Tak Hanya Masjid, PKC Juga “Membersihkan” Semua Simbol Agama di Gereja dan Kuil Budha

CINA (Jurnalislam.com) – Sejak United Front Work Department (UFWD) meluncurkan program pengawasan keagamaan nasionalnya yang pertama kali pada September 2018, kemudian mengirim tim inspeksi khusus ke seluruh negeri, tempat-tempat ibadah dan para penganutnya telah menderita khususnya penindasan sistematis yang sangat keras.

UFWD (統戰部) adalah sebuah badan intelijen yang didirikan oleh otoritas Partai Komunis Cina (PKC) yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan mengelola hubungan dengan partai-partai demokratis, intelektual, pembangkang, akademisi, kelompok agama dan etnis, dan individu-individu lain yang berpengaruh, seperti pebisnis, yang tidak terkait langsung dengan Partai di dalam dan luar Cina.

Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan kekuatan anti-komunis atau menghasut siapa pun di luar Partai untuk mendukung PKC dan pemerintahnya. UFWD mengawasi sembilan biro internal, dan di antara mereka, biro kedua bertanggung jawab untuk menangani urusan agama; yang ketujuh bertanggung jawab atas hal-hal yang berkaitan dengan Tibet, dan yang kesembilan berurusan dengan Xinjiang. UFWD juga mengelola lima organisasi keagamaan yang disetujui secara resmi.

Pada tanggal 2 November, pejabat dari pemerintah distrik Rencheng di kota Jining menyewa tim konstruksi untuk ‘memperbaiki’ masjid wanita. Tidak hanya tanda-tanda dan simbol-simbol agama yang dihapus, tetapi kubahnya dihancurkan, dan bendera nasional dikibarkan di pintu masuk masjid.

Sebuah kaligrafi arab di dinding masjid distrik Rencheng, diturunkan dan diganti dengan “Patriotisme, perdamaian, persatuan, dan harmoni”. Foto: BitterWinter

Bahkan situs non-religius dengan simbol Islam menjadi sasaran. Qingzhou, sebuah kota kuno yang dikelola oleh kota Weifang di tingkat prefektur, adalah rumah bagi sekitar 20.000 orang Hui. Jalan Kuno Qingzhou, yang terkenal di seluruh China, dipagari dengan toko-toko Islam, yang telah ada selama beberapa generasi, beberapa bahkan telah ada sejak ratusan tahun. Kampanye anti-Muslim yang sedang berlangsung sama sekali tidak memberi ruang. Simbol-simbol Islam telah dihapus dari papan nama sekitar 120 toko milik orang Hui.

Simbol Islam telah dihapus atau dicat ulang. Foto: BitterWinter

Simbol Islam juga telah dihapus dari 54 toko Hui di distrik Luozhuang, kota Linyi. Pemilik salah satu dari mereka, seorang tukang daging, mengatakan kepada Bitter Winter bahwa kampanye penghapusan simbol-simbol agama telah menasional, dan setiap bisnis yang tidak mematuhi terancam akan ditutup. Sementara tokonya sedang diperbaiki, tukang daging itu diperingatkan oleh para pejabat “untuk tetap sejalan dengan Partai Komunis, mendengarkan Presiden Xi Jinping, dan melakukan apa yang dikatakan Partai.”

Sebuah pesan kepada pejabat masyarakat dan desa di sebuah kota di kota Linyi, menuntut mereka untuk memastikan bahwa semua slogan dan simbol agama dihapus dari tempat-tempat keagamaan sebelum kunjungan tim inspeksi pada 7 November. Foto: BitterWinter

Mengomentari upaya pemerintah yang intensif untuk menekan tradisi dan budaya Islam, seorang imam setempat mengatakan bahwa taka lama lagi pria Hui akan dilarang mengenakan topi doa dan jilbab wanita.

“Xi Jinping bermaksud membuat semua Muslim hanya percaya dan mendengarkan Partai Komunis,” tambah imam itu.

Simbol dan struktur Islam telah dihapus dari atap sebuah restoran Islam di kota Zaozhuang. Foto: BitterWinter

Penutupan Gereja

Penindasan terhadap umat beragama juga dialami oleh penganut Kristen di Provinsi Timur Shandong. Pada bulan Mei, sebuah tim inspeksi pusat datang ke provinsi itu. Mereka menindas semua umat beragama di wilayah tersebut. Setengah tahun kemudian mereka kembali, dan memicu penindasan yang lebih parah di seluruh wilayah.

Para penganut agama dipaksa untuk “menghentikan pertemuan secara sukarela”. Menurut seorang pejabat UFWD, 40 tim inspeksi pusat telah dikirim ke seluruh negeri.

“Ini bukan masalah sepele. Setiap tingkat pemerintahan harus bersiap untuk inspeksi mendatang,” kata pejabat itu.

Seraya menunggu kunjungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah menarik semua pemberhentian untuk memastikan bahwa semua tempat dan kelompok agama di yurisdiksi mereka telah “ditindas dengan baik”.

