Ramadhan, Bulan Memuliakan Ulama

Oleh: Ahmadi Sofyan, Penulis dan Pengamat sosial

SAAT menulis catatan ini, sebetulnya saya ingin memberikan judul keras “Bunuhkan Saja Ulama-nya!!!” Sebagaimana judul catatan saya beberapa minggu yang lalu di kolom TARING (Catatan Ringan) di harian Babel Pos yang katanya sempat heboh, viral dan trending topic di medsos (media sosial) dengan judul: “Robohkan Saja Masjid-nya!!!”. Ratusan SMS, WA dan telpon masuk ke handphone saya mengomentari tulisan tersebut yang alhamdulillah hampir semuanya menyatakan dukungan walaupun ada beberapa komen yang “mengharukan”.

Tapi sebagai penulis yang berperilaku cuek, dukungan, pujian, cacian dan celaan terhadap apa yang sudah saya tulis bernilai sama, yakni “mane kenek pembace” (terserah pembaca) untuk menilai. Karena menulis bagi saya sama dengan menikmati secangkir kopi. Jangan pernah melarang saya untuk menikmati kopi, kapan pun dan dimana pun, kecuali di bulan Ramadhan seperti ini. Karena hanya Ramadhan (agama) saja yang bisa mengatur waktu saya menikmati kopi yakni saat berbuka, habis tarawih dan sampai menjelang imsyak. Begitupula dalam hal menulis!

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Dengan demikian, pengertian ulama secara harfiyah adalah orang-orang yang memiliki ilmu. Pengertian ulama secara harfiyah adalah orang yang dengan ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah. Ulama adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan. Karakteristik esensial ulama adalah iman, ilmu, dan amal, yang semuanya amat mendalam, berbeda dengan orang biasa, serta mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarakat secara kultural.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan: “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.” Al-Ghazali bahkan membagi ulama dalam 2 kategori, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’). Salah satu tanda ulama dunia adalah mendekati penguasa.

Ulama adalah pewaris sifat kenabian. Karena dari ulama-lah kita bisa mengenal ilmu agama setelah Nabi tiada. Berbagai jenis kitab (buku) kita menjadi tahu berbagai tafsiran dan pemikiran-pemikiran mereka. Ulama jua yang mendirikan berbagai pesantren jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari dari pesantren juga para ulama menggerakkan semangat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang akhirnya bersama para pendiri negeri ini, memproklamirkan Kemerdekaan RI tepat pada tanggal 10 Ramadhan atau 17 Agustus tahun 1945.

Ini artinya kemerdekaan RI yang diraih tidak lepas dan memiliki peran penting dari para ulama yang terlahir di bumi pertiwi. Kala kemerdekaan diraih, peran ulama pun tak berhenti disitu, namun mengisi kemerdekaan, merumuskan berbagai kebutuhan sebuah negara, bahkan bersama founding fathers, para ulama seperti Kiyai Haji Agus Salim mengenalkan Indonesia sebagai sebuah negara yang beradab, mayoritas muslim dan penuh nilai-nilai tata kerama kepada dunia.

Namun, sangat kita sayangkan akhir-akhir ini, sepertinya rezim pemerintah saat ini bukan sekedar menjauhkan diri dari ulama, tapi yang lebih parah adalah banyaknya ulama yang terzholimi, bahkan para ulama yang memiliki kecintaan besar pada negeri ini. Ulama yang pancasilais yang tidak rela kekayaan negeri ini dikeruk asing. Ulama yang hidup bersama umat bukan hidup bersama penguasa. Bahkan kadangkala saya berpikir ekstrim dan memiliki keyakinan bahwa andaikata hari ini Indonesia perang dengan negara lain, saya yakin para ulama, kaum santri dan TNI adalah manusia Indonesia terdepan maju ke medan perang sebagaimana tempoe doeloe saat perebutan kemerdekaan ini.

