YAMAN (Jurnalislam.com) – Delegasi Syiah Houthi telah berangkat ke Kuwait untuk menyimpulkan pembicaraan yang dimediasi PBB, di tengah ancaman boikot oleh pemerintah yang diakui internasional dan didukung Saudi, lansir Aljazeera, Kamis (14/07/2016).
Negosiator yang berangkat hari Kamis tersebut adalah Perwakilan dari Ansar Allah, lengan politik gerakan pemberontak Houthi, yang telah mengendalikan ibukota Sanaa sejak 2014.
Pembicaraan damai sebelumnya gagal menjembatani kesenjangan antara pihak yang bertikai, sementara gencatan senjata yang mulai berlaku pada bulan April telah dirusak oleh beberapa pelanggaran dari kedua belah pihak.
Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi menuntut implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2216, yang menetapkan penarikan kelompok bersenjata dari seluruh kota.
Pemberontak Houthi menuntut bagian kekuasaan dalam pemerintahan baru. Kelompok ini juga mendesak untuk mentransfer otoritas presiden Hadi untuk pemerintahan transisi yang baru.
Pada bulan Juni, Utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pihak yang bertikai – pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan pemberontak Houthi serta pasukan sekutu mereka yang setia kepada mantan presiden – telah merespon positif usulan roadmap yang ia sajikan untuk mengakhiri konflik.
Dia mengatakan bahwa yang tersisa untuk diselesaikan adalah batas waktu dan urutan langkah-langkah dalam rencana – termasuk ketika pemerintah persatuan nasional dibentuk.
Perang di Yaman telah menewaskan sekitar 9.000 orang dan mendorong negara tersebut ke jurang kelaparan.
Seorang pejabat tinggi Yaman mengatakan bahwa pemerintah Hadi berada di bawah tekanan dari sekutu Barat mereka untuk bergabung dengan pembicaraan. Pejabat itu berbicara kepada kantor berita AP dalam kondisi anonimitas karena ia tidak berwenang untuk berbicara kepada pers.
Pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat tersebut terjadi tak lama setelah Ahmed, utusan PBB, melakukan kunjungan ke Sana’a, di mana ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Presiden Ali Abdullah Saleh yang terguling.
Deddy | Aljazeera | Jurnalislam