Sebuah tempat pertemuan gereja rumah di daerah Huinan harus menghancurkan salibnya.

Menurut penduduk setempat yang telah mengalami tindakan represif tersebut, pejabat setempat mengambil banyak foto sebagai bukti untuk menunjukkan “prestasi” mereka kepada atasan mereka.

Pada tanggal 20 Oktober, pejabat dari Biro Urusan Etnis dan Agama di kota Jinan membubarkan jemaat gereja rumah Sola Fide. Pejabat itu memperingatkan jemaat untuk tidak melakukan perkumpulan lagi atau mereka akan ditangkap.

Menurut seorang jemaat, lima hari sebelumnya, para pejabat dari Biro Urusan Etnis dan Agama menggerebek tempat perhimpunan dan memaksa tuan rumah untuk menulis pernyataan yang berjanji untuk “menghentikan pertemuan secara sukarela.”

Seorang jemaat dari gereja lain di daerah itu mengatakan kepada Bitter Winter bahwa Biro menutup tempat miliknya pada 13 Oktober. Tuan rumah juga dipaksa untuk menandatangani pernyataan serupa dan jemaat diancam tidak akan bertemu lagi. Semua salib dan simbol agama lainnya dihancurkan.

Para pejabat mengklaim bahwa lebih dari 50 gereja di bawah yurisdiksi mereka telah ditutup. Bahkan tempat-tempat Gereja Three-Self yang dikelola pemerintah telah dibubarkan, jemaatnya dipaksa untuk menandatangani pernyataan “tidak ada pertemuan”.

Patung-patung Budha Dihancurkan

Kuil Yuquan di Laiyang, sebuah kota tingkat kabupaten yang dikelola oleh kota Yantai, mengalami perubahan drastis menjelang kunjungan tim inspeksi. Semua patung Buddha ditutupi atau diubah, menambahkan janggut atau pisau dan pedang ke tangan mereka. Karakter Cina untuk “Namo Amitābhāya” di dinding luar kuil dilapis dengan slogan tentang pentingnya melindungi hutan dari kebakaran. Plakat pengakuan donor dilukis, “negara makmur, dan orang-orang hidup dalam damai” tertulis di sana.

Patung tertutup di aula Kuil Yuquan dan plakat pengakuan donor yang dicat.

Kuil Tianqi di Anqiu, sebuah kota tingkat kabupaten di bawah yurisdiksi Weifang, sangat populer di kalangan para penyembah, terutama selama pekan raya kuil tahunan. Pada awal November, pemerintah setempat mengirim personil untuk menghancurkan patung Bodhisattva, yang sisanya dibuang ke sungai terdekat. Umat ​​Buddha setempat khawatir bahwa itu tidak akan lama sebelum Kuil juga dihancurkan.

Pada bulan Mei, sebuah patung Bodhisattva berwajah tiga di luar Kuil Huangshan di kota Tianheng, sebuah divisi dari distrik Jimo di kota Qingdao, dibungkus untuk menyembunyikannya dari tim inspeksi selama kunjungan pertama. Namun pada bulan Oktober, pemerintah daerah tidak menyisihkannya sebelum putaran kedua inspeksi – patung itu dihancurkan.

Patung Bodhisattva berwajah tiga di Kuil Huangshan telah dihancurkan.

Sumber: BitterWinter

 

Ukhti, Begini Cara Agar Tak Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Oleh: Ustaz Adi Hadiyanto

Hari itu berjalan normal sebagaimana biasanya sampai sesuatu terjadi padaku ketika aku dan adikku tiba di sebuah mall untuk membeli sesuatu. Sejak saat itu seluruh kehidupanku berubah, iya berubah, tepatnya setelah aku melihat dia.

Aku melihat sosok lelaki yang sangat tampan. “Ya Allah wajahnya, bajunya, segalanya membuatku jatuh hati”. Waktu itu aku rasa dia tersenyum kepadaku dan akupun jatuh cinta kepadanya.

“Aku sangat yakin walau hanya dari pada pandangan pertama sudah bisa kusimpulkan dialah sosok lelaki yang selama ini aku cari. Tubuhku terpaku dan membeku, aku hanya berdiri dan memandangnya takjub. Hatiku pergi ke tempat yang aku tidak tahu di mana, tak tahu mengapa rasa itu terjadi, mungkinkah ini cinta pada pandangan pertama seperti orang bilang dan aku juga berharap dia merasakan apa yang aku rasakan,” gumamku dalam hati.

Stop dulu saudariku!

Apakah masuk akal dan memungkinkan seorang jatuh cinta pada pandangan pertama, bagaimana Islam memandang hal tersebut.

Ketahuilah saudariku, apa yang kamu rasakan bukanlah cinta, tapi ia adalah perangkap setan yang memperindah hal itu. Setan menggambarkan pada seseorang ketika melihat lawan jenis yang bukan mahramnya yang seharusnya ia menundukkan pandangan darinya digambarkan setan seperti sosok yang sempurna dan yang terbaik.