Oleh karenanya, saat ini adalah kesempatan bagi para orangtua, guru-guru, ustadz dan ustadzah, para pemimpinan pesantren untuk menciptakan generasi muda Islam bermentalkan ulama yang istiqomah, tangguh menghadapi berbagai cuaca dan angin yang menerpa. Tak terlena dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup manja dan tak gentar menghadapi angin topan yang menerjang.

Ramadhan 1438 H, momen dimana generasi Islam harus dibekali ketangguhan mental menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup, bukan generasi cengeng, generasi hobi selfie dan generasi yang menganggap hidup di dunia adalah abadi. Generasi muda harus diberikan semangat cinta tanah air yang tidak boleh dibangun dengan kezholiman, berpangkat tinggi namun menzholimi, menyikut kiri kanan, menginjak yang bawah dan menjilat atasan, tanpa pandang halal haram, hanya karena demi mempertahankan dan memperoleh jabatan. Bagi mereka Surga sudah tidak dirindukan dan neraka makin tidak membuat ketakutan.

Ramadhan 1438 H, adalah momen kita memahami dengan nurani bahwa tidak semua pemimpin itu palsu, tapi saya tidak membantah kalau di era modern salah satu kepalsuan merupakan syarat utama dari prinsip kepemimpinan. Ramadhan 1438 H, adalah dimana kita memahami bahwa di negeri yang mayoritas muslim ini, bahwa apa saja yang menonjolkan Islam-nya pasti dicap primordial, tidak universal, bodoh, tidak bhinneka tunggal ika, tidak pancasilais, tidak toleransi, tidak memenuhi estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia modern. Begitulah jahilnya manusia modern.

Ramadhan 1438 H ini, kita menyadari bahwa kalau dulu di zaman Fir’aun, lelaki dibunuh. Pada zaman Fir’aun modern ini kelaki-lakian dan kejantanan (istiqomah dan keberanian) yang dibunuh. Ramadhan 1438 H ini jua, kita kembali mengaji dan mengkaji bahwa ternyata di atas fiqh ada akhlak, diatas akhlak ada taqwa dan diatas taqwa ada cinta. Ya Allah, entah dimana posisi aparat dan penguasa kami saat ini?

Ya, Ramadhan 1438 H ini, kita kembali menyadari bahwa sangatlah tidak pantas kalau kaum santri atau umat Islam mengamuk, meskipun kadang mereka tidak memiliki cara lain selain mengamuk demi menjaga harga diri dan kehormatannya. Akan datang suatu masa, dimana kaum santri hanya memiliki 2 pilihan, yakni menjadi kambing yang tersuruk-suruk ataukah menjadi harimau yang mengamuk.

Ramadhan 1438 H ini adalah momen dimana kita bertadarrus nasional melihat banyak sisi dari negeri ini bahwa kita sedang hidup di sebuah negeri dimana kejahatan dan kebodohan berkerjasama dengan teramat manis dan tersistematis. Di antara kita banyak yang mengaku pemimpin, aslinya adalah penguasa yang semena-mena. Menasehati rakyat agar hidup sederhana, sambil mulutnya mengunyah gunung, hutan, laut dan jalan tol.

Ramadhan 1438 H ini kita mendiagnosa bahwa ternyata negeri ini telah mewarisi kanker zaman, kepala buat berjalan, kaki untuk memimpin sidang. Di moment Ramadhan ini pula sepertinya Tuhan sudah saatnya memusnahkan segenap setan, sebab manusia telah pandai menciptakan setan-setan di dalam diri sendiri tanpa bantuan setan.

Ramadhan 1438 H, marilah kita lantunkan do’a: “Tuhan, tanami ladang Indonesia dengan keinsyafan Adam, ketahanan Nuh, kecerdasan Ibrahim, ketulusan Ismail, kebersahajaan Ayub, kesabaran Yunus, kelapangan Yusuf, kesungguhan Musa, kefasihan Harun, kebeningan Khidir, kesucian Isa, kematangan Muhammad SAW”

Penguasa dan aparat, cukuplah kita menjadi bangsa yang kerdil dan pengecut, janganlah lagi ditambah dengan ketidakjujuran, kemunafikan dan penzholiman terhadap ulama. Saya bukan ulama, tapi insya Allah saya mencintai ulama dan ingin bersama-sama para ulama walau hanya sekedar tukang bawa sandal sang ulama.

