10 Rekomendasi Multaqo Ulama dan Dai Internasional ke-V

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Multaqo (pertemuan) Ulama dan Dai V resmi ditutup pada Jumat (6/7/2018). Acara yang digelar sejak Selasa (3/6/2018) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat ini dihadiri oleh lebih dari 600 dai dan ulama dari Indonesia dan berbagai negara Asia Tenggara, Afrika dan Eropa.

Dalam penutupan tersebut, Sekjen Persatuan Dai dan Ulama se-Asia Tenggara, Ustadz Jeje Zainuddin membacakan 10 rekomendasi dari Multaqo tersebut.

1. Menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antar sesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain

2. Untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

3. Pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah SWT.

4. Meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

5. Memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan pondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yagn sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

6. Mendorong para ulama dan da’i untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

7. Mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar

8. Karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

9. Memperkuat kedudukan kota Jakarta sebagai pusat Peradaban berbasis Dakwah dan Pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

10. Membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Reporter: Gio

Suhu di Dieng Capai 10 Derajat Celcius, Embun Membeku

BANJARNEGARA (Jurnalislam.com) – Bersamaan dengan datangnya musim kemarau, temperatur udara di dataran tinggi Dieng memasuki masa yang paling dingin. Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoaji Prayoedhi, menyebutkan temperatur udara di Dieng pada malam hari bisa mencapai di bawah 10 derajat celcius.

”Temperatur ini, tentu sangat dingin. Untuk itu, wisatawan yang berkunjung ke Dieng pada masa-masa sekarang ini, mau tidak mau harus mengenakan jaket yang cukup tebal,” ujarnya, Jumat (6/7/2018).

Dia juga menyebutkan, selama ini masyarakat Dieng mengenai istilah bun upas yang artinya merujuk pada embun beracun. Eko menyebutkan, istilah tersebut digunakan masyarakat Dieng karena bun upas sering menyebabkan tanaman kentang banyak dibudidayakan warga setempat menjadi mati.

Bun upas itu, sebenarnya bukan berarti embunnya mengandung racun. Melainkan karena suhu udara yang sangat dingin, menyebab air embun yang menempel pada tanaman kentang membeku, sehingga mematikan tanaman kentang,” katanya.

Eko menyatakan, fenomena bun upas memang kerap terjadi pada musim kemarau di dataran tinggi Dieng. Namun bun upas biasanya tidak terjadi di seluruh kawasan, melain di beberapa titik (spot) perkebunan kentang. ”Areal yang biasanya terkena bun upas, biasanya lahan yang berada di dataran tinggi dan lembah dengan ketinggian di atas 2.000 meter mdpl,” katanya.

Berdasarkan pengamatan cuaca di Stasiun Geofisika Banjarnegara, pada sebagian wilayah Banjarnegara yang memiliki ketinggian 608 mdpl, tercatat suhu udara rata-rata dalam empat hari terakhir berkisar antara 20,7-23.4 derajat Celsius pada siang hari, 18,2-19,2 derajat Celsius pada malam hari.

”Dengan asumsi bahwa setiap kenaikan ketinggian 100 meter terjadi penurunan suhu 0,5 derajat Celsius, maka di daerah Dieng yang memiliki ketinggian sekitar 2.065 mdpl suhu udara rata-rata berkisar antara 13,7–16,4 derajat Celsius pada siang hari, dan 11,2 – 12,2 derajat Celsius pada malam hari.”

Puluhan Mahasiswa di Bandung Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Harga BBM

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (6/7/2018). Dengan dijaga ketat aparat kepolisian, mereka berorasi dan membawa poster dan spanduk bertuliskan keluhan, penderitaan dan kekesalan masyarakat terhadap pemerintah yang diam-diam menaikkan tarif BBM non subsidi.

“Jelas kami menolak kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM, sebab hal itu merupakan kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat,” kata Indra Lesmana selaku Ketua Gema Pembebasan Jawa Barat usai melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung sate.

