Ansharusyariah: Reuni 212 Adalah Momen Umat Mensyukuri Nikmat Persatuan

SOLO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Ansharu Syariah, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir mengatakan, Reuni Akbar 212 adalah salah satu momen umat mensyukuri nikmat ukhuwah islamiyah yang lahir pasca Aksi 212.

Menurutnya, melalui aksi 212 umat Islam mendapat pelajaran yang begitu banyak, khususnya tentang persatuan.

“Ketika umat Islam khususnya di tingkat akar rumput terpenjara oleh sekat-sekat kelompok, setelah 212 itu umat benar-benar merasakan sebuah situasi indah dimana mereka bisa saling memahami perbedaan,” katanya, Kamis (28/11/2019).

Ustadz Iim menjelaskan, hal lain yang harus disyukuri dalam aksi 212 adalah berkumpulnya para ulama dan umat dalam jumlah besar.

“Berkumpulnya para ulama, mereka hadir berdoa bersama. Hadirnya umat dengan jumlah yang begitu besar, dan ini jelas menjadi syiar,” ujarnya.

Ia melanjutkan, momen berkumpulnya umat Islam dalam satu waktu dan tempat adalah hal yang disukai Rasulullah SAW.

“Dan Rasulullah pada prinsipnya senang apabila umat Islam memiliki jumlah yang besar. “Allah meningkatkan jumlah kalian dari umat-umat yang lain,” katanya.

“Kenapa Rasulullah bangga dengan jumlah yang besar, karena jumlah yang besar di dalamnya ada kebersamaan maka akan terwujud sebuah kekuatan yang besar, oleh karena itu orang-orang kafir dan munafik tidak suka umat Islam berkumpul,” papar Ustadz Iim.

Ustadz Iim juga menyampaikan, aksi 212 telah membuka wajah-wajah kaum munafikin yang tidak suka umat Islam bersatu.

Oleh karenanya, ia mengimbau seluruh kaum muslimin untuk menghadiri acara Reuni 212 pada Senin 2 Desember mendatang untuk menunjukkan kepada dunia persatuan umat Islam di Indonesia.

“Ini sebuah peristiwa yang hanya terjadi di Indonesia, berkumpul dalam satu hari. Sehingga seluruh umat Islam dunia melirik peristiwa itu dan ingin menjadi bagian dari itu,” terangnya.

“Mari rasakan gelora semangat persatuan umat dalam momen itu,” pungkas Ustadz Iim.

KH Nonop Hanafi Pastikan Kafilah Ciamis Hadiri Reuni Akbar 212

CIAMIS (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Ciamis, KH Nonop Hanafi memastikan dirinya beserta Kafilah Ciamis untuk menghadiri acara Reuni Akbar Alumni 212 pada Senin 2 Desember mendatang di Monas, Jakarta.

“Insya Allah kami dari Ciamis akan menghadiri acara Reuni Alumni 212 di Monas, Jakarta, Bismillah,” kata pimpinan Kafilah Ciamis dalam Aksi 212 tahun 2016 itu kepada Jurnalislam.com melalui sambungan telepon, Rabu (27/11/2019).

Kyai Nonop mengatakan, aksi 212 adalah momentum persatuan yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam. Baginya, acara Reuni Alumni 212 merupakan ikhtiar untuk merawat persatuan dan kesatuan tersebut.

“Berdasarkan pengalaman yang sudah kita lalui, tidak ada masalah yang ditimbulkan. Hal ini menunjukkan 212 adalah betul-betul aksi damai dengan tujuan merawat persatuan dan kesatuan umat yang penuh semangat dan itu harus terus dipupuk dan dirawat,” ujarnya.

Oleh karenanya, ia mengimbau seluruh umat Islam untuk menghadiri acara Reuni Akbar 212 dan terus menggelorakan semangat persatuan.

“Mari kita hadiri acara Reuni 212 dengan penuh semangat dan riang gembira, karena ini adalah aksi damai. Kedua, terus gelorakan semangat persatuan dan kesatuan umat tanpa melihat latar belakang parpol apapun, ormas apapun, suku bangsa apapun, bahkan agama apapun, karena selama ini banyak tokoh lintas agama yang hadir dalam cara ini,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, KH Nonop Hanafi memimpin ratusan santrinya melakukan aksi jalan kaki dari Ciamis menuju Jakarta untuk menghadiri acara Aksi Super Damai 212 pada 2 Desember 2016 lalu. 

Aksi tersebut dipicu oleh kekecewaannya terhadap pembatalan sepihak sejumlah armada bus yang akan mengantarkan rombongannya menuju Jakarta. Aksi para santri tersebut disebut-sebut telah memantik jutaan umat Islam dari seluruh Indonesia untuk menghadiri aksi menuntut penegakan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta saat itu.