Salam Cinta!

Bupati Bangka Buka PTQ Sungailiat ke-43 Sungailiat

SUNGAILIAT (Jurnalislam.com) Bupati Bangka H Tarmizi Saat membuka Pekan Tilawatil Quran (PTQ) ke-43 Kecamatan Sungailiat, Sabtu (3/6/2017) di Masjid An Nur Sungailiat.

PTQ tingkat Kecamatan Sungailiat berlangsung mulai tanggal 3–10 Juni 2017, memperlombakan cabang Tartil Quran anak–anak putra dan putri, Tilawah anak–anak, remaja, dewasa putra dan putri serta Syarhil Quran.

Sedangkan peserta PTQ sebanyak 110 qori dan qoriah utusan kelurahan dalam wilayah kecamatan Sungailiat.

Pelaksanaan PTQ Tingkat Kecamatan Sungailiat sudah belangsung selama 43 tahun, telah dijadikan kalender tetap setiap mengisi bulan suci Ramadan.

Bupati Bangka Tarmizi Saat memberikan apresiasi kepada qori dan qoriah serta dewan hakim berupa penambahan bonus hadiah sebesar Rp 10 juta dan tambahan honor dewan hakim PTQ sebesar Rp 5 juta.

Menurut Tarmizi, para dewan hakim yang bertugas memberikan penilaian juga memiliki peran dalam membumikan Al Quran kepada seluruh umat yang selalu ada di beberapa kegiatan serupa.

“Tidak gampang dalam mendalami Al Quran, tidak hanya tajwid saja namun juga nahu shorof, dan ilmu lainnya maka itu tidak gampang, untuk itu peran para dewan hakim atau dewan juri itu perlu dihargai,” ungkapnya.

Bupati Bangka Tarmizi Saat minta tidak hanya bupati yang memikirkan namun juga para staf untuk memikirkan upaya pembinaan ilmu Al Quran di Kabupaten Bangka guna membumikan Al Qur’an.

Tarmizi pun mengajak seluruh umat Islam dalam membaca Al Quran untuk dijadikan tradisi, sehingga harus dilakukan secara terus–menerus agar dapat lancar dalam membaca Al Quran.

“Membiasakan membacakan Al Quran khususnya kepada adik–adik, karena belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, bila belajar diwaktu dewasa bagai mengukir di atas air,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Camat Sungailiat, Suhardi melantik dewan hakim yang akan memberikan penilaian kepada qori dan qoriah di setiap cabang yang diperlombakan.

Rangkaian pembukaan PTQ tingkat Kecamatan Sungailiat merupakan rangkaian dari Safari Ramadhan Pemkab Bangka.

Sebelumnya, Bupati Bangka Tarmizi saat sholat Tarawih di Masjid An Nur bertindak sebagai imam dan setelah membuka PTQ, Bupati bersama kepala OPD menyerahkan bantuan untuk masjid An Nur berupa generator listrik dan sajadah, serta memberikan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Kontributor: Revan, Bangka Belitung

Dituding Terlibat Korupsi, IMM Ajak Mahasiswa Bergerak Bela Amien Rais

​JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Taufan Putra Revolusi menegaskan akan membela Amien Rais terkait tuduhan korupsi alat kesehatan. Menurutnya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu telah dijadikan target operasi politik oleh kelompok-kelompok tertentu.

“Bagi kami, selain orang tua dan guru, Pak Amien adalah tokoh umat dan ulama yang sampai hari ini konsisten membela kebenaran. Sebagai mantan ketua umum PP Muhammadiyah, integritas dan akhlak beliau sudah teruji,” kata Taufan dalam siaran pers di Gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Ahad (4/6/2017).