Ketahuilah ia bukan cinta! Apa yang kamu rasakan berupa ketertarikan hanya pada kondisi fisik luar tanpa meneliti kebaikan dalam dirinya berupa agama dan akhlaknya dan ia tidak bisa diketahui hanya dari pandangan pertama dan singkat saja. Perlu waktu yang cukup untuk mengenal agama dan kepribadian seseorang. Sehingga apa yang kamu rasakan bukanlah cinta pada pandangan pertama akan tetapi ia adalah awal dari bencana.

Saudariku, perlu diketahui bahwa apa yang dipromosikan melalui sebagian media tentang indahnya cinta pada pandangan pertama adalah tidak benar, itu adalah kebohongan yang mengatasnamakan cinta.

Sudah terlalu banyak pelajaran yang terjadi pada pernikahan yang diawali dengan kisah cinta pada pandangan pertama tidak berjalan harmonis, dikarenakan apa yang ada pada imajinasi ketika pandangan pertama ternyata jauh panggang daripada api. Apa yang dibayangkan ternyata tidak seperti yang diharapkan bahkan yang terjadi adalah sebaliknya.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak jatuh cinta pada pandangan pertama?

1. Penuhi hati dengan kecintaan kepada Allah SWT sehingga hanya kecintaan karena Allah yang akan dia ikuti.

Sebagaimana kata hikmah mengatakan, “Dua cinta yang tak akan menyakiti yakni cinta kepada Allah dan cinta karena Allah”.

2. Menundukkan pandangan

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. (QS An-Nur : 31)

3. Menghindari membaca kisah, novel atau atau situs internet yang berbicara tentang cinta pada pandangan pertama yang mengadu aduk hati seolah seorang merasa hidup di dalamnya.

4. Sebagai orang tua wajib mendidik anak anak dengan pendidikan Islam, memperkuat keimanannya, memberitahu mereka tentang jebakan setan terutama pada masa puber, masa muda sebelum mereka justru menjadi korban. Sebagaimana pepatah mengatakan menjaga lebih baik daripada mengobati.

5. Mengisi waktu dengan hal hal yang positif, karena waktu luang bisa mengakibatkan cenderung mengikuti hawa nafsu. Wajib untuk diketahui tentang pentingnya manajemen waktu.

6. Melaksanakan perintah Rasulullah SAW untuk menyegerakan menikah bagi yang sudah mampu.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

7. Menghindari tempat tempat yang bercampur baur tanpa batas antara laki laki dan perempuan.

8. Mengenal biografi perempuan-perempuan shalihah dan perilaku mereka untuk dijadikan suri tauladan.

9. Mengetahui akibat buruk dari pergaulan bebas.

10. Memilih teman yang baik sehingga bisa saling menasihati dalam kebaikan

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidabishawabk seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS An-Nur : 21)

Penyelundupan Harley-Davidson dan Brompoton, Pengalihan Isu?

Oleh : Ummu Farah
Narasumber Kajian Muslimah MQ Lovers Bekasi

Terdengar lagi satu kabar yang tidak mengenakkan. Onderdil motor Harley Davidson dan sepeda Brompton diselundupkan ilegal via pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA9721 tipe Airbus A330-900 Neo pada Ahad, 17 November 2019. Yang cukup mengejutkan lagi, barang tersebut ternyata pesanan dari petinggi Garuda Indonesia sendiri yaitu I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara yang berakhir dengan pemecatan dirinya oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Penyelundupan ini ,menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, senilai antara Rp 532 juta hingga Rp 1,5 miliar.

Peristiwa ini menyedot banyak perhatian, terutama media yang besar-besaran dan berhari-hari memberitakan tentang hal ini. Bahkan, hal-hal yang sebetulnya diluar peristiwa penyelundupan ini dan menyangkut hal pribadi Ari Askhara, juga dengan ‘dahsyat’nya diberitakan seru. Seperti ‘gundik’nya dari kalangan pramugari Garuda sendiri. Berita tentang si gundik yang operasi plastik dengan uang negara dan berita yang sepertinya memang dibuat ‘semenarik mungkin’ sampai pembaca semakin penasaran dengan kasus ini yang semakin melebar.

Politisi Gerindra, Andre Rosiade mengatakan kasus Garuda termasuk ‘kasus kecil’, ada sebetulnya kasus yang menonjol saat ini yaitu kasus Jiwasraya. Menurut Andre, kasus Jiwasraya adalah ‘Mega Skandal’. Perusahaan asuransi Jiwasraya diduga gagal membayar polis yang jatuh tempo kepada anggotanya senilai Rp 16,3 triliun. Di sisi lain, perusahaan ini merugi sebesar Rp 13,74 triliun pada September silam. Nilai potensi kerugian negara pada kasus ini jauh lebih besar ketimbang kasus bailout Bank Century Yang hanya senilai Rp 7 triliun. Kasus lain yang membelit BUMN antara lain dugaan korupsi di Bank Tabungan Negara (BTN) dengan PT Batam Island Marina (BIM) senilai Rp 300 miliar yang melibatkan sejumlah direksi BTN.