WMI dan AQL lakukan Refleksi Satu Tahun Tsunami Selat Sunda

PANDEGLANG (Jurnalislam.com) – Wahana Muda Indonesia (WMI) dan AQL peduli melakukan road show pasca satu tahun bencana tsunami selat Sunda. Aneka program dari WMI dan AQL selama fase emergency dan recovery di selat Sunda selama satu tahun terakhir dikunjungi oleh donatur dari Majelis Nasional Turkistan Timur.

Perwakilan Majelis Nasional Turkistan Timur (MNTT) yang dipimpin oleh Seyit Tumturk ingin belajar dan berbagi tentang program penanggulangan bencana di Indonesia khususnya selat Sunda.

“Selama ini kami kerjasama dengan NGO atau yayasan di Indonesia yang concern dengan isu kemanusiaan dan dakwah. Hal ini sangat penting bagi kami bagaimana sebuah kerjasama sinergis bisa terjalin dengan baik untuk kemaslahatan umat,” ujar Seyit disela peresmian fasilitas training bersama di desa Cisiih Kecamatan Cimanggu, Banten, Senin (26/11/2019).

Direktur WMI Care, M Zainul menyambut baik inisiasi AQL Peduli dan MNTT terkait kesamaan visi kemanusiaan. WMI dan AQL pada masa tanggap darurat dan recovery telah menurunkan relawan untuk menjalankan program kemanusiaan.

Hasil assesment tim WMI Care pasca tsunami terdapat banyak program yang perlu disinergikan. Hasil koordinasi dengan seluruh stakeholder dan kajian di lapangan disimpulkan beberapa hal, pertama masalah kelangkaan air di beberapa desa di kecamatan Sumur dan Cimanggu. Kedua terkait kepastian kepemilikan Hunian Tetap para penyitas pasca Huntara yang bersifat sementara. Ketiga terkait recovery ekonomi para penyintas yang perlu pelatihan enterpreneurship.

Firman Direktur AQL Peduli menekankan bahwa penanganan penyintas gempa dan tsunami di selat Sunda harus secara holistik. Banyak variabel yang kita perhatikan selain program fisik dan bantuan material, aspek spiritual dan enterpreneur perlu diperhatikan secara serius baik pemerintah dan NGO karena hal ini masih perlu sinergi.

Pemerintah cukup responsif selama proses rekonstruksi dan pembangunan infrastruktur kawasan Pandeglang Banten cukup cepat. Kita bisa merasakan perbedaan signifikan infrastruktur jalan raya Kecamatan Cimanggu hingga sumur dalam setahun pasca tsunami Selat Sunda.

WMI dan AQL Peduli Ubah Huntara Cimanggu Jadi Training Center

PANDEGLANG (Jurnalislam.com) – Refleksi 1 tahun pasca Tsunami Selat Sunda WMI dan AQL Peduli sepakat mengubah Huntara di Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, Banten menjadi Training Center bersama.

“Traning Center WMI dan AQL ini berfungsi untuk pelatihan mitigasi, kesiapsiagaan dan pemberdayaan,” ungkap Direktur WMI Care M Zainul di Huntara Cimanggu, Senin (26/10/2019)

Hal tersebut disampaikan M. Zainul ketika menyambut tim Majelis Nasional Turkistan Timur ketika mengunjungi Traning Center WMI dan AQL Peduli. WMI dan AQL peduli akan menginisiasi program air bersih dan berharap MNTT dapat berkontribusi dan partisipasi dalam program ini.

Training Center WMI dan AQL merupakan kebutuhan penting untuk para relawan saat mitigasi bencana, persiapan, respon tanggap darurat, dan recovery untuk menjalankan program-program kemanusiaan. Aktifitas perdana dari Training Center ini adalah pelatihan dasar Search and Rescue WMI.

Firman Fabi, Direktur AQL Peduli menekankan pentingnya Training Center ini untuk penanganan penyintas secara holistik. Dari Traning Center ini kita dapat mengurai variabel terkait edukasi, pemberdayaan para pemuda dan penyintas. Pendekatannya lebih terprogram dan berjangka panjang. “Yang diperhatikan selain program fisik juga aspek edukasi, mental, spiritual dan enterpreneur prosesnya tidak bisa instan”, pungkas Firman Fabi.