Taufan mengatakan, sudah sepatutnya elemen mahasiswa, pemuda, dan tokoh-tokoh masyarakat memberikan pembelaan terhadap tokoh-tokoh Islam yang dikriminalisasi.

“Kalau kita diam, saya khawatir, akan muncul lagi korban-korban baru. Keadilan harus ditegakkan. Tidak boleh ada satu orang pun yang mencari-cari kesalahan orang lain dalam penegakan hukum,” tegasnya.

Taufan melanjutkan, KPK seharusnya mengormati Amien Rais sebagai tokoh reformasi yang vokal dalam pemberantasan korupsi.

“Konsistensi Amien Rais dalam memberantas KKN sudah dibuktikan oleh sejarah. Beliau bergerak dan bersuara bahkan sebelum lembaga KPK didirikan. Mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat yang bergerak tahun 1997/1998 telah menyaksikan itu. Kita tidak boleh lupa pada sejarah,” terangnya.

Bahkan, kata Taufan, berdirinya KPK tidak lepas dari perhatian dan perjuangan Amien Rais.

Rencananya, besok IMM akan mendampingi Amien Rais ke Gedung KPK untuk menyampaikan klarifikasi. “Kami berharap, jika hari Senin Pak Amien datang, pimpinan KPK sebaiknya menerima. Kami yakin, pak Amien hanya ingin menunjukkan dirinya sebagai orang yang taat hukum,” ujarnya.

Taufan juga menilai pernyataan juru bicara KPK, Febridiansyah seolah-olah memposisikan Amien Rais sebagai pihak yang bersalah. Bahkan, dia menyebut Pak Amien terkait perkara.

“Perkara yang mana? Bukankah klarifikasi dan penjelasan yang diberikan mengindikasikan bahwa Pak Amien bersih. Toh pak Amien bukan orang yang berperkara. Tersangka engak saksi engak, di mana logikanya? Dimana aspek hukumnya? Dengan pernyataannya itu, Saudara Febri ikut memperkeruh suasana,” tandas Taufan.

Kontributor: Faniar

ACT & MRI Babel Bagikan Takjil Gratis kepada Pengguna Jalan

PANGKALPINANG (Jurnalislam.com) – Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) membagikan takjil gratis untuk pengguna jalan yang melintas di depan markas ACR kelurahan Pintu Air, Rangkui, Pangkalpinang, Sabtu (3/6/2017).

Koodinator aksi, Riki mengatakan, kegiatan tersebut sebagai salah satu bentuk kepedulian mereka kepada masyarakat yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan. Riki menambahkan ada 100 paket lebih takjil berisi bubur ayam dan lainnya itu dibagikan kepada pengguna jalan.

Ada 100 lebih takjil yang kita bagikan, dan dana kegiatan ini kita peroleh dari patungan sesama relawan yang tergabung di ACT & MRI Babel,”ungkapnya.

Dari pantauan awak media di lokasi terlihat antusiasme para pengguna jalan saat dibagikan takjil tersebut, dan setelah bagi-bagi takjil dilanjutkan dengan buka puasa bersama di Warung Ramadhan milik ACT & MRI Babel.

Kontributor: Revan, Pangkalpinang

AQL Tawarkan Berbagai Program Ramadhan Berbasis Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Bulan suci Ramadhan yang telah berjalan ini, Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) menawarkan berbagai program berbasis Al – Qur’an. Karena AQL ini selalu konsisten dengan jalur dakwah dan tadabbur Al – Qur’an.

Program unggulan AQL di bulan Ramadhan tahun ini adalah pelatihan The Qur’an Way yang akan dibimbing lansung oleh Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir. Selain itu, ada program Wakaf Sejuta Mushaf Al-Qur’an untuk Indonesia, Daurah Tahfizh Spesial Ramadhan, Ceria Bersama Anak Yatim, dan Menjadi Orang Tua Asuh Santri Tahfizh Al-Qur’an.