Indra melanjutkan, menaikan BBM seharusnya bukan menjadi pilihan utama untuk menanggulangi naiknya minyak dunia, sebab Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya, terutama minyak.

“Adapun minyak dunia naik seharusnya menaikan BBM bukanlah pilihan utama sebab Indonesia merupakan negara kaya dengan sumberdaya alam yang melimpah,” kata Indra.

Seperti diketahui, per tanggal 1 juli lalu pemerintah menaikan harga BBM non subsidi sebesar Rp 600 hingga Rp 900 per liternya. kenaikan harga BBM tersebut tanpa diumumkan ke publik sehingga banyak rakyat yang tidak mengetahuinya.

Mahasiswa meminta agar pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM yang dinaikan pada tanggal 1 juli lalu sebab akan berdampak pada daya beli masyarakat.

“Menyerukan rezim Jokowi segera mencabut kebijakan harga BBM sebagai bukti penentangan terhadap,” pungkasnya.

Dalam aksinya para mahasiswa ini membawa sejumlah poster dan spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap kebijakan pemerintah menaikan harga BBM.

Aksi tersebut berjalan dengan damai dengan dikawal ketat oleh petugas kepolisian. Usai aksi para mahasiswa ini saling bersalaman dengan polisi sebagai bentuk bahwa mahasiswa dan aparat tidak bermusuhan.

Reporter: Saifal

Dulu Penentang Islam, Raja Afrika Ini Kini Menjadi Mualaf

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Seorang kepala suku dari Afrika menjadi pusat perhatian para peserta Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa yang digelar selama empat hari dari Selasa s/d Jum’at (3-6/7/2018), di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Thoyigbe Zola namanya. Dia merupakan Kepala Suku dari suatu wilayah di Benin, negara di Afrika Barat. Penampilannya boleh jadi yang paling mencolok dan ghorib.

Atribut serta pakaian yang melekat nampaknya belum pernah dikenakan oleh para ulama atau masyarakat dari negeri kaum Muslimin.

Tongkat kebesarannya itulah yang begitu tampak mencolok. Panjangnya hampir setinggi tubuhnya. Ketika berjalan, ujung tongkat itu seakan mencapit sekaligus menggigit bahunya karena terdapat patung macan mengaum tepat di ujung tongkat yang selalu menjadi pembicaraan para ustadz.

Kain sarung yang dia kenakan pun tampak mentereng dengan motif macan-macan. Ketika diwawancarai eksklusif bersama beberapa rekan wartawan, Zola menjelaskan, atribut dan pakaian yang dia kenakan itu merupakan simbol-simbol yang menandakannya seorang pemimpin suatu kaum.

“Tongkat yang menempel di pundak adalah bukti bahwa saya raja. Sedangkan tongkat panjang bercabang digunakan untuk memerintah dan penutup kepala dengan tiga pucuk adalah tanda kebesaran. Tidak ada satupun orang yang boleh memakai pakaian seperti ini kecuali saya,” ungkap Zola dengan bahasa Prancis, ketika diundang wawancara ke sebuah kamar hotel.

Keunikannya itu ternyata mengundang antusias dari para ustadz dan peserta yang hadir untuk sekedar berkenalan atau mengabadikan momen langka bertemu “raja dari Afrika”. Ustadz-ustadz yang telah mengantri mendapat giliran untuk berfoto dengannya. Hanya saja, ketika telah cukup bersabar melayani banyaknya ajakan berfoto dan berbincang-bincang, Zola tak kuasa menahan lelah.

“Maaf, saya betul-betul lelah,” ucap Zola menolak dengan halus ajakan seorang ustadz yang ingin berfoto dengannya.

Atribut, tongkat macan, dan gelar raja, merupakan “pemanis” dari kisah Zola yang kini telah berganti nama menjadi Harun Muhammad. Sebelum memasuki bulan Ramadhan lalu, Harun telah memeluk Islam setelah sebelumnya menjadi seorang penyembah berhala.

Syaikh Khalid al-Hamoudi, da’i sekaligus tokoh dermawan masyhur dari Arab Saudi menyaksikan kesaksian Harun ketika mengucap dua kalimat syahadat.