Andre Rosiade menjanjikan Komisi 6 DPR-RI akan membongkar skandal besar di perusahaan asuransi Jiwasraya ini (JPNN.com, Kamis 5 Desember 2019). Di akun Twitter-nya, Andre menyampaikan akan memanggil Menteri BUMN dan Direksi Jiwasraya. Kicauan Andre mendapat respon positif dari netizen. Bahkan ada yang mempertanyakan kinerja Menteri BUMN selama ini. Pasalnya tiap tahun laporan keuangan Jiwasraya dibahas bersama Menteri BUMN. Menurutnya sebuah kejanggalan menteri begitu saja mengesahkan laporan keuangan tiap tahun dari Jiwasraya padahal ada kecurangan-kecurangan.

Berita-berita besar seperti kasus Mega Skandal di atas, seperti tertutupi oleh kasus penyelundupan Harley Davidson pada Garuda Indonesia. Inilah ciri-ciri bahwa negara ini dikuasai oleh rezim korporatokrasi yaitu rezim yang memiliki 7 elemen yang saling berkaitan yaitu big corporation (korporasi besar), government western (penguasa yang menjadi kaki tangan Barat), perbankan dan lembaga keuangan internasional, military power (kekuatan militer), media massa, kaum intelektual yang terkooptasi, elite politik. Peristiwa pengalihan isu seperti kasus di atas, sudah jamak terjadi di Indonesia dan sudah jadi rahasia umum.

Dalam sistem korporatokrasi, kewenangan didominasi atau beralih dari negara kepada perusahaan-perusahaan besar sehingga petinggi pemerintah dipimpin secara sistem afiliasi korporasi (perusahaan). Jikalau ‘big boss’ meminta untuk menutupi suatu kasus dengan kasus yang lain, dipakailah mass media untuk melancarkannya. Kasus ‘kecil’ dibesar-besarkan, kasus besar berupaya ditutupi serapat mungkin dan kalau perlu memakai cara pengalihan isu agar tidak ‘tercium’ oleh rakyat.

Berbeda sekali dengan kepemimpinan para Khalifah Islam di masa kejayaan Islam. Kepemimpinan tertinggi dalam Khilafah adalah di tangan Khalifah. Khalifah-lah penentu utama maju atau mundurnya negara. Keputusannya tidak akan terganggu oleh pengaruh-pengaruh di luarnya. Meskipun terbuka pintu masukan bagi para muawwin (pembantu) dan dari majelis syuro, tapi keputusan ada di tangan Khalifah dan tidak akan bisa diganggu gugat. Tapi Khalifah juga tidak bisa semena-mena memutuskan kebijakan. Semua itu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Berbeda dengan sistem yang sekarang ini memimpin; seorang kepala negara kadang hanya dijadikan boneka oleh para pemegang modal.
Pemimpin dalam Islam menjalankan pemerintahan secara transparan, termasuk dalam urusan keuangan yang dikelola negara. Contoh nyata adalah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ubaid, Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurrahman mengirim surat kepada Khalifah Umar tentang melimpahnya dana zakat di Baitul Maal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat. Kemudian Khalifah memerintahkan untuk memberi upah kepada orang yang biasa menerima upah. Ternyata Yazid menjawab sudah, namun dana zakat tetap melimpah. Kemudian Khalifah menginstruksikan untuk memberikan kepada orang yang berutang dan tidak boros. Yazid menjawab seperti sebelumnya. Khalifah memerintahkan untuk menikahkan orang yang lajang dan membayar maharnya. Dijawab hal yang sama oleh Yazid. Pada akhirnya Khalifah memerintahkan Yazid mencari orang yang usaha dan membutuhkan modal, lalu memberikan modal tersebut tanpa harus mengembalikan. Maa syaa Allah, begitu terbuka Umar bin Abdul Aziz mengelola keuangan negara.

Lembaga penyiaran dalam Islam secara falsafah berfungsi untuk menyampaikan kebenaran (Islam) di tengah masyarakat sekaligus instrument muhasabah kepada penguasa di ruang publik. Meski pendirian media massa tidak diwajibkan izin dari negara, bukan berarti media massa dalam Islam bebas menyampaikan pemberitaan hingga pengalihan isu semacam tenggelamnya kasus Jiwasraya ini. Begitupun penguasa tidak bisa menyetir media massa sebagaimana dalam pemerintahan korporatokrasi yang menjadikan media sebagai teman sekongkolnya.

Tampak kerusakan akut yang telah dibuat oleh rezim penganut korporatokrasi. Sudah pasti fasad, karena itu adalah sistem bikinan manusia yang bersifat lemah dan tidak azali. Penyelesaian tuntas dari permasalahan yang membelit umat saat ini adalah kembali kepada sistem yang diturunkan dari Sang Pencipta; Allah SWT yaitu sistem Islam.