Khusus untuk program The Qur’an Way akan digelar Sabtu, 3 Juni 2017, pukul 08.00-12.00 WIB di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta. Inti pelatihan The Qur’an Way adalah mengupas mutiara dan rahasia di balik al-Qur’an Surat Al-Fatihah yang berjumlah tujuh ayat. Peserta dikenai syarat berinfaq untuk Pembebasan Tanah AQL Islamic Center.

Untuk diketahui, Surat Al-Fatihah adalah ringkasan jalan Al-Qur’an untuk mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang ingin menemukan jalan kebahagian menurut Al-Qur’an, maka ia bisa melihatnya di dalam Al-Fatihah.? Barangsiapa yang ingin menemukan jalan kesuksesan menurut Al-Qur’an, maka ia bisa mendapatkannya di dalam Al-Fatihah.

Para mufassir berkata, seluruh isi kitab suci di muka bumi ini sudah tertuang dalam surat al-Fatihah. Jadi, jika ingin mempelajari ilmu terbaik orang masa lalu maka cukup mempelajari tujuh ayat ini. KH Bachtiar Nasir mengatakan, secara ringkas ada tiga bagian penting dalam surat al-Fatihah. Pertama, berisi pujian kepada Allah SWT, kedua, penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, dan ketiga, permintaan yang paling hebat.

“Jika ingin selamat, bahagia, sukses, dan mulia dalam hidup ini, maka permintaan yang paling tepat adalah memohon kepada Allah agar ditunjuki jalan lurus. Ayat enam al-Fatihah didetilkan oleh Allah SWT bahwa karakter shirat al-Mustaqim dijelaskan di ayat selanjutnya. Yaitu, “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. al-Fatihah: 7).

Untuk program wakaf mushaf Al-Qur’an, AQL membuka donasi wakaf lewat pembelian mushaf untuk pembebasan lahan AQL Islamic Center di Tebet, Jakarta Selatan. Tujuan program ini adalah menyebarkan Mushaf Al-Qur’an ke pelosok Indonesia, beramal jariyah untuk Pembebasan Tanah AQL yg Insya Allah akan dibangun Menjadi Pusat Tadabbur Qur’an Indonesia. Cetakan Al-Qur’an wakaf ini dilengkapi dengan sisipan Tadabbur Ayat Keluarga.

“Sebuah program eksklusif juga dibuka Hanya untuk 25 peserta untuk mengikuti Daurah Spesial Ramadhan dengan lima program andalan yakni tahsin metode Ar-Rahman, tahfizh plus muroja’ah, tadabbur juz 30, pengenalan Qiro’at Asyaroh, perolehan sanad. Program ini dibimbing oleh para asatidz AQC bersanad qiroah ‘Ashim dan bersanad Qiro’at Asyarah sampai dengan Rasulullah SAW,” ujar pengurus AQL kepada beritalima.com, Jum’at (2/6/2017)

Ditambahkam Tina, acara ini akan digelar selama 10 hari, yaitu 10-20 Ramadhan atau 5 Juni s/d 15 Juni 2017. Acara ini sekaligus itikaf di Ar Rahman Quranic College, Desa Sirimpak, Mega Mendung, Bogor.