Dalam satu sesi acara, Syaikh Khalid meminta Harun menceritakan kisah hijrahnya kepada seluruh peserta yang sangat antusias mendengar cerita itu.

Melalui seorang penerjemah yang tak lain merupakan sosok da’i yang telah mendakwahkan Harun selama lebih dari 10 tahun, Syekh Abu Bakr dari Afrika, menyampaikan, Harun merasa sangat bahagia bisa berada di tengah kaum Muslimin dari berbagai dunia.

“Dia senang sekali dan tidak pernah membayangkan hal seperti ini. Dia yakin bahwa kebahagiaan ini hanya datang dari Allah. Dia juga berterima kasih kepada kaum Muslimin Indonesia karena menyambutnya dengan gembira. Juga kepada Syaikh Khalid yang menuntunnya memeluk Islam,” tutur Syekh Abu Bakr menerjemahkan perkataan Harun, melansir Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi JITU.

Sebelum menjadi mualaf, Harun merupakan tokoh berpengaruh di wilayahnya yang menentang keras ajaran Islam. Pandangannya itu dia dapati dari kabar-kabar serampangan yang mengaitkan ajaran Islam dengan kekerasan. Namun, Syekh Abu Bakr tak patah arang dan menjelaskan bahwa pandangan tersebut merupakan kesesatan yang sengaja ditujukan untuk merusak citra Islam.

Sejak itu, Harun semakin kuat memeluk Islam. Sekarang Harun menyadari, banyak manusia yang memfitnah Islam. Setelah menjadi Muslim, Harun langsung mendapati, fitnah tersebut ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan ketika dia justru mendapat sambutan yang hangat dari para masyekh dan ratusan da’i dari berbagai negara yang menghadiri acara tersebut.

Di akhir ceritanya yang berulang kali memicu hadirin bertakbir, Harun berjanji untuk terus berupaya mendakwahkan Islam kepada kaumnya di Benin. Pengaruhnya sangat diharapkan untuk penyebaran Islam di wilayah-wilayah Afrika yang belum terjangkau kebesaran dan kelembutan hati orang semacam Syekh Khalid dan ketangguhan dakwah dari Syekh Abu Bakr.

Reporter: Syahrain | Islamic News Agency (INA)

LUIS Desak Aparat Tangkap Pembuat Berita Fitnah Aktivis Islam Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Endro Sudarsono mendatangi Polresta Surakarta, Kamis (5/72018) pagi, guna memberikan klarifikasi terkait kasus informasi palsu yang memfitnah dirinya dan sejumlah aktivis Islam di Surakarta beberapa waktu yang lalu.

Kepada penyidik Penyidik Pengamanan Internal (Paminal ) Aiptu Andi Tamtomo di ruang Paminal Sie Propam, Mapolresta Surakarta Endro Sudarsono meminta aparat segera menangkap pembuat informasi palsu tersebut.

“Saya minta provost Polresta Surakarta mengusut informasi palsu, karena broadcast tersebut tidak dilengkapi bukti foto, audio maupun videonya. Takmir Masjid MUI Semanggi Joko Samiyono menyampaikan bahwa Senin, 28 Mei 2018 tidak ada rapat di masjid MUI,” ungkapnya kepada Jurnalislam.com

Ia juga menerangkan bahwa pelaku penyebar informasi palsu yakni Babinkamtibnas Sangkrah Hendriawan juga akan dimintai keterangan oleh pihak aparat. Meski Hendriawan sudah meminta maaf, menurutnya ia masih melakukan 2 pelanggaran hingga kasus ini harus tetap diproses secara hukum.

“Babinkamtibnasnya rencana besok mau dipanggil, jadi ada 2 yakni pelanggaran kode etik dan tindak pidana umum,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya mendesak aparat kepolisian untuk segera menangkap pembuat informasi palsu yang isinya mengadu domba umat Islam Soloraya dan pihak aparat TNI tersebut.

