasuk bagi anak-anak. Tidak ada tempat aman bagi anak-anak di Gaza. Gencatan senjata sekarang juga,” demikian pernyataan UNRWA.

UNRWA, mengutip data Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), menyebutkan bahwa sejak Israel membatalkan gencatan senjata pada Maret lalu dan kembali melanjutkan serangan, rata-rata lebih dari 540 anak terbunuh setiap bulan.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗿𝘂 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Peringatan PBB tersebut muncul di tengah eskalasi serangan Israel yang menewaskan sedikitnya 51 warga Palestina sejak Selasa dini hari. Di antara korban terdapat delapan pencari bantuan yang tewas saat pasukan Israel melepaskan tembakan di dekat lokasi distribusi bantuan yang didukung Amerika Serikat dan GHF.

Rumah sakit di Gaza melaporkan delapan korban jiwa akibat serangan terhadap tenda pengungsi di Khan Younis, serta empat korban lainnya dalam serangan di tenda pengungsi Deir el-Balah, Gaza tengah.

Serangan udara juga menghantam lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai lainnya. Di wilayah Tuffah, timur Kota Gaza, kebakaran besar dilaporkan terjadi setelah pasukan Israel meledakkan sejumlah rumah.

Koresponden Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, melaporkan bahwa serangan Israel kini meluas ke daerah padat penduduk di Sabra, dekat Zeitoun. “Lebih dari 450 blok permukiman telah hancur di Zeitoun, dan operasi Israel terus bergerak ke arah jantung Kota Gaza,” ujarnya.

Di sisi lain, mediator utama Qatar mengonfirmasi bahwa Hamas telah merespons secara positif proposal gencatan senjata baru yang mencakup penghentian pertempuran selama 60 hari serta pertukaran sebagian tawanan Israel dengan tahanan Palestina.

Dua pejabat Israel pada Selasa menyatakan bahwa pemerintah masih mempelajari respons Hamas, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Namun, media Israel melaporkan bahwa kabinet sayap kanan menuntut semua tawanan di Gaza baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dipulangkan sekaligus. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Hamas Terima Usulan Tukar Tawanan dan Gencatan Senjata Sementara

GAZA (jurnalislam.com)– Hamas mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh mediator Qatar dan Mesir. Langkah ini disampaikan pada Senin (18/8/2025) dan dinilai membuka peluang dimulainya kembali perundingan untuk mengakhiri perang Israel di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina.

“Hamas, bersama dengan faksi-faksi Palestina, menyampaikan penerimaan mereka atas proposal yang diajukan kemarin oleh mediator Qatar dan Mesir,” demikian pernyataan singkat Hamas. Media Israel, The Times of Israel dan Channel 12, melaporkan bahwa Tel Aviv telah menerima tanggapan Hamas tersebut.

Menurut sumber yang mengetahui perundingan, proposal tersebut mencakup penghentian sementara operasi militer selama 60 hari. Dalam periode itu, tentara Israel akan direlokasi guna memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. Selain itu, separuh dari 50 tawanan Israel akan ditukar dengan tawanan Palestina.

Sumber yang dikutip Al Jazeera menyebut bahwa kesepakatan ini “menandai awal dari jalan menuju solusi komprehensif.”

Pengumuman Hamas datang setelah Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, melakukan pembicaraan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo.

𝗣𝗲𝗿𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Meski demikian, pengumuman ini belum menjamin berakhirnya perang. Hamas menginginkan penghentian permanen, sementara Israel hanya bersedia menyetujui gencatan senjata sementara yang memungkinkan dilanjutkannya operasi militer setelah pembebasan tawanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pihaknya tengah mematangkan rencana merebut Kota Gaza.

“Kami telah berbicara mengenai rencana ini. Hamas berada di bawah tekanan berat,” ujarnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Hamas hanya bersedia membahas pembebasan tawanan karena khawatir akan jatuhnya Kota Gaza. Sementara itu, Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich menolak keras setiap bentuk gencatan senjata.

“Hamas mencoba menghentikan tekanan dengan kembali ke kesepakatan parsial. Justru karena alasan inilah kita tidak boleh menyerah dan memberi musuh jalan keluar,” kata Smotrich.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Koresponden Al Jazeera, Hamdah Salhout, melaporkan bahwa militer Israel menghadapi kekurangan personel tempur. Pihak militer telah berulang kali menyerukan wajib militer, baik di dalam maupun luar negeri, untuk menambah kekuatan.

“Mereka mengatakan bertekad melanjutkan rencana merebut Kota Gaza, tetapi belum jelas kapan dan bagaimana akan dilakukan,” kata Salhout.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗗𝗶𝗽𝗹𝗼𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁

Para mediator diperkirakan segera mengumumkan jadwal dimulainya kembali perundingan. Upaya Qatar dan Mesir sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang langgeng.

Pada Januari lalu, gencatan senjata yang ditengahi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sempat berlaku namun dilanggar Israel pada Maret. Sejak itu, blokade Israel terhadap pasokan bantuan memperparah krisis kemanusiaan, dengan lebih dari 260 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan.