Reporter: Muhammad Firdaus

Subsidi Parpol Naik, Rakyat Terjepit

Oleh: AB Latif (Indopolitik Watch)
Sungguh terlalu. Itulah ungkapan yang mungkin ada dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia. Betapa tidak, dana subsidi yang menjadi tumpuan masyarakat kecil dihilangkan sedikit demi sedikit. Ujungnya dihapus sama sekali. Sementara dana subsidi untuk Parpol naik 10 kali lipat menjadi Rp. 1.000 per suara. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyetujui usul kenaikan dana bantuan untuk Parpol. Nilai kenaikannya cukup fantastis, yaitu dari Rp. 108 per suara kini naik hampir sepuluh kali lipat menjadi Rp. 1.000 per suara. Hal ini disampaikan oleh Direktur Politik Dalam Negeri Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar kepada jawa pos pada hari jum’at (Jawa Pos, 27 mei 2017). Angka ini jauh dari angka yang diusulkan Kemendagri yaitu Rp. 5.400 untuk setiap suara yang diperoleh Parpol. Dilematis dan anomali di tengah kondisi memprihatinkan ini.
Jikalau angka itu kita asumsikan berdasarkan perolehan suara pemilu 2014 dengan besaran dana yang diterima untuk setiap suara dengan nilai Rp. 1.000 per suara, maka perkiraan subsidi yang diperoleh Parpol adalah: PDIP mendapat Rp. 23,68 miliar, Partai Golkar mendapat Rp. 18,43 miliar, Partai Gerindra mendapat Rp. 14,76 miliar, Partai Demokrat mendapat Rp. 12,73 miliar, PKB mendapat Rp. 11,30 miliar, PAN mendapat Rp. 9,48 miliar, PKS mendapat Rp. 8,48 miliar, Partai Nasdem mendapat Rp. 8,40 miliar, PPP mendapat Rp. 8,16 miliar, Partai Hanura mendapat Rp. 6,58 miliar (jawa pos, 27 mei 2017). Jika diakumulasi semua maka akan terkumpul dana sebesar Rp. 122 miliar. Dana ini belum termasuk anggaran Pileg dan Pilpres. Padahal semua anggaran itu baik dana Pileg/Pilpres atau dana Parpol diambilkan dari APBN.
Subsidi Bukan Untuk Rakyat
Inilah fakta sesungguhnya dana dari APBN yang sangat besar dan naik tiap tahun bukanlah untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk partai dan birokrasi untuk membayar cicilan utang Negara yang tak kunjung selesai. Akibatnya bisa kita lihat bersama, semua subsidi untuk rakyat yang notabene pemilik anggaran dihapus sedikit demi sedikit. Subsidi BBM dihapus, subsidi listrik dihapus, subsidi pupuk dihapus, subsidi kesehatan dan lain-lain banyak yang dikurangi bahkan dihapus. Akibatnya rakyat semakin menjerit, menangis, sulit untuk bertahan hidup. Sementara pajak yang ditanggung rakyat semakin naik, biaya Pendidikan semakin mahal, biaya kesehatan semakin mahal, tagihan listrik semakin naik tiap bulannya, bahkan semakin mencekik. Dengan naiknya semua tadi akhirnya semakin menambah beban hidup masyarakat. Karena kebutuhan biaya hidup sehari-hari semakin tak terjangkau. Kemiskinan semakin meningkat dan kriminalitas semakin tak terkendali. Dan yang lebih tidak masuk akal adalah sikap pemerintah yang abai. Semua kebijakannya tidak berpihak pada masyarakat kecil.
Dalam kondisi yang demikian, masih saja ada kebijakan yang tidak popular yaitu dana subsidi untuk rakyat kecil dihapus sementara dana subsidi untuk parpol dinaikkan. Dimanakah perasaan penguasa ini. Apakah mereka tidak melihat kondisi rakyat negeri ini? Lalu apa yang ada dibenak pikiran mereka? sungguh ini adalah kedzoliman yang luar biasa. Di mana letak perhatian pada rakyat?
Sungguh ini adalah kenyataan pahit akibat demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Dalam demokrasi untuk meraih satu jabatan dibutuhkan dana yang cukup besar. Agar dana itu bisa kembali, maka tidak ada jalan lain kecuali harus menciptakan hal yang bisa mendapatkan uang. Rakyat diposisikan sebagai bawahan dan kosumen yang harus melayani dan berkorban untuk kepentingan penguasa. Sementara para pejabat layaknya raja yang harus di layani semua kebutuhannya.
Inilah fakta. Demokrasi yang konon yang katanya dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat adalah omong kosong. Yang terjadi adalah dari rakyat oleh pejabat dan untuk para capital/ pengusaha. Begitulah hidup dalam sistem demokrasi, semua diukur dengan materi. Jadi semua birokrasi tak lepas dari sistem bagi-bagi. Semua bisa dibagi, jabatan, proyek, dan semua birokrasi. Karena untuk meraih kursi dibutuhkan rupiah yang begitu tinggi. akibatnya kehidupan terpuruk diberbagai segi. Masihkah kita mengimpikan demokrasi? Tidakkah kita percaya bahwa islam itu sebagai solusi?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka tunggulah masuk ke jurang kebinasaan. Edukasi politik harus terus dilakukan kepada umat. Tujuannya umat sadar dan paham untuk rindu diatur politik Islam. Serta mampu mewujudkan kehidupan bersama dalam tatanan yang mulia dalam bingkai syariah Islam.