“Kita berharap dari Polresta Surakarta bisa menindaklanjuti merespon apa yang menjadi keberatan kami yaitu siapa yang menulis karena yang mengupload sudah mengaku dan minta maaf, namun tidak menjelaskan siapa yang nenulis dengan asumsi dapat dari masyarakat,” tandasnya.

Pegadaian dan MUI Percepat Pengembangan Ekonomi Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Potensi ekonomi syariah dinilai masih sangat besar untuk bisa dimanfaatkan, termasuk oleh pemain di industri gadai. Oleh karena itu, PT Pegadaian makin gencar mensosialisasikan soal ekonomi syariah ini.

Direktur Utama Pegadaian Sunarso menilai pengembangan ekonomi dan keuangan syariah perlu disegerakan. Pasalnya, produk keuangan syariah secara nyata dapat meningkatkan kesejahteraan, tidak hanya umat muslim, tetapi juga seluruh kalangan masyarakat.

Pengembangan produk keuangan syariah dan tren industri halal di beberapa kota pun mampu menggerakkan roda ekonomi, meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja, termasuk memberdayakan UMKM. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk itu Pegadaian segera mengkonversi beberapa outletnya menjadi syariah untuk menjawab kebutuhan masyatakat, utamanya di Jawa Timur,” kata Sunarso dalam keterangan tertulis, Minggu (1/7/2018).

Untuk meningkatkan sosialisasi ini, Pegadaian bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia(MUI) menggelar Halaqah Pengasuh Pesantren dengan menggandeng Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3i) yang mengambil tema “Urgensi Keuangan Syariah untuk Pemberdayaan Ekonomi Ummat” di Jombang, Jawa Timur.

Menurut Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, pengembangan ekonomi syariah itu dapat mendorong percepatan pengembangan sektor keuangan syariah. Selama ini, pemerintah dan stakeholder lebih fokus mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah, tetapi pemberdayaan ekonomi syariah belum banyak disentuh.

Karena itu pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai pihak supaya masyarakat makin paham dengan keberadaan produk-produk syariah, yang bisa dijadikan sumber pembiayaan, menggantikan pembiayaan konvensional dan pemberdayaan ekonomi umat.

“Sebagai negara dengan mayoritas muslim, kondisi Indonesia sangat ketinggalan dalam penyerapan dana dari keuangan syariah. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat meningkat lebih besar lagi,” kata Kyai Ma’ruf. (kontan.co.id)

Ulama dan Tokoh Soloraya Deklarasikan Relawan #2019GantiPresiden

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejumlah Tokoh dan ulama se-Soloraya mendeklarasikan relawan #2019GantiPresiden dalam acara ‘Silaturahmi dan Sarasehan Takmir Masjid dan Taklim Ummahat se-Soloraya’ di Gedung Ar-Rahman Pajang, Solo, Ahad, (1/7/2018) malam.

Dalam deklarasi yang dihadiri sekitar ribuan umat Islam itu juga nampak hadir para inisiator gerakan #2019GantiPresiden yakni Mardani Ali Sera, Neno Warisman dan pencipta lagu #2019GantiPresiden John Sang Alang.

“Kami umat Islam Surakarta disertai tim relawan Jakarta mendeklarasikan diri sebagai relawan untuk menyukseskan tahun 2019 Ganti Presiden Yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, menempatkan syariat Islam, mengantarkan Indonesia sebagai negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr,” kata Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Dr. Muinudinillah Basri yang diikuti para peserta.

Sementara itu, Mardani Ali Sera mengatakan, selain di Solo pihaknya juga akan mendeklarasikan relawan #2019GantiPresiden di beberapa kota lainnya.

“Nanti 22 Juli di Sumatera utara, 28 Juli di Sukabumi dan nanti terus muter, insya Allah,” kata Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini kepada Jurnalislam.com

Selain deklarasi, relawan #2019GantiPresiden, dalam kegiatan itu juga disampaikan imbauan untuk menjadikan menjadikan masjid sebagai tempat untuk menyelesaikan permasalahan umat dan bangsa Indonesia.