Umat Islam Semarang Berunjuk Rasa Mendesak Ahmad Muwafiq dan Sukmawati Diadili

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Forum Umat Islam Semarang (FUIS) menggelar aksi damai pada Sabtu (14/12/2019) menuntut diadilinya Ahmad Muwafiq dan Sukmawati yang dinilai telah melecehkan Nabi Muhammad SAW.

Aksi dimulai dengan longmarch dari Masjid Baiturrahman Simpang Lima menuju Mapolda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang.

Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk berisi kecaman terhadap Ahmad Muwafiq dan Sukmawati serta meminta aparat untuk menangkap keduanya. FUIS menilai Ahmad Muwafiq dan Sukmawati telah melakukan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Ketua FUIS, Wahyu Kurniawan, mengatakan, aksi tersebut merupakan wujud pembelaan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah dilecehkan oleh Ahmad Muwafiq dan Sukmawati. FUIS meminta kepada aparat kepolisian untuk tidak tebang pilih dalam proses hukum.

“Agar aparat tidak tebang pilih dalam proses penindakan hukum, permintaan maaf saja tidak bisa memberikan efek jera, hal itu dibuktikan dengan pelecehan yang dilakukan Sukmawati untuk kedua kalinya,” terangnya.

FUIS juga melakukan audiensi kepada pihak Polda Jawa Tengah dengan harapan agar tuntutannya diteruskan ke pusat.

“Supaya tuntutan kami ini diteruskan ke atas meskipun sudah ada pelaporan dari kota-kota lain, harapannya dari Kapolda ini ikut andil dari pelaporan,” pungkasnya.

Radikal vs Radikal

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Kata-kata kotor, caci maki dan bullian itu bagian dari bentuk radikalisme verbal. Kendati itu diucapkan pada saat khutbah, ceramah, debat televisi, rapat parlemen dan pidato kenegaraan. Sedangkan persekusi itu bagian dari radikalisme tindakan. Meski dilakukan oleh ormas keagamaan, apalagi preman. Sama-sama radikal.

Apapun alasan dan tujuannya, radikalisme baik verbal maupun tindakan tak bisa diterima. Aturan negara, norma agama dan etika sosial menolaknya. Kritik boleh, sekeras apapun, tapi mesti obyektif dan tak harus pakai caci-maki.

Fungsi kritik itu untuk pencegahan dan perubahan. Bukan bagian dari ekspresi kebencian, apalagi untuk melahirkan konflik yang memicu terjadinya perpecahan.

Pemerintah, terutama pejabat publik memang harus diawasi. Kalau salah, diingatkan. Itu bagian dari kewajiban berbangsa dan bernegara. Jadi, kritik itu bukan sekedar hak, tapi kewajiban dan tanggungjawab kewarganegaraan bagi setiap warga negara. Di dalam agama Islam ada instruksi “nahi munkar”.

Pejabat publik dan institusi pemerintahan yang diberi amanah mengelola negara tidak boleh anti kritik. Jangan setiap pengkritik dianggap kaum radikalis. Jangan setiap perbedaan pendapat dianggap berpotensi jadi teroris. Lebay pak!

Uniknya lagi, radikalisme itu dicurigai berasal dari pelajaran sejarah “khilafah” dan “jihad’. Maksudnya, pelajaran sejarah yang menjelaskan tentang “khilafah” dan “jihad” dianggap sebagai pemicu radikalisme. Ngawur!

Sejarah “khilafah” dan jihad” itu bagian dari kurikulum pesantren dan madrasah sejak sebelum Indonesia merdeka. Emang berapa banyak sih lulusan pesantren dan madrasah yang jadi radikal? Kenapa harus ada kebijakan untuk menghapus kurikulum “khilafah” dan “jihad”? Oh alaaah… Ono-ono ae…

Tidakkah “Resolusi Jihad” Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU itu, telah berkontribusi besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda? Kenapa kata “Resolusi Jihad” gak dihapus sekalian? Bukannya ada kata “jihad” disitu.

Kata “jihad’ di masa penjajahan Belanda dan Jepang terbukti efektif untuk mendorong rakyat melawan penjajahan. Berangkat dari semangat inilah Indonesia merdeka. Kata “jihad” dan “merdeka” seolah menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Menyatu dalam “darah-daging” umat Islam Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini.

Kata “jihad” sekarang juga diperlukan. Untuk apa? Melawan setiap kedzaliman, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Selama sejarah menyuguhkan keserakahan manusia, kata “jihad” akan selalu dibutuhkan untuk hadir.

Sesuai arti aslinya, “jihad” itu bermakna positif. Kalau ada yang memaknai kata “jihad” secara negatif, itu penyimpangan. Jangan larang pabrik pisau berproduksi lantaran ada seseorang yang dibunuh dengan menggunakan pisau. Emosional itu namanya.