Permintaan Meningkat, Lumbung Desa Siap Suplai Beras untuk Kebutuhan Zakat Fitrah

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Mitra Lumbung Desa Sinergi Foundation (LD-SF) di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang siap menyuplai 20 ton beras berkualitas untuk keperluan zakat fitrah. Menurut CEO SF, Ima Rachmalia, di momen Ramadhan 1438 H ini, komoditas beras Compreng menjadi primadona. Permintaan beras semakin tinggi, terutama dari lembaga-lembaga sosial penyalur zakat.

“Sebetulnya permintaan reguler di Compreng setiap bulannya mencapai 60-70 ton beras. Akan tetapi, karena ada permintaan zakat fitrah, angkanya naik 20 ton,” katanya.

Sementara itu, di LD Desa Lengkong Jaya Kecamatan Cigalontang Tasikmalaya, suplai beras selama Ramadhan naik hingga 10 ton. Naiknya angka ini berdasarkan permintaan dari berbagai kota, seperti Tasikmalaya dan Garut.

Kendati permintaan beras naik, ia melanjutkan, komoditas pangan lain, seperti sayu-sayuran pun tetap dikembangkan selama Ramadhan. “Tidak terkonsentrasi di beras saja. Kalau desanya memiliki potensi dan komoditas yang menambah pendapatan, dan mengangkat harkat para petaninya, kami bantu garap juga,” lanjut Ima.

Ia berharap, di bulan suci ini, semakin banyak permintaan komoditas beras, maka semakin banyak pula berkah yang didapatkan petani.

Lumbung Desa (LD) sendiri merupakan program ketahanan pangan dalam bentuk gerakan pembentukan usaha produktif yang berbasis potensi lokal pedesaan, semisal: sawah, kebun, ternak maupun home industri. Upaya ini diwujudkan melalui proses pengembangan kapasitas organisasi, termasuk peningkatan produksi produk-produk lokal unggulan.

Sebuah upaya mengembalikan desa kepada khittahnya: Desa Berdaulat yang dibangun petani bermartabat, sebagai sumber pangan dan kearifan lokal Indonesia. Saat ini, program LD telah dikembangkan di Desa Kiarasari Kecamatan Compreng Subang dan Desa Lengkong Jaya Kecamatan Cigalontang Tasikmalaya. Dalam waktu dekat, LD Desa Ciwangi Limbangan Garut pun segera dirintis.

Siaran Pers

API Jabar Siap Mengawal Jika Kasus Habib Rizieq Dipraperadilankan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, Asep Syaripudin menegaskan, pihaknya akan mengawal seandainya kasus Habib Rizieq dipraperadilankan.

“Kita akan kawal apabila besok lusa di praperadilankan, kalau di luar pengadilan kami akan aksi,” katanya kepada wartawan di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat (2/6/2017).

Ia menilai kasus tersebut bukan masalah hukum. Sebab dalam UU ITE itu yang seharusnya diusut adalah pembuat dan penyebar chat mesum tersebut.

“Ini bukan masalah hukum, kalau bicara hukum, kan pertama yang menyebarkan bukan Habib Rizieq, yang melakukan bukan Habib Rizieq. Habib Rizieq tidak tahu masa Habib Rizieq yang tersangka,” tandasnya.

Menurutnya, kasus dugaan pornografi yang menjerat Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu terkesan dipaksakan. Sebab aparat tidak melakukan proses hukum berdasarkan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di negeri ini.