Berkaos #2019GantiPresiden, Ribuan Warga Solo Ikuti Jalan Sehat

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan masyarakat Soloraya mengiktui jalan sehat dengan mengenakan kaos bertulislan #2019GantiPresiden di Kotabarat, Solo, Ahad (1/7/2018) pagi.

Acara bertajuk Merajut Ukhuwah, Menyongsong Kepemimpinan Ummat ini diinsiasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) bersama elemen masyarakat Soloraya lainnya. Hadir dalam acara tersebut relawan Neno Warisman dan penyanyi dan pencipta lagu #2019GantiPresiden, Sang Alang.

Dalam sambutannya, Neno Warisman menegaskan gerakan #2019GantiPresiden bukan gerakan politik akan tetapi gerakan sosial untuk mendorong masyarakat lebih mencintai negeri ini.

“Masyarakat harus mengerti akan negeri ini, masyarakat harus tahu, dia harus memilih pemimpin yang mencintai negeri, yang mau melakukan hal yang terbaik, dan solusinya adalah ganti presiden 2019,” tegasnya di hadapan ribuan peserta Jalan Sehat.

Sementara, Humas DSKS Endro Sudarsono mengatakan gerakan #2019GantiPresiden ini murni gerakan moral untuk mengedukasi masyarakat tentang kondisi bangsa Indonesia saat ini.

“Di 2019 kami mencoba mengedukasi masyarakat dengan adanya gerakan ganti presiden dengan sebuah alasan bahwa masyarakat kecewa terhadap situasi saat ini atas kondisi masyarakat baik ekomomi, keadilan, dan stabilitas negara. Makanya kami menginginkan ganti presiden lebih baik,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan deklarasi Relawan Nasional 2019 Ganti Presiden. Para relawan ini akan mengawal berjalannya proses pergantian presiden secara konstitusional pada tahun 2019 nanti.

Reporter: Ridho Asfari

DSKS Desak Kapolri Cabut SP3 Sukmawati

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Dr. Muinudinillah Basri mendesak Presiden dan Kapolri untuk melanjutkan mencabut Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Sukmawati Soekarnoputri. Jika kasus tersebut dihentikan, ia khawatir penistaan terhadap agama Islam akan terus terulang.

“Dikhawatirkan kasus penistaan agama semakin meningkat jika kasus seperti ini tidak diproses,” kata Ustaz Muin kepada Jurnalislam.com, Ahad (1/7/2018)

Ustaz Muin menilai, kasus penistaan agama yang dilakukan Soekmawati dalam puisinya merupakan kasus yang serius. Terbukti sudah 30 ormas telah melaporkan Soekmawati.

“Untuk itu DSKS mendesak presiden dan Kapolri untuk tidak pandang bulu dalam proses hukum Sukmawati Soekarno Putri,Jelasnya kepada Jurnalislam pada Ju’mat,(22/6/2018) di Solo.

DSKS menegaskan, akan melakukan praperadilan jika kasus Sukmawati dihentikan. “Jika ternyata SP3 Sukmawati Soekarno putri tidak di cabut maka DSKS akan pertimbangkan langkah praperadilan,” tegasnya.

Kasus dugaan penistaan agama oleh putri proklamator Indonesia itu dihentikan 17 Juni lalu. Melalui Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal, polisi beralasan tidak menemukan perbuatan pidana dari puisi Sukmawati.

Kasus ini berawal saat Sukmawati membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ karyanya sendiri, di ajang Indonesia Fashion Week 2018 di JCC. Puisi yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar dipersoalkan hingga berujung laporan polisi.

Reporter: Ridho Asfari

Sepakbola, Politik, dan Sujud Sukur

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Penikmat Sepakbola

JURNALISLAM.COM – Segera setelah mencetak gol, ia menyilangkan kedua tangan dengan kedua ibu jari saling mengunci. Keduanya seolah membentuk simbol elang berkepala ganda, elang pada bendera Albania. (Agung Putranto Wibowo: 2018) Selebrasi kemenangan Swiss atas Serbia dalam perhelatan Piala Dunia di Rusia tersebut berbuntut panjang. Pemain Swiss, Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka dianggap menyeret politik ke dalam sepakbola.