MUI Tegaskan Program Standarisasi Dai Pilihan, Bukan Keharusan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan program standarisasi dai bukan sebuah keharusan. Para dai diberi kebebasan untuk memilih ikut program standarisasi dai atau tidak. Akan tetapi, kedepannya pemerintah akan membuat kebijakan memilih dai-dai yang bersertifikat untuk dakwah di masjid-masjid pemerintahan.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, Kiai Masduki Baidlowi mengatakan, secara teknis mesti dibedakan antara dai bersertifikat dengan sertifikasi dai. Sebab banyak orang salah paham tentang program standarisasi dai dengan mengiranya sebagai program sertifikasi dai.

“Kalau sertifikasi, seperti orang mau mengendarai kendaraan harus punya SIM atau orang mau jadi guru harus memiliki sertifikat. Kalau ini (program standarisasi dai) bukan keharusan, ini sebuah pilihan (untuk) dai (agar) bersertifikat,” kata KH Masduki di kantor MUI Pusat, Senin (25/11/2019).

Ia menyampaikan, para dai boleh ikut program standarisasi dai untuk mendapatkan sertifikat, tapi tidak ikut program ini pun boleh.

“Apalah arti sebuah sertifikat karena itu hanyalah kertas,” ujarnya. Yang terpenting menurut dia adalah standar-standar dakwah yang sudah disusun oleh KH Muhammad Cholil Nafis dengan baik itu penting untuk dilaksanakan.

Ia menegaskan, tidak ada pembatasan bagi dai yang belum memiliki sertifikat. Karena program standarisasi dai adalah pilihan dan bukan keharusan. “Jadi yang enggak ikut (program ini) silakan terus melakukan dakwah,” jelasnya.

Puluhan Mobil dan Rumah Warga Palestina Divandalisme Pemukim Israel

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 50 unit mobil milik warga Palestina dibakar dan dirusak oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat pada Jumat (22/11/2019).

Situs berita Wafa melaporkan, selain membakar kendaraan, para pemukim juga memotong ban dan mencorat-coret dengan “area militer tertutup’ dalam bahasa Ibrani di rumah-rumah warga di Karyout, Tepi Barat.  Lambang Bintang Daud juga terlihat di dinding rumah warga di Thaer Hanaysha.

Mobil milik Suleiman Zayn Al-Din (47) asal Majdal Beni Fadl, adalah salah satu dari sekian banyak mobil yang dibakar pemukim Yahudi malam itu. Suleiman mengatakan, dua orang tertangkap kamera menghancurkan mobilnya dan mobil putranya.

“Mereka membuat kami rugi puluhan ribu shekel,” katanya dilansir media Israel, Haaretz, Jumat (22/11/2019).

Tentara pendudukan mengklaim telah menyelidiki dan pasukan kemanan akan segera mengumpulkan bukti.

Walikota Kafr Ad-Dik, Ibrahim Issa Ad-Dik mengatakan bahwa kejadian Jumat ini adalah yang kedua di desa itu.

Tentara Israel Mengarak Bocak Palestina Sambil Melempari Rumah Warga dengan Granat

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Lembaga HAM B’tselem melaporkan bahwa pasukan penjajah Israel telah menahan seorang anak Palestina berusia 13 tahun pada 3 November lalu. Anak kecil yang bernama Abd Ar-Rajeq Idris itu ditangkap di Abu Jales, Tepi Barat kemudian dibawa ke Hebron dengan mata tertutup.

Abd Ar-Raze kemudian diturunkan dari sebuah jip dengan mata tertutup dan diarak di tengah pemukiman warga Palestina.

Selain mengarak anak itu, tentara Zionis Israel juga melempari rumah-rumah warga dengan granat sambil berteriak-teriak.

“Saya benar-benar takut dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saya duduk di jip dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Salah satu tentara menampar dan menendang saya. Dia berbicara kepada saya dalam bahasa Ibrani sehingga saya tidak bisa mengerti apa yang dia katakan,” kata Abd a-Razeq Idris kepada seorang peneliti B’Tselem.

Ketika ayah anak itu tiba, tentara menolak untuk membebaskannya dan malah membawanya ke sebuah pos militer yang berpusat di pemukiman Kiryat Arba. Tentara itu mengatakan kepada ayah bahwa mereka membawanya ke kantor polisi.

‘Abd a-Razeq ditanya tentang pelempar batu dan disuruh pulang sendiri sekitar pukul 14:00.

https://www.youtube.com/watch?list=UUtHZWaMxJ4nOLdsSnEAoXcg&v=TnJEZmqt1Ys&feature=emb_title

“Ibu saya benar-benar khawatir, dan ketika saya sampai di rumah, dia dan nenek saya memeluk saya dan menangis. Saya tidak melakukan apa-apa, dan saya tidak melempar batu apa pun. Saya tidak tahu apa yang diinginkan tentara dari saya,” ungkap anak itu.