“Proses menjadikan tersangka itu sangat salah dan jadi saksi pun tidak tepat. Karena tidak mengetahui. Disini kita melihat Polri disini melakukan kriminalisasi,” tegasnya.

Reporter: Agus Dwi Cahyanto

Tolak Kriminalisasi Ulama, API Jabar Sebut Aparat Bertindak Di Luar Kaidah Hukum

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat bersama ormas Islam lainnya berunjuk rasa menolak kriminalisasi ulama, ormas dan aktivis Islam di depang Gedung Sate, Bandung, Jumat (2/6/2017).

Dalam kesempatan itu, Ketua API Jabar Asep Syaripudin mengatakan, aparat penegak hukum tidak bertindak sesuai kaidah hukum yang berlaku dalam sejumlah kasus yang menjerat para ulama dan ormas Islam.

“Aparat penegak hukum bertindak tidak berdasarkan kaidah-kaidah hukum, itu perbuatan melawan hukum ini pelanggaran HAM berat,” katanya di sela-sela aksi kepada wartawan, Jumat (2/6/2017).

Ia menjelaskan, sebelum menetapkan seseorang sebagai tersangka aparat harus memenuhi deliknya terlebih dahulu.

“Dan kami menyaksikan justru ini tidak dilakukan oleh penegak hukum, maka kita melihat ini bukan persoalan hukum seperti pada Habib Rizieq, Ustadz Al-Khottot. Ini sesuatu hal yang ironis,” tegasnya.

“Maka dri itu API JABAR bersikap untuk meluruskan kita jangan sampai mau di benturkan dengan aparat penegak hukum , seyogyanya penegak hukim menjadi pelayan masyarakat, bukan sebagai pihak yang kemudian mengkriminalisasi rakyat apalagi ulama,” tambahnya.

Menurutnya, upaya kriminalisasi terhadap para ulama merupakan penghinaan kepada Islam itu sendiri.

“Dalam agama islam ulama adalah pewaris nabi, apabila menghina atau mengkriminalisasi ulama sama dengan menghina nabi. Ini yang menjadi masalah,” tandasnya.

Reporter: Agus Dwi Cahyanto

DSKS: Aktivis Dakwah Harus Siap Menghadapi Segala Resiko

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustadz Muinudinilah Basri mengatakan, aktivis dakwah harus siap segala resiko. Sebab, musuh-musuh Islam akan selalu mencari cara untuk membungkan kebenaran. Pernyataan itu disampaikan menanggapi vonis bebas para petinggi Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan seorang jurnalis media Islam Ranu Muda atas kasus perusakan kafe Social Kitchen.

“Kita tahu bahwa penjara dalam Islam adalah suatu ancaman dari musuh-musuh Islam, salah satu ancaman dari orang-orang kafir adalah ditahan, kita tahu bahwa ditahan ini kita tidak boleh mengharap, tetapi sebuah resiko memang yang kita harus siap menerima keadaan ketika terjadi, ketika kita melakukan jihad dan dakwah kita sesuai syar’i dan prosedural, ungkapnya saat menyambut kedatangan para tokoh LUIS di Masjid Jami MUI,Surakarta, Kamis,(1/6/2017).

Lebih lanjut, ketua Ponpes Ibnu Abbas Klaten ini, menjelaskan, bahwa ketika kita mendapatkan resiko masuk penjara, kita harus berusaha membuktikan bahwa kita tidak bersalah. Sebagaimana yang dilakukan nabi Yusuf allaihisalam ketika masuk penjara karena difitnah Zulaikha.

“ Tetapi, ketika kita dipenjara, kita harus berjuang keluar dan membuktikan bahwa kita tidak bersalah,katanya.

Selain itu, Ustadz Muin juga mengapresiasi kerja keras Tim Advokasi Nahi Mungkar (TASNIM) yang istiqomah mendampingi para aktivis LUIS dari awal hingga akhir.

“Dan alhamdulillah kegigihan dari tim advokasi mendampingi beliau-beliau dan dengan kerja sama yang baik akhirnya divonis bebas,”tutupnya.

Reporter: Arie Ristyan