PBB: 70 Persen Produksi Air Gaza Terganggu Akibat Blokade Israel

PBB: 70 Persen Produksi Air Gaza Terganggu Akibat Blokade Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa sekitar 70 persen produksi air bersih di Kota Gaza terganggu akibat hambatan yang diberlakukan Israel terhadap perbaikan jalur pasokan utama air, termasuk pemblokiran masuknya barang-barang yang dikategorikan sebagai “barang dua fungsi”.

Juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan bahwa mitra-mitra PBB di sektor air, sanitasi, dan kebersihan memperingatkan kondisi kritis tersebut. Pernyataan itu disampaikan Haq dengan mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) dalam konferensi pers di Markas PBB, Rabu (21/01/2026).

“Mitra kami yang bekerja di bidang air, sanitasi, dan kebersihan memperingatkan bahwa sekitar 70 persen dari total produksi air Kota Gaza saat ini terganggu karena tantangan terkait perbaikan jalur pasokan air Mekorot,” ujar Haq.

Ia menjelaskan bahwa jalur pasokan air tersebut berasal dari Israel menuju Gaza dan terletak di sebelah timur wilayah yang disebut “Garis Kuning”, area yang hingga kini masih ditempati oleh pasukan Israel.

Menurut Haq, penilaian terhadap kerusakan pipa air mengungkapkan kebutuhan akan pipa baja khusus yang tidak tersedia di Gaza dan dilarang masuk oleh Israel karena diklasifikasikan sebagai barang “penggunaan ganda”.

Haq juga mengungkapkan bahwa pada Ahad (18/01/2026), Israel menolak permintaan tambahan dari mitra PBB untuk memperbaiki sebuah sumur yang merupakan salah satu sumber air sangat vital bagi warga Gaza.

“Mitra kami kini terpaksa mencari sumber air alternatif dan meningkatkan distribusi air menggunakan truk untuk memastikan akses berkelanjutan terhadap air bersih,” kata Haq.

OCHA, lanjutnya, kembali menegaskan perlunya perluasan akses masuk barang-barang penting, termasuk yang dikategorikan sebagai barang penggunaan ganda. Tanpa akses tersebut, perbaikan layanan dasar seperti penyediaan air bersih tidak akan mungkin dilakukan.

Di tengah musim dingin yang masih berlangsung, Haq memperingatkan meningkatnya risiko kemanusiaan. Ia menyebut Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan kematian anak akibat hipotermia lainnya, sehingga total kematian akibat cuaca dingin musim ini mencapai sembilan anak.

Israel hingga kini masih menduduki zona penyangga di wilayah selatan dan timur Gaza, serta menguasai area luas di bagian utara, dengan kendali atas lebih dari setengah wilayah Gaza, berdasarkan data militer Israel sendiri.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan 483 warga Palestina dan melukai 1.287 lainnya. Di saat yang sama, Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya makanan, bahan bangunan, dan perlengkapan medis ke Gaza.

Sekitar 2,4 juta warga Palestina kini hidup dalam kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk.

Sejak dimulainya agresi militer Israel di Gaza pada 8 Oktober 2023, lebih dari 71.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 171.000 orang terluka, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

PBB memperkirakan bahwa sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza telah hancur, dengan kebutuhan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS, atau setara ±Rp1.100 triliun. (Bahry)

Sumber: TRT

Bagikan