Menurut B’Tselem, kasus ini adalah bagian dari kekerasan rutin yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina di Hebron. Tentara dan pemukim Israel juga kerap melakukan serangan fisik, ancaman, pelecehan verbal, menyerang rumah-rumah (biasanya di malam hari), dan menangkap anak di bawah umur dan orang dewasa.

Sementara itu pihak Israel berkilah. Untuk membenarkan tindakannya, mereka beralasan semua dilakukan dengan alasan keamanan.

B’Tselem menegaskan bahwa tindakan tentara dan pemukim Israel itu dilakukan agar warga Palestina tidak betah dan meninggalkan Hebron.

“Tindakan mereka hanya berfungsi untuk meningkatkan kebijakan mendorong warga Palestina untuk meninggalkan Hebron dengan membuat kehidupan sehari-hari mereka menderita,” tegas B’Tselem.

Ribuan Umat Islam Tasikmalaya Turun ke Jalan Tuntut Sukmawati Diadili

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pernyataan kontroversial Sukmawati Soekarnoputri yang dinilai membandingkan Rasulullah SAW dengan Soekarno terus mendapat reaksi dari masyarakat khususnya umat Islam.

Hari ini, Jumat (22/11/2019), ribuan massa dari berbagai ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) berunjuk rasa menuntut penegakan hukum terhadap Sukmawati Soekarnoputri di Tugu Adipura depan Masjid Agung Kota Tasikmalaya.

Dalam aksinya, massa menuntut aparat penegak hukum untuk segera mengadili putri Proklamator RI itu karena dikhawatirkan akan memicu reaksi yang lebih besar lagi.

“Kami Almumtaz menuntut agar Sukmawati segera ditangkap dan diadili sesuai hukum di Indonesia, karena kami menilai apa yang dia ucapkan telah menghina agama dan melukai hati mayoritas umat Muslim di Indonesia. Sehingga dikhawatirkan ketika prosesnya lambat akan terjadi gerakan besar sebagai perlawanan terhadap penistaan agama,” kata Sekjen Almumtaz, Abu Hazmi kepada wartawan.

Abu Hazmi mengatakan, kasus ini adalah kali kedua Sukmawati melakukan penistaan terhadap ajaran Islam. Oleh karenanya, Almumtaz mendesak pemerintah khususnya aparat agar proses hukum kepada adik Ketua DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri itu segera dilakukan.

“Kami tetap akan menuntut sampai (Sukmawati) benar-benar diproses hukum, karena bagi kami Islam adalah segalanya,” tegasnya.

Abu Hazmi berharap, ketika hukuman ditegakkan maka tidak akan ada lagi kasus penistaan terhadap ajaran Islam.

“Kalau ada lagi (penistaan terhadapa ajaran Islam), maka negara ini tidak akan kondusif karena negeri umat muslim adalah mayoritas di negeri ini,” ujarnya.

“Kalau dalam pandangan Islam pelehan terhadap Rasulullah atau terhadap ajaran Islam itu hukumannya mati, tetapi karena kita ada di NKRI jadi kita tetap menuntut supaya Sukmawati itu dihukum sesuai hukum yang ada, minimal itu,” paparnya.

Sebelumnya, sejumlah pihak telah melaporkan Sukmawati Soekarnoputri kepada kepolisian karena diduga telah melakukan penistaan terhadap agama.

Selain itu, protes keras juga disampaikan beberapa tokoh nasional seperti Wakil Preseiden, KH Ma’ruf Amin. “Membandingkan Nabi Muhammad dengan Sukarno itu tidak sebanding, tidak tepat. Penyelesaiannya sebaiknya kalau bisa dimediasi itu lebih bagus supaya kita tidak terus berhadap-hadapan,” kata Kyai Ma’ruf di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2019).

Seperti diketahui, Sukmawati membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Proklamator RI Bung Karno. Pernyataan itu dia sampaikan ketika dirinya jadi pembicara diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11/2019).

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Soekarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati kepada peserta diskusi.

Rezim Syiah Suriah Serang Rumah Sakit dan Kamp Pengungsi, 22 Tewas

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 22 warga sipil telah tewas oleh setelah pemerintah Suriah membom sebuah kamp pengungsian dan rumah sakit pada Rabu (20/11/2019).

Kamp yang menampung 7.000 orang di dekat desa Qah di provinsi Idlib itu dihantam oleh rudal darat-ke-darat pada Rabu malam dengan membawa submunisi bom curah. Serangan itu menewaskan sedikitnya 16 orang, melukai puluhan lainnya dan membakar tenda-tenda hunian para pengungsi.