Menanggapi aksi kedua pemainnya, pelatih Swiss, Vladimir Petkovic berkata, ” “Kamu tidak seharusnya mencampur politik dengan sepakbola. Kamu seharusnya selalu memperlihatkan rasa hormat. Atmosfer pertandingan tadi sungguh luar biasa dan jadi pengalaman positif. Sepakbola memang seharusnya seperti itu,” seperti dikutip Pandit Football dari ESPN.

Namun benarkah sepakbola tak bisa dicampurkan dengan politik? Meski terkesan idealis, nyatanya sepakbola sejak lama telah bercampur baur dengan politik. Belum hilang dari ingatan kita ketika para suporter Al-Ahli terlibat kericuhan di Stadion Port Said pada 1 Februari 2012. Pada akhir pertandingan Al-Masry melawan Al-Ahli, suporter Al-Ahli kemudian dipersekusi. Orang-orang membawa pisau di stadion, memburu para suporter Al-Ahli. Alhasil puluhan supoter Al-Ahli tewas.

Kericuhan ini bukan kericuhan biasa, di balik insiden tersebut tersimpan bara politik. Para pendukung Hosni Mubarak dituding menjadi dalang pembantaian tersebut. Penyebabnya karena para ultras Al-Ahli menjadi pasukan terdepan penyokong kuat demonstrasi terhadap Hosni Mobarak, khususnya di Tahrir Square. Para ultras Al-Ahli menjadi garda terdepan dalam demonstrasi tersebut.

Suporter klub sepakbola Al-Ahly, penentang utama mantan presiden Mesir, Hosni Mubarak.

Suporter Al-Ahli menurut Dag Tuastad dalam From Football Riot to Revolution. The Political Role of Football in The Arab World,sudah lama dikenal sebagai pendukung berbasis kaum marjinal secara ekonomi. Mereka adalah para penentang rezim Hosni Mubarak. (Dag Tuastad : 2013)

Bukan hanya sekali itu para suporter Al-Ahli terlibat aksi politik. Pada 2009, ketika berhadapan dengan Zamalek, suporter Al-Ahli membawa spanduk dukungan untuk Palestina. Pemain bintang Al-Ahli, Mohammad Aboutrika, membuka seragamnya dan menunjukkan kaosnya yang bersmpati pada Gaza. Pesan tersebut ditunjukkan pada siaran langsung pertandingan. (Dag Tuastad : 2013) Menyampaikan pesan-pesan politis dalam rezim diktator Hosni Mobarak kala itu menjadi sangat berbahaya.

Bukan hanya suporter atau pemain yang melibatkan sepakbola ke pusaran politik. Tetapi bisa jadi lebih keji jika para penguasa menyeret-nyeret sepak bola tanpa ampun ke pusaran politik. Di rezim komunis Soviet, sepakbola amat melekat dengan politik. Bagi rezim komunis, olahraga adalah latihan pra-militer untuk meraih kebugaran nasional yang relatif tinggi dan faktor pertahanan. Klub sepak bola CSKA Moskow adalah klub tertua yang menjadi tim resmi tentara merah Soviet. Sedangkan Dinamo Moscow muncul dari bagian kementerian dalam negeri dan dinas rahasia yang terkenal kejam, Cheka. (Deepti Patwardhan: 2018)

Bagi diktator komunis macam Stalin sepak bola tak terlalu menarik baginya. Namun ketika dalam Piala Dunia 1952 Soviet kalah 2-5 dari Yugoslavia, hal ini mencoreng muka Stalin, membuatnya murka dan membubarkan CSKA Moscow. Bukan apa-apa, Josep Broz Tito, pemimpin Yugoslavia, di mata Stalin adalah pengkhianat komunisme. Kekalahan ini pasti membuatnya malu. (Deepti Patwardhan: 2018)