Putaran terakhir perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel di Doha berakhir tanpa hasil pada 25 Juli lalu. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Mesir dan Qatar Dorong Kesepakatan Gencatan Senjata, Amnesty Tuding Israel Sengaja Lapar­kan Gaza

KAIRO (jurnalislam.com)– Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, yang pada Senin (18/8/2025) meninjau perbatasan Rafah dengan Gaza, menegaskan bahwa kunjungan Perdana Menteri Qatar bertujuan untuk memperkuat upaya bersama menekan Israel dan Hamas agar segera mencapai kesepakatan gencatan senjata.

“Situasi lapangan saat ini di luar imajinasi,” kata Abdelatty, merujuk pada kondisi kemanusiaan lebih dari dua juta penduduk Gaza yang kian memburuk. Badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan adanya krisis besar di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resmi, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bersama PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menegaskan penolakan terhadap pendudukan kembali Jalur Gaza maupun pengusiran warga Palestina. Keduanya juga menekankan pentingnya upaya diplomasi untuk segera mewujudkan gencatan senjata.

𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗔𝗸𝗮𝗱𝗲𝗺𝗶𝘀𝗶

Abdullah Al-Arian, profesor sejarah Universitas Georgetown di Qatar, menilai kunjungan pejabat tinggi Qatar ke Mesir mencerminkan keseriusan upaya diplomatik. Namun, menurutnya, hambatan utama tetap pada “kurangnya kemauan politik Israel.”

“Israel terus melanjutkan genosida ini dan membawanya ke tingkat yang baru, mengerikan, dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Al-Arian menambahkan, sejarah menunjukkan genosida jarang berakhir melalui negosiasi, melainkan melalui tekanan eksternal atau intervensi internasional. “Dan itu belum terjadi,” tegasnya.

𝗔𝗺𝗻𝗲𝘀𝘁𝘆 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹: 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗿­𝗸𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮

Pada hari yang sama, Amnesty International menuding Israel memberlakukan “kebijakan yang disengaja” untuk membuat warga Gaza kelaparan. Tuduhan itu diperkuat dengan kesaksian warga Palestina yang mengungsi serta laporan tenaga medis yang merawat anak-anak kekurangan gizi.

“Israel sedang melakukan kampanye kelaparan yang disengaja di Jalur Gaza yang diduduki,” demikian pernyataan Amnesty.

PBB dan komunitas internasional pun berulang kali mengecam Israel karena terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dilanda perang tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

LPPOM dan BP PKU MUI DKI Jakarta Luncurkan Program Duta Halal

JAKARTA (jurnalislam.com)– Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) DKI Jakarta menjalin kerja sama strategis dengan Badan Pendidikan Kader Ulama (BP PKU) MUI DKI Jakarta dalam rangka memperkuat peran MUI dalam pelayanan umat.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan oleh Direktur LPPOM MUI DKI Jakarta, Drg. H Deden Edi Soetrisna, MM dan Direktur BP PKU MUI DKI Jakarta, KH. Muladi, Ph.D., serta disaksikan langsung oleh Ketua MUI DKI Jakarta, KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun dan Prof. Dr. Bunyamin Kepala Bidang Pendidikan MUI DKI Jakarta. Penandatanganan kerja sama dilakukan di Cisarua Bogor, Jawa Barat, Senin (18/8/2025).

Melalui kerja sama ini, LPPOM DKI dan BP-PKU MUI DKI meluncurkan Program Duta Halal MUI DKI Jakarta, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mencetak kader-kader muda yang akan berperan sebagai agen sosialisasi dan edukasi halal di tengah masyarakat.

“Program Duta Halal ini menjadi langkah nyata MUI DKI Jakarta dalam mendukung pemerintah memperluas literasi halal. Kami berharap para kader dapat menjadi pionir yang mengajak masyarakat semakin peduli terhadap produk halal,” ujar KH. Muladi, Ph.D., Direktur BP PKU MUI DKI Jakarta.

Sementara itu, Drg. Deden Edi Soetrisna, MM, Direktur LPPOM DKI Jakarta, menambahkan bahwa Duta Halal akan dibekali dengan pendidikan, wawasan, dan keterampilan dalam menyampaikan pentingnya halal, tidak hanya dari sisi agama, tetapi juga kesehatan, etika bisnis, dan kepentingan masyarakat luas.

Prof. Dr. Bunyamin, Kepala Bidang Pendidikan MUI DKI Jakarta yang membidangi BP PKU, juga menegaskan pentingnya implementasi ilmu kader ulama.

“Peran Kader Ulama bukan hanya sebatas ilmu teori, tetapi juga ilmu terapan yang langsung bermanfaat bagi masyarakat, termasuk dalam memberikan edukasi tentang halal. Hal ini akan membuat masyarakat semakin memahami pentingnya sertifikasi halal,” ujarnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan:
• Masyarakat semakin memahami kewajiban halal dan berkomitmen menghadirkan produk halal dalam usahanya.
• Citra MUI semakin kuat sebagai lembaga pembina halal yang aktif, solutif, dan relevan dengan kebutuhan umat.
• Ekosistem halal di DKI Jakarta dapat tumbuh lebih cepat dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Ketua MUI DKI Jakarta, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini.