Sejarah itu fakta masa lalu. Gak bisa dihapus. Apalagi ini menyangkut sejarah umat Islam. Umat yang jumlahnya mayoritas di negeri pancasila. Ada pesan moral di dalam sejarah itu. Karena salah satu fungsi sejarah adalah memberi pesan moral. Selain fungsi ideologis dan akademis. Bagimana mungkin menghapus bagian dari sejarah penting umat Islam itu?

Umat Islam memahami bahwa tanpa peran “khilafah” dan “jihad”, belum tentu agama Islam sampai ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maka, menghapus sejarah “khilafah” dan “jihad” itu sama saja ngajak berantem sama umat Islam. DPR ngamuk, PGMI ngamuk, ormas-ormas Islam ngamuk, masyarakat muslim ngamuk, ya wajar. Karena mereka merasa hak historis dan intelektualnya diambil.

Kalau kemudian ada segelintir orang yang memaknai secara salah terhadap kata “khilafah” dan “jihad’, bukan berarti dua istilah itu harus hilang dari kurikulum umat Islam. “Gebyah uyah” itu namanya. Dalam istilah psikologi disebut sebagai tindakan ‘jumping out”. Siapa yang salah, siapa yang kena marah. Gak nyambung.

Saya mau buat analogi. Ada pohon kelapa. Ternyata di salah satu pohon kelapa itu ada ular yang menggigit anak pejabat sampai mampus. Modar maksudnya. Apakah semua pohon kelapa lalu harus ditebang dan dibakar karena dianggap menjadi tempat persinggahan ular berbisa? Ya konyol itu namanya.

Ucapan, sikap dan tindakan radikal itu pasti ada. Di agama, ideologi, etnis dan kelompok manapun terkadang lahir oknum radikalis. Pemicunya macam-macam. Salah satunya adalah ketidakadilan. Tapi, tak bisa digeneralisir menjadi dosa agama, ormas, etnis dan kelompok tertentu.

Karena itu, tak semestinya ada narasi dan kebijakan yang menyudutkan satu agama atau kelompok tertentu. Apalagi menuduhnya dengan istilah radikalisme. Tuduhan semacam ini justru bisa dianggap bagian dari radikalisme itu sendiri.

Mengkafirkan orang yang tak memenuhi syarat sebagai kafir, itu kafir. Begitu pula menuduh radikal pada pihak atau kelompok yang tidak memenuhi syarat radikal, itu juga tindakan radikal.

Jadi, tidak hanya rakyat yang berpotensi terpapar radikalisme, tapi pemerintah juga bisa terpapar virus radikalisme. Kebijakan semena-mena, tindakan hukum seenaknya tanpa memperhatikan aspek keadilan, kesewenang-wenangan, itu juga bagian dari tindakan radikal.

So, kita semua sepakat menolak segala bentuk radikalisme, siapapun pelakunya. Apakah rakyat atau penguasa, radikalisme tak boleh berkembang biak di negeri damai bernama Indonesia. Jangan sampai Indonesia menjadi tempat yang subur untuk konflik antar para kaum radikalis karena penguasa ikut ambil bagian di dalamnya. Stop!

Bantah Terima Dana dari Cina, Robikin: NU Tidak Bisa Didikte Siapapun

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) angkat suara soal tuduhan adanya aliran dana dari Cina untuk membungkam ormas-ormas Islam di Indonesia. The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa Cina menggelontorkan bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam agar tidak mempersoalkan penindasan terhadap Muslim Uighur 2018 lalu.

“Soal adanya dana yang mengalir ke NU, saya sampaikan bahwa tidak ada dana itu dan NU tidak bisa didikte dan dikendalikan oleh siapa pun. Termasuk Cina,” kata Ketua Harian PBNU, Robikin Emhas melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (14/12/2019).

Lebih jauh, dia menjelaskan, isu Uighur mencuat usai sejumlah organisasi HAM internasional merilis laporan yang menuding Cina menahan satu juta Uighur di kamp penahanan layaknya kamp konsentrasi di Xinjiang. Beijing bahkan disebut membiayai puluhan tokoh seperti petinggi NU dan Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, dan sejumlah wartawan Indonesia untuk berkunjung ke Xinjiang.

Laporan WSJ dinilai janggal dari perbedaan pendapat para tokoh senior NU dan Muhammadiyah soal dugaan persekusi Uighur sebelum dan setelah kunjungan ke Xinjiang. Namun, Robikin mengatakan, data yang diterima NU bahwa kamp-kamp di Uighur itu merupakan kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan masyarakat Uighur.

“Kamp itu justru dibuat untuk menjauhkan mereka (warga Uighur) dari ekstremisme dan radikalisme yang tercipta di Xinjiang. Tidak ingin warganya terpengaruh paham itu, Cina mengatasinya dengan melatih warga dengan skill di kamp vokasi tersebut,” ujarnya.