Masyarakat Medis Amerika Suriah (Sams) mengatakan, roket lain merusak rumah sakit bersalin Qah 30 meter dari kamp, ​​menewaskan dua wanita dan enam anak-anak dan melukai empat pekerja medis. Semua pasien dievakuasi dan fasilitas sekarang telah ditinggalkan.

Sebelumnya, pesawat militer Rusia juga menargetkan kota Maaret Al-Numan di Idlib selatan, menewaskan enam orang.

“Semua anak mulai menangis, orang-orang mulai berlari ke arah kebun zaitun, semuanya berusaha melarikan diri,” kata Zaher Ghara’a, seorang warga berusia 42 tahun yang telah tinggal di kamp selama enam tahun.

“Saya melihat tenda terbakar kemudian mendengar Helm Putih [layanan pertahanan sipil Suriah], ambulan dan pemadam kebakaran mendekat. Van sepupu saya rusak tetapi bannya masih bagus sehingga ia membantu mengangkut orang ke rumah sakit. Dia berlumuran darah pada saat dia selesai,” ungkapnya.

Juru bicara White Helmets, Ibraim Al-Laith mengatakan, butuh dua jam untuk memadamkan api dan mengevakuasi korban yang terluka. Dia menambahkan, daerah itu masih terlarang pada hari Kamis karena banyak roket-roket yang tidak meledak.

Pengeboman oleh pasukan Assad dan sekutunya Rusia telah menewaskan lebih dari 1.300 orang dan membuat hampir 1 juta orang melarikan diri ke perbatasan Turki sejak serangan terhadap Idlib dan pedesaan sekitarnya dimulai pada bulan April.

Badan-badan bantuan telah berulang kali memperingatkan bahwa menyerang Idlib membuat nyawa 3 juta warga sipil dalam bahaya dan dapat memicu bencana kemanusiaan terburuk dari perang telah berlangsung hampir sembilan tahun itu. Idlib adalah rumah bagi sekitar 1 juta orang, populasi provinsi ini telah membengkak dengan warga sipil yang terlantar akibat pertempuran di tempat lain di negara ini.

Insiden di RS Qah menandai serangan ke-65 pada 47 fasilitas kesehatan di daerah itu sejak April.

Fasilitas itu seharusnya ada dalam daftar tanpa serangan milik PBB yang dibagi dengan pihak-pihak yang aktif di wilayah udara Suriah. Tetapi Damaskus dan Moskow telah berulang kali menggunakan koordinat GPS untuk secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil.

“Saya pikir rezim sengaja menargetkan kamp ini,” kata Dr Muheeb Qadour, Direktur Rumah Sakit Atmeh.

“Rumah sakit ini hanya untuk wanita dan anak-anak dan dekat dengan perbatasan, jauh dari garis depan. Tidak ada markas militer di daerah ini,” kata Muheeb.

Sumber: The Guardian

Dari Mekkah, Habib Rizieq Serukan Umat Islam Hadiri Reuni 212 2019

MEKKAH (Jurnalislam.com)– Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyeru umat Islam di Indonesia untuk hadir dalam kegiatan reuni 212 di Jakarta pada Senin, (2/12/2019) mendatang. Ia juga mengimbau agar umat Islam tidak menggelar aksi di daerah.

“Bahwa kami akan terus berjuang untuk mensukseskan reuni 212 yang insyaallah akan digelar pada hari senin 2 desember 2019 di ibukota Jakarta,” katanya dalam sebuah rekaman video yang tersebar.

“Karena itu kami serukan kepada seluruh umat islam yang ada di tanah air agar pada hari itu tidak menggelar acara apapun di daerah, mari kita rame rame kita datang ke Jakarta untuk mensukseskan acara tersebut,” imbuhnya.

Menurut HRS, reuni 212 merupakan momentum untuk mempererat ukhuwah dan persaudaraan kaum muslimin di Indonesia. Sebagaimana pada tahun 2016 yang lalu, lebih dari 7 juta umat Islam berkumpul di Monas, Jakarta.

“Karena Reuni 212 itu adalah momentum untuk kita sama sama membangkitkan kembali semangat persatuan dan persaudaraan kita,” ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta kepada seluruh seluruh kaum muslimin dan para dermawan untuk ikut menginfaqkan hartanya untuk mensukseskan kegiatan reuni 212.

“Begitu juga kepada seluruh umat Islam para dermawan, para pengusaha dari berbagai daerah untuk tidak segan segan menginfakan hartanya membantu saudara-sudaranya agar sampai ke Jakarta untuk mengikuti reuni 212,” pungkas HRS.