SEMARANG (jurnalislam.com)– Penantian panjang Aceh di cabang Fahmil Qur’an putri akhirnya berakhir di Semarang. Tiga santriwati yang memperkuat Kafilah Aceh tampil sebagai juara pertama Fahmil Qur’an putri pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. Bagi Aceh, kemenangan itu istimewa. Sejak Fahmil Qur’an masuk dalam cabang resmi MTQ Nasional pada 1981, regu putri Aceh belum pernah meraih posisi tertinggi.
Di sektor putra, sejarah lain juga tercipta. Kafilah Sumatera Selatan berhasil merebut medali emas setelah pada dua MTQ Nasional sebelumnya harus puas sebagai runner-up.
Dua kemenangan itu lahir dari pola pembinaan yang berbeda. Aceh mengandalkan kekompakan tiga santriwati yang bertahun-tahun tumbuh dalam satu pesantren. Sumatera Selatan menghimpun talenta dari sejumlah lembaga pendidikan, kemudian menempa mereka melalui pemusatan latihan panjang.
Tiga Santriwati dari Satu Dayah
Regu putri Aceh diperkuat Azka Dara Maulidya, Kayyisa Farras, dan Izza Mushviya. Ketiganya berasal dari Dayah Insan Qurani, Aneuk Batee, Aceh Besar.
Mereka bukan tim yang baru dipertemukan menjelang MTQ Nasional. Ketiganya telah belajar dan tinggal di lingkungan pendidikan yang sama sejak jenjang Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah.
Kebersamaan itu terlihat saat mereka tampil di arena Fahmil Qur’an di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Pembagian peran berjalan cair. Ketika salah seorang belum menemukan jawaban, anggota lain segera melengkapi.
Di bawah arahan pelatih Muhammad Riza Nurdin, mereka mempersiapkan beragam materi, mulai hafalan dan sambung ayat, terjemahan tematik, asbabun nuzul, fikih mawaris, hingga wawasan keislaman dan kebangsaan.
Persiapan menuju MTQ Nasional dilakukan sejak Mei 2026. Dalam setiap bulan, tim menjalani sekitar delapan hingga sepuluh hari latihan khusus untuk memperdalam materi dan melakukan simulasi pertandingan.
Ujian berat datang pada semifinal. Aceh berhadapan dengan Jawa Tengah, yang tampil di depan publik sendiri. Kedua tim mengakhiri babak tersebut dengan nilai sama, 1.400 poin. Aceh dan Jawa Tengah kemudian sama-sama berhak melaju ke final bersama Kalimantan Timur dan Jawa Timur.
Pada final, Jumat, 18 September 2026, Aceh menempati Meja A.
Regu Aceh tampil stabil sejak soal paket hingga sesi rebutan. Mereka akhirnya mengumpulkan 1.505 poin, unggul 215 poin atas Kalimantan Timur yang berada di posisi kedua dengan 1.290 poin.
Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan 1.170 poin, sedangkan Jawa Timur berada di posisi harapan pertama dengan 835 poin.
Kemenangan tersebut menutup penantian panjang Aceh sekaligus menjadi momen emosional bagi ketiga peserta.
Bagi Azka Dara Maulidya, MTQ Nasional 2026 bahkan menjadi penampilan pertama sekaligus terakhirnya pada ajang tersebut karena faktor batas usia peserta. Kesempatan yang hanya datang sekali itu berakhir dengan gelar juara nasional.
Di Aceh Besar, keberhasilan mereka juga mendapat dukungan dari keluarga besar Dayah Insan Qurani. Para santri mengikuti perjuangan senior mereka dan memberikan dukungan dari pesantren.
Di Semarang, tangis haru pecah setelah kemenangan dipastikan. Tiga santriwati itu bersujud dan berpelukan setelah perjalanan latihan berbulan-bulan berakhir dengan gelar yang selama puluhan tahun belum pernah diraih Aceh di sektor putri.
Sumsel Akhiri Dua Kali Runner-up
Beberapa jam setelah kemenangan Aceh, final Fahmil Qur’an putra menghadirkan persaingan yang lebih ketat.