The Wall Street Journal (TWSJ) melaporkan dengan judul: How Cina Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps hari Rabu (11/12). Dilaporkan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah, organisasi Muslim terbesar kedua Indonesia, mengeluarkan surat terbuka pada Desember 2018 yang mencatat laporan-laporan kekerasan terhadap komunitas Uighur yang lemah dan tidak bersalah, yang kebanyakan Muslim, dan mendesak pemerintah Beijing untuk memberi penjelasan.

Tidak lama, Beijing mulai bertindak dengan kampanye yang disetujui bersama untuk meyakinkan para jurnalis dan otoritas agama bahwa kamp pendidikan ulang di wilayah Xinjiang di Cina barat laut adalah upaya yang bermaksud baik untuk menyediakan pelatihan dan melawan ekstrimisme.

Lebih dari 20 orang dari kalangan pemimpin agama Indonesia dibawa ke Xinjiang dan mengunjungi fasilitas-fasilitas pendidikan. Acara ini disertai pula dengan tur bagi para jurnalis dan akademisi.

Elevan Yusmanto Akan Bawa KAMMI Bela Umat dan Rajut Kebhinekaan

MALANG (Jurnalislam.com) – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar hajatan Muktamar di Malang yang merupakan tempat KAMMI pertama dideklarasikan. Selain membahas arah gerak KAMMI ke depan, Muktamar kali ini juga akan menentukan nahkoda baru memimpin Pengurus Pusat KAMMI.

Mantan Ketua Pengurus Wilayah KAMMI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Elevan Yusmanto mantap mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PP KAMMI membawa narasi mempersatukan antara pembelaan terhadap umat dan merajut kebhinekaan NKRI.

“Selama ini, banyak yang mempertentangkan antara perjuangan Islam dalam membela umat dengan menjaga kebhinekaan, KAMMI harus hadir untuk meluruskan bahwa dua hal itu merupakan satu kesatuan,” tegas Elevan dalam keterangan pers yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Sabtu (14/12/2019).

Menurut Elevan, KAMMI yang merupakan anak kandung reformasi yang lahir dari aspirasi perjuangan umat Islam tidak boleh bergeser dari garis juang pembelaan terhadap umat.

Dalam kondisi hari ini, Elevan menyebut umat harus dibela agar bisa berdiri tegak memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa.

“Kalau kita lihat dari mayoritas mereka yang ada di bawah garis kemiskinan itu adalah umat Islam, petani yang menderita akibat impor itu umat Islam, mereka yang diutus semena-mena itu umat Islam, kami harus hadir dan tak boleh berpaling sedikitpun dalam membela mereka,” tandas alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Elevan berharap dengan garis pembelaan KAMMI yang jelas dan tegas terhadap umat, dapat mengangkat mereka yang lemah dan miskin menjadi berdaya sekaligus di saat yang sama ikut menjayakan bangsa.

Guna mencapai tujuan tersebut, Elevan mengaku akan menguatkan basis kaderisasi KAMMI dari Sabang sampai Merauke. Selain itu ia akan menautkan antara kajian keislaman dengan diskursus intelektual agar dapat menjadi solusi bagi ragam persoalan kebangsaan.

Tak hanya itu, Elevan juga akan mengakselerasi lokus-lokus kepakaran yang mulai bersemi di tubuh KAMMI dengan banyaknya kader dan alumni yang telah menjadi pakar dan profesional di bidangnya.

“Bismillah, kader KAMMI sebagai kader umat harus mampu menautkan kepakaran mereka dengan ajaran Islam, agar bisa jadi solusi mewujudkan Indonesia sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” demikian Elevan.

Mesut Ozil Serukan Dunia Islam Bantu Muslim Turkistan Timur

LONDON (Jurnalislam.com) – Bintang sepakbola Mesut Ozil belum lama ini memposting sebuah pernyataan tentang dukungannya kepada kaum muslimin di Turkistan Timur. Melalui akun Instagramnya, Ozil menuliskan keprihatinannya terhadap kondisi kaum Muslimin di Turkistan Timur dalam bahasa Turki yang diberi judul “Oh Turkistan Timur”.

Berikut curahan hati mantan gelandang timnas Jerman dan Real Madrid itu,

O East Turkestan

The bleeding of wound of the ummah.
The community of fighters who resist the persecution.
The glorious believers who are fighting along against those who try to forcibly take them away from Islam.
Qur’ans are burned, mosques are closed, madrasa are banned, religious scholars are killed one by one.

The brothers are forced into the camp.
Chinese men are settled in their families instead of them.
The sisters are forced to marry chinese men.

Despite all this, the ummah of prophet Muhammad is silent.
Do don’t object/say anything. Muslims are not supported.
Don’t they know that consenting to persecution is persecution?
How nicely Hadrat Ali said: “If you cannot prevent persecution, make it known publicity!”

While these event have been on the agenda even in the Western media and states for months and weeks, where are the muslim countries and their media.

Don’t they know that staying neutral when persecution is carried out is despicable?
Don’t they know that what our brothers and sisters will remember about this sad/tough days years later is not the torture of the tyrant, but the silence of us, their Muslim brother?

