Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa Amerika Serikat berpotensi menyerang Iran dalam jangka waktu antara dua pekan hingga dua bulan ke depan.

Pernyataan tersebut dilaporkan oleh Radio Angkatan Darat Israel pada Ahad (1/2/2026). Menurut laporan itu, serangan langsung dalam waktu dekat dinilai masih kecil kemungkinannya.

Dalam pertemuan penilaian situasi terbaru, Zamir menyebut bahwa kondisi saat ini dipenuhi ketidakpastian.

“Periode saat ini dibayangi oleh banyak ketidakpastian,” ujarnya.

Radio Angkatan Darat Israel juga mengklaim bahwa Amerika Serikat tidak sepenuhnya membuka informasi strategisnya kepada Israel dan cenderung mengecualikan Tel Aviv dari proses pengambilan keputusan utama.

Namun, laporan berbeda disampaikan oleh The Times of Israel, yang menyebutkan bahwa Zamir telah mengunjungi Amerika Serikat pada akhir pekan lalu untuk melakukan pembicaraan intensif dengan pejabat pertahanan AS terkait Iran.

Sejak pecahnya gelombang protes besar akibat krisis ekonomi di Iran, pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus melontarkan ancaman militer terhadap Teheran, dengan dalih pelanggaran hak asasi manusia dan stabilitas kawasan.

Dilaporkan pula bahwa puluhan pertemuan tingkat tinggi antara pejabat Israel dan Amerika Serikat telah digelar untuk mengoordinasikan kemungkinan serangan serta mempersiapkan respons jika Iran melakukan pembalasan.

Koordinasi tersebut mencakup kunjungan Panglima Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, ke Israel, serta kunjungan Kepala Intelijen Militer Israel (Aman), Shlomi Binder, ke Amerika Serikat.

Meski Washington dan Teheran sama-sama menyatakan masih terbuka untuk jalur diplomasi, pejabat keamanan senior Israel memperkirakan ketegangan akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

Hal ini dikaitkan dengan peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran yang berlangsung pada 1–11 Februari, serta peringatan 40 hari pembunuhan ribuan demonstran Iran pada bulan lalu.

Revolusi Islam 1979 sendiri menggulingkan pemerintahan Shah Mohammed Reza Pahlavi dan mengantarkan rezim Islam berkuasa di Iran hingga kini. Putranya, Reza Pahlavi, yang bermukim di Amerika Serikat dan dikenal memiliki hubungan dekat dengan Israel, berupaya memosisikan diri sebagai tokoh oposisi. Namun, banyak demonstran menolak kepemimpinannya.

Radio Angkatan Darat Israel juga melaporkan adanya perbedaan pandangan di internal kepemimpinan Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut tetap menolak konsesi dalam negosiasi dengan AS dan mempertahankan sikap keras. Sementara itu, sebagian pejabat lainnya dinilai lebih terbuka terhadap pendekatan diplomatik.

Di tengah dinamika tersebut, Israel menyatakan kekhawatirannya bahwa Amerika Serikat dapat mencapai kesepakatan terbatas dengan Iran yang hanya berfokus pada isu nuklir, tanpa membahas program rudal balistik dan jaringan milisi proksi Iran di kawasan.

Sejumlah pejabat Israel memperingatkan bahwa Trump bisa saja mengklaim telah menghasilkan kesepakatan yang lebih baik dibandingkan perjanjian era Presiden Barack Obama, namun tetap merugikan Israel dan stabilitas regional.

“Iran akan terus memproduksi rudal dalam jumlah besar dan mengoperasikan proksi mereka di berbagai negara,” kata seorang pejabat keamanan Israel.

Para analis menilai, meningkatnya koordinasi militer AS-Israel dan tekanan terhadap Iran berisiko memperbesar peluang konflik terbuka. Jika perang pecah, dampaknya diperkirakan akan meluas ke seluruh Timur Tengah, termasuk jalur energi vital di Teluk Persia dan Selat Hormuz. (Bahry)

Sumber: TNA

Bagikan