GAZA (jurnalislam.com)— Komunitas Kristen Palestina di Jalur Gaza berduka atas kematian Maysaa Khader Abu Daoud dan putrinya, Marie, yang tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah apartemen di kawasan Rimal, Kota Gaza, Sabtu (3/10/2026). Serangan tersebut terjadi meskipun perjanjian gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025.
Puluhan pelayat berkumpul di Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius di Kota Gaza untuk mengikuti prosesi pemakaman. Mereka mengiringi kepergian ibu dan anak tersebut dengan nyanyian pujian serta doa-doa keagamaan.
Jenazah keduanya kemudian dimakamkan. Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan komunitas Kristen di Gaza.
Pendeta Palestina, Munther Isaac, juga menyampaikan duka cita pada Sabtu. Dalam pernyataannya, pendeta yang berbasis di Ramallah itu menegaskan bahwa penderitaan warga Gaza belum berakhir.
“Genosida di Gaza terus berlanjut,” ujarnya.
Isaac mengatakan bahwa dua perempuan Kristen, seorang ibu dan anak perempuannya, termasuk di antara lima orang yang tewas ketika sebuah bangunan tempat tinggal di Gaza dibom pada tengah malam.
Serangan udara Israel tersebut dilaporkan menghantam apartemen itu pada Sabtu dini hari. Sumber medis dan saksi mata menyebutkan sedikitnya enam orang lainnya mengalami luka-luka.
𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝗲𝗻 𝗕𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻
Sejak Israel melancarkan perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, komunitas Kristen di wilayah tersebut turut menghadapi serangkaian serangan. Sejumlah warga sipil bahkan mencari perlindungan di gereja-gereja yang berada di Kota Gaza.
Pada 19 Oktober 2023, serangan udara Israel menghantam kompleks Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius. Sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Dua bulan kemudian, pada 16 Desember 2023, Patriarkat Latin Yerusalem melaporkan bahwa seorang penembak jitu Israel menembak mati dua perempuan Kristen, Nahida dan putrinya, Samar. Tujuh orang lainnya dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.
Pada hari yang sama, sebuah biara milik paroki tersebut juga menjadi sasaran pengeboman Israel.
Serangan terhadap komunitas Kristen kembali terjadi pada 17 Juli 2025, ketika militer Israel membombardir kompleks Gereja Katolik Keluarga Kudus di Kota Gaza. Tiga orang dilaporkan tewas dalam serangan itu, termasuk Pastor Gabriel Romanelli.
Rentetan insiden tersebut menambah panjang daftar korban sipil di Gaza, termasuk warga Kristen yang selama ini menjadi bagian dari masyarakat Palestina.
𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗗𝗶𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻
Kematian Maysaa Khader Abu Daoud dan putrinya terjadi di tengah laporan berlanjutnya serangan Israel meskipun perjanjian gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka.
Tragedi yang menimpa ibu dan anak tersebut kembali menyoroti kondisi warga sipil Gaza yang masih menghadapi ancaman serangan, termasuk mereka yang berlindung di kawasan permukiman.
Bagi komunitas Kristen Palestina, pemakaman keduanya bukan sekadar ungkapan duka atas kehilangan anggota keluarga, tetapi juga menjadi pengingat akan penderitaan masyarakat Gaza di tengah konflik yang belum sepenuhnya berakhir. (Bahry)
Sumber: TNA