O Allah, help our brothers and sisters in East Turkestan.

Absolutely Allah is the best of planners

Mesut Ozil

https://www.instagram.com/p/B6AnAdhiWLQ/

Terjemahan bahasa Indonesia:

Darah dari umat yang terluka.
Kelompok pejuang yang menentang penganiayaan.
Orang-orang beriman yang mulia yang senantiasa melawan mereka yang mencoba mengambil paksa dari Islam.
Al-Qur’an dibakar, masjid ditutup, madrasah dilarang, ulama dibunuh satu per satu.

Saudara-saudara kita dipaksa masuk ke kamp.
Orang-orang Cina menetap dalam keluarga yang bukan keluarga mereka.
Saudari-saduari kita dipaksa menikahi pria Cina.

Namun terlepas dari semua ini, umat Nabi Muhammad diam.
Tidak keberatan dan mengatakan apa pun.
Umat Islam tidak mendukung.
Tidakkah mereka tahu bahwa membiarkan penindasan adalah penindasan?
Alangkah baiknya Hadrat Ali berkata: “Jika Anda tidak dapat mencegah penindasan, buatlah penindasan itu agar diketahui publik!”

Sementara peristiwa ini telah menjadi agenda utama di media Barat selama berbulan-bulan dan minggu, lalu di mana negara-negara muslim dan medianya.

Tahukah mereka bahwa bersikap netral terhadap penindasan adalah sebuah kehinaan?
Sadarkah mereka bahwa apa yang yang akan diingat oleh saudara-saudara kita di Turkistan bukanlah tentang hari-hari sedih atau kepedihan yang mereka alami selama bertahun-tahun kedepan, bukanlah penyiksaan oleh tiran, akan tetapi mereka akan mengingat diamnya kita yang mengaku sebagai saudara Muslim mereka?

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Turkestan Timur.

Hanya Allah sebaik-baiknya pembuat rencana.

Mesut Ozil

 

Pawai Bendera Tauhid di Solo Desak Aparat Adili Penista Agama

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Soloraya mengikuti pawai bendera Tauhid yang diadakan Divisi Advokasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) pada Jumat (13/12/2019).

Koordinator aksi, Ahmad Sigit mengatakan, aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap kurang tegasnya hukuman bagi penista agama. Ia menegaskan, selama para penista agama tidak diproses hukum, maka akan ada aksi serupa akan terus dilakukan umat Islam.

“Tujuan kami adakan pawai bendera tauhid ini adalah sebagai syiar agama, sekaligus mengingatkan penegak hukum untuk segera menindak penista agama yang masih bebas di luar sana,” katanya di Sriwedari Solo, Jum’at (13/12/2019).

Sementara itu, Humas DSKS Endro Sudarsono menambahkan pawai simpatik tersebut menyoroti maraknya penista agama dan menyerukan pesan perdamaian dari Solo.

“Tema yang kami serukan tentang perdamaian dan Indonesia damai tanpa penista agama,” terangnya.

Rute pawai simpatik mulai start dari Stadion Sriwedari-Gladak-Mangkunegaran-Pasar Nongko-Manahan-Kerten dan kemudian kembali ke Stadion Sriwedari.

DSKS Desak Gubernur Jateng Tindak Tegas PT Rum

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mendesak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Sukoharjo Wardoyo bertindak tegas terhadap PT RUM yang telah melakukan pencemaran limbah bau kepada masyarakat wilayah Nguter dan sekitarnya.

“Meminta kepada Bupati Sukoharjo dan Gubernur Jawa Tengah tegas terhadap PT RUM dengan menghentikan produksi PT RUM hanya demi dan untuk kepentingan warga sekitar yang telah mengeluhkan bau limbah PT RUM selama lebih kurang 2 tahun,” kata Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Endro Sudarsono kepada wartawwan, Kamis (12/12/2019).

Endro menyebut PT RUM telah melakukan pencemaran limbah bau yang berdampak pada tiga kabupaten di Jawa Tengah. Untuk itu, sudah seharusnya bila PT RUM menghentikan kegiatan produksinya.

“Agar PT RUM menghentikan produksi hingga tidak ada bau yang dikeluhkan warga sekitar, karena dampak Limbah telah menjangkau sebagian Sukoharjo, Wonogiri dan Karanganyar,” paparnya.

Endro menjelaskan, perlindungan terhadap kesehatan warga masyarakat serta perlindungan terhadap alam lingkungan harus lebih diprioritaskan daripada terhadap investasi dan karyawan

“Meminta kepada Kapolres Sukoharjo untuk melanjutkan proses hukum terhadap laporan warga terkait dengan limbah PT RUM,” katanya

“Kepada DPRD Kabupaten Sukoharjo harus bertanggung jawab dan mendukung penutupan PT RUM dengan mendesak Bupati Sukoharjo menghentikan sementara PT RUM,” pungkasnya.