Sumatera Selatan berhadapan dengan Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Selisih angka di antara tiga tim teratas sangat tipis hingga akhir pertandingan.
Bagi Sumsel, final di Semarang membawa beban tersendiri.
Pada MTQ Nasional XXIX tahun 2022 di Kalimantan Selatan, regu putra Sumsel menempati posisi kedua. Dua tahun kemudian pada MTQ Nasional XXX tahun 2024 di Kalimantan Timur, mereka kembali pulang dengan medali perak.

Semarang menjadi kesempatan ketiga untuk memutus rentetan tersebut. Persiapan dilakukan dalam waktu panjang. LPTQ Sumatera Selatan menjalankan pembinaan hampir setahun setelah MTQ tingkat provinsi. Latihan dilakukan secara daring dan dilanjutkan dengan karantina intensif menjelang keberangkatan ke Semarang.
Selama karantina, disiplin peserta dijaga ketat.
Ponsel peserta diserahkan kepada ofisial setiap pukul 21.00 WIB agar waktu istirahat tidak terganggu. Disiplin ibadah juga menjadi bagian dari keseharian mereka, termasuk salat Subuh berjamaah.
Namun persiapan panjang itu tidak membuat perjalanan di final berlangsung mulus.
Pada sesi rebutan, regu Sumsel beberapa kali kehilangan poin akibat jawaban yang dinyatakan keliru. Posisi mereka sempat tertinggal dari Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.
Di tengah tekanan itu, para peserta berusaha mengubah cara bermain. Mereka tidak lagi tergesa-gesa memberikan jawaban setelah menekan bel. Beberapa detik digunakan untuk memastikan jawaban di antara anggota tim sebelum disampaikan kepada dewan hakim.
Perlahan Sumsel mengejar.
Saat pertandingan berakhir, Sumatera Selatan mengumpulkan 1.335 poin dan keluar sebagai juara. Kalimantan Timur menyusul dengan 1.270 poin, sementara Jawa Tengah berada sangat dekat di posisi ketiga dengan 1.265 poin.
Sumatera Utara menempati posisi harapan pertama. Setelah dua kali menjadi runner-up, medali emas Fahmil Qur’an putra akhirnya dibawa pulang ke Sumatera Selatan.
Dua Cara Membentuk Tim Juara
Keberhasilan Aceh dan Sumatera Selatan memperlihatkan dua cara pembinaan yang berbeda.
Aceh membangun kekuatan dari satu lingkungan pendidikan. Tiga anggotanya tumbuh bersama di Dayah Insan Qurani sejak usia sekolah, tinggal dalam lingkungan yang sama, belajar bersama, kemudian berkompetisi sebagai satu regu.
Sumatera Selatan menempuh jalur berbeda. Peserta terbaik dari sejumlah lembaga dan pesantren dipertemukan, lalu dibentuk menjadi satu tim melalui pembinaan dan pemusatan latihan yang panjang.
Perbedaan itu tidak menghapus satu kesamaan penting, kedua tim tidak dibentuk secara instan menjelang pertandingan.
Fahmil Qur’an menuntut peserta menguasai bahan yang luas sekaligus mampu mengambil keputusan dalam hitungan detik. Hafalan saja tidak cukup. Peserta harus memahami soal, berkomunikasi dengan anggota tim, menjaga konsentrasi, dan menentukan kapan harus mengambil risiko menekan bel. Final di Semarang memperlihatkan itu dengan jelas.
Aceh datang dengan kekompakan tiga santriwati yang tumbuh dalam satu pesantren dan akhirnya mengakhiri penantian 45 tahun.
Sumatera Selatan datang membawa pengalaman dua kali menjadi runner-up, lalu menebusnya dengan emas pada kesempatan berikutnya.
Dari Auditorium UIN Walisongo Semarang, Aceh pulang membawa gelar Fahmil Qur’an putri pertamanya. Sumatera Selatan pulang dengan medali emas yang gagal mereka raih dalam dua MTQ Nasional sebelumnya.
Bagi para santri yang berdiri di balik dua kemenangan itu, catatan sejarah tersebut lahir dari perjalanan yang jauh lebih panjang daripada beberapa jam pertandingan di atas panggung.