Joseph Stalin bersama pemain Dynamo Kyiv

Rezim komunis Soviet juga memakai sepakbola sebagai jalan untuk berdiplomasi dengan Jerman Barat. Pertandingan persahabatan Soviet melawan Jerman Barat digelar. Pertandingan di Jerman Barat tersebut ditonton oleh 80 ribu orang menjadi pembuka jalan diplomasi politik yang berujung pembebasan sepuluh ribu tahanan Jerman. (Deepti Patwardhan: 2018)

Di Italia, rezim fasis menunggangi sepak bola tanpa ampun. Benito Mussolini memaksa klub memakai nama lokal meninggalkan nama-nama berbau asing. Football Club Internazionale Milano atau yang sekarang dikenal dengan nama Inter Milan, diganti namanya dengan Ambrosiana. Kata ‘internazionale’ disingkirkan karena berbau kiri. Asal tahu saja, Inter Milan muncul dari rahim AC Milan, setelah mereka menolak kebijakan yang memaksa hanya memakai pemain Italia saja. (Christos Kassimeris: 2011)

Tim Nasional Italia tak luput diaduk-aduk oleh rezim fasis. Menurut Christos Kassimeris dalam Fascism, Separatism and The Ultras: Discrimination in Italian Football (2011) Pada Piala Dunia 1938, rezim fasis Mussolini mengeluarkan poster tim nasional Italia dengan figur Hercules melakukan salut ala fasis dengan bola di kakinya. Mussolini memang menggemari sepakbola. Pertandingan persahabatan dijadikan alat propaganda ekspansi fasisme. Hal itu dilakukan dengan bertanding di wilayah-wilayah bekas kerajaan Austria-Hongaria yang menjadi ketertarikan geopolitik rezim fasis italia. Mereka Sehari sebelum bertanding di Piala Dunia, tim nasional Italia diberi pesan oleh Mussolini: “Menang atau Mati.” (Christos Kassimeris: 2011)

Saat berhadapan dengan Perancis di perempat final Piala Dunia 1938, para pemain Italia melakukan salam ala fasis sebelum bertanding. Seragam yang mereka kenakan pun warna hitam, Maglia nera, warna kebesaran rezim. Seragam hitam adalah pertama dan terakhir kalinya mereka kenakan. Aksi pemain italia ini disambut dengan caci maki penonton. (Evans Edgar Simon: 2018) Wajar, karena Perancis adalah negara pelarian para penolak fasisme di Italia. Meski demikian Mussolini pasti tersenyum puas. Italia menang melawan Perancis dan terus melaju hingga menjadi juara.

Pemain Timnas Italia melakukan salam fasis dalam pertandingan Piala Dunia 1938 melawan Perancis.

Ketika pada 13 Mei 1990, Yugoslavia diambang perpecahan, karena Slovenia dan Kroasia yang hendak memerdekakan diri, satu pertandingan sepak bola digelar di Zagreb, Yugoslavia (kemudian Kroasia). Dynamo Zagreb melawan Red Star Belgrade. Dynamo mewakili etnik kroasia, dan Red Star mewakili etnis serbia. Suasana sudah panas di dalam dan di luar stadion. Di dalam para suporter Red Star sudah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seraya mengejek suporter Dynamo Zagreb. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000)

Kerusuhan akhirnya tercipta. Pertandingan dibatalkan dan polisi memasuki lapangan. Satu momen penting terjadi ketika Kapten Dynamo Zagreb, Zvonimir Boban menendang dan memukul polisi karena dianggap tidak melindungi Bad Blue Boys, suporter Dynamo. Sejak itu Boban, yang nantinya menjadi bintang AC Milan, dianggap pahlawan Kroasia. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000)

Pihak serbia menuding Bad Blue Boys sengaja menciptakan kerusuhan dan terkait dengan organisasi paramiliter. Di pihak Serbia, satu hal yang pasti, saat pertandingan berlangsung, di samping pelatih Red Star, terdapat Zeljko Raznatovic alias Arkan. (Allen L. Sack & Zeljan Suster: 2000) Arkan adalah seorang pemimpin paramiliter brutal saat perang Serbia – Kroasia, membantai muslim Bosnia dan Kosovo. Ia di dakwa melakukan kejahatan kemanusiaan kepada Muslim Bosnia oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia.