“Program ini adalah bentuk nyata pengabdian MUI kepada umat. Melalui Duta Halal, kita ingin memastikan Jakarta menjadi motor penggerak ekosistem halal di Indonesia,” tegasnya.

Dengan sinergi LPPOM MUI DKI dan BP PKU MUI DKI, diharapkan Program Duta Halal menjadi inspirasi dan teladan dalam memperkuat pelayanan umat sekaligus mewujudkan visi besar Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.

TNI Laksanakan Misi Kemanusiaan ke Gaza pada HUT ke-80 RI

JAKARTA (jurnalislam.com)– Atas perintah Presiden Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali melaksanakan misi operasi bantuan kemanusiaan internasional bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza melalui Satgas TNI Garuda Merah Putih-II (GMP-II) pada Minggu (17/8/2025).

Dua pesawat Hercules C-130J TNI AU dari Skadron Udara 31 dikerahkan dengan membawa 66 personel gabungan. Operasi ini dipimpin oleh Komandan Wing I Lanud Halim Perdanakusuma, Kolonel Pnb Puguh Julianto, yang bertugas sebagai Mission Commander.

Setelah tiba di Pangkalan Udara King Abdullah II, Yordania, Satgas GMP-II bergabung dalam operasi multinasional Solidarity Path Operation-2 (SPO-2) yang dipimpin Royal Jordanian Air Force (RJAF). Sebelum pelaksanaan dropping, pasukan melaksanakan persiapan dan pengemasan bundel logistik bersama negara-negara peserta SPO-2.

Misi kemanusiaan ini berlangsung penuh makna karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 17,8 ton bantuan dijatuhkan dari udara menuju Jalur Gaza, jumlah yang dipilih sebagai simbol tanggal dan bulan Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

“Momentum Hari Kemerdekaan tidak hanya kita rayakan dengan upacara, tetapi juga dengan aksi nyata kemanusiaan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Gaza,” ujar Kolonel Pnb Puguh Julianto.

Menurut Puguh, total bantuan kemanusiaan yang dibawa mencapai sekitar 800 ton, dengan tahap awal dropping minimal ±45 ton logistik. Bantuan meliputi bahan makanan pokok, makanan siap saji, serta sembako dari BAZNAS, ditambah 1.000 dus makanan instan dari Kementerian Pertahanan RI.

Puguh menegaskan, partisipasi TNI dalam SPO-2 merupakan bukti nyata solidaritas bangsa Indonesia terhadap rakyat Palestina. Melalui metode airdrop, bantuan dapat menjangkau wilayah yang sulit ditembus jalur darat.

“Kehadiran Satgas Garuda Merah Putih-II menjadi wujud kepedulian bangsa Indonesia di panggung internasional, sejalan dengan semangat peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: tni.mil.id

Video Baru Al-Qassam Klaim Serangan yang Menewaskan Tentara Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Senin (18/8/2025) merilis sebuah video terbaru yang menampilkan rangkaian penyergapan terhadap pasukan Israel di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Al-Qassam menyebut bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi bertajuk “Batu Daud”. Video itu menampilkan aksi penyerangan yang menargetkan kendaraan militer, menghancurkan posisi, serta menyerang perkumpulan pasukan Israel di sepanjang poros Khan Yunis dan Salah al-Din, selatan Jalur Gaza.

“Para pejuang kami menargetkan pasukan tentara pendudukan yang berlindung di dalam sebuah rumah dengan rudal TBG dan melepaskan tembakan dengan senapan mesin ke arah seorang penembak jitu yang ditempatkan di dalam salah satu rumah,” demikian pernyataan Brigade Al-Qassam dalam rilisnya.

Al-Qassam juga menambahkan, “Mereka menargetkan dua pengangkut personel Zionis dengan dua pelaku bom yang ditempatkan di dalam kokpit, dan satu pengangkut personel Nimr dengan rudal Al-Yassin 105. Saat para pejuang mundur dari daerah penyergapan, dua rumah tempat tentara pendudukan berlindung menjadi sasaran rudal tandem dan Al-Yassin 105.”

Kelompok itu mengklaim, sejumlah tentara Israel tewas dan terluka selama penyergapan yang berlangsung pada Rabu (13/8) di daerah Al-Barasi, selatan permukiman Al-Zeitoun, Kota Gaza.

Selain itu, dalam keterangan terpisah, Brigade Al-Qassam melaporkan pihaknya bersama Brigade Saraya Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, turut menyerang titik pertemuan pasukan Israel dengan bombardir mortir dan roket Rajum.

Pada Sabtu (16/8), Al-Qassam juga menyatakan telah berhasil menargetkan sebuah tank Merkava Israel dengan rudal Al-Yassin 105 di dekat Persimpangan Dawla, selatan permukiman Zeitoun, Kota Gaza.

Sumber: Situs Resmi Hamas