Sepakbola yang membakar nasionalisme atau nasionalisme yang membakar sepakbola? Sulit dijawab. Satu hal yang pasti, sepakbola mampu menyatukan berbagai identitas. Tetapi di bawah bendera nasionalisme pula, ia mampu menyekat-nyekat manusia. Nasionalisme adalah garis pembatas diantara kami dan mereka. Lagu-lagu kebangsaan, seragam tim, satu kumpulan manusia dengan latar belakang yang sama mampu membakar semangat identitas tertentu.

Ørnuff Seippel dalam Sports and Nationalism in a Globalized World (2017) menyebutkan bahwa olahraga (termasuk sepakbola) menjadi simbol sentral untuk nasionalisme masyarakat modern, dengan memproduksi dan mungkin yang paling penting, mengaktifkan kisah tentang siapa kita sebagai satu anggota dari sebuah negara. Kebanggaan nasional yang dihasilkan dari olah raga adalah satu cara untuk mengonseptualisasikan proses tersebut.

Batas-batas negara bangsa yang mulai cair oleh globalisasi dan “mendatarnya dunia” bisa jadi tumbuh kembali lewat “nasionalisme” sepakbola. Hal ini bisa terlihat misalnya di Eropa. Bangkitnya kaum sayap kanan juga hadir lewat nasionalisme-rasialisme dan Islamophobia di sepakbola. Menariknya di tengah maraknya rasialisme dan Islamophobia di Eropa muncul pemain-pemain muslim di klub-klub Eropa.

Yaya Toure, Sadio Mane, dan khususnya Mohammad Salah menjadi pemain-pemain Muslim yang bukan saja bermain apik tetapi juga menonjolkan identitasnya sebagai Muslim. Selebrasi sujud syukur di tengah liga Eropa yang dihinggapi islamophobia menjadi satu “aksi” yang menonjol dan menarik. “Pertunjukan di muka publik akan sebuah keyakinan agama dari seorang bintang sepak bola kelahiran Mesir ini bukanlah hal kecil di Inggris, di mana kebijakan imigrasi yang bermusuhan bertepatan dengan meningkatnya Islamophobia,” demikian menurut Yasmin Serhan dalam artikelnya di The Atlantic (2018)

Yasmin Serhan benar. Islamophobia justru berkembang pesat di Utara Inggris. Tempat Liverpool FC, klub Mohammad Salah saat ini. Bagi Fans Liverpool mereka bukan saja menerima aksi sujud Salah, tetapi bahkan mendukungnya. Fans The Reds menyanyikan lirik seperti ini untuk Salah;

Mo Salah-la-la-la-la-la-la-la-la-la / If he’s good enough for you, he’s good enough for me / If he scores another few, then I’ll be Muslim too / If he’s good enough for you, he’s good enough for me / Sitting in the mosque, that’s where I wanna be.”(Yasmin Serhan: 2018)

Selebrasi sujud sukur pemain Liverpool Mohamed Salah dan Sadio Mane

Nyanyian dukungan itu memang satu hal yang luar biasa untuk wilayah yang sedang terjangkit virus Islamophobia. Namun apakah seorang Salah dapat membalikkan keadaan di sana? Apakah Islamphobia menjadi lenyap? Atau jangan-jangan akan tumbuh persoalan baru?

Yasmi Serhan dalam The Power of Mo Salah’s Goal-Scoring Ritual mengutip pendapat yang menyatakan satu kekhawatiran: Bisa jadi orang akan menganggap Salah adalah ‘Muslim yang berbeda.’ Salah adalah pengecualian.

Kekhawatiran tersebut bisa saja terjadi. Namun dengan semakin banyaknya pesepakbola Muslim di benua Eropa akan semakin mudah mengikis ‘pengecualian-pengecualian’ tadi. Kehadiran mereka menjadi cermin bukan saja permainan yang memukau tetapi juga akhlak